Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

SAHABAT ALLAH YANG SEJATI (Yohanes 15:9-17) by Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 29, 2009

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 4:05 am
Tags: , , , , , , , ,

Apa artinya menjadi Sahabat Allah?
Di dalam Alkitab (PL maupun PB), kata “sahabat” memiliki pengertian yang sama dengan kata “orang yang dikasihi” menunjukkan bahwa orang yang menjadi sahabat Allah itu adalah orang yang telah menerima kasih karunia Allah. Hal ini berarti bahwa kita tidak mungkin bisa menjadi sahabat Allah kecuali Allah sendiri telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kecuali Sdr dan Saya telah terlebih dahulu dikaruniai iman oleh Allah yang memampukan kita untuk percaya bahwa Dia adalah Tuhan, barulah kita bisa disebut “sahabat Allah.” Contoh: Alkitab menyebut Abraham sebagai “sahabat Allah.” Tetapi Alkitab juga menegaskan bahwa sebutan itu ia peroleh bukan karena kemampuannya mengambil hati Allah, berbaik2 dengan Allah, bermanis2 dengan Allah, dst, tetapi karena ia percaya kepada Allah. Yakobus 2:23, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Memperhitungkan (ellogeo) merupakan istilah keuangan yang berarti “menaruh dalam rekening seseorang.” Artinya “sebagai orang berdosa, sebenarnya buku bank rohani Abraham itu kosong. Ia bangkrut. Sudah tidak punya apa2 lagi. Namun oleh kasih karunia Allah, ia percaya kepada Allah dan Allah menaruh kebenaran didalam rekening bank rohani Abraham secara cuma2, sehingga ia menjadi orang yang dibenarkan dihadapan Allah, memiliki jaminan hidup kekal surgawi.” Itulah yang menyebabkan Abraham disebut “sahabat Allah” atau “yang dikasihi Allah.” 2 sebutan yang berbeda ini namun memiliki pengertian yang sama diberikan kepada Abraham (contoh: 2 Tawarikh 20:7, “…Abraham, sahabat-Mu (Ibr. ‘aheb’)…” Yesaya 41:8, “…Abraham, yang Kukasihi (Ibr. ‘aheb’).
Q: Apa pengaruh dari menjadi Sahabat Allah bagi hidup kita?

1. Semakin Mengasihi Allah dengan Pola Pikir yang Benar
Menjadi sahabat Allah berarti memiliki pola pikir yang benar didalam mengasihi Allah. Banyak orang mengaku mengasihi Allah, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengasihi pada level mana? Ada 3 level penyataan kasih: (1) I Love You because I need you – my need (Lowest Level): if You fulfilled ‘ll follow You, if You show your miracles I’ll serve You, I’ll trust, etc. (2) I Love You because legality of my religion – I’m a Christian so I must love God (Medium Level): produce kehidupan keagamaan yang terpaksa, ke gereja/persekutuan, memberi sesuatu entah untuk pekerjaan Tuhan atau bukan, melayani, etc. (3) I Love You because You’re the Only Lord in my life – I want to learn how I can love You, more and more, like You do (higher level): produce serve and sacrifice. Hanya orang2 pada level inilah yang layak disebut sebagai sahabat Allah karena mengerti bahwa menjadi Sahabat Allah itu berarti melayani dan rela berkurban bagi Tuhan sebagai buah dari kehidupan percayanya. Ini harus menjadi standar hidup percaya kita. Inilah harta terbesar yang harus kita perjuangkan. Di dalam keluarga harta terbesar adalah kasih yang tetap terpelihara kepada Allah yang dinyatakan dengan bukan hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga melayani dan mau berkurban bagi kemajuan pekerjaan-Nya di bumi ini. Di dalam gereja, harta terbesar adalah orang2 yang sungguh2 mengerti bahwa tujuan utama hidupnya yang sementara di tengah dunia ini adalah untuk melayani Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan melalui kerelaan berkurban bagi Tuhan dan gereja-Nya.

Sdr, perhatikan bahwa instruksi kepada para murid dalam teks ini disertai dengan berkat Allah bagi mereka, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepada-Mu.” Ini berarti: Allah akan memberkati setiap orang, setiap keluarga, setiap gereja yang sungguh hati mengasihi Allah dengan pola pikir yang benar. Dan Allah akan mendengar doa setiap orang, setiap gereja, setiap keluarga yang sungguh hati mengasihi Allah dengan pola pikir yang benar.

2. Dapat menikmati Kehadiran Allah Dalam Segala Situasi Kehidupan
Seorang yang benar2 sahabat Allah akan senantiasa menikmati kehadiran Allah secara langsung disetiap langkah perjalanan hidup (pahit atau manis, senang atau susah, sukses ataupun gagal), sehinga ia tetap kuat, tekun, makin indah hidupnya, makin berkenan dan benar hidupnya dihadapan Tuhan. Ia selalu melihat setiap kondisi kehidupan sebagai bagian dari perjalanan hidup iman, sehingga ia semakin menghargai kehadiran Allah dalam hidupnya. Kadangkala lewat berbagai sikon hidup yang sedang kita hadapi, Ia memberikan kita kesempatan untuk membuktikan diri bahwa kita adalah sahabat Allah yang sejati atau dengan kata lain, sikap terhadap ‘sikon’ yang sedang kita hadapi akan menentukan layak atau tidakkah kita ini disebut sebagai Sahabat Allah.  Dalam peristiwa penyaliban Yesus, ada 2 penjahat yang turut disalibkan. Sama2 penjahat. Sama2 disalibkan dengan Yesus. Sama-sama diberi kesempatan untuk menikmati kehadiran Allah melalui Yesus Kristus yang disalibkan bagi dosa manusia, termasuk dosa mereka. Tetapi yang satu mau percaya dan menyadari dirinya sebagai orang berdosa dan membutuhkan pertolongan Tuhan sedang yang satu tetap berkeras hati, menyebabkan ia kehilangan berkat surgawi yang besar. Siapa yang terbukti sebagai Sahabat Allah dalam peristiwa ini? Ya, penjahat yang bertobat itu!

Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan Sdr dan Saya adalah Sahabat Sejati yang selalu hadir dalam perjalanan hidup kita, bahkan, ketika kita sedang berada dalam suasana ‘sikon’ hidup yang paling berat sekalipun. Penegasan: Konteks Yohanes 15 salah satunya adalah pengajaran yang mempersiapkan para Rasul untuk menghadapi segala ‘sikon’ termasuk yang terburuk sekalipun oleh karena mereka mengikut dan melayani Allah. Akhir hidup mereka semua (kecuali Yudas) membuktikan bahwa mereka adalah sahabat Allah yang sejati (Petrus – salib terbalik, Tomas – di tombak mati di Coromandel, India Timur, Yakobus – dipenggal, yang lainnya nasibnya tidak lebih baik..kecuali Yohanes yang melewati hidup yang penuh kesulitan sampai akhirnya menerima kitab Wahyu di P. Patmos dan mati disana dalam usia tua).

Q: Bagaimana dengan kita? Adakah kita selalu berpikir bahwa kita benar2 telah menjadi Sahabat Allah apabila jalan2 hidup kita selalu diwarnai dengan berkat yang berupa keberhasilan, materi berlimpah, sejahtera, kondisi yang selalu enak dan nyaman? Adakah kita selalu berpikir bahwa hidup ini tidak lagi punya nilai, tidak lagi berharga oleh karena tidak memiliki ini dan itu, oleh karena kondisi lahiriahku yang jelek, tidak menarik dan penuh dengan masalah? Ataukah kita selalu bisa melihat bahwa dalam segala ‘sikon’ apapun kita sedang dibentuk dan diberkati oleh Allah untuk lebih bisa menikmati kehadiran-Nya dalam hidup kita?

Kebenaran firman ini sekali lagi menegaskan: Apapun ‘sikon’ yang sedang Sdr hadapi atau alami saat ini (kesehatan yang terganggu, kondisi ekonomi yang sulit pada hari ini, usaha dan pekerjaan yang sulit, mengalami kekecewaan, sedang patah hati atau patah semangat, merasa ditinggalkan, dst,) jangan engkau kecewa, putus asa, menyerah, undur dari gereja/persekutuan, atau berpikir tinggalkan Tuhan….Justru bangkitlah!!! Jadikan ‘sikon’2 yang demikian sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa Sdr adalah Sahabat Allah yang sejati. Ingat: Yesus adalah sahabat yang tidak pernah meninggakan Sdr. Mazmur 25:14 mengatakan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Tuhan adalah sahabat yang selalu hadir menyertai, menghibur, menolong, menguatkan dan memelihara kehidupan Sdr dan Saya yang sungguh2 menjadi sahabat Allah yang sejati.

3. Sanggup Mengasihi Sesama dengan Kasih Ilahi
Seorang Sahabat Allah yang sejati sanggup mengasihi sesamanya dengan kasih ilahi. Perintah untuk saling mengasihi dalam Yohanes 15 tidak hanya memiliki dimensi ekslusif (mengasihi segelintir orang), tetapi berdimensi inklusif (mengasihi semua orang) cf. ayat 17 standar kasih menggunakan kata “agape” yakni kasih dengan kualifikasi: bagaimanapun, walaupun, meskipun). Why harus “agape”? Hanya orang2 yang mengasihi sesamanya dengan standar “agape”lah yang dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi sahabat yang baik dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Hari ini kita hidup ditengah dunia yang makin materialistis, egois, dengan budaya hidup acuh tak acuh. Ini menyebabkan ketidakseimbangan jiwa. Zaman ini, orang yang sedih berat sekalipun sudah tidak lagi dapat dideteksi dengan kondisi yang wajar. Biasanya orang yang sedih raut wajahnya pasti terlihat sedih atau menangis terus-menerus. Hari ini kesedihan tidak lagi ditunjukkan dengan cara seperti itu. Orang malah bisa menunjukkan yang sebaliknya. Contoh: (1) menurut penelitian 40% penyakit obesitas disumbang karena stress (mestinya kan kurus…), (2) 68% pelawak terkenal dunia (Chaplin, Cosby, Grimaldy, dll) adalah orang2 yang sangat menyedihkan hidupnya karena masalah cinta, keluarga, tidak terpenuhinya kasih sayang ketika masa kanak2 (tapi anehnya…orang justru terhibur oleh lawakan mereka!). Ini menunjukkan kepada kita bahwa dunia ini bagaimanapun majunya tidak sanggup memenuhi kekosongan jiwa manusia.  Di Jepang orang2 yang tertekan jiwanya tidak bisa menangis. Para psikolog/psikiater menyarankan untuk menonton film2 drama atau novel2 melankolik yang dapat menyebabkan mereka menangis. 2. Bahkan saya mendengar dari rekan hamba Tuhan yang sempat melayani disana dalam tim2 pelayanan yang disebut “Listening Ministry” yang disebarkan dibeberapa tempat di kota Tokyo: di pusat2 perbelanjaan, stasiun bus, KA bawah tanah, dll. Mereka menyediakan bangku2 kosong dalam bentuk kelompok dengan tulisan “kami dengan senang hati ingin mendengar anda.” Tidak ada kata2 atau menawar2kan supaya orang datang. Anehnya…banyak yang datang dan mengeluarkan berbagai keluhan mereka….setelah itu lega.

Dalam keluarga kita, dalam gereja kita, dalam lingkungan kita berada barangkali ada orang2 seperti ini yang memerlukan uluran kasih kita. Barangkali bukan melulu materi bentuk ungkapan kasih kita, tetapi kadang menyapa, menanyakan, mendengar, menyediakan diri ketika mencari kita, setia mendoakan mereka sesuai pergumulan mereka lebih efektif dan lebih berguna bagi mereka. Dunia ini membutuhkan kehadiran sahabat2 Allah yang sejati. Lagu: “B’rikan ‘ku Mata/Hati”. Seorang yang menjadi Sahabat Allah memiliki hati seperti ini: hati yang sanggup mengasihi sesama dengan kasih ilahi. Q: Sudahkah kita memiliki hati seperti ini? menjadi sahabat bagi mereka dan membawa mereka kepada Sahabat Sejati kita: Yesus Kristus?

Kesimpulan
Rindukah Sdr menjadi sahabat Allah yang sejati dan menikmati berkat-Nya yang berkelimpahan? Tunjukan 3 pengaruh ini dalam hidup Sdr: (1) mengasihi Dia dengan pola pikir yang benar, (2) menikmati kehadiran-Nya dalam segala ‘sikon’ dan (3) belajar untuk sanggup mengasihi sesama dengan kasih ilahi.

About these ads
 

One Response to “SAHABAT ALLAH YANG SEJATI (Yohanes 15:9-17) by Pdt. Yarman Halawa, D.Min”

  1. Zack Says:

    I like it


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,213 other followers