Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ketaatan Kunci Keberhasilan Kepemimpinan Rohani (2 Tawarikh 14:13-17) oleh Pdt. Yarman Halawa October 30, 2009

Filed under: Pelita Kepemimpinan — graciacitra4christ @ 2:24 pm
Tags: , , , , , , ,

Ada banyak buku yang  darinya kita dapat belajar kiat-kiat kepemimpinan rohani dengan label sukses dan berhasil, efektif dan efesien, sistematik dan metodik, dan sebagainya.  Namun saya punya pendapat bahwa belajar langsung dari Alkitab buku manual kepemimpinan utama adalah yang terbaik.  Buku-buku itu adalah untuk melengkapi dan memberi wawasan bagi kontekstualisasi penerapan masa kini.  Namun juga tetap tidak bisa asal sekedar diikuti.  Tetap harus memilah dan memilih yang interpretasi biblical responsibility-nya tepat.

Alkitab adalah tempat kita untuk mendulang banyak mutiara berharga dari kepemimpinan rohani dengan landasan doktrinal yang tepat, biblis dan praktis.  Teks ini secara sederhana namun jelas mengajar mengenai ketaatan sebagai bagian dari apa yang disebut dengan kepemimpinan rohani.

Pertama, kunci keberhasilan kepemimpinan adalah ketaatan kepada Tuhan dan Firman-Nya (14-15).
Seorang hamba Tuhan menulis berkaitan dengan kebenaran ini, “David was a well-trained warrior, a strategist. Yet, we find that David’s dependence on God to direct his efforts was very great. In fact, after he won the first battle, he went right back to inquire again. This is the most important lesson we can learn from this story. God told David to attack, but only after he heard the marching in the balsam trees.”

Taat bukan berarti kita selalu suka atau selalu senang. Tetapi bagaimanapun kita tidak suka kita mau lakukan karena Tuhan menghendaki demikian. Meskipun kita merasa mampu tetapi mau belajar rendah hati untuk menaati. Meskipun kita enggan tetapi kita rela untuk melakukan. Walaupun tidak sesuai dengan kemauan manusiawi kita tetapi ketika kita memandang Tuhan kita akan taat. Ketaatan menjadikan kita menyukai apa yang Tuhan suka dan menyenangi apa yang Tuhan senangi meskipun sebenarnya (karena natur keberdosaan) kita tidak senangi. Ketaatan adalah hal yang mutlak Tuhan tuntut dalam kehidupan kita baik kita suka atau tidak suka, baik kita tinggi atau rendah, kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, kuat atau lemah, dst.

Kedua, dengan ketaatan Daud menanamkan nilai2 kekal dalam diri orang lain (16)
Daud memimpin banyak orang. Dan dengan taat kepada Allah dalam situasi itu ia telah menanamkan nilai-nilai moral yang mulia: bagaimana belajar taat kepada firman dan menurut apa yang dikehendaki Tuhan. Gereja Tuhan tidak akan pernah dipenuhi oleh anak2, remaja, pemuda, orang dewasa atau lanjut usia yang taat, setia, mengasihi Tuhan dengan benar dan sungguh2 mendukung pekerjaan Tuhan apabila para pemimpinnya tidak terlebih dahulu menunjukkan kesungguhan, kemauan, semangat untuk belajar taat terhadap apa yang Tuhan kehendaki.

Why kerajaan Israel hancur2an? Karena para pemimpin/raja tidak lagi mau taat kepada Tuhan dan firman-Nya yang disampaikan melalui para nabi: Salomo – masa tuanya menyedihkan. Ketidaktaatannya menyebabkan Israel terpecah 2. Keluarganya juga hancur2an. Ahab – menyebabkan Israel menyembah patung anak lembu emas. Dan banyak kisah ketidaktaatan dalam sejarah kerajaan Israel maupun kerajaan Yehuda yang akibatnya adalah pembuangan (Israel – ke Asyur dan tidak lagi pernah kembali; Yehuda – ke Babel selama 70 tahun). Jadi kita melihat prinsip yang sangat penting yang harus selalu kita ingat dan pegang teguh dalam kepemimpinan rohani: ketika hidup kita tidak sungguh2 mencari dan menaati kebenaran FT maka yang terjadi adalah malapetaka; bukan saja hanya dalam pelayanan kita tetapi juga dalam kehidupan keseharian kita.

Ketiga, ketaatan akan mempermuliakan hidup kita (17)
Bila kita mau belajar taat: Tuhan akan mempercayakan kita kekuatan demi kekuatan, penyertaan demi penyertaan, pemeliharaan demi pemeliharaan, semangat demi semangat dan kemenangan demi kemenagan di dalam mengadapi tantangan demi tantangan didalam pelayanan dan hidup kita sehari2; bahkan, Tuhan akan mempercayakan kepada kita kepercayaan yang lebih besar yang akan memuliakan nama-Nya. Kita akan melihat bagaimana pekerjaan Tuhan akan terus maju, kita akan melihat bahwa SDM di dalam gereja tidak akan pernah habis, didalam keyakinan kita akan melihat generasi kita yang akan datang menjadi generasi yang mencintai Tuhan.

Penutup
Maukah kita dibentuk menjadi pemimpin2 yang taat?
Kita akan segera memasuki era kemajelisan gerejawi…..apa bisa????  Biq question mark bagi saya. Namun jika hati kita benar-benar tertuju kepada Tuhan dan firman-Nya dan ketaatan kepada-Nya karena motivasi yang murni mendasarinya silakan Sdr/I melangkah. Mari kita melangkah dalam ketaatan. Amin!

(Ringkasan pastoral oracle yang disampaikan dalam Rapat Terbuka Pengurus Gerejawi pada Mei 2008)

 

SAHABAT ALLAH YANG SEJATI (Yohanes 15:9-17) by Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 29, 2009

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 4:05 am
Tags: , , , , , , , ,

Apa artinya menjadi Sahabat Allah?
Di dalam Alkitab (PL maupun PB), kata “sahabat” memiliki pengertian yang sama dengan kata “orang yang dikasihi” menunjukkan bahwa orang yang menjadi sahabat Allah itu adalah orang yang telah menerima kasih karunia Allah. Hal ini berarti bahwa kita tidak mungkin bisa menjadi sahabat Allah kecuali Allah sendiri telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kecuali Sdr dan Saya telah terlebih dahulu dikaruniai iman oleh Allah yang memampukan kita untuk percaya bahwa Dia adalah Tuhan, barulah kita bisa disebut “sahabat Allah.” Contoh: Alkitab menyebut Abraham sebagai “sahabat Allah.” Tetapi Alkitab juga menegaskan bahwa sebutan itu ia peroleh bukan karena kemampuannya mengambil hati Allah, berbaik2 dengan Allah, bermanis2 dengan Allah, dst, tetapi karena ia percaya kepada Allah. Yakobus 2:23, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Memperhitungkan (ellogeo) merupakan istilah keuangan yang berarti “menaruh dalam rekening seseorang.” Artinya “sebagai orang berdosa, sebenarnya buku bank rohani Abraham itu kosong. Ia bangkrut. Sudah tidak punya apa2 lagi. Namun oleh kasih karunia Allah, ia percaya kepada Allah dan Allah menaruh kebenaran didalam rekening bank rohani Abraham secara cuma2, sehingga ia menjadi orang yang dibenarkan dihadapan Allah, memiliki jaminan hidup kekal surgawi.” Itulah yang menyebabkan Abraham disebut “sahabat Allah” atau “yang dikasihi Allah.” 2 sebutan yang berbeda ini namun memiliki pengertian yang sama diberikan kepada Abraham (contoh: 2 Tawarikh 20:7, “…Abraham, sahabat-Mu (Ibr. ‘aheb’)…” Yesaya 41:8, “…Abraham, yang Kukasihi (Ibr. ‘aheb’).
Q: Apa pengaruh dari menjadi Sahabat Allah bagi hidup kita?

1. Semakin Mengasihi Allah dengan Pola Pikir yang Benar
Menjadi sahabat Allah berarti memiliki pola pikir yang benar didalam mengasihi Allah. Banyak orang mengaku mengasihi Allah, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengasihi pada level mana? Ada 3 level penyataan kasih: (1) I Love You because I need you – my need (Lowest Level): if You fulfilled ‘ll follow You, if You show your miracles I’ll serve You, I’ll trust, etc. (2) I Love You because legality of my religion – I’m a Christian so I must love God (Medium Level): produce kehidupan keagamaan yang terpaksa, ke gereja/persekutuan, memberi sesuatu entah untuk pekerjaan Tuhan atau bukan, melayani, etc. (3) I Love You because You’re the Only Lord in my life – I want to learn how I can love You, more and more, like You do (higher level): produce serve and sacrifice. Hanya orang2 pada level inilah yang layak disebut sebagai sahabat Allah karena mengerti bahwa menjadi Sahabat Allah itu berarti melayani dan rela berkurban bagi Tuhan sebagai buah dari kehidupan percayanya. Ini harus menjadi standar hidup percaya kita. Inilah harta terbesar yang harus kita perjuangkan. Di dalam keluarga harta terbesar adalah kasih yang tetap terpelihara kepada Allah yang dinyatakan dengan bukan hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga melayani dan mau berkurban bagi kemajuan pekerjaan-Nya di bumi ini. Di dalam gereja, harta terbesar adalah orang2 yang sungguh2 mengerti bahwa tujuan utama hidupnya yang sementara di tengah dunia ini adalah untuk melayani Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan melalui kerelaan berkurban bagi Tuhan dan gereja-Nya.

Sdr, perhatikan bahwa instruksi kepada para murid dalam teks ini disertai dengan berkat Allah bagi mereka, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepada-Mu.” Ini berarti: Allah akan memberkati setiap orang, setiap keluarga, setiap gereja yang sungguh hati mengasihi Allah dengan pola pikir yang benar. Dan Allah akan mendengar doa setiap orang, setiap gereja, setiap keluarga yang sungguh hati mengasihi Allah dengan pola pikir yang benar.

2. Dapat menikmati Kehadiran Allah Dalam Segala Situasi Kehidupan
Seorang yang benar2 sahabat Allah akan senantiasa menikmati kehadiran Allah secara langsung disetiap langkah perjalanan hidup (pahit atau manis, senang atau susah, sukses ataupun gagal), sehinga ia tetap kuat, tekun, makin indah hidupnya, makin berkenan dan benar hidupnya dihadapan Tuhan. Ia selalu melihat setiap kondisi kehidupan sebagai bagian dari perjalanan hidup iman, sehingga ia semakin menghargai kehadiran Allah dalam hidupnya. Kadangkala lewat berbagai sikon hidup yang sedang kita hadapi, Ia memberikan kita kesempatan untuk membuktikan diri bahwa kita adalah sahabat Allah yang sejati atau dengan kata lain, sikap terhadap ‘sikon’ yang sedang kita hadapi akan menentukan layak atau tidakkah kita ini disebut sebagai Sahabat Allah.  Dalam peristiwa penyaliban Yesus, ada 2 penjahat yang turut disalibkan. Sama2 penjahat. Sama2 disalibkan dengan Yesus. Sama-sama diberi kesempatan untuk menikmati kehadiran Allah melalui Yesus Kristus yang disalibkan bagi dosa manusia, termasuk dosa mereka. Tetapi yang satu mau percaya dan menyadari dirinya sebagai orang berdosa dan membutuhkan pertolongan Tuhan sedang yang satu tetap berkeras hati, menyebabkan ia kehilangan berkat surgawi yang besar. Siapa yang terbukti sebagai Sahabat Allah dalam peristiwa ini? Ya, penjahat yang bertobat itu!

Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan Sdr dan Saya adalah Sahabat Sejati yang selalu hadir dalam perjalanan hidup kita, bahkan, ketika kita sedang berada dalam suasana ‘sikon’ hidup yang paling berat sekalipun. Penegasan: Konteks Yohanes 15 salah satunya adalah pengajaran yang mempersiapkan para Rasul untuk menghadapi segala ‘sikon’ termasuk yang terburuk sekalipun oleh karena mereka mengikut dan melayani Allah. Akhir hidup mereka semua (kecuali Yudas) membuktikan bahwa mereka adalah sahabat Allah yang sejati (Petrus – salib terbalik, Tomas – di tombak mati di Coromandel, India Timur, Yakobus – dipenggal, yang lainnya nasibnya tidak lebih baik..kecuali Yohanes yang melewati hidup yang penuh kesulitan sampai akhirnya menerima kitab Wahyu di P. Patmos dan mati disana dalam usia tua).

Q: Bagaimana dengan kita? Adakah kita selalu berpikir bahwa kita benar2 telah menjadi Sahabat Allah apabila jalan2 hidup kita selalu diwarnai dengan berkat yang berupa keberhasilan, materi berlimpah, sejahtera, kondisi yang selalu enak dan nyaman? Adakah kita selalu berpikir bahwa hidup ini tidak lagi punya nilai, tidak lagi berharga oleh karena tidak memiliki ini dan itu, oleh karena kondisi lahiriahku yang jelek, tidak menarik dan penuh dengan masalah? Ataukah kita selalu bisa melihat bahwa dalam segala ‘sikon’ apapun kita sedang dibentuk dan diberkati oleh Allah untuk lebih bisa menikmati kehadiran-Nya dalam hidup kita?

Kebenaran firman ini sekali lagi menegaskan: Apapun ‘sikon’ yang sedang Sdr hadapi atau alami saat ini (kesehatan yang terganggu, kondisi ekonomi yang sulit pada hari ini, usaha dan pekerjaan yang sulit, mengalami kekecewaan, sedang patah hati atau patah semangat, merasa ditinggalkan, dst,) jangan engkau kecewa, putus asa, menyerah, undur dari gereja/persekutuan, atau berpikir tinggalkan Tuhan….Justru bangkitlah!!! Jadikan ‘sikon’2 yang demikian sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa Sdr adalah Sahabat Allah yang sejati. Ingat: Yesus adalah sahabat yang tidak pernah meninggakan Sdr. Mazmur 25:14 mengatakan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Tuhan adalah sahabat yang selalu hadir menyertai, menghibur, menolong, menguatkan dan memelihara kehidupan Sdr dan Saya yang sungguh2 menjadi sahabat Allah yang sejati.

3. Sanggup Mengasihi Sesama dengan Kasih Ilahi
Seorang Sahabat Allah yang sejati sanggup mengasihi sesamanya dengan kasih ilahi. Perintah untuk saling mengasihi dalam Yohanes 15 tidak hanya memiliki dimensi ekslusif (mengasihi segelintir orang), tetapi berdimensi inklusif (mengasihi semua orang) cf. ayat 17 standar kasih menggunakan kata “agape” yakni kasih dengan kualifikasi: bagaimanapun, walaupun, meskipun). Why harus “agape”? Hanya orang2 yang mengasihi sesamanya dengan standar “agape”lah yang dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi sahabat yang baik dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Hari ini kita hidup ditengah dunia yang makin materialistis, egois, dengan budaya hidup acuh tak acuh. Ini menyebabkan ketidakseimbangan jiwa. Zaman ini, orang yang sedih berat sekalipun sudah tidak lagi dapat dideteksi dengan kondisi yang wajar. Biasanya orang yang sedih raut wajahnya pasti terlihat sedih atau menangis terus-menerus. Hari ini kesedihan tidak lagi ditunjukkan dengan cara seperti itu. Orang malah bisa menunjukkan yang sebaliknya. Contoh: (1) menurut penelitian 40% penyakit obesitas disumbang karena stress (mestinya kan kurus…), (2) 68% pelawak terkenal dunia (Chaplin, Cosby, Grimaldy, dll) adalah orang2 yang sangat menyedihkan hidupnya karena masalah cinta, keluarga, tidak terpenuhinya kasih sayang ketika masa kanak2 (tapi anehnya…orang justru terhibur oleh lawakan mereka!). Ini menunjukkan kepada kita bahwa dunia ini bagaimanapun majunya tidak sanggup memenuhi kekosongan jiwa manusia.  Di Jepang orang2 yang tertekan jiwanya tidak bisa menangis. Para psikolog/psikiater menyarankan untuk menonton film2 drama atau novel2 melankolik yang dapat menyebabkan mereka menangis. 2. Bahkan saya mendengar dari rekan hamba Tuhan yang sempat melayani disana dalam tim2 pelayanan yang disebut “Listening Ministry” yang disebarkan dibeberapa tempat di kota Tokyo: di pusat2 perbelanjaan, stasiun bus, KA bawah tanah, dll. Mereka menyediakan bangku2 kosong dalam bentuk kelompok dengan tulisan “kami dengan senang hati ingin mendengar anda.” Tidak ada kata2 atau menawar2kan supaya orang datang. Anehnya…banyak yang datang dan mengeluarkan berbagai keluhan mereka….setelah itu lega.

Dalam keluarga kita, dalam gereja kita, dalam lingkungan kita berada barangkali ada orang2 seperti ini yang memerlukan uluran kasih kita. Barangkali bukan melulu materi bentuk ungkapan kasih kita, tetapi kadang menyapa, menanyakan, mendengar, menyediakan diri ketika mencari kita, setia mendoakan mereka sesuai pergumulan mereka lebih efektif dan lebih berguna bagi mereka. Dunia ini membutuhkan kehadiran sahabat2 Allah yang sejati. Lagu: “B’rikan ‘ku Mata/Hati”. Seorang yang menjadi Sahabat Allah memiliki hati seperti ini: hati yang sanggup mengasihi sesama dengan kasih ilahi. Q: Sudahkah kita memiliki hati seperti ini? menjadi sahabat bagi mereka dan membawa mereka kepada Sahabat Sejati kita: Yesus Kristus?

Kesimpulan
Rindukah Sdr menjadi sahabat Allah yang sejati dan menikmati berkat-Nya yang berkelimpahan? Tunjukan 3 pengaruh ini dalam hidup Sdr: (1) mengasihi Dia dengan pola pikir yang benar, (2) menikmati kehadiran-Nya dalam segala ‘sikon’ dan (3) belajar untuk sanggup mengasihi sesama dengan kasih ilahi.

 

INTRODUKSI 4 INJIL by Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 28, 2009

Filed under: 4 Injil — graciacitra4christ @ 7:24 am

A. PENTINGNYA INJIL DALAM TRADISI GEREJA MULA-MULA
Kata “Injil” () yang digunakan dalam Injil Markus, Matius, dan Lukas merupakan ‘ciptaan’ Markus (Markus 1:1). Ia memasukkan kata benda “ ” dengan tujuan untuk menjelaskan sebuah tradisi yang bermakna ganda (perhatikan Markus 8:35 dan 10:29, “…karena Aku dan karena Injil…”). Dalam tradisi Matius 16:25 dan Lukas 9:24, hanya digunakan frase “…karena Aku…”. Markus memperluas tradisi ini dengan memasukan frase “ (karena Injil)”. Bagi Markus, kata “Injil” merupakan ekspresi yang paling ia senangi. Ia telah memasukan kedalam tradisi pra-kanonikal terminology ini dimana dia menjadi editor pertama.

Ada 3 istilah dalam bahasa Yunani yang digunakan sebagai sebutan yang bersifat teknis untuk menggarisbawahi semua aspek dari berita Injil yang dipegang dalam kekristenan mula-mula:

1. . Kata ini berarti pemberitaan Kabar Baik Yesus Kristus kepada dunia non Kristen (lihat 1 Korintus 1:21). Beberapa contoh kerigma dapat dilihat dalam KPR 2:14-39, 3:13-26, 4:10-12, 5:30-32, 10:36-43, 13:17-41. setiap kerigma yang dikhotbahkan “selalu ditutup dengan suatu ketertarikan untuk bertobat, menawarkan pengampunan melalui kuasa Roh Kudus, dan janji yang pasti mengenai “keselamatan”, yakni “kehidupan kekal di masa yang akan datang bagi mereka yang termasuk komunitas umat pilihan”.

2. . Kata ini menunjuk kepada pelayanan pengajaran (KPR 2:42, 4:31, 5:42, 6:2) yang membimbing para petobat baru kepada tugas dan tanggungjawab, disiplin, dan aturan hidup dalam komunitas kekristenan. Gereja mula-mula sangat menekankan .

3. . Kata ini berarti “mengarahkan”, yang menunjuk kepada tanggungjawab kateketikal para pemimpin kelompok-kelompok Kristen mula-mula (perhatikan Galatia 6:6). Meskipun kelas-kelas katekisasi tidak terlihat dalam sejarah Gereja hingga abad ke 3, namun tetap ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa hal ini diadakan dalam gereja mula-mula (perhatikan KPR 8:32-37, 18:25, 20:20, Kolose 1:6, Efesus 4:20, 1 Petrus 2:2, 5:1, 1 Yohanes 2:12-24). Setiap orang harus melewati katekisasi sebelum mereka menerima secara penuh hak dan kewajiban sebagai anggota gereja.

Ketiga istilah ini, menunjukkan aktifitas dari kehidupan kekristenan mula-mula. Gereja memiliki dasar yang nyata dari pelayanan Yesus untuk menyampaikan berita Injil dalam khotbah-khotbah umum. Dasar tersebut berasal dari tradisi-tradisi lisan yang kemudian dituliskan untuk keperluan pemberitaan Injil, pengajaran, dan pembinaan.

B. BENTUK UMUM KITAB INJIL
Kata Injil berasal dari bahasa Yunani  yang artinya “kabar baik” (dari kata  yang berarti “baik” dan  yang berarti “kabar/berita”. Kata ini dapat berarti:
1. Apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakan Allah didalam atau melalui
Yesus Kristus,
2. Nama yang dipakai untuk keempat buku pertama dalam PB,
3. Seluruh berita PB yang adalah Kabar Baik. Kata ini untuk pertama kali
digunakan oleh Markus (1:1) dan kemudian oleh Matius (4:23).

Meskipun demikian baru pada pertengahan abad ke-2 keempat buku pertama dalam PB ini disebut Injil. Markus mengawali tulisannya tentang pelayanan Tuhan Yesus di dunia dengan mengatakan, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus” dan istilah injil ini kemudian berkembang sehingga mencakup: kelahiran, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Rasul Paulus sering menggunakan kata Injil dalam surat-suratnya sebagai pesan tentang tindakan keselamatan Allah didalam Anak-Nya (Roma 1:16; I Korintus 15:1; Galatia 1:6-7).

Berdasarkan bentuk dan isinya, maka kita dapat menemukan bahwa ada 5 macam bentuk umum kitab Injil:

a. Narrative Material atau Cerita/Riwayat
Bagian ini boleh dikatakan merupakan bagian terbesar dalam kitab-kitab injil (sekitar 75%) yang memuat fakta-fakta tentang kehidupan Yesus seperti: kemana Ia pergi, mengajar, bagaimana Ia mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, melakukan mujizat dan hal-hal berkenaan dengan kelahiran, kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga. Ada 4 prinsip untuk menafsirkan narrative material ini:
1. Kitab-kitab Injil ini adalah catatan sejarah. Para penulis menghendaki kita untuk percaya akan isi injil (cf. Lukas 1:3-4).
2. Materi-materi dalam Injil harus dilihat dari sudut keinginan pengarangnya.
3. Peristiwa-peristiwa yang dicatat tersebut harus dijelaskan sesuai dengan keadaan pada waktu penulisan Injil tersebut.
4. hal-hal yang supranatural yang juga menjadi bagian penting dari kitab Injil harus kita terima apa adanya.

b. Teaching Material atau Pengajaran Kristus.

Ada 5 prinsip yang harus diingat dalam menafsirkan pengajaran Kristus:
1. Mengerti persoalan yang dihadapi Yesus yang hendak Ia atasi (mis. Pengajaran-pengajaran-Nya yang muncul dari pertanyaan orang-orang)
2. Mengerti tujuan yang hendak Yesus capai (mis. Penyucian Bait Suci)
3. Mengerti gaya bahasa yang Yesus pakai untuk menafsirkan ajaran tersebut secara tepat (tujuan: menunjukkan kebenaran Allah)
4. Perlu mengingat latarbelakang ke-Yahudi-an Yesus.
5. Apa yang Yesus katakan harus dimengerti dari sudut siapakah Dia (otoritas dan kedudukan-Nya).

c. Parables atau Perumpamaan
Perumpamaan merupakan bagaian dari pengajaran-Nya, namun perlu dipelajari secara terpisah karena muatan yang khusus didalamnya. Perumpamaan sering juga diartikan sebagai “jembatan menuju kebenaran”.
Ada 5 prinsip untuk menafsirkanya:
1. Fungsi perumpamaan adalah menantang pendengarnya untuk mengambil keputusan.
2. Perumpamaan harus dicermati dari 2 sudut: siapakah Yesus dan kerajaan sorga yang Ia proklamirkan.
3. Karena bagian dari pengajaran, maka perumpamaan mempunyai sifat-sifat yag sama dengan pengajaran Yesus.
4. Perumpamaan adalah bentuk umum pada zaman itu sehingga dapat ditemukan kemiripan-kemiripan di PL atau ajaran para Rabbi.
5. Perumpamaan biasanya memuat satu pengajaran utama walaupun ada kalanya bisa lebih dari satu pengajaran.

d. Apocaliptic Material atau Materi yang berhubungan dengan akhir jaman/nubuat/wahyu.
Hal-hal tentang akhir zaman dapat ditemukan pada bagian akhir kitab Injil (Matius 24, Markus 13, Lukas 17, 24). Arti Apokaliptik adalah “membuka atau menyatakan” sehingga bagian ini menceritakan tentang keadaan di masa mendatang.
Ada 3 prinsip yang perlu dingat untuk menafsirkan apocalyptic material ini:
1. Keinginan Penulis perlu diperhatikan (mis. Tujuan: meneguhkan orang percaya pada masa itu).
2. Bagian apokaliptik ini dikatakan oleh Yesus dan harus selalu dikaitkan dengan siapakah Dia.
3. Melalui apokaliptik ini, Allah juga hendak menyatakan kehendak-Nya bagi kita.

e. Kutipan PL
Ada ratusan kutipan PL dalam PB. Bagi orang zaman itu, dan bagi Tuhan Yesus sendiri, ketika hendak mengajarkan kebenaran Allah selalu merujuk pada otoritas kitab yang berotoritas pada waktu itu yakni PL.

Ada 5 hal penting yang perlu diperhatikan untuk memahami kutipan PL ini:
1. Perlu mengingat variasi cara pengutipan ayat-ayat PL (mis. Matius berdasarkan ingatan, sekedar disinggung, penggabungan dan kutipan lengkap).
2. Perlu membandingkan kutipan tersebut dengan ayat PL yang dimaksud.
3. Perhatikan konteks kutipan tersebut dalam PB.
4. Perhatikan tujuan penggunaan kutipan (mis. penguat, ilustrasi, analogi).
5. Harus selalu di ingat bahwa Tuhan Yesus berotoritas atas pengutipan dan penafsiran PL.

Catatan:
Perlu dipahami bahwa ke empat Injil tidaklah dapat dianggap sebagai catatan biografi perjalanan kehidupan Tuhan Yesus, karena ke empat Injil hanya menceritakan secara singkat tentang kelahiran Yesus, masa usia 12 tahun dan 3 ½ tahun terakhir dari kehidupannya di dunia. Selain itu setiap penulis Injil memilih dan membentuk bahan-bahannya berdasarkan pengertian dan pengenalan mereka akan Yesus, dan juga berdasarkan kebutuhan tujuan tertentu dari orang-orang kepada siapa Injil tersebut ditulis. Yang terpenting adalah bahwa ke empat Injil tersebut utuh dan menunjukkan bahwa Injil itu satu namun dilihat oleh 4 orang dari sudut pandang yang berbeda.

C. BAGAIMANA INJIL DI BENTUK: PROBLEMATIKA SINOPTIK
Penyebutan Synoptik secara khusus ditujukan kepada Injil Matius, Markus, dan Lukas. Kata Synoptik sendiri diprakarsai oleh sarjana Jerman, J.J. Griesbach pada akhir abad ke-18. Kata ini berasal dari bahasa Yunani  yang artinya melihat bersama-sama (a seeing together), karena ketiganya berusaha menampilkan sisi yang sama dari kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus.

Persamaan tersebut menimbulkan pertanyaan: ”Apakah pengarang Injil tersebut memakai satu sumber/bahan dalam penulisannya?” atau “Adakah saling ketergantungan satu dengan yang lainnya?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian dikenal sebagai Synoptic Problem.

Kritik Sumber/Teks/Sastra. Untuk menjawab persoalan ini maka para sarjana PB telah berusaha memaparkan pandangan dan teorinya masing-masing. A.E. Lessing (1776 ) mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghitung kesejajaran dan ketidaksejajaran Injil Sinoptik adalah dengan memandang Injil-Injil tersebut berakar secara mandiri dari tulisan Aramaic Gospel of The Nazarene. Pandangannya ini kemudian dikembangkan oleh J.A Sichorn dan J.G Herder (1778).

Gagasan-gagasan penyusunan Injil ini kemudian berkembang dengan dianutnya teori 2 dan 4 sumber penulisan kitab-kitab Injil. J.J Griesbach berpendapat bahwa Markus membentuk Injilnya dengan memakai sumber dari Matius dan Lukas. Demikian juga H.J Holtzmann yang beranggapan bahwa Lukas menggunakan Markus dan Matius sebagai sumbernya. Sementara B.H Streeter memunculkan gagasan 4 sumber dengan berargumen bahwa Injil Lukas disusun dari ‘proto-Lukas’ yang keluar bersama Markus dan Q (Q adalah bahan-bahan yang menjadi sumber penyusunan yang telah hilang). Dengan demikian para sarjana PB terbagi dalam dua pandangan: mereka yang memegang teori 2 sumber dan mereka yang memegang teori 4 sumber.

Berikut adalah beberapa rangkuman teori penyusunan Injil:
1. Teori Tradisi Lisan (The Theory of Oral Tradition): ketiganya menuliskan
berdasarkan sebuah sumber lisan atau tulisan, dan sumber itu kini telah
hilang.

2. Hipotesis Griesbach (The Griesbach Hyphothesis): Matius ditulis terlebih
dahulu dan Lukas menggunakan Matius sebagai sumbernya. Kemudian
Markus menulis dengan menggunakan keduanya sebagai sumbernya.

3. Hipotesis Markus – Q (The Mark – Q Hyphothesis): Matius dan Lukas menulis
berdasarkan Markus dan sebuah dokumen Q yang telah hilang (Q ~
Quelle, Jerman: sumber).

4. Hipotesis Markus – Q dengan tambahan dari Matius yang digunakan Lukas
(The Mark – Q Hyphothesis with Subsidiary Use of Matthew by Luke): Markus
menulis Injil terlebih dahulu dan kemudian Matius dan Lukas memakai
Markus sebagai sumbernya ditambah dengan sumber Q dan sumber-
sumber lainnya yang khas Matius (M) dan khas Lukas (K).

5. Hipotesis Markus – Matius (The Mark – Matthew Hyphothesis): Markus ditulis
terlebih dahulu dan Matius menggunakan Markus sebagai sumbernya.
Kemudian Lukas menulis dengan menggunakan keduanya sebagai sumbernya.

Catatan: Untuk memahami bentuk dan mengetahui gagasan/isi lebih detil dari hipotesis2 yang ada berkaitan dengan problem sinoptik ini silakan lihat Ralph P. Martin, New Testament Foundation (vol. 1). Grand Rapids: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1988.  pp.139-160.

Bentuk analisa atau hipotesa manakah yang paling layak dalam menjelaskan problem synoptic ini? Perhatikan beberapa pertimbangan berikut:
1. Bila diperhatikan dan dibandingkan, maka ketiganya memiliki persamaan/kemiripan dalam hal isi dan gaya bahasa yang digunakan.
2. Bila di teliti: 91% bahan Markus terdapat di Matius (Markus seluruhnya terdiri dari 661 ayat, dan terdapat di Matius 606 ayat), dan 54% bahan Markus (380 ayat) dapat ditemukan di Lukas.

3. Bila dilihat dari isi/teks, maka ditemukan:
Matius dan Markus berlawanan dengan Lukas
Lukas dan Markus berlawanan dengan Matius
Matius dan Lukas tidak berlawanan dengan Markus.

Catatan: berlawanan disini maksudnya adalah tidak sama dalam urutan-urutan peristiwa. Contoh: lihat Carson, table 4 halaman 28 ~ Matius dan Markus tidak sama dengan Lukas dalam hal pengusiran setan yaitu Beelzebul. Dalam Matius (12:22-37) dan Markus (3:20-30) ditempatkan sebelum Perumpamaan tentang Penabur. Sedangkan Lukas (11:14-23) menempatkannya sesudah perumpamaan tersebut.

4. Injil Markus merupakan Injil terpendek. Jumlah kata-kata dalam bahasa Yunani 11.025. sedangkan Matius 18.293, dan Lukas 19.376 kata. Hal ini menunjukkan bahwa Matius dan Lukas merupakan perluasan Markus.

5. Di lihat dari karya tulis Markus, maka gaya penulisan dalam bahasa Yunani yang dipakai sangat primitive. Bahkan beberapa dari kosakatanya agak aneh, kurang baik dan kurang teratur. Markus menggunakan ekspresi Aramaik, sedangkan Lukas menghilangkannya atau menterjemahkannya (contoh: Markus 15:22 dengan Lukas 23:23).

6. Dari sudut teologia, maka Injil Markus lebih primitive dibanding dengan teologia Matius dan Lukas. Contoh: Markus 6:5 (pengertiannya seolah-olah Tuhan Yesus tidak sanggup), bandingkan dengan Lukas 4:23 (alasan yang sesungguhnya adalah karena ketidakpercayaan mereka).

Kesimpulan: Berdasarkan penemuan-penemuan ini maka disimpulkan bahwa Injil Markus ditulis terlebih dahulu, sedangkan Lukas dan Matius mengutip Markus dan kemudian mengembangkannya sendiri dengan (L) dan (M).

D. MENGUJI KEOTENTIKAN ISI INJIL – MUNCULNYA KRITIK BENTUK DAN KRITIK REDAKSI
Para sarjana PB juga berusaha untuk menemukan cara untuk memahami dan mengetahui dengan tepat situasi yang sebenar-benarnya dari kehidupan dan pengajaran Yesus yang direkam dalam Injil. Apakah semua yang dicatat oleh Injil benar-benar otentik? Berikut adalah beberapa upaya yang pernah dilakukan:

Kritik Bentuk. Masa 1920-1930an merupakan masa Kritik Bentuk (Form Criticism) yang dalam perkembangannya memunculkan suatu sikap anti supranatural yang dihasilkan oleh beberapa kritik terhadap beragam rekonstruksi kehidupan dan pengajaran Yesus. Istilah Kritik Bentuk sendiri berasal dari istilah “Formgesichcte” dalam buku Martin Dibellius (1919).
1. Beberapa sarjana seperti Maoris H. Gunkel dan H. Gresmann, mengaplikasikan metode kritik bentuk ini kepada literature masyarakat (folk literature) dari peradaban primitive sekitar kehidupan dan pengajaran Yesus.
2. Ahli PB Jerman, K.L. Schmidt, R. Bultmann, M. Dibellius kemudian menggunakan metode mereka dalam upaya menyusun ulang periode selang waktu antara Yesus dan sumber-sumber yang pertama di tulis.

Karl Ludwig Schmidt (1919) dalam bukunya “Der Rahmen der Geschichte Jesu”, menunjukkan bahwa latarbelakang Injil Markus, adalah perikop-perikop yang terlepas satu dari yang lain. Kerangka-kerangka (“Rahmen”) perikop-perikop itu pada umumnya lebih muda dari isi perikop itu sendiri. Namun dalam buku ini ia tidak membicarakan bentuk-bentuk tetap Injil tersebut.

Martin Dibellius (1919) dalam bukunya “Die Formgeschicte des Evangeliums” (From Tradition to Gospel) memberi perhatian cukup banyak terhadap bentuk-bentuk tetap yang dipakai oleh gereja mula-mula. Ia mengadakan pemeriksaan mulai dari bentuk mula-mula (sejauh yang dapat dibayangkan), lalu menggambarkan perkembangannya sampai kepada Injil-Injil masa kini.
Rudolf Bultmann (1921) dalam bukunya “Die Geschicte der Synoptischen Tradition” (The History of the Synoptic Tradition). Dalam bukunya ini, Bultmann menganalisa secara mendetail perikop-perikop yang ada dalam Injil, dan dari sana ia “mundur” ke belakang untuk mencoba menentukan bentuk dan isi pada periode penyalinan yang lebih awal.

Singkat kata, mereka memulai upaya dengan ‘mengisolasi’ bagian-bagian kecil dalam Injil yang mereka anggap berasal dari tradisi lisan, dan mengklasifikasikannya berdasarkan bentuk. Hanya narasi yang dianggap berhubungan sejak masa awal saja yang diambil dan membuang bagian-bagian yang dianggap tidak memiliki hubungan sama sekali. Bagi mereka sumber Lisan (tradisi Lisan) yang selama ini diterima oleh Gereja, telah merupakan modifikasi pada seluruh literatur seperti: pengulangan (repetisi) dari cerita-cerita, legenda-legenda, mitos, ucapan-ucapan pengajaran kafir, detil-detil pemuridan dalam kisah-kisah mujizat. Konsep Bultmann mengenai “demitologizing” sangat terkenal dalam metode ini. Tujuan dari ini semua adalah dihasilkannya Injil yang mereka sebut “sitz im leben”.

Kritik Redaksi. Seorang ahli PB Jerman, W. Marxsen pada tahun 1956 memakai suatu istilah baru dalam bidang penyelidikan penyusunan Injil, yakni “Redaktiongeschichte” atau “Sejarah Redaksi” (istilah ini muncul dalam judul bukunya mengenai Injil Markus: “Der Evangelist Markus, Studien zur Redaktiongeschicte des Evangelims” dan terbit dalam bahasa Inggris “Mark the Evangelist: Studies on the Redaction History of the Gospel”).. Istilah inilah yang kemudian dikenal luas sebagai Kritik Redaksi (Redaction Criticism).

Kritik Redaksi menekankan bagaimana para penulis Injil mempergunakan bahan-bahan dari tradisi yang sudah ada. Para penulis Injil dipandang bukan hanya sebagai pengumpul bahan saja, melainkan juga sebagai penyusun atau redactor. Mereka memilih: bahan mana yang layak dipakai dan bahan mana yang tidak. Inilah salah satu alasannya mengapa para penulis Injil memiliki perbedaan dalam memberi penjelasan, istilah-istilah atau ketika menekankan tentang sesuatu hal dalam Injil mereka. Mereka memeriksa secara khusus bagaimana Matius dan Lukas memakai bahan Markus, bagaimana mereka merubah perikop dan bagaimana menggabungkan perikop-perikop tersebut.

Kelebihan Kritik Redaksi dari Kritik Bentuk adalah: para sarjana kritik redaksi melihat para penulis Injil bukan semata-mata hanya sebagai pengumpul informasi dari tradisi lisan dan penyusun kisah-kisah yang dibuat dalam berbagai bentuk, tetapi sebagai para teolog yang membentuk dan mengadaptasikan bahan-bahan dengan tujuan untuk membentuk pandangan mereka sendiri. Hal ini sangat penting untuk memberi perbedaan tajam antara material “tradisional” dan material “reduksional”, misalnya: apa saja yang telah terbentuk yang sampai kepada para penulis Injil, dan apa saja perubahan dan tambahan-tambahan yang mereka buat. Dengan kata lain, sementara tradisi menyusun material bersejarah yang otentik, material redaksional tidak dapat melakukannya (justru menghilangkannya!)

Kesimpulan:

E. HARMONISASI SINOPTIK
Seringkali terjadi bahwa dalam catatan Injil Sinoptic ini terdapat beberapa perbedaan. Dalam situasi demikian, maka kita harus membandingkan ketiganya dengan berpegang pada beberapa prinsip:

1. Mengharmonikan ketiga catatan tersebut untuk kemudian menyimpulkannya sehingga dari ketiga injil tersebut diperoleh informasi yang lengkap.
Contoh:
Matius 19:16:
Markus 10:17:
Lukas 10:18:
———————————————————————————————-
Harmonisasi:

Matius 21:12-17:
Markus 11:15-19:
Lukas 19:45-48:
———————————————————————————————-
Harmonisasi:

Catatan: untuk informasi lengkap mengenai hal ini lihat Revel Bible Dictionary, pp.447-448.

2. Perlu diingat bahwa seringkali para penulis Injil melihat suatu peristiwa dari sudut yang berbeda. Setiap penulis akan menekankan apa yang penting menurut penulis tersebut.
Contoh:

3. Perlu diingat bahwa Injil tersebut ditulis ditempat yang berbeda dengan penerima yang berbeda

4. Perlu diingat bahwa Yesus mengajar dan berbicara dalam bahasa Aramaic, sehingga penulisan dalam bahasa Yunani tentu akan berbeda sesuai dengan gaya dan kemampuan bahasa masing-masing penulis.

5. Perlu melihat bahwa adakalanya catatn Injil tersebut tidak memuat cerita yang sama pada waktu/peristiwa yang sama pula.

6. Adakalanya prinsip-prinsip tersebut (1-5) tidak dapat diterapkan sepenuhnya sehingga jawaban yang pasti tidak dapat dicapai. Untuk hal ini para penafsir Alkitab sebaiknya menunggu informasi yang lebih lengkap sebelum memutuskan secara pasti.

 

KEKRISTENAN DAN PLURALISME: ADAKAH KRISTUS YANG LAIN? Sebuah Refleksi Terhadap Finalitas Kristus Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.min

Latar Belakang
Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, khususnya di tengah negara seperti Indonesia. Meskipun demikian, perlu dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme. Hal ini penting untuk menghindari kekacauan atau kerancuan dari topik yang dibahas disini.

Kata Pluralitas mengacu pada konteks yang didalamnya kita hidup–suatu kompleksitas fenomena masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama dan ideologi–. Sedangkan Pluralisme adalah suatu paham, sikap yang menerima validitas atau keabsahan bahwa semua agama adalah sama. Perhatikan perkataan Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” ini, “Deep down, all religious are the same–different paths leading to the same goal.” (1)

Bagi kaum pluralis, masalah agama adalah masalah pribadi; sehingga tidaklah relevan untuk membicarakan benar tidaknya masalah agama. Mereka menolak segala bentuk klaim agama yang bersifat absolut, unik, normatif, eksklusif atau final(itas). Dalam spektrum pluralisme, setiap agama yang mengklaim dirinya absolut maka agama tersebut relatif atau absolut relatif.

Pluralisme bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan sebuah ‘doktrin’ teologis yang didasarkan kepada relativisme yang bersumber dari dunia barat yang ‘atomis’ dan pandangan Hindu ‘oseanis’ (2) sehingga, keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.

Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap pluralisme adalah topik yang akan dibahas dalam bagian ini. Penulis mencoba untuk menyeleksi aspek-aspek yang dianggap krusial pada saat ini untuk dipaparkan secara singkat dan kemudian ditutup dengan kesimpulan sebagai jawaban terhadap topik ini.

A. SEJARAH IDENTIK DENGAN KESELAMATAN
Pada umumnya, kaum pluralis menolak adanya penyataan khusus (baca: keselamatan dalam Yesus Kristus). Mereka beranggapan bahwa tidak ada penyataan yang berpredikat khusus dalam sejarah, Seluruh sejarah adalah penyataan Allah.

Choan Seng Song, salah seorang teolog pluralisme melihat bahwa seluruh sejarah adalah sejarah Allah sekaligus sejarah keselamatan. Ia menekankan bahwa waktu adalah ciptaan Allah dan milik Allah sendiri. Oleh karena itu segala waktu yang berlalu dalam sejarah menjadi milik Allah tanpa ada perbedaan. Sejarah bangsa-bangsa baik China, Indonesia bahkan Israel pun berada di dalam sejarah tindakan Allah. Song berkata demikian,
“…sejarah adalah di dalam Allah. Ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Allah tidak berdiri bertentangan dengan sejarah tetapi berada di dalam sejarah. Dan Allah itu bekerja di dalam sejarah melalui para nabi yang arif bijaksana, melalui para raja, petani; melalui kita semua…”(3)

Jadi, Song melihat (baik implisit maupun eksplisit); bahwa, sejarah bangsa-bangsa dalam sistem keagamaan maupun sosial, politik, kebudayaanya, adalah sejarah keselamatan yang identik dengan penyataan Allah. Tidak ada “sesuatu yang khusus” dari tindakan Allah bagi keselamatan manusia di muka bumi. Pandangan Song ini tidak berbeda dengan Paul F. Knitter yang menolak penyataan Allah dalam sejarah secara partikular dalam waktu, locus maupun persona tertentu seperti Israel dan sejarahnya, termasuk Yesus Kristus. Menurut Knitter, sejarah adalah “the march of God through the world.” (4) Dengan demikian masalah keselamatan tidak tergantung pada penyataan khusus (baca: Yesus Kristus), institusi agama, atau sistem kepercayaan tertentu karena Allah secara imanen telah, sedang, dan akan terus menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dalam konteks sejarahnya masing-masing.

Selanjutnya, kaum pluralis melihat bahwa Kristus adalah suatu manifestasi. Maksudnya: gelar Kristus adalah sesuatu yang kosmis–suatu gelar yang dapat dikenakan kepada setiap medium keselamatan, termasuk yang non religius– yang merupakan misteri ilahi yang imanen dalam sejarah dan budaya manusia pada tempatnya masing-masing. Raimundo Panikkar, teolog India mengungkapkan hal ini sebagai berikut:
“Realitas ilahi terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama. Dalam Hinduisme dikenal dalam Ishavara, dalam kekristenan dikenal dengan Yesus dari Nazareth. Namun Kristus itu lebih dari pada Yesus dan
tidak hanya dikenal melalui Yesus. Kristus sebagai misteri ilahi bukanlah suatu realita yang mempunyai banyak nama; tetapi, dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam berbagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan
menurut pandangan masing-masing agama.” (5)

Dari beberapa pandangan kaum pluralis di atas, nampak jelas bahwa tidak ada pemisahan antara “yang menyatakan” dengan “yang dinyatakan,” “yang mencipta” dengan “yang diciptakan” karena keduanya identik. Memang harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk memecahkan relasi antara penyataan dengan sejarah. Sejarah merupakan arena aktivitas Allah dan penyataan berada di dalam sejara; tetapi, tidak identik dengan sejarah secara keseluruhan, karena penyataan memiliki konotasi “aktivitas Allah yang khusus” (baca: aktivitas penyelamatan).  Pluralisme mengidentikan sejarah dengan sejarah keselamatan karena konsep yang humanistis-anthroposentris. Memang benar Allah masih mengontrol jalannya sejarah; tetapi, apabila mencampuradukkan sejarah dengan penyataan khusus secara mutlak tanpa melihat unsur-unsur demonik dan kebobrokan manusia, akibatnya adalah fatal. Karena bila hal ini terjadi maka peristiwa Ambon, Maluku, Aceh, Poso, Bom Bali, Bom JW Marriot, dan sebagainya, dapat di klaim sebagai “tindakan dalam ketaatan terhadap Allah”!

Kegagalan dalam melihat fakta dari karya penyelamatan Kristus di dalam sejarah boleh jadi karena ketidakmampuan untuk mengenali Dia. Yohanes benar ketika ia menulis dalam injil, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:10,11).  Dan tidak pernah ada di dalam sejarah sebuah pernyataan yang begitu dahsyat dan menggetarkan setiap hati kesaksian dari mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Ia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia…Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yohanes 1:29-31, 36).

B. SEMUA JALAN MENUJU KE ROMA
Pluralisme menolak keyakinan terhadap universalitas dan partikularitas Kristus. Yang dimaksudkan dengan ‘universalitas’ disini adalah bahwa Yesus dari Nazareth adalah satu-satunya mediator keselamatan bagi manusia. Sedangkan ‘partikularitas’ (baca: eksklusif) untuk menjelaskan universalitas Injil (yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus) hanya efektif apabila di terima dengan iman. Keselamatan tidak berlaku secara otomatis sebagaimana halnya di anut oleh kelompok universalisme.

Memang beberapa teolog seperti Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Victor I. Tanja; mengakui bahwa, keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus tetapi dengan catatan bahwa Yesus Kristus itupun juga dapat hadir di luar tembok kekristenan. Sehingga sangatlah tidak bijak untuk membicarakan masalah hidup kekal dengan membedakan surga dan neraka. Alasan yang paling mendasar adalah karena Kristus itu kasih adanya sehingga tidaklah mungkin ada neraka atau tempat penghukuman yang kekal. J.A.T. Robinson dan N.S Fere berpendapat bahwa bila neraka ada maka surga hanya akan menjadi tempat dukacita abadi untuk meratapi mereka yang terhilang.(6)

Gustave H. Todrank melihat Kristus dari sisi yang lain. Baginya Kristus tidaklah sinonim dengan Yesus. Dalam bukunya “The Secular for a New Christ” ia melihat Kristus dalam konteks Alkitab yang berarti “yang diurapi Tuhan” sebagai suatu gelar yang lebih menunjuk kepada peranan dan fungsi dari pada nama pribadi. Lebih jauh ia menambahkan: karena di dalam Alkitab banyak orang yang diurapi Tuhan maka Kristus tidak boleh disinonimkan dengan Yesus. Baginya Yesus adalah “salah satu Kristus” atau “a Christ”, bukan “the Christ”. (7)  Bila pandangan ini menjadi patokan aplikatif maka dapatlah dianggap bahwa Gandhi, Mao Tse Tung, Martin Luther King, Calvin, Luther, dan lain-lain, dapat disebut sebagai “kristus-kristus” yang lain. Hal inipun sesuai dengan pemahaman kaum pluralis yang memandang sejarah identik dengan sejarah keselamatan yang dinyatakan dalam setiap budaya, bangsa, individu, dan agama!

Apapun bentuknya, kaum pluralis telah menolak keunikan dari pada Kristus berdasarkan pernyataan dari Kitab Suci: “diselamatkan oleh anugerah.” Jelas disini bahwa arti dan makna anugerah Allah disia-siakan sedemikian rupa, karena anugerah baru dipandang sebagai anugerah apabila tanpa persyaratan. Anugerah dengan persyaratan bukanlah anugerah. Bila Allah benar-benar menganugerahkan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang maka IA tidak tergantung terhadap sikap pribadi seseorang. Apakah ini benar?

Akibat konsep yang humanistis-anthroposentris ini; maka, pluralisme telah mengakui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa agama, kepercayaan, dan keyakinan apapun semuanya memiliki tujuan dan akibat yang sama. Buddha, Hindu, Islam, Kebatinan/Kejawen, Kong Hu Cu hanya berbeda “kulit dan bajunya” tetapi “isi”nya sama saja. Dengan demikian dapat juga dikatakan disini bahwa mereka mengabaikan istilah ataupun konsep berhala atau ilah zaman. Tidak ada yang menyembah patung, kayu, batu atau obyek-obyek tertentu yang dipakai sebagai “medium” untuk kontak dengan “realitas ilahi.” Kalau orang kristen mencap tradisi atau kepercayaan lain sebagai penyembah berhala maka kekeristenan adalah penyembah berhala karena memberhalakan Yesus!  Tom F. Driver salah seorang penulis artikel dalam buku “The Myth of Christ Uniqueness” mengistilahkan pemberhalaan kepada Kristus itu dengan istilah “Christolatry” (8) sebagai ungkapan pluralisme menolak klaim kekristenan yang meyakini kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya “Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14:6).

Kaum Pluralis meyakini bahwa klaim ini hanya berlaku bagi kekristenan saja dan tidak berlaku bagi kalangan lain. Menurut mereka klaim ini baru berlaku jika dalam konteks dimana Kristus mencakup semua yang benar dalam agama lain. Karena seluruh kebenaran bersumber dari Allah maka kebenaran-kebenaran dan kebaikan yang ada dalam agama lain harus dihubungkan dengan Kristus. (9)

Akan tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat di lihat, dirasakan dan dialami melalui nama-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).

C. MISI IDENTIK KEPENTINGAN DUNIA DAN MANUSIA
Pluralisme melihat misi sebagai upaya memperluas kerajaan Allah di bumi. Harus di akui bahwa ada kebenaran yang terkandung dari cara pandang ini. Akan tetapi penekanan misi disini adalah bahwa kerajaan Allah itu tidak hanya meliputi gereja dan kekristenan tetapi mencakup segala sesuatu. Menurut mereka, salah satu faktor yang dominan mendatangkan konflik dan perpecahan diantara umat manusia adalah masalah agama. Masalah ini hanya dapat diatasi apabila semua agama membuang sikap yang berpusat pada diri sendiri seperti: doktrin atau kerygma. (10)) Barangkali lagu “Imagine” yang dinyanyikan oleh John Lenon dapat menjadi gambaran nyata dari pengharapan mereka ini.

Pemahaman misi yang rancu karena menganggap bahwa misi kristen haruslah misi kasih dan bukanlah terutama kebenaran karena kebenaran memilah, menghakimi dan mempolarisasikan menjadi permasalahan yang fatal untuk diterima oleh seorang yang menyebut diri kristen yang sejati. Perhatikan pernyataan yang tanpa salah dari Song yang mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat menyatukan yang tidak dapat dipersatukan; hanya kasih yang mampu melakukannya.(11)

Latar belakang pemikiran bahwa misi tidaklah terutama untuk memberitakan kebenaran didasarkan pada konsep “misi adalah mengembangkan kerajaan Allah.”  Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ini adalah apabila gereja dapat bekerjasama dengan dunia. Tekanan misi bukanlah masalah surga karena surga adalah “urusan Allah.” Tentang hal ini Song berkata, “Kita tidak boleh mencampurinya karena kita hanya akan dapat merusaknya”. (12) Tekanan misi harus dititik-beratkan pada kepentingan manusia dan dunia. Rene Padila dalam ceramahnya “Evangelization & The World” ketika mengatakan bahwa seluruh injil untuk seluruh manusia dan seluruh dunia, ia memaksudkannya sebagai pemulihan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa injil harus menjadi hub ungan manusia dengan “dunia-dunia dimana Kristus mati”. (13)

Hal ini memunculkan strategi baru dalam metodologi misi yang kemudian sangat dikenal dengan istilah dialog antar agama. Victor I. Tanja mengatakan bahwa metodologi misi yang paling sesuai dan kontekstual dengan Indonesia pada saat ini adalah dialog dan bukan penginjilan. (14) Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dialog bersifat lebih rasional dan dapat diterima dalam setiap element yang berbeda karena mampu menciptkan sikap saling keterbukaan, belajar satu dengan yang lain, saling memberi, tumbuh bersama untuk mencapai tujuan. Tujuan tersebut adalah: terciptanya harmoni dan kesejahteraan umat manusia. Akibat pemahaman metodologi misi yang demikian maka segala resiko yang mungkin terjadi dalam setiap kesempatan harus dipandang sebagai jalan terbaik. Salah seorang teolog reformed yang terpengaruh dengan gerakan pluralisme ini adalah Prof. JG. Davis mengatakan bahwa, “…Kita harus rela menghadapi suatu resiko, apabila menemukan bahwa iman agama lain itu lebih baik/benar dari pada iman Kita sendiri…”. (15)

Pada kenyataanya metodologi misi ini yang lazim dikenal di Indonesia sebagai dialog antar umat beragama (inter-faith dialog) lebih banyak menghasilkan ‘pertobatan’ kristen terhadap iman agama lain. Di Inggris dan negara-negara lain di Eropa semakin marak dengan ucapan dan ungkapan pengakuan orang-orang berlabel kristen terhadap ‘iman yang benar’ dalam agama lain tersebut. Malcolm Archeson, Vicarius gereja Tisbury-England mengatakan bahwa Tuhan orang Islam dan Tuhan orang kristen adalah sama. (16) Sebuah pernyataan yang sangat sulit untuk diucapkan oleh non-kristen sendiri.

Sesungguhnya kita diingatkan kembali kepada misi Tuhan Yesus Kristus ketika IA masih berada di dalam dunia ini, dari awal kehidupan dan pelayanan-Nya hingga kenaikan-Nya ke sorga. Ia pernah berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mencari domba-domba yang tersesat (Matius 18:12-14). Bahkan Ia menyatakan bagaimana seharusnya umat-Nya mengaku iman percaya mereka kepada-Nya, “Setiap orang yang mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga mengakuinya didepan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di sorga.” (Matius10:32,33).

Dalam terang kebenaran Alkitab misi dalam konsep pluralisme adalah suatu upaya untuk membangun dunia demi kesejahteraan dan kemaksmuran bersama tanpa memperhatikan hal-hal di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya yaitu dosa dan segala akibatnya. Tentu saja hal ini akan sangat fatal akibatnya…dan mungkin hanya merupakan pengulangan sejarah dari Menara Babel di dalam kitab Kejadian 11:1-10!!

Kesimpulan
Pluralisme menolak finalitas Kristus yang merupakan dasar dari iman kristen. Juga pluralisme merupakan suatu ajaran “anti Kristus” yang menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan “kristus-kristus palsu” atau “kristus yang kosmis panteistis.” Satu hal penting yang tidak dapat disangkali bahwa pemahaman ini justeru muncul dari dalam kekristenan sendiri melalui oknum-oknum tertentu yang pengaruhnya tidak hanya di dalam tembok kekritenan lokal saja melainkan telah mendunia. Pada masa sekarang keberadaan ajaran inipun terus mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya seiring dengan semangat humanisme global modern.

Gereja harus menolak pluralisme karena bersifat sinkretis; mencampuradukkan segala macam ajaran agama yang diyakini memiliki kebenaran-kebenaran tertentu yang saling melengkapi. Gereja harus sadar akan bahaya dan fenomena dari ajaran ini yang dalam konteks kultural cukup mendapat angin untuk berkembang dengan subur dan kemudian merongrong wibawa kekristenan. Pluralisme perlu diwaspadai khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan potensial menjadi lahan yang subur untuk berkembang dan menghambat serta mengancam kelangsungan eksistensi dan misi kristen yang tergantung pada fondasi keunikan dan finalitas Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator Keselamatan. Umat Tuhan yang sejati perlu dengan bijaksana dan berhikmat mengingat akan kata-kata dari sang Juru Selamat sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6).”

Catatan:

(1) Paul F. Knitter, No Other Name? (New York: Orbis Books, 1982). P. 37.
(2) David Ndoen, Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah, 1995). P. 1. Bersifat “atomis” menunjukkan kepada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang berkembang berasal dari satu ledakan inti. Hal ini untuk menggambarkan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan sebenarnya berakar dari satu inti yang sama. Sedangkan bersifat “oseanis” untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu itu mengalir ke satu tujuan yang sama dimana manusia tidak berkuasa untuk memilah-milah mana yang benar dan yang salah karena pada dasarnya segala sesuatunya itu sudah ada filternya tersendiri.
(3)  Choan Seng Song, Allah Yang Turut Menderita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). P. 81
(4) Paul F. Knitter, No Other Name? halaman. 25.
(5) Victor I. Tanja, Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Halaman 123-124.
(6) R.B. Kuyper, For Whom Did Christ Die? (Grand Rapids: Baker Book House, 1959). Pp.13-14.
(7) Yarman Halawa, Karya Keselamatan Yang Efektif Bagi Umat Pilihan Allah Dan Relevansinya Dalam Misi: Sorotan Terhadap Gerakan Misi Arminianisme dan Universalisme. (Pacet: Skripsi S1, 1999). Halaman 84.
(8) John Hick & Paul F. Knitter, The Myth Of Christian Uniqueness. (London: SCM, 1987). Pp. 214-215.
(9)  Untuk lebih jelas lihat Lilian Tedjasudhana. Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan Keselamatan Satu-Satunya, (Jakarta: Yayasa Bina Kasih/OMF, 1996). Judul asli: What’s So Unique About Jesus?
(10) Knitter, p. 41.
(11)  Song, halaman 90.
(12)  Ibid., halaman 89-91.
(13)  Gerald H. Anderson & Thomas F. Stransky., Missions Trends No. 2: Evangelization. (Grand Rapids: Paulist Press, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978). Pp. 46, 52-55).
(14) Lihat Tanja, halaman 4-6.
(15)  J.D. Douglas, ed. Let The Eartyh Hear His Voice. (Minneapolis: Worldwide Publishers, 1975). P. 72.
(16) Herlianto, Gereja Modern Mau Kemana? (Bandung: Yabina, 1995). Halaman 78.

KEPUSTAKAAN
Alkitab
Anderson, Gerald H. & Stransky, Thomas F., Missions Trends No. 2: Evangelization.
Grand Rapids: Paulist Press, 1978.
Douglas, JD., Let The Earth Hear His Voice. Minneapolis: Worldwide Pub. 1975.
Hick, John & Knitter, Paul F., The Myth of Christian Uniqueness. London: SCM, 1987.
Herlianto., Gereja Modern Mau Kemana?. Bandung: Yabina, 1995.
Halawa, Yarman., Karya keselamatan yang Efektif bagi Umat Pilihan Allah Dan
Relevansinya Dalam Misi: Sorotan terhadap Gerakan Misi Arminianisme Dan Universalisme
(skripsi S1).                        Pacet:  STTIAA, 1999.
Kuyper, RB., For Whom Did Christ Die? Grand Rapids: Baker Book House, 1959.
Knitter, Paul F., No Other Name? New York: Orbis Books, 1985.
Ndoen, David., Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah). Sihanjung, 1995.
Song, Choan Seng., Allah Yang Turut Menderita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Tanja, Victor I., Spiritualitas, Pluralitas Dan Pembangunan Di Indonesia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994.
Tedjasudhana, Lilian., Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan keselamatan Yang
Satu-Satunya.
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996. Judul asli: What So Unique About Jesus?.

 

DOKTRIN GEREJA DALAM TEOLOGIA REFORMED Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 23, 2009

I. AJARAN ALKITAB MENGENAI GEREJA
A. PENGERTIAN
1. Gereja adalah kumpulan umat pilihan Allah yang telah diselamatkan dari segala zaman, terikat oleh perjanjian Allah untuk melayani Dia dalam dunia.
2. Gereja memiliki tugas utama melaksanakan Amanat Agung (Mandat Penginjilan) dan Mandat Budaya

Istilah Gereja
a. `Kahal’ (1) dalam Perjanjian Lama (Kel.12:6; Bil. 14:5; Yer.26:17; Kis.7:38)
b. `Ekklesia’ (2) dalam Perjanjian Baru (Mat. 16:18; Kis.19:32,39,41; Rom.16:4)

Katekismus Heidelberg
Pertanyaan 54 (3)
P. Apa yang anda percayai mengenai “Gereja yang kudus dan am” ?
J. Aku percaya bahwa Anak Allah, melalui Roh dan Firman-Nya (Yoh. 19:14-16; Kis. 20:28; Ro. 10:14-17; Kol. 1:18) dari seluruh suku bangsa (Kel. 26:3-4; Why. 5:9) dan dari awal hingga akhir dunia ini (Yes. 59:21; 1 Kor. 11:26) mengumpulkan, melindungi, dan memelihara bagi diri-Nya suatu persekutuan yang dipilih-Nya untuk hidup yang kekal (Mat. 16:16; Yoh. 10:28-30; Ro. 8:28-30; Ef. 1:3-14) dan dipersatukan dalam iman yang benar (Kis. 2:42-47; Ef. 4:1-6). Dan dalam persekutuan ini saya (1 Yoh. 3:14, 19-21) menjadi anggota yang hidup sekarang sampai selama-lamanya (Yoh. 10:27-28; 1 Kor. 1:4-9; 1 Pet. 1:3-5)

Pertanyaan 55 (4)
P.: Apa yang anda pahami tentang “persekutuan orang kudus” ?
J. : Pertama, orang-orang percaya secara pribadi dan keseluruhan, sebagai anggota-anggota persekutuan ini, mendapat
bagian dalam Kristus dan kekayaan serta karunia-karunia-Nya (Ro. 8:32; 1 Kor. 6:17; 12:4-7, 12-13; 1 Yoh. 1:3)
Kedua, setiap anggota harus merasa wajib menggunakan karunia-karunianya untuk kepentingan dan kebahagiaan
anggota-anggota lainnya, dengan sukarela dan sukacita (Ro. 12:4-8; 1 Kor. 12:20-27; 13:1-7; Fil. 2:4-8)

B. MAKNA GEREJA
1. Ditujukan pada bangunan atau gedung gereja
2. Ditujukan pada gereja lokal (5)
3. Ditujukan pada denominasi gereja (6)
4. Ditujukan pada gereja yang nampak (visible church) dalam arti yang luas, termasuk Gereja Katolik, Gereja Protestan dan Gereja Orthodox biasa disebut sebagai Gereja Militant, yang terus maju berperang (Militant Church)
5. Ditujukan pada kumpulan orang-orang yang sudah dilahirkan baru dan diselamatkan, disebut Gereja yang universal, Gereja yang tidak nampak (invisible Church)
6. Ditujukan pada umat Kristen sejati sepanjang sejarah disebut Gereja yang menang (Triumphant Church)
7. Ditujukan pada Keluarga Allah (Family of God) yang terdiri dari umat kudus/pilihan yang diselamatkan dalam Perjanjian Lama maupun sepanjang sejarah gereja
8. Semua umat kudus Allah dari kekal sampai kekal

C. GAMBARAN UNTUK GEREJA
a. Tubuh Kristus (I Kor.12:27; Eph.4:12; Kol. 1:18)
– Kristus adalah kepala (Kol. 1:17-18). Kepala dan anggota tubuh memiliki hubungan hidup (Yoh. 15:5)
– Antar anggota tubuh memiliki hubungan yang erat satu dengan yang lain, memiliki karunia
yang berbeda (1 Kor. 12:4-11), tetapi tak terpisahkan satu dengan yang lain, dan dengan
fungsi yang berbeda membangun tubuh Kristus (Efs. 4:11-16; 1 Kor. 12:26)
– Anggota tubuh dalam Kristus saling melengkapi, saling menolong (Ro. 15:7; Gal. 6:1)

b. Mempelai perempuan Kristus (Eph.5:25-32; Why. 21:2; 22:17)
– Menekankan hubungan kasih suami isteri
– Kesatuan yang tak terpisahkan, bagaikan suami isteri adalah dua menjadi satu tubuh (Kej. 2:23)
– Dipersatukan saat kedatangan Kristus yang ke 2

c. Bait Allah, Bait Roh Kudus (Eph.2:20-22; I Tim.3:15; I Kor.3:16; 6:19)
– Roh Kudus adalah sumber hidup gereja (Gal. 5:25)
– Roh Kudus adalah sumber kuasa gereja (Kis. 1:8; Kis. 4:31)
– Roh Kudus adalah kunci kesatuan gereja (Kis. 4:31-32)
– Roh Kudus membagikan karunia sesuai kehendak-Nya kepada gereja ( 1 Kor. 12:11)
– Gereja harus menyatakan kelayakannya sebagai Bait suci dari Roh Kudus

d. Umat Allah (Kel. 3:7; 2 Kor. 6:16; Kel. 15:13-17; Hos. 2:23; Efs. 2:11,16, Ro. 9:24-26)
– Allah menyayangi umat-Nya (Ul. 32:9-10)
– Allah menghendaki umat-Nya setia bagaikan isteri setia kepada suaminya (Roma 2:29; Filp.3:3)
– Allah menghendaki umat-Nya kudus (Im. 20:24-26; Efs. 5:26-27)

D. SIFAT GEREJA
1. Gereja tidak nampak (invisible church)
a. Orang Kristen yang sudah dilahirkan baru (Eph.2:11,22; 1 Pet.1:2)
b. Benar-benar bertobat (Why.5:9)
c. Namanya tercatat dalam kitab kehidupan (Why.21:27)

2. Gereja nampak (visible church)
a. Gereja yang berorganisasi
b. Melalui prosedur baptisan

E. PERIODE-PERIODE GEREJA
1. Periode Perjanjian Lama
a. Adam & Hawa dan keturunannya (Kej.3:15-21; 4:4, 25-26)
b. Nuh, Abraham, Ayub (Kej.6:9; 12:1-3; Ayb 1:8; Ibr.11:4,5,7-12), belum terorganisir dan berpusatkan pada keluarga
c. Periode Musa (Mosaic period), terorganisir resmi dengan berbagai jabatan imam, kurban bakaran (Kel.25:7; 28:1;
30:11-16), tetapi jabatan & kurban tersebut melambangkan Kristus (Ibr.9:11-12,24; 10:1,10; Yoh.1:29)
d. Yesus sendiri mengisyaratkannya (Yoh.10: 14-16)
e. Stefanus menegaskannya (Kis 7:38)

2. Periode Perjanjian Baru
a. Peristiwa Pentakosta (Kis. 2:)
b. Dalam Kristus tanpa perbedaan (Gal.3:26-29)
c. Bereksistensi sampai kedatangan Kristus (Mat.16:18; 24:14)

F. CIRI KHAS GEREJA
1. Kesatuan (the unity of the church)
a. Gereja itu satu, Kristus adalah kepala (Kej.15:5; Why.7:9; Ef.1:22-23; 1 Kor.12:12)
b. Dasar gereja itu satu-Kristus (I Kor.3:11)
c. Satu Allah, iman dan baptisan (Ef. 4:5)
d. Sebagian dari kesatuan itu dinyatakan juga dalam gereja yang konkrit

2. Kekudusan (the holiness of the church)
a. Kudus karena milik Allah (Mat.16:18; Yoh.15: 16,19; Mat.28;20; Yoh.19:14-15)
b. Kudus karena dilahirkan dan dikuduskan oleh Roh Kudus (1 Pet.1:23; 2:9)

3. Keumuman (the catholicity of the church)
a. Meliputi segenap bangsa (Kis.1:8; Mat.28: 19)
b. Melampaui batasan strata, bangsa dan sosial (Kis.15:1-34; 1 Kor.16:1-3)

G. TANDA-TANDA GEREJA (the marks of the church)
1. Memberitakan injil yang benar
a. Sebagai tugas utama dari gereja (Mat.28:19)
b. Jika meninggalkan kebenaran tidak dapat disebut sebagai gereja lagi (Gal.1:6-12)
c. Sebagai tugas dari murid Tuhan yang sejati (Yoh.8:31,47; 2 Tim.1:13; 2:14-18; 1 Yoh. 4:1-3)

2. Menjalankan sakramen gereja
a. Pentingnya persyaratan bagi pemimpin sakramen dan mereka yang menerima sakramen
b. Sakramen sebagai perintah Tuhan Yesus (Mat. 28:19; Luk.22:14-20; 1 Kor.11:23-31)
c. Teladan dari para rasul (Kis. 2:28,39; 8:38; 16:33).

3. Melaksanakan siasat/disiplin gerejawi
a. Menjaga kekudusan gereja (Titus 1:5,9; 1 Kor. 5:5; Gal.1:8-9)
b. Perintah Tuhan Yesus (Mat.16:19)

II. ADMINISTRASI GEREJA (The Government of the Church)

A. Sistem organisasi
1. Papal/Kepausan

2. Sistem Episcopalian (the Episcopalian system)
a. Bishop memegang peranan utama.
b. Sebagai warisan jabatan & otoritas dari para rasul

3. Sistem Lutheran
a. Sebagai akibat dari gerakan reformasi
b. Bersumber pada sistem Episcopalian

4. Sistem Congregational
a. Otoritas tertinggi pada tangan jemaat
b. Mementingkan kemandirian
c. Bertanggung jawab pada sidang pleno jemaat

5. Non sistem organisasi
a. Menolak segala macam sistem
b. Menolak sebutan jabatan gerejawi

6. Sistem Presbyterian
a. Dewan tua-tua memiliki otoritas tertinggi dalam gereja
b. Menekankan organisasi jemaat, klasis dan sinode

B. Jabatan Gerejawi
1. Jabatan khusus (Extraordinary officers)

a. Rasul
 Arti sempit – 12 rasul (Mk.3:14-19; Gal.1:1; Ef.2:20; 1 Kor.2:13; 2 Kor.12:12; 2 Pet.3:15-16)
 Arti luas – panggilan khusus dalam PI. (2 Kor.8:23)

b. Nabi
 Nubuat
 Penafsir/pemberita kebenaran (Kis. 11: 27-28; 15:32)
c. Evangelist: Filipus, Markus, Timotius, Titus termasuk katagori tsb.(Kis. 21:8; Ef.4:11; 2 Tim. 4:5)
 Sebagai asisten rasul
 Diutus untuk misi yang khusus
 Berkhotbah dan membaptiskan
 Ditahbiskan sebagai tua tua (Titus 1:5; 1 Tim.5:22)
 Menjalankan disiplin gereja (Titus 3:10)

2. Jabatan umum (Ordinary officers)
a. Tua-tua (elders)
 Ditahbiskan oleh para rasul
 Mengatur dan menggembalakan gereja lokal (Kis.14:23)
 Syarat tua-tua ( 1 Tim.3:1-7; Titus 1:5-9; 1 Pet.5:1-3)
 Tua-tua/presbuteroi sama dengan penilik jemaat/episkopoi (Titus 1:5-7)
 Menyerahkan sebagian besar/segenap waktu (I Tim.5: 17-18; 1 Kor.9:4-7; 1 Pet.5:1)

b. Pengajar (teachers)
 Berhubungan erat dengan jabatan tua-tua
 Tidak dapat dipisahkan dengan pastoral (Ef.4:11)

c. Majelis (deacons)
 Dimulai zaman rasul (Kis. 6:-)
 Wakil dari gereja dalam bidang sosial
 Dipilih dengan persyaratan yang ketat (Kis. 6:3)
 Setara dengan syarat tua-tua (1 Tim.3:8- 13)
 Disebutkan juga majelis wanita (Ro. 16:1-2)

3. Panggilan & pentahbisan
a. Panggilannya
1. Internal calling
– tidak harus mendapat wahyu khusus
– visi & misi dalam pelayanan
– digerakkan kasih Kristus
– mendapat talenta khusus
– pimpinan Tuhan yang khusus
2. External calling
– melalui hamba Tuhan/rohaniwan
– prosedur pemilihan (Kis. 1:15,16; 6:2-6; 14:23)
b. Pentahbisan
1. Pentahbisan
– harus diuji dulu
– disahkan dihadapan jemaat

2. Penumpangan tangan
– bersamaan dengan ordinasi/pentahbisan (Kis. 6:6; 13:3; 1 Tim.4:14; 5:22)
– lambang menerima suatu jabatan & talenta khusus.

catatan:
(1) Kahal (qahal) berarti “memanggil” ditujukan kepada “perkumpulan” (Ul. 9:10), “jemaah TUHAN” (Ul. 23:1-3), “sekumpulan orang” (Yehz. 16:40; 17:17). Dalam Septuagenta diterjemahkan sebagai “ekklesia” atau “synagoga”
(2)  Ek artinya keluar kaleo artinya dipanggil
(3)  Katekismus Heidelberg, terjemahan Dep. Dogma dan Penelitian Sinode GKT. Hal. 27
(4) Ibid. Hal. 28
(5) Misalnya, GKA, GKT, GKI,GPIB, HKBP dll
(6)  Misalnya, Gereja Katolik, Gereja Protestant, Gereja Reformed, Gereja Baptis, Gereja Lutheran dll Kahal (qahal) berarti “memanggil” ditujukan kepada “perkumpulan” (Ul. 9:10), “jemaah TUHAN” (Ul. 23:1-3), “sekumpulan orang” (Yehz. 16:40; 17:17). Dalam Septuaginta (LXX) diterjemahkan sebagai “ekklesia” atau “synagoga”

(disampaikan dalam Pembinaan Teologia Aktifis Gerejawi GKA se-Wlingi-Blitar dan sekitarnya di P3A Wlingi pada November 2008  dan Pembinaan Penatalayan Terpadu GKA GRACIA Citra Raya Surabaya, 8 Pebruari 2009)

 

SEMPER REFORMATA, SEMPER REFORMANDA (Efesus 4:11-16) by Rev. Yarman Halawa

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 10:05 am
Tags: , , , , , ,

31 Oktober 1517 atau 489 tahun yang lalu Matin Luther memakukan 95 Dalil di pintu gereja Wittenburg di Jerman menyuarakan pembaharuan di dalam gereja Roma Katolik (gereja Am) yang mengakibatkan timbulnya gerakan reformasi Protestan. 95 dalil itu dapat dibagi dalam 3 tujuan besar: 1. gereja harus kembali kepada pengajaran Alkitab, 2. gereja harus membenahi diri secara organisatoris, dan 3. gereja harus memimpin dan mengarahkan umat kepada kehidupan rohani yang sehat. 3. tujuan besar ini telah berhasil mengembalikan gereja Tuhan kepada hal2 pokok pengajaran Alkitab yang terpenting : 1. Sola Gracia – keselamatan itu anugerah, bukan diperoleh melalui usaha manusia, manusia tidak bisa diselamtkan dengan membeli surat penghapusan dosa yang ditawarkan gereja pada waktu itu, 2. Sola Scripture – hanya percaya kepada ajaran kebenaran FT, FT menjadi satu-satunya sumber ajaran dalam gereja bukan hal2 yang merupakan karangan atau tradisi yang dibuat oleh manusia, 3. Sola Fide – hanya karena iman manusia dapat datang dan di terima oleh Allah, 4. Sola Christos – hanya Kristuslah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, kepala Gereja yang Agung, tidak ada yang lain. Kita tidak mengkultuskan peristiwa ini tetapi melestarikan semangat yang terkandung di dalam peristiwa itu, yaitu semangat pembaharuan untuk mengembalikan gereja dan umat kembali kepada yang seharusnya, kepada yang benar sesuai dengan ajaran Kitab Suci.

Q: Bagaimana supaya semangat pembaharuan ini dapat terus berlangsung dalam gereja Tuhan di tempat ini? Sedikitnya ada 3 hal penting harus kita perjuangkan bersama:

Pertama, Gereja Harus Rapi Tersusun dan Terikat Menjadi Satu

Gereja digambarkan seperti tubuh. Tubuh yang hidup. Tidak mati. Yang bergerak dan memiliki kesatuan. Saling melekat satu sama lain. Bayangkan kalau bagian2 tubuh kita terlepas, berjalan sendiri2, masing2 ikut kemauannya sendiri2. Pasti kacau. Gereja yang memiliki semangat pembaharuan harus terikat erat dalam satu kesatuan. Gereja yang mengalami pembaharuan adalah gereja yang rapi. Bukan gereja yang amburadul, acak-acakan yang ditatalayani sesuka hati. Tetapi gereja yang terarah, punya tujuan. Dan hal ini hanya bisa terjadi: pertama, jika gereja memiliki jemaat yang sungguh2 memiliki hati yang setia mendukung kemajuan pekerjaan Tuhan melalui gereja, jemaat yang rela hati diarahkan kepada kehidupan rohani yang sehat. Kedua, jika gereja memiliki perangkat kepemimpinan yang terarah, baik, kompak, berdedikasi tinggi dan multi karunia, yang menjadi sebuah team kepemimpinan yang bersatu. Menjadi satu itu menandakan adanya perbedaan (beda latarbelakangnya, kepribadiannya, karunianya, talentanya, jabatannya, dst), tetapi perbedaan yang bersatu itu justru dimanfaatkan untuk memperkaya kehidupan pelayanan, supaya gereja maju dan nama Tuhan dipermuliakan.

Bagi saya secara pribadi, HUT kali ini sangat istimewa, karena untuk pertama kali disertai dengan peneguhan para pengurus gereja untuk periode 2006-2008 melalui upacara gerejawi. Melalui tahapan2 rekruitmen kepemimpinan gerejawi, Saya percaya semua telah benar2 menjadi ‘satu’ dalam pengertian utuh: satu hati, satu pikiran, tujuan, satu keanggotaan dalam GKA GRACIA Citra Raya demi kemuliaan Kristus. Ini kado HUT dari Tuhan untuk gereja di tempat ini. Sebagai jemaat dukung secara nyata dan doakan pelayanan mereka. Tahun2 pelayanan yang akan datang akan menjadi tahun2 penting bagi gereja Tuhan di tempat ini, karena focus pelayanan adalah kualitas kehidupan bergereja, berjemaat, beribadah dan kehidupan rohani. Karena itu siapapun kita yang merasa menjadi bagian dari gereja ini, mari bahu membahu bersama-sama menjadikan gereja Tuhan menjadi rapi tersusun dan terikat menjadi satu.

Kedua, Gereja harus Bertumbuh

Gereja bukan hanya bertambah, tapi harus bertumbuh, artinya bertambah dewasa, terus berubah, produktif, kreatif dalam pelayanan dan ibadah, tidak mandeg, begitu-begitu saja. Sebab itu gereja harus terbuka terhadap pembaharuan, kepada hal-hal yang baru, selalu berusaha beribadah dan bersekutu dengan lebih baik, Melayani lebih baik. Tetapi jangan salah diartikan bahwa supaya bertumbuh, maka gereja harus meniru sana-meniru sini. Gereja yang kehilangan arah biasanya hanya bisa meniru, tidak peduli apakah yang ditiru itu sungguh2 yang terbaik untuk dilakukan dan sungguh2 bermanfaat untuk jangka panjang. Selama ini di GKA Gracia Citra Raya, kebijakan Pastoral gereja berpijak pada semboyan: On essentials, unity. On non-essential, liberty. On everything, charity (untuk hal2 yang terpenting, kesatuan: doktrin, teologia dan ajaran Alkitab itu tidak bisa dikompromikan). Untuk hal2 yang tidak terlalu penting, kebebasan (terbuka terhadap hal2 baru yang membangun dan bermanfaat). Untuk segala sesuatu, belaskasihan (penerimaan satu sama lain). Hal ini berarti 2 hal; pertama, gereja yang mau terus-menerus diperbaharui adalah gereja yang sanggup untuk membawa pembaharuan. Kita tetap memelihara semangat dari tradisi Protestan untuk kemajuan gereja. Kedua, Gereja tidak boleh hanya bertambah besar, bertambah banyak, bertambah rapi, bertambah kaya (siapa tahu kelak jadi kaya), dsb, tetapi juga harus terus bertambah dalam kasih, bertumbuh dalam kasih.

Ketiga, Gereja Harus Terus di Bangun

Gereja yang memiliki semangat pembaharuan akan tetap setia memperjuangkan hal2 yang terpenting diantara hal2 yang penting. Fokusnya bukan hanya membangun gedung dan menyediakan berbagai fasilitas, melainkan pada pembangunan manusianya. Ini yang saya maksud dengan yang terpenting di antara hal2 yang penting. Ada satu lagu: Gereja bukanlah gedungnya, bukan pula menaranya, bukalah pintunya lihat didalamnya, gereja adalah ORANGnya. Itu berarti organisma (jiwa) itu lebih penting dari sekedar sebuah organisasi. Sejarah memberi kita pelajaran berharga: ketika gereja memperjuangkan hal2 yang penting bagi dirinya maka yang terjadi adalah kehancuran. Bangkitnya gerakan reformasi gereja pada 1517 itu sesungguhnya bertujuan supaya gereja (RK) kembali kepada kebenaran Alkitab, yakni hal terpenting yang telah ditinggalkan oleh para pemimpin gereja pada zaman itu. Bayangkan sedemikian merosotnya kehidupan rohani sehingga uang itu lebih penting dari keselamatan jiwa manusia (cf. Kardinal Tetzel di Jerman sampai berani berkata tanpa takut kepada Tuhan, “Ketika mata uang berdering didalam peti maka seketika itu juga jiwa melompat keluar dari api penyucian”). Mengerikan! Reformasi menjadi jalan untuk membebaskan gereja dari segala bentuk kepalsuan dan kebobrokan dari struktur dan hirarki pemerintahan gereja yang sangat mapan pada zaman itu. Timbulnya Reformasi gereja menunjukkan adanya fakta sejarah bahwa Gereja telah mengabaikan yang terpenting diantara hal2 yang penting. Gereja yang hanya mengutamakan hal2 penting saja tetapi mengabaikan hal2 terpenting tidak akan sanggup menjadi alat Tuhan yang membawa perubahan ke arah yang lebih berarti, punya nilai dan makna baik bagi gereja itu sendiri maupun bagi dunia ini. Gereja yang sungguh2 memiliki semangat pembaharuan akan senantiasa menempatkan pelayanan, pembinaan jiwa dan masa depan pelayanan pastoral pada posisi yang lebih penting dibandingkan sekedar struktur, hirarki, nama besar organisasi, dan kebanggaan manusiawi terhadap gereja itu sendiri. Itu sebabnya “Memenangkan Jiwa” menjadi misi internal gereja Tuhan di tempat ini. Why? Karena salah satu ciri dari gereja yang mewarisi semangat reformasi 489 tahun lalu itu adalah membangun umat yang berkualitas rohani yang baik. Gereja yang benar bukan hanya gereja yang terus memiliki jumlah orang yang bertambah banyak namun dengan big Q sudahkah orang ini benar2 milik Tuhan atau belum. Gereja tidak hanya punya misi eksternal: Membawa jiwa sebanyak mungkin kedalam gereja. Atas nama Yesus bertobat lalu masuk dalam gereja. Apakah pekerjaan sudah selesai? Belum. Justru pekerjaan yang paling berat adalah follow up-nya: pada tugas bagaimana membaharui manusia yang sebelumnya atau masih berpola pikir dunia/dosa menjadi manusia yang memiliki pola pikir Kristus. Jadi, gereja tidak hanya perlu jumlah saja, tetapi lebih utama adalah kualitas manusia yang ada didalamnya.

Penutup

GKA GRACIA Citra Raya telah berdiri dalam semangat reformasi gereja (31 Oktober). Ibarat seorang anak yang terus bertumbuh dewasa, gereja Tuhan sampai pada hari ini, di dalam segala keterbatasan, kekurangan dan kemampuan yang dimiliki, terus belajar setia untuk terus menerus diperbaharui oleh Tuhan dan juga belajar untuk terus membawa pembaharuan-pembaharuan yang berarti yang bermanfaat bukan hanya bagi jemaat, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Saya percaya bila kehidupan bergereja selalu memelihara semangat reformasi ini, bukan mustahil kelak Tuhan akan memakai gereja ini untuk membawa pembaharuan yang lebih besar dan lebih berarti bagi kemuliaan-Nya.

(Khotbah Peringatan Hari Reformasi Gereja ke-489 dan HUT GKA GRACIA Citra Raya ke-9 31 Oktober 2006 )

 

MENCERMATI GERAKAN ROHANI DALAM PENGARUH NEO-PENTACOSTALISM DI TENGAH ARUS POST-MODERNISM Sebuah pemaparan dari perspektif pemahaman historis-filosofis doktrinal oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 15, 2009

Latar Belakang Historis
Neo Pentacostalism (Pentakosta Baru) atau The latter Rain Movement (Gerakan Hujan Akhir) atau yang juga dikenal sebagai the Charismatic Movement (Gerakan Kharismatik) terbilang sangat sukses dalam mempopulerkan pengajaran dari gerakan Pentakosta yang telah terlebih dahulu ada mengenai baptisan Roh Kudus yang dianggap sebagai ’berkat kedua (the second blessing).’ Gerakan ini mendapat tempat yang besar dalam sebuah organisasi persekutuan pebisnis Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI). Persekutuan ini didirikan oleh Demos Shakarian, seorang jutawan yang memiliki pertanian yang luas di California Selatan. Ia merasa bahwa Allah menggerakkannya untuk memulai suatu gerakan para pebisnis yang dapat bersekutu bersama dari berbagai denominasi gereja untuk berbagi iman di dalam Kristus. Full Gospel atau “Injil Sepenuh” mencerminkan keyakinan mereka dan arah persekutuan ini. Tidak ada unsur yang dilarang untuk dilakukan di dalam persekutuan ini: berbicara bahasa lidah, kesembuhan, pengusiran setan—apa pun yang dialami oleh seseorang.

Pertemuan pertama Full Gospel Busines Men’s Fellowship International diadakan pada bulan Oktober 1951 di Los Angeles mengundang Pdt. Oral Roberts, seorang pengkhotbah KKR yang konon memiliki karunia pemulihan khususnya kesembuhan. Dua tahun kemudian, pada Oktober 1953, Full Gospel Business Men’s Fellowship International mengadakan pertemuan nasional seluruh USA. Usaha yang dilakukan sebagai hasil dari pertemuan ini adalah “menginjili” orang lain yang berada di gereja-gereja tradisional atau ’mainline churches’ (Protestan, Katolik, Ortodoks, Anglican, dan yang lainnya) yang dianggap dan dipandang masih belum menerima baptisan Roh Kudus.(1)  Untuk seterusnya, persekutuan ini berupaya menjangkau orang-orang dari golongan non-Pentakosta dengan berita utama mengenai baptisan roh. Perlu diketahui, mereka tidak mengharuskan orang-orang non-Pentakosta masuk ke gereja Pentakosta. Seorang Katolik bisa saja masuk ke persekutuan itu dengan skeptis (tidak percaya) namun keluar dengan berbahasa lidah, tanpa merasa dipaksa untuk meninggalkan gerejanya dan pindah ke gereja lain yang di anggap ‘penuh Roh Kudus.’

Pada pertama kali berdirinya, mereka tidak suka dengan label “Neo-Pentakosta” dan lebih memilih “Pembaruan atau Gerakan Kharismatik.” Mereka menerima pengalaman Pentakosta dan perlunya karunia-karunia rohani, namun menolak penekanan bahwa bahasa lidah adalah ciri utama bila seseorang telah menerima baptisan Roh. Bagi mereka, bahasa lidah adalah salah satu dari karunia rohani yang dicurahkan oleh Roh, tetapi bukan bukti utama. Sebagian orang Kharismatik menolak bahwa bahasa lidah merupakan pengalaman nyata dari baptisan kedua, tetapi menerimanya hanya sebagai salah satu karunia. Persamaan keduanya ialah, bahwa pembaruan rohani yang berkembang di dalam diri orang-orang percaya akan membangkitkan kharismata (karunia-karunia) seperti yang ada di dalam Kitab Suci, sebagai kelengkapan pelayanan gereja.

Neo-Pentacostalism dan Semangat Post-Modernism
Di tengah dunia Post Modern dimana secara wawasan umum berlaku diktum bahwa hampir tidak ada kebenaran yang absolut, bahwa segala sesuatu itu adalah baik bila menghasilkan yang baik bagi manusia tanpa pandang filosofi dasarnya apakah bercampur aduk dengan unsur pengaruh demonik atau tidak, gereja dan orang percaya terjebak dalam grey area (wilayah abu-abu) yang menyebabkan tidak adanya satu filosofi doktrinal murni yang dipegang sebagai the absolute truth (kebenaran yang absolut). Bukan lagi doktrin yang absolut yang menjadi fondasi dari suatu bangunan gerakan rohani yang ada diatasnya dan yang kebetulan menghasilkan efek yang positif. Bagaimanapun disadari ataupun tidak Neo-Pentacostalism memiliki korelasi dengan semangat post-modernism ini.

Apabila dalam kurun waktu hampir 50 tahun sejak kehadirannya gerakan ini melakukan pendekatan yang begitu ekstrim; maka, pada hari ini gerakan kharismatik terlihat lebih mengambil jalan tengah yang ‘soft’ terutama terhadap kelompok-kelompok ‘mainline churches.’ Bila dahulunya misi utama adalah ‘menginjili’ orang-orang kristen dalam kelompok ‘mainline churches’ (Protestan, Katolik, Ortodoks, Anglican, dan lainnya) karena di anggap hidup dalam ibadah yang kaku, kurang gairah, terlalu liturgikal, musik yang loyo, ‘mati,’ dan belum menerima baptisan Roh Kudus, maka pada hari ini misi utama itu adalah bagaimana ‘bersama-sama dengan saudara seiman menjadi berkat bagi gereja dan masyarakat.’ Bila diperhatikan maka konsep ’menjadi berkat’ telah diterjemahkan dengan sangat sukses melalui terminologi ’pemulihan’ ’penyembuhan,’ ’impartasi,’ ’lawatan Allah,’ dan lain-lain. Mengapa merubah strategi pendekatan menjadi ‘soft’? Karena sikap anti dan alergi terhadap gerakan kharismatik dari kelompok ‘mainline churches.’ Pendekatannya sekarang adalah melalui filosofi pelayanan dan gerakan-gerakan yang bersifat interdenominasi. Daya tarik filosofi dan gerakan2 yang ‘dibidani’ oleh pengaruh Neo Pentacostalism ini dapat dikatakan luarbiasa, apalagi dari banyak pengakuan hampir tidak ada anjuran atau mengharuskan anggota-anggota ‘mainline churches’ yang ikut ‘jajan’ mencicipi manisnya ‘madu berkat’ yang dihasilkan oleh gerakan ini untuk meninggalkan gereja mereka. Justru ini menjadi semacam ’pengutusan’ kembali untuk ’memberkati’ ke dalam gereja asal masing-masing

Berikut adalah dua diantara gerakan-gerakan popular saat ini dalam akar pengaruh dan operasional gerakan neo-Pentacostalism di Indonesia yang juga bertujuan untuk menjadi berkat bagi gereja, orang kristen dan masyarakat termasuk kepada gereja-gereja di dalam “mainline churches” yakni Gerakan Pria Sejati dan Gerakan Wanita Bijak.

Gerakan Pria Sejati adalah sebuah pelayanan bagi kaum pria yang dilahirkan dalam gerakan kharismatik internasional. Gerakan ini berawal dari Christian Men’s Network (CMN) yang didirikan oleh Edwin Louis Cole pada 1977. Siapakah Edwin Louis Cole? Edwin Louis Cole atau yang lebih dikenal sebagai Ed Cole dilahirkan di Dallas, Texas pada 1922 dan meninggal pada 27 Agustus 2002 dan dimakamkan dengan upacara tertutup di Newport Beach, California. Ia memulai karir pelayanannya sebagai salah satu orang penting dari Aimee Semple McPherson di Angelus Temple atau yang juga dikenal sebagai International Church of the Foursquare Gospel (ICFG) di Los Angeles, CA. Angelus Temple adalah salah satu gereja Pentakosta Kharismatik yang berpengaruh dengan pengikut 2 juta orang diseluruh dunia. Selama 20 tahun Cole turut serta dalam pelayanan-pelayanan misi dan penginjilan Angelus Temple dan menjadi pria pertama yang menjadi hamba Tuhan full time disana. Tentu saja ini sebuah prestasi yang luarbiasa mengingat kepemimpinan Angelus Temple didominasi sepenuhnya oleh kaum Hawa yakni sang pendiri, Aimee Semple McPherson,(2)  dan ibunya Mildred Kennedy.
Sebagai seorang yang bersemangat melayani Tuhan dan merasa menerima panggilan khusus dari Tuhan untuk memimpin pemuridan kaum pria; maka, pada 1977 ia mendirikan apa yang kita kenal sebagai Christian Men’s Network. Pada April 1984 ia menyatakan mengundurkan diri sepenuhnya dari sayap pelayanan Angelus Temple dan selanjutnya memfokuskan diri pada pelayanan CMN yang didirikannya. Ia juga menerbitkan banyak buku dan berkhotbah tentang para pria berkaitan dengan tema-tema mengenai pria dan religiusitas pria.

Dibawah kepemimpinannya CMN mengalami masa jaya pada era 1980an-1990an yang dikatakan telah menjadi berkat bagi para pria di lebih 220 negara dan melayani jutaan pria melalui pertemuan pria Kristen, retreat, pelayanan gereja, video, radio, televisi, buku, kaset dan siaran satelit. Dikatakan bahwa jutaan pria telah mengalami perubahan hidup, perkawinan dipulihkan, hubungan dipulihkan, pelayan-pelayan Tuhan bangkit dan dikuatkan. Pada hari ini CMN terus berlanjut namun jika dilihat dari grafik perkembangan sesungguhnya; maka, gerakan ini tidak lagi seperti era Cole masih hidup dulu (bandingkan hal ini dengan FGBMFI ketika Demos Shakarian masih hidup!).

Edwin Louis Cole terkenal dengan pengajarannya yang dikalangan Neo-Pentacostalism disebut sebagai “suara nubuatan (prophetic voice)” bagi kaum pria dari generasi masa kini. Pengajaran itu adalah:
• “Christians are not patched-up sinners, they are new creations” (orang-orang kristen bukanlah sepenuhnya orang berdosa, mereka adalah ciptaan baru).
• “You don’t drown by falling in the water; you drown by staying there” (anda tidak tenggelam karena jatuh kedalam air; tetapi tenggelam karena tinggal/berada disana)
• “Do not let others create your world for you, for they will always create it too small” (jangan biarkan orang lain menciptakan dunia bagimu, karena mereka akan menciptakannya terlalu kecil bagimu).
• “Manhood and Christlikeness are synonymous” (kepriaan dan menjadi serupa Kristus memiliki makna yang sama).

Oleh para pengikut dan pengagumnya ia dianggap sebagai “BAPA KEGERAKAN PRIA MODERN.” Buku-bukunya telah dicetak lebih dari dua juta eksemplar dan ia memiliki 53 kantor internasional yang melayani lebih dari 200 negara, termasuk Indonesia.

Pelayanan CMN masuk ke Indonesia pada 1997 melalui Gereja Yesus Kristus Tuhan (Abbalove Ministries), salah satu gereja yang bila diperhatikan platformnya tergolong Neo-Pentacostalism/kharismatik besar Indonesia di Jakarta. Gembalanya Ir. Edi Leo menjadi ketua CMN Indonesia yang diresmikan pada 1999 di Texas, Amerika Serikat. CMN Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Pria Sejati, dikatakan telah memuridkan lebih dari 60.000 pria (pada pemaparan angka statistik per 2008 kemarin sekitar 50.126) yang berasal dari berbagai gereja, denominasi, lembaga kekristenan, perusahaan, institusi, badan pemerintahan pada akhir 2007. Gerakan Pria Sejati ini juga dikatakan telah merambah lebih dari 34 kota dan bahkan lebih dari 1.000 gereja lokal yang sudah pernah terlibat ikut dalam pemuridan pria ini (catatan: meskipun secara fakta kebanyakan yang ikut bukan atas nama lembaga gereja tetapi atas nama pribadi). Berkaitan dengan CMN Internasional dan CMN Indonesia silakan lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Edwin_Louis_Cole dan http://CMN Indonesia. htm.

Setelah Gerakan Pria Sejati yang dikomandani oleh Ir. Edi Leo ini lahir, maka muncul juga pelayanan yang disebut Gerakan Wanita Bijak yang di pimpin oleh Rose Leo (isteri Ir. Edi Leo). Bila diperhatikan korelasi ministrial-psikologis; maka, sangat besar kemungkinannya bahwa Gerakan Wanita Bijak ini kelahirannya dimotivasi oleh Gerakan Pria Sejati ini. Hal ini terlihat dari motto gerakan ini: ‘Murid Kristus, Mitra Pria.’

Mencermati Dengan Tepat dan Bijaksana Gerakan Produk Neo Pentacostalism
Apapun gerakan yang dilahirkan dalam kancah kehidupan kekristenan dalam era Post Modern ini tetap harus dicermati, diteliti dan diuji berdasarkan historis filosofis-doktrinal Alkitab yang tepat yang memotivasi pengajaran, kepemimpinan, penggembalaan dan pelayanan di lingkungan gereja-gereja dalam lingkup gereja Reformed.

Berikut adalah pertimbangan-pertimbangan yang mungkin diperlukan untuk menyikapi dengan bijaksana dan tepat gerakan-gerakan seperti ini:
1. Harus diakui bahwa gerakan2 semacam ini telah menghasilkan banyak hal yang bersifat positif, seperti yang disaksikan oleh mereka yang telah mengikuti gerakan-gerakan ini antara lain, pengalaman perubahan hidup, perkawinan dipulihkan, hubungan dipulihkan, pelayan-pelayan Tuhan bangkit dan dikuatkan, dst. Namun disisi lain track record Neo-Pentacostalism yang telah terbukti kurang tepat (bahkan salah dan kacau) dalam memahami sebagian (yang tentunya juga mempengaruhi keseluruhan) doktrin mengenai Roh Kudus (Pneumatologi) telah mengakibatkan kerusakan doctrinal yang luarbiasa di dalam ’mainline churches’ berkaitan dengan filosofi dasar mengenai kehidupan kristen lahir baru yang sesungguhnya.

2. Gerakan kharismatik layak diacungi jempol sebagai gerakan dengan pendekatan kepada individu, kelompok, atau massa secara psikologis. Bukan lagi bisa tidaknya berbahasa Roh atau masalah baptisan Roh yang menjadi isu penting dalam gerakan ini, tetapi berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan psikologi manusia yang hari ini banyak mengalami stress, tekanan dan pergumulan2 hidup pribadi, keluarga, usaha, gereja dan masyarakat. Gerakan Neo-Pentacostalism telah turut melahirkan apa yang sebut sebagai Psikological Gospel/Injil Psikologi. Ciri utama Injil Psikologi adalah Tuhan dan firman-Nya melayani kebutuhan (needs) manusia.

3. Banyak orang kristen Neo-Pentacostalism tidak menyadari bahwa gerakan-gerakan dalam pengaruh kharismatik telah turut membangkitkan sikap radikalisme dari saudara-saudara non Kristen (lihat http://www.indomedia.com/bpost/9805/1/OPINI/artikel1.htm).

4. ‘roh’ pemberontakan yang merupakan ciri utama gerakan Neo Pentacostalism sejak awal terhadap nilai-nilai tradisional gereja reformasi, telah semakin memperlebar jurang pemberontakan kaum muda terhadap nilai-nilai histories filosofis-doktrinal yang bersifat prinsip yang selama ini telah membangun kehidupan gereja dimana mereka diasuh secara rohani.

5. Wibawa kepemimpinan gerejawi khususnya dalam ‘mainline churches’ menjadi rusak ketika para pemimpin yang seharusnya memiliki wawasan yang jelas terhadap historis filosofis-doktrinal gereja reformasi yang mewarnai pengajaran, teologia dan penggembalaan gereja justru terpengaruh baik sadar atau tidak dengan alasan yang masuk akal kedalam gerakan-gerakan produk dari pengaruh Neo-Pentacostalism ini.

6. Kita harus jujur untuk mengakui bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh gerakan-gerakan dalam pengaruh Neo Pentacostalism telah terbukti menyebabkan perbedaan pendapat yang tajam dan bahkan benih-benih ‘perselisihan’ di dalam ‘mainline churches.’

Penutup
Jaringan global (global network) menjadikan gerakan Neo Pentacostalism jauh lebih bergairah daripada ’mainline churches’ pada umumnya. Pujian, ibadah, persekutuan, pelayanan dan terobosan-terobosan yang bersifat massive dan komunal menjadi daya tarik karena bersifat interdenominasi. Seringkali kemampuan dalam ‘menjaring’ partisipan dari gereja-gereja lain (khususnya ‘mainline churches’) dan hal-hal positif yang dihasilkannya dianggap sebagai bukti bahwa gerakan-gerakan ini berasal dari lawatan Roh Kudus. Namun sekali lagi kita harus cermat dalam sudut pandang teologia Reformed dalam pengajaran Alkitab khususnya berkaitan dengan doktrin Roh Kudus, doktrin Soteriologi (keselamatan), dan doktrin Eskatologi (akhir zaman) yang secara umum dalam gerakan Neo Pentacostalism dipahami dan dimengerti secara kurang tepat, bahkan dalam praktek sebenarnya seringkali diabaikan karena sikap alergi terhadap doktrin dan dokumen-dokumen tradisional pengakuan iman reformasi yang merupakan salah satu ciri khas Neo Pentacostalism sejak awal. Memang ketika doktrin dan warna teologia dikesampingkan, dan apalagi jika gereja/jemaat/hamba Tuhan menganut paham teologia abu-abu, maka yang terjadi adalah ‘kesamaan dan kebersamaan.’ Namun jumlah yang besar, kemampuan menghimpun manusia dan terobosan-terobosan positif bukanlah alasan satu-satunya (apalagi kalau dijadikan alasan utama) bahwa gerakan2 seperti itu benar2 merupakan lawatan Roh Kudus bagi pemulihan manusia. Mari selalu ingat bahwa doktrin/pengajaran yang benar dan tepat sangat menentukan arah kehidupan percaya kita. Ada baiknya peringatan dari Tuhan Yesus dalam Matius 7:13-23 kita renungkan ulang kembali. Kiranya Tuhan terus-menerus memberikan kepekaan yang tajam kepada kita sesuai firman-Nya untuk belajar bijaksana bukan saja didalam menyikapi akibat-akibat positif tetapi juga didalam menyikapi kelemahan-kelemahan prinsipiil dalam setiap gerakan rohani yang ada disekeliling kita.

Fides Quaerens Intellectum

(1) Pemahaman ini sangat berkaitan dengan pemahaman doktrin dasar Pneumatologi (ajaran mengenai Roh Kudus) berkaitan dengan kehidupan lahir baru seseorang. Dalam pandangan ini orang-orang kristen belumlah ‘sah’ lahir baru apabila masih belum mengalami pengalaman rohani seperti glosolalia. Hal ini berbeda sekali dengan apa yang dipahami dalam ’mainline churches’ bahwa baptisan Roh Kudus terjadi pada saat seseorang melalui pekerjaan Roh Kudus yang menunutunnya untuk menyadari, mengakui, bertobat dari dosa-dosanya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.
(2) Siapakah Aimee Semple McPherson? Ia dilahirkan pada 9 Oktober 1890 di Canada yang kemudian pindah ke Amerika. Dalam gerakan Pentakosta/Kharismatik, Aimee Semple McPherson sangat dihormati dan buku-bukunya banyak yang diterjemahkan ke berbagai bahasa (termasuk Indonesia dan dapat ditemukan di toko buku-toko buku bercorak Pentakosta/Kharismatik atau interdenominasi). Bagi para pengikutnya, ia sering dianggap sebagai wanita teladan (bijak??) dengan karunia bahasa lidah dan karunia penyembuhan.. Wanita teladan ini melewati masa mudanya sebagai seorang yang meragukan Tuhan, menentang gereja/tidak menyukai pendeta dan menjadi penulis yang mempromosikan Teori Evolusi Darwin di majalah dan koran. Tetapi setelah ia sembuh dari penyakit yang dideritanya yang ia anggap sebagai ‘kesembuhan ajaib’ ia berbalik menjadi kristen. Ia mendirikan Angelus Temple atau yang lebih dikenal dengan International Church of the Foursquare Gospel (ICFG) di Echo Park yang berada di distrik Los Angeles, California. Gereja ini selesai dibangun pada 1 Januari 1923 dan boleh dikatakan lebih cocok disebut sebagai sebuah gedung pertunjukan dari pada sebuah bentuk bangunan gereja pada umumnya dengan kapasitas 5300 orang. Layaknya aktris Holywood pada zamannya, penginjil Aimee Semple McPherson menggunakan dan mempromosikan daya tarik kabaret, dancing, program2 radio, retreat, camp, pemutaran film, pertandingan tinju, dll., yang diadakan dalam gedung ‘gereja’ itu untuk menyampaikan Injil. Pada hari ini ia memiliki sekitar 2 juta pengikut diseluruh dunia. Aimee Semple McPherson atau yang juga dikenal sebagai “Sister Aimee” ini menikah 4 kali, 2 diantaranya dengan pria yang telah beristri yang menyebabkan ia harus menghadapi gugatan dan denda pengadilan. Ia juga bercerai 4 kali. Ia meninggal pada 27 September 1944 karena overdosis Seconal yaitu sejenis obat yang dapat menyebabkan seseorang terhipnotis untuk terus-menerus meminum obat (untuk informasi detilnya lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Aimee_Semple_McPherson dan juga informasi tambahan berkaitan dengan Angelus Temple di http://en.wikipedia.org/wiki/Edwin_Louis_Cole)..

Sumber rujukan:
A.P. Gibbs, Worship: The Christian’s Highest Occupation. Kansas: Walterick Publishers, 2006.
Henry Wade DuBose, We Believe. Richmond: John Knox Press, 1960.
Loraine Boettner, The Reformed Faith. Singapore: Old Paths Publishing House, 1955.
Peter Suwadi Wong, Anugerah Pemulihan Rangkap Lima di Dalam Relasi Manusia halaman 103-
137 dalam buku Sola Gratia & Pergumulannya Masa Kini. Bandung: STT Bandung, 2007.
Togardo Siburian, Afirmasi Spiritualitas Anugerah Pada Masa Kini halaman 139-169 dalam buku
Sola Gratia & Pergumulannya Masa Kini. Bandung: STT Bandung, 2007.
Sinode GKA, Buku Katekisasi. Surabaya, 1997.
Yohana Ang, Musik Gereja Dalam Konteks Zaman halaman 267-287 dalam buku
Sola Gratia & Pergumulannya Masa Kini. Bandung: STT Bandung, 2007.
Yarman Halawa, Theological Imperative for Christian Counseling. Unpublished paper
April 12, 2006.
Yarman Halawa, Worship and Its Implications to the Church’s Healthy. Unpublished paper,
October 11, 2006.
Yarman Halawa, Understanding the True Works of The Holy Spirit in Today’s Church Growth
Movement.
Unpublished paper, Pebruari 1, 2007.

http://www.gkps.or.id/?go=tampilkan&kat=9&gr=18&id=143

http://en.wikipedia.org/wiki/Edwin_Louis_Cole

http://en.wikipedia.org/wiki/Aimee_Semple_McPherson

http://CMN Indonesia. htm.
http://en.wikipedia.org/wiki/Abbalove Ministries.

http://elenet.blogspot.com/2007/03/golden-jubilee-of-christian-conference.html.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Karismatik

http://www.pgi.or.id/artikelteologi.php?news_id=99
http://www.indomedia.com/bpost/9805/1/OPINI/artikel1.htm (
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2331, http://www.karismatikkatolik.org/Jawaban.asp?id=25, dan http://www.ekaristi/forum/fullgospel indonesia?

 

KULIAH TERBUKA UNTUK AWAM October 12, 2009

Dalam rangka persiapan pembukaan Sekolah Penatalayan Reformed Injili Gracia (SPRING) pada 2010, Gereja Kristen Abdiel (GKA) GRACIA Citra Raya telah mulai menyelenggarakan mata kuliah terbuka untuk awam:

“INJIL MATIUS”

Deskripsi:

Menolong jemaat awam dan para penatalayan awam melalui studi yang komprehensif  terhadap 4 Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru khususnya untuk memahami Injil Matius melalui penulisan, alamat, tujuan dan eksposisi praktika keseluruhan pasal berdasarkan teks asli Yunani sehingga mampu memahami Injil Matius dengan baik dan benar serta mengaplikasikan secara kontekstual dalam kehidupan percaya keseharian dan pelayanan.

Waktu:

Setiap Rabu pukul 19.30 WIB (setelah persekutuan doa SolaFide selesai)

Tempat:

GKA GRACIA Citra Raya Jl. Taman Puspa Raya D1/1 Citra Raya – SURABAYA.

Dosen/Pembicara:

Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

KITAB KIDUNG AGUNG: SEBUAH CERMIN BAGI KEHIDUPAN ORANG PERCAYA by Pdt. Yarman Halawa, D.Min

MENGENAL, MENERIMA dan MEMAHAMI KIDUNG AGUNG
Kitab Kidung Agung yang di tulis oleh raja Salomo (1:1) adalah sebuah koleksi dari puisi Ibrani kuno untuk merayakan pengalaman2 yang dipenuhi dengan keindahan, kekuatan, kegelisahan, penderitaan dan sukacita dari kehidupan seksual dari seorang pecinta dengan kekasihnya. Tema cinta mewarnai seluruh kitab ini dan tidak satupun memuat tema2 rohani seperti hukum, dosa, anugerah, keselamatan atau doa. Inilah yang menimbulkan pertanyaan dan perdebatan (tidak terkeculi hingga pada hari ini): Mengapa Kitab seperti ini bisa masuk ke dalam kanon Yahudi dan kanon Alkitab?

Beberapa ahli eksegese Alkitab melihat kitab ini dari nilai sastra yang dikandungnya sebagai sebuah kumpulan nyanyian perkawinan dan cinta yang mengisahkan mengenai kerinduan hati yang begitu menggelora antara seorang gadis penjaga kebun anggur kepada kekasihnya sang penggembala domba (1:5-7). Sementara yang lainnya beranggapan, bahwa Kidung Agung adalah suatu kumpulan nyanyian dalam perkawinan para dewa tumbuhan di daerah Timur kuno (: ieros gamos) yang kemudian digunakan dalam pesta Mazot oleh orang2 Israel purba yang dirayakan pada musim semi. Tetapi langka sekali, bila nyanyian2 religius kafir itu bisa masuk ke dalam kitab suci Yahudi dan Alkitab.

Kitab ini di anggap ‘controversial’ oleh karena keunikan isinya yang dianggap membicarakan hal2 yang bersifat erotis dan tabu yang di pandang tidak seharusnya masuk ke dalam kanon Alkitab. Isi kitab penuh dengan ungkapan2 erotisme yang di gubah dalam syair2 halus dan indah. Barangkali oleh karena tema cinta dalam pernikahan muncul dalam kitab ini, maka beberapa seksolog dan penasihat pernikahan kristen menggunakan kitab ini sebagai referensi dari Alkitab bagi kehidupan seks dalam pernikahan. (1)

Meskipun ‘controversial,’ namun kitab Kidung Agung tetap memiliki tempat terhormat di dalam sinagoga2 Yahudi dan gereja2 kristen. Di Israel, kitab ini selalu dibacakan pada hari ke-8 perayaan Paskah Yahudi setiap tahun. Dikalangan kristen kitab ini termasuk kitab yang sangat jarang (bahkan hampir tidak pernah) dibacakan atau di bahas dalam pertemuan2 resmi seperti dalam kebaktian Minggu maupun persekutuan2 Alkitab.

Meskipun segala perincian mengenai munculnya kitab ini tidak jelas, tetapi nampaknya bisa diperkirakan muncul pada awal zaman Helenis. (2) karena di dalamnya nampak ada Aramaisme (Misalnya: 1:12; 2:7) dan kekhasan bahasa Yunani (3:9). Tetapi dimungkinkan juga adanya nyanyian2 yang boleh jadi sudah tua sekali.

Harus diakui bahwa kitab ini bukanlah sebuah kitab yang mudah dipahami begitu saja. Beberapa interpretasi (penafsiran) telah diupayakan oleh para ahli baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen (Katolik dan Protestan), namun tetap saja kitab ini merupakan kitab yang penuh dengan kesulitan2 tertentu untuk di pahami. Itulah sebabnya ahli kitab Yahudi abad pertengahan menyebut kitab ini seperti ‘sebuah gembok yang kuncinya telah hilang.’(3)

Pada umumnya ada 2 metode penafsiran yang digunakan untuk memahami kitab ini: pertama, metode Alegori – dimana seluruh arti dan maksud teks bukan terletak pada kalimat2 hurufiah didalamnya tetapi pada arti rohani yang dikandungnya. Dengan metode ini maka para ahli Yahudi mengartikan isi Kidung Agung sebagai gambaran hubungan antara Allah dengan umat pilihan-Nya Israel. Sementara bagi sebagian ahli kristen melihatnya sebagai pernyataan hubungan antara Kristus dengan mempelai-Nya yakni gereja. Kedua, Natural – dimana seluruh arti dan maksud teks tepat sesuai dengan kalimat2 hurufiah yang ada didalamnya. Metode ini digunakan oleh sebagian besar kalangan kristen tetapi sangat di tentang oleh kalangan Yahudi. Dalam metode ini, isi Kidung Agung bercerita mengenai pernikahan raja Salomo, sementara puteri penjaga kebun anggur adalah puteri dari Firaun, raja Mesir (cf. 1:5-6). Salomo (shalom=damai) sebagai raja Israel mengambil seorang mempelai dari bangsa non-Israel dan menjadikannya sebagai bagian dari umat Allah (Israel). Hanya saja dalam kaitan nilai teologis, para ahli memandang bahwa kisah yang dipahami secara natural ini merupakan bayangan dari kisah yang akan datang mengenai seorang Raja yang lain, yakni Raja Damai yang akan mengambil mempelai-Nya dari kalangan orang2 luar Israel, yakni gereja.

Saya secara pribadi lebih memandang kitab ini mencakup 2 makna praktis berdasaran pesan harafiah dan spiritual. Secara harafiah kitab ini merupakan pujian dan rasa kagum atas misteri kasih manusiawi, dan secara spiritual merupakan ungkapan kasih Yahweh kepada umat-Nya yang telah dipenuhi melalui kasih Kristus kepada Gereja-Nya.

Dalam pembahasan eksposisi praktika interaktif kitab ini, pendekatan pemahaman berdasarkan pesan harafiah dan spiritual kitab menjadi cara terbaik untuk menemukan refleksi2 praktis bagi kehidupan kita sebagai orang percaya saat ini. Dari pesan harafiah kita akan menemukan nilai2 cinta yang mulia bagi kehidupan pribadi, keluarga, komunitas bersama, sekaligus hal2 yang menjadi perusak bagi nilai2 tersebut. Dari pesan spiritual kita akan menemukan kedalaman kasih Tuhan yang akan menuntun untuk mengetahui sejauh mana kedalam kasih kita kepada-Nya, kemurnian hidup percaya kita, seberapa setiakah kita dalam melaksanakan tanggungjawab hidup rohani, dan nilai2 rohani seperti apakah yang telah kita tanamkan dalam kehidupan kita dan orang2 yang kita kasihi.

Eksposisi Praktika Interaktif SolaFide April 2008 – 19.00 WIB

PESAN PRAKTIS HURUFIAH KIDUNG AGUNG
Kitab Kidung Agung mencerminkan kepedulian dari Allah yang sangat memperhatikan segala segi kehidupan kita, termasuk hal2 yang bagi sebagian orang tabu atau tidak boleh dibicarakan. Kitab ini mengajak kita untuk belajar dari kelemahan hidup terbesar dari seorang raja yang terkenal tidak beres integritasnya dalam hal kehidupan moral pernikahannya dan sekaligus menuntun kita untuk bersikap jujur dan tulus terhadap kelemahan2 hidup kita terbesar pada hari ini. Dengan memperhatikan kejujurannya yang tersirat dibalik pengajaran yang hendak ia sampaikan melalui kitab ini setiap kita akan jauh dari sikap yang menganggap kitab ini tabu atau ‘sungkan’ untuk dibicarakan. Justru kitab ini mengajak kita untuk jujur di dalam mengakui sisi2 gelap kehidupan kita dihadapan terang kebenaran firman Tuhan (lihat Roma 13:12-14). Allah melalui kitab ini seolah-olah mengingatkan setiap kita bahwa selama masih ada kekotoran di dalam dunia ini, maka kita sangat membutuhkan Kidung Agung ini.

Kitab ini mengungkapkan sisi2 dari keinginan manusia yang di penuhi dosa untuk membangun kehidupan cinta dan kesetiaan berdasarkan daya tarik fisik dan penampilan lahiriah. Ketidakpuasan terhadap apa yang telah dimiliki terlihat nyata dari gaya bahasa puitisnya yang penuh khayal atau imajinasi yang luar biasa. Sebagai pemuja keindahan dan seni (4) kitab ini memperlihatkan bahwa Salomo adalah pribadi yang sangat lemah dan tidak sanggup mengendalikan diri terhadap segala daya tarik erotis yang merupakan salah satu focus hidupnya yang terbesar. Tidak mengherankan jika akhirnya 1 Raja-Raja 11:1,3 menjadi rekaman Alkitab yang menunjukkan prestasi dan teladan hidup yang buruk dihadapan Allah dan manusia sepanjang masa. 300 isteri dan 700 gundik jelas bukan cerminan dari kehidupan cinta yang kudus dihadapan Allah dan teladan hidup kesetiaan yang baik bagi orang percaya pada zamannya, termasuk bagi kita pada hari ini. Imajinasi dan keinginan2 yang ‘liar’ di dalam dirinya menyebabkan ia menyalahgunakan hal2 yang merupakan anugerah Tuhan baginya, sehingga ia jatuh dalam rupa2 perzinahan dan pernikahan2 tidak seiman iman yang dilarang oleh Tuhan (1 Raja-Raja 11:2, 7-8).

Agaknya, Kidung Agung menjadi warisan yang berharga bagi kita pada hari ini untuk memperingatkan orang2 percaya mengenai akibat dari keinginan manusia yang melampaui batas2 yang dikehendaki Allah baginya. Di balik keindahan syair2 Kidung Agung, Salomo telah memperlihatan kepada kita akibat2 yang sangat buruk dari keinginan manusiawinya yang penuh dosa dan tak terkendali yang mengakibatan rusaknya kehidupan rumah tangga/keluarganya dan pecahnya kerajaan Israel menjadi 2 bagian.(5)

Tema tentang cinta dan kesetiaan yang benar merupakan bagian dari tema utama yang tersirat dari dalam kitab ini. Raja Salomo mengakui bahwa cinta dan kesetiaan yang sesungguhnya tidak dapat di beli dengan apapun (8:6-7, 11-12). Sebagai manusia yang paling berhikmat di bumi (6) dan seorang yang dianggap sebagai maha guru pengajar moral dalam tulisan2 di dunia modern, (7) ia memberikan kita 2 nasehat yang sangat bijaksana: (1) cinta dan kesetiaan yang benar tidak dibangun semata-mata oleh keinginan manusiawi kita (2:7; 3:5; 5:8; 8:4); dan (2) cinta dan kesetiaan yang benar menolak segala cara yang palsu dari dunia (8:6-7; 11-12)

Puteri-puteri Yerusalem (8) yang diungkapkan dalam kitab ini menggambarkan para wanita yang dinikahi oleh Salomo, yang sebenarnya ‘buta’ karena terpikat dengan kebahagiaan yang semu yang ia tawarkan kepada mereka melalui segala kemegahan duniawi yang ia miliki. Para puteri Yerusalem ini mewakili gambaran dari wanita2 yang tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan yang benar sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, dimiliki dan dipertahankan. Kehidupan yang materialistis dan hedonistis membuat mereka rela dan senang hati mengabaikan kesucian dan harga diri dan menyerahkan hidup mereka kepada keinginan sang raja.

Berbeda dengan gadis Sulam yang dikisahkannya dalam kitab ini (1:5; 6:13). Gadis ini berusaha ia pikat dengan segala daya tarik dan kemegahan jasmaninya termasuk pengaruh kuasa politisnya (3:6-11), godaan materi yang ia tawarkan (8:11-12) untuk mau meninggalkan kekasihnya dan menjadi mempelai baginya . Ia memang berhasil memaksa sang gadis Sulam ke istananya sebagai mempelai wanita namun tetap tidak dapat membeli atau memiliki cintanya. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sang raja untuk memenangkan hatinya, namun gadis Sulam ini tetap dapat menjaga kesucian dirinya. Kidung Agung 4:1-15; 5:1 adalah rayuan sang raja yang ditujukan untuk menaklukan hatinya. Dan meskipun sang raja turut ‘di bantu’ oleh para permaisuri dan para selirnya, yakni puteri2 Yerusalem penghuni Harem untuk membujuk dia, ternyata si gadis Sulam tetap tegar. Cinta dan kesetiaanya kepada kekasihnya sang penggembala domba tidak pernah berubah (5:2-8). Kidung Agung 5:9 merupakan ungkapan keputusasaan mereka dalam membujuk si gadis Sulam untuk menuruti keinginan sang raja, sekaligus juga sebagai bentuk kemarahan dan ejekan bagi si gadis Sulam karena di anggap menyia-nyiakan kesempatan ‘emas’ itu. Namun ejekan ini pada akhirnya, justru berubah menjadi kekaguman dalam diri sang raja ‘playboy’ ini beserta para permaisuri dan para selirnya (6:4-13). Mereka memuji si gadis Sulam karena cinta dan kesetiaannya yang tak terbeli dan tak tergantikan. Meskipun demikian, sesuai dengan wataknya yang tak kenal menyerah dan sebagai seorang yang keinginannya hampir tidak pernah tidak terpenuhi, sang raja masih tetap berusaha melakukan upaya terakhir (7:1-9). Tetapi rupanya tetap tidak berhasil. Si gadis Sulam tetap pada pendiriannya (7:10-8:4). Sang raja akhirnya menyerah dan membiarkan si gadis Sulam yang teryata tetap tidak mau menjadi mempelainya itu pergi dari istana dembali ke rumah orang tuanya dan bertemu kembali dengan kekasihnya! Ungkapan dalam Kidung Agung 8:5-14 menggambarkan kemenangan dari cinta dan kesetiaan sejati antara si gadis Sulam dengan kekasihnya sang penggembala domba.

REFLEKSI PRAKTIS BAGI KITA
1. Berhati-hatilah dengan berbagai keinginan hidup kita (lihat juga Roma 8:3-9; Galatia 5:16; 1 Petrus 2:11; 1 Yohanes 2;16; )
Keinginan2 hidup yang tidak pada tempatnya dapat membawa pada jurang kehancuran. Demikian juga dengan keinginan2 untuk mencapai sesuatu dengan cara yang tidak benar pada akhirnya dapat menjerumuskan hidup kita sendiri. Kebahagiaan hidup yang sesungguhnya bukan semata-mata terletak pada terpenuhinya keinginan2 jasmani tetapi lebih kepada kehidupan jiwa yang senantiasa puas dan mengucap syukur dengan apa yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita.

2. Lawanlah godaan dengan kesetiaan kepada orang2 yang kita kasihi (lihat juga Amsal 3:3; Roma 12:9; 2 Korintus 1:12; Galatia 5:22-23a; Yakobus 4:7)
Kita hidup ditengah dunia yang oenuh dengan godaan, baik dari dunia yang penuh dengan daya tarik dosa maupun dari dalam diri kita sendiri yang berasal dari sisa kehidupan daging. Kita perlu belajar dan meneladani si gadis Sulam yang tetap memelihara diri dari godaan2 yang muncul dari luar dan dari dalam dirinya sendiri yang sebenarnya lebih dari cukup untuk meninggalkan cinta dan kesetiaan yang benar dalam hidupnya (1:12-14; 2:16; 6:3; 7:10-13; 8:7, 11-12).

3. Hiduplah dengan menampilkan pesona kehidupan batiniah bukan lahiriah (lihat juga 1 Tesalonika 4:12; 1 Timotius 2:9).
Penampilan fisik yang menarik adalah sesuatu yang memang penting untuk tetap di jaga, tetapi yang jauh lebih penting dari pada itu adalah penampilan hidup batiniah kita. Pesona kehidupan yang semata-mata lahiriah hanya akan menawarkan kebahagiaan yang semu, tetapi pesona kehidupan batiniah akan mengalirkan kebahagiaan sejati. Si gadis Sulam dalam kitab Kidung Agung menegaskan kebenaran Alkitab bahwa pesona kehidupan batiniah jauh melampaui pesona kehidupan lahiriah (6:9c, d). Setiap kita hendaknya membangun daya tarik hidup kita bukan pada kegagahan atau keanggunan fisik, pengaruh materi dan motivasi2 hidup yang tidak pada tempatnya dihadapan Tuhan dan manusia, tetapi pada kekayaan hidup rohani dan gaya hidup yang berasal dari hubungan kita dengan kebenaran (Tuhan).

Simaklah juga nasehat dari rasul Petrus ini: “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Petrus 3:3-4).

4. Perjuangkan dan peliharalah kesucian hidup (lihat juga Ibrani 13:4).
Kidung Agung adalah kritikan terhadap hawa nafsu yang tidak kudus, praktek poligami, dan perselingkuhan. Kita diingatkan bahwa relasi intim antara seorang pria dan seorang wanita hanya dapat dimungkinkan melalui lembaga pernikahan yang monogamis. (9)  Berdasarkan ini, segala ekspresi cinta kasih fisik yang menyenangkan bagi orang percaya hanya dimungkinkan melalui pernikahan. (10)

Eksposisi Praktika Interaktif SolaFide April 2008 – 19.00 WIB

PESAN PRAKTIS SPIRITUAL KIDUNG AGUNG

Tidak dapat diragukan lagi bahwa sejak awal, tradisi penafsiran kitab Kidung Agung secara Alegoris telah dipegang oleh banyak ahli teologia baik dari kalangan para rabi/sarjana Yahudi maupun dari kalangan kristen sendiri (yang juga sangat bervariasi). Namun perlu untuk diketahui bahwa dalam tradisi Yahudi, kitab ini selalu dimaknai ‘eksklusif’ karena tradisi Yahudi mengartikan isi kitab Kidung Agung sebagai gambaran dari hubungan antara Allah dengan umat pilihan-Nya Israel. Hingga hari ini, mereka sangat menghormati kitab ini dan selalu di baca secara khusus pada saat perayaan Paskah Yahudi. Bagi mereka kitab ini menggambarkan kasih Allah kepada orang Israel yang ditunjukkan-Nya dalam peristiwa pembebasan mereka dari perbudakan Mesir. (11) Mereka percaya bahwa Kidung Agung adalah “Kisah kasih yang spontan dari seorang raja agung kepada mempelainya yang menggambarkan kasih antara Allah dengan umat-Nya.” (12)

Tetapi benarkah demikian? Agaknya kita perlu mengingat kembali dalam pembahasan pertama dan kedua sebelumnya, bahwa pesan hurufiah kitab yang sangat kuat di dalam kitab ini tidak boleh diabaikan sama sekali. Justru disinilah letak kelemahan penafsiran Alegoris Yahudi yang berusaha menyangkali sama sekali pesan hurufiah dari kitab ini demi mempertahankan ataupun menjaga kesucian dari kanon (kitab suci).

Patut di ingat bahwa Kitab Suci di sebut ‘Suci’ bukan saja karena isinya hanya membicarakan hal2 yang suci; melainkan juga, menyingkapkan dengan jujur dan adil segala bentuk ketidaksucian yang merupakan akibat dari kejatuhan manusia di dalam dosa, dengan tujuan supaya manusia selalu mengingat betapa menyedihkan konsekwensi dosa, dan betapa Allah yang maha Suci namun Maha Pengasih itu tetap berkenan untuk membuka pintu pertobatan bagi mereka yang berkenan dihadapan-Nya. Selain itu unsur ‘eksklusifitas’ bahwa Kidung Agung merupakan gambaran dari hubungan antara Allah dengan (hanya) orang Yahudi (Israel) saja jelas tidak dapat di terima. Lagi pula dari segi struktur teks dan pemahaman terhadap tokoh2 yang dibicarakan dalam kitab ini, pemahaman Yahudi mengenai raja agung sebagai gambaran mengenai diri Allah sangatlah tidak tepat. Mengapa demikian?

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita, mari kembali meneliti ringkasan inti dari seluruh kitab Kidung Agung berikut ini: (13)

Sang raja (salomo) dengan segala kemegahannya telah menarik hati puteri-puteri Yerusalem. (14) Mereka adalah gambaran dari para wanita yang dinikahi oleh Salomo, yang sebenarnya ‘buta’ karena terpikat dengan kebahagiaan yang semu yang ia tawarkan kepada mereka melalui segala kemegahan duniawi yang ia miliki. Para puteri Yerusalem ini mewakili gambaran dari wanita2 yang tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan yang benar sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, dimiliki dan dipertahankan. Kehidupan yang materialistis dan hedonistis membuat mereka rela dan senang hati mengabaikan kesucian, kesetiaan, kehormatan dan harga diri dengan menyerahkan hidup mereka kepada keinginan sang raja.

Berbeda dengan gadis Sulam yang dikisahkannya dalam kitab ini (1:5; 6:13). Gadis ini berusaha ia pikat dengan segala daya tarik dan kemegahan jasmaninya termasuk pengaruh kuasa politisnya (3:6-11), godaan materi yang ia tawarkan (8:11-12) untuk mau meninggalkan kekasihnya, sang Penggembala domba (1:7, 16; 6:2-3) dan menjadi mempelai baginya. Ia memang berhasil memaksa sang gadis Sulam ke istananya sebagai mempelai wanita namun tetap tidak dapat membeli atau memiliki cintanya. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sang raja untuk memenangkan hatinya, namun gadis Sulam ini tetap dapat menjaga kesucian dirinya.

Kidung Agung 4:1-15; 5:1 adalah rayuan sang raja yang ditujukan untuk menaklukan hatinya. Dan meskipun sang raja turut ‘di bantu’ oleh para permaisuri dan para selirnya, yakni puteri2 Yerusalem penghuni Harem untuk membujuk dia, ternyata si gadis Sulam tetap tegar. Cinta dan kesetiaanya kepada kekasihnya sang penggembala domba tidak pernah berubah (5:2-8).

Kidung Agung 5:9 merupakan ungkapan keputusasaan mereka dalam membujuk si gadis Sulam untuk menuruti keinginan sang raja, sekaligus juga sebagai bentuk kemarahan dan ejekan bagi si gadis Sulam karena di anggap menyia-nyiakan kesempatan ‘emas’ itu. Namun ejekan ini pada akhirnya, justru berubah menjadi kekaguman dalam diri sang raja ‘playboy’ ini beserta para permaisuri dan para selirnya (6:4-13). Mereka memuji si gadis Sulam karena cinta dan kesetiaannya yang tak terbeli dan tak tergantikan kepada kekasihnya sang Penggembala domba.

Meskipun demikian, sesuai dengan wataknya yang tak kenal menyerah dan sebagai seorang yang keinginannya hampir tidak pernah tidak terpenuhi, sang raja masih tetap berusaha melakukan upaya terakhir (7:1-9). Tetapi rupanya tetap tidak berhasil. Si gadis Sulam tetap pada pendiriannya (7:10-8:4). Sang raja akhirnya menyerah dan membiarkan si gadis Sulam yang teryata tetap tidak mau menjadi mempelainya itu pergi dari istana dembali ke rumah orang tuanya dan bertemu kembali dengan kekasihnya, sang Penggembala domba! Ungkapan dalam Kidung Agung 8:5-14 menggambarkan kemenangan dari cinta dan kesetiaan sejati antara si gadis Sulam dengan kekasihnya sang Penggembala domba.

Jadi, jelas sekali bahwa raja agung dalam kitab ini merupakan gambaran diri raja Salomo sendiri yang seluruh kehidupan pribadi dan karakternya sama sekali tidak mewakili gambaran mengenai Allah sebagaimana telah di pegang kuat dalam tradisi Yahudi! Justru sebaliknya, akan lebih tepat jika dalam garis tafsiran ini, tokoh sang raja (Salomo – sang mempelai pria) di lihat sebagai penggoda, pendosa besar, manusia berdosa, manifestasi dari ketidasetiaan atau bahkan symbol dari Setan yang suka menggoda dan merampas sejahtera manusia! Sementara si gadis Sulam (sang mempelai perempuan) dapat digambarkan sebagai orang percaya atau gereja yang tetap setia, tekun, tidak mudah menyerah, memelihara kesucian hidup, dan tidak mudah putus asa dalam mengadapi pergumulan yang sangat berat sekalipun. Bagaimana dengan sang Penggembala domba yang adalah kekasih dari si gadis Sulam ini? Jelas sekali sang Penggembala domba dalam kitab ini dapat mewakili gambaran diri Allah yang adalah Penggembala dan Pemelihara umat-nya, yang selalu setia menunggu umat pilihan yang dikasihi-Nya kembali kepada-Nya (lihat Mazmur 80:1; Yesaya 40:11; Yohanes 10:1-18; Ibrani 13:20).

Bila kita memahami kebenaran di atas dalam terang hubungan kita dengan Allah; maka, setiap kita akan mampu melihat keutuhan pesan dari kitab ini melalui korelasi antara pesan hurufiah dan pesan spiritual. Atau dengan kata lain, kitab ini mengajak kita melihat ke dalam cermin untuk mengetahui jawaban yang pasti mengenai 2 pertanyaan penting yang sangat krusial bagi kita orang percaya pada hari ini, yakni: apakah cara hidup kita telah, sedang atau senantiasa berpadanan dengan kebenaran Firman Allah; dan, bagaimanakah sebenarnya kondisi kehidupan rohani kita yang ‘asli’ dihadapan Allah?.

Jawaban yang jujur terhadap kedua pertanyaan inilah yang pada akhirnya akan menjadi penguji yang paling ampuh untuk memberitahukan sejauh mana kedalaman akar hubungan spiritual kita yang sesungguhnya dengan Allah!

Mari Kita Hayati Dalam Hidup Keseharian
1. Jadilah mempelai milik Kristus yang sejati
Ia, yang adalah mempelai pria yang sejati mengundang kita – mempelai perempuan – untuk mengikut Dia (Kidung Agung 2:13) dan bahwa barangsiapa yang tidak menjawab atau memberi respon dengan baik ketika Ia mengetuk pintu hati; akan mendatangkan kebinasaan bagi dirinya (Kidung Agung 5:2-8; dan Wahyu 3:20), dan barangsiapa tidak siap dalam menyambut kedatangan-Nya tidak layak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya (lihat Matius 5:1-13).

2. Barangsiapa telah menjadi milik Allah, menjadi milik Allah selamanya
Kasih Allah yang menyelamatkan sedemikian amat kuat (Kidung Agung 8:6-7, juga 1 Yohanes 4:10). Ia telah memberikan Kristus yang rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai pengganti kita di atas kayu salib Golgota (Yohanes 3:16; 1 Petrus 2:24) dan sekaligus memeteraikan kita dengan kematian-Nya (1 Korintus 11:25) melalui pekerjaan Roh-Nya yang Kudus (Efesus 1:13). Setiap orang yang dikasihi-Nya, yakni kepada siapa Ia berkurban (Kidung Agung 8:6-7) pasti akan datang kepada-Nya dan tidak akan dibuang-Nya (Yohanes 6:37, 44).

3. Jauhilah ‘perselingkuhan’ rohani
Kidung Agung menunjukkan betapa hebatnya godaan yang datang dari daya tarik filosofi hidup manusia yang hedonis dan materialis (Kidung Agung 1:2-4; 3:6-11) yang menjanjikan segala kenikmatan hidup yang bersifat fana yang dapat menjadi berhala (Baal-Hamon) di dalam kehidupan orang percaya (Kidung Agung 8:11). Oleh karena itu waspadalah terhadap segala hal yang dapat mengakibatkan kita ‘menduakan’ Tuhan dalam hidup ini (lihat Matius 6:24; Lukas 16:13). (15) Jadilah orang percaya yang setia (Kidung Agung 1:13-14; 7:10; 8:12)!

4. Peliharalah kehidupan doa dihadapan Allah
Kidung Agung menyampaikan pesan doa yang kuat lewat pergumulan2 hidup si gadis Sulam (Kidung Agung 1:7; 2:16-17; 3:1-3) dan pemenuhan atas harapan2nya pada akhirnya. Hal ini senantiasa mengingatkan kita bahwa, Allah berkenan mendengar doa dan keluh kesah orang percaya/gereja yang adalah mempelai perempuan-Nya (Kidung Agung 8:13) yang merindukan kehadiran, penghiburan dan pertolongan-Nya (Kidung Agung 8:14). Lihat juga Filipi 4:6; Kolose 4:2; 1 Yohanes 5:14.

5. Hiduplah dengan penuh ucapan syukur
Kidung Agung memperlihatkan kepada kita 2 sikap yang berbeda: sang raja yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya (Kidung Agung 6:8) dan si gadis Sulam yang puas dengan keadaannya (Kidung Agung 1:6; 2:3; 5:9-16; 8:12). Kebenaran ini mengingatkan kita betapa pentingnya kita senantiasa mengucap syukur dalam hidup kita. Kebahagiaan, sukacita, harga diri, damai sejahtera, rasa puas dan kemuliaan hidup yang sejati tidak tergantung kepada situasi dan kondisi hidup tetapi kepada bagaimana kita menikmati hidup ini bersama dengan Tuhan. Lihat Efesus 5:20.

6. Jadilah orang percaya yang hidup tulus dihadapan Allah.
Kidung Agung ‘menempelak’ setiap kita betapa seringnya kita kurang mengasihi Allah dalam setiap perbuatan kita. Salomo meskipun pada awalnya hidup tulus dihadapan Allah, namun seiring dengan waktu, segala keberhasilan dan kemuliaan jasmani yang bertambah-tambah telah membuatnya ‘lupa diri.’ Gaya hidupnya berubah, sikap yang penuh hikmat dan bijaksana tenggelam dalam keangkuhan hidup. Bait Suci Yerusalem yang dibangun pada masa pemerintahannya bukan saja hanya menjadi bukti dari perbuatan baik terbesar yang pernah ia lakukan tetapi juga telah menjadi saksi yang nyata betapa ia tidak dapat hidup tulus sepenuhnya dihadapan Allah sebagaimana yang pernah ia dengarkan dari-Nya (lihat 1 Raja-raja 9:1-9).

7. Bila kita gagal dalam mengikut Tuhan, kita harus bangkit kembali!
Mengapa si gadis Sulam bisa sampai di istana raja Salomo? Benarkah ia terpaksa oleh karena keadaan? Atau mungkinkah ia ‘sempat’ tergoda?

Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Seandainya kemungkinan itu disebabkan oleh karena kelemahannya (terpaksa oleh keadaan atau memang benar karena tergoda oleh daya tarik sang raja); namun, satu hal yang sangat penting untuk kita pahami adalah bahwa meskipun ia telah berada di Harem sang raja di Yerusalem (lihat Kidung Agung 1:4, 12; 3:11), dan oleh raja disebut sebagai mempelai idamannya (lihat Kidung Agung 4:1-15; 6:4-7; 7:1-9), ternyata kasihnya tetap kepada sang Penggembala domba. Bila pergumulan, kesedihan, keputusasaan, kekecewaan yang bercampur baur menjadi satu yang terlihat di dalam ungkapan2 dari dalam hatinya di sepanjang kitab menunjukkan besarnya penyesalan yang ada didalam dirinya; maka, setiap kita dapat mengerti mengapa ia akhirnya berjuang keras untuk kembali ke rumah orang tuanya dan bertemu kembali dengan kekasihnya (lihat Kidung Agung 6:13).

Dengan demikian sebuah pesan yang kuat juga disampaikan kepada kita: bila kita gagal dalam mengasihi, mengikut dan melayani Tuhan, kita harus bangkit! Kita harus bertekad untuk bangkit kembali. Tidak hanya menyesal lalu tidak berbuat apa-apa. Kita perlu memohon pertolongan Tuhan sendiri agar kasih kita boleh kembali dipulihkan kepada-Nya (lihat Yohanes 21:15-17).

CORAM DEO


catatan:

(1) Penasihat pernikahan kristen seperti Tim LaHaye dan Beverly LaHaye dalam buku mereka The Act Marriage (Grand Rapids: The Zondervan Co., c 1976), menjadikan Kitab Kidung Agung sebagai bahan referensi bagi kehidupan seks dalam pernikahan kristen. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kehidupan Seks Dalam Pernikahan” melalui kerjasama penerbit kristen Yayasan Kalam Hidup dan Yayasan Andi.
(2) Zaman Helenis adalah zaman kejayaan kekaisaran Yunani pada 332-301 s.M. Pada 336 s.M, Alexander Agung, kaisar Yunani yang baru berusia 20 tahun menjelajahi dan menaklukan Mesir, Asyur (Syria), Babilonia dan Persia. Raja ini kemudian menyerang dan menaklukan Palestina pada 332 s.M. Ia berusaha agar Palestina membuka diri terhadap proses Helenisasi yakni pengunaan bahasa, budaya, seni Yunani dalam kehidupan masyarakat. Pengaruh dari zaman Helenis ini tetap terasa dalam zaman kerajaan Syria/Aram (198-167 s.M) hingga munculnya kekaisaran Romawi pada 63 s.M.
(3)  Lihat Dennis F. Kinlaw, Song of Songs in NIV Bible Commentary vol. 1: Old Testament (consulting editors: Kenneth L. Barker & John Kohlenberger III, Grand Rapids: Zondervan Pub. House, 1994). P. 1026.
(4)  Alkitab mencatat bahwa Salomo adalah seorang raja yang sangat produktif dalam menghasilkan karya sastra dan piawai dalam bidang seni musik. Ia menggubah 3000 Amsal dan menciptakan 1005 nyanyian (lihat 1 Raja-Raja :32).
(5) Lihat 1 Raja-Raja 11:9-13; 12:1-33 cf. 2 Tawarikh 10:1-11:4.
(6) Lihat 1 Raja-Raja 10:23; 2 Tawarikh 9:22-23.
(7) See the details in The Song of Solomon: Love Poetry of the Spirit, foreword by John Updike (Oxford: Lion Publishing, 1997), p. 43.
(8) Lihat Kidung Agung 1:7; 3:5, 11; 5:9; 8:4. Puteri-puteri Yerusalem ini adalah gambaran mengenai para wanita yang ia kumpulkan di dalam harem (istana yang khusus untuk para selir raja) di Yerusalem. Mereka disebut ‘puteri-puteri Yerusalem’ tidak sepenuhnya dalam pengertian bahwa wanita2 yang merupakan ‘koleksi’ raja Salomo ini adalah berasal dari kalangan orang2 Israel. Selain di Israel sendiri, Salomo juga mencintai banyak wanita termasuk negeri2 asing yang tidak mengenal Tuhan seperti Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het (1 Raja-Raja 11:1).
(9)  Kejadian 2:24
(10) lihat Amsal 5:15-19; 1 Koritus 7:3.
(11) Lihat kitab Keluaran
(12) Henry Hampton Halley, Pocket Bible Hand Book. Chicago: H.H. Halley’s copyright 1929, sixth edition – revised, p. 45.
(13) Lihat bahan materi “Pesan Hurufiah Kitab Kidung Agung” halaman 4, Rabu, 16 April 2008 (oleh Pdt. Yarman).
(14) Lihat Kidung Agung 1:7; 3:5, 11; 5:9; 8:4. Puteri-puteri Yerusalem ini adalah gambaran mengenai para wanita yang ia kumpulkan di dalam harem (istana yang khusus untuk para selir raja) di Yerusalem. Mereka disebut ‘puteri-puteri Yerusalem’ tidak sepenuhnya dalam pengertian bahwa wanita2 yang merupakan ‘koleksi’ raja Salomo ini adalah berasal dari kalangan orang2 Israel. Selain di Israel sendiri, Salomo juga mencintai banyak wanita termasuk wanita dari negeri2 asing yang tidak mengenal Tuhan seperti Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het (1 Raja-Raja 11:1).
(15)  Baal-Hamon berarti Tuan atau Dewa Kekayaan. Sebutan ini dalam bahasa Aramaic yang digunakan dalam ucapan Yesus di Lukas 6:24 adalah ‘Mamon’ atau ‘Mamonas’ yang dapat berarti kemakmuran, harta, kekayaan, atau properti yang menarik hati. Tidak berlebihan bila Tuhan Yesus memberi peringatan keras bagi kita, “Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada” ! (lihat Matius 6:21; Lukas 12:34). Ingat, disini Tuhan Yesus sama sekali tidak melarang kita untuk memiliki sejumlah harta milik. Penekanannya adalah pada sikap hati pemiliknya. Waspadalah!

Bahan2 pilihan bagi yang ingin mendalami lebih lanjut:
John Updike, The Song of Solomon: Love Poetry of the Spirit. Oxford: Lion Publishing Plc., 1997.
Lawrence Boadt, Reading the Old Testament. The Missionary Society of St. Paul the Apostle in the
State of New York, 1992.
Matthew Henry, Matthew’s Henry Commentary On The Whole Bible: Vol. III – Job to Song of Solomon.
Virginia: Mac Donald Publishing Company, 1710.

 

EKSPOSISI KITAB FILEMON by Pdt. Yarman Halawa, D.Min

Filed under: Eksposisi Kitab Bagi Kaum Awam — graciacitra4christ @ 12:20 pm
Tags: , , , , , , , , ,

LATAR BELAKANG KITAB

Surat Paulus kepada Filemon ini di tulis sekitar awal AD 60-an di Roma (bersamaan dengan penulisan surat kepada jemaat Kolose), dan termasuk dalam kategori Surat2 Penjara (Efesus, Filipi, Kolose, Filemon), karena di tulis pada saat Paulus berada dalam pemenjaraan karena Injil. Surat kepada Filemon ini di tulis pada saat ia menjalani masa penahanan rumah oleh pemerintah Romawi. (1)

Filemon adalah anggota jemaat di Kolose. Onesimus yang menjadi pokok pembicaraan Paulus dalam surat ini adalah budak Filemon yang telah melarikan diri dan bertemu dengan Paulus di Roma, sebuah pertemuan yang membuatnya mengenal kasih Kristus. (2)  Setelah pertobatannya, Paulus meyakinkan Onesimus bahwa melarikan diri bukanlah cara terbaik menyelesaikan persoalannya. Paulus menganjurkan Onesimus agar ia kembali ke rumah Filemon, tuannya. Surat ini dituliskan kepada Filemon agar mau meneirma kembali Onesimus, budaknya yang telah melarikan diri.

PEMAHAMAN KITAB

Ayat 1 -Filemon adalah seorang tuan tanah berkebangsaan Yunani yang berdomisili di Lembah Lycus wilayah Kolose.(3)  Dia merupakan buah dari pelayanan misi Paulus. Rumahnya di pakai sebagai tempat pertemuan/ibadah jemaat Kolose. (4)

Ayat 2-3 – Siapakah Afia dan Arkhipus? Sangat mungkin Apfia adalah isteri Filemon dan Arkhipus adalah anak mereka. Keluarga mereka menjadi berkat bagi persekutuan orang-orang percaya dan rumah mereka menjadi salah satu tempat jemaat beribadah karena pada waktu itu belum ada bangunan resmi sebagai gereja karena adanya tekanan dan penganiayaan secara sporadis terhadap kekristenan.(5)  Agaknya penentangan terhadap gereja merupakan sesuatu yang biasa yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

Ayat 4-7 – Betapa menyenangkan bagi Paulus mendengar bahwa Filemon memiliki kasih yang sangat besar terhadap pekerjaan Tuhan. Ini sangat menyukacitakan Paulus. Sukacita surgawi harus selalu menjadi milik kita apabila mendengar dan menyaksikan pekerjaan Tuhan dalam diri orang lain semakin maju dan bukan sebaliknya.(6)

Ayat 8-9 – Kebesaran hati seseorang terpancar dari cara ia memandang orang lain. Adalah hak Paulus (apalagi dalam kapasitas sebagai seorang rasul) untuk memerintahkan sesuatu yang harus ditaati oleh Filemon. Namun Paulus tidak menggunakan hak itu, justru ia “meminta” (7) kepada Filemon. Dalam pengertian ini terlihat betapa Paulus respek terhadap Filemon. (8)  Ini mengajarkan kita bahwa respek merupakan salah satu unsur penting dalam hubungan pelayanan. Pelayanan seringkali rusak karena ketidakmampuan menghargai atau menaruh percaya kepada mereka yang memiliki kapabilitas dalam pelayanannya.

Ayat 10 – Filemon adalah pemilik budak yang memiliki hak untuk menentukan hidup mati budaknya yang melarikan diri. Ini pasti sangat menakutkan Onesimus. Maka Paulus menjelaskan kepada Filemon bahwa sudah saatnya ia membangun hubungan yang baru dengan Onesimus; bukan hanya sebagai tuan dan budak, namun sebagai seorang saudara di dalam Kristus. Perhatikan bagaimana Paulus menyebut Onesimus sebagai “anakku” (9) menunjukkan teladan penerimaan yang luarbiasa kepada seorang yang berbeda latarbelakang. Melalui sebutan ini, Paulus menunjukkan kepada Filemon bahwa Onesimus sekarang telah menjadi seorang Kristen, saudaranya di dalam Kristus.

Ayat 11-15 – Sebagaimana Paulus telah menunjukkan belas kasihan demikian juga seharusnya Filemon dan keluarganya menunjukkan kemurahan hati. Kata-kata Paulus demikian persuasive dan meyakinkan Filemon untuk memenuhi permintaan Paulus kepadanya.(10) Nama “Onesimus” berarti “berguna atau menguntungkan”. Dengan permainan kata, Paulus menjelaskan bahwa budaknya yang dahulu tidak menguntungkan Filemon sekarang telah menjadi seorang yang sangat berguna bahkan menguntungkan baik bagi Paulus maupun bagi Filemon. Paulus mengirimkan Onesimus kembali kepada Filemon dan meminta agar Filemon mau menerimanya kembali. (11)

Ayat 16 – Status Onesimus sekarang sebagai seorang Kristen juga berpengaruh dalam hubungannya dengan Filemon. Dia tidak hanya seorang budak, namun juga seorang saudara dalam iman. Itu berarti bahwa baik Filemon maupun Onesimus sama-sama anggota keluarga Allah. Karena itu Paulus mendorong Filemon untuk menjadikan kebenaran ini nyata dengan menerima Onesimus sebagai “saudara yang kekasih di dalam Tuhan.”(11)

Ayat 17-19 – Ungkapan bahwa “kasih nyata dalam perbuatan” agaknya nyata dalam tindakan Paulus. Kesungguhan kasihnya kepada Onesimus tidak tanggung-tanggung. Seandainya Filemon menuntut ganti rugi akibat perbuatan Onesimus, Paulus siap secara pribadi membayarnya. Ia rela berhutang kepada Filemon demi Onesimus. Tindakan ini mengingatkan kita kembali bahwa kasih sejati kadangkala harus dibuktikan melalui tindakan yang sulit yang kadangkala bukannya mendatangkan keuntungan, malahan ‘kerugian’. Kasih yang tulus rela berkorban bukannya menuntut. Sebagai bapak rohani Filemon, Paulus mengharapkan agar Filemon juga dapat mengasihi Onesimus dan menerimanya kembali dengan penuh pengampunan.

Ayat 20-22 – Paulus telah meminta Filemon menerima Onesimus seolah-olah menerima dirinya (lihat ayat 17). Namun ia sekali-kali tidak memanfaatkan hubungan yang ada untuk kepentingan ini. Paulus ingin agar di dalam menerima kembali Onesimus, Filemon melakukannya dengan tulus hati. Jadi bagi Paulus, ketulusan merupakan dasar utama dalam penerimaan satu dengan yang lain antar pribadi.

Ayat 23-24 – Nama-nama orang yang “titip salam” dalam ayat-ayat ini adalah nama-nama orang yang telah dikenal baik oleh jemaat di Kolose. Epafras adalah seorang yang merintis jemaat di sana, dan menjadi teladan bagi mereka pada waktu menghadapi penganiayaan. Epafras memang sangat mengasihi jemaat Kolose. (13) Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas juga disebutkan dalam Kolose 4:10, 14. mereka adalah orang-orang yang pernah menyertai Paulus dalam perjalanan misi ke Kolose. (14)

PENUTUP

Dalam surat pribadi Rasul Paulus kepada Filemon ini terlihat dengan jelas dan nyata mengajarkan bahwa Kasih Kristus memiliki 3 dampak yang membawa kepada perubahan hidup dalam pola pikir, karakter dan sikap pelayanan, yakni:

• Kasih Kristus Dasar dari Pengampunan

• Kasih Kristus Meruntuhkan Tembok-Tembok Pemisah

• Kasih Kristus Mengajar Untuk Menghargai Orang Lain.

catatan:

(1)   Lihat Kisah Para Rasul 28:30-31 juga Filemon 9.
(2)   Lihat ayat 10
(3)   Kenneth L. Barker & John Kohlenberger III, Zondervan NIV Bible Commentary Volume 2: New Testament. Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1994. P. 935.
(4)   Perhatikan sebutan Paulus kepadanya, “…yang kekasih, teman sekerja kami…” menggunakan kata                     (Inggris: synergy) yang mengungkapkan kedekatan yang bukan hanya interpersonal relationship melainkan                       menunjuk kepada team work ministry relationship Paulus (Nestle-Aland, Novum Testamentum Graece. Stuttgart:          Deutsche Bibelgesellschaft, 1990 dan penjelasan kata ini dalam Shorter Lexicon of The Greek New Testament (2nd          Edition by F. Wilbur Gingrich and revised by Frederick W. Danker). Chicago: The University of Chicago, 1983. P.              192).
(5) Antara AD 54-68, Romawi diperintah oleh Kaisar Nero yang terkenal anti terhadap kekristenan. Masa pemerintahannya selalu diwarnai dengan kecurigaan terhadap orang2 kristen, hal mana sering ia nyatakan melalui tuntutan agar ia disembah sebagai tuhan oleh orang Kristen ( lihat juga Yarman, Diktat Pengantar Perjanjian Baru I & II. Pacet: STTIAA, 2005, 2006).
(6)  Perhatikan ayat 7. Ungkapan ini menunjukkan penghargaan yang amat besar dari seorang hamba Tuhan/Rasul kepada seorang pelayan awam. Kabar tentang Filemon ibarat air penyejuk dahaga bagi Paulus yang sedang dalam penahanan!
(7) Terjemahan asli dari kata  menunjuk kepada sebuah undangan agar Filemon menaruh perhatian terhadap apa yang sedang Paulus upayakan saat itu supaya mempertimbangkan permintaan Paulus berkaitan dengan Onesimus (lihat F.Wilbur Gingrich, Shorter lexicon of The Greek New Testament. P. 148.
(8) Ingat: Respek # Sungkan. Kebanyakan orang lebih mengedepankan ‘sungkan’ dari pada respek! Hubungan yang didasarkan pada “sungkan” tidak akan pernah bertahan lama.
(9) Kata yang Paulus gunakan menunjuk kepada suatu tindakan “mengangkat anak” dengan pengertian yang dapat mengarah kepada mengangkat anak secara jasmani atau secara rohani (lihat juga berdasarkan jenis kata dalam Thomas A. Robinson, Mastering Greek Vocabulary (2nd revised edition). Peabody: Hendrickson Publishers, 1991. P.55.
(10) Paulus seorang yang sangat mengerti dan memahami keberadaan Filemon. Filemon adalah seorang yang berasal dari suku Frigia, yakni salah satu suku bangsa Yunani yang terkenal dengan karakter keras dan kasar serta sulit di ajak kompromi (lihat Matthew Henry, Matthew Henry Commentary on The Whole Bible: volume VI – Acts to Revelation. Virginia: Mac Donald Publishing Company, ny. P. 883)
(11) Perhatikan ayat 20. Paulus sedemikian berharap permintaannya kepada Filemon terlaksana. Lihat
Robert H. Gundry, A Survey of The New Testament (3rd edition). Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1994. P. 392.
(12) Lihat juga Kolose 1:7, 4:12-13.
(13) Lihat Kolose 4:10, 14.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,214 other followers