Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

PRIA SEJATI: SEJATIKAH ? MEMBEDAH TEOLOGI DIBALIK GERAKAN PRIA SEJATI January 14, 2011

 

Oleh: Ev. Calvin Renata M.Div*

 

LATAR BELAKANG SINGKAT

CHRISTIAN MEN’S NETWORK adalah suatu gerakan yang dipelopori oleh seorang yang bernama Edwin Louis Cole (Ed Cole), di mana visi dari gerakan ini adalah menolong kaum pria untuk menjalani fungsi hidup sebagai suami dan ayah yang seharusnya. Gerakan ini muncul di USA pada kurang lebih tahun 1980-1982 an dan masuk ke Indonesia pada tahun 1999. Dibalik segala fenomena yang ada, adalah penting bagi kita untuk mengenali bukan hanya dampaknya bagi gereja-gereja di Indonesia, tetapi juga mengenali teologi dibalik ajaran yang dikenal dengan nama “Pria Sejati” ini.

Untuk itu hal pertama yang harus kita kenali adalah tokoh dibalik gerakan ini dan apa yang ia pahami tentang iman Kristen. Pembahasan dalam makalah ini difokuskan bukan kepada aktivitas camp, tokoh-tokoh gereja yang terlibat, pembicara-pembicara camp melainkan kepada Edwin Louis Cole dan apa yang ia tulis dalam kedua bukunya yaitu Menjadi Pria Sejati dan Kesempurnaan Seorang Pria.

 

EDWIN LOUIS COLE : NABI ALLAH DI TENGAH JAMAN INI ? (1)

Cole dilahirkan di Dallas, Texas, USA. Lahir tahun 1922 dan meninggal 27 Agustus 2007. Cole tinggal di Dallas dengan ibunya sampai umur 4 tahun. Berjangkitnya penyakit Scarlet Fever mengharuskan mereka pindah ke L.A, California. Di sana ia sekolah di Belmont High School di pusat kota L.A. Pada masa perang dunia II ia mendaftarkan diri sebagai pasukan penjaga pantai, di mana ia menemukan Nancy Corbette, sesama sukarelawan yang kemudian
menjadi istrinya. Cole aktif dalam street witnessing (kesaksian di jalan), dan dua tahun kemudian ia menjadi pastor di sebuah gereja di California Utara.

Karir rohaninya dimulai sebagai pelayan khusus kaum pria. Ia menjalani dua dekade hidupnya sebagai pekerja rohani termasuk mission trip, penginjilan dan pembicara di TV. Tahun 1977 ia mendirikan Christian Men’s Network sambil tetap melayani sebagai pembicara di dua stasiun TV Kristen. Tahun 1984, ia keluar dan memfokuskan diri pada pelayanan pribadinya. Tahun 1993 ia dan istrinya kembali ke Texas untuk melayani di sana dan tahun 2002 ia divonis mengidap kanker serta meninggal pada tahun yang sama.

Visi yang mulia dan berdedikasi, tapi bila tidak didukung oleh pengenalan terhadap
kebenaran dan dasar Firman yang kuat hanya akan membawa kepada kesalahan demi kesalahan bahkan kepada kesesatan. Hal pertama yang harus kita perhatikan dalam buku-bukunya, Cole tidak pernah disebutkan mengenyam pendidikan teologia di seminari tertentu. Seorang hamba Tuhan dituntut untuk mempunyai dasar dan pemahaman tentang Alkitab sebelum dia melayani. Bahkan dalam judul-judul bukunya tidak dituliskan gelar akademis yang ia miliki. Memang gelar bukan segalanya, tetapi ini menunjukkan kompentensi dan kapabilitas seseorang dalam menulis dan berbicara.(2) Bagi saya hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Cole seorang yang sangat rendah hati sehingga ia tidak mau menyebutkan di mana ia sekolah Alkitab dan gelar akademis yang ia miliki.(3) Kedua, memang ia tidak pernah sekolah Alkitab sehingga tidak ada yang perlu dituliskan dalam biografinya. Dari dua kemungkinan ini, jika dilihat dari apa yang ia jabarkan tentang pengajarannya lebih menunjuk pada kemungkinan yang kedua, yaitu bahwa Cole tidak pernah mengenyam pendidikan teologi, sehingga ia tidak memahami Firman Tuhan dan kebenarannya dengan utuh. Namun ironisnya, banyak Hamba Tuhan yang telah mendapatkan gelar S2 bahkan S3 malah mengaminkan apa yang diajarkan dalam gerakan ini, tanpa berpikir kritis dan mempelajari dasar teologi gerakan ini. Ini adalah sesuatu yang sangat menyedihkan!

Hal yang tidak terlalu mengejutkan sebagai dampak dari identitas dirinya yang tidak jelas adalah berulang kali Cole menyebut dan mengklaim diri sebagai nabi Allah di tengah jaman ini.

“Sebenarnya perkara ini terlalu keras, terlalu tajam – bahkan untuk seorang nabi pengkotbah seperti saya, yang sudah berkotbah di hadapan ribuan orang. Perkara-perkara yang lalu sepertinya sudah tidak ada apa-apanya lagi bila dibandingkan dengan perkara ini.”(4)

“Edwin Louis Cole adalah pendiri dan pemimpin dari Christian Men’s Network yang telah banyak menyampaikan pesan-pesan nubuat bagi kaum pria dari generasi masa ini.”(5)

Dalam PL memang ada tiga jabatan penting, yaitu Raja, Imam dan Nabi (yang ketiganya
bersatu dalam diri Yesus Kristus). Namun harus kita ketahui tiga jabatan ini telah berhenti.
Jabatan raja berhenti ketika bangsa Yehuda/ Israel berada di dalam masa intertestamental dan dijajah Romawi. Mereka sudah tidak memiliki kerajaan lagi. Jabatan imam berakhir ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 AD oleh Romawi dalam peperangan 4 tahun dengan Israel. Sejak itu mereka tidak memiliki lagi imam, yang ada hanya guru (rabbi). Jabatan nabi juga sudah selesai pada saat Allah telah selesai berfirman dan wahyu Allah berhenti.

Masih adakah nabi/ rasul pada jaman ini? Rupanya Cole tidak memahami bahwa jabatan nabi/ rasul sudah berhenti dengan selesainya wahyu Allah kepada manusia. Bagaimana dengan Efesus 4:11 yang mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”? John Calvin dalam bukunya Ecclesiastical Ordinances mengatakan dengan jelas bahwa jabatan rasul dan nabi hanya diberikan sebagai dasar pembentukan gereja, sedangkan gereja pada masa pasca Kristus hanya memiliki 4 jabatan didalamnya:
Fundamental to the Ecclesiastical Ordinances is that Calvin felt that the fourfold office of ministry laid out therein was God-given: “There are four orders of office instituted by our Lord for the government of his Church . . . pastors; then doctors; next elders, and fourth deacons.”(6)

(suatu hal yang mendasar dalam buku Ecclesiastical Ordinances adalah bahwa Calvin merasa hanya ada 4 jabatan yang Allah berikan kepada gereja-Nya :”ada empat jabatan yang didirikan Allah bagi pemerintahan gereja-Nya …pastors (gembala-gembala), kemudian doctors (pengajar-pengajar), kemudian elders (penatua-penatua) dan keempat deacons (diaken-diaken).”

Alkitab menunjukkan bahwa seorang nabi justru beritanya tidak didengar oleh bangsanya. Ia ditolak, dikucilkan bahkan dibenci oleh orang sejamannya. Hal itu terjadi karena ia memberitakan Firman yang tidak disukai oleh orang berdosa. Itulah yang dialami nabi Allah yang sejati, bukan disanjung-sanjung atau diikuti banyak orang. Intinya, tidak ada nabi yang hidupnya enak dan ia adalah orang yang kesepian dalam jamannya.

Lagipula, dalam Alkitab tidak pernah ada nabi khusus bagi kaum laki-laki/ wanita yang hanya bicara masalah pria/ wanita. Para nabi memberitakan semua Firman Allah baik penghukuman, murka Allah, dosa kepada semua orang baik pria dan wanita. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa seorang nabi dipilih dan dipanggil sendiri oleh Allah. Bahkan seperti
nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis dipilih sejak mereka dalam kandungan. Pertanyaannya : kapan Allah memilih Cole menjadi seorang nabi? The Bible does not say anything about Cole! (Alkitab tidak berkata apa-apa tentang Cole). Adalah kesalahan sekaligus penyesatan mengklaim diri sebagai nabi Allah. Selain nabi-nabi yang disebutkan namanya dalam Alkitab, tidak ada nabi lagi pada jaman ini. Saya berani pastikan bahwa Cole bukanlah nabi Allah pada jaman ini.

Apakah bahaya dari mengklaim diri sebagai nabi Allah? Sebagai konsekwensi dari klaim bahwa dirinya seorang nabi Allah, Cole otomatis jatuh kepada kesalahan fatal lainnya, yaitu beranggapan bahwa Allah masih berfirman dan memberikan wahyu-Nya melalui dirinya. Hal ini akan kita bahas pada bab berikutnya.

 

ED COLE & WAHYU BARU

Mengaku sebagai nabi Allah otomatis akan mengaku menerima wahyu / firman yang baru. Ini adalah konsekwensi logis yang tidak bisa dihindari dan memang inilah yang diajarkan
Cole dalam buku-bukunya. Kesesatan demi kesesatan berlanjut terus dalam buku yang ditulis
Cole. Perhatikan apa yang ia tuliskan ketika ia sedang berada dalam sebuah pesawat terbang
mempersiapkan sebuah kotbah:

“Saya sadar bahwa Roh Allah di dalam diri saya mengilhami dan menuntun pena saya untuk menuliskan sesuatu di dalam buku catatan.” (7)

“Tetapi, di dalam perenungan ini, saya seperti kehilangan kesadaran akan keadaan di sekitar saya. Sesuatu sedang bergolak di dalam roh saya. Saya sadar, hadirat Allah hadir.”(8)
Bahkan dalam prakata edisi revisi buku Kesempurnaan Seorang Pria, ia mengatakan :

“Saya juga telah menambahkan beberapa bab yang tidak hanya menguatkan apa yang telah ditulis pada awalnya, tetapi juga memberikan pewahyuan yang luas dan makna yang lebih dalam pada kebenaran bahwa “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.” (9)

Dalam bukunya Menjadi Pria Sejati, Cole berulang kali membicarakan pentingnya wahyu baru bagi kita. Ia bahkan menghubungkan wahyu yang baru dengan gaya ibadah yang baru pula.

“Orang yang telah menerima wahyu tentang Allah akan mengalami suatu aliran baru dalam dirinya sehingga ia akan memiliki suatu ekspresi rohani yang baru pula, termasuk di dalamnya adalah cara penyembahan yang baru dan pujian yang baru juga.” (10)
Selanjutnya ia mengkritik suatu ibadah yang formal berarti semakin jauh dari wahyu Allah. Pemikiran Cole ini didasarkan kepada relasi antar sesama manusia, semakin akrab manusia maka semakin tidak ada formalitas. Perhatikan apa yang ia katakan berikut ini :

“Dalam hubungan antar manusia, formalitas menjadi pertanda adanya jarak dalam hubungan tersebut, sebab dalam hubungan yang intim tidak terdapat lagi bentukbentuk formalitas. Jadi, semakin formal bentuk penyembahan yang dilakukan, semakin jauh pula jarak antara si penyembah dengan wahyu yang mula-mula diterimanya. Pada titik yang kritis ini orang harus kembali kepada Tuhan untuk mendapatkan wahyu yang baru. Sebab, “firman” yang baru akan mendorong bangkitnya inspirasi baru dan memangkas kecenderungan yang menuju kepada kemerosotan itu.”(11)
Jadi menurut Cole, supaya manusia dapat dekat/intim dengan Allah, maka ibadah harus tidak boleh dalam bentuk yang formal (kaku/ resmi). Ada benarnya, dalam hubungan antar sesama manusia semakin seseorang intim / dekat semakin tidak formal. Kita bisa memanggil langsung nama seseorang, kita bisa masuk rumahnya tanpa permisi, kita bisa ambil makanan dari mejanya tanpa sungkan. Itu sah-sah saja. Pertanyaan saya, bolehkah cara berelasi dengan sesama manusia yang berdosa ini dipakai dan diterapkan kepada Allah yang kudus? bagaimana dengan ibadah Israel sendiri baik ketika di kemah suci (tabernakel) atau bait Allah? Mereka sangat formal, tapi Allah tetap hadir di tengah-tengah mereka. Bagaimana dengan kasus Uza (2 Sam 6) yang memegang tabut Allah supaya tidak jatuh dan rusak, tetapi Allah malah menghukumnya? Uza mati, justru karena melanggar kaidah-kaidah formal yang Allah berikan. Apakah ini berarti semua ibadah dalam sepanjang sejarah gereja yang bersifat formal pasti Allah tidak hadir di dalamnya ? Cole harus belajar teologi penyembahan yang lebih Alkitabiah. Keintiman relasi dengan Allah tidak pernah menjadikan umat-Nya menjadi liar dalam hal ibadah. Bagaimana kita beribadah bukan dilandaskan kepada wahyu baru ataupun selera kita melainkan kepada prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Alkitab.(12)
Selanjutnya, Cole menyatakan bahwa wahyu Allah menggantikan doktrin yang baku. Ini suatu penghinaan terhadap otoritas Alkitab. Cole mengkritik gereja Injili yang menurutnya terlalu kaku memegang doktrin, pengakuan iman dan mengabaikan wahyu dan nubuatan yang baru.
“Doktrin dan kredo menjadi sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat lagi, lalu muncul hasrat untuk mempertahankan kedudukan yang ada. Apabila orang tidak berusaha mencari dan mendapatkan wahyu baru yang akan membuahkan suatu kemajuan…Pada titik ini jugalah kehidupan mulai terasa membosankan…Taktik-taktik manusiawi mulai menggantikan hal-hal yang bersifat nubuatan.”(13)
Dan lucunya, Cole memberikan beberapa kritikan tajam kepada pembacanya dan juga kaum Ortodoks / Injili yang percaya bahwa Allah sudah berhenti berfirman:
“Apabila anda berpuas diri dengan wahyu yang lama tanpa pernah mau mencari atau menerima wahyu yang baru, inspirasi anda pun akan terhenti, mengeras dan menjadi bentuk institusional yang kaku – selanjutnya anda akan menjadi manusia yang ‘mengkristal’.”(14)
“Apabila orang menolak wahyu yang baru, maka ia akan terjerumus ke dalam proses kristalisasi. Padahal, Tuhan adalah Allah yang tidak mengenal kemandekan. Dia terus menerus menyatakan diri-Nya untuk memulihkan segala sesuatu sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya.”(15)
“Orang semacam ini lalu akan meredakan perasaan bersalahnya dengan membenarkan dirinya sendiri, yaitu dengan cara mencemooh gelombang lawatan Roh Allah dan penyingkapan wahyu-Nya yang baru.”(16)
“Oleh karena itu, sebelum dihancurkan Allah, orang-orang semacam ini sebenarnya lebih baik merendahkan diri di hadapan Allah, bertobat, dan meminta wahyu baru dari Allah, sehingga sukacita ilahi itu akan mengisi kehidupan mereka lagi dan hubungan yang benar dengan Allah dapat terjalin kembali dengan baik.”(17)
“Allah menyediakan wahyu bagi anda!”(18)
Jelas dari kalimat ini Cole anti dengan doktrin dan pengakuan iman yang selama ini dipegang dan diajarkan oleh gereja-gereja Injili/Ortodoks. Dengan statement ini Cole merendahkan otoritas Alkitab yang adalah satu-satunya wahyu Allah tertulis bagi kita. Ia lebih suka menerima wahyu baru daripada menerima Alkitab sebagai otoritas dalam pengajarannya.
Ini bertentangan dengan prinsip Sola Scriptura. Dalam Belgic Confession, salah satu pengakuan iman Reformed yang penting pada artikel 7 tentang The Sufficiency of Scripture, dikatakan: ”for since it is forbidden to add to substract from the Word of God (sebab itu dilarang menambahkan atau mengurangi Firman Allah).”(19) Hal ini tidak mengherankan sebab ketika anda membaca doktrin-doktrin yang diajarkan Cole, anda akan menemukan penyimpangan bahkan penyesatan karena ia tidak mau terikat kepada doktrin dan pengakuan iman yang dianggapnya baku (kaku).
Statement di atas menunjukan betapa dangkalnya cara berpikir Cole. Ia tidak memahami sejarah gereja dengan baik mengapa muncul doktrin dan apa pentingnya doktrin dan pengakuan iman dalam sepanjang sejarah gereja. Tanpa doktrin/ pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul gereja tidak akan berdiri di dunia ini. Tanpa pengakuaan iman yang dibuat bapak-bapak gereja, gereja akan melenceng dari doktrin yang asali. Mengenai pentingnya Alkitab / doktrin dan pengakuan iman, perhatikan kalimat yang dikatakan Alister McGrath dalam bukunya The Genesis of Doctrine berikut ini :

“Henry Scott Holland summarized the situation with admirable clarity : we cannot now, in full view of the facts, believe in Christ, without finding that our belief includes the Bible and the Creeds.”(20)
(Henry Scott Holland meringkas suatu situasi / permasalahan dengan kalimat yang jelas : berdasarkan fakta-fakta yang ada, kita tidak dapat percaya kepada Kristus, tanpa menemukan bahwa keyakinan iman kita juga termasuk Alkitab dan pengakuan-pengakuan iman).
Perlu anda ketahui bahwa pemikiran Cole yang anti kepada doktrin dan pengakuan iman ini jelas bukan cara berpikir teologi Reformed / Injili. Tidak ada gereja Reformed atau Injili yang anti dengan doktrin yang benar dan pengakuan iman. Doktrin dan pengakuan iman adalah pondasi gereja yang tidak boleh dirubah, karena merubah doktrin berarti membongkar kekristenan itu sendiri.
Terakhir, Cole juga menghubungkan wahyu baru dengan pertumbuhan kerohanian seseorang.

“Tidaklah salah apabila manusia begitu menggebu-gebu dan bersemangat akibat pertobatan yang baru dialaminya. Wajar juga bila seseorang sangat tergetar oleh kemenangan rohani yang diperolehnya. Tetapi, semuanya itu hendaknya tidak membuat manusia lupa untuk kembali kepada Allah guna mendapatkan lagi wahyu yang baru.”(21)
Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa pertumbuhan rohani seseorang didapat dari wahyu yang baru, melainkan kembali kepada Firman Allah yang sudah lengkap. Dalam peristiwa Pentakosta, dimana ada 3000 jiwa yang bertobat, tidak pernah dikatakan orang yang bertobat diperintahkan untuk mencari wahyu baru sebaliknya:
Kis 2:42, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
Sepanjang bab 9 dalam bukunya Menjadi Pria Sejati, Cole memakai istilah-istilah “wahyu”, “inspirasi” dengan tidak bertanggung jawab. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Cole sendiri tidak memahami iman Kristen dengan baik. Ia berbicara panjang lebar tentang wahyu dengan pemahaman yang salah total sehingga menghasilkan tulisan yang juga menyesatkan pembacanya. Dalam penjelasannya tentang Alkitab, Cole hanya menyinggung isi Alkitab tanpa menegaskan hakekat Alkitab itu sendiri. Dengan kata lain Cole tidak pernah menyatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang sudah selesai diwahyukan. Inilah pengertian Cole tentang apa itu Alkitab :
“Alkitab adalah sebuah kitab sejarah, puisi, amsal, silsilah, hukum, nubuatan, pengajaran dan riwayat hidup. Salib merupakan topik utama dari Alkitab. Dalam Perjanjian Lama ada taurat, sejarah, puisi dan nabi-nabi. Dalam Perjanjian Baru ada Injil, sejarah, surat para rasul dan Wahyu.”(22)

Cole juga lupa bahwa tidak setiap saat Allah memberikan wahyu-Nya. Pada masa intertestamental (masa antara PL – PB) Allah tidak berfirman 400 tahun lamanya. Jika Allah bisa berhenti berfirman pada masa itu, mengapa Allah tidak bisa berhenti berfirman pada saat ini ketika Alkitab sudah menjadi kanon dan lengkap?

 

PENOLONG YANG LAIN a la COLE

Dengan memerankan diri sebagai nabi maka jangan heran Cole merasa mendapat pimpinan ‘langsung’ dari Roh Kudus. Berulang kali ia menyatakan pimpinan Roh Kudus yang berbeda dengan kebanyakan orang lain. Perkataan Cole dalam bukunya ini, kembali mengingatkan saya kepada Montanus, bapak gereja yang sesat yang terus menerus mendapatkan pimpinan bahkan wahyu secara khusus dari Roh Kudus. Ini seperti efek domino, ketika seseorang menganggap diri sebagai nabi, ia akan merasakan pimpinan Roh Kudus berbeda dari orang lain. Inilah yang Cole katakan:
“…saya merasakan Roh Kudus membisikkan kepada saya untuk juga menjangkau orang lain. Menyatakan perintah Allah kepada bangsa-bangsa lain, kepada setiap orang yang percaya dan yang belum percaya di mana pun mereka berada, dikotakota, di desa-desa dan di dalam persekutun-persekutuan.”(23)
Tetapi, Roh Kudus melangkah masuk, dengan tenang, dan hening, Ia membisikkan sebuah kalimat di dalam hati saya: “Bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.”(24)
“Sebagaimana mereka berdoa, makin tampaklah bahwa yang berbicara adalah Roh Kudus – dan saya menerima pesan tersebut sebagai tujuan yang Allah berikan kepada saya.”(25)
Dengan apa yang ia katakan ini sebenarnya Cole telah melecehkan kehadiran Alkitab. Memang dalam PL khususnya, Allah berbicara langsung kepada nabi-Nya. Namun itu sebelum Alkitab dikanonkan. Setelah Alkitab menjadi kanon, Roh Kudus bekerja dan berbicara melalui Firman. Roh Kudus dan Firman tidak bisa dipisahkan.

“For Calvin, Word and Spirit belong inseparably together. The Spirit does not witness apart from the Word ; The Word without the work of the Spirit has no power or efficacy.”(26)

(Bagi Calvin, Firman dan Roh Kudus tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Roh Kudus tidak bersaksi terpisah dari Firman. Firman tanpa pekerjaan Roh Kudus tidak memiliki kuasa atau efektifitas).
Mengapa para reformator menghubungkan Roh Kudus dan Firman dalam pemikiran mereka? Karena mereka sudah melihat gejala seperti ini di dalam jaman mereka.
“On the other hand, some of calvin’s contemporaries, ‘fanatics’ he called them were so enamoured of the Spirit that they saw little need for the written Word. Hence, “these rascal tear apart those things which the prophet joined together with an inviolable bond” (Inst. 1.9.1).(27)
(Pada sisi yang lain, beberapa orang sejaman Calvin yang ia panggil ‘fanatik’ sangat tergila-gila dengan Roh Kudus sehingga mereka tidak terlalu membutuhkan Firman. Mereka ini merusak apa yang dipersatukan oleh para nabi dengan ikatan yang seharusnya tidak boleh dirusak (Inst 1.9.1)).


Bukan itu saja, Cole dengan jelas menyetujui bahwa fenomena-fenomena dalam ibadah yang ecstatic adalah lawatan Roh Kudus. Ia berkata:
“Dengan gerakan yang tiba-tiba, tangan beberapa pria terangkat ke atas, dan mereka mulai menangis dan menjerit di dalam pujian dan penyembahan kepada Allah. Roh Kudus melawat kapel yang terletak di daerah pegunungan itu…”(28)
Cole menunjukkan konsistensinya bahwa ibadah yang benar harus berdasarkan kepada wahyu yang baru. Inilah yang disebut ibadah yang intim dengan Allah. Seperti yang saya telah jelaskan diatas, rupanya ini telah menjadi suatu trend dalam camp pria sejati. Anda seharusnya bisa menilai sendiri apa yang salah dengan ibadah seperti ini. Cole melanjutkan pengalamannya dengan Roh Kudus dalam pristiwa lainnya.
“Suatu ketika saya sedang melayani seorang pendeta di Chicago, tiba-tiba Roh Kudus mengambil alih ‘saat-saat Allah’ itu.”(29)
“Bertahun-tahun kemudian Tuhan kembali menyampaikan firman-Nya secara khusus kepada saya. Ketika itu saya sedang berpuasa dan seperti biasa, pagi itu saya juga berjalan-jalan menyusuri pantai seorang diri di tengah-tengah udara yang masih terasa begitu dingin dan berkabut. Saya kemudian berseru kepada Allah dan Roh-Nya menyampaikan kelima “firman” ini kepada roh saya: “Kuduskanlah dirimu. Beritakanlah firman Tuhan. Jangan ragu akan apapun. Gunakanlah emas, namun jangan jamah kemuliaannya. Naikanlah doa yang terdapat dalam Kis 4:24.”(30)
“Ketika akhirnya saya merenungkan kejadian itu, saya mendengar suara lembut Roh Kudus berbicara dalam hati dan pikiran saya dan menyampaikan perkataan Yesus.”(31)
Dalam pembicaraannya tentang Roh Kudus, kita melihat bahwa Cole selalu memahami relasinya dengan Roh Kudus dengan cara yang berbau prophetic (kenabian). Ia seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dirinya begitu istimewa. Terus menerus mendapat wahyu/firman yang baru. Sekali lagi saya tegaskan bahwa Allah bekerja dengan cara yang berbeda sebelum dan sesudah Alkitab selesai dituliskan. Memang kepada para nabi dan rasul, Roh Kudus menuntun mereka secara langsung (misal : Kis 16:6). Tetapi harus diingat bahwa Cole bukanlah nabi ataupun rasul. Sebaliknya, dalam Alkitab juga begitu banyak peringatan kepada orang-orang yang merasa mendapat firman/wahyu dari Allah padahal sebenarnya tidak. (32)

Yeremia 23:21, “Aku tidak mengutus para nabi itu, namun mereka giat; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat.”
Yeremia 14:14 Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.”
Maka orang Kristen sejati harus memiliki kewaspadaan terhadap nabi palsu yang senang mengkalim diri bahwa Roh Kudus berfirman kepadanya. Berhati-hatilah kepada orang seperti ini.

 

BUKAN YESUS YANG KUKENAL

Dalam bukunya Cole berbicara banyak tentang pribadi Yesus. Cole percaya bahwa Yesus Allah-manusia, misalnya dalam kalimat berikut ini:

“Kenyataan tersebut menghadapkan kita pada suatu pertanyaan yang telah digumuli umat manusia sejak dua ribu tahun silam. Bagaimana kita dapat menghampiri Allah-manusia, Yesus Kristus ini?”(33)
“Dia datang sebagai Anak Allah dan Anak Manusia- ketuhanan yang sempurna dan kemanusiaan yang sempurna bersatu dalam Pribadi Kedua dari Tritunggal. Allah yang sejati dan manusia yang sejati.”(34)
Kalimat diatas tidak ada masalah, karena sesuai dengan pengakuan iman Chalcedon, pribadi Yesus Kristus memang memiliki dua sifat yaitu ilahi dan manusia. Namun kita jangan berhenti hanya kepada kalimat ini saja, dalam aplikasi dan penerapannya Cole selalu menghubungkan Yesus Kristus dengan pemahaman pria sejati secara sangat naïf, misalnya dalam kalimat-kalimat seperti berikut:
“Saya berhenti berbicara dan memberi kesempatan bagi pria yang belum pernah mengambil keputusan untuk menjadi “pria sejati” agar maju dan menyatakan sikap mereka. Sewaktu ratusan pria beringsut maju ke depan, pria-pria yang lain bersorak gemuruh, “Yesus, Yesus, Yesus!”(35)
“Dia adalah “Pria yang sejati”. Oleh karena itu, setiap pria yang menemukan dan mengidentifikasikan dirinya dengan Kristus akan merasa benar-benar mantap juga dengan citra dirinya. Dan, selanjutnya Kristus akan membentuk mereka kembali agar sesuai dengan gambar-Nya yang sempurna itu.”(36)
Hanya karena seseorang maju dan bertobat, ia disamakan seperti Yesus? Dan herannya Cole bangga dengan teriakan-teriakan seperti ini. Adakah di dalam Alkitab orang berdosa yang bertobat lalu disamakan/menyamakan dirinya dengan Tuhan Yesus? Yang ada justru kebalikannya:
Lukas 18:13, “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Lukas 5:8, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Jelas dalam pristiwa yang dibanggakan Cole ini tidak menghormati pribadi Yesus Kristus.(37) Tidak ada nabi / rasul dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa orang yang bertobat diidentifikasi seperti Yesus. Apa yang dibangga-banggakan Cole dengan KKRnya pada saat yang sama sangat melecehkan pribadi Kristus. Demikian pula apa betul setiap orang yang menyamakan dirinya dengan Kristus otomatis jadi pria sejati? Anehnya Tuhan Yesus justru malah mengingatkan agar kita hati-hati dengan orang yang menyamakan dirinya dengan Dia.
Matius 24:23, “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.”
Matius 24:26, “Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya.”
Ini adalah peringatan terhadap mesias-mesias palsu. Mereka adalah orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan Kristus. Jika Cole benar bahwa setiap pria yang mengidentifikasikan diri mereka dengan Yesus otomatis jadi pria sejati, maka David Koresh adalah pria yang paling sejati, sebab ia menganggap dirinya adalah jelmaan Yesus Kristus.

Pada kesempatan yang lain Cole percaya bahwa kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Ia mengatakan:

“Itu sebabnya Yesus harus mati untuk menebus dosa-dosa kita, karena kita tidak mungkin menyucikan diri kita sendiri.”(38)

“Untuk menggenapi kehendak Allah, Kristus rela menanggung dosa seluruh dunia di Bukit Kalvari…Dia memikul tanggung jawab atas perbuatan orang-orang yang paling cemar dan tercela, menanggung kesalahan dan aib mereka, dan menanggung hukuman yang seharusnya menimpa mereka, padahal Dia sama sekali tidak berdosa dan tidak bersalah.”(39)

Namun, siapa Yesus yang mati menebus dosa kita ini? Seperti yang telah saya katakan diatas, Cole tidak mau terikat kepada doktrin dan pengakuan iman, maka Yesus yang Cole tuliskan dalam bukunya ini jelas bukan pribadi kedua Allah Tritunggal. Buktinya apa?

Pertama, Cole berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah ciptaan.
“Para pria tersebut tiba-tiba menyadari bahwa menjadi pria sejati artinya adalah menjadi seperti Yesus, satu-satunya Pria yang pernah hidup tepat sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah dalam menciptakan diri-Nya.”(40)
“Yesus datang ke dunia sebagai perwujudan gambar Allah. Dia mengetahui dalam citra Siapa diri-Nya diciptakan, serta Siapa yang diwakili-Nya di bumi ini.”(41)

Kedua, betulkah Yesus yang dikatakan Cole tidak berdosa? Kalau memang demikian, mengapa Yesus perlu mengalami kelahiran baru? Perhatikan apa yang ia katakan tentang Yesus:
“Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan cara manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus.”(42)
Bukan saja Tuhan Yesus perlu dilahir-barukan, Yesus Kristus juga perlu pengampunan. Ini yang dikatakan Cole:
“Ini adalah bagian yang maksimal dari kepriaan anda. Memberi dan menerima pengampunan adalah tindakan yang menyerupai Kristus.”(43)
Pertanyaan saya kepada Cole, kapan Tuhan Yesus menerima pengampunan? Prinsip ini secara tidak langsung mengatakan bahwa Yesus bisa berdosa/ bersalah dan membutuhkan pengampunan. Ajaran dari mana yang menyatakan Kristus seperti ini?
Meskipun Cole berbicara panjang lebar tentang pribadi Yesus, Kristologi Cole memiliki kesalahan yang sangat fundamental bahkan menyesatkan. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan, Ia adalah Allah yang sama kekal, sama kuasa dengan Allah Bapa. Ia adalah pencipta bukan ciptaan seperti yang dikatakan Cole.
Kolose 1:16, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ibrani 1:2, “maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
Yohanes 1:3, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Alkitab juga tidak pernah mengajarkan bahwa Yesus harus mengalami kelahiran baru seperti kita. Justru sebaliknya, Yesuslah yang mengajarkan doktrin kelahiran baru (Yoh 3). Bila Yesus harus mengalami kelahiran baru seperti kita, maka Yesus versi Cole adalah Yesus yang bisa berdosa dan ini bukan Yesus yang kita kenal. Inilah konsekwensinya bila Cole berpendapat bahwa doktrin dan pengakuan iman yang selama ini dipegang gereja sepanjang jaman dianggap terlalu kaku. Dalam hal ini tidak berlebihan apa yang Cole ajarkan tentang Kristus dalam bukunya ini mirip dengan ajaran Saksi Jehovah. Saksi Jehovah mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan dan mengalami kelahiran baru (menjadi allah) saat Ia dibaptis. Apa bedanya?

 

TRITUNGGAL YANG ANEH

Cole berbicara tentang doktrin Tritunggal walaupun hanya singkat. Namun seperti biasanya, ketika berbicara tentang doktrin, ajaran Cole patut dipertanyakan.

“Para teolog menjelaskan tentang kedudukan Allah, Anak dan Roh Kudus dalam Tritunggal Allah, sebagai berikut: Anak = Visioner (pemegang visi), Roh Kudus = Administrator (pengelola), Bapa = Penguasa.”(44)
Pertama, siapa yang dimaksud oleh Cole dengan ‘para teolog’ dalam statement ini? Sebagai penulis ketika ia mengutip perkataan seseorang ia harus menuliskan sumbernya dengan jelas. Ini adalah suatu pertanggung jawaban akademis. Apa yang Cole maksudkan dengan Anak=visioner? Roh Kudus = Administrator dan Bapa = penguasa? Ia sama sekali tidak  memberikan penjelasan apa-apa. Lagipula sejauh saya mempelajari Tritunggal tidak ada teolog siapapun yang mengajarkan Tritunggal seperti ini selain Cole. Dimana ayat-ayat yang mengajarkan doktrin Tritunggal seperti ini? Jangan-jangan ini karangan Cole sendiri.

Pembahasan tentang Tritunggal adalah sesuatu yang rumit yang tidak mungkin bisa dijelaskan secara tuntas dalam makalah ini. Secara umum, para teolog Reformed dan bapak-bapak gereja membagi Allah Tritunggal menjadi 2 pemikiran: Immanent Trinity (ad intra), yaitu relasi diantara masing-masing pribadi Tritunggal terlepas dari dunia ciptaan. Yang kedua adalah Economic Trinty (ad extra) yaitu apa yang Allah Tritunggal kerjakan dalam dunia ciptaan-Nya (penciptaan, keselamatan, wahyu, dsb). Dari semua pemikiran Allah Tritunggal dalam sepanjang sejarah gereja tidak ada satupun yang berpikiran seperti Cole. Bandingkan dengan pemikiran Gregory of Nyssa yang mewakili pandangan gereja secara umum:

“Gregory of Nyssa ’s parsing still makes good sense: “Every operation which extends from God to the creation . . .has its origin from the Father, proceeds through the Son, and is perfected in the Holy Spirit”.(45)

(Kalimat Gregory dari Nyssa masih masuk akal : setiap hal yang dikerjakan Allah dalam kaitannya dengan penciptaan … memiliki asal dari Bapa, diteruskan melalui Anak dan disempurnakan dalam Roh Kudus.)

Ini juga menunjukkan bahwa Cole tidak memahami doktrin yang begitu penting ini dengan komprehensif.

 

DOSA & PENGAMPUNAN VERSI ED COLE

Cole banyak berbicara tentang dosa dan pengampunan dalam buku Kesempurnaan Seorang Pria. Mari kita kaji apa yang ia ajarkan tentang dosa dan pengampunan. Hal pertama yang cukup mengejutkan kita adalah Cole tidak percaya dosa asal/ turunan (original sin). Ini tulisannya:
“Dosa tidak memiliki sifat turun-temurun.”(46)
Suatu kalimat yang singkat tetapi sangat menyesatkan & berbahaya. Sepanjang sejarah gereja, gereja yang ortodoks semua percaya bahwa dosa Adam diwariskan / diturunkan kepada setiap manusia yang pernah lahir kedalam dunia ini. Hanya bidat seperti Pelagianisme yang mengajarkan bahwa manusia dilahirkan tanpa dosa asal, manusia baik dan suci pada dasarnya. Bidat lainnya bagi saya adalah Cole sendiri.
Pengakuan iman Westminster yang juga adalah salah satu pengakuan iman resmi gereja-gereja Reformed mengatakan hal yang sebaliknya dari Cole. Pada bab 6 tentang kejatuhan
manusia dalam dosa dikatakan :

“They being the root of all mankind, the guilt of this sin was imputed, and the same death in sin and corrupted nature conveyed to all their posterity, descending from them by ordinary generation.”(47)
(Mereka/ Adam & Hawa adalah nenek moyang semua manusia, dosa ini ditularkan, dan kematian dalam dosa serta nature yang tercemar dosa di teruskan kepada keturunan mereka, ditularkan dari mereka melalui kelahiran).
Alkitab dengan tegas mengatakan dalam Mazmur 51:5 bahwa sejak dalam kandungan kita sudah berdosa dan mewarisi dosa. “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Demikian pula Paulus dalam Roma 5:12 berbicara dengan jelas bahwa dosa Adam itu diwariskan kepada setiap manusia.
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”
Alkitab berkata bahwa hanya Tuhan Yesus yang tidak tercemar dosa asal ini. Jika Cole menolak doktrin original sin, bagaimana ia menjelaskan sifat dosa yang ada dalam diri manusia? Dan untuk apa Tuhan Yesus mengharuskan kita dilahir-barukan kembali untuk masuk kerajaan surga? Yang lebih serius, untuk apa Tuhan Yesus mati menebus dosa manusia?
Pemahaman Cole tentang pengampunan dosa juga patut dipertanyakan secara exegesis. Ia mendefinisikan pengampunan dengan pemikiran yang non-Alkitabiah:
“Bila anda tidak memaafkan dosa yang sudah diperbuat oleh seseorang terhadap anda, sesungguhnya anda sedang menanggung dosa tersebut; menahannya. Akibatnya anda akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama terhadap orang lain.”(48)
Cole mengatakan kalimat seperti ini, tapi tidak memberikan dasar ayatnya. Mengapa? Karena memang tidak ada ajaran seperti ini di dalam Alkitab! Ini adalah doktrin ciptaan Cole sendiri. Ajaran ini sama sekali tidak mendorong orang untuk mengampuni, malahan bisa menjadikan si korban yang menanggung dosa pelaku. Untuk memahami logika berpikir Cole, perhatikan contoh kasus sederhana ini. Misalnya : Amir mencuri uang Agus, tetapi Agus
(korban) tidak mau memaafkan Amir (pelaku). Menurut Cole yang menanggung dosa pencurian bukan Amir tapi Agus, karena Agus tidak mau memaafkan Amir. Jadi ujung-ujungnya Agus (korban) benar-benar kasihan hidupnya. Ia sudah kehilangan uang, berdosa karena tidak mau mengampuni dan ditambah lagi menanggung dosanya Amir, karena ia tidak mau mengampuni. Anda bingung? (kalau anda bingung berarti anda normal). Dan lebih anehnya lagi, karena Agus tidak mau memaafkan Amir, ia akan tertular jadi pencuri seperti orang yang tidak mau ia ampuni (Amir). Sungguh ajaran yang anehnya luar biasa!
Alkitab dalam terang teologi Reformed mengajarkan hanya ada tiga imputation (pelimpahan). Imputation Pertama adalah dosa Adam kepada keturunannya. Imputation kedua adalah dosa kita ditanggung Yesus Kristus dan imputation ketiga adalah kebenaran Kristus diberikan kepada kita yang percaya kepada Dia (justification by faith). Tidak ada ajaran dalam Alkitab tentang dosa dan pengampunan seperti yang Cole ajarkan dalam bukunya ini. Cole benar-benar mendapat ‘wahyu’ baru.

 

SIAPAKAH MANUSIA ?

Dalam bukunya Menjadi Pria Sejati, Cole menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan keserupaan moral Allah. Menurut Cole, Allah memperlengkapi kita dengan lima kemampuan yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus. Untuk lebih lengkapnya, ia menuliskan demikian:

“Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar dan keserupaan moral-Nya, Dia memperlengkapi kita dengan lima kemampuan yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus. Dengan demikian Allah telah mencurahkan sebagian keunggulan sorga ke bumi ini. Kelima kemampuan itu adalah:
(1). Kemampuan untuk mengetahui kebenaran

(2). Kemampuan untuk mengenali keutamaan moral

(3). Kekuatan untuk melakukan kehendak kita

(4). Daya cipta melalui perkataan kita

(5). Hak dan kemampuan untuk berkembang biak.”(49)

Sepintas lalu tidak ada yang salah dengan kalimat ini. Namun perhatikan baik-baik poin yang ke-4. Cole mengajarkan bahwa manusia diberi kemampuan untuk mencipta melalui perkataannya. Kapan Allah memberikan kemampuan ini kepada manusia? Di mana ajaran Alkitab yang mengatakan demikian? Manusia memang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi Allah tidak pernah memberikan kemampuan mencipta melalui perkataan.

Dalam seluruh Alkitab hanya Allah sendiri yang mencipta melalui kuasa firman (perkataan), lihat kejadian pasal 1. Bahkan ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak memakai perkataan-Nya melainkan ia memakai debu tanah. Demikian juga ketika Allah menciptakan Hawa, Ia memakai media tulang. Yang terjadi dalam taman Eden adalah Allah memerintahkan manusia untuk bekerja dan mengelola taman tersebut (Kej 2:15). Manusia harus bekerja untuk mencipta bukan berfirman untuk mencipta! Cole dalam poin ini ingin menyamakan kemampuan manusia dengan Allah, sesuatu dosa yang dilakukan Adam dan Hawa dan sekaligus dosa yang dibenci Allah. Dalam Mazmur 8, Daud hanya mengatakan bahwa manusia itu diciptakan mirip dengan Allah, inilah artinya peta dan teladan Allah. Daud tetap menyadari perbedaan antara ciptaaan (dirinya) dengan pencipta (Allah). Bahkan selama Tuhan Yesus berinkarnasi dalam daging, Ia tidak pernah memakai kuasa kata-kataNya untuk menciptakan sesuatu secara Ex-Nihilo (dari tidak ada menjadi ada).
Tidak berhenti dengan pemikiran di atas, Cole kembali menjunjung status manusia secara berlebihan yang tidak diajarkan dalam Alkitab.

“Anda harus dapat menjadi wahyu Allah yang dinyatakan bagi orang-orang tersebut. Sebagaimana dahulu Yesus menjadi wahyu Allah yang dinyatakan di atas bumi, demikian pula kaum pria harus berdiri mewakili Kristus dan menjadi wahyu Allah bagi sesamanya.”(50)
Sepertinya kalimat yang indah, namun salahnya luar biasa. Sejak manusia pertama diciptakan di taman Eden hingga dicipta ulang dalam Kristus Yesus, Alkitab tidak pernah menjadikan manusia sebagai wahyu Allah. Manusia bukan wahyu Allah, manusia justru membutuhkan wahyu Allah baik secara umum (ciptaan,alam semesta, dll) maupun wahyu secara khusus (Alkitab dan Tuhan Yesus). Melalui wahyu inilah manusia mengenal Allah. Terlebih lagi Alkitab tidak pernah memerintahkan kita menjadi wakil Tuhan Yesus sebagai wahyu Allah di bumi. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa menjadi wakil Yesus Kristus yang tidak berdosa?
Perhatikan apa yang dikatakan seorang teolog Reformed Cornelius Van Til tentang relasi manusia dan wahyu Allah: “ All of God’s revelation to man is law to man (semua wahyu Allah kepada manusia adalah hukum bagi manusia).(51) Jika wahyu Allah menjadi hukum bagi manusia, bagaimanakah manusia menjadi wahyu itu sendiri? Itu sesuatu yang tidak masuk akal.

Yang benar adalah Kristus datang ke dunia justru menjadi wakil umat pilihan Allah, bukan sebaliknya. Ia tidak perlu diwakilkan siapa-siapa. Siapakah kaum pria sehingga berhak dan layak mewakili Yesus? Jika Kristus perlu diwakilkan manusia, berarti Yesus Kristus tidak sempurna, tidak maha kuasa, tidak berotoritas dan ini berarti manusia lebih hebat dari Kristus. Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan Ia perlu diwakilkan sebagai wahyu Allah. Tuhan Yesus hanya mengatakan “kamu akan menjadi saksiKu” (Kis 1:8), “kamu adalah terang dunia”, “kamu adalah garam dunia” (Mat 5:12-13). Ini menunjukkan sekali lagi pemikiran Cole yang tidak utuh tentang kebenaran Firman Allah mengenai siapa manusia itu.

Masih belum puas dengan kedua hal diatas, kembali Cole mengatakan bahwa melalui kelahiran baru, manusia akan memiliki sifat/ kodrat ilahi. Ini suatu hal yang tidak pernah Alkitab ajarkan. Manusia memang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya tetapi Allah tidak pernah menjadikan manusia memiliki sifat ilahi pada dirinya.

“Manusia terlahir dari daging dan tidak memiliki kodrat ilahi melalui kelahiran alami. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3:3). Dia mengajarkan bahwa Allah adalah Roh, dan oleh karena itu untuk dapat menerima kodrat Allah, kita harus dilahirkan dari Roh-Nya sebagaimana kita dilahirkan dari daging. Ketika Roh Kristus masuk ke dalam kehidupan seorang manusia, terjadilah suatu “kelahiran”, karena dengan cara itu manusia dibuat hidup di dalam Roh.”(52)

Mungkin Alkitabnya Cole berbeda dengan Alkitab kita. Oleh karena dalam Yohanes 3 ketika Tuhan Yesus berbicara dengan Nicodemus, Tuhan Yesus tidak berbicara manusia akan menerima kodrat/ sifat ilahi kalau ia dilahir-barukan, melainkan manusia harus dilahir-barukan supaya ia dapat masuk kerajaan Allah. Ini perkataan Alkitab yang sebenarnya:
Yohanes 3:5, Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan:
Yohanes 3:5, Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak memperoleh kodrat/sifat ilahi.”
Ini dua kalimat yang sama sekali berbeda artinya. Cole tidak memahami arti lahir baru yang sebenarnya. Kelahiran baru tidak pernah merubah hakekat manusia menjadi/ memiliki sifat ilahi. Jadi apa yang dimaksudkan dengan kelahiran baru itu ? Teologi Reformed memahami kelahiran baru sebagai karya Roh Kudus, di mana Ia menanamkan benih kehidupan rohani yang baru dalam kehendak, ratio, dan emosi manusia, sehingga ia dihidupkan secara rohani. Louis Berkhof mendefinisikannya sebagai berikut:

“Regeneration is that act of God by which the principle of the new life is implanted in man, and the governing disposition of the soul is made holy.” (53)

(Kelahiran baru adalah tindakan Allah dimana prinsip hidup baru ditanamkan pada manusia, dan kecenderungan hati manusia dijadikan kudus).
Pada buku yang sama, Berkhof menegaskan kembali apa yang saya katakan bahwa kelahiran baru tidak merubah hakekat manusia: “regeneration is not a change in the substance of  human nature (Kelahiran baru bukanlah perubahan substansi/hakekat natur manusia).(54) Dengan mengganti-ganti ayat semau dirinya, Cole tidak sadar sudah mengajarkan kesesatan baru dalam ajarannya.
Lalu apa maksud Petrus dalam 2 Pet 1:4 ketika ia mengatakan “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”?(55) Kata “mengambil bagian” (NIV: participate) dalam bahasa Yunaninya adalah koinwnoi (koinonoi) yang bisa diartikan partner, companion, sharer. Apa yang Petrus katakan dalam suratnya ini sama sekali tidak mengajarkan bahwa manusia setelah percaya memiliki sifat ilahi pada dirinya (deification). Konteks ayat ini berbicara bahwa manusia yang berdosa telah dipanggil oleh kuasa-Nya yang mulia dan dan ajaib (ay 3) serta diberikan janji yang berharga dan sangat besar (ay 4). Semuanya itulah yang memungkinkan orang berdosa bersekutu (koinonoi) dengan Allah dalam kebenaran dan kekudusan dan pengenalan yang benar. Inilah yang Petrus maksudkan ketika ia berbicara “kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Sesuatu yang dulunya kita tidak miliki sekarang kita peroleh melalui Kristus. Tidak ada indikasi apapun dalam ayat ini Petrus mengajarkan perubahan hakekat manusia sehingga memiliki sifat ilahi, seperti yang Cole ajarkan. Richard Bauckham misalnya, hanya menafsirkan ayat ini: “To share in divine nature is to become immortal and incorruptible.”(56) (berbagian dalam sifat ilahi adalah menjadi immortal dan incorruptible). Sedangkan Kevin VanHoozer menafsirkan ayat ini lebih menekankan kepada persekutuan dengan Allah Tritunggal dalam konteks Covenant (perjanjian):
“The focus is on the communicative union – fellowship, not fusion – brought into being by triune dialogical action oriented to covenantal relation.”(57)
(Fokusnya adalah persatuan komunikasi – suatu persekutuan, bukan peleburan – yang diberikan kepada manusia oleh Allah Tritunggal dalam suatu relasi perjanjian).
Teologi Reformed sangat menekankan perbedaan yang hakiki antara pencipta dan ciptaan. Maka harus kita tegaskan sekali lagi bahwa dalam seluruh Alkitab tidak pernah ada ajaran mengilahkan manusia (deification). Ini bukan ajaran iman Kristen. Let God be God, let man be man!


DOA DAN KETAATAN : SINERGI ATAU OPOSISI ?

Cole dalam tulisannya mempertentangkan doa dan ketaatan. Hal ini nampak dari kalimat berikut ini:

Satu ton doa tidak akan pernah menghasilkan satu ons keinginan untuk hidup taat. Setelah anda mengucapkan semua doa anda, bila anda tidak taat, anda sedang menyangkal doa-doa anda itu. Percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman.”(58)
Ini ajaran yang cukup menyesatkan, sebab dalam Alkitab doa dan ketaatan bukan untuk dipertentangkan. Bagaimana Cole begitu yakin bahwa “satu ton” doa tidak akan menghasilkan ketaatan? Bagaimana seseorang bisa taat kalau ia tidak berdoa? Suatu ajaran yang konyol dengan mengatakan bahwa doa tidak akan menghasilkan ketaatan. Cole dalam statement ini sangat meremehkan kekuatan doa dan ia tidak mengerti untuk apa kita berdoa. Kita berdoa justru menyerahkan kehendak kita di dalam ketaatan kepada Allah. Tuhan Yesus sudah membuktikan keduanya tidak bisa dipisahkan. Oleh karena Tuhan Yesus berdoa, Ia mendapatkan kekuatan berjalan ke kalvari (Mat 26:42). Hana berdoa meminta seorang anak kepada Allah dan ia berjanji untuk mempersembahkan anak itu kembali kepada Allah (1 Sam ). Hana berdoa dan dalam doanya menghasilkan ketaatan. Dalam kitab Ezra 9, nabi Ezra berdoa bagi bangsa Israel dan diikuti dengan suatu pertobatan dan ketaatan. Terlalu banyak ayat dalam Alkitab yang menghubungkan doa dan ketaatan. Ajaran Cole tidak Alkitabiah dan Cole perlu lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab agar lebih memahami tentang relasi doa dan ketaatan.

HERMENEUTICS YANG PERLU DIPERTANYAKAN

Cole dalam buku-bukunya sering memakai cerita-cerita Alkitab dan mencuplik ayat-ayat, tetapi cara ia menafsirkan tidak menunjukkan bahwa ia seorang yang mengerti hermeneutics yang bertanggung jawab.
1. Cole melakukan penafsiran yang allegory.

Tafsiran dengan cara allegory adalah tafsiran yang tidak berdasarkan konteks history maupun exegesis yang baik, melainkan lebih didasarkan kepada subyektifitas penafsirnya. Sehingga hasilnya adalah ayat dicocok-cocokan dengan kemauan Cole sendiri.

Dalam bukunya Kesempurnaan Seorang Pria bab 1, Cole berbicara tentang Tanah Perjanjian (the promise land) yang Allah hendak berikan kepada bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir. Tiba-tiba ia berpindah topik bahwa tanah kanaan ini adalah tanah kanaan rohani bagi kaum pria.
“Sekarang, di sini, izinkanlah saya menjelaskan kepada anda arti dari Tanah Kanaan, dan bagaimana menerapkannya di dalam kehidupan anda.”(59)
“Saya ingin anda mengerti bahwa Kanaan adalah Tanah Perjanjian, tempat di mana Allah menginginkan anda hidup dengan iman saat ini. Di tempat itu, Allah akan menggenapi janji-janji-Nya atas kehidupan anda. Di sana, anda dapat meraih potensi maksimal anda.”(60)
“Allah menginginkan agar kita memiliki Tanah Kanaan di dalam pernikahan, usaha, hubungan orang tua dan pendidikan kita.”(61)
Tafsiran seperti ini adalah tafsiran yang salah dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Musa sebagai penulis kitab Keluaran ini sama sekali tidak bermaksud untuk memakai tanah Kanaan sebagai hal rohani, apalagi untuk pernikahan, usaha, dll. Tanah Kanaan di sini adalah jelas bersifat jasmani dan teritorial bukan rohani. Cole lupa bahwa justru di tanah Kanaan-lah bangsa Israel melakukan kawin campur, menyembah berhala, dsb. Apakah ini potensi maksimal yang ia maksudkan di tanah Kanaan? Tafsiran allegory ini memang populer di abad mula-mula seperti yang dilakukan oleh Clement & Origen (Alexandria), Agustinus dalam beberapa tafsirannya dan beberapa teolog pada masa medieval ages (abad pertengahan). Tetapi cara penafsiran seperti ini sudah ditinggalkan sejak reformasi karena dianggap tidak bertanggung jawab.

2. Cole tidak bisa membedakan arti rohani dan jasmani.

Masih mirip dengan kesalahan diatas, Cole kembali menunjukkan kekonyolan dengan tafsirannya tentang terminology ‘hati’ (Inggris: heart). Dalam bab 17 buku Kesempurnaan Seorang Pria, nampak Cole bingung / rancu dengan tafsirannya sendiri.

Cerita diawali dengan gadis berumur 8 tahun yang menerima transplantasi jantung (Inggris:heart) dari seorang anak gadis berumur 10 tahun yang mati karena diperkosa dan dibunuh. Anak penerima jantung ini diceritakan sering mimpi hal–hal yang dialami pedonor. Singkatnya, melalui mimpi-mimpi ini akhirnya si pembunuh tertangkap. Anehnya, dengan cerita ini Cole mau menunjukkan bahwa hati manusia itu yang terpenting dalam diri manusia. Ia banyak mengutip ayat-ayat Alkitab, misalnya:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Jelas di sini yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan kata ‘hati’ sama sekali bukan jantung seperti yang Cole ceritakan di atas. Keduanya sama sekali tidak ada hubungan. Dalam cerita di atas jantung (heart) bersifat jasmani sedangkan hati (heart) di sini bersifat non-jasmani. Bagaimana seorang “nabi” tidak bisa membedakan hal demikian sederhana? Ini suatu analogi dan cara penafsiran yang menunjukkan bahwa Cole tidak memahami hermeneutic dengan baik.
3. Cole menyetujui tafsiran yang salah.

Kembali ke buku Menjadi Pria Sejati, Cole dalam tulisannya menyetujui tafsiran yang salah.

“Beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa Adam diusir dari Taman Eden bukan karena ia berbuat dosa, melainkan karena ia menolak bertanggung jawab atas perbuatannya.”(62)
Siapa yang Cole maksudkan dengan ‘beberapa ahli Alkitab’ di sini? Tetapi pointnya adalah Cole menyetujui penafsiran ini. Apakah jika Adam mau bertanggung jawab ia tidak akan dihukum? Pertanyaan yang lebih serius, apakah mungkin Adam dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya? Jelas ini tafsiran yang tidak bertanggung jawab. Adam diusir karena ia sudah berdosa bukan karena ia tidak mau bertanggung jawab. Dengan menyetujui tafsiran seperti ini Cole sudah meremehkan makna dosa yang sebenarnya.
4. Tafsiran yang dipaksakan menurut subyektifitasnya.

Berulang kali dalam buku-bukunya Cole mengatakan bahwa “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.”(63) Motto ini kelihatannya baik, tapi secara exegesis tidak dapat dipertanggung jawabkan. “Manhood and Christ likeness are synonymous” (keserupaan dengan Yesus dan ke-priaan adalah sama). Mari kita lihat prinsip keserupaan dengan Kristus yang dicatat di dalam Alkitab.
2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”
Filipi 3:10, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”
Filipi 3:21, “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.”
Dari kemunculan ayat-ayat yang berbicara tentang Christlikeness, semuanya sama sekali tidak berbicara khusus untuk pria (manhood), melainkan ayat-ayat ini ditujukan untuk siapapun yang ada dalam Kristus sebagai ciptaan yang baru. Jika Christlikeness hanya ditujukan untuk kaum pria hanya karena Kristus adalah pria, maka bagaimana dengan kaum wanita? Mereka tidak mempunyai figure teladan. Memang Yesus dilahirkan sebagai laki-laki, tetapi Ia tidak secara khusus hanya menjadi teladan bagi laki-laki saja. Ini tafsiran yang dipaksakan dan tidak alkitabiah. Kristus berinkarnasi menjadi pria bukan secara khusus supaya jadi teladan bagi kaum pria. Tetapi, lebih kepada budaya bangsa Yahudi yang patriakat dan kepentingan secara jasmani di mana Ia harus menerima siksaan yang demikian hebat. Semua yang ada dalam diri Yesus (watak, teladan, cara berpikir, ketaatan, dsb), haruslah diteladani oleh semua orang percaya, bukan hanya khusus kaum pria.
5. Cole tidak bisa membedakan tanda (sign) dan substansi

Ini tampak dalam tafsiran Cole tentang figure Abraham sebagai seorang ayah. Ia ingin menunjukkan bahwa ayah yang sejati haruslah melakukan beberapa hal seperti Abraham.

“Pertama, sunatkan anak laki-lakimu. Dalam perjanjian baru pekerjaan penyunatan anak laki ini (secara rohani) sama dengan memastikan bahwa anak-anak anda adalah orang-orang Kristen sejati yang lahir dari Roh Allah.”(64)

Mungkin anda bertanya apa yang salah dengan pengajaran ini? Banyak!
Pertama, perintah sunat sudah digantikan dengan baptisan, pasca masa Tuhan Yesus.
Mengapa Cole justru mengalami kemunduran dengan mengajarkan sunat bukan baptisan kepada pembacanya?

Kedua, tidak ada penyunatan secara rohani dalam masa PB. Semua anak laki-laki dalam PB disunat secara jasmani sebagai perintah Allah melalui Taurat. Bahkan Tuhan Yesus juga disunat secara jasmani. Apa yang Cole maksudkan dengan sunat secara rohani di sini?

Ketiga, yang paling fatal Cole menyamakan kalau anak sudah disunat berarti anak sudah lahir baru. Cole tidak bisa membedakan tanda (sign) dengan substansi. Sunat itu hanya tanda perjanjian Allah dengan Israel. Tanda perjanjian secara fisik (sunat) tidak menjamin seseorang sudah dilahir-barukan. Baik sunat maupun baptisan bukan jaminan seseorang sudah dilahirbarukan. Semua bangsa Israel secara jasmani pasti disunat sebagai tanda, tetapi Allah tetap menolak mereka. Jelas dari statement ini Cole tidak memahami arti sunat/ baptisan dan kelahiran baru dengan benar.
6. Cole sengaja menafsirkan di luar konteks ayat Alkitab

Dalam bukunya Kesempurnaan Seorang Pria bab 19, Cole berbicara tentang peran seorang ayah. Salah satu topik yang ia bahas adalah relasi ayah tiri dengan anak tirinya. Anehnya, Cole mendasarkan pengajarannya dari ayat yang sama sekali tidak berbicara tentang ayah dan anak tiri. Ia mengatakan demikian:
“Prinsip yang diberikan Yesus sangat penting bagi para ayah tiri dan anak-anak tirinya. “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”(65)
Perhatikan bahwa dalam Lukas 16:12 ini Tuhan Yesus sama sekali tidak berbicara tentang ayah dan anak tiri. Tuhan Yesus berbicara mengenai tanggung jawab kita terhadap uang / mammon. Saya katakan ini kesengajaan, sebab konteksnya sudah jelas bahwa Tuhan Yesus tidak berbicara tentang ayah dan anak tiri. Yang mengherankan, kenapa Cole tidak memakai ayat Efesus 6:1-4 saja, sebab ayat ini sudah jelas berbicara tentang relasi orang tua dan anak terlepas anak tiri atau bukan. Ini menunjukkan berulang kali, bahwa Cole tidak memahami prinsip-prinsip penafsiran yang bertanggung jawab. Ataukah mungkin karena ia merasa diri seorang ‘nabi’ maka ia boleh menafsirkan Alkitab sesuka hatinya?
7. Cole mendasarkan pengajaran dari ayat yang tidak jelas.

Cole bukan hanya berbicara tentang manusia saja, dalam suatu pembahasannya ia menyinggung tentang malaikat.

“Anak-anak membutuhkan seorang ayah, bukan malaikat pelindung. Anak-anak sudah diperlengkapi dengan malaikat pelindung sebagai suatu standard keistimewaan.”(66)
Cole memiliki kebiasaan mengajar sesuatu tanpa memberikan dasar ayat yang jelas dari Alkitab. Ajaran tentang malaikat pelindung (guardian angel) nampaknya Alkitabiah. Siapa yang tidak suka punya pengawal (bodyguard), apalagi seorang malaikat. Alkitab menyatakan bahwa malaikat memiliki banyak tugas yang berhubungan dengan manusia, tapi di mana ada ayat yang mengajarkan bahwa setiap orang memiliki guardian angel? Harap anda pahami bahwa ajaran ini berasal dari pemikiran agama kafir (gentile) yang kemudian diadopsi oleh gereja Roma Katolik. Mereka mendasarkan ajaran ini kepada penyembahan terhadap malaikat tertentu yang akan menjadi pelindung mereka. Francis Turretin, seorang teolog Reformed dalam bukunya Institute of Elenctic Theology dengan jelas memberikan argumennya bahwa ajaran ini tidak Alkitabiah:
“Still we deny that it can rightly be gathered from this that a guardian and tutelary angel is assigned to each believer (Kita tetap menyangkal bahwa tidak dapat dibenarkan ada malaikat pelindung yang ditugaskan kepada setiap orang percaya) (67)
Alkitab justru menunjukkan fakta yang unik mengenai relasi antara malaikat dan manusia. Kadang satu malaikat melindungi banyak orang (Yes 37:36), sebaliknya banyak malaikat diutus untuk menyertai satu orang (Maz 91:11, Kej 32:1-2). Ayat yang sering dijadikan dasar doktrin malaikat pelindung ini adalah Mat 18:10:

“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.”

“See that you do not look down on one of these little ones. For I tell you that their angels in heaven always see the face of my Father in heaven” (NIV).
Bagaimana ayat ini harus dimengerti? Hal pertama yang harus diketahui adalah bahwa ayat ini tidak memiliki kekuatan yang jelas untuk mendasarkan bahwa setiap manusia memiliki malaikat pelindung. Perhatikan penuturan Thomas Constable dalam tafsirannya.
“Many interpreters believe that the last part of verse 10 teaches that God has guardian angels who take special care of small children. However the context of verse 10 is not talking about small children but disciples who need to be as humble as small children. Furthermore the angels in this passage are continually beholding God’s face in heaven, not watching the movements of small children on earth… Are there guardian angels for children? I like to think there are because of God’s concern for children (e.g., 19:14-15), but I cannot point to a verse that teaches this explicitly.(68)
(Banyak penafsir yang percaya bahwa bagian terakhir dari ayat 10 mengajarkan bahwa Allah memiliki malaikat pelindung yang akan menjaga anak-anak kecil. Tetapi konteks dari ayat 10 ini tidak berbicara tentang anak kecil, melainkan tentang para murid yang harus merendahkan diri seperti anak kecil. Lagipula, malaikat-malaikat dalam ayat ini selalu memandang wajah Bapa di surga, bukan mengawasi anak-anak kecil di bumi…apakah ada malaikat pelindung bagi anak-anak? Saya hendak mengatakan demikian karena Allah memperhatikan anak-anak kecil (19:14-5), tetapi saya tidak menemukan ayat yang mengajarkan hal ini dengan jelas.”
Hal yang sama juga dikatakan oleh Charles Hodge: “Whether each individual believer has a guardian angel is not declared with any clearness in the Bible (Apakah setiap orang percaya memiliki malaikat penjaga tidak dikatakan dengan jelas dalam Alkitab).(69) Kevin Vanhoozer, Blanchard Professor of Theology di Wheaton College Graduate School (IL), juga menyatakan keberatannya dengan doktrin ini:

“At the other extreme lie the dangers of anthropomorphism (e.g., guardian angels for every individual) and of an unhealthy interest in something about which Scripture is largely silent.”(70)
(Pada sisi ekstrim lainnya ada bahaya dari anthropomorphism (misalnya, malaikat pelindung bagi setiap orang percaya) dan ketertarikan yang tidak sehat kepada sesuatu yang Alkitab sendiri tidak menyatakannya).

Bila para teolog, professor dan penafsir yang lebih berbobot dan akademis dari Cole saja tidak bisa memastikan pengajaran ini, bahkan menolak adanya malaikat pelindung, bagaimana Cole bisa begitu yakin menafsirkan ayat ini dengan benar dan tepat? Cole dalam penjelasannya tidak memberikan argumentasi dan eksegese apa-apa tentang ayat ini.

 

TEOLOGI KEMAKMURAN DAN PERPULUHAN

Selain berbicara tentang semua tema di atas, Cole juga berbicara tentang masalah uang, khususnya tentang persembahan dan perpuluhan.

“Apabila kita memberi, terutama bila kita memberi di luar persepuluhan, kita akan mengalami secara nyata hukum menabur dan menuai. Apabila anda memberi persepuluhan, Allah berjanji akan menyelamatkan anda dari kehancuran yang direncanakan oleh belalang pelahap terhadap anda (Maleakhi 3:11).”(71)
Sekali lagi Cole menafsirkan ayat ini dengan begitu meyakinkan, tetapi salah. Jelas Maleakhi 3:11 di sini berbicara tentang binatang belalang sungguhan. Allah menghalau belalang tersebut agar tidak merusak panen bangsa Israel, sehingga bangsa Israel bisa memberikan perpuluhan kepada Allah. Cole meng-allegori-kan belalang di sini, namun tidak menjelaskan kepada kita apa yang ia maksudkan dengan “belalang pelahap” tersebut. Nampak di sini, motivasi Cole mengajarkan perpuluhan hanya agar kita diberkati (hukum tabur-tuai). Ini nampak dari cerita seorang yang bernama Ruben yang memberikan semua uangnya sebesar 2,20 dolar dan diganti 100 kali lipat.

“Ruben memberikan seluruh uang yang dimilikinya saat itu, yaitu sebesar 2,20 dolar dan menerima balasan seratus kali lipat, masih ditambah dengan suatu pernikahan yang sah, perbaikan hidup bagi anak-anak mereka, kehormatan sebagai seorang pria, iman yang semakin bertumbuh kepada Allah, dan suatu ukuran jati diri pria yang tidak pernah dimiliki sebelumnya.”(72)
Cole ingin menjadikan cerita yang dialami Ruben ini untuk mendorong pembacanya rajin memberikan perpuluhan/ persembahan. Cole lupa bahwa pengalaman tidak bisa dijadikan doktrin. Oleh karena Allah sama sekali tidak mengganti seratus kali lipat seorang janda yang juga memberikan semua uangnya untuk Allah (Markus 12:42-44). Di sini hukum tabur-tuai sama sekali tidak berlaku. Bagaimana Cole menjelaskan hal ini? Tuhan Yesus memang pernah mengatakan kalimat yang menantang dalam Matius 19:29,
“Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

Ini salah satu ayat favorit teologi kemakmuran. Tetapi apakah Petrus, Yohanes dan murid-murid lain mendapatkan rumah mereka diganti 100 kali, ladang mereka diganti 100 kali, istri mereka diganti 100 kali? Justru setelah mereka mengikut Tuhan Yesus, mereka tidak punya rumah dan ladang. Tentu saja Tuhan Yesus di sini bukan sedang mengajar matematika perkalian. Ia memakai gaya bahasa hyperbole yang menunjukkan bahwa meskipun kita mengalami kehilangan karena mengikut Kristus ada pemeliharaan Allah dalam bidang yang lain.
“It is difficult to say whether Jesus had in mind material as well as spiritual blessings, although his statement probably means that God will give spiritual blessings for material sacrifices. For example, someone may be rejected by his or her family for accepting Christ, but he or she will gain the larger family of believers with all the love it has to offer.”(73)
(Sulit untuk mengatakan apakah Yesus sedang bicara tentang berkat materi sebagaimana berkat rohani, meskipun dalam ayat ini kemungkinan besar Yesus (Allah) akan memberikan berkat rohani bagi pengorbanan materi. Contoh: seseorang yang ditolak keluarganya karena percaya pada Kristus, ia akan memperoleh keluarga besar orang percaya dengan semua cinta yang ditawarkan).
Selanjutnya, pada bukunya Menjadi Pria Sejati halaman 267, di sana jelas sekali bahwa Cole adalah seorang pengagum Robert Schuller. Siapakah Robert Schuller ini?(73) Robert Schuller adalah seorang pengkotbah TV yang juga adalah gembala dari Crystal Cathedral di Garden Grove, California. Robert Schuller adalah penganut teologi kemakmuran. Ia adalah murid dari pengajar positive thinking Norman Vincent Peale. Maka tidak mengherankan injil yang diberitakan adalah injil kemakmuran dan positive thinking. Ia menafsirkan Alkitab dalam kacamata teologi kemakmuran dan positif thinking ini. Perhatikan apa yang ia katakan tentang beberapa doktrin dasar dalam sebuah wawancara berikut ini:(75)

Question: What is sin? (Apa itu dosa ?)

Answer: “What do I mean by sin? Any human condition or act that robs God of glory by stripping one of his children of their right to divine dignity – Sin is any act or thought that robs myself or another human being of his or her self-esteem.”

(Apa yang saya maksudkan dengan dosa? Segala kondisi manusia atau tindakan yang merampok kemuliaan Allah dengan melepaskan/ mencopot hak anak-Nya untuk memiliki kemuliaan ilahi – dosa adalah tindakan atau pikiran yang merampas diriku atau orang lain dari harga dirinya).

Halaman 68:

Question: What does it mean to be born again? (Apa artinya dilahir-barukan kembali ?)
Answer: “To be born again means that we must be changed from a negative to a positive self image-from inferiority to self-esteem, from fear to love, from doubt to trust.”
(Dilahir-barukan berarti kita harus berubah dari gambaran diri yang negatif ke positif, dari rendah diri ke harga diri, dari takut kepada kasih, dari ragu-ragu ke percaya).(74)

Bahkan Schuller mendefinisikan pribadi Kristus sebagai berikut: “Christ is the Ideal One, for he was Self-Esteem Incarnate” (Kristus adalah yang Ideal One, karena Ia adalah harga diri yang berinkarnasi). Ini semua bukan ajaran Alkitab! Ini adalah Injil yang palsu dan gereja Crystal Cathedral milik Schuller yang dibangga-banggakan Cole sekarang sedang menuju kebangkrutan. Poin yang ingin saya sampaikan dengan penjelasan saya adalah: bagaimana
mungkin bila Cole mengenal kebenaran iman Kristen menyetujui apa yang Schuller ajarkan? Dengan kata lain, hanya orang yang sepaham dengan Schuller yang dapat menyetujui semua apa yang ia ajarkan.

 

KESIMPULAN

Dari semua yang telah dipaparkan dalam bukunya dan melalui analisa dalam makalah ini, beberapa kesimpulan dapat kita ambil:
1. Unorthodox Faith (Iman yang tidak ortodoks)

Banyak pengajaran Cole dalam kedua buku ini tidak dapat dipertanggung jawabkan secara doktrinal. Hampir dapat dipastikan setiap kali Cole berbicara tentang doktrin/ pengajaran
selalu salah bahkan menyesatkan. Cole dengan berani ‘memodifikasi’ doktrin ortodoks dengan pemikirannnya sendiri yang salah & sesat. Dengan kata lain, doktrin yang sudah baku ia tolak dan diganti dengan pengajarannya sendiri/ wahyu yang baru. Anehnya, ia tidak merasa apa yang ditulis ini telah melenceng dari iman yang ortodoks.

“Ketika saya menulis bagian pertama dari buku ini, kuasa Allah hadir dan mempercepat apa yang saya tulis, dan saya merasakan bahwa apa yang ditulis itu begitu baik.”(76)
Cole tidak menyadari bahwa motivasi yang baik saja tidak cukup. Motivasi yang baik harus disertai dan dilandasi dengan pengajaran dan doktrin yang benar. Cole harus ingat bahwa Alkitab bukan hanya berbicara tentang tujuan yang baik, tetapi juga kebenaran yang absolute. Apa yang ia ajarkan dalam gerakan yang dipimpinnya ini memiliki kecacatan teologi yang sangat serius dan parah bahkan kesesatan. Jelas doktrin dasar ajaran/gerakan pria sejati ini
memiliki landasan dan perspektif yang berbeda dengan apa yang kita percayai selama ini.
2. Experience vs Sola Scriptura (Pengalaman lebih penting dari Alkitab)

Meskipun Cole berulang kali menyebutkan dan mengutip Alkitab, tapi jelas dari pemaparannya ia tidak menundukkan diri kepada apa yang Alkitab ajarkan. Penafsiran yang salah dan membabi buta menunjukkan bahwa Cole lebih mementingkan pengalaman dan pemikirannya sendiri daripada apa yang Alkitab ajarkan. Alkitab sepertinya hanya jadi pelengkap saja, bukan landasan dari gerakan ini. Bahkan Cole sering menyelewengkan Alkitab sesuai dengan kemauannya. Ini Nampak dari cara Cole memahami dan menafsirkan Alkitab yang tidak sesuai dengan pemahaman ortodoksi. Ini sesuatu yang berbahaya dan spirit ini yang nampaknya ditularkan dalam gerakan ini, di mana kita seringkali mendengar kalimat “yang penting hasilnya”, “pokoknya dia berubah”, dsb, tanpa mau menganalisa apakah yang terjadi sesuai dengan kebenaran Alkitab atau tidak. Betapapun baiknya suatu visi, bila tidak didasarkan kepada kebenaran Firman Allah yang benar, itu hanya menjadi gerakan humanis semata-mata.
3. Church and the Truth (Gereja dan Kebenaran)

Gereja dipanggil untuk menerangi dunia, memelihara dan meneruskan kebenaran Allah dalam dunia ini. Apa yang menjadi trend dalam suatu jaman belum tentu berasal dari Allah, meskipun kelihatannya baik. Firman Tuhan mengatakan “ujilah segala sesuatu” (1 Tes 5:21). Oleh karenanya dengan semua yang dipaparkan di dalam bukunya dan melalui analisa dan kritik dalam makalah ini, sudah sewajarnya dan seharusnya gereja dengan tegas menolak dan menghentikan gerakan dan ajaran ini.

Gereja yang hanya memfokuskan kepada phenomena akan melupakan noumena dibaliknya yaitu ajarannya. Kebenaran (truth) harus di atas kebaikan (goodness). Kebenaran harus di atas hasil (result). Kita jangan hanya melihat kebaikan dan hasil dari ajaran ini dan melupakan kebenaran Alkitab. Bila kita perhatikan, kesalahan-kesalahan yang ada dalam buku-buku Cole ‘terselip dan tersembunyi’ dengan aman di balik kata-kata yang indah. Jemaat dan hamba Tuhan yang tidak memiliki kepekaan tidak akan melihat kesesatan pengajaran ini.
Apa yang harus gereja lakukan? Melalui pengalaman ini, gereja harus mulai disadarkan bahwa tidak ada jalan lain untuk membendung segala pengajaran yang salah dan sesat selain kembali kepada pengajaran Firman yang sehat dan bertanggung jawab. Ada 3 sarana yang harus dimaksimalkan dalam membekali jemaat dengan kebenaran Firman. Pertama, mimbar yang kuat dan bertanggung jawab. Kedua, kelas pembinaan yang efektif dan terintegrasi. Ketiga, persekutuan komisi yang betul-betul membahas Firman Tuhan, bukan membahas tema-tema yang tidak ada relevansinya dengan kerohanian/ Firman Tuhan.
Hamba Tuhan memiliki tanggung jawab terbesar dalam menjaga kemurnian pengajaran dan memberi makanan rohani yang sehat bagi jemaat. 1 Tim 4:16 mengatakan: “awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu!” Ini adalah perintah yang harus senantiasa kita ingat sebagai hamba Tuhan. Demikian juga kepada majelis, mereka adalah pendamping hamba Tuhan yang diberikan Allah bagi gereja-Nya. Majelis adalah orang yang “memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci” (1 Timotius 3:9). Oleh karenanya majelis juga bertanggung jawab kepada Allah dalam menjaga domba-domba, bukan sekedar mengurus hal-hal yang administratif belaka. Oleh sebab itu setiap majelis harus membekali diri dan menuntut diri untuk lebih mengerti kebenaran Firman Tuhan, agar pada saat yang dibutuhkan mereka dapat menyatakan kebenaran.
Terakhir, sebagai suatu antisipasi di masa yang akan datang, maka gereja harus mulai memikirkan adanya Departemen Teologi yang mempunyai tugas untuk menyeleksi hamba Tuhan, mengevaluasi kotbah dan pengajaran baik di mimbar atau persekutuan dan termasuk menjadi ‘menara pengawas’ terhadap ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab.

___________________________________________________________________________

Footnotes:

1 Sumber: Wikipedia Free Encyclopedia dengan topic “Edwin Louis Cole.”

2 Anda juga pasti tidak mau pergi ke “dokter” yang tidak pernah sekolah medis. Anda pasti akan merasa safe ketika pergi ke dokter yang memang benar-benar sekolah medis dan diakui.
3 Kemungkinan pertama sangat kecil atau bahkan tidak mungkin. Manusia dalam dirinya adalah mahluk yang butuh pengakuan. Semua orang yang pernah bersekolah dan memiliki gelar cenderung akan menyebutkannya pada saat ia menuliskan sebuah buku, membuat kartu nama, dsb. Saya sudah membaca banyak buku, tidak ada orang yang memiliki gelar akademis tetapi tidak menuliskannya dalam judul bukunya atau paling tidak dituliskan dalam biografi penulis.

4 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, Edisi Revisi (Jakarta: Metanoia, 2003), hal 5.
5 Flip cover sampul halaman belakang buku “Menjadi Pria sejati”

6 Donald McKim (Editor), Cambridge Companion to John Calvin (United Kingdom: Cambridge University Press, 2004), hal 156 (Ebook). Bandingkan juga pemikiran Calvin dalam Calvin: Institutes of the Christian Religion 2, Ed. John T. McNeill (Philadelphia : The Westminster Press), hal 1057-1061.

7 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 5.

8 Ibid., hal 2.

9 Ibid, halaman prakata.

10 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, Edisi Revisi (Jakarta: Metanoia, 2006), hal 140.
11 Ibid., hal 141.

12 Tidak mengherankan didalam camp/ retreat yang diadakan oleh gerakan CMN ini, banyak orang berteriak di tengah-tengah kotbah “123 Yes..Yes..” berulang-ulang. Inikah ibadah yang intim dan berkenan kepada Tuhan?

13 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 141-142.

14 Ibid., hal 147.

15 Ibid, hal 142-143.

16 Ibid., hal 143.

17 Ibid., hal 143.

18 Ibid., hal 150.

19 Ecumenical Creeds and Reformed Confession (Grand Rapids : CRC Publication, 1988), hal 82.

20 Alister McGrath, The Genesis of Doctrine (Grand Rapids : Eerdmans, 1990), hal 172.
21 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, Edisi Revisi, hal 148.

22 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 151.

23 Ibid, hal 15.

24 Ibid., hal 40.

25 Ibid., hal 173

26 Donald McKim ,ed. , Reading in Calvin’s Theology (Grand Rapids: Bakerbook House, 1984), Calvin’s view of Scripture by Donald McKim, hal 58.

27 Timothy George, Theology of the Reformers (Nashville : Broadman Press,1988), hal 197.
28 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 7- 8.

29 Ibid., hal 168.

30 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 135.

31 Ibid., hal 270.

32 Kritik ini juga berlaku pada point di mana Cole mengklaim diri sebagai nabi Allah.
33 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 8.

34 Ibid., hal 64.

35 Ibid., hal 9.

36 Ibid., hal 47.

37 Ini salah satu contoh dari apa yang Cole katakan bahwa ibadah yang formal berarti jauh dari wahyu Allah. Ibadah yang ia lakukan seperti ini berarti ‘intim’ dengan Allah. Benarkah KKR seperti ini intim dengan Yesus, atau sebaliknya tidak hormat kepada pribadi Yesus?
38 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 20.

39 Ibid., hal 223-224.

40 Ibid., hal 9.

41 Ibid., hal 47.

42 Ibid., hal 228.

43 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 45.

44 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 130.

45 Kevin J. Vanhoozer, Remythologizing Theology: Divine Action, Passion, and Authorship (United Kingdom: Cambridge University Press, 2010), hal 269. (Ebook)

46 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 46.

47 G.I Williamson, The Westminster Confession of Faith (Philadelpia : P&R, 1964), hal 56.
48 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 44.

49 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 93.

50 Ibid., hal 138.

51 Cornelius Van Til, An Introduction to Systematic Theology (New Jersey : P&R,1974), hal 105.
52 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 72.

53 Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids : Eerdmans, 1991), hal 469.
54 Ibid., hal 468.

55 NIV : 2 Pet 1:4, “Through these he has given us his very great and precious promises, so that through them you may participate in the divine nature and escape the corruption in the world caused by evil desires.”

56 Richard J. Bauckham, Word Biblical Commentary, Volume 50: Jude, 2 Peter (Dallas, Texas: Word Books Publisher, 1998).

57 Kevin J. Vanhoozer, Remythologizing Theology: Divine Action, Passion, and Authorship (United Kingdom: Cambridge University Press, 2010), p. 282 (Ebook).

58 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 86.

59 Ibid., hal 8.

60 Ibid., hal 8.

61 Ibid., hal 9.

62 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 227.

63 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 137.

64 Ibid, hal 161.

65 Ibid., hal 162.

66 Ibid., hal 113.

67 Francis Turretin, Institute of Elenctic Theology, Vol 1 (New Jersey: P& R,1992), hal 558.
68 Thomas Constable, Notes On Matthew, 2002 edition, hal 233-234 (Ebook).
69 Charles Hodge, Systematic Theology Vol 1 (Grand Rapids: Eerdmans,1993), hal 640.
70 Kevin J. Vanhoozer, Remythologizing Theology: Divine Action, Passion, and Authorship, p. 250 (Ebook).

71 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 272.

72 Ibid., hal 274.

73 Life Application Bible Commentary: Matthew 19:29 . Program Quickverse.
74 Untuk info yang lebih utuh tentang Robert Schuller, apa yang ia ajarkan, kunjungi website misalnya: www.letusreason.org

75 Another possible gospel of Robert Schuller’s, available from www.letusreason.org
76 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 165.

___________________________________________________________________________

JAWABAN SINGKAT ATAS BEBERAPA SANGGAHAN

1.        Kalau belum ikut gerakan ini jangan menghakimi dulu .

Memang kalimat ini ada benarnya bila diaplikasikan untuk hal-hal yang tidak bersifat etika atau moral/ dosa. Misalnya, soal makanan, tempat rekreasi, dll. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang bersifat moral apalagi dosa, pernyataan ini sama sekali tidak tepat. Untuk mengatakan bahwa berzinah itu dosa, tidak perlu kita harus mencobanya terlebih dahulu. Untuk mengatakan berjudi itu dosa tidak berarti kita harus berjudi dulu, dsb. Termasuk untuk ajaran sesat, tidak perlu kita ikut dulu baru boleh mengatakan sesat. Tuhan Yesus berulang kali menghardik orang Farisi dan ahli taurat tanpa pernah ia harus ikut-ikutan jadi farisi terlebih dahulu. Kita harus bisa membedakan kapan prinsip ini dipakai.

2. Pembahasan dalam buku ini tidak fair karena tidak melibatkan nara sumber.
Jangan lupa bahwa Edwin Louis Cole adalah nara sumber di atas segala nara sumber gerakan pria sejati. Ia adalah pendiri gerakan ini. Justru pembahasan dalam makalah ini didasarkan apa yang dituliskan oleh pendirinya sendiri, first source (sumber utamanya). Buku/tulisan seseorang sudah cukup representative untuk menunjukkan teologi dan cara berpikir seseorang. Oleh karenanya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pembahasan ini tidak fair, karena semua yang tercantum dalam makalah ini dapat dibuktikan berasal dari tulisan-tulisan Cole sendiri.

3. Yang penting khan hasilnya! Banyak orang berubah karena mengikuti gerakan ini.
Memang kalimat ini sering saya dengar. Setelah ikut gerakan ini orang berubah, rajin
baca Alkitab, rajin melayani, dsb. Ini cara berpikir yang salah. Dalam menilai sesuatu, sekali lagi jangan hanya dilihat dari fenomenanya. Mengapa demikian? Sebab saya jamin kalau orang tersebut ikut gerakan saksi Jehovah, ia akan lebih rajin baca Alkitab. Bahkan, bukan saja membaca tetapi menggali Alkitab. Ia juga akan lebih rajin melayani , dsb. Oleh karenanya jangan terjebak hanya melihat hasil dan memetingkan hasil. Ini adalah cara berpikir pragmatis dan utilitarian. Apakah anda juga setuju seseorang merampok demi mengobati anaknya yang sakit? Bagaimana jika anda yang jadi korbannya? Tentu saja tidak bisa demikian. Hal yang sama juga berlaku dalam menilai suatu gerakan/ ajaran.

4. Gerakan ini banyak pengikutnya. Bahkan, banyak Hamba Tuhan gereja Injili ikut gerakan ini.Ini menunjukkan gerakan ini benar!

Tuhan Yesus dalam pelayanannya sama sekali tidak pernah mementingkan kuantitas, bahkan dalam Yoh 6 Ia mengusir semua orang yang mengikuti Dia tanpa motivasi yang benar. Benar tidaknya suatu gerakan sama sekali tidak ditentukan oleh jumlah pengikutnya. Saksi Jehovah jauh lebih banyak pengikutnya dari gerakan pria sejati ini, lalu apakah kita katakan gerakan ini benar? Banyak Hamba Tuhan Injili ikut gerakan ini karena mereka kemungkinan besar belum membaca buku Cole atau sudah membaca tetapi tidak menganalisa dengan teliti, sehingga apa yang tertulis seolah baik-baik saja. Padahal bila diteliti kita akan menemukan banyak penyimpangan bahkan kesesatan di dalam tulisan-tulisannya.

5. Tulisan dalam buku ini salah terjemahan!

Buktikan dulu kepada saya bahwa apa yang tertulis dalam buku-buku ini salah terjemahan. Harus diingat bahwa buku-buku ini sudah dicetak berulang kali tetapi tidak ada perubahan apa-apa. Ini menunjukkan bahwa memang tidak ada hal yang perlu diterjemahkan ulang. Salah terjemahan biasanya terjadi satu atau dua kalimat saja, tetapi buku ini hampir setiap halaman menunjukkan kesalahan / kesesatan. Sesuatu yang tidak lazim bila hampir setiap
halaman salah terjemahan ! Kalaupun buku ini salah terjemahan, harap diingat bahwa buku-buku ini sudah diterbitkan dan dibaca ribuan orang Kristen di seluruh Indonesia. Bagi saya semuanya harus bertanggung jawab. Yang menulis, menterjemahkan dan menerbitkan, semua harus bertanggung jawab atas apa yang tertulis dalam buku ini.

6. Gerakan ini dipimpin oleh hamba Tuhan terkenal berkelas international, jadi pasti benar.
Tidak ada jaminan suatu gerakan kalau dipimpin seorang yang terkenal pasti benar. Bila demikian rumusnya, maka ajaran Tuhan Yesus pasti salah, sebab Ia bukan pembicara kelas dunia. Ia bukan pembicara terkenal. Ia tidak pernah berceramah di luar Israel, dsb. Jadi benar tidaknya suatu gerakan bukan dinilai dari terkenal atau tidaknya pendirinya, melainkan pada isi ajarannya.

7. Bagaimana jika ajaran Pria Sejati kita betulkan yang salah, lalu kita bawa masuk ke gereja?
Kita harus tahu bahwa sesat itu berbeda dengan salah. Yang sesat pasti salah, tapi yang salah belum tentu sesat. Yang salah masih bisa diperbaiki, yang sesat tidak mungkin diperbaiki. Dari pembahasan yang telah kita lihat di atas, ajaran Pria Sejati bukan sekedar salah. Gerakan ini sudah menjurus kepada ajaran sesat. Misalnya : Yesus adalah ciptaan, perlu dilahir-barukan, perlu pengampunan, dsb. Tidak percaya Alkitab sudah selesai diwahyukan, menganggap diri nabi, tidak percaya dosa asal, dsb. Oleh karenanya tidak perlu ‘memperbaiki’ ajaran ini lalu membawa masuk ke dalam gereja. Lagipula menurut saya, tidak ada hal yang istimewa dalam ajaran ini, bahkan sebaliknya banyak doktrin yang sesat di dalamnya. Untuk apa dan dalam kepentingan apa ajaran seperti ini diajarkan kepada jemaat kita? Bukankah gereja sudah punya dasar pengajaran sendiri?

8. Pembahasan dalam makalah ini tidak komprehensif karena hanya membahas dua buku Cole, sementara Cole menulis banyak buku. Mengapa tidak semuanya dibahas?
Memang lebih baik membahas semua tulisan seseorang, tetapi kita harus sadar bahwa pembahasan tema ini juga dibatasi oleh waktu, sehingga tidak memungkinkan untuk membahas satu per satu buku Cole. Dengan membahas dua buku ini saja sudah menemukan banyak kesalahan dan kesesatan, apalagi membahas semua buku-buku Cole. Kedua buku ini menurut saya sudah cukup mewakili pemikiran Cole dan melalui makalah ini seharusnya anda mulai bisa mengkritisi buku-buku Cole yang lainnya.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (II Timotius 3:16-17)

 

Soli Deo Gloria.


* Ev. Calvin Renata, M.Div., adalah Hamba Tuhan / Penginjil di GKA GLORIA Surabaya

(Tulisan ini mulanya adalah dalam format PDF dan diformat / diedit ulang tanpa mengurangi satupun kata didalamnya)

 

PRIA SEJATI / MAXIMAL January 13, 2011

 

Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div*

 

Pendahuluan:

Saya berulangkali diminta untuk membahas ajaran / praktek pria sejati, tetapi selalu saya tolak, karena saya tidak tahu ajaran / prakteknya. Lalu beberapa orang membiayai saya untuk ikut camp pria sejati di Tretes tanggal 15-17 Juli 2010, supaya setelah itu saya bisa membahasnya. Camp ini disebut camp pria maximal, istilahnya dibedakan karena yang ini adalah untuk kalangan protestan, dan para pembicaranya juga dalam kalangan protestan.

Para pembicara dalam camp itu:

1)   Pdt. Johan Gopur dari Singapura. Dia memimpin kira-kira setengah dari seluruh acara camp.

2)   Pdt. Kaleb Kiantoro.

3)   Pdt. Hengky Setiawan dari Jakarta.

4)   Pdt. Susana, istri dari Pdt. Hengky Setiawan.

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan:

a)   Ada hal-hal yang tidak saya catat, karena atau pengkhotbahnya berbicara secara tak terarah, atau karena saya tidak mendengar kata-katanya. Juga kadang-kadang karena saya tak keburu menulis apa yang diucapkan pengkhotbah.

b)   Sekalipun dalam camp ada hal-hal yang baik, itu bukan yang saya bahas. Saya membahas kesalahan / kesesatannya! Makanan yang baik / bergizi, kalau dicampur dengan sedikit racun akan membunuh orang yang memakannya!

c)   Dalam Seminar / Pemahaman Alkitab berseri ini, saya mula-mula membahas apa yang saya dengar dalam camp, lalu setelah itu baru saya membahas apa yang saya baca dalam buku-buku mereka (ada buku-buku yang diberikan dalam camp itu, dan ada yang saya beli sendiri dalam camp itu).

1.   Yang saya maksudkan dengan bahan di camp, hanyalah camp yang saya ikuti di Tretes, tgl 15-17 Juli 2010. Tentang camp-camp yang lain, baik pria sejati maupun pria maximal, saya tidak tahu!

2.   Dalam pembahasan ini, saya mula-mula akan membahas bahan yang diajarkan dalam camp yang saya ikuti, dan setelah itu baru saya akan membahas bahan dari buku-buku mereka. Tetapi supaya pembahasan tidak bertele-tele, kalau bahan camp yang saya bahas juga ada di bukunya, saya akan membahasnya sekaligus dalam pembahasan bahan camp.

3.   Dalam camp saya hanya menemukan hal-hal yang salah, dan konyol, tetapi tidak ada yang kesesatan yang fatal. Tetapi kalau dari buku-bukunya saya bukan hanya menemukan kesalahan, tetapi juga kekonyolan dan kesesatan!

Catatan: khotbah-khotbah dalam camp, bahannya dan garis besarnya diambil dari buku (dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’). Jadi, pengkhotbah dalam camp hanya menambahkan ayat-ayat sendiri, contoh-contoh dan kesaksian pribadi.

4.   Buku-buku yang saya baca adalah:

a.   ‘Hikmat Bagi Pria’. Buku ini Editornya adalah Ir. Eddy Leo M. Th. dan penulisnya adalah 4 orang petinggi dari kalangan pria sejati (kelihatannya semua dari golongan Kharismatik).

b.   ‘Kesempurnaan Seorang Pria’. Buku ini ditulis oleh Edwin Louis Cole. Banyak bahan yang diajarkan dalam camp yang berasal dari buku ini.

c.   ‘Menjadi Pria Sejati’ (Edisi Revisi). Buku ini ditulis oleh Edwin Louis Cole.

Catatan: Edwin Louis Cole adalah pendiri dari CMN (Christian Men’s Network) pada tahun 1979, dan jaringan yang ia dirikan mempunyai beban untuk melayani kaum pria, supaya bisa mengalami perubahan hidup, dipulihkan pernikahannya, pelayanannya, dan sebagainya. Di Indonesia, pelayanan ini lahir pada tahun 1997 dan baru pada tahun 1999 diresmikan secara internasional di Texas, Amerika Serikat, dengan Ir. Eddy Leo, M. Th. sebagai ketuanya.

d)   Saya berusaha mengelompokkan bahan-bahan yang saya bahas, tetapi untuk membuat sistimatika yang baik boleh dikatakan mustahil, karena baik camp maupun buku-buku itu kacau balau sistimatikanya.

I) Pembahasan tentang bahan camp.

1)   Sekalipun katanya camp pria maximal ini adalah dari dan untuk kalangan protestan, tetapi menurut saya bau dan ajaran Kharismatik tetap cukup kuat.

Contoh:

a)   Pdt. Johan Gopur dari gereja Baptis, tetapi bau kharismatik dalam ajarannya kuat, seperti: penggunaan istilah ‘inner healing’ (= penyembuhan batin), ‘Tuhan bicara kepada saya’, ‘saya merasa Roh Kudus bekerja’, ‘godaan ditolak dengan nama Yesus’, ‘semua sampah dosa dibuang dalam nama Yesus’, ‘tolak dalam nama Yesus’, ‘tutup pintu belakang dalam nama Yesus’, ‘adakah roh yang mau mengampuni’, ‘pokok kita benar semua jadi baik, sukses, dsb’.

b)   Pengkhotbah berdoa dengan berjalan-jalan dan mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan tangan seperti sedang khotbah (Saya buka mata waktu doa!). Sekalipun yang seperti ini juga ada dalam kalangan Protestan, tetapi biasanya ini merupakan gaya dari orang-orang Kharismatik.

c)   Chairman / pemimpin pujian juga berbau kharismatik, menyuruh menyanyi dengan njoget / menari, gerak dan lagu, diselingi teriakan yes, yes, yes dsb. Juga diperintahkan untuk berteriak ‘Yes!’ kalau ada yang mengatakan ‘One, two, three!’. Ini dilakukan bahkan dalam acara pemberitaan Firman Tuhan! Bagi saya, ini bukan hanya terasa kampungan, tetapi juga merupakan penghinaan terhadap Firman Tuhan / pengacauan terhadap pemberitaan Firman Tuhan!

d)   Pdt. Johan Gopur memberi cerita: Ada calon kemanten mendustai pendeta dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah berhubungan sex. Lalu mereka mendapat banyak persoalan. Setelah bertobat, masalah demi masalah hilang, dan Tuhan memberkati mereka. Ini merupakan typical ajaran Kharismatik.

e)   Pdt. Johan Gopur mengajar bahwa 3-4 keturunan bisa dikutuk karena zinah yang kita lakukan!!! Ini lagi-lagi merupakan typical ajaran Kharismatik. Saya tidak tahu dari mana ajaran seperti itu bisa muncul. Yang jelas Salomo tidak dikutuk karena perzinahan Daud. Ishak juga tidak dikutuk karena perzinahan Abraham (polygamy), dsb. Mungkin ia menggunakan Kel 20:4-6 sebagai dasar, tetapi text itu berbicara tentang penyembahan berhala, bukan zinah. Juga yg menurun sampai keturunan ketiga dan keempat itu bukan hukuman / kutukan, tetapi akibat dari dosa.

f)   Jemaat / peserta camp juga banyak yang berbau Kharismatik!! Mereka mengucapkan ‘amin’, dan bahkan bersorak-sorak dsb, pada saat khotbah sedang disampaikan. Bagi saya, ini juga kampungan dan merupakan penghinaan terhadap Firman Tuhan / pengacauan terhadap pemberitaan Firman Tuhan.

g)   Pada saat Altar Call, banyak yang maju, dan lalu didoakan oleh fasilitator masing-masing, sambil dirangkul. Mengapa dan untuk apa? Untuk membangkitkan emosi?

h)   Juga banyak doa dan khotbah yang dilakukan sambil menangis / setengah menangis. Dalam pandangan saya, ada yang kelihatannya tulus, tetapi ada yang terlihat dibuat-buat.

Memang dalam camp pria maximal ini tidak ada bahasa roh, nggeblak, orang bernubuat, kesembuhan ilahi, dsb. Tetapi menurut saya bau Kharismatiknya sudah cukup kuat. Kalau camp yang untuk Protestan seperti ini, bagaimana yang untuk Kharismatik?

Apa yang membahayakan dari camp yang berbau Kharismatik ini adalah: ini merupakan batu loncatan ke gereja Kharismatik bagi orang-orang Protestan ini. Bagi orang Protestan murni, yang terbiasa dengan gaya Protestan, maka akan terasa aneh dan risih, kalau masuk dalam kebaktian Kharismatik, dan melihat / mendengar hal-hal seperti di atas. Tetapi kalau ia sudah terbiasa dengan bau dan gaya Kharismatik seperti di atas, maka akan lebih mudah untuk betul-betul masuk ke dalam gereja Kharismatik.

Kalau Camp Pria Maximal itu sudah punya bau Kharismatik yang kuat, apalagi buku-bukunya. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini dari buku-buku mereka:

1.         Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Selain ada kematian, ada pula ‘roh kematian’. Roh kematian itu mirip dengan gejala penyakit. Orang yang baru mengalami gejala suatu penyakit belum tentu benar-benar menderita penyakit tersebut, karena sering kali gejala-gejala tersebut hanya mendorong orang merasa bahwa dirinya sakit, padahal sesungguhnya ia tidak sakit. Kalau gejala-gejala tersebut ditolak, disangkal, dan ditengking, maka gejala-gejala itu tidak akan mendatangkan pengaruh apa pun. ‘Roh kematian’ sering kali hanya berusaha menekan agar manusia tunduk dan menyerah kepada kematian, namun kalau roh itu diusir dalam nama Yesus, kematian itu pun tidak akan dapat menelan mangsanya” (hal 82-83).

“Allah tidak membiarkan Elia mati, tetapi membantunya untuk bangkit kembali. Allah membuat roh kematian menyingkir dari diri Elia, lalu memulihkan keadaan Elia sehingga …” (hal 83-84).

Tadi katanya ‘roh kematian’ itu harus ditengking kematian itu tidak menelan mangsanya. Tetapi dalam kasus Elia tanpa penengkingan kok ‘roh kematian’ itu bisa menyingkir???

2.         Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Dalam hubungan antar manusia, formalitas menjadi pertanda adanya jarak dalam hubungan tersebut, sebab dalam hubungan yang intim tidak terdapat lagi bentuk-bentuk formalitas. Jadi, semakin formal bentuk penyembahan yang dilakukan, semakin jauh pula jarak antara si penyembah dengan wahyu yang mula-mula diterimanya” (hal 141).

Kelihatannya ia menyerang liturgi kebaktian dari protestan yang memang lebih formil dari dalam gereja Kharismatik, tetapi saya menganggap kata-kata ini sebagai sesuatu yang sinting! Kalau Allah sendiri memberi peraturan-peraturan tentang penyembahan, dan itu kita turuti, maka itu bukan formalitas. Justru dalam kebaktian-kebaktian Kharismatik, yang boleh dikatakan tidak punya liturgi, dan pada umumnya doa pengakuan dosa saja tidak ada, menurut saya itu merupakan sesuatu yang tidak alkitabiah!

3.         Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Yesus mengatakan, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yohanes 14:6). Kebenaran merupakan titik tumpu bagi jalan dan juga kehidupan. ‘Jalan’ adalah arah kita dalam kehidupan ini, ‘kebenaran’ adalah dasar moral dan intelektual untuk kehidupan, sedangkan ‘kehidupan’ adalah buah hubungan kita dengan Yesus. Semakin banyak kita mendasarkan kehidupan ini kepada kebenaran, akan semakin baik jalan kita dan semakin luar biasa pula kehidupan kita (hal 172).

Rasanya bau ajaran Kharismatik / theologia kemakmuran.

4.         Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Selanjutnya hikmat Allah itu akan menjadi kunci untuk meraih kemenangan dalam hampir setiap bidang kehidupan ini” (hal 240).

Lagi-lagi bau theologia kemakmuran / Kharismatik.

5.         Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Bagi beberapa hamba Tuhan, kadang-kadang pelayanan mereka bisa menjadi berhala bagi mereka. Mereka begitu bertekun terhadapnya, sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk menyembah Tuhan, berdiam diri di dalam hadirat-Nya, dan menghabiskan waktu untuk melayani-Nya secara pribadi” (hal 10).

Ini bahasa Kharismatik.

6.         Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Ketika saya melihat kelima dosa yang mendasar ini, terlihat dengan jelas dan mencolok bahwa kelima dosa dasar ini masih menjadi akar penyebab manusia hidup dengan potensi yang tidak maksimal. Kelima dosa inilah yang menjadi dasar bagi kegagalan seluruh umat manusia. Allah ingin kita memasuki Tanah Kanaan, tempat perhentian, berkat, keberhasilan, kemampuan, dan otoritas – Allah ingin kita berada di sana.” (hal 13).

Penafsiran salah, dan bau kharismatik, yang mengajar kalau taat semua baik / sukses.

7.         Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Perkataan yang Allah berikan kepada saya ketika saya masih berada di dalam pesawat menuju retret di Oregon secara spesifik dan langsung tertuju kepada salah satu dari dosa-dosa tersebut: berbuat cabul. Hal ini sungguh memiliki kekuatan dan dampak yang fenomenal. Dua ratus enam puluh lima orang berlari menuju ke depan panggung dan ingin bertobat di hadapan Allah. Malam itu, kuasa Allah begitu kuat, tak seorang pun di antara mereka yang pulang tanpa dijamah atau diubahkan” (hal 14).

Lagi-lagi bau Kharismatik.

Juga ada banyak kesaksian Edwin Louis Cole bahwa Tuhan memberi wahyu kepadanya, Tuhan bicara / berbisik kepadanya, dan sebagainya. Ini semua juga berbau Kharismatik, tetapi ini akan saya bahas secara terpisah belakangan.

2)   Ajaran: Pdt. Kaleb Kiantoro mengajar bahwa kita harus tegas tetapi lembut.

Dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru, kata ‘lembut’ atau ‘lemah lembut’ sama sekali tidak berarti seperti kalau kita menggunakan kata-kata itu dalam percakapan sehari-hari, tetapi Pdt. Kaleb menggunakan kata itu dalam arti seperti itu.

Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’, dikatakan sebagai berikut:

“Lemah lembut adalah power under control yang berarti mempunyai kekuatan tetapi tidak mau membalas dengan kekuatannya” (hal 38).

Lembut artinya hati yang tidak mudah terluka. Kelembutan adalah kekuatan seorang pria. Bagaimana menjadi pria yang lembut? Belajarlah pada Yesus, Dia berkata: ‘Belajarlah padaKu sebab Aku lemah lembut.’ Datanglah pada salibNya ketika saudara mengalami tekanan. Taatilah FirmanNya dalam kehidupan saudara sehari-hari. Niscaya saudara akan mempunyai hati yang lembut” (hal 102).

Dan dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:

Kelemahlembutan adalah salah satu buah Roh, yang juga merupakan tanda kekuatan sejati seorang pria, dan sama sekali bukan tanda kelemahan. Seorang pria yang mengenal kekuatannya akan mampu bersikap lemah lembut. Semakin kuat seorang pria, semakin lemah lembutlah ia. Pria yang merasa tidak aman akan menutupi kekurangan mereka itu dengan bertindak kasar dan menyakiti orang lain” (hal 328).

Menurut saya kedua kutipan di atas memberikan definisi yang salah tentang ‘lembut’ atau ‘lemah lembut’.

Kata ‘lemah lembut’ dalam bahasa Yunaninya adalah PRAUS, yang merupakan suatu kata yang sukar sekali, atau bahkan mustahil, untuk diterjemahkan, karena baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia tidak ada kata yang sama artinya dengan PRAUS.

William Barclay memberikan 3 hal untuk menjelaskan arti dari kata Yunani PRAUS ini:

a)   Ia mengatakan bahwa Aristotle sering mendefinisikan suatu sifat di antara dua sifat yang extrim. Misalnya: murah hati terletak di antara pelit / kikir dan boros.

PRAUS terletak diantara ‘marah yang berlebih-lebihan’ dan ‘tidak pernah marah’. Jadi, orang yang PRAUS bukannya tidak pernah marah, juga bukannya marah yang berlebihan, tetapi selalu marah pada saat yang tepat. Perlu diingat bahwa marah belum tentu merupakan dosa. Musa disebut sebagai orang yang lemah lembut (Bil 12:3), tetapi ia pernah marah (Kel 32:19).

Bil 12:3 – “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut (LXX: PRAUS) hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi”.

Kel 32:19 – “Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu”.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Ia menyebut diriNya lemah lembut (Mat 11:29), tetapi berulang-ulang Ia marah (Mat 23:13-36  Yoh 2:13-17  Mark 3:5).

Mat 11:29 – “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.

Mark 3:5 – “Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekelilingNya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu”.

Yoh 2:13-17 – “(13) Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. (14) Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. (15) Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkanNya. (16) Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan.’ (17) Maka teringatlah murid-muridNya, bahwa ada tertulis: ‘Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.’”.

Kemarahan yang bersifat egois / selfish anger (misalnya kalau kita marah karena ada orang berbuat salah kepada kita), jelas adalah kemarahan yang salah. Tetapi kemarahan yang terjadi pada waktu kita melihat orang lain ditindas (bdk. 1Sam 11:6), atau pada saat kita melihat suatu dosa, atau pada saat kita melihat adanya ajaran sesat (Wah 2:2  2Kor 11:4), jelas merupakan kemarahan yang benar.

1Sam 11:6 – “Ketika Saul mendengar kabar itu, maka berkuasalah Roh Allah atas dia, dan menyala-nyalalah amarahnya dengan sangat.

Perhatikan bahwa Roh Allah berkuasa atas Saul, tetapi ia menjadi sangat marah, karena ada penindasan terhadap orang-orang Yabesy-Gilead.

Wah 2:2 – “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta”.

Jemaat gereja Efesus ini dipuji oleh Tuhan, karena mereka tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat / rasul-rasul palsu.

2Kor 11:4 – “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima”.

Sebaliknya, jemaat Korintus dikecam oleh Paulus karena mereka sabar saja pada waktu ada pengajar-pengajar sesat.

b)   Kata PRAUS juga digunakan terhadap binatang yang sudah dijinakkan / dikuasai sehingga tunduk sepenuhnya kepada pemilik / majikannya. Jadi dalam arti yang kedua ini orang yang PRAUS adalah orang dikuasai / tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.

c)   Dalam bahasa Yunani, PRAUS sering dikontraskan dengan sombong. Jadi PRAUS mengandung arti ‘rendah hati’.

Bdk. Maz 37:11 – “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah”.

Mungkin sekali kata ‘lemah lembut’ dalam Yak 1:21 harus diartikan dalam arti ini.

Yak 1:21 – “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut (PRAOTES) firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu”.

Catatan: yang jelas, kata PRAOTES (ini kata benda, kata sifatnya adalah PRAUS) di sini tidak mungkin diartikan ‘lemah lembut’ dalam arti yang biasa kita gunakan dalam percakapan sehari-hari!

Mungkin untuk menunjukkan bahwa ia mempraktekkan kelemah-lembutan dalam keluarganya, Pdt. Kaleb mengatakan bahwa ia tidak pernah satu kalipun memukul anaknya! Sebetulnya ini bertentangan dengan ajarannya sendiri pada saat itu tentang ketegasan dan kelembutan. Kalau tidak pernah memukul anak, dimana ketegasannya?

Juga ini bertentangan dengan cara yang diberikan dalam Alkitab tentang pendidikan anak. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

Amsal 13:24 – “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya”.

Amsal 19:18 – “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya”.

Amsal 22:15 – “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya”.

Amsal 23:13-14 – “(13) Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. (14) Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati”.

Amsal 29:15 – “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya”.

Ibr 12:5-11 – “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya”.

3)   Ajaran: Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.

Ini dituliskan di salah satu spanduk dalam camp. Kalau tidak salah juga ada pengkhotbah yang mengatakan kata-kata ini dalam camp tetapi saya tak mencatatnya, dan kurang ingat, sehingga tidak bisa memastikannya. Tetapi dalam buku-bukunya ini dikutip berulang-ulang / sering sekali.

Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ (Editor Eddy Leo), pada cover buku tertulis kata-kata: “Manhood and Christlikeness are synonymous”.

Artinya: “Ke-pria-an dan keserupaan dengan Kristus adalah sama” (ini terjemahan saya sendiri).

Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ (Editor Eddy Leo), pada bagian Introduction, dikutip kata-kata dari Edwin Louis Cole sebagai berikut:

“Dia (Allah) telah menetapkan saya dengan pelayanan yang berfokus kepada pria, untuk membawa mereka kepada keserupaan dengan Kristus dan menjamah mereka dengan kenyataan bahwa ‘Menjadi pria sejati dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama’ (DR Edwin L Cole)”.

Kalau demikian, lalu bagaimana dengan wanita / perempuan? Apakah mereka tak bisa menyerupai Kristus? Tetapi dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’ (Edwin Louis Cole) mengatakan sebagai berikut: “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama. Begitu juga dengan kata menyerupai Kristus dan wanita yang sempurna.” (hal 52).

Kalau begitu, maka wanita yang sempurna sama dengan pria yang sempurna????

Anehnya, dalam buku yang sama Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:

“Kita bisa saja memperoleh kerohanian dari kaum wanita, tetapi kekuatan selalu datang dari kaum pria. Gereja, keluarga, dan bangsa akan menjadi kuat bila kaum prianya juga kuat” (hal 59).

Tadi, di hal 52 ia mengatakan pria yang sempurna = keserupaan dengan Kristus = wanita yang sempurna. Sekarang di hal 59 kok jadi lain???

Tanggapan saya:

Memang setiap orang Kristen, apakah ia laki-laki atau perempuan, harus meneladani Kristus. Tetapi tidak setiap apa yang Kristus lakukan, harus kita teladani. Misalnya, Kristus berpuasa 40 hari 40 malam, Kristus tidak pernah berpacaran, menikah ataupun mendapatkan keturunan secara jasmani, ini merupakan hal-hal yang tidak harus ditiru. Apalagi kalau Kristus mati di salib menebus dosa kita, itu tentu tidak bisa dan tidak boleh ditiru.

Jadi, bukan semua yang Kristus lakukan atau tidak lakukan harus diteladani. Apapun yang Kristus lakukan atau tidak lakukan, harus dibandingkan dulu dengan seluruh ajaran Alkitab, baru kita memutuskan apakah itu harus diteladani atau tidak.

Calvin (tentang Yoh 13:14-15): “It deserves our attention that Christ says that he gave an example; for we are not at liberty to take all his actions, without reserve, as subjects of imitation” (= Harus kita perhatikan bahwa Kristus berkata bahwa Ia memberi suatu teladan / contoh; karena kita tidak boleh menjadikan semua tindakanNya, tanpa kecuali, untuk ditiru).

Charles Hodge, dalam komentarnya tentang 1Kor 11:23 (tentang Perjamuan Kudus), berkata: “Protestants, however, do not hold that the church in all ages is bound to do whatever Christ and the apostles did, but only what they designed should be afterwards done. It is not apostolic example which is obligatory, but apostolic precept, whether expressed in words or in examples declared or evinced to be preceptive. The example of Christ in celebrating the Lord’s supper is binding as to everything which enters into the nature and significancy of the institution; for those are the very things which we are commended to do” (= Tetapi orang Protestan, tidak mempercayai bahwa gereja dalam sepanjang jaman harus melakukan apapun yang diperbuat oleh Kristus dan rasul-rasul, tetapi hanya apa yang mereka maksudkan untuk harus dilakukan setelah itu. Bukanlah teladan / kehidupan rasul yang merupakan kewajiban, tetapi perintah rasul, baik yang dinyatakan dalam kata-kata atau di dalam contoh / teladan yang dinyatakan atau ditunjukkan secara jelas bahwa itu merupakan perintah. Teladan Kristus dalam merayakan Perjamuan Kudus, mengi­kat / merupakan keharusan berkenaan dengan semua hal yang termasuk dalam inti / sifat dasar dan hal-hal yang mempunyai arti dari sakramen itu, karena itu adalah hal-hal yang harus kita lakukan)‘I & II Corinthians’, hal 223.

Jadi dalam persoalan / urusan pernikahan, kita tidak bisa meneladani Kristus secara langsung, karena Ia tidak pernah menikah. Yang harus kita taati adalah firman Tuhan yang berkenaan dengan pernikahan seperti Ef 5:22-33  1Pet 3:17 dsb (ini sebetulnya termasuk meneladani Kristus, karena Ia taat pada firman).

Masih tentang keserupaan dengan Kristus, Edwin Louis Cole juga mengatakan dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’ kata-kata sebagai berikut:

“Semakin banyak firman yang ada di dalam hati Anda, Anda akan semakin menyerupai firman, dengan kata lain semakin menyerupai Kristus” (hal 60).

Ada beberapa hal yang perlu dikomentari tentang kata-kata ini:

a)   Orang Kristen yang mempunyai banyak firman belum tentu akan menyerupai firman! Dia bisa saja hanya punya pengetahuan tetapi tidak melakukannya.

b)   Menyerupai firman = menyerupai Kristus? Ada 2 kemungkinan tentang apa yang ia maksudkan dengan kata-kata ini:

1.   Orang yang mempunyai firman dan mentaatinya akan makin serupa dengan Kristus. Kalau ia memaksudkan ini, saya setuju dengan dia.

2.   Firman = Kristus. Kalau dilihat dari ajaran-ajarannya di bagian lain buku-bukunya (yang akan saya bahas belakangan), kelihatannya inilah yang ia maksudkan. Juga dari kata-kata ‘menyerupai firman’ rasanya ini yang ia maksudkan, karena kata-kata seperti ini tak lazim. Kalau ia memaksudkan seperti pada point 1. di atas, ia seharusnya mengatakan ‘mentaati firman’ atau ‘memelihara firman’. Kalau memang ia memaksudkan seperti point 2. ini, maka ini jelas salah / sesat! Firman (kata-kata Tuhan) tidak sama dengan Kristus! Memang ada ayat yang seakan-akan mendukung hal ini, yaitu Yoh 1:1, tetapi maksudnya tidak demikian. Ini juga akan saya bahas belakangan.

4)   Ajaran: Satu ons ketaatan lebih berharga dari satu ton doa!

Salah satu spanduk di ruangan camp bertuliskan: “Satu ons ketaatan lebih berharga dari pada satu ton doa”.

Pdt. Johan Gopur mengajar: Pasir kelihatan padat tetapi sebetulnya tidak. Mendengar tetapi tidak taat, seperti orang yang membangun rumah di atas pasir. Dan ia lalu mengutip kata-kata “satu ons ketaatan lebih berharga dari pada satu ton doa”.

Dan ia menambahkan: Kita boleh beribu-ribu kali berdoa, tetapi 1 kali saja tidak taat, maka itu tak ada gunanya. Taat 1 x lebih berharga dari pada doa ribuan kali.

Catatan: menurut saya ajaran ini sangat extrim. Tidak ada hari / saat dimana kita tidak berbuat dosa. Kalau begitu, tidak perlu doa sama sekali saja, karena toh tidak ada gunanya.

Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’ (Edwin Louis Cole) bahkan dikatakan: Satu ton doa tidak akan pernah menghasilkan satu ons keinginan untuk hidup taat. Setelah Anda mengucapkan semua doa Anda, bila Anda tidak taat, Anda sedang menyangkal doa-doa Anda itu” (hal 86).

Tanggapan saya:

Memang kalau seseorang berdoa tetapi ia sama sekali tidak mau taat, doanya tidak akan ada gunanya, karena Allah tidak akan mendengarkannya.

Yes 59:1-2 – “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

Yes 1:15 – “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

Maz 66:18 – “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar”.

Tetapi saya yakin bahwa semua ini ditujukan bagi orang-orang yang berdosa tanpa mau bertobat (bersikap tegar tengkuk), bukan untuk orang-orang yang jatuh ke dalam dosa karena kelemahannya.

Jadi, bagaimanapun kita tidak bisa / tidak boleh mengatakan bahwa ‘satu ons ketaatan lebih berharga dari pada satu ton doa’! Kita lebih-lebih tidak bisa mengatakan ‘Satu ton doa tidak akan pernah menghasilkan satu ons keinginan untuk hidup taat’.

Menurut saya, ini merupakan kegilaan dan merupakan suatu penghinaan terhadap doa! Justru doa menyebabkan kita diberi kekuatan untuk taat, dan tanpa doa kita tidak akan bisa taat! Kalau doa memang tidak memberi kita keinginan dan kemampuan untuk taat, lalu untuk apa dalam Alkitab ada ayat-ayat di bawah ini?

Mat 6:13 – dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.].

Mat 26:41 – “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.

Luk 21:34-36 – “(34) ‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (35) Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. (36) Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.’”.

Luk 22:40,46 – “(40) Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: ‘Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.’ … (46) KataNya kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.’”.

Kis 4:29-31 – “(29) Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hambaMu keberanian untuk memberitakan firmanMu. (30) Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, HambaMu yang kudus.’ (31) Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Ef 6:18b-20 – “(18b) Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, (19) juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, (20) yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Fil 4:13 – “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”.

KJV: ‘I can do all things through Christ which strengtheneth me’ (= Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang menguatkan aku).

Juga bandingkan dengan Yoh 15:1-7 yang menunjukkan bahwa persekutuan seseorang Kristen dengan Tuhanlah yang membuatnya bisa berbuah!

Jadi, menurut saya, yang benar adalah: harus ada keseimbangan antara doa dan ketaatan. Dan kedua hal itu saling mendukung. Orang yang banyak berdoa akan diberi kekuatan untuk taat, dan orang yang taat akan menyebabkan ia bisa berdoa dengan lebih baik lagi.

 

Pria sejati / maximal (2)

5)   Penggunaan ayat Alkitab yang salah / tidak cocok, atau penafsiran ayat Alkitab yang ngawur, atau ajaran yang tidak ada dasar Alkitabnya.

a)   Ajaran: Pdt. Johan Gopur mengatakan bahwa kita harus membuka diri di hadapan Allah dan manusia.

Text Kitab Suci yang digunakan adalah Ibr 4:14-16 – “(14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. (15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (16) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”.

Pdt. Johan Gopur berkata: Saya membuka diri di hadapan Tuhan, sehingga bisa banyak perubahan dalam diri saya. Akan terjadi pemulihan bagi yang mau membuka diri di hadapan Tuhan. Dulu problem keluarga saya tutup di depan jemaat. Setan senang, pelayanan tidak maju. Ia menggunakan Ibr 4:16 di atas sebagai dasar ajarannya.

Tanggapan saya: Ibr 4:16 itu merupakan suatu perintah untuk datang kepada Allah dalam doa dengan berani, karena kita mempunyai Imam Besar, yaitu Yesus Kristus (ay 14-15).

Jadi, ini tak ada hubungannya dengan keterbukaan, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia!

b)   Pdt. Johan Gopur melanjutkan ajarannya tentang ‘membuka diri’ dan menggunakan cerita tentang perempuan Samaria dalam Yoh 4. Perempuan Samaria itu tidak berani ketemu orang. Ia ke sumur pada siang hari, tidak ada orang. Tetapi dia ketemu Yesus. Setelah itu perempuan itu berani ketemu banyak orang, dan bicara tentang Yesus. Keterbukaan kita kepada Tuhan merupakan kunci.

Tanggapan saya: Dalam cerita tentang perempuan Samaria itu, Yesuslah yang membuka masalahnya / dosanya, bukan ia yang membuka diri / menceritakan dosa-dosanya. Terhadap orang banyak ia juga bukan membuka diri / menceritakan dosanya, tetapi mengarahkan mereka kepada Yesus.

Yoh 4:16-19 – “(16) Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.’ (17) Kata perempuan itu: ‘Aku tidak mempunyai suami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, (18) sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.’ (19) Kata perempuan itu kepadaNya: ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi”.

Di sini Yesus membuka dosa-dosa perempuan itu.

Yoh 4:28-29,39,42 – “(28) Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: (29) ‘Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’ … (39) Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepadaNya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: ‘Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.’ … (42) dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.’”.

Di sini perempuan itu memang menemui banyak orang, tetapi tujuannya adalah untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang-orang Samaria.

Tak ada bagian manapun dalam text itu dimana perempuan itu membuka diri, baik kepada Yesus maupun kepada orang banyak (Samaria).

c)   Pdt. Johan Gopur juga menggunakan Yes 55:1-2 – “(1) Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! (2) Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat”.

Ia mengatakan bahwa ini merupakan ajakan bagi orang yang haus, yang berdosa, maupun yang sudah kenal Tuhan tetapi banyak dosa ditutupi.

Tanggapan saya: Kalau ayat itu dikatakan sebagai ajakan bagi orang yang haus, berdosa, untuk datang kepada Tuhan, dan menerima pengampunan, maka itu benar. Tetapi kalau dikatakan bahwa itu merupakan ajakan bagi orang yang SUDAH KENAL TUHAN, tetapi banyak menutupi dosanya, saya menganggap ayatnya sama sekali tidak cocok. Ayat di atas hanya cocok untuk orang yang belum percaya, dan ayat di atas tak ada hubungannya dengan dosa yang ditutupi.

Kalau mau menggunakan ayat yang berhubungan dengan orang percaya yang menutupi dosa maka jauh lebih baik menggunakan Maz 32:1-5 – “(1) [Dari Daud. Nyanyian pengajaran.] Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! (2) Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! (3) Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; (4) sebab siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela (5) Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ‘Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela”.

Kata-kata ‘berdiam diri’ dalam ayat 3a jelas maksudnya adalah ‘tidak mengaku dosa’. Ini menyebabkan tangan Tuhan menekan dia, sehingga dia sangat menderita (ay 3b-4). Tetapi lalu dalam, ay 5a ia memberitahukan / mengaku dosa / pelanggarannya, dan ini menyebabkan ia diampuni (ay 5b).

d)   Pdt. Johan Gopur mengajar: Kanaan bukan lambang dari surga tetapi hidup orang Kristen yang maximal.

Ini pasti ia dapatkan dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, dimana Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:

Tanah Kanaan selalu digunakan Allah sebagai simbol potensi maksimal dari umat manusia. Tanah Kanaan adalah suatu tempat Allah menggenapi janji-janji-Nya di dalam kehidupan kita – tempat Allah memaksimalkan potensi umat-Nya, baik secara pribadi maupun bersama. … Di dalam Perjanjian Lama, Tanah Kanaan adalah tempat yang diinginkan Allah untuk ditempati oleh bangsa Israel setelah Ia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Mereka akan hidup dengan iman mereka di sana. Dan, Allah akan menggenapi janji-janji-Nya atas mereka. Saya ingin Anda mengerti bahwa Kanaan adalah Tanah Perjanjian, tempat di mana Allah menginginkan Anda hidup dengan iman saat ini. Di tempat itu, Allah akan menggenapi janji-janji-Nya atas kehidupan Anda. Di sana Anda dapat meraih potensi maksimal Anda” (hal 8).

Tanggapan saya:

Perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan merupakan TYPE (bukan lambang) dari perjalanan orang Kristen ke surga. Dan Kanaan memang merupakan TYPE dari surga, bukan dari kehidupan orang Kristen yang maximal. Apa yang ia ajarkan, menurut saya, tak punya dasar Alkitab. Tetapi apa yang saya ajarkan ada dasarnya, yaitu 2Pet 1:15 – “Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu”.

Perhatikan kata ‘kepergianku’.

KJV/ASV/NKJV: ‘my decease’ (= kematianku).

RSV/NIV/NASB: ‘my departure’ (= keberangkatanku).

Kata ‘kepergian’ ini diterjemahkan dari kata Yunani EXODON, dari mana diturunkan kata EXODUS. Dan ini memang berhubungan dengan keluarnya Israel dari Mesir (EXODUS).

Vincent (tentang 2Pet 1:15): “‘Decease’ ‎(exodon‎). ‘Exodus’ is a literal transcript of the word, and is the term used by Luke in his account of the transfiguration. ‘They spake of his decease.’ It occurs only once elsewhere, Heb 11:22, in the literal sense, the ‘departing or exodus’ of the children of Israel [= ‘Kematian’ (EXODON). ‘Exodus’ merupakan suatu salinan hurufiah dari kata itu, dan merupakan istilah yang digunakan oleh Lukas dalam cerita / laporannya tentang perubahan rupa / pemuliaan. ‘Mereka berbicara tentang kematianNya’. Kata itu hanya muncul satu kali di tempat lain, Ibr 11:22, dalam arti yang hurufiah, ‘pemberangkatan atau exodus’ dari anak-anak Israel].

Catatan: kata ‘transfiguration’ menunjuk pada pemuliaan Yesus di atas gunung, dimana Ia berubah rupa. Kata ‘transfiguration’ itu sendiri berarti ‘perubahan rupa / bentuk’.

Ibr 11:22 – “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya”.

KJV: ‘the departing’ (= keberangkatan).

RSV/NIV/NASB: ‘the exodus’ (= exodus).

ASV/NKJV: ‘the departure’ (= keberangkatan).

Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Pet 1:15): “The very word exodon used in the transfiguration, Moses and Elias conversing about Christ’s decease (found nowhere else in the New Testament, but Heb. 11:22, ‘the departing of Israel’ out of Egypt, to which the saints’ deliverance from the bondage of corruption answers)” [= Kata EXODON digunakan dalam perubahan rupa / pemuliaan, Musa dan Elia berbicara tentang kematian Kristus (tidak ditemukan di tempat lain dalam Perjanjian Baru, tetapi Ibr 11:22, ‘kepergian Israel’ keluar dari Mesir, yang cocok dengan pembebasan orang-orang kudus dari perbudakan kejahatan)].

Barclay (tentang 2Pet 1:15): “The picture comes from the journeying of the patriarchs in the Old Testament. They had no abiding residence but lived in tents because they were on the way to the Promised Land. The Christian knows well that his life in this world is not a permanent residence but a journey towards the world beyond. We get the same idea in verse 15. There Peter speaks of his approaching death as his EXODOS, his departure. EXODOS is, of course, the word which is used for the departure of the children of Israel from Egypt, and their setting out to the Promised Land. Peter sees death, not as the end but as the going out into the Promised Land of God” (= Gambaran itu datang dari perjalanan dari nenek moyang mereka dalam Perjanjian Lama. Mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap tetapi hidup / tinggal di kemah karena mereka sedang dalam perjalanan ke Negeri Perjanjian. Orang Kristen tahu dengan baik bahwa kehidupannya dalam dunia ini bukanlah suatu tempat tinggal yang permanen tetapi suatu perjalanan menuju dunia yang akan datang / alam baka. Kita mendapatkan gagasan yang sama dalam ay 15. Di sana Petrus berbicara tentang kematiannya yang mendekat sebagai EXODOS-nya, keberangkatannya. Tentu saja, EXODOS adalah kata yang digunakan untuk keberangkatan dari anak-anak Israel dari Mesir, dan keberangkatan mereka ke Negeri Perjanjian. Petrus melihat kematian, bukan sebagai akhir tetapi sebagai keluar menuju Negeri Perjanjian dari Allah) – hal 308.

Kesimpulan: kata Yunani yang digunakan oleh Petrus untuk menunjuk pada kepergiannya ke surga sama dengan kata Yunani yang digunakan dalam Ibr 11:22 untuk menunjuk pada kepergian / perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, dan ini merupakan dasar untuk mengatakan bahwa perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan merupakan TYPE dari perjalanan orang Kristen di dunia ini menunju ke surga. Dan itu sekaligus juga menunjukkan bahwa Kanaan adalah TYPE dari surga!

e)   Pdt. Johan Gopur mengajar: Lazarus sudah mati 4 hari, dibangkitkan oleh Yesus. Lazarus keluar, masih terbungkus kain kapan. Sudah hidup tetapi terbungkus kain kapan. Ini sama seperti orang Kristen yang sudah hidup / diampuni, tetapi masih ada dosa-dosa yang masih mengikat kita.

Tanggapan saya: Ini merupakan suatu pengalegorian yang salah! Cerita sejarah tidak boleh dialegorikan / diartikan sebagai lambang. Disamping, kalau kain kapan itu simbol dosa, pada waktu kain kapan itu dilepaskan dari tubuh Lazarus, bagaimana kita mengartikannya? Lazarus menjadi suci? Dan kalau kain kapan itu simbol dari dosa, mengapa Yesus bukannya melepaskan sendiri kain kapan itu, tetapi menyuruh orang lain untuk melepaskannya?

Yoh 11:43-44 – “(43) Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: ‘Lazarus, marilah ke luar!’ (44) Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: ‘Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.’.

Apakah itu berarti bahwa orang / manusia bisa melepaskan orang lain dari dosa-dosa mereka sampai orang itu menjadi suci?

f)    Pdt. Johan Gopur mengatakan bahwa suami adalah imam dalam keluarga, dan sebagai imam ia harus berdoa untuk keluarga. Sebagai dasar Kitab Suci ia memberikan 1Tim 2:8 – “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan”.

Tanggapan saya: Saya tak setuju suami harus menjadi imam. Saya setuju suami harus berdoa untuk keluarga, tetapi kalau 1Tim 2:8 dipakai sebagai dasar, itu tidak cocok, karena kontext dari ayat itu sama sekali bukan keluarga. Baca sendiri kontextnya, dan saudara akan melihat bahwa ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan keluarga.

g)   Pdt. Johan Gopur menggunakan 1Pet 5:8 – “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. Dan ia lalu berkata Jadi, ada yang tak bisa ditelan. Yang mana yang bisa ditelan? Yang menyimpan kepahitan / dendam”.

Tanggapan saya: Ini lagi-lagi merupakan penggunaan ayat Kitab Suci seenaknya sendiri, karena ayat ini sama sekali tidak berurusan dengan kepahitan / dendam.

h)   Pdt. Kaleb Kiantoro menggunakan Luk 13:6-9 – “(6) Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: ‘Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. (7) Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! (8) Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, (9) mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!’”.

Dan ia lalu mengatakan bahwa tukang kebun ini tegas tetapi lembut!

Tanggapan saya: Yang digunakan oleh Pdt. Kaleb Kiantoro adalah suatu perumpamaan, dan perumpamaan hanya boleh ditafsirkan sesuai maksud / arah / tujuan dari perumpamaan itu. Di sini maksud / arah / tujuannya jelas adalah bahwa Tuhan menghendaki adanya buah dalam kehidupan anak-anakNya, dan yang tidak berbuah, lambat atau cepat, akan ditebang. Pada waktu ditafsirkan bahwa tukang kebun itu lembut tetapi tegas, atau sebaliknya, maka ini merupakan penggunaan ayat / perumpamaan yang sama sekali tidak seharusnya.

6)   Ajaran: dalam ruangan Camp ada spanduk bertuliskan: “Katakanlah kepada istri anda setiap hari bahwa dia adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk anda dan bahwa anda mencintainya”.

Saya kira ada pengkhotbah dalam camp yang juga mengatakan hal ini. Dan dalam buku-buku mereka hal-hal seperti ini banyak sekali.

a)         Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

1.   “Ketika istri anda bertanya, ‘Apakah kamu mencintaiku?’ Jawaban yang benar adalah: ‘Apakah langit masih biru? Apakah air masih basah? Apakah gunung masih tinggi? Begitulah cintaku padamu!!!’” (hal 17).

Kata-kata ‘jawaban yang benar’ (yang saya garis-bawahi) menunjukkan bahwa jawaban seperti itu mutlak diharuskan. Tetapi bagaimana kalau ternyata pria itu sudah luntur cintanya? Apakah tetap harus mengatakan kata-kata seperti itu? Saya merasa ajaran ini hanya bagus, kalau bisa diucapkan dengan jujur dan tulus. Dan saya yakin hanya sangat sedikit, kalau ada, pria / suami yang bisa mengucapkan kata-kata seperti ini dengan jujur dan tulus, karena pria / suami bukanlah Tuhan yang tidak bisa berubah. Tuhan tidak berubah, juga dalam cintaNya kepada kita, tetapi suami bukan Tuhan. Pria / suami bisa berubah, juga dalam hal cintanya kepada istrinya! Sekarang, bagaimana kalau sang suami sudah luntur cintanya? Apakah tetap harus mengatakan kata-kata seperti itu?

Juga, mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya sama seperti warna biru dari langit dan ketinggian gunung, mengharuskan suami itu menjadi seorang penyair!

2.   “Katakan kepada istri anda setiap hari, bahwa dia adalah hadiah dari Tuhan buat anda, dan bahwa anda mencintainya” (hal 19).

Dan keharusan mengatakan hal seperti itu setiap hari, menyebabkan ia berdusta setiap hari juga. Bolehkah berdusta untuk kebaikan (white lie / dusta putih)???

3.   “Semakin banyak kita menabur kata-kata cinta baginya, semakin banyak pula kita akan menuai keindahan cinta darinya (2Kor 9:6)” (hal 20).

Sekalipun kata-kata di atas ini tidak salah, tetapi dasar ayat yang digunakan salah. Ayat ini berurusan dengan persembahan. Untuk mengetahui hal itu baca ayat ini sekaligus dengan ayat selanjutnya.

2Kor 9:6-7 – “(6) Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (7) Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”.

Jadi, penggunaan ayat seperti ini, merupakan penggunaan yang salah (out of context). Yang dimaksud dengan ‘menabur’ sebetulnya adalah ‘menabur uang’ (memberi persembahan), bukan ‘menabur kata-kata cinta’.

Hal lain yang bisa ditekankan dari text itu adalah: apa yang kita tuai tak selalu hal yang sama dengan apa yang kita tabur. Jadi, menabur uang, belum tentu menuai uang. Tuhan bisa memberi berkat dalam hal yang lain.

4.   “Kata-kata positif dan membangun yang diberikan oleh suami bagi istrinya akan membuat sang istri bertumbuh dan berbuahkan pula hal-hal yang positif dan baik pula (Mat 12:33). (RS)” (hal 20).

Catatan: RS adalah Ronny Soedjak, Gembala GPDI Moria, Jatibening, Bekasi. Coordinator House of Blessing (Pelayanan Keluarga). Pemimpin Christian Men’s Network di Indonesia (lihat book cover di bagian depan buku ini).

a.   Mari pertama-tama kita melihat ayat yang ia gunakan sekaligus dengan kontextnya.

Mat 12:33-35 – “(33) Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. (34) Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. (35) Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat”.

Menurut saya text ini / ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Ronny Soedjak di atas. Ini penggunaan ayat Kitab Suci yang ngawur!

b.   Sekalipun kata-kata positif dari suami merupakan sesuatu yang baik dan penting bagi istrinya, tetapi untuk membuat istri itu bertumbuh dan berbuah, yang ia butuhkan adalah kata-kata Tuhan / Firman Tuhan.

1Pet 2:2-3 – “(2) Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, (3) jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan”.

Dan ada satu pertanyaan: kalau ada istri yang mempunyai suami yang brengsek yang tidak pernah memberikan kata-kata yang positif dan membangun, tetapi istri ini rajin belajar Firman Tuhan, tidak bisakah ia bertumbuh dan berbuah?

b)   Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, pada bagian ‘Dedikasi’ di awal buku, DR Edwin Louis Cole juga mengatakan “Kepada istriku, Nancy, ‘Wanita tercantik di bumi ini.’”.

Dalam buku yang sama, pada bagian akhirnya, Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:

“Istri saya, Nancy, masih menjadi ‘Wanita Tercantik di Bumi Ini’, dan tidak pernah kehilangan kemampuannya untuk menolong saya. … Kami telah menikah selama lebih dari lima puluh tahun. Orang-orang bertanya kepada saya apakah saya telah menikah dengan orang yang sama selama tahun-tahun itu. Jawaban saya selalu sama, ‘TIDAK! Dia adalah seorang yang penuh kasih, lebih ramah, setia, taat kepada Allah, lebih tulus dibandingkan sebelumnya. Dia adalah seorang ibu yang luar biasa, istri seorang pelayan, kekasih, dan orang Kristen terbaik yang pernah saya temui sepanjang hidup saya.’” (hal 176).

Tulus / jujurkah kata-kata ini? Terus terang, saya meragukan adanya pria / suami yang bisa mengatakan hal ini setelah menikah lebih dari 50 tahun. Kalaupun ada, mungkin itu hanya satu dari sejuta! Apalagi kalau pria / suami itu betul-betul menganggap istri yang sudah usia 70an tahun sebagai wanita tercantik di dunia! Ini sangat tidak masuk akal!

Juga perhatikan kata-kata ‘orang Kristen terbaik yang pernah saya temui sepanjang hidup saya’. Bisakah penilaian seperti ini diterima? Obyektifkah? Jujur / tuluskah?

Sekarang, dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ ada kata-kata sebagai berikut:

1.   “Pria yang sudah ditebus oleh darah Yesus adalah pria yang hidup dalam terang. Dan ciri dari terang adalah hidup secara terang-terangan / keterbukaan. Pengakuan adalah kunci pemulihan. Jangan takut mengaku kalau memang salah. Akui dan minta maaf” (hal 8).

2.   “Kunci utama sebuah komunikasi yang berhasil adalah keterbukaan, sebaliknya ketertutupan adalah hal yang menghancurkan komunikasi. Para pria, terbukalah di hadapan Tuhan, keluarga, dan di hadapan orang lain” (hal 36).

Kalau kata-kata di atas ini saya hubungkan dengan keharusan menyatakan ‘cinta yang tidak berubah’ kepada istri, apa yang terjadi? Kata-kata di atas ini mengatakan kita harus terbuka. Kalau cinta kepada istri memang sudah berubah / luntur, haruskah tetap menyatakan cintanya tak berubah (dan dengan demikian bukan saja berdusta, tetapi juga bersikap tertutup / tidak terbuka), atau mengakui terus terang kepada istri kalau cintanya sudah luntur?

7)   Pdt. Kaleb Kiantoro mengajar: “A child is not likely to find a father in God unless he finds something of God in his father” (= Seorang anak tidak akan / kecil kemungkinannya untuk mendapatkan seorang bapa dalam Allah kecuali ia mendapatkan sesuatu dari Allah dalam bapanya).

Tanggapan saya:

Kalau dikatakan seorang anak harus mendapatkan sesuatu dari Allah dalam bapa / ayahnya, maka sebetulnya kalau kita bicara secara teologis, semua anak bisa mendapatkan sesuatu dari Allah dalam diri bapa / ayahnya, karena bapa / ayahnya adalah gambar dan rupa Allah (biarpun sudah rusak tetapi tidak musnah!).

Kalau mau dikatakan bahwa anak yang memiliki bapa / ayah yang rusak / bejat itu tidak menemukan sesuatu apapun dari Allah dalam diri bapa / ayahnya, dan itu menyebabkan ia tidak bisa / kecil kemungkinannya untuk mendapatkan seorang bapa dalam Allah, maka apakah itu berarti bahwa anak dari seorang bapa yang bejat tidak akan / kecil kemungkinannya untuk percaya kepada Yesus? Menurut saya ini sangat belum tentu! Dalam Alkitabpun sangat banyak orang yang adalah anak dari orang yang bejat, tetapi bisa percaya dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada banyak anak dari bapa yang beriman dan saleh, tetapi ternyata ia menjadi orang yang tidak percaya / orang jahat sampai mati.

8)   Ajaran yang berbau kesesatan: orang laki-laki harus menjadi imam dalam keluarga!

Pdt. Johan Gopur mengatakan: Sudahkah kita jadi imam dalam keluarga? Fungsi imam salah satunya adalah berdoa untuk keluarga. Tuhan pakai kita sebagai saluran / sumber berkat. Tetapi kalau saluran itu rusak, bagaimana? Keluarga kacau”.

Ia lalu mengutip 1Tim 2:8 – “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan”.

Catatan: ini kontextnya bukan doa untuk keluarga!

Ajaran bahwa orang laki-laki harus menjadi imam dalam keluarga juga banyak tersebar dalam buku-buku mereka.

Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, Edwin Louis Cole berkata:

Di dalam keluarga Anda haruslah ada seorang imam dan Allah sudah menentukan hal itu untuk diperankan oleh kaum pria. Entah Anda seorang murid sekolah Alkitab atau tidak, bila Anda seorang pria, Anda adalah seorang imam. Anda tetaplah seorang imam, entah Anda mempercayainya, menerimanya, menghidupinya, atau tidak menghiraukannya. Tugas seorang imam bukan hanya untuk melayani Tuhan, melainkan juga orang-orang yang dipercayakan ke dalam pemeliharaannya. Artinya, seorang pria harus melayani istri dan anak-anaknya. … Banyak pria yang gagal memahami bahwa mereka harus memenuhi tugas pelayanan mereka sebagai seorang imam di dalam keluarga. … Seorang imam di dalam keluarga harus mau berdoa bagi istrinya (hal 61,63).

Catatan: Karena istri bukan imam, jadi istri tidak perlu berdoa untuk keluarganya?

Dan dalam buku yang sama Edwin Louis Cole berkata:

“Karena imam dalam Perjanjian Lama merupakan perantara antara Allah dan manusia, seorang penengah, yaitu orang yang menyatakan anugerah Allah kepada umat dan disebut ‘bapak’, maka ayah di dalam rumah bertindak sebagai ‘imam’ bagi keluarga” (hal 163).

Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut:

“Dalam Matius 7:24-27 dijelaskan ada 2 macam rumah yang dibangun diatas dasar yang berbeda. Rumah berbicara tentang kehidupan dimana pria menjadi imamnya. Pria yang bijaksana (pintar) adalah pria yang mendengar dan melakukan Firman Tuhan. Pria tersebut membangun kehidupannya dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kuat dari Firman Tuhan.” (hal 2).

Catatan: ini merupakan penafsiran yang ngawur. Perumpamaan ini tak ada hubungannya dengan ajaran bahwa seorang laki-laki harus menjadi imam dalam keluarganya!

Lalu, dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ juga dikatakan sebagai berikut:

“Seorang pria harus terlebih dahulu berfungsi sebagai imam, sebelum ia berfungsi sebagai nabi” (hal 48).

Lalu, lagi-lagi dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut:

“Nabi, imam dan raja: jadilah seorang pria sejati. Seorang pria adalah seorang: Imam: Yaitu seorang mediator antara Allah dengan keluarganya. Anda tidak akan pernah bisa membawa Allah kepada keluarga Anda sebelum Anda membawa keluarga Anda kepada Allah. Nabi: Yaitu seorang yang menyampaikan suara Allah kepada keluarga. Dia menetapkan standar hidup keluarganya berdasarkan firman Tuhan. Raja: Yaitu seorang yang mempimpin (govern), melindungi (guard) dan menuntun (guide) keluarganya. Jika anda melakukan ketiga fungsi ini, keluarga anda akan menjadi keluarga yang diberkati Tuhan” (hal 119-120).

Dan dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:

“Ketika Kristus datang ke dunia, Dia menyatakan diriNya sebagai nabi, imam, dan raja. Para ayah juga dipanggil untuk menjadi nabi, imam, dan raja bagi keluarga mereka. Nabi berbicara sebagai wakil Allah kepada umatNya; imam berbicara kepada Allah mewakili umat Allah; dan raja memerintah atas dasar kerelaannya untuk melayani. Para pria dituntut untuk menjalankan ketiga peranan ini. … Jadi, tanggung jawab seorang pria terhadap keluarganya adalah mengarahkan, melindungi, dan memperbaiki; memelihara, menghargai, menegur; menjadi nabi, imam, dan raja. … Seorang pria bisa saja sukses dalam mengelola usahanya, namun gagal menjadi perantara Allah bagi keluarganya (hal 130,131).

Lalu dalam buku yang sama Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:

“Seorang ayah harus menjadi kepala dalam keluarga sebagaimana halnya Kristus adalah kepala bagi jemaatNya. Ia juga harus melayani keluarganya seperti Kristus melayani jemaatNya, yaitu sebagai nabi, imam, dan raja. Sebagai nabi, ia menyampaikan perkataan Allah kepada anak-anaknya. Sebagai imam, ia berbicara mewakili anak-anaknya kepada Allah. Sebagai raja, ia memerintah dan memimpin dengan suatu kerelaan untuk melayani mereka” (hal 335).

Catatan: tentang nabi, apakah Allah tak bisa bicara kepada anak-anak tanpa melalui ayahnya?

Tanggapan saya:

Dalam Alkitab memang ada ayat-ayat yang seolah-olah bisa dipakai sebagai dasar ajaran oleh ajaran ini. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini.

1Pet 2:5,9 – “(5) Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. …. (9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”.

Wah 1:6 – “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, BapaNya, – bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin”.

Wah 5:10 – “Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.’”.

Wah 20:6 – “Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya”.

Hal yang pertama dan terutama dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah: Kata ‘imam’ dalam semua ayat di atas berlaku untuk semua orang kristen, bukan yang laki-laki / suami saja, dan karena itu jelas tidak bisa dijadikan dasar ajaran mereka bahwa pria / suami harus menjadi imam dalam keluarga!

Semua orang Kristen adalah imam, dalam arti bahwa orang Kristen bisa langsung datang kepada Allah, dan tidak membutuhkan imam manusia.

Barclay (tentang 1Pet 2:9): “this means that every Christian has the right of access to God” (= ini berarti bahwa setiap orang Kristen mempunyai hak masuk kepada Allah) – hal 199.

Bahwa dalam jaman Perjanjian Baru tidak ada lagi imam manusia biasa seperti dalam Perjanjian Lama terlihat dari:

a)         Hanya Yesus yang adalah imam.

Ibr 4:14-15 – “(14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. (15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”.

Ibr 2:17 – “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.

1Tim 2:5 – “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.

b)   Tirai Bait Allah sobek pada saat Yesus mati (Mat 27:50-51).

Mat 27:50-51 – “(50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya. (51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,”.

Ini merupakan suatu tanda bahwa seluruh Bait Allah dengan korban-korban, upacara-upacara, dan imam-imamnya, harus dibuang!

c)   Jabatan Imam, Nabi dan Raja itu hanya untuk Yesus. Tak ada alasan untuk mengatakan bahwa ketiga jabatan itu juga berlaku untuk semua orang Kristen, apalagi untuk para pria / suami saja! Mengapa tidak sekalian mengharuskan para pria / ayah / suami menjadi Juruselamat / Penebus dosa keluarga?

 

Pria sejati / maximal (3)

9)   Pdt. Hengky Setiawan mengajar: Yang pertamakali makan buah terlarang memang Hawa, tetapi Ro 5:12 menunjuk kepada Adam, karena Kej 3:6 – Adam bersama-sama  dengan Hawa (kata Ibraninya ‘shoulder to shoulder’), tetapi ia diam saja. Juga karena perintah larangan makan diberikan kepada Adam, bukan kepada Hawa.

Tanggapan saya:

a)         Ro 5:12 jelas berbicara tentang dosa asal.

Ro 5:12 – “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Calvin: Paul distinctly affirms, that sin extends to all who suffer its punishment: and this he afterwards more fully declares, when subsequently he assigns a reason why all the posterity of Adam are subject to the dominion of death; and it is even this – because we have all, he says, sinned. But ‘to sin’ in this case, is to become corrupt and vicious; for the natural depravity which we bring from our mother’s womb, though it brings not forth immediately its own fruits, is yet sin before God, and deserves his vengeance: and this is that sin which they call original (= Paulus dengan jelas menegaskan, bahwa dosa meluas kepada semua yang mengalami hukumannya: dan sesudahnya ia dengan lebih penuh / lengkap menyatakan, pada waktu sesudah itu ia memberikan suatu alasan mengapa semua keturunan Adam tunduk pada kekuasaan dari kematian; dan itu adalah ini – katanya karena kita semua telah berdosa. Tetapi ‘berbuat dosa’ dalam kasus ini, artinya menjadi buruk dan jahat / keji; karena kebejatan alamiah yang kita bawa dari kandungan ibu kita, sekalipun itu tidak segera menghasilkan buahnya sendiri, tetap adalah dosa di hadapan Allah, dan layak mendapatkan pembalasanNya: dan ini adalah dosa yang kita sebut ‘orisinil / asal’).

b)         Kata-kata Pdt. Hengky Setiawan ini salah / ngawur entah dari mana.

Kej 3:6 – “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya”.

Pdt. Hengky Setiawan mengatakan  bahwa arti dari kata bahasa Ibraninya adalah ‘shoulder to shoulder’ (= bahu membahu / rapat-rapat). Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan khayalan ini, tetapi yang jelas kata bahasa Ibraninya sama sekali tidak berarti seperti itu. Kata bahasa Ibraninya adalah IMMAH, yang artinya ‘with her’ (= dengan dia). Jadi, pada waktu diterjemahkan ‘bersama-sama dengan dia’, itu merupakan terjemahan yang cukup baik / benar.

KJV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘with her’ (= dengan / bersama-sama dia).

c)   Pdt. Hengky Setiawan mengatakan: Adam bersama-sama dengan Hawa, tetapi ia diam saja. Jadi, ia beranggapan bahwa pada waktu setan / ular menggodanya, Adam ada bersama dengan Hawa.

Hal yang serupa juga diajarkan dalam buku mereka, yang berjudul ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Adam tidak bertindak ketika Hawa dibujuk oleh ular untuk memakan buah pohon terlarang. Adam seharusnya mencegah Hawa memakan buah itu, tetapi tidak dilakukannya” (hal 114).

Tanggapan saya:

Coba kita perhatikan Kej 3:1-6.

Kej 3:1-6 – “(1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’ (2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’ (4) Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, (5) tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.’ (6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya”.

Kalau dilihat ay 1-6a, hanya ular dan Hawa / perempuan itu yang dibicarakan. Adam baru muncul dalam ay 6b. Jadi, Alkitab tidak mengatakan bahwa Adam ada bersama Hawa ketika Hawa digodai setan, sekalipun bisa saja diartikan demikian dari ay 6. Tetapi ay 6 bisa diartikan bahwa setelah mengambil dan memakan buah itu, baru Hawa memberikan kepada Adam ketika ia bersama / bertemu dia. Dan karena itu saya beranggapan bahwa ketika Hawa digoda, ia sendirian, Adam tidak bersama dia. Setelah ia makan, baru ia menemui Adam dan memberikan buah itu kepada Adam.

Matthew Henry (tentang Kej 3:1-5): “The person tempted was the woman, now alone, and at a distance from her husband, but near the forbidden tree. … It was his policy to enter into discourse with her when she was alone. … Satan tempted Eve, that by her he might tempt Adam” [= Orang yang dicobai adalah si perempuan, sekarang sendirian, dan pada suatu jarak dari suaminya, tetapi dekat dengan pohon terlarang. ... Merupakan politiknya untuk masuk ke dalam pembicaraan dengan dia (Hawa) pada waktu dia sedang sendirian. ... Iblis menggoda Hawa, supaya olehnya ia bisa menggoda Adam].

Matthew Henry (tentang Kej 3:6): “It is probable that he was not with her when she was tempted (surely, if he had, he would have interposed to prevent the sin), but came to her when she had eaten” [= Adalah mungkin bahwa ia (Adam) tidak bersama dengan dia (Hawa) pada waktu ia dicobai (pasti, seandainya ia bersamanya, ia sudah akan ikut campur untuk mencegah dosa itu), tetapi datang kepadanya pada waktu ia telah memakannya].

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kej 3:6): “‘Adam was not deceived’ (1 Tim 2:14), but he ate without seeing the serpent; and after the scene of deception was past, he yielded to the arguments and solicitations of his wife” [= ‘Adam tidak ditipu’ (1Tim 2:14), tetapi ia makan tanpa melihat sang ular; dan setelah adegan penipuan itu sudah berlalu, ia menyerah pada argumentasi dan permintaan dari istrinya].

1Tim 2:14 – “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”.

Kata ‘tergoda’ dalam Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.

KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘deceived’ (= ditipu).

Kelihatannya, Edwin Louis Cole dalam hal ini mempunyai pandangan yang benar. Dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, ia berkata:

  • “Seekor ular – yang merupakan wujud samaran iblis – membujuk Hawa untuk melintasi satu-satunya batasan yang ditetapkan Allah baginya dan suaminya. Ia memakan buah pohon larangan itu. Kemudian, ia melakukan hal yang secara tragis diulangi terus-menerus oleh umat manusia – ia mendorong Adam mengikuti jejaknya dan melakukan kesalahan yang sama. Adam mendengarkan bujukan Hawa dan melakukannya” (hal 63).
  • “Dalam usahanya menyesatkan manusia, iblis tidak langsung mendatangi Adam. Ia mendekati Hawa dan menipunya sehingga Hawa terbujuk untuk makan buah itu” (hal 226).

Jadi, mengapa pandangan Edwin Louis Cole berbeda dengan Pdt. Hengky Setiawan dan buku ‘Hikmat Bagi Pria’?

d)   Sekarang apa sebabnya Ro 5:12 menunjuk kepada Adam, dan bukan kepada Hawa, padahal Hawa yang lebih dulu makan buah terlarang itu?

Jawabannya bukan seperti yang dikatakan oleh Pdt. Hengky Setiawan, bahwa karena Adam bersama dengan Hawa pada saat itu, ataupun karena larangan makan buah itu diberikan kepada Adam, tetapi karena:

1.   Adam adalah manusia yang pertama, dan Hawa maupun semua manusia yang lain berasal dari dia. Adam sebagai manusia pertama merupakan wakil dari umat manusia, dan karena itu pada waktu ia jatuh, semua manusia / keturunannya terseret bersama dengan dia.

Kis 17:26 – Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,”.

Ro 5:15-19 – “(15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (16) Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.

1Kor 15:21-22 – “(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”.

2.   Adanya ‘covenant’ / perjanjian antara Allah dan Adam.

a.   Ada orang-orang yang menolak adanya covenant / perjanjian antara Allah dan Adam.

Alasannya:

  • ·         Tak ada kata ‘covenant’ / perjanjian dalam Kej 1-3.

Jawab:

Memang kata ‘covenant’ / perjanjian tidak ada, tetapi idenya ada (bdk. kata ‘Tritunggal’ yang juga tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi ide / ajarannya ada). Disamping, kata itu ada dalam ayat lain yang akan kita bahas pada point b.di bawah.

  • ·         Tidak ada persetujuan dari pihak Adam terhadap ‘covenant’ / perjanjian ini.

Jawab:

Demikian juga waktu Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh (Kej 9) dan dengan Abraham (Kej 17). Allah dan manusia tidak mengadakan perjanjian sebagai pihak-pihak yang sederajat! Allah berdaulat, dan karena itu Ia menentukan, dan manusia harus menerima!

Ini bedanya ‘covenant’ dengan ‘agreement’. ‘Agreement’ adalah perjanjian antara 2 pihak yang sederajat, tetapi ‘covenant’ adalah perjanjian antara 2 pihak yang tidak sederajat.

b.   Ayat Kitab Suci yang menunjukkan adanya covenant antara Allah dengan Adam adalah Hos 6:7 – “Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam. Tetapi Kitab Suci Indonesia salah terjemahannya. Terjemahan sebenarnya dari Hos 6:7 adalah: ‘But they, like Adam, have transgressed the covenant’ (= Tetapi mereka, seperti Adam, telah melanggar perjanjian).

Terjemahan ini menunjukkan bahwa Adam memang melanggar perjanjian (covenant).

Memang ada penafsiran yang berbeda tentang ayat ini:

  • ·         Ada yang mengartikan ‘di Adam / at Adam’ (Kitab Suci Indonesia / RSV) dimana Adam adalah nama suatu tempat.

Keberatan terhadap penafsiran ini:

*        Dalam bahasa Ibrani digunakan kata depan ‘KI’, dan ini tidak bisa diartikan ‘di / at’. Artinya adalah ‘like / as / seperti’.

*        Dalam Kitab Suci tidak pernah diceritakan tentang seseorang yang berbuat dosa ditempat yang bernama Adam.

  • ·         Ada yang menterjemahkan ‘like men’ / ‘seperti manusia-manusia’ (KJV/NKJV).

Keberatannya:

*        Dalam bahasa Ibrani digunakan bentuk tunggal sedangkan ‘men’ berbentuk jamak.

*        Kalimat Hos 6:7 itu menjadi tidak ada artinya.

Jadi kedua penafsiran di atas ini salah, dan arti yang benar adalah ’like Adam’ / ‘seperti Adam’ (NIV/NASB/ASV) dan ini membuktikan bahwa ada ‘covenant’ antara Allah dengan Adam.

10) Pdt. Hengky Setiawan mengajar: Mengaku dosa kepada Tuhan dan sesama. Mengaku dosa kepada sesama tidak menyebabkan dosa diampuni, tetapi supaya kamu sembuh (bukan secara fisik, tetapi lepas dari keterikatan dosa, kebiasaan buruk)!! Juga dosa yang melukai tubuh Kristus. Ia memakai ayat Kis 9 tentang kata-kata Yesus kepada Paulus yang menganiaya gereja. Dosa yang melukai tubuh Kristus contohnya: fitnah, hutang tak dibayar. Ia juga menggunakan Amsal 28:13 – “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi”. Ia juga mengatakan: Ada 2 dosa yang harus diakui: dosa yang mengikat kita, dan dosa yang melukai tubuh Kristus.

Tanggapan saya:

a)   Sama sekali tidak ada ayat Alkitab yang mengatakan bahwa kalau kita mengaku dosa kepada sesama (dosa apapun itu adanya), maka kita akan sembuh (dalam arti bukan secara fisik, tetapi lepas dari keterikatan dosa / kebiasaan buruk). Lagi-lagi ajaran tanpa dasar Alkitab! Siapapun yang menghormati otoritas Alkitab sebagai Firman Tuhan, harus mengabaikan ajaran yang tidak punya dasar Alkitab seperti ini!

Tetapi bagaimana dengan Yak 5:14-16 – “(14) Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. (15) Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. (16) Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”.

Kesembuhan yang dibicarakan dalam Yak 5:16 itu jelas merupakan kesembuhan jasmani, karena kontextnya juga sakit secara jasmani (ay 14-15). Adanya pengakuan dosa dalam Yak 5:16a kelihatannya menunjukkan bahwa penyakit itu merupakan hajaran Tuhan karena orang itu berbuat dosa. Dalam hal ini tidak cukup mengaku dosa kepada Tuhan, tetapi harus juga kepada sesama, dan baru Tuhan akan mencabut hajaranNya dengan menyembuhkan orang itu dari penyakit jasmaninya.

Matthew Henry (tentang Yak 5:16): “Indeed, where any are conscious that their sickness is a vindictive punishment of some particular sin, and they cannot look for the removal of their sickness without particular applications to God for the pardon of such a sin, there it may be proper to acknowledge and tell his case, that those who pray over him may know how to plead rightly for him. But the confession here required is that of Christians to one another, and not, as the papists would have it, to a priest. Where persons have injured one another, acts of injustice must be confessed to those against whom they have been committed” (= Memang, dimana siapapun menyadari bahwa penyakit mereka merupakan suatu hukuman yang bersifat pembalasan terhadap dosa khusus / tertentu, dan mereka tidak bisa mencari pembersihan dari penyakit mereka tanpa permintaan khusus kepada Allah bagi pengampunan terhadap dosa seperti itu, di sana adalah benar / tepat untuk mengakui dan menceritakan kasusnya, supaya mereka yang berdoa atasnya bisa tahu bagaimana memohon dengan benar untuknya. Tetapi pengakuan yang diharuskan di sini adalah pengakuan dari orang-orang Kristen satu kepada yang lain, dan bukan, seperti para pengikut Paus melakukannya, kepada seorang imam / pastor. Dimana orang-orang telah melukai / merugikan satu sama lain, tindakan-tindakan ketidak-adilan harus diakui kepada mereka terhadap siapa hal itu telah dilakukan).

Barnes’ Notes (tentang Yak 5:16): This seems primarily to refer to those who were sick, since it is added, ‘that ye may be healed.’ The fair interpretation is, that it might be supposed that such confession would contribute to a restoration to health. The case supposed all along here (see James 5:15) is, that the sickness referred to had been brought upon the patient for his sins, apparently as a punishment for some particular transgressions. … In such a case, it is said that if those who were sick would make confession of their sins, it would, in connection with prayer, be an important means of restoration to health. The duty inculcated, and which is equally binding on all now, is, that if we are sick, and are conscious that we have injured any persons, to make confession to them. … The particular reason for doing it which is here specified is, that it would contribute to a restoration to health – ‘that ye may be healed.’” [= Ini kelihatannya terutama menunjuk kepada mereka yang sakit, karena ditambahkan kata-kata ‘supaya kamu disembuhkan’. Penafsiran yang adil adalah, bahwa bisa dianggap bahwa pengakuan seperti itu akan memberikan sumbangsih pada suatu pemulihan kesehatan. Kasus yang diduga / diandaikan di sini (lihat Yak 5:15) adalah, bahwa penyakit yang ditunjuk telah dibawa kepada pasien itu untuk / karena dosa-dosanya, kelihatannya sebagai suatu hukuman untuk beberapa pelanggaran-pelanggaran tertentu. ... Dalam kasus seperti itu, dikatakan bahwa jika mereka yang sakit mau membuat pengakuan tentang dosa-dosa mereka, itu akan, berhubungan dengan doa, merupakan suatu cara yang penting dari pemulihan pada kesehatan. Kewajiban yang ditanamkan, dan yang mengikat semua orang secara sama sekarang, adalah, bahwa jika kita sakit, dan kita menyadari bahwa kita telah melukai / merugikan siapapun juga, membuat pengakuan kepada mereka. ... Alasan khusus untuk melakukan ini yang dinyatakan di sini adalah, bahwa itu akan memberikan sumbangsih pada suatu pemulihan pada kesehatan - ‘supaya kamu disembuhkan’.].

b)   Amsal 28:13 memang berurusan dengan pengakuan dosa, tetapi kepada Tuhan, dan bukan kepada sesama! Hal ini terlihat dengan lebih jelas lagi kalau kita juga membaca Amsal 28:14nya.

Amsal 28:13-14 – “(13) Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. (14) Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka”.

Penghubungan dengan kata-kata ‘takut akan TUHAN’ (Amsal 28:14a) jelas menunjukkan bahwa ‘menyembunyikan pelanggaran’ (Amsal 28:13a), ‘mengakui’ (Amsal 28:13b), ataupun ‘mengeraskan hati’ (Amsal 28:14b), semuanya berurusan / berhubungan dengan Tuhan, bukan dengan manusia!

c)   Saya tidak mengerti mengapa untuk dosa melukai tubuh Kristus ia memberi contoh memfitnah dan hutang yang tidak dibayar. Ini adalah dosa yang kita lakukan hanya kepada satu dua orang dalam gereja. Itu tidak bisa disebut sebagai tubuh Kristus, paling-paling bisa disebut sebagai anggota tubuh Kristus. Ini beda dengan Paulus dalam Kis 9 yang memang mau menangkap, menyiksa, dan membunuh seadanya orang Kristen.

d)   Tentang dosa apa saja yang harus diakui, saya berpendapat bahwa kita harus mengakui seadanya dosa kepada Allah. Sedangkan kalau kepada sesama, hanya dosa-dosa yang menyakiti / merugikan sesama yang harus diakui kepada sesama. ‘Dosa yang mengikat kita’, selama itu tidak merugikan / menyakiti sesama, tak harus diakui kepada sesama.

Mat 5:23-24 – “(23) Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, (24) tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”.

II) Pembahasan tentang buku-buku.

Sebelum masuk dalam pembahasan buku-buku mereka, sekali lagi saya tekankan: dalam camp mereka ada buku-buku yang dibagikan, dan juga dalam camp mereka, mereka menjual buku-buku lain yang berhubungan dengan ‘pria sejati / maximal’. Kalaupun dalam camp tak ada kesesatan yang fatal, tetapi dalam buku-buku mereka ada banyak kesesatan yang fatal, maka itu tetap merupakan tanggung jawab dari para pengurus / panitia camp dari pria sejati / maximal! Bukankah ajaran mereka sendiri mengatakan bahwa pria harus berani bertanggung jawab?

Mat 18:6-7 – “(6) ‘Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. (7) Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”.

A)  Hal-hal yang salah dalam persoalan sejarah Alkitab, sejarah gereja, maupun fakta-fakta Alkitab.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

1)         “Dikandung oleh Roh Kudus, Yesus lahir ke dunia sebagai ….” (hal 64).

Seharusnya bukan ‘dikandung oleh Roh Kudus’ karena ini akan menunjukkan bahwa Roh Kudusnya yang mengandung! Yang benar adalah ‘dikandung dari pada / dari Roh Kudus’ (bandingkan dengan 12 Pengakuan Iman Rasuli).

Bdk. Mat 1:18 – “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri”.

2)   “Kalau kita hanya mempedulikan makanan dan seks, saling menerkam, sepanjang hidup mengembara tanpa tujuan dan hanya untuk mencari kesenangan pribadi serta hidup hanya menuruti naluri, maka itu berarti bahwa kita benar-benar telah hidup setaraf dengan binatang. Namun, binatang pun tidak merusak lingkungannya seperti kita. Binatang juga tidak merusak dan mencemari mental, fisik, dan keadaan sosial seperti yang telah kita lakukan. Tingkah laku manusia yang semacam itulah yang akhirnya dinilai sejajar dengan perilaku binatang. Penilaian itu selanjutnya telah melahirkan teori bahwa umat manusia berasal dari binatang.” (hal 122).

Apa iya teori itu yang melahirkan teori evolusi? Saya sama sekali tidak percaya! Merupakan sesuatu yang mustahil kalau para ahli ilmu pengetahuan itu, yang hampir semuanya kafir dan bahkan anti Alkitab / Kristen, akan begitu rohani dengan memperhatikan perilaku moral manusia yang menyerupai binatang, atau bahkan lebih buruk dari binatang. Mereka hanya memperhatikan bentuk yang mirip antara manusia dengan binatang (kera), dan juga tulang-tulang / fosil-fosil yang mirip.

3)         “Pada waktu Samuel mengurapi Daud menjadi raja, Saul menjadi amat murka” (hal 126).

Ini salah, karena Saul tidak tahu akan pengurapan itu! Pengurapan Daud oleh Samuel terjadi dalam 1Sam 16, dan dengan perintah Tuhan, hal itu disembunyikan dari Saul.

1Sam 16:1-5 – “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagiKu.’ (2) Tetapi Samuel berkata: ‘Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.’ Firman TUHAN: ‘Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. (3) Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagiKu orang yang akan Kusebut kepadamu.’ (4) Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: ‘Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?’ (5) Jawabnya: ‘Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.’ Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu”.

Setelah Daud mengalahkan Goliat dalam 1Sam 17, ia dipanggil menghadap Saul, dan dijadikan kepala prajurit (1Sam 18:5). Saul baru mulai tidak senang kepada Daud karena Daud dipuji lebih dari dirinya (1Sam 18:6-dst).

4)   “Martin Luther. … Orang-orang yang mempercayai firman tersebut dan mengikuti Luther kemudian disebut sebagai ‘kaum Lutheran’, …” (hal 139).

Orang ini tidak mengerti sejarah! Orang Lutheran bukan mengikuti Martin Luther, tetapi mengikuti Philip Melanchton, pengganti dari Martin Luther. Karena itu, teologia mereka bukan Calvinist (seperti Luther), tetapi Arminian (seperti Philip Melanchton)!

5)   “Usus buntu, yang menyerap bagi dirinya sendiri seluruh vitalitas yang sebenarnya dimaksudkan untuk kelangsungan hidup seluruh tubuh, adalah bagian tubuh manusia yang sering harus dihilangkan demi kesehatan tubuh. Membiarkan satu anggota tubuh menguasai fungsi anggota-anggota yang lainnya adalah tindakan yang dapat mematikan” (hal 109).

Ini ilmu kedokteran dari mana? Usus buntu menyerap bagi dirinya sendiri seluruh vitalitas yang sebenarnya dimaksudkan untuk kelangsungan hidup seluruh tubuh? Juga usus buntu (umbai cacing!) kalau dihilangkan, itu bukan demi kesehatan seluruh tubuh, tetapi karena usus buntu / umbai cacing itu bermasalah!

6)   “Kemudian dengan mengandalkan pengalaman tersebut, mereka menyerbu kota Ai, namun ternyata justru mengalami kekalahan hebat (Yosua 6-7). Penyebabnya adalah: mereka merasa sudah kuat sehingga lupa berdoa (hal 149).

Ini ngawur / salah. Mereka kalah bukan karena ‘mengandalkan pengalaman’, dan juga bukan karena ‘merasa sudah kuat sehingga lupa berdoa’! Mereka kalah karena pencurian yang dilakukan oleh Akhan! Ini dinyatakan secara explicit dalam Yos 7:10-12 – “(10) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ‘Bangunlah! Mengapa engkau sujud demikian? (11) Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjianKu yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya dan mereka menaruhnya di antara barang-barangnya. (12) Sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya. Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun dikhususkan untuk ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.

7)   “Nehemia bersikap loyal terhadap visi untuk membangun kembali tembok dan Bait Suci di Yerusalem ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan. Ia membangun Bait Suci itu dengan mempertaruhkan nyawanya; dengan satu tangannya memegang peralatan dan tangan yang lain memegang senjata. Meskipun bait itu kemudian dikenal sebagai Bait Zerubabel, namun penghargaan tetap diberikan kepada Nehemia dan orang-orang yang setia menyertainya” (hal 161).

Dia ngawur lagi. Nehemia tidak membangun Bait Suci, tetapi hanya tembok Yerusalem! Itu adalah dua hal yang sangat berbeda.

Neh 2:17 – “Berkatalah aku kepada mereka: ‘Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.’”.

Neh 4:7 – “Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka”.

Neh 12:27 – “Pada pentahbisan tembok Yerusalem orang-orang Lewi dipanggil dari segala tempat mereka dan dibawa ke Yerusalem untuk mengadakan pentahbisan yang meriah dengan ucapan syukur dan kidung, dengan ceracap, gambus dan kecapi”.

Pembangunan kembali Bait Allah dilakukan oleh Zerubabel dan kawan-kawannya (baca kitab Ezra 1-6).

8)   “Nabi Natan menegur Raja Daud dengan mengatakan bahwa perzinaannya dengan Batsyeba merupakan penghujatan bagi nama Yehova” (hal 163).

Ini salah. Nabi Natan tak pernah mengatakan bahwa perzinahan Daud dengan Batsyeba merupakan penghujatan bagi nama Yehovah / TUHAN.

2Sam 12:9 – “Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mataNya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon”.

KJV: ‘despised the commandment of the LORD’ (= menganggap hina / memandang rendah perintah / hukum TUHAN).

RSV/NIV/NASB: ‘despised the word of the LORD’ (= menganggap hina / memandang rendah firman TUHAN).

Yang paling benar adalah terjemahan RSV/NIV/NASB. Jadi Natan mengatakan bahwa dengan tindakannya itu Daud memandang rendah firman Tuhan.

9)   “Allah secara langsung memerintahkan Adam untuk tidak menyentuh buah pohon pengetahuan yang ada di tengah Taman Eden. … Selanjutnya ketika Adam dan Hawa mendengar suara Allah memanggil mereka di Taman Eden untuk bersekutu denganNya, mereka pun bersembunyi. Ketika Allah bertanya kepada Adam, ia mengakui bahwa ia bersembunyi karena merasa bersalah dan ketakutan. Pertanyaan Allah selanjutnya adalah apakah Adam telah melanggar perintahNya dan memakan buah itu” (hal 226).

Ia ngawur saja dalam menceritakan. ‘Tidak menyentuh’? Itu kata-kata Hawa yang menambahi firman!

Juga Adam tidak pernah mengaku bersalah! Dan kalau Adam sudah mengaku bersalah, mengapa kemudian ditanya lagi tentang apakah ia sudah makan buah itu??

Kej 3:2-3,9-12 – “(2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’ … (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’ (10) Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’ (11) FirmanNya: ‘Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?’ (12) Manusia itu menjawab: ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’”.

10) “Allah menghendaki Adam benar-benar menjadi seorang pria. Oleh karena itulah Dia mengajukan pertanyaan berikut ini kepada Adam, ‘Jawab pertanyaan ini: Engkau memakannya atau tidak?’ (hal 227).

Kapan dan dimana Allah bertanya seperti itu?

11) “Daud, raja Israel, memiliki seorang sahabat dan penasihat terpercaya bernama Ahitofel (2Samuel 15), yang memiliki hikmat yang luar biasa dan bertindak sebagai jurubicara Allah (hal 294)

Ahitofel adalah jurubicara Allah???

Bdk. 2Sam 16:23 – “Pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom”.

Ini tidak berarti ia jurubicara Allah! Apalagi pada saat itu ia sedang memberikan nasehat terkutuk kepada Absalom, untuk meniduri istri-istri Daud, ayahnya.

12) “Bunuh diri adalah penyebab kematian nomor dua di kalangan anak muda Amerika” (hal 338).

Apa iya? Kok tak masuk akal.

13) “Menurut penulis tersebut, falsafah bangsa Yunani kuno adalah, ‘Jangan terlalu membusungkan dada, nanti dewa-dewa cemburu dan memukulmu roboh.’ … Saya lebih senang kalau kita membuang dewa-dewa Yunani kuno itu dan mencoba Allah yang lain. Allah yang tidak pernah cemburu, … ” (hal 357).

Ini bertentangan dengan dengan:

a)   Kel 20:5 – “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”.

b)   Kel 34:14 – “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.

c)   Ul 4:24 – “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu.

d)   Ul 6:14-15 – “(14) Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, (15) sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.

Apa point / tujuan saya menunjukkan hal-hal ini? Tujuannya adalah: kalau orang ini begitu ceroboh dan ngawur dalam fakta-fakta Alkitab, fakta-fakta sejarah, dalam ilmu pengetahuan, dsb, bagaimana mungkin ia bisa teliti dan benar / nggenah dalam penafsiran dan pengajaran??

 

Pria sejati / maximal (4)

B)  Ajaran tanpa dasar Alkitab, penggunaan ayat-ayat yang salah / tidak cocok, penafsiran yang salah / kacau.

1)   “Keharmonisan hubungan otoritas (papa dan mama) akan menciptakan suasana rukun atau atmosfer kemesraan bagi anak-anak. Dan Tuhan akan memerintahkan berkat mengalir atasnya (Mzm 133:1-3)” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 22).

Tanggapan saya: lagi-lagi ini merupakan penggunaan ayat yang out of context.

Maz 133:1-3 – “(1) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (2) Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. (3) Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”.

Kata ‘saudara-saudara’ dalam text di atas ini jelas menunjuk kepada ‘saudara-saudara seiman’, bukan kepada ‘keluarga’, tetapi penulis buku ini menerapkannya kepada keluarga.

Jamieson, Fausset & Brown: “The children of Israel, being all children of God, not only by creation, but also by national adoption, were all ‘brethren.’ The great festivals were designed to be occasions for realizing this brotherhood and communion of saints” (= Anak-anak Israel, yang adalah anak-anak Allah, bukan hanya oleh penciptaan, tetapi juga oleh pengadopsian nasional, adalah ‘saudara-saudara’. Pesta-pesta / perayaan-perayaan besar dirancang untuk menjadi peristiwa-peristiwa untuk merealisasikan persaudaraan ini dan persekutuan orang-orang kudus).

2)   “Tuhan menginginkan pria memiliki konsistensi, ketegasan dan kekuatan. Sedangkan wanita adalah utusan atau dutanya Tuhan bagi pria (Kej 2:22); Tuhan adalah bos atau penguasanya dan wanita mengemban tugas melaksanakan visi dan misi Tuannya” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 30).

Tanggapan saya: Ini ajaran gila! Kalau demikian, wanita ada di atas pria! Dan ayat yang digunakan sangat tidak cocok!

Kej 2:22 – “Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu.

Dari mana dari ayat seperti ini bisa terlihat kalau perempuan itu utusan / duta Tuhan bagi pria, ataupun bahwa wanita mengemban tugas melaksanakan visi dan misi Tuannya?

3)   “Kata ‘bapak’ dalam bahasa Aram ditulis dengan kata ‘Abba’, yang artinya ‘Source’ (sumber). Kalau sumbernya baik (Excellent), yang terjadi adalah dibawahnya (anak-anaknya) akan baik pula. Tetapi kalau sumbernya teracuni, maka yang terjadi dibawahnya (orang-orang yang dia pimpin: keluarga, masyarakat, bangsa), akan teracuni pula. Ada pepatah yang berkata: ‘Katakan siapa ayahmu (pemimpinmu) maka saya akan tahu siapa dirimu!’ Jadi anak-anak ataupun rakyat adalah cermin yang sesungguhnya dari ayah mereka atau pemimpin mereka. Dalam peristiwa Hollocaust (Nazi Jerman), karena pemimpin yang salah (pria yang jahat) yang bernama Hitler, akibatnya jutaan orang Yahudi mati dengan sia-sia di tangan para prajurit Nazi yang telah dipengaruhi oleh pemimpin mereka. Dalam bukunya yang berjudul ‘Warisan Abadi’ (terbitan Metanoia), penulis Steven J. Lawson menceritakan tentang satu pria yang bernama Jonathan Edward (pengobar kebangunan rohani di AS). Pria yang hidup dengan takut akan Tuhan ini mempunyai 1.200 keturunan dibawahnya yang menjadi orang-orang yang luar biasa. Diantara keturunannya, banyak yang menjadi misionaris-misionaris yang dipakai Tuhan luarbiasa, dokter-dokter spesialis, penulis-penulis buku yang bermutu, bahkan salah satu dari keturunan Jonathan Edward ini telah menjadi wakil presiden AS. Pria yang besar secara karakter, integritas, dan spiritnya, akan melahirkan gereja yang kuat, gereja yang kuat akan melahirkan kota dan bangsa yang kuat. Para pria, ditanganmulah terletak kekuatan dan kebesaran atas keluarga, gereja, dan bangsa.” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 34).

Tanggapan saya:

a)   Saya tak pernah tahu bahwa kata ‘Abba’ bisa berarti ‘sumber’, dan dari Bible Works 7 maupun Vine’s Expository Dictionary of New Testament Words, hal itu sama sekali tidak terlihat. Arti kata itu adalah ‘bapa’.

Dalam Alkitab, kata ini muncul 3 x, dan semuanya menunjukkan bahwa artinya adalah ‘bapa’, yaitu:

  • ·         Mark 14:36 – “KataNya: ‘Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu, ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.’”.
  • ·         Ro 8:15 – “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
  • ·         Gal 4:6 – “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.

b)   Ajaran ini tidak menggunakan dasar Alkitab sama sekali! Sekarang mari kita perhatikan beberapa hal ini:

1.   Kalau bicara tentang sumber teratas / ‘bapa’ teratas kita, maka itu adalah Adam (Kej 1).

Kis 17:26 – Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,”.

Dan bukan hanya bahwa sumber / bapa teratas ini rusak karena kejatuhannya ke dalam dosa, tetapi semua orang sumber / bapa teratasnya adalah dia (Adam). Lalu mengapa orang-orang jaman sekarang ini bisa berbeda-beda, ada yang beriman maupun kafir, ada yang pandai maupun bodoh, ada yang sukses maupun gagal, ada yang kaya maupun miskin dsb?

2.   Banyak contoh sebaliknya. Abraham adalah ‘pria yang agung / hebat’, bukan? Bagaimana dengan keturunannya, khususnya yang dari Ismael ataupun dari Esau? Daud adalah pria yang hebat bukan? Bagaimana dengan Absalom, Adonia, dan Amnon? Yesus adalah ‘pria yang terhebat’, bukan? Juga, bagaimana dengan Yudas Iskariot? Pemimpinnya adalah Yesus yang maha suci, tetapi bagaimana kehidupan Yudas Iskariot?

c)   Saya ingin membahas contoh yang ia berikan tentang Jonathan Edward. Ia, sebagai seorang ahli theologia Reformed, adalah orang yang hebat dalam hal rohani, bukan? Kalau dari keturunannya ada misionaris-misionaris, maka ini cocok dengan jalan pemikiran dari penulis ini. Tetapi kalau dikatakan bahwa dari keturunannya ada dokter-dokter spesialis, penulis-penulis buku-buku yang bermutu (ini buku rohani atau sekuler?), dan wakil presiden, maka contoh-contoh ini adalah ‘hebat secara sekuler’, dan karena itu sama sekali tidak cocok dengan Jonathan Edward yang hebat secara rohani!

Jadi, kelihatannya penulis di atas mencampur-adukkan kesuksesan rohani dan sekuler / duniawi. Menganut Theologia Kemakmuran?

d)   Sekarang kita soroti kata-kata “Pria yang besar secara karakter, integritas, dan spiritnya, akan melahirkan gereja yang kuat, gereja yang kuat akan melahirkan kota dan bangsa yang kuat”.

Saya beranggapan bahwa dalam negara dimana Kristen merupakan agama minoritas, ini sangat tidak pasti. Sekalipun ada pendeta yang hebat, membentuk gereja yang hebat, tetapi pengaruhnya atas kota, bangsa dan negara akan sangat kecil!

e)   Sekarang kita soroti kalimat terakhir yaitu: “Para pria, ditanganmulah terletak kekuatan dan kebesaran atas keluarga, gereja, dan bangsa”.

Kata-kata ini tidak Alkitabiah! Tidak ada apapun yang tergantung kita, dan tidak ada apapun yang ada di tangan kita. Semua tergantung Tuhan dan penetapanNya, dan karena itu semua terletak di tangan Tuhan. Coba bandingkan dengan ayat-ayat ini:

  • ·         Ef 1:4-5 – “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.
  • ·         Maz 75:7-8 – “(7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain.
  • ·         Amsal 16:9 – “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.
  • ·         Yer 10:23 – “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya”.
  • ·         Amsal 19:21 – “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.
  • ·         Pkh 7:14 – “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya”.
  • ·         Yes 45:6b-7 – “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.
  • ·         Mat 10:29-30 – “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.
  • ·         Yak 4:13-16 – “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah”.

4)   “Pria yang sudah ditebus oleh darah Yesus adalah pria yang hidup dalam terang. Dan ciri dari terang adalah hidup secara terang-terangan / keterbukaan. Pengakuan adalah kunci pemulihan. Jangan takut mengaku kalau memang salah. Akui dan minta maaf” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 8).

“Kunci utama sebuah komunikasi yang berhasil adalah keterbukaan, sebaliknya ketertutupan adalah hal yang menghancurkan komunikasi. Para pria, terbukalah di hadapan Tuhan, keluarga, dan di hadapan orang lain” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 36).

Tanggapan saya: penulis ini mengatakan bahwa ‘ciri dari terang adalah hidup secara terang-terangan / keterbukaan’. Mana dasar Alkitabnya?

Kalau dalam Alkitab, orang yang adalah anak terang, diharuskan hidup dalam terang (hidup saleh), dalam arti tidak ikut dalam perbuatan kegelapan / dosa, sebaliknya menelanjangi perbuatan-perbuatan itu (menyatakan dosa). Ini berbeda dengan hidup secara terang-terangan / keterbukaan.

Ef 5:8-13 – “(8) Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, (9) karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, (10) dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. (11) Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. (12) Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. (13) Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang”.

Mat 5:14-16 – “(14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’”.

Memang dalam hal-hal tertentu orang Kristen harus cukup mempunyai keterbukaan. Tetapi pertanyaannya adalah: seterbuka apa? Jujur tidak berarti harus membuka semua rahasia kita!

Contoh:

a)   1Sam 16:1-5 – “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagiKu.’ (2) Tetapi Samuel berkata: ‘Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.’ Firman TUHAN: ‘Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. (3) Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagiKu orang yang akan Kusebut kepadamu.’ (4) Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: ‘Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?’ (5) Jawabnya: ‘Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.’ Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu”.

Tuhan sendiri tidak menyuruh Samuel bersikap terbuka! Tetapi perlu dicamkan bahwa memberitakan setengah kebenaran seperti ini hanya boleh dilakukan terhadap orang-orang jahat yang memang tidak berhak mendapatkan / mengetahui kebenaran.

b)   Yesus dari semula tahu kalau Yudas Iskariot akan mengkhianati Dia, tetapi Ia tidak pernah ‘terbuka’ dalam hal itu!

Yoh 6:64 – “Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.’ Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia”.

Tetapi Ia tak pernah terbuka dalam hal itu, sehingga sampai pengkhianatan itu terjadi, tak seorang muridpun tahu akan hal itu.

Catatan: saya sering mendengar bahwa dalam camp-camp yang mereka adakan, para pria diajarkan untuk mengakui perzinahan mereka kepada istri mereka, dan bahkan harus mengakuinya di depan umum. Dalam camp pria maximal yang saya ikuti hal itu tidak pernah dinyatakan secara explicit. Memang disuruh terbuka, tetapi tidak pernah dikatakan bahwa harus mengakui perzinahan kepada istri / umum. Mungkin ada perbedaan antara camp yang saya ikuti dan camp-camp yang lain.

Saya sendiri tidak pernah setuju kalau pria harus mengakui perzinahan seperti itu. Kalau ia berzinah dan istri / umum tidak mengetahui hal itu, ia cukup mengaku dosa kepada Tuhan, dan bertobat dari perzinahannya. Mengakui kepada istri, menurut saya, hanya akan menyebabkan istri sangat sakit hati. Dan perlu diingat bahwa dalam kasus seperti itu, istri boleh menceraikan suaminya dan lalu kawin lagi. Jadi, pengakuan seperti itu membuka jalan bagi perceraian!

Mat 19:9 – “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.’”.

Mat 5:32 – “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.

5)   “Bila Tuhan memulihkan seorang pria bagi keluarganya, Dia juga menyelamatkan seluruh keluarganya. Bila keluarga terselamatkan, berarti bangsa juga telah terselamatkan” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 77).

Tanggapan saya:

Ini ajaran sesat dan tolol, dan mana dasar Alkitabnya? Mungkinkah Kis 16:31 yang ada dalam pikirannya?

Kis 16:31 – “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

Ayat ini sama sekali tidak cocok, karena arti ayatnya bukan demikian. Alkitab tidak pernah mengajar bahwa keselamatan bisa ‘borongan’ seperti itu! Kita tidak bisa ‘nunut’ iman dari orang tua kita! Baik iman maupun keselamatan merupakan persoalan individuil / pribadi.

Contoh: Abraham selamat, mengapa Hagar dan Ismael tidak? Ishak selamat, mengapa Esau tidak? Daud selamat, mengapa Absalom tidak?

Jadi, ayat itu harus diartikan sebagai berikut: percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan kamu akan selamat. Untuk keluargamu, mereka juga harus percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka akan selamat.

Kalau dikatakan bahwa berdasarkan ayat ini, satu orang selamat maka keluarganya akan selamat, itu sudah salah. Lebih-lebih kalau dikatakan seluruh bangsa selamat! Ini betul-betul merupakan kegilaan!

6)   “Alkitab berkata bahwa Yesus belajar taat untuk mencapai kesempurnaanNya sebagai manusia (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 82).

Kata-kata ini muncul berkenaan dengan Ibr 5:8-9 – “(8) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya, (9) dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya”.

Tanggapan saya:

Apakah Yesus dikatakan belajar taat untuk mencapai kesempurnaanNya sebagai manusia? Ayatnya sendiri tidak mengatakan hal itu, lalu dari mana si penulis menyimpulkan hal itu?

Kontext dari ayat ini (Ibr 5) adalah Yesus sebagai Imam Besar.

Ibr 5:1-10 – “(1) Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. (2) Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, (3) yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. (4) Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. (5) Demikian pula Kristus tidak memuliakan diriNya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepadaNya: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini’, (6) sebagaimana firmanNya dalam suatu nas lain: ‘Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.’ (7) Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan. (8) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya, (9) dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya, (10) dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

Jadi, yang dimaksudkan dengan kata ‘kesempurnaan’ dalam Ibr 5:9 adalah kesempurnaanNya sebagai Imam Besar. Dengan Ia rela menderita dan mati untuk menebus dosa kita, maka Ia menjadi Imam Besar yang sempurna bagi kita! Sebaliknya, tanpa korban diriNya sendiri itu, Yesus tidak bisa menjadi Imam Besar bagi kita!

Adam Clarke: “he was made perfect as a high priest by offering himself a sacrifice for sin, Heb 8:3” (= Ia dibuat sempurna sebagai seorang Imam Besar dengan mempersembahkan diriNya sebagai suatu korban untuk dosa, Ibr 8:3).

Ibr 8:3 – “Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan”.

7)   “Pada masa pemerintahan para hakim, umat Israel pernah dipimpin oleh Gideon yang kemudian mati dan meninggalkan 70 orang anak. Salah satunya bernama Yotam (Hakim-hakim 9:7-15). Para pemuka warga saat itu menobatkan Abimelekh, saudara tiri Yotam, menjadi raja dan mendorong Abimelekh untuk membunuh semua saudaranya demi mempertahankan takhtanya. Tetapi, Yotam berhasil lolos. Setelah mendengar kabar tentang kematian saudara-saudaranya itu, Yotam pergi ke Gunung Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu menegur tindakan warga kota Sikhem dengan cara menyampaikan perumpamaan tentang semak duri. Dalam perumpamaan itu dikisahkan bahwa pohon zaitun, pohon ara, dan pohon anggur semuanya menolak untuk menjadi raja karena pohon-pohon tersebut sudah cukup puas dengan keadaan mereka. Pohon-pohon itu kemudian meminta semak duri menjadi raja mereka. Semak duri mengabulkan permintaan mereka dan dengan angkuhnya mengajukan suatu tuntutan yang jauh melampaui nilai dirinya yang sebenarnya. Ia menuntut agar pohon-pohon lain itu merendahkan diri dan datang membungkuk di bawah naungannya. Jika pohon-pohon itu tidak bersedia, maka akan keluar api dari semak duri itu dan membakar habis semua pohon itu. Yotam memakai perumpamaan di atas untuk menyampaikan nubuat atas Abimelekh dan para pendukungnya. Abimelekh yang saat itu telah dinobatkan menjadi raja dinubuatkan bahwa akhirnya ia justru akan menjadi musuh warga kota Sikhem karena ia beserta para pendukungnya tidak memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik. Perumpamaan tersebut menggambarkan tentang orang berkualitas tinggi yang sebenarnya pantas menjadi pemimpin ternyata tidak bersedia untuk memimpin dan mengabdi kepada masyarakat karena mereka sudah puas dengan dirinya dan ingin mempertahankan kekayaan serta kedudukan mereka. Sekarang ini pun kita banyak menjumpai orang-orang dengan kemampuan yang hebat yang tidak bersedia mengabdi kepada masyarakat. Akhirnya, kursi kepemimpinan yang kosong itu diduduki oleh orang-orang ambisius yang sebenarnya tidak memiliki kualitas apa pun, dan dengan sombongnya mereka mengajukan berbagai tuntutan kepada masyarakat yang sebenarnya harus diabdi dan dilayaninya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 14-15).

Tanggapan saya:

Hak 9:1-20 – “(1) Adapun Abimelekh bin Yerubaal pergi ke Sikhem kepada saudara-saudara ibunya dan berkata kepada mereka dan kepada seluruh kaum dari pihak keluarga ibunya: (2) ‘Tolong katakan kepada seluruh warga kota Sikhem: Manakah yang lebih baik bagimu: tujuh puluh orang memerintah kamu, yaitu semua anak Yerubaal, atau satu orang? Dan ingat juga, bahwa aku darah dagingmu.’ (3) Lalu saudara-saudara ibunya mengatakan hal ihwalnya kepada seluruh warga kota Sikhem, maka condonglah hati orang-orang itu untuk mengikuti Abimelekh, sebab kata mereka: ‘Memang ia saudara kita.’ (4) Sesudah itu mereka memberikan kepadanya tujuh puluh uang perak dari kuil Baal-Berit, lalu Abimelekh memberi perak itu sebagai upah kepada petualang-petualang dan orang-orang nekat supaya mengikuti dia. (5) Ia pergi ke rumah ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, tujuh puluh orang, di atas satu batu. Tetapi Yotam, anak bungsu Yerubaal tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri. (6) Kemudian berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo; mereka pergi menobatkan Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem. (7) Setelah hal itu dikabarkan kepada Yotam, pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka: ‘Dengarkanlah aku, kamu warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kamu juga. (8) Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! (9) Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? (10) Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! (11) Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? (12) Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami! (13) Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? (14) Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! (15) Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon. (16) Maka sekarang, jika kamu berlaku setia dan tulus ikhlas dengan membuat Abimelekh menjadi raja, dan jika kamu berbuat yang baik kepada Yerubaal dan kepada keturunannya dan jika kamu membalaskan kepadanya seimbang dengan jasanya – (17) bukankah ayahku telah berperang membela kamu dan menyabung nyawanya, dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Midian, (18) padahal kamu sekarang memberontak terhadap keturunan ayahku dan membunuh anak-anaknya, tujuh puluh orang banyaknya, di atas satu batu, serta membuat Abimelekh anak seorang budaknya perempuan menjadi raja atas warga kota Sikhem, karena ia saudaramu – (19) jadi jika kamu pada hari ini berlaku setia dan tulus ikhlas kepada Yerubaal dan keturunannya, maka silakanlah kamu bersukacita atas Abimelekh dan silakanlah ia bersukacita atas kamu. (20) Tetapi jika tidak demikian, maka biarlah api keluar dari pada Abimelekh dan memakan habis warga kota Sikhem dan juga Bet-Milo, dan biarlah api keluar dari pada warga kota Sikhem dan juga dari Bet-Milo dan memakan habis Abimelekh.’”.

a)   Perhatikan bahwa penceritaannya saja sudah memberikan fakta-fakta yang salah. Kesalahannya adalah:

1.   Penulis di atas mengatakan bahwa pengangkatan Abimelekh menjadi raja mendorongnya untuk membunuh saudara-saudaranya. Ini salah, karena Abimelekh sudah mempunyai rencana lebih dulu untuk membasmi saudara-saudaranya (ay 2). Lalu ay 3 menunjukkan warga Sikhem condong kepada dia. Lalu ay 5 Abimelekh membunuh saudara-saudaranya, dan baru dalam ay 6 ia dinobatkan menjadi raja.

2.   Kata-kata “Jika pohon-pohon itu tidak bersedia, maka akan keluar api dari semak duri itu dan membakar habis semua pohon itu”, kelihatannya menunjukkan bahwa api itu akan membakar pohon-pohon yang tidak mau dijadikan raja itu (zaitun, ara, anggur), padahal kalau dilihat dari text Alkitabnya, yang terbakar adalah pohon-pohon aras di gunung Lebanon (ay 15).

b)   Penafsirannya.

Pada bagian yang saya beri garis bawah ganda, terlihat bahwa Edwin Louis Cole menyalahkan pohon zaitun, ara, anggur, karena mereka tidak mau dijadikan raja. Benarkah penafsirannya? Bandingkan dengan kata-kata Albert Barnes di bawah ini.

Barnes’ Notes (tentang Hak 9:14): “The application is obvious. The noble Gideon and his worthy sons had declined the proffered kingdom. The vile, base-born Abimelech had accepted it, and his act would turn out to the mutual ruin of himself and his subjects” (= Penerapannya jelas. Gideon yang mulia dan anak-anaknya yang layak / berharga telah menolak kerajaan yang diajukan. Abimelekh yang keji / hina, dilahirkan dengan hina, telah menerimanya, dan tindakannya akan menghasilkan kehancuran bersama dari dirinya sendiri dan para bawahannya).

Matthew Henry: “when the trees were disposed to choose a king the government was offered to those valuable trees the olive, the fig-tree, and the vine, but they refused it, choosing rather to serve than rule, to do good than bear sway. … He hereby applauds the generous modesty of Gideon, and the other judges who were before him, and perhaps of the sons of Gideon, who had declined accepting the state and power of kings when they might have had them, and likewise shows that it is in general the temper of all wise and good men to decline preferment and to choose rather to be useful than to be great” (= pada waktu pohon-pohon mengatur untuk memilih seorang raja, pemerintahan ditawarkan kepada pohon-pohon yang berhrga itu, pohon zaitun, pohon ara, dan pohon anggur, tetapi mereka menolaknya, dan sebaliknya lebih memilih untuk melayani dari pada memerintah, melakukan yang baik dari pada mengemban kekuasaan. … Dengan ini ia menghargai kesederhanaan / kerendahan hati yang banyak sekali dari Gideon, dan hakim-hakim yang lain sebelum dia, dan mungkin anak-anak Gideon, yang telah menolak untuk menerima negara dan kekuasaan dari raja-raja pada waktu mereka bisa mendapatkannya, dan juga menunjukkan bahwa itu secara umum merupakan sifat / watak dari semua orang-orang yang bijaksana dan baik untuk menolak kedudukan yang lebih tinggi dan sebaliknya lebih memilih untuk menjadi berguna dari pada untuk menjadi besar).

Saya setuju dengan kedua penafsir di atas, dan saya berpendapat bahwa mereka tidak mau karena mereka tahu bahwa mereka mempunyai tugas / kegunaan lain yang lebih mulia. Dan penolakan ini justru merupakan tindakan yang benar.

Ada orang yang mengatakan: “If God calls you to be a preacher, do not stoop down to be a king!” (= Jika Allah memanggilmu untuk menjadi seorang pengkhotbah, janganlah merendahkan diri untuk menjadi seorang raja).

Bandingkan dengan pendeta-pendeta yang mau meninggalkan kependetaan mereka karena menjadi caleg!

8)   “Ketika kami pulang malam itu, saya masih ingat bahwa saya sempat meninju setir mobil dengan perasaan kecewa dan duka. Nancy bertanya mengapa saya berbuat demikian dan saya utarakan penyebabnya, ‘Mereka semua berbicara tentang rumah baru, kapal layar, dan olahraga yang dinikmati anak-anaknya – namun tidak seorang anak pun yang mengenal Yesus sebagai Juruselamat. Mereka mengganti keselamatan dengan kebudayaan.’ Penggantian semacam ini bukanlah hal yang baru. Pada masa raja-raja Israel, anak Salomo, Raja Rehabeam, melakukan suatu kompromi yang akhirnya melemahkan bangsanya sendiri sehingga musuh-musuh berhasil menyerang Bait Allah dan menjarah semua perisai emas yang disimpan di sana. Rehabeam kemudian mengganti perisai emas itu dengan perisai tembaga (2Tawarikh 12:9-10).  Ada suatu pelajaran yang dapat kita tarik dari sini. Hal itu melambangkan penggantian keilahian dengan kemanusiawian, iman dengan perbuatan, hal-hal yang terbaik dari yang cukup baik, kebenaran dengan kehormatan (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 32).

Tanggapan saya:

Ini pengalegorian yang tidak pada tempatnya! Cerita sejarah tidak boleh diartikan secara alegoris / lambang! Dan kalau perisai emas melambangkan keilahian, pada waktu perisai emas itu dijarah oleh para musuh, itu melambangkan apa? Keilahian dijarah? Iman dijarah? Hal-hal yang terbaik dijarah? Kebenaran dijarah?

9)   “Dengan mengangkat tongkatnya, Musa memuliakan Allah dan menggenapi pekerjaanNya di muka bumi ini. Tetapi ketika ia melemparkannya, tongkat itu pun berubah menjadi ular. Demikian pula roh yang terdapat dalam diri manusia. Apabila roh tersebut berada dalam genggaman kuasa Roh Kudus dan otoritas firman Tuhan, ia akan mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Namun, apabila kita tidak dikuasai oleh Roh Kudus, maka pikiran, hati, dan kehendak kita pun akan ‘lepas kendali’, tidak terkuasai dan kita pun kembali pada tabiat lama yang keinginannya selalu bertentangan dengan keinginan Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 71-72).

Tanggapan saya:

Ini lagi-lagi merupakan pengalegorian yang tidak pada tempatnya! Cerita sejarah tidak boleh diartikan secara alegoris / lambang! Kelihatannya ia melambangkan tongkat Musa sebagai roh manusia, dan tangan Musa sebagai genggaman kuasa Roh Kudus dan otoritas firman Tuhan. Dengan hak / otoritas apa / siapa Edwin Louis Cole melambangkan seperti itu? Menurut saya, inilah contoh dari penafsiran yang ‘lepas kendali’!

10) “Pada saat ‘Yobel’, utang-utang dihapuskan, tanah dipulihkan, dan orang-orang berkesempatan untuk memulai sesuatu dari awal kembali (Imamat 25:8-55). Pengampunan semacam itu adalah lambang kematian dan kebangkitan” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 82).

Tanggapan saya:

Tahun Yobel merupakan lambang kematian dan kebangkitan? Ini lagi-lagi merupakan suatu pengalegorian yang tidak pada tempatnya!

11) “Selain ada kematian, ada pula ‘roh kematian’. Roh kematian itu mirip dengan gejala penyakit. Orang yang baru mengalami gejala suatu penyakit belum tentu benar-benar menderita penyakit tersebut, karena sering kali gejala-gejala tersebut hanya mendorong orang merasa bahwa dirinya sakit, padahal sesungguhnya ia tidak sakit. Kalau gejala-gejala tersebut ditolak, disangkal, dan ditengking, maka gejala-gejala itu tidak akan mendatangkan pengaruh apa pun. ‘Roh kematian’ sering kali hanya berusaha menekan agar manusia tunduk dan menyerah kepada kematian, namun kalau roh itu diusir dalam nama Yesus, kematian itu pun tidak akan dapat menelan mangsanya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 82-83).

“Allah tidak membiarkan Elia mati, tetapi membantunya untuk bangkit kembali. Allah membuat roh kematian menyingkir dari diri Elia, lalu memulihkan keadaan Elia sehingga …” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 83-84).

Tanggapan saya:

a)   Ini betul-betul merupakan ‘ajaran baru’! ‘Roh kematian’?

b)   Ia mengatakan ‘roh kematian itu mirip dengan gejala penyakit’. Mirip berarti tidak sama. tetapi dalam pembahasan selanjutnya, ia menyamakan kedua hal itu.

c)   Ia mengatakan ‘Orang yang baru mengalami gejala suatu penyakit belum tentu benar-benar menderita penyakit tersebut, karena sering kali gejala-gejala tersebut hanya mendorong orang merasa bahwa dirinya sakit, padahal sesungguhnya ia tidak sakit. Kalau gejala-gejala tersebut ditolak, disangkal, dan ditengking, maka gejala-gejala itu tidak akan mendatangkan pengaruh apa pun’.

Saya pikir orang ini IQnya rendah sehingga kata-katanya saling bertentangan satu sama lain. Kalau gejala itu bukan penyakit, dan orang yang mengalami gejala itu sebetulnya tidak sakit, lalu untuk apa gejala itu ditolak, disangkal, ditengking dan sebagainya? Kalau memang tidak sakit, biarkan saja!

d)   Alkitab bagian mana yang mengajar kita untuk ‘menengking penyakit’? Memang kalau setan merasuk seseorang dan menimbulkan penyakit, yang seperti itu bisa ditengking setannya. Kalau setan itu keluar, penyakitnya sembuh. Tetapi penyakit biasa, yang tidak ditimbulkan oleh setan yang merasuk, tidak bisa ditengking! Tak ada ayat Alkitab manapun yang mengajar kita menengking penyakit.

e)   Di Alkitab sebelah mana ada ajaran tentang menengking roh kematian? Dan ia mengajar untuk menengking roh kematian itu dalam nama Yesus. Itu berarti ia menganggap roh kematian itu adalah setan atau dari setan. Apakah setan bisa membunuh siapapun tanpa ijin Tuhan? Dan kalau Tuhan ijinkan ia membunuh, bisakah hal itu ditengking untuk menggagalkan hal itu? Betul-betul suatu kegilaan!

f)    Kalau semua orang menengking roh kematian, sehingga semua orang tidak mati-mati, apakah semua orang akan hidup kekal di dunia ini? Lalu bagaimana dengan Ro 6:23 yang mengatakan ‘upah dosa ialah maut’?

g)   Dalam kasus Elia, mengapa tanpa penengkingan roh kematian, Elia tetap tidak jadi mati? Juga perlu dicamkan bahwa Elia tidak sakit, ia hanya ingin mati karena merasa pelayanannya gagal (1Raja 19:1-4). Lalu untuk apa Allah membuat roh kematian menyingkir dari diri Elia?

12) “Meskipun Paulus sudah terlepas dari belenggu dosa, namun bayangan masa lalunya masih terus mengikutinya. Pada masa ia sedang gencar-gencarnya menganiaya orang Kristen, ia telah memerintahkan agar mereka dipenjarakan, dibunuh, atau dilempari batu. Setelah menjadi orang percaya, ia melakukan ibadah bersama-sama dengan kaum ibu yang menjadi janda karena kebencian Paulus dahulu terhadap orang Kristen, dan dengan bapak-bapak yang anaknya mati akibat penganiayaan yang dilakukannya. Rasa bersalah dari masa lalunya itu merupakan beban yang terlalu berat untuk ditanggungnya. Ia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang dihakimi karena bersalah melakukan pembunuhan yang direncanakan. Pada waktu itu hukuman yang dijatuhkan bagi orang-orang yang terbukti secara sengaja merencanakan dan melakukan pembunuhan terasa tidak lazim bagi kita, namun benar-benar sepadan dengan kejahatan yang telah diperbuat, yaitu mayat korban pembunuhan akan diikatkan dengan rantai pada tubuh orang yang telah membunuhnya, sehingga ke mana pun pembunuh itu pergi, ia terpaksa menyeret-nyeret mayat itu. Dengan sendirinya pembunuh itu akan dikucilkan oleh masyarakat, sehingga akan sulit baginya untuk tetap bertahan hidup. … Begitulah Paulus menggambarkan keadaan dirinya, di mana ia merasa seolah-olah dosa, rasa bersalah, dan aib dari masa lalunya itu diikatkan dengan rantai pada dirinya. Semuanya itu menjadi suatu beban yang terlalu berat untuk ditanggung, dan kalau tidak dilepaskan, beban itu akhirnya akan membunuhnya. Tetapi, kemudian ia mendapatkan kebebasan dari semua belenggu masa lalunya itu. Adapun kebebasan itu ia peroleh dari sumber yang juga telah memberitakan kabar keselamatan bagi dirinya. Ia ingin seluruh dunia mengetahui hal ini, maka ia menulis, ‘Syukurlah kepada Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.’ Ia sudah bebas!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 84-85).

Tanggapan saya:

a)   Seluruh kontext sama sekali tidak berbicara tentang bayangan kesalahan masa lalu Paulus, tetapi dosa-dosa yang saat itu tetap ia perbuat. Perhatikan sendiri seluruh kontext di bawah ini, adakah sedikit saja yang berhubungan dengan dosa-dosa pada masa lalu dari Paulus?

Ro 7:13-26 – “(13) Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. (14) Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. (15) Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (16) Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. (17) Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. (18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. (20) Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. (21) Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. (22) Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, (23) tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. (24) Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (25) Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa”.

b)   Saya pernah membaca tentang hukuman seperti yang diceritakan oleh Edwin Louis Cole, dimana orang dijatuhi hukuman dengan suatu mayat yang diikatkan pada tubuhnya. Tetapi mayat itu bukan orang yang dibunuh oleh orang yang dijatuhi hukuman itu! Disamping, apakah Paulus memang memaksudkan hukuman seperti itu, merupakan sesuatu yang sedikitnya perlu disangsikan, dan menurut saya pasti salah! Bandingkan dengan kata-kata dari beberapa penafsir di bawah ini tentang hal itu.

Calvin (tentang Ro 7:24): “By the ‘body of death’ he means the whole mass of sin, or those ingredients of which the whole man is composed; except that in him there remained only relics, by the captive bonds of which he was held” (= Dengan ‘tubuh maut’ ia memaksudkan seluruh massa dosa, atau bahan-bahan / unsur-unsur yang membentuk seluruh manusia; kecuali bahwa dalam dia tersisa hanya peninggalan-peninggalan, oleh ikatan tahanan yang menahan dia).

Barnes’ Notes (tentang Ro 7:24): It indicates, … An earnest wish to be delivered from it. Some have supposed that he refers to a custom practiced by ancient tyrants, of binding a dead body to a captive as a punishment, and compelling him to drag the cumbersome and offensive burden with him wherever he went. I do not see any evidence that the apostle had this in view. But such a fact may be used as a striking and perhaps not improper illustration of the meaning of the apostle here. No strength of words could express deeper feeling; none more feelingly indicate the necessity of the grace of God to accomplish that to which the unaided human powers are incompetent” (= Itu menunjukkan, … Suatu keinginan yang sungguh-sungguh untuk dibebaskan darinya. Sebagian orang menganggap bahwa ia menunjuk pada suatu kebiasaan yang dipraktekkan oleh tiran-tiran kuno, dengan mengikatkan mayat pada seorang tahanan / tawanan sebagai suatu hukuman, dan memaksanya untuk menyeret beban yang berat / tidak mengenakkan dan menjijikkan bersamanya kemanapun ia pergi. Saya tidak melihat bukti apapun bahwa sang rasul mempunyai hal ini dalam pandangannya. Tetapi fakta seperti itu bisa digunakan sebagai ilustrasi yang menyolok dan mungkin benar tentang arti dari sang rasul di sini. Tidak ada kekuatan kata-kata yang bisa menyatakan perasaan yang lebih dalam; tidak ada yang dengan lebih berperasaan menunjukkan keperluan / kebutuhan terhadap kasih karunia Allah untuk mencapai hal itu yang tidak mampu dilakukan oleh kekuatan manusia tanpa bantuan).

William Hendriksen: “With that in mind he yearns to be rescued from ‘this body of death,’ that is, from the body in its present condition, subject to the ravages of sin and death. He knows that as long as he lives in this present ‘body of humiliation’ (Phil. 3:21) the terrible struggle will be continued. But once the life in that body ceases, the state of sinless glory will commence; first for the soul, then also for the body” [= Dengan itu dalam pikirannya ia merindukan untuk ditolong dari ‘tubuh maut ini’, artinya, dari tubuh dalam kondisi sekarang ini, yang tunduk pada kerusakan dari dosa dan kematian. Ia tahu bahwa selama ia hidup dalam ‘tubuh kehinaan’ sekarang ini (Fil 3:21) pergumulan yang dahsyat / mengerikan akan berlanjut. Tetapi sekali kehidupan dalam tubuh itu berakhir, keadaan dari kemuliaan tanpa dosa akan mulai; pertama-tama untuk jiwa, lalu juga untuk tubuh]‘Romans’, hal 237-238.

13) “Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar dan keserupaan moralnya, Dia memperlengkapi kita dengan lima kemampuan yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus. Dengan demikian Allah telah mencurahkan sebagian keunggulan sorga ke bumi ini. Kelima kemampuan itu adalah:

(1)  Kemampuan untuk mengetahui kebenaran

(2)  Kemampuan untuk mengenali keutamaan moral

(3)  Kekuatan untuk melakukan kehendak kita

(4)  Daya cipta melalui perkataan kita

(5)  Hak dan kemampuan untuk berkembang biak” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 94).

Tanggapan saya:

a)   Ajaran ini tak ada dasar Alkitabnya sama sekali!

b)   Keserupaan moral? Sekalipun memang tak ada keseragaman pandangan dalam hal-hal apa saja yang termasuk dalam gambar dan rupa Allah dalam diri kita, tetapi jelas bahwa gambar dan rupa Allah dalam diri manusia bukan hanya keserupaan moral. Keserupaan moral mungkin memang ada, seperti kesucian / kebenaran yang ada dalam diri manusia ketika pertama diciptakan. Tetapi juga ada hal-hal lain, seperti manusia adalah makhluk berakal, makhluk rohani, dan bersifat kekal. Dan hal-hal ini jelas buka keserupaan moral dengan Allah!

c)   Apa maksudnya dengan kata-kata ‘daya cipta melalui perkataan kita’? Lagi-lagi ‘ajaran baru’.

d)   Ia mengatakan lima kemampuan ini ‘memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus’. Padahal hal kelima adalah ‘Hak dan kemampuan untuk berkembang biak’. Apa urusannya hal kelima itu dengan keserupaan dengan kehidupan Kristus, yang notabene tak pernah menikah, apalagi berkembang biak?

e)   Ia juga mengatakan bahwa ‘Dengan demikian Allah telah mencurahkan sebagian keunggulan sorga ke bumi ini’.

Kalau ini dihubungkan dengan hal kelima lagi, maka akan menjadi lelucon, karena akan berarti bahwa hak dan kemampuan untuk berkembang biak merupakan keunggulan sorga! Makhluk yang mana di sorga yang berkembang biak??

14) “Yesus berkata, ‘Dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada’ (Lukas 12:34). Setelah menyadari bahwa orang yang harus membayar untuk mendapatkan sesuatu akan menjadi jauh lebih berminat pada hal yang dibayarnya daripada sekadar menjadi penonton, maka kami pun menarik biaya pendaftaran untuk kegiatan yang kami laksanakan. Hasilnya memang terlihat nyata karena kini kaum pria yang mengikuti acara kami itu dapat bertahan mengikuti seluruh kegiatan hingga selesai dan mereka tetap hadir sekalipun cuaca sangat buruk. Uang pendaftaran itu bagi mereka menjadi suatu harta yang mereka tanamkan dalam kegiatan-kegiatan kami, sehingga hati mereka pun berada dalam pertemuan itu. Prinsip itu sekaligus juga mengajarkan bahwa Anda tidak mungkin membangun sebuah jemaat apabila anggota-anggotanya tidak mau membayar persepuluhan atau menanamkan uang mereka dalam pekerjaan Allah tersebut. Karena mereka tidak menanamkan harta mereka di situ, hati mereka pun tidak berada di tempat itu” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 107).

Tanggapan saya:

a)   Kata-kata Yesus dalam Luk 12:34 hanya mengkontraskan harta yang terletak di surga atau di dunia. Lihat kontextnya!

Luk 12:33-34 – “(33) Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (34) Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.’”.

b)   Kata-kata ‘Prinsip itu sekaligus juga mengajarkan bahwa Anda tidak mungkin membangun sebuah jemaat apabila anggota-anggotanya tidak mau membayar persepuluhan atau menanamkan uang mereka dalam pekerjaan Allah tersebut. Karena mereka tidak menanamkan harta mereka di situ, hati mereka pun tidak berada di tempat itu’ merupakan ajaran baru tentang alasan memberi persembahan persepuluhan! Dari Alkitab bagian mana ini diambil?

c)   Kalau yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole di atas itu memang benar, mengapa hanya menekankan uang pendaftaran dan persembahan persepuluhan? Mengapa tidak sekalian mengharuskan orang yang mau menjadi anggota suatu gereja / dibaptis membayar uang pangkal? Bukankah lebih-lebih lagi hatinya akan ada di gereja itu untuk selama-lamanya?

d)   Bagaimana ajaran Edwin Louis Cole ini bisa diharmoniskan dengan ayat-ayat di bawah ini?

  • ·         2Raja 5:16-17 – “(16) Tetapi Elisa menjawab: ‘Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapanNya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.’ Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak. (17) Akhirnya berkatalah Naaman: ‘Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN”.
  • ·         Mat 10:8 – “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
  • ·         Kis 8:18-21 – “(18) Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, (19) serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.’ (20) Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. (21) Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah”.
  • ·         1Kor 9:12,15,18 – “(12) Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. … (15) Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga! … (18) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
  • ·         2Kor 11:7 – “Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?”.

e)   Tuhan memberikan keselamatan secara cuma-cuma kepada kita (Yes 55:1  Ro 3:24). Kalau begitu, Tuhan tidak bijaksana, karena kita pasti tidak akan menghargai keselamatan itu! Hati kita pasti tidak akan ada di sana. Seharusnya Tuhan menyuruh kita membayar, tetapi seandainya Ia melakukan hal ini, semua kita akan masuk neraka karena tidak seorangpun dari kita mempunyai apapun untuk membayar / membeli keselamatan! Atau mungkin seharusnya Tuhan merestui penjualan surat pengampunan dosa pada jaman Martin Luther. Dan bersamaan dengan itu, Tuhan harus menyatakan Martin Luther, yang mempercayai pembenaran hanya oleh iman, sebagai orang sesat / bidat!

f)    Sebetulnya saya tidak menentang adanya uang pendaftaran dalam acara seperti itu, karena memang ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk acara tersebut. Tetapi kata-kata Edwin Louis Cole bahwa ‘Uang pendaftaran itu bagi mereka menjadi suatu harta yang mereka tanamkan dalam kegiatan-kegiatan kami, sehingga hati mereka pun berada dalam pertemuan itu’ merupakan alasan yang omong kosong! Menurut saya, alasan sebenarnya adalah, karena orang-orang itu sudah membayar, maka mereka merasa rugi kalau tidak datang!

 

Pria sejati / maximal (5)

15) “Suatu keluarga seharusnya menjalani proses pemuridan berdasarkan pola yang alkitabiah, yaitu: gembala sidang memuridkan kaum pria (ayah) dan para ayah memuridkan keluarganya. Namun, selama dua generasi terakhir ini para gembala telah mengajar para ayah untuk membawa keluarganya ke gereja dan gereja kemudian mengambil alih tanggung jawab untuk memuridkan keluarga melalui sekolah Minggu, kegiatan remaja, pendalaman Alkitab kaum wanita, dan berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian, gembala menjadi ayah angkat bagi setiap anggota keluarga yang mengunjungi gereja. Beban ini tentu saja terlalu berat untuk ditanggung oleh satu orang saja” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 112).

Tanggapan saya:

a)   Mana dasar Alkitabnya? Tanpa dasar Alkitab, ia mengajar sedemikian rupa sehingga memberikan penekanan yang extrim terhadap kaum pria! Dan Edwin Louis Cole menyebutnya sebagai ‘pola yang Alkitabiah’!

b)   Saya tidak mengerti apa yang Edwin Louis Cole kehendaki dengan ajaran sintingnya ini. Lalu menurut dia seharusnya bagaimana? Hanya para pria yang boleh ke gereja? Lalu para pria mengajar istri dan anak-anaknya di rumah? Memang tidak salah kalau suami / ayah mengajar istri dan anak-anaknya. Tetapi kalau dikatakan bahwa istri dan anak-anak itu tidak boleh belajar langsung di gereja, itu bertentangan dengan banyak ayat Alkitab seperti:

  • ·         Neh 8:3-4 – “(3) Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. (4) Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu”.
  • ·         Ezra 10:1 – “Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang itu menangis keras-keras”.
  • ·         Mat 14:21 – “Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
  • ·         Mat 19:13-14 – “(13) Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu. (14) Tetapi Yesus berkata: ‘Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.’”.
  • ·         1Tim 5:1-2 – “(1) Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, (2) perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian”.

Catatan: bukan para suami yang disuruh menegor perempuan-perempuan itu, tetapi Timotius. Ini tidak mungkin kalau para perempuan itu tidak ke gereja.

  • ·         2Tim 1:5 – “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.

Catatan: dalam keluarga Timotius, yang kristen duluan justru adalah nenek dan ibunya. Mungkinkah kakek dan ayahnya, yang adalah orang kafir, yang mengajarkan kekristenan kepada Timotius?

  • ·         Yesus pada usia 12 tahun belajar di Bait Allah (Luk 2:41-47); apakah Yusuf tidak memuridkan keluarganya, dan apakah Yesus salah karena tidak belajar dari Yusuf?

16) “Menggali sumur melambangkan bahwa kedua keturunan Abraham tersebut perlu melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan ayah mereka agar mereka dapat memenuhi persyaratan seperti yang dimiliki ayah mereka, yaitu persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 127).

Tanggapan saya:

Saya bosan terhadap pengalegorian-pengalegorian tolol seperti ini. Kalau ‘menggali sumur’ bisa ditafsirkan seperti ini, itu juga bisa ditafsirkan apa saja. Dan kalau demikian, dari ayat manapun kita bisa mendapatkan ajaran yang bagaimanapun!

17) “Adapun orang yang memiliki hak untuk memberikan suaranya namun tidak menggunakan haknya itu sebenarnya sama saja dengan berbuat kejahatan. Dalam perumpamaan tentang talenta, Yesus menyebut hamba yang tidak melakukan apa-apa itu sebagai orang yang jahat, malas, lamban, dan kurang ajar (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129).

Tanggapan saya:

a)   Pertama-tama mari kita baca perumpamaan tentang talenta itu.

Mat 25:26-30 – “(26) Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? (27) Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. (28) Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. (29) Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (30) Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.’”.

Hanya menceritakan fakta-fakta Alkitab saja, Edwin Louis Cole, yang bergelar Doktor ini, tidak becus! Yesus hanya mengatakan hamba itu sebagai ‘jahat, malas, dan tidak berguna’; tidak pernah ada kata-kata ‘lamban’, apalagi ‘kurang ajar’. Menurut saya istilah ‘hamba yang kurang ajar’ itu lebih cocok untuk diterapkan terhadap diri Edwin Louis Cole sendiri!

b)   Yang ia maksudkan dengan ‘memberikan suaranya’ adalah memberikan suara dalam pemilihan umum dalam kalangan politik. Jadi, ia menggunakan text Alkitab itu untuk melarang / menyalahkan orang-orang yang masuk ‘golput’!

Dalam perumpamaan itu, ‘talenta’ menunjuk pada segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita, yang bisa kita gunakan untuk kemuliaanNya. Kalau pemberian suara yang kita lakukan memang bisa berguna untuk kemuliaan Tuhan, maka memang kita harus memberikan suara kita. Tetapi bagaimana kalau calon-calon yang ada semuanya tidak ada yang nggenah, atau semuanya tidak kita ketahui nggenah atau tidaknya? Ini merupakan kasus yang banyak terjadi di negara kita! Apakah kita harus secara membabi buta tetap memberikan suara kita untuk orang-orang yang tidak kita ketahui?

18) “Allah secara langsung menugaskan Adam untuk membimbing, mengawasi, dan memerintah bumi beserta proses perkembang-biakannya. Ketika Hawa diciptakan dan kemudian terbentuk sebuah keluarga, maka Adam pun bertugas mengurus seluruh keluarganya. Adapun tugas tersebut juga mencakup tiga tanggung jawab serupa: membimbing, mengawasi, memerintah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129).

Tangapan saya:

a)   Dia membalik urut-urutannya, karena dalam Kej 1:26-27 Allah menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan / Adam dan Hawa), dan baru dalam Kej 1:28 Allah menyuruh MEREKA berdua untuk berkembang biak dan memenuhi dan menaklukkan bumi.

b)   Jadi, tak bisa ditafsirkan bahwa Adam bertugas membimbing, mengawasi, memerintah Hawa!

c)   Kata-kata ‘membimbing, mengawasi dan memerintah’ itu muncul dari mana?

19) “Dalam Efesus 5:28-29 ketiga tanggung jawab itu disebut sebagai: mengasihi, mengasuh, merawat, mengarahkan, melindungi, memperbaiki. Memelihara, menghargai, menegur” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129).

Tanggapan saya:

Ef 5:28-29 – “(28) Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. (29) Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat”.

Hanya tiga kata pertama yang ada, lalu kata-kata ‘mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memelihara, menghargai, menegur’ muncul dari mana? Edwin Louis Cole dengan seenaknya menambahi Alkitab. Mungkin ia perlu membaca ayat-ayat di bawah ini:

  • ·         Ul 4:2 – Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu”.
  • ·         Ul 12:32 – “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya”.
  • ·         Amsal 30:6 – Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta”.
  • ·         Wah 22:18-19 – “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

20) “Sedangkan firman mengenai kuasa (Kisah Para Rasul 1:8) disampaikan kepada gerakan Pentakosta. … Dan firman tentang pembaruan (Roma 12:1-2) diberikan kepada gerakan Kharismatik” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 139).

Catatan: sebelum bagian ini Edwin Louis Cole mengatakan bahwa Allah memberikan firman kepada Martin Luther, dan lalu juga kepada John Wesley, lalu memberikan firman yang menyulut gerakan Kekudusan (Holiness movement).

Tanggapan saya:

a)   Ini omongan apa? Orang-orang / kelompok-kelompok yang ia bicarakan semua berbeda, dan bahkan bertentangan, dalam ajaran theologianya. Misalnya, Luther bisa dianggap mempunyai ajaran Reformed / Calvinist (sekalipun Luther memang ada sebelum Calvin, tetapi maksud saya ajarannya dalam hal itu sama), sedangkan John Wesley jelas adalah seorang Arminian. Dan keduanya berbeda lagi dengan Pentakosta / Kharismatik. Mungkinkah semua ajaran yang berbeda / bertentangan itu semuanya datang dari Tuhan? Omong kosong! Dua yang berbeda, apalagi yang bertentangan, tidak mungkin keduanya datang dari Tuhan, kecuali Tuhan bicara dengan lidah bercabang. Mengapa tidak sekalian saja mengatakan bahwa agama-agama lain juga merupakan firman yang datang dari Tuhan?

b)   Dan perhatikan ayat-ayat yang ia gunakan; apa urusannya ayat-ayat itu dengan omongannya?

1.   Kis 1:8 – “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.

2.   Ro 12:1-2 – “(1) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Hanya karena dalam Kis 1:8 ada kata ‘kuasa’, maka ia menjadikan ayat ini sebagai dasar bahwa Tuhan memberikan firman mengenai kuasa kepada golongan Pentakosta? Dan hanya karena dalam Ro 12:1-2 ada kata ‘pembaharuan’, ia mengatakan bahwa firman tentang pembaruan diberikan kepada golongan Kharismatik? Ada 3 hal yang ingin saya berikan sebagai komentar tentang bagian ini:

a.   ‘Kuasa’ dalam Kis 1:8 itu diberikan kepada semua orang kristen yang sejati pada saat itu dan selanjutnya. Bagaimana mungkin Edwin Louis Cole menerapkannya hanya kepada golongan Pentakosta?

b.   Berbeda dengan Kis 1:8 dimana ‘kuasa’ itu memang diberikan oleh Tuhan, maka dalam Ro 12:2 ‘pembaharuan’ itu diperintahkan oleh Allah untuk kita usahakan! Dan ini lagi-lagi merupakan perintah Tuhan untuk semua orang kristen yang sejati. Lalu bagaimana mungkin ini diartikan sebagai ‘firman tentang pembaruan yang diberikan kepada gerakan Kharismatik’?

c.   Lalu bagaimana dengan Yoh 13:27b dimana Yesus berkata kepada Yudas Iskariot: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”? Kalau mau mengikuti jalan pikiran yang gila dari Edwin Louis Cole, ini pasti merupakan firman dari Tuhan kepada golongan Anti Kristus atau Satanisme!

21) “Dalam hubungan antar manusia, formalitas menjadi pertanda adanya jarak dalam hubungan tersebut, sebab dalam hubungan yang intim tidak terdapat lagi bentuk-bentuk formalitas. Jadi, semakin formal bentuk penyembahan yang dilakukan, semakin jauh pula jarak antara si penyembah dengan wahyu yang mula-mula diterimanya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 141).

Tanggapan saya:

a)   Hubungan antar manusia, yang memang setingkat, tidak bisa dianalogikan dengan hubungan antara manusia dengan Penciptanya!!!

b)   Bahkan dalam hubungan antar manusiapun tidak bisa dimutlakkan bahwa ‘formalitas menjadi pertanda adanya jarak dalam hubungan tersebut’. Mengapa? Karena kalau demikian, maka hubungan yang dekat akan membuang semua kesopanan. Anak boleh saja kurang ajar terhadap orang tuanya, karena dekat dengan mereka!

c)   Apa yang ia maksud dengan ‘jarak antara si penyembah dengan wahyu yang mula-mula diterimanya?

22) “‘Percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai (bahasa Inggris: setia) yang juga cakap mengajar orang lain’ (2 Timotius 2:2). Ini adalah suatu prinsip pemuridan yang terdapat dalam Alkitab. Namun, manusia secara salah telah memutarbalikkan prinsip itu menjadi: ‘Percayakanlah kepada orang yang cakap yang nantinya akan setia.’ Padahal, yang diandalkan oleh Allah adalah karakter, bukan talenta” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 153).

Tanggapan saya:

a)   Lagi-lagi ngawur! Memang karakter penting tetapi talenta (atau lebih tepat ‘karunia’) juga penting. Kata-kata ‘cakap mengajar orang lain’ dalam 2Tim 2:2b jelas menunjuk pada ‘karunia’!

Dan Edwin Louis Cole mengatakan dalam buku yang sama (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 213) sebagai berikut: “Beberapa tahun yang lalu saya berkesempatan untuk bergabung dengan suatu kelompok pelayanan radio Kristen. Sewaktu pertama kali dimulai, orang-orang yang berminat dan ikut bergabung dengan pelayanan itu adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah, namun sangat kurang keahliannya dalam bidang media komunikasi baik secara tehnis maupun teoritis. Mereka adalah orang-orang rohani yang tekun berdoa, baik, penuh iman, dan sangat bergairah untuk bekerja secara sukarela. Namun, ketika sudah semakin berkembang, pelayanan itu membutuhkan ketrampilan dan kemampuan untuk berproduksi, bukan hanya kemampuan untuk berdoa. Pada saat itulah timbul suatu bahaya karena selama beberapa waktu, seiring dengan semakin berkembangnya pelayanan itu, ketekunan berdoa tersebut belum juga digantikan dengan kemampuan untuk berproduksi. Padahal sesungguhnya diperlukan suatu keseimbangan dalam hal ini.

Kata-kata Edwin Louis Cole di sini jelas bertentangan dengan kata-katanya dalam kutipan yang di atas.

b)   Edwin Louis Cole mengatakan ‘yang diandalkan oleh Allah adalah karakter, bukan talenta’.

Allah yang maha kuasa tidak mengandalkan siapapun juga! Kalau ia membutuhkan orang yang mempunyai karakter tertentu, Ia membentuk orang itu sehingga cocok dengan kemauannya. Memang ada ayat-ayat yang kelihatannya menunjukkan bahwa Allah memilih orang-orang yang hidup sesuai kehendaknya, seperti misalnya Daud.

Bdk. 1Sam 16:6-7 – “(6) Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: ‘Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapiNya.’ (7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.’”.

Tetapi siapa yang membentuk Daud menjadi orang yang seperti? Jelas Tuhan sendiri, bukan? Jadi, ayat ini hanya menceritakan dari sudut pandang manusia. Dari sudut pandang Tuhan, Ia memilih orang itu sejak dunia belum dijadikan, lalu Ia mempersiapkan orang-orang itu untuk menjadi orang-orang yang cocok yang kehendakNya. Perhatikan 2 text di bawah ini dengan penafsiran Calvin tentangnya.

Yer 1:4-5 – “(4) Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: (5) ‘Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.’”.

Kalau Yeremia telah ditetapkan sebagai nabi sebelum ia dilahirkan, bagaimana mungkin Tuhan memilihnya berdasarkan karakternya? Bandingkan dengan kata-kata / komentar Calvin tentang ayat ini di bawah ini

Calvin (tentang Yer 1:5): “it was not in thy power to bring with thee a qualification for the prophetic office, I formed thee not only a man, but a prophet” (= bukanlah dalam kuasamu untuk membawa bersamamu suatu kwalifikasi untuk jabatan nabi, Aku membentuk engkau bukan hanya sebagai manusia, tetapi sebagai seorang nabi).

Gal 1:15-16 – “(15) Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, (16) berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia”.

Catatan: kata ‘memilih’ dalam Kitab Suci bahasa Inggris diterjemahkan ‘separated’ / ‘set apart’ (= memisahkan).

Calvin (tentang Gal 1:15): “‘Who had separated me.’ This separation was the purpose of God, by which Paul was appointed to the apostolic office, before he knew that he was born. The calling followed afterwards at the proper time, when the Lord made known his will concerning him, and commanded him to proceed to the work. God had, no doubt, decreed, before the foundation of the world, what he would do with regard to every one of us, and had assigned to every one, by his secret counsel, his respective place” (= ‘Yang telah memisahkan aku’. Pemisahan ini merupakan tujuan / rencana dari Allah, dengan mana Paulus ditetapkan pada jabatan rasul, sebelum ia tahu bahwa ia dilahirkan. Panggilan menyusul belakangan pada waktu yang tepat, pada waktu Tuhan menyatakan kehendakNya berkenaan dengan dia, dan memerintahkan dia untuk memulai pekerjaan. Tak diragukan bahwa Allah menetapkan, sebelum dunia dijadikan, apa yang akan Ia lakukan berkenaan dengan setiap orang dari kita, dan telah menetapkan bagi setiap orang, oleh rencana rahasiaNya, tempatnya masing-masing).

Calvin (tentang Gal 1:15): “The word of the Lord which came to Jeremiah, though expressed a little differently from this passage, has entirely the same meaning. … Before they even existed, Jeremiah had been set apart to the office of a prophet, and Paul to that of an apostle; but he is said to separate us from the womb, because the design of our being sent into the world is, that he may accomplish, in us, what he has decreed. The calling is delayed till its proper time, when God has prepared us for the office which he commands us to undertake. … he was ordained an apostle, not because by his own industry he had fitted himself for undertaking so high an office, or because God had accounted him worthy of having it bestowed upon him, but because, before he was born, he had been set apart by the secret purpose of God.” (= Firman Tuhan yang datang kepada Yeremia, sekalipun dinyatakan secara agak berbeda dari text ini, sepenuhnya mempunyai arti yang sama. … Bahkan sebelum mereka ada, Yeremia telah dipisahkan pada jabatan / tugas seorang nabi, dan Paulus pada jabatan / tugas seorang rasul; tetapi Ia dikatakan memisahkan kita sejak dalam kandungan, karena rancangan dari pengiriman kita ke dalam dunia adalah, supaya Ia bisa mengerjakan di dalam kita apa yang telah Ia tetapkan. Panggilan ditunda sampai waktunya yang tepat, pada waktu Allah mempersiapkan kita untuk jabatan / tugas yang Ia perintahkan kepada kita untuk dikerjakan. … ia ditahbiskan sebagai seorang rasul, bukan karena oleh kerajinannya sendiri ia telah membuat dirinya sendiri cocok untuk mengerjakan tugas / jabatan yang begitu tinggi, atau karena Allah menganggapnya layak untuk memberikan tugas / jabatan itu kepadanya, tetapi karena sebelum ia dilahirkan, ia telah dipisahkan oleh rencana rahasia Allah).

23) “Yesus juga mengatakan, ‘Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?’ (Lukas 16:12)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 157).

Tanggapan saya:

Luk 16:12 – “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”.

Dalam ayat ini ada 2 istilah yaitu ‘harta orang lain’ (yang menunjuk pada uang / harta yang ada pada kita) dan ‘hartamu sendiri’ (yang menunjuk pada kekayaan rohani / harta surgawi).

Calvin: “By the expression, ‘what belongs to another,’ he means what is not within man; for God does not bestow riches upon us on condition that we shall be attached to them, but makes us stewards of them in such a manner, that they may not bind us with their chains. And, indeed, it is impossible that our minds should be free and disengaged for dwelling in heaven, if we did not look upon every thing that is in the world as ‘belonging to another.’ ‘Who shall entrust to you what is your own?’ Spiritual riches, on the other hand, which relate to a future life, are pronounced by him to be our own, because the enjoyment of them is everlasting” (= Dengan ungkapan, ‘apa yang merupakan milik orang lain’, Ia memaksudkan apa yang tidak ada di dalam manusia; karena Allah tidak memberikan kekayaan kepada kita pada kondisi dimana kita terikat kepadanya, tetapi membuat kita pengurus dari kekayaan dengan suatu cara, sehingga kekayaan itu tidak mengikat kita dengan rantainya. Dan memang, adalah tidak mungkin bahwa pikiran kita bebas dan lepas untuk tinggal di surga, jika kita tidak memandang segala sesuatu dalam dunia sebagai ‘milik orang lain’. ‘Siapa yang akan mempercayakan kepadamu apa yang merupakan milikmu sendiri?’ Kekayaan rohani, di sisi lain, yang berhubungan dengan kehidupan yang akan datang, diumumkan / dinyatakan olehNya sebagai milik kita sendiri, karena penikmatan darinya adalah kekal).

Tetapi penerapan yang diberikan oleh Edwin Louis Cole terhadap ayat ini dalam hal 157-160 betul-betul kacau balau. Karena terlalu panjang, maka contoh-contoh ini akan saya ceritakan secara ringkas dengan kata-kata saya sendiri:

a)   Dalam contoh tentang orang bernama Stephen King (hal 157-158) ia menghurufiahkan kata-kata ‘harta orang lain’ maupun ‘hartamu sendiri’. Jadi, keduanya menunjuk pada harta duniawi.

b)   Lalu dalam contoh tentang orang bernama Bill (hal 158-159) ia menafsirkan ‘setia dalam harta orang lain’ sebagai kesetiaan Bill terhadap gembalanya, dan ‘hartamu sendiri’ sebagai kesuksesan Bill sebagai gembala sidang.

c)   Lalu dalam kasus seorang pria yang tak disebutkan namanya (hal 159) ia menafsirkan ‘harta orang lain’ sebagai anak tiri orang tersebut yang ia perlakukan secara berbeda dengan anak kandungnya sendiri, dan ini disebut sebagai ‘tidak setia dengan harta orang lain’! Sikap ini menyebabkan hubungan orang itu dengan dua anak kandungnya sendiri, yang ia anggap sebagai ‘hartamu sendiri’, menjadi berantakan.

d)   Dan dalam kasus seorang pria lain (hal 159-160), yang bekerja pada bossnya, keinginannya untuk memiliki bisnis sendiri, dianggap sebagai ‘ketidak-setiaan terhadap harta orang lain’, dan itu menyebabkan ia tidak bisa mempunyai bisnis sendiri. Pria itu lalu memutuskan untuk berusaha menjadi karyawan terbaik bagi bossnya, dan ia yakin bahwa dengan demikian, ia pasti akan mempunyai bisnis sendiri!

24) “Pendurhakaan bukanlah pekerjaan Iblis seperti anggapan sejumlah orang, melainkan perbuatan manusia yang tabiatnya lepas dari kendali Roh Kudus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 164).

Tanggapan saya:

a)   Lagi-lagi ajaran tanpa dasar Alkitab.

b)   Sekarang bandingkan kata-katanya di atas dengan ceritanya di bawah ini.

“Dalam sebuah pertemuan hamba-hamba Tuhan di New York, saya berbicara tentang dosa pendurhakaan ini serta sifat dan akibatnya yang mengerikan. Sewaktu pertemuan itu berakhir, seorang pria datang mendekat, merangkul saya, lalu menangis sambil berbisik, ‘Saya tidak mengetahuinya.’ Setelah tenang kembali, ia pun menceritakan rahasianya. ‘Sekitar sepuluh bulan yang lalu, seorang saudara seiman dari gereja yang biasa saya kunjungi dulu menelpon saya dan bertanya apakah saya mau bekerja sama dengannya dalam gereja baru yang dirintisnya.’ ‘Ia adalah seorang wakil gembala sewaktu saya pertama kali mengenalnya, dan hubungan kami cukuplah akrab, maka saya pun mengatakan, saya akan datang dan membantu. Sekitar empat bulan yang lalu saya melihat adanya perubahan dalam diri anak-anak perempuan saya dan tiga bulan yang lalu saya merasakan mereka mulai sering memberontak. Sebelumnya mereka tidak pernah bersikap seperti itu, dan saya tidak bisa memperkirakan penyebabnya.’ ‘Kemudian, seminggu yang lalu istri saya mulai menyinggung tentang perceraian, padahal selama ini saya sudah berusaha semampu saya untuk menjadi suami, ayah, dan anggota gereja yang baik, tetapi ternyata hidup saya malah hancur berantakan. Hari ini, sewaktu saya mendengar Anda berbicara tentang pendurhakaan, saya benar-benar tertempelak. Gembala yang saya bantu itu sebenarnya merintis jemaatnya dengan mengumpulkan ‘pecahan’ dari jemaat tempat ia semula menjadi wakil gembala.’ ‘Waktu itu saya tidak memandangnya sebagai masalah yang penting karena kejadian seperti itu seringkali kita jumpai. Namun, sekarang saya menyadari bahwa ia menyimpan roh pendurhakaan sewaktu meninggalkan gerejanya yang semula itu. Maka, ketika saya membawa keluarga saya ke dalam jemaat itu, mereka pun terpengaruh oleh rohnya, dan sikap memberontaknya itu pun merasuk ke dalam hati keluarga saya.’ Setelah saya menyampaikan kisah pria itu, ada orang lain yang menulis, ‘Saya menulis kepada Anda karena selama empat tahun yang terasa amat panjang ini saya telah mencari-cari jawaban atas suatu persoalan. Pada tahun 1987 saya berhenti dari tugas penggembalaan saya karena istri dan keluarga saya tidak tahan lagi. Setelah kami pergi kami mendapati bahwa kami telah membawa sekelompok orang, beserta dengan wakil gembala mereka yang memisahkan diri dari jemaat lain.’ ‘Saya akhirnya bersedia menggembalakan mereka, namun berbagai persoalan mulai muncul di rumah kami. Anak perempuan saya berpisah dengan suaminya, anak lelaki tertua saya memiliki masalah dengan istrinya. Kehidupan saya sedemikian merosotnya. Saya lalu meninggalkan gereja dan pelayanan dengan perasaan gagal dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri saya.’ ‘Hari ini ketika saya mendengar Anda menceritakan tentang pria di New York yang menderita akibat roh pendurhakaan dalam diri gembala yang diikutinya itu, saya sadar bahwa saya juga mengalami hal yang sama. Saya telah menghimpun orang-orang yang memberontak dan, bukannya saya berhasil menolong mereka, justru mereka hampir menghancurkan saya.’ ‘Hari ini saya bertobat, mengampuni mereka dan wakil gembala yang telah menjerumuskan saya ke dalam kekacauan ini, dan berdoa bersama istri saya … Sekarang saya tidak sabar lagi untuk segera melayani anggota keluarga saya yang lain. Terima kasih.’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 167-169).

Ada 2 hal yang ingin saya soroti:

1.         Sekarang ia mengatakan roh pendurhakaan’? Jadi setan ikut campur, bukan?

2.   Tidakkah aneh kalau ayahnya yang bersalah, melakukan pendurhakaan, dan anak-anaknya yang mengalami kekacauan dalam rumah tangga mereka?

Berkenaan dengan kata-kata Edwin Louis Cole di sini, saya ingin bertanya kepada para pendukung gerakan pria sejati / maximal, yang ‘memberontak’ terhadap pendeta / gerejanya: anda setuju kata-kata Edwin Louis Cole di atas ini atau tidak?

a.   Kalau anda tidak setuju, untuk apa anda mengikuti orang yang ajarannya tidak anda setujui?

b.   Kalau anda setuju, maka itu berarti anda punya roh pendurhakaan yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole, bukan? Maukah anda bertobat?

c)   Lalu dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 169, Edwin Louis Cole mengatakan “Kalau Anda telah menjadi korban pendurhakaan, terlibat di dalamnya, dan tercemari olehnya, maka dalam nama Allah, usirlah roh itu dari kehidupan Anda!”.

Lagi-lagi ada 2 hal yang ingin saya soroti dari kutipan ini:

1.   Kalau ia menyuruh untuk mengusir roh itu, maka roh itu pasti menunjuk kepada setan. Lagi-lagi bertentangan dengan apa yang ia katakan di atas bahwa ‘pendurhakaan bukanlah pekerjaan Iblis’.

2.   Usir dalam nama Allah? Dimana dalam Alkitab kita diajar untuk mengusir setan dalam nama Allah? Dan nama Allah yang mana? YHWH / Yahweh? Kita selalu mengusir ‘dalam / demi nama Yesus’ karena Alkitab mengajar demikian!

Luk 10:17 – “Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi namaMu.’”.

Kis 16:18 – “Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: ‘Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.’ Seketika itu juga keluarlah roh itu”.

Kis 19:13 – “Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: ‘Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.’”.

Catatan: dalam ayat terakhir ini memang yang mempraktekkan hal itu adalah orang-orang yang tidak percaya, tetapi mereka melakukan itu karena mereka meniru Paulus. Jadi, ini menunjukkan bahwa Paulus memang mempraktekkan pengusiran setan demi nama Yesus.

3.   Alkitab hanya mengajar kita mengusir setan yang merasuk seseorang (Kis 16:18), atau yang memanifestasikan dirinya secara supranatural (Mat 4:10). Kita tidak pernah diberi otoritas untuk mengusir / menengking setan yang menggoda kita dengan cara biasa / bukan secara supranatural. Untuk yang ini apa yang harus kita lakukan? Perhatikan 2 text Alkitab di bawah ini.

Yak 4:7 – “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”.

1Pet 5:8-10 – “(8) Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. (10) Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya”.

Kedua text di atas tidak menyuruh kita menengking / mengusir setan pada saat ia menggoda kita dengan cara biasa / bukan secara supranatural. Karena itu, saya tidak setuju dengan praktek pengusiran setan pada waktu ia menggoda kita untuk berzinah, marah, mencuri dan sebagainya. Bahkan saya juga tidak setuju praktek mengusir setan dari ruangan kebaktian, yang banyak dilakukan bahkan oleh orang-orang Protestan!

25) Peganglah kebenaran erat-erat, bukan sebagai milik Anda, melainkan sebagai juruselamat, tuan, dan gembala Anda. Kebenaran adalah perisai dan kekuatan Anda. Kebenaran adalah salah satu ‘perlengkapan senjata Allah’ untuk melawan ‘bapa segala dusta’. Hanya kebenaran yang dapat mengalahkan dusta. Kebenaran adalah alat untuk bertahan dan sekaligus menyerang dalam setiap pertempuran yang harus kita hadapi. Kebenaran membela dirinya sendiri, dan kebenaran itu kekal. Orang berusaha membunuh Kebenaran dengan cara menyalibkanNya, namun Kebenaran bangkit kembali pada hari ketiga, dan Kebenaran itu tetap hidup selamanya!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 185).

Tanggapan saya:

Kebenaran = juruselamat, tuan, gembala? Ini betul-betul omongan yang sangat tolol! Sekalipun Yesus adalah kebenaran (Yoh 14:6), dan Yesus juga adalah Juruselamat, Tuan / Tuhan, dan Gembala, tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa Kebenaran adalah Juruselamat, Tuan / Tuhan, ataupun Gembala!

Lebih-lebih mengatakan bahwa ‘Orang berusaha membunuh Kebenaran dengan cara menyalibkanNya, namun Kebenaran bangkit kembali pada hari ketiga, dan Kebenaran itu tetap hidup selamanya!’.

Mengacau-balaukan / mencampur-adukkan ‘Yesus’ dan ‘kebenaran’ jelas merupakan sesuatu yang salah. Semut itu binatang tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa binatang itu semut. Demikian juga sekalipun Yesus adalah kebenaran, kita tidak bisa mengatakan bahwa kebenaran adalah Yesus.

Kalau kita mau mengikuti pencampur-adukkan yang dilakukan oleh Edwin Louis Cole terhadap ‘Yesus’ dan ‘kebenaran’ ini maka bisa muncul ajaran sebagai berikut: Yesus juga mengatakan bahwa Ia adalah jalan (Yoh 14:6), dan Ia adalah pintu (Yoh 10:7), dan Ia adalah roti hidup (Yoh 6:35). Jadi, jalan, pintu dan roti, juga adalah Juruselamat, Tuan / Tuhan, dan Gembala! Orang juga berusaha membunuh jalan, pintu dan roti dengan menyalibkannya, namun jalan, pintu dan roti itu bangkit kembali dan hidup selama-lamanya! Ini menjadi lelucon yang konyol!

Pria sejati / maximal (6)

26) “Pendurhakaan itu pada mulanya terjadi di sorga, yaitu sewaktu iblis yang saat itu disebut Lucifer, tidak lagi bersedia memimpin penyembahan bagi Allah, melainkan ingin dirinya sendiri yang disembah. Dengan penuh keangkuhan ia memimpin pemberontakan untuk mendurhakai Allah sehingga kemudian ia diusir keluar dari sorga dan ditempatkan di suatu kawasan bernama neraka yang disediakan Allah bagi semua orang yang memberontak terhadap Allah. Pada mulanya neraka diciptakan bagi iblis dan para malaikat yang jatuh bersamanya. Namun ketika iblis merenggut kedudukan Allah dalam kehidupan manusia di Taman Eden, neraka kemudian dipakai juga untuk menampung semua orang yang mengikuti pola perbuatan iblis yang bersifat merusak dan mendatangkan maut itu. Sejak Adam yang pertama kehilangan hubungannya dengan Allah, Allah merasa perlu mengutus Adam yang lain untuk menebus umat manusia …” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 208).

Tanggapan saya:

a)   Iblis disebut Lucifer? Ini ajaran umum, dan dipercayai mayoritas orang Kristen, tetapi menurut saya ini salah. Kata ‘Lucifer’ muncul dalam Yes 14:12 versi KJV, tetapi sebetulnya tidak berbicara tentang Iblis, melainkan tentang raja Babel (Yes 14:4,22,23).

Yes 14:12 – “‘Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!”.

KJV: ‘O Lucifer’ (= hai Lucifer).

Yes 14:4,22,23 – “(4) maka engkau akan memperdengarkan ejekan ini tentang raja Babel, dan berkata: ‘Wah, sudah berakhir si penindas sudah berakhir orang lalim! … (22) ‘Aku akan bangkit melawan mereka,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam, ‘Aku akan melenyapkan nama Babel dan sisanya, anak cucu dan anak cicitnya,’ demikianlah firman TUHAN. (23) ‘Aku akan membuat Babel menjadi milik landak dan menjadi air rawa-rawa, dan kota itu akan Kusapu bersih dan Kupunahkan,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam”.

Calvin: “The exposition of this passage, which some have given, as if it referred to Satan, has arisen from ignorance; for the context plainly shows that these statements must be understood in reference to the king of the Babylonians. But when passages of Scripture are taken at random, and no attention is paid to the context, we need not wonder that mistake of this kind frequently arise. Yet it was an instance of very gross ignorance, to imagine that Lucifer was the king of devils, and that the Prophet gave him this name. But as these inventions have no probability whatever, let us pass by them as useless fables” (= Exposisi yang diberikan oleh beberapa orang tentang text ini, seakan-akan text ini menunjuk kepada setan / berkenaan dengan setan, muncul / timbul dari ketidaktahuan; karena kontex secara jelas menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ini harus dimengerti dalam hubungannya dengan raja Babel. Tetapi pada waktu bagian-bagian Kitab Suci diambil secara sembarangan, dan kontex tidak diperhatikan, kita tidak perlu heran bahwa kesalahan seperti ini muncul / timbul. Tetapi itu merupakan contoh dari ketidaktahuan yang sangat hebat, untuk membayangkan bahwa Lucifer adalah raja dari setan-setan, dan bahwa sang nabi memberikan dia nama ini. Tetapi karena penemuan-penemuan ini tidak mempunyai kemungkinan apapun, marilah kita mengabaikan mereka sebagai dongeng / cerita bohong yang tidak ada gunanya) – hal 442.

Adam Clarke: “And although the context speaks explicitly concerning Nebuchadnezzar, yet this has been, I know not why, applied to the chief of the fallen angels, who is most incongruously denominated Lucifer, (the bringer of light!) an epithet as common to him as those of Satan and Devil. That the Holy Spirit by his prophets should call this arch-enemy of God and man the light-bringer, would be strange indeed. But the truth is, the text speaks nothing at all concerning Satan nor his fall, nor the occasion of that fall, which many divines have with great confidence deduced from this text. O how necessary it is to understand the literal meaning of Scripture, that preposterous comments may be prevented!” [= Dan sekalipun kontexnya berbicara secara explicit tentang Nebukadnezar, tetapi entah mengapa kontex ini telah diterapkan kepada kepala dari malaikat-malaikat yang jatuh, yang secara sangat tidak pantas disebut / dinamakan Lucifer (pembawa terang!), suatu julukan yang sama umumnya bagi dia, seperti Iblis dan Setan. Bahwa Roh Kudus oleh nabiNya menyebut musuh utama dari Allah dan manusia sebagai pembawa terang, betul-betul merupakan hal yang sangat aneh. Tetapi kebenarannya adalah, text ini tidak berbicara sama sekali tentang Setan maupun kejatuhannya, ataupun saat / alasan kejatuhan itu, yang dengan keyakinan yang besar telah disimpulkan dari text ini oleh banyak ahli theologia. O alangkah pentingnya untuk mengerti arti hurufiah dari Kitab Suci, supaya komentar-komentar yang gila-gilaan / tidak masuk akal bisa dicegah!] – hal 82.

Saya setuju dengan kedua penafsir ini, dan karena itu saya berpendapat, bertentangan dengan hampir semua orang Kristen, bahwa ‘Lucifer’ bukanlah nama dari komandan setan!

b)   Setelah jatuh, iblis ditempatkan di neraka? Mana dasar Alkitabnya? Dan kalau ia ada di neraka, bagaimana mungkin ia berjalan-jalan menjelajahi bumi (Ayub 1:6-7)? Bagaimana mungkin ia mencobai Yesus (Mat 4:1-11)? Dan apa gunanya Alkitab menyuruh kita waspada terhadap setan (1Pet 5:8)? Alkitab sendiri mengatakan bahwa Iblis baru akan dimasukkan ke dalam neraka pada saat Yesus datang untuk kedua-kalinya (Wah 20:10).

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

  • ·         Ayub 1:6-7 – “(6) Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. (7) Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: ‘Dari mana engkau?’ Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.’”.
  • ·         Mat 8:28-29 – “(28) Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. (29) Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”.
  • ·         1Pet 5:8 – Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
  • ·         Wah 20:10 – “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.

Memang ada ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa setan sekarang sudah di neraka, yaitu 2Pet 2:4 – “Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman”.

Untuk menafsirkan ayat ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

*        Kata ‘neraka’ di sini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani TARTARUS yang hanya dipergunakan satu kali ini saja dalam Kitab Suci. Karena itu sukar diketahui artinya secara pasti. Biasanya dalam Perjanjian Baru kata ‘neraka’ diterjemahkan dari kata GEHENNA, tetapi bukan kata itu yang digunakan di sini.

*        Bagian ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan setan sudah masuk neraka, karena ini akan bertentangan dengan Mat 8:29  Mat 25:41  Wah 20:10 yang menunjukkan secara jelas bahwa saat ini setan belum waktunya masuk neraka. Itu baru akan terjadi pada kedatangan Yesus yang kedua-kalinya.

*        Disamping itu, kalau ditafsirkan bahwa setan sudah masuk ke neraka, maka itu akan bertentangan dengan 2Pet 2:4 itu sendiri, yang pada bagian akhirnya berbunyi: ‘dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman’.

Jadi, mungkin bagian ini hanya menunjukkan kepastian bahwa setan akan masuk neraka.

c)   Seluruh bagian yang saya beri garis bawah ganda dalam kata-kata dari Edwin Louis Cole di atas menunjukkan bahwa ia mempercayai bahwa Allah mengubah rencana! Ini memang ajaran umum, tetapi ini Arminianisme, dan ini salah! Ajaran Reformed, sesuai dengan Alkitab, mengajarkan bahwa Allah merencanakan segala sesuatu dalam kekekalan, tidak pernah mengubah rencana, tetapi selalu melaksanakan rencanaNya, dan Ia pasti berhasil! Ini dasar Alkitabnya:

  • ·         Ayub 42:1-2 – “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.
  • ·         Maz 33:10-11 – “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.
  • ·         Yes 14:24,26-27 – “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: … (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?.
  • ·         Yes 25:1 – “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.
  • ·         Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.
  • ·         Yes 43:13 – “Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?.
  • ·         Yes 46:10-11 – “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.
  • ·         Yer 4:28 – “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.

27) “Allah adalah Pencipta; iblis adalah pemalsu. Iblis memalsukan segala sesuatu yang diciptakan Allah. Misalnya, ruangan bar ia pakai untuk memalsukan gereja dan penjaga bar seakan-akan berfungsi sebagai gembala; orang-orang datang ke bar untuk bersekutu, menerima nasihat, dan dipenuhi dengan berbagai macam minuman keras (Dalam bahasa Inggris dipakai satu kata yang sama untuk menyebut minuman keras dan roh, yaitu kata spirits, Red.) Itulah gereja palsu!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 209-210).

Tanggapan saya:

a)   Iblis memang pemalsu, tetapi adalah salah kalau ia dikatakan ‘memalsukan segala sesuatu yang diciptakan Allah’.

Iblis tidak melakukan pemalsuan tanpa tujuan, misalnya dengan memalsukan batu dan kayu. Ia hanya memalsukan, kalau pemalsuan itu bisa menipu orang-orang sehingga mereka menjadi sesat, dan mengikuti dia. Karena itu ia memalsukan Injil, nabi, rasul, gereja, agama, dan sebagainya.

b)   Menurut saya bukannya ‘dalam bahasa Inggris dipakai satu kata yang sama untuk menyebut minuman keras dan roh, yaitu kata spirits’. Yang benar adalah: dalam bahasa Inggris kata ‘spirits’ bisa diartikan minuman keras.

Kalau Edwin Louis Cole mengatakan bahwa sebuah bar dipenuhi dengan ‘berbagai macam spirits, arti yang mana yang ia maksudkan dengan kata ‘spirits’ itu? Minuman keras, atau roh-roh (jahat), atau keduanya? Kelihatannya ia memaksudkan keduanya. Saya sendiri lebih cenderung untuk menganggap bahwa iblis / setan / roh jahat lebih banyak ada dalam gereja (yang benar). Di tempat yang berdosa, mereka jelas juga ada. Tetapi gereja yang benar merupakan tempat favorit mereka, karena di sanalah terdapat anak-anak Tuhan, yang merupakan tujuan / target utamanya dalam menyesatkan!

c)   Kalau iblis memalsukan gereja dengan sebuah bar, dan memalsukan pendeta dengan penjaga bar, maka itu merupakan sesuatu yang luar biasa tololnya!

Kalau iblis memalsu, ia akan membuatnya mirip, karena kalau tidak, orang tidak akan tertipu.

Mat 7:15 – “‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”.

KJV: ‘Beware of false prophets, which come to you in sheep’s clothing, but inwardly they are ravening wolves’ (= Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu, yang datang kepadamu dalam pakaian domba, tetapi di dalam mereka adalah serigala yang rakus).

Bandingkan juga dengan perumpamaan lalang di antara gandum dalam Mat 13. Lalang mirip dengan gandum!

Tetapi gereja sama sekali berbeda dengan bar, dan pendeta sama sekali berbeda dengan penjaga bar. Itu bukan pemalsuan, karena memang merupakan dua hal yang sangat berbeda, yang orang butapun bisa membedakannya. Kalau Tuhan punya nabi-nabi asli, dan Iblis memberikan Edwin Louis Cole, maka itu baru merupakan pemalsuan, karena memang ada kemiripan (bagi mata yang kurang jeli dan bagi pikiran yang kurang / tidak mengerti Alkitab)!

28) “Sebagai contoh, ada suatu prinsip yang mengatakan bahwa doa membuahkan keintiman. Salah satu penyimpangan yang dilakukan iblis sehubungan dengan prinsip ini adalah menjanjikan keintiman melalui pornografi dan bukan doa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 210).

Tanggapan saya:

a)   Rasanya dua hal ini, yaitu pornografi dan doa, adalah dua hal yang begitu jauh bedanya. Karena itu saya sama sekali tidak yakin akan kata-kata dari Edwin Louis Cole di atas ini.

b)   Saya kira juga harus dibedakan antara pornografi dan perzinahan.

Perzinahan memang bisa dianjurkan setan untuk mendatangkan keintiman. Inipun tidak selalu demikian. Banyak kali terjadi perzinahan hanya demi pemuasan nafsu, bukan demi mendapatkan keintiman.

Tetapi pornografi, seperti blue film dsb, menurut saya hanya untuk kesenangan / kepuasan / memuaskan keingintahuan saja, dan tidak berhubungan dengan keintiman.

29) “Allah memerintahkan manusia untuk menyenangkan hatiNya, dan selanjutnya Dia akan membereskan hubungan manusia itu dengan sesamanya (Amsal 16:7). Orang yang berusaha menyenangkan hati Allah umumnya juga akan disenangi oleh orang lain. Semakin dekat seseorang dengan Allah, akan semakin besar pula kasihnya kepada sesamanya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 216).

Tanggapan saya:

Amsal 16:7 – “Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikanNya dengan dia”.

Sekalipun ini Firman Tuhan, dan memang bisa terjadi, tetapi ayat dalam Amsal ini tidak bisa diartikan secara mutlak, karena kalau dimutlakkan maka ayat ini akan bertentangan dengan banyak ayat-ayat lain. Edwin Louis Cole memang tidak memutlakkan, karena ia menggunakan kata ‘umumnya’. Tetapi saya bahkan menganggap bahwa ayat ini bukan saja tidak bisa diartikan secara mutlak, tetapi ‘pada umumnyapun’ sangat belum tentu!

Memang benar, bahwa ‘semakin dekat seseorang dengan Allah, akan semakin besar pula kasihnya kepada sesamanya’. Tetapi masalahnya, apakah sesamanya itu akan memahami kasihnya dan membalas kasihnya? Itu lain persoalan!

Saya berpendapat, bagaimana sikap orang-orang lain itu, tergantung dari tindakan apa yang kita lakukan untuk menyenangkan hati Allah itu. Kalau itu berupa tindakan menolong, misalnya kita menolong orang-orang miskin / yang mempunyai problem, maka sangat besar kemungkinan kata-kata dalam Amsal 16:7 itu akan terjadi. Tetapi kalau tindakan menyenangkan Allah yang kita lakukan itu berupa tindakan menegur dosa, atau tindakan memberitakan Injil kepada orang-orang yang tidak percaya, maka yang seringkali terjadi justru adalah orang-orang itu akan marah / memusuhi kita! Mengapa? Karena mereka menyalah-tafsirkan tindakan kasih kita pada waktu menegur / memberitakan Injil kepadanya. Saya sendiri sering membuat seminar / menulis buku tentang kesesatan / kesalahan dari banyak ajaran (seperti Saksi Yehuwa, Yahweh-isme, Yesaya Pariadji, dsb), termasuk tentang ajaran pria sejati / maximal ini, untuk menyenangkan hati Tuhan melalui semua ini. Tetapi apakah orang-orang yang saya kritik / serang itu, termasuk dari kalangan pria sejati / maximal, semakin menyenangi saya? Saya sangat tidak yakin!

Bdk. Gal 4:16 – “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?”.

Dalam Alkitab sendiri, yang sering terjadi, juga adalah sebaliknya. Orang yang menyenangkan hati Allah sering dimusuhi oleh dunia! Baik Yesus, Paulus, dsb, banyak musuhnya. Kalau tidak demikian, dimana peranan setan?

Baca ayat-ayat di bawah ini:

  • ·         Yoh 16:1-4a – “(1) ‘Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. (2) Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (3) Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. (4a) Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.’”.
  • ·         Yoh 15:18-21 – “(18) ‘Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (19) Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. (20) Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu. (21) Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena namaKu, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku”.
  • ·         Yoh 17:14 – “Aku telah memberikan firmanMu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia”.
  • ·         Luk 6:22-23 – “(22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

30) “Orang yang hanya memperhatikan hal-hal yang ada di luar saja tentu akan mengutamakan talenta dan memusatkan dirinya pada perbuatan yang terlihat oleh mata. Tetapi Allah melihat hati (1Samuel 16:7), mengutamakan karakter, dan menghargai nilai suatu perbuatan. Ingatlah, Abraham memasang kemahnya, namun membangun mezbahnya (Kejadian 13:4). Manusia lebih sering memasang mezbah dan membangun kemahnya. Dengan cara begitu ia telah menciptakan masalah bagi dirinya sendiri. Perbuatan semacam itu tentu menghasilkan nilai yang berbeda. Anda boleh saja memasang kepribadian, namun tetap harus membangun karakter. Allah menghendaki agar di dalam gereja dibangun pilar-pilar kokoh untuk menyokong pekerjaan gereja, bukan sekedar pasak-pasak yang dipancangkan. Ketika muncul tekanan dalam gereja, orang-orang yang berdiri sebagai pilar itu akan menjaga stabilitas gereja. Bila orang-orang itu hanya berfungsi sebagai pasak, mereka akan runtuh karena tidak kuat menahan beban tanggung jawab yang harus mereka pikul. Prinsip-prinsip bersifat tetap, sedangkan kepribadian bersifat seketika. Kepribadian yang ‘dipasang’ dapat diubah dalam sekejap, sedangkan karakter yang dibangun berdasarkan prinsip akan tetap berdiri teguh. Apabila hal yang internal bersifat ilahi, maka hal yang eksternal akan memancarkan keilahiannya itu” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 218).

Tanggapan saya:

Ini bukan hanya merupakan penafsiran alegoris yang kacau balau, tetapi juga permainan kata yang sama sekali tidak pada tempatnya.

Untuk kemah, memang Alkitab sering mengunakan istilah ‘memasang’ (Misalnya dalam Kej 12:8  26:25  31:25  33:19  35:21), sedangkan untuk mezbah, Alkitab sering menggunakan istilah ‘membangun’ (misalnya dalam 2Ki 21:3  2Ch 33:3  Ezr 3:2). Tetapi:

a)   Mengkontraskan kedua kata kerja / istilah ini secara begitu keras merupakan sesuatu yang salah, karena untuk kemahpun, Alkitab sendiri sering menggunakan kata ‘mendirikan’ (Kel 38:21  39:40  40:2   40:18  Bil 7:1 Dan 11:45  Ibr 8:5), yang tidak terlalu berbeda dengan ‘membangun’!

b)   Menghubungkan kedua kata itu, juga kata-kata ‘pilar’ dan ‘pasak’, dan kata-kata ‘dibangun’ dan ‘dipancangkan’, dengan kepribadian dan karakter, merupakan suatu pengalegorian yang tidak pada tempatnya.

Dari penggunaan istilah-istilah ‘memasang kepribadian’ dan ‘membangun karakter’, yang terasa begitu aneh, sebetulnya sudah terlihat bahwa Edwin Louis Cole sedang memaksakan suatu ajaran yang sebetulnya sama sekali tidak cocok dengan ayat yang ia pakai!

c)   Edwin Louis Cole mengatakan bahwa “Kepribadian yang ‘dipasang’ dapat diubah dalam sekejap, sedangkan karakter yang dibangun berdasarkan prinsip akan tetap berdiri teguh”.

Apakah kepribadian seseorang memang bisa berubah? Itu sesuatu yang sangat meragukan bagi saya.

31) “Kita harus percaya bahwa Allah bekerja untuk mendatangkan hal-hal yang terbaik bagi kita dan bahwa Dia selalu menepati janjiNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 219).

Tanggapan saya:

Ini suatu kesalahan yang sangat umum. Banyak orang mengatakan bahwa Allah berjanji memberikan yang terbaik. Tetapi Allah tidak pernah berjanji seperti itu. Ia berjanji untuk turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan, bukan mendatangkan yang terbaik!

Ro 8:28 – “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

32) “Adam adalah manusia pertama yang diberi roh hikmat (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 236).

Tanggapan saya:

Ini omongan konyol yang tak punya dasar Alkitab!

33) Apabila ada sesuatu yang terjadi di alam jasmani, maka hal yang sepadan dengan itu terjadi pula di alam rohani, begitu pula sebaliknya. Rob Carman adalah seorang teman saya yang menjadi gembala di Albuquerque. Melalui serangkaian kejadian ia menemukan hubungan antara apa yang ada di dunia sekuler dengan yang terdapat di dunia kerohanian. Jemaat yang dipimpinnya bertumbuh dari beberapa gelintir orang hingga mencapai sekitar 1.500 orang. Namun, kemudian pertumbuhan jemaat tersebut seolah-olah terhenti. Semangat, gairah, dan keagresifan yang menandai pertumbuhan mula-mula seakan-akan kehilangan bobotnya. Bagi diri Rob Carman pribadi, waktu yang dahulu biasa digunakan untuk berdoa dan mempelajari Alkitab saat itu seperti digerogoti dengan jadwal konseling yang meningkat, isu-isu moral yang terus menerus menjadi bahan perdebatan para anggota jemaat dan masalah-masalah keluarga yang seperti tidak ada habis-habisnya. Karena merasa letih dan tertekan oleh semuanya itu serta prihatin akan situasi yang ada, suatu hari ia memutuskan untuk merenungkan ayat-ayat Alkitab ketika ia teringat pada sebuah artikel yang dibacanya di surat kabar beberapa hari sebelumnya. Ia terkesan pada suatu data statistik yang melaporkan keadaan yang terjadi pada masyarakat yang mengalami pelonjakan tingkat pengangguran. Ia menyadari bahwa apa yang terjadi pada masyarakat luas itu sama dengan yang terjadi dalam lingkungan jemaatnya. Sewaktu merenungkan gagasan itu, kesejajaran tersebut semakin tampak jelas baginya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 252)

Tanggapan saya:

a)   Ini gila dan sesat! Perhatikan kata-kata Melalui serangkaian kejadian ia menemukan hubungan antara apa yang ada di dunia sekuler dengan yang terdapat di dunia kerohanian’. Ia bukan menemukan hal itu dari Alkitab, tetapi dari serangkaian kejadian, yang mencakup ‘sebuah artikel di surat kabar’ dan ‘suatu data statistik’! Alangkah Alkitabiahnya! Dan apa dasarnya Rob Carman tahu-tahu bisa mempercayai / menyadari bahwa ‘apa yang terjadi pada masyarakat luas itu sama dengan yang terjadi dalam lingkungan jemaatnya’? Dan apa dasarnya sehingga Edwin Louis Cole mempercayai kesimpulan dari Rob Carman ini?

b)   Kalau yang ia katakan di atas ini benar, lalu apa fungsi Roh Kudus dalam diri gereja / orang-orang Kristen? Apa fungsi Firman Tuhan yang dibaca dan didengar orang-orang Kristen, kalau ternyata apa yang terjadi di alam rohani sepadan dengan yang terjadi di alam rohani? Memang, dunia bisa saja mempengaruhi gereja (Mat 24:12), tetapi tidak harus demikian! Kalau gereja dan dunia harus sama, lalu bagaimana dengan ayat-ayat di bawah ini?

Yoh 17:15-16 – “(15)Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. (16) Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

Ro 12:2 – Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Ef 5:11 – Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu”.

Mat 5:13 – “‘Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”.

Kalau dilihat dari ayat terakhir ini (Mat 5:13) maka bisa disimpulkan bahwa jemaat dari Rob Carman itu semuanya adalah garam yang telah menjadi tawar!

c)   Dalam Alkitab gereja / orang Kristen disebut sebagai ‘kudus’. Arti utama dari kata ‘kudus’ bukanlah ‘suci’, tetapi ‘berbeda dengan’ atau ‘terpisah dari’. Tetapi hebatnya Rob Carman mencampur-adukkan gereja dan dunia, dan Edwin Louis Cole mempercayai kesimpulan sesat dan tolol itu!

34)      “Itulah sebabnya Yesus sering duduk di Bait Allah sambil memperhatikan orang-orang memberikan persembahannya. ‘Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.’ (Matius 6:21)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 269).

Yesus memperhatikan hal itu tak ada hubungannya dengan ayat itu!

35)      Dia mengakui bahwa Dia hanya melakukan apa yang dilihatNya dilakukan oleh Bapa, dengan begitu Dia tidak merasa tertekan karena harus bertindak dengan kekuatanNya sendiri. Dia ditopang oleh kekuatan sorgawi dalam segala hal yang dilakukanNya (Yohanes 5:19-20)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 286).

Dia mengatakan bahwa Dia hanya melakukan hal-hal yang dilihatNya dilakukan oleh Bapa (Yohanes 5:19). Jadi, berdasarkan prinsip itu kita juga harus melakukan hal-hal yang kita lihat telah dilaksanakan oleh Kristus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 71).

Tanggapan saya:

Ini jelas merupakan penafsiran sesat tentang Yoh 5:19 - “Maka Yesus menjawab mereka, kataNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

a)   ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri’ (ay 19b  bdk. ay 30a: ‘Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri’).

Ayat ini dipakai oleh Arius / Arianisme (dan juga menjadi dasar dari ajaran Saksi Yehuwa / Unitarianisme) untuk mengatakan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa, karena Ia tidak bisa melakukan apapun dari diriNya sendiri.

Tetapi sebetulnya ayat ini sama sekali tidak menunjukkan ketidakmampuan Yesus! Dalam kontex dimana Yesus menunjukkan diriNya seba­gai Anak Allah, dan menyamakan diriNya dengan Allah (ay 17-18), tidak mungkin tahu-tahu Ia justru menunjukkan ketidak-mampuanNya.

Kalau demikian, apa arti / maksud kata-kata Yesus ini? Kata-kata Yesus ini bertujuan untuk menekankan kesatuan yang tidak terpisahkan antara Yesus dengan Bapa, yang menyebabkan Yesus tidak bisa melakukan apapun terpisah dari Bapa. Dan jelas bahwa Bapapun tidak bisa melakukan apapun terpisah dari Yesus!

Jadi, Yesus dan Bapa tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Sebaliknya, pekerjaan Yesus adalah pekerjaan Bapa, dan pekerjaan Bapa adalah pekerjaan Yesus.

Dengan demikian, kata-kata Yesus ini menjawab serangan mereka bahwa Yesus melanggar Sabat dan menghujat Allah (ay 18). Kalau Yesus bisa melanggar Sabat dan menghujat Allah, maka itu berarti Ia bisa melakukan sesuatu terpisah dari Bapa. Tetapi Yesus tidak bisa melakukan sesuatu terpisah dari Bapa, dan karena itu jelas bahwa Ia tidak bisa melanggar Sabat maupun menghujat Allah.

b)   ‘Jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang diker­jakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ay 19c).

Bagian ini tidak berarti seakan-akan Yesus itu cuma bisa meniru BapaNya! Tetapi kelihatannya arti itu yang diambil oleh Edwin Louis Cole.

Kalau Yoh 5:19 itu diartikan bahwa Yesus cuma bisa meniru apa yang Bapa lakukan, bagaimana mungkin Yesus mencipta alam semesta? Kapan Yesus pernah melihat Bapa melakukan hal itu, lalu menirunya? Lalu pada waktu Yesus berinkarnasi, lalu menderita dan mati untuk menebus dosa kita, kapan Dia melihat Bapa melakukan hal itu, lalu menirunya? Bapa bahkan tidak bisa mati, karena berbeda dengan Yesus / Anak, Bapa tidak pernah berinkarnasi menjadi manusia.

Tentang bagian ini, Leon Morris (NICNT) mengutip kata-kata seo­rang yang bernama Westcott, yang memberikan komentar yang indah sebagai berikut:

“The things that the Father does that the Son does, too, not in imitation, but in virtue of His sameness of nature” (= Hal-hal yang dilakukan oleh Bapa juga dilakukan oleh Anak, bukan dalam peniruan, tetapi berdasarkan kesamaan hakekatNya) – hal 313.

W. G. T. Shedd: “In these passages the doctrine is taught that while each person is so distinct from the others that he can speak of himself as doing acts that are peculiar to himself and not to the others, yet the distinctness is not so great as to make him another Being who does the acts a]f’ e]autou (= of himself) exclusively and apart from the others” [= Dalam text-text ini doktrin diajarkan bahwa sementara setiap pribadi berbeda (distinct) dari pribadi-pribadi yang lain sehingga Ia bisa berbicara tentang diriNya sendiri sebagai melakukan tindakan-tindakan yang khas bagi diriNya sendiri dan tidak bagi pribadi-pribadi yang lain, tetapi perbedaan (distinctness) itu tidaklah begitu besar sehingga membuatNya seorang Makhluk lain yang melakukan tindakan-tindakan itu a]f’ e]autou (= dari diriNya sendiri) secara exklusif dan terpisah dari pribadi-pribadi yang lain]‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol III, hal 133.

c)   Edwin Louis Cole mengatakan ‘berdasarkan prinsip itu kita juga harus melakukan hal-hal yang kita lihat telah dilaksanakan oleh Kristus’.

Ini ngawur lagi. Tidak semua hal yang Yesus lakukan harus kita tiru / teladani. Ada yang tidak perlu, ada yang tidak bisa, dan ada yang bahkan tidak boleh kita teladani.

Misalnya:

1.         Yesus berpuasa 40 hari 40 malam; Yesus tidak menikah.

2.         Yesus membangkitkan orang mati.

3.         Yesus mati di salib menebus dosa kita.

36)      Setelah mengutip Mat 7:29 – “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka”, Edwin Louis Cole lalu berkata: “Kuasa ini muncul dari pengenalanNya akan diriNya sendiri, tujuanNya dalam hidup ini dan dari identitas diri yang diterimaNya secara sempurna” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 286-287).

Tanggapan saya:

Apa dasarnya????

37)      “Elia seharusnya belajar dari seorang nabi lain yang hidup berabad-abad kemudian. Nabi ini mengajarkan bahwa Allah tidak akan menyangkal umat-Nya dalam kelemahan mereka. ‘Tetapi sekalipun pada waktu kita ini demikian lemah sehingga tidak beriman, Ia tetap setia dan menolong kita, karena Ia tidak dapat menyangkal kita yang merupakan bagian dari diri-Nya sendiri dan janji-janji-Nya kepada kita akan selalu dilaksanakan-Nya’ (2 Timotius 2:13, Alkitab versi Firman Allah yang Hidup)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 289).

Tanggapan saya:

Edwin Louis Cole mengambil terjemahan dari FAYH / LB yang justru kacau. Alkitab bahasa Inggris pada umumnya menggunakan kata ‘faithless’, yang di sini harus diartikan ‘tidak setia’, bukan ‘tidak beriman’, karena dikontraskan dengan sikap Allah yang ‘setia / faithful’. Dan bagian belakang dari ayat ini dalam FAYH / LB betul-betul kacau.

38)      Abraham mengambil keputusan yang salah dan seluruh dunia harus menanggung akibatnya. Ketika pada usia delapan puluh tahun ia masih juga belum dikaruniai anak, akhirnya ia menyetujui usul Sarah untuk mendapatkan anak dari budak perempuannya, Hagar. Ia lalu menghamili Hagar, dan lahirlah Ismale. Ketika menyadari kesalahannya Abraham lalu memutuskan untuk melangkah secara benar dengan percaya bahwa Allah akan membuat Sarah mengandung seorang anak. Allah yang setia itu kemudian memberi mereka Ishak, si anak perjanjian (Kej 15:18). Namun, penyelewengan iman Abraham yang dilakukannya dengan cara mengambil keputusan menurut daging dan bukan menurut roh telah menimbulkan permusuhan yang berlarut-larut hingga sekarang, antara keturunan Sarah dengan keturunan Hagar – bangsa Yahudi dengan bangsa Arab (Kej 16:11-12)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 303).

Tanggapan saya:

a)   Edwin Louis Cole lagi-lagi sangat ceroboh dan tidak akurat dalam data-data Alkitab. Ia mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada saat Abraham berusia 80 tahun. Padahal Alkitab mengatakan bahwa Abraham mendapat anak Ismael dari Hagar pada usia 86 tahun.

Kej 16:16 – “Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya”.

Jadi, waktu ia memperistri (menjadikan gundik) Hagar, usianya sekitar 85 tahun.

Juga kalau dilihat dari ayat-ayat di bawah ini, jelas saat itu usia Abraham 85 tahun.

Kej 12:4 – “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Kej 16:3 – “Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, – yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan -, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.

Kelihatannya ini hanya hal kecil, tetapi ini menunjukkan betapa cerobohnya Edwin Louis Cole dalam menggunakan Alkitab. Kalau dalam hal seperti itu, yang jelas-jelas ada dalam Alkitab, ia sudah salah, apalagi dalam penafsiran ayat-ayat!

b)   Edwin Louis Cole mengajar bahwa dosa Abraham juga mempunyai akibat yang harus ditanggung oleh seluruh dunia. Apa dasar Alkitabnya? Alkitab mengatakan hanya dosa Adam, yang adalah manusia pertama, yang mempunyai akibat untuk seluruh dunia, dan itupun hanya dosa pertama Adam, bukan dosa-dosanya yang lain setelah itu.

Ro 5:12-19 – “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. (13) Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. (14) Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. (15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (16) Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.

1Kor 15:21-22 – “(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”.

Disamping itu dosa Adam dan akibatnya dikontraskan oleh Alkitab dengan perbuatan kebenaran Yesus dan akibatnya, yang menetralisirnya. Kalau dosa Abraham juga punya akibat universal, lalu apa kontrasnya dan apa yang menetralisirnya?

c)   Kalau di bagian atas kutipan di atas Edwin Louis Cole mengatakan bahwa dosa Abraham mempunyai akibat yang ditanggung oleh seluurh dunia, adalah aneh, bahwa dalam memberi contoh di bawah ia hanya memberikan contoh permusuhan antara bangsa Yahudi dan bangsa Arab. Ini bukan sesuatu yang universal!

38)      “Dalam kedamaian ada perhentian yang berasal dari Allah (Ibrani 4:9). Perhentian ini akan mengalahkan kekhawatiran yang ada” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 304).

Ibr 4:9 – “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah”.

Tanggapan saya:

Ayat ini bicara tentang perhentian di surga!

39)      “Dalam kedamaian ada perasaan telah menemukan sesuatu melalui Allah (Lukas 17:21). Ini akan mengakhiri pengembaraan jiwa kita” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 304).

Luk 17:21 – “juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.’”.

Tanggapan saya:

Betul-betul gila menggunakan ayat ini untuk pernyataannya! Sama sekali tak ada hubungannya.

41)      “Allah tidak menciptakan kekacauan (1 Korintus 14:33). Dia justru menyediakan damai sejahtera melalui Yesus Kristus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 304).

Tanggapan saya:

1Kor 14:33 berbicara tentang kekacauan dalam kebaktian / pertemuan ibadah, bukan kekacauan yang ia maksudkan di sini!

1Kor 14:26-33 – “(26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi – baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (36) Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

42)      Setelah menceritakan tentang raja Asa yang tidak menghancurkan ‘bukit-bukit pengorbanan’ / tempat-tempat tinggi, yang akhirnya menimbulkan kembali penyembahan berhala, Edwin Louis Cole lalu berkata sebagai berikut:

“‘Tempat-tempat tinggi’ dalam pikiran kaum pria adalah pikiran-pikiran yang tersembunyi, berupa benteng-benteng nostalgia, sentimen pribadi, dan khayalan-khayalan yang kadang-kadang dijadikan tempat menyepi untuk memuaskan hawa nafsu manusia mereka.” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 317).

Tanggapan saya:

Ini lagi-lagi merupakan pengalegorian / perohanian yang tidak pada tempatnya.

43)      “Biasakanlah membasuh pikiran Anda dengan air firman Allah (Efesus 5:26)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 318).

Tanggapan saya:

ITB Ephesians 5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

KJV Ephesians 5:26 That he might sanctify and cleanse it with the washing of water by the word,

RSV Ephesians 5:26 that he might sanctify her, having cleansed her by the washing of water with the word,

NIV Ephesians 5:26 to make her holy, cleansing her by the washing with water through the word,

NASB Ephesians 5:26 so that He might sanctify her, having cleansed her by the washing of water with the word,

Catatan: kata Yunani yang digunakan adalah EN, yang memang bisa diterjemahkan macam-macam.

Saya sendiri menganggap ‘air’ di sini beda’ dengan ‘firman’. ‘Air’ menunjuk pada baptisan.

Dari pada menggunakan ayat yang meragukan artinya seperti ini, bukankah lebih baik menggunakan ayat-ayat seperti Yoh 15:3  Yoh 17:17????

44)      “Raja Daud adalah ayah yang buruk bagi Adonia, namun merupakan ayah yang menakjubkan bagi Salomo. Alkitab mencatat, ‘Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegur dia’ (1Raja-raja 1:6). Tidak ada koreksi dan teguran dari ayahnya telah menghancurkan Adonia” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 342).

Tanggapan saya:

Ini merupakan pengutipan sebagian ayat yang menyebabkan artinya menjadi lain dari yang seharusnya.

1Raja 1:5-6 – “(5) Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: ‘Aku ini mau menjadi raja.’ Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. (6) Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: ‘Mengapa engkau berbuat begitu?’ Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom”.

Kalau dilihat dari text ini, Daud hanya dinyatakan tidak pernah menegur Adonia dalam hal ia meninggikan diri dengan mengatakan ‘Aku ini mau menjadi raja’. Sama sekali tidak berarti Daud tak pernah menegur Adonia dalam segala hal.

45)      “Manusia terlahir dari daging dan tidak memiliki kodrat ilahi melalui kelahiran alami. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3:3). Dia mengajarkan bahwa Allah adalah Roh, dan oleh karena itu untuk dapat menerima kodrat Allah, kita harus dilahirkan dari RohNya sebagaimana kita dilahirkan dari daging. Ketika Roh Kristus masuk ke dalam kehidupan seorang manusia, terjadilah suatu ‘kelahiran’, karena dengan cara itu manusia dibuat hidup di dalam Roh” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 72).

Tanggapan saya:

Yang warna biru sinting.

“Dalam kemanusiaanNya, Dia mengambil bagian dalam kedagingan kita; dan oleh RohNya kita mengambil bagian dalam keilahianNya, sehingga kita menjadi kebenaran Allah di dalam Kristus Yesus (2Petrus 1:4)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 73).

2Pet 1:4 – “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia”.

“supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘divine nature’ (= hakekat / sifat ilahi).

Calvin: “But the word ‘nature’ is not here essence but quality. The Manicheans formerly dreamt that we are a part of God, and that after having run the race of life we shall at length revert to our original. There are also at this day fanatics who imagine that we thus pass over into the nature of God, so that his swallows up our nature. Thus they explain what Paul says, that God will be all in all (1 Corinthians 15:28,) and in the same sense they take this passage. But such a delirium as this never entered the minds of the holy Apostles; they only intended to say that when divested of all the vices of the flesh, we shall be partakers of divine and blessed immortality and glory, so as to be as it were one with God as far as our capacities will allow [= Tetapi kata ‘nature’ (Yunani: PHUSEOOS - PHUSIS) di sini bukanlah ‘hakekat’ tetapi ‘kwalitet’. Para Manichean dahulu bermimpi bahwa kita adalah sebagian dari Allah, dan bahwa setelah menyelesaikan kehidupan kita akhirnya kembali pada keadaan orisinil kita. Pada saat ini juga ada orang-orang fanatik yang membayangkan / mengkhayalkan bahwa kita akan melewati ke dalam hakekat / sifat dari Allah, sehingga sifat / hakekatNya menelan sifat / hakekat kita. Maka mereka menjelaskan apa yang Paulus katakan, bahwa Allah akan menjadi semua dalam semua (1Kor 15:28), dan dalam arti yang sama mereka mengartikan text ini. Tetapi kegilaan seperti ini tidak pernah memasuki pikiran-pikiran dari Rasul-rasul yang kudus; mereka hanya bermaksud untuk mengatakan bahwa pada waktu dibebaskan / dilepaskan dari semua sifat buruk / jahat dari daging, kita akan menjadi pengambil bagian dari ketidak-bisa-binasaan dan kemuliaan yang ilahi dan diberkati, sehingga seakan-akan menjadi satu dengan Allah sejauh diijinkan oleh kapasitas kita].

Catatan: Webster’s New World Dictionary mengatakan bahwa Manicheism merupakan suatu filsafat yang bersifat agama yang diajarkan pada abad ke 3-7 M. oleh seorang Persia bernama Manes atau Manicheus dan murid-muridnya.

1Kor 15:28 – “Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diriNya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawahNya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Calvin: “we, disregarding empty speculations, ought to be satisfied with this one thing, – that the image of God in holiness and righteousness is restored to us for this end, that we may at length be partakers of eternal life and glory as far as it will be necessary for our complete felicity” (= kita, mengabaikan spekulasi yang kosong, harus puas dengan satu hal ini, – bahwa gambar Allah dalam kekudusan dan kebenaran dipulihkan bagi kita untuk tujuan ini, supaya kita akhirnya bisa menjadi pengambil bagian dari kehidupan dan kemuliaan kekal sejauh itu perlu untuk kebahagiaan lengkap / sempurna kita).

Barnes’ Notes: “it cannot be taken in so literal a sense as to mean that we can ever partake of the divine ‘essence,’ or that we shall be ‘absorbed’ into the divine nature so as to lose our individuality. … It is in the nature of the case impossible. There must be forever an essential difference between a created and an uncreated mind. … The reference then, in this place, must be to the ‘moral’ nature of God; and the meaning is, that they who are renewed become participants of the same ‘moral’ nature; that is, of the same views, feelings, thoughts, purposes, principles of action. Their nature as they are born, is sinful, and prone to evil (Eph. 2:3), their nature as they are born again, becomes like that of God. They are made LIKE God; and this resemblance will increase more and more forever, until in a much higher sense than can be true in this world, they may be said to have become ‘partakers of the divine nature.’” [= ini tidak bisa diambil dalam arti begitu hurufiah sehingga berarti bahwa kita bisa mengambil bagian dari ‘hakekat’ ilahi, atau bahwa kita akan ‘dihisap’ ke dalam hakekat ilahi sehingga kehilangan keindividuan kita. ... Kasus itu merupakan sesuatu yang mustahil. Pasti akan ada untuk selama-lamanya perbedaan antara pikiran yang dicipta dan yang tidak dicipta. ... Jadi, kata-kata di tempat ini harus menunjuk pada sifat ‘moral’ dari Allah; dan artinya adalah bahwa mereka yang diperbaharui menjadi pengambil bagian dari sifat ‘moral’ yang sama; yaitu, dari pandangan, perasaan, pemikiran, tujuan, prinsip tindakan yang sama. Sifat mereka pada waktu dilahirkan adalah berdosa dan condong pada dosa (Ef 2:3), sifat mereka pada waktu dilahirkan kembali, menjadi serupa dengan sifat Allah. Mereka dibuat menjadi SEPERTI Allah; dan kemiripan ini akan makin meningkat selama-lamanya, sampai dalam arti yang jauh lebih tinggi dari yang ada dalam dunia ini, mereka dikatakan telah menjadi ‘pengambil bagian dari sifat ilahi’].

46)      “Campbell berbicara dari Surat Paulus yang Pertama kepada jemaat di Korintus, pasal kesepuluh, mulai dari ayat keenam sampai ayat kesepuluh. … Inilah kelima alasan yang sudah tercatat di dalam firman Tuhan perihal mengapa bangsa Israel gagal mencapai Tanah Perjanjian.

Berbuat jahat

Menyembah berhala

Berbuat cabul / berzina

Mencobai Tuhan

Bersungut-sungut

Ketika saya mencoba untuk memperhatikan daftar kelima alasan yang dikemukakan oleh Campbell tersebut, saya kira dosa yang paling menonjol adalah berbuat cabul (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 3).

Tanggapan saya:

Apa alasannya? Dalam Perjanjian Lama dosa yang paling Tuhan benci kelihatannya adalah penyembahan berhala.

47)      “Allah berjanji bahwa orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan akan duduk bersama-sama dengan Dia di takhta-Nya. Orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan tersebut adalah orang yang akan sanggup mencapai kekudusan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 12).

Tanggapan saya:

Apa dasarnya? Bagaimana kalau seseorang bisa mengalahkan dosa percabulan, tetapi ia suka berdusta, mencuri, tidak disiplin dsb? Yang benar adalah: setiap orang kristen punya kelemahan! Bisa dalam percabulan, dusta, pelit, sombong, munafik, dan sebagainya.

48)      “Ketika orang banyak meminta Kristus turun dari salib, sesungguhnya mereka sedang mencobai Tuhan. Mencobai Kristus adalah menuntut Allah untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya atau yang tidak sesuai dengan kerakter-Nya. Sekarang ini, orang-orang masih melakukan hal yang sama, yaitu dengan menuntut Allah untuk menyediakan jalan keselamatan yang lain selain salib” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 12).

Ini memiringkan arti dari ‘mencobai Tuhan’!

49)      “Mengeluh, mengkritik, cerewet, menggosip – semuanya diklasifikasikan sebagai bersungut-sungut. Surat Korintus yang pertama, pasal yang kelima berbicara mengenai ‘pemfitnah’, suatu kata yang sudah tidak biasa lagi kita pakai sekarang ini. Seorang pemfitnah adalah seorang pengumpat, orang yang suka menyumpah dan mencaci maki Tuhan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 13).

Tanggapan saya:

Ini penafsiran gila!

Bandingkan kata ‘pemfitnah’ itu dengan terjemahannya dalam Kitab Suci bahasa Inggris.

KJV: ‘a railer’ (= orang yang mencerca / menista / mencemooh).

RSV/NASB: ‘reviler’ (= orang yang mencerca / memaki-maki).

NIV: ‘a slanderer’ (= seorang pemfitnah).

Barnes’ Notes: “‘Or a railer.’ A reproachful man; a man of coarse, harsh, and bitter words; a man whose characteristic it was to ABUSE others; to vilify their character, and wound their feelings. It is needless to say how much this is contrary to the spirit of Christianity, and to the example of the Master, ‘who when he was reviled, reviled not again.’” (= ).

50)      “Ketika saya melihat kelima dosa yang mendasar ini, terlihat dengan jelas dan mencolok bahwa kelima dosa dasar ini masih menjadi akar penyebab manusia hidup dengan potensi yang tidak maksimal. Kelima dosa inilah yang menjadi dasar bagi kegagalan seluruh umat manusia. Allah ingin kita memasuki Tanah Kanaan, tempat perhentian, berkat, keberhasilan, kemampuan, dan otoritas – Allah ingin kita berada di sana.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 13).

Tanggapan saya:

Penafsiran salah, dan bau kharismatik, yang mengajar kalau taat semua baik / sukses.

51)      “Beberapa waktu yang lalu, saya diundang menjadi salah seorang tamu di dalam acara talkshow Kristen. Selama pertunjukkan saya mengatakan kepada pembawa acara dan asistennya bahwa Tuhan menuntun saya untuk memerintahkan kaum pria untuk bertobat. Ada selang waktu untuk beristirahat selama acara berlangsung. Pembawa acara memiringkan badannya ke arah saya dan dengan corong mikrofon yang terpasang mati ia berkata: ‘Tidak, tidak, tidak! Kita tidak memerintahkan orang Kristen, tetapi mengundang orang yang berdosa.’ ‘Tidak, tidak, tidak,’ saya memberikan respons balik dengan bisikan. ‘Kisah Para Rasul 17:30 mengatakan bahwa ‘Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.’ Ada kunci perbedaan antara memerintahkan dan mengundang. Bila saya memberi undangan kepada Anda, Anda mempunyai kebebasan untuk memilih. Anda bisa saja menerima atau menolak undangan saya itu. Tetapi, bila saya memerintahkan Anda, Anda tidak punya pilihan. Anda harus mentaatinya atau menolaknya. … Di zaman modern ini, dalam mempsikologikan pekabaran Injil di atas mimbar, kita sering ‘mengundang’ orang-orang untuk menerima Yesus. Kita memberi mereka pilihan, dan mereka menolaknya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 28).

Tanggapan saya:

Ini tolol! Secara prinsip tak ada beda antara ‘memerintahkan’ dan ‘mengundang’ seseorang untuk percaya kepada Yesus. Kalau Tuhan mengundang dan kita tidak menerimanya, itu merupakan penghinaan, dan membuat murka Allah. Dan tak ada bedanya ‘menolak undangan’ dan ‘menolak untuk mentaati suatu perintah’. Juga, banyak ayat yang menunjukkan undangan (baik secara explicit maupun implicit), dan yang menunjukkan bahwa undangan itu mengandung ‘paksaan’, sehingga menjadi perintah, seperti:

Mat 11:28 – Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.

Mat 22:1-14 – “(1) Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: (2) ‘Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. (3) Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. (4) Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. (5) Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, (6) dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. (7) Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. (8) Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. (9) Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. (10) Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. (11) Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. (12) Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. (13) Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (14) Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.’”.

Luk 14:15-24 – “(15) Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: ‘Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.’ (16) Tetapi Yesus berkata kepadanya: ‘Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. (17) Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. (18) Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. (19) Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. (20) Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. (21) Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (22) Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (23) Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. (24) Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu.’”.

52)      “Ketidaktaatan menghancurkan kedamaian. Karena itu, tidak pernah ada roh ketidaktaatan yang masuk ke dalam sorga. Hanya dengan satu roh ketidaktaatan, kedamaian akan menjadi rusak berantakan. Hanya pernah terjadi sekali – Lucifer. Allah langsung memaksa Lucifer angkat kaki dari sorga. Tidak akan pernah ada lagi” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 30).

Tanggapan saya:

Lucifer bukan nama dari komandan setan. Ini sudah saya bahas di no 26 di atas, dan tidak akan saya ulangi di sini.

Istilah ‘roh ketidak-taatan’ itu muncul dari mana?

Apakah ‘Lucifer’ yang ia bicarakan itu bisa merusak kedamaian dari Allah?

53)      “Yesus menyatakan kelembutan-Nya dengan penuh kasih di dalam pesan-pesan-Nya, karya-Nya, di dalam kesembuhan dan penghiburan, dan melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Tetapi, Yesus juga ingin mengusap dan membelai anak kecil, dan merangkul mereka ke lengan-Nya dengan erat. Di sisi lain, Yesus juga menunggangbalikkan meja-meja penukar uang dan orang-orang yang berdagang di dalam Bait Allah. Dari hal ini kita bisa melihat suatu gambaran bahwa Yesus adalah Anak  Manusia, sekaligus juga Anak Allah” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 51).

Tanggapan saya:

Yang mana yang menunjukkan Yesus sebagai Anak Manusia dan yang mana yang menunjukkan Yesus sebagai Anak Allah? Ini betul-betul gila, karena baik kelembutanNya maupun kekerasan / ketegasanNya tidak menunjukkan kemanusiaan (Anak  Manusia) maupun keilahianNya (Anak Allah)!

54)      “Yesus berkata di dalam Yohanes 10:10, ‘Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan.’ Televisi bertindak seperti seorang pencuri” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 117).

Tanggapan saya:

Ini out of context!

Coba baca Yoh 10:10 secara keseluruhan.

Yoh 10:10 – Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Jelas bahwa Yesus mengkontraskan pencuri itu dengan diriNya sendiri. Jadi, tidak mungkin bahwa pencuri itu adalah televisi! Pencuri itu pastilah seorang nabi palsu, atau seorang pelayan Tuhan yang tidak bertanggung jawab. Dan Edwin Louis Cole adalah salah satu contohnya!

Calvin: “By this saying, Christ – if we may use the expression – pulls our ear, that the ministers of Satan may not come upon us by surprise, when we are in a drowsy and careless state; for our excessive indifference exposes us, on every side, to false doctrines. For whence arises credulity so great, that they who ought to have remained fixed in Christ, fly about in a multitude of errors, but because they do not sufficiently dread or guard against so many false teachers? And not only so, but our insatiable curiosity is so delighted with the new and strange inventions of men, that, of our own accord, we rush with mad career to meet thieves and wolves. Not without reason, therefore, does Christ testify that false teachers, whatever may be the mildness and plausibility of their demeanour, always carry about a deadly poison, that we may be more careful to drive them away from us” (= ).

Barnes’ Notes: “The thief has no other design in coming but to plunder. So false teachers have no other end in view but to enrich or aggrandize themselves” (= ).

Adam Clarke: “Those who enter into the priesthood that they may enjoy the revenues of the Church are the basest and vilest of thieves and murderers. Their ungodly conduct is a snare to the simple, and the occasion of much scandal to the cause of Christ. Their doctrine is deadly; they are not commissioned by Christ, and therefore they cannot profit the people. Their character is well pointed out by the Prophet Ezekiel, Ezek 34:2, etc. Woe be to the shepherds of Israel, that do feed themselves! Ye eat the fat, and ye clothe you with the wool; ye kill them that are fed: but ye feed not the flock, etc” (= ).

Bdk. Yeh 34:1-6 – “(1) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? (3) Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. (4) Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. (5) Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-dombaKu berserak (6) dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-dombaKu berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya”.

55)      “Berjuta anak tanpa orang tua akan menjadi masalah, seperti yang telah dinubuatkan oleh Yesaya: ‘penguasa mereka ialah anak-anak’.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 139-140).

Tanggapan saya:

Lagi-lagi penggunaan ayat yang sama sekali tidak pada tempatnya!

Yes 3:12 – “Adapun umatKu, penguasa mereka ialah anak-anak, dan perempuan-perempuan memerintah atasnya. Hai umatKu, pemimpin-pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kamu tempuh mereka kacaukan!”.

KJV Isaiah 3:12 As for my people, children are their oppressors, and women rule over them. O my people, they which lead thee cause thee to err, and destroy the way of thy paths.

RSV Isaiah 3:12 My people — children are their oppressors, and women rule over them. O my people, your leaders mislead you, and confuse the course of your paths.

NIV Isaiah 3:12 Youths oppress my people, women rule over them. O my people, your guides lead you astray; they turn you from the path.

NASB Isaiah 3:12 O My people! Their oppressors are children, And women rule over them. O My people! Those who guide you lead you astray And confuse the direction of your paths.

Jamieson, Fausset & Brown: “Oppressors – literally, exactors; i.e., exacting princes (Isa 60:17). They who ought to be protectors are exactors: as unqualified for rule as ‘children,’ as effeminate as ‘women.’ Perhaps it is also implied that they were under the influence of their harem, the women of their court” (= ).

Barnes’ Notes: [As for my people, children are their oppressors] This refers, doubtless, to their civil rulers. They who “ought” to have been their “protectors,” oppressed them by grievous taxes and burdens. But whether this means that the rulers of the people were “literally” minors, or that they were so in “disposition and character,” has been a question. The original word is in the singular number ‎m­±owleel, and means a “child,” or an infant. It may, however, be taken collectively as a noun of multitude, or as denoting more than one. To whom reference is made here cannot easily be determined, but possibly to “Ahaz,” who began to reign when he was twenty years old; 2 Kings 16:2. Or it may mean that the “character” of the princes and rulers was that of inexperienced children, unqualified for government. [Are their oppressors] literally, ‘are their exactors,’ or their “taxers” – the collectors of the revenue. [And women rule over them] This is not to be taken literally, but it means either that the rulers were under the influence of the “harem,” or the females of the court; or that they were effeminate and destitute of vigor and manliness in counsel. The Septuagint and the Chaldee render this verse substantially alike: ‘Thy exactors strip my people as they who gather the grapes strip the vineyard.’ (= ).

Dari penjelasan ini terlihat bahwa Yes 3:12 tak ada hubungannya dengan anak-anak yang menjadi masalah karena tak ada orang tua. Ini sama sekali bukan nubuat tentang hal itu. Ini merupakan penafsiran yang membengkokkan ayat semaunya sendiri.

56)      “Allah menginginkan keadaan seperti kanak-kanak, tetapi ia membenci kekanak-kanakan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 140).

Tanggapan saya:

Bdk. 1Kor 14:20 – “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”.

Jadi, tak selalu Allah menginginkan keadaan seperti kanak-kanak! Dalam kejahatan kita harus seperti kanak-kanak (Lit: ‘bayi’), tetapi dalam pemikiran kita harus seperti orang dewasa!

57)      “Salah satu sifat umum kekanak-kanakan dalam diri pria masa kini adalah kecanduan terhadap pornografi” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 140).

Tanggapan saya:

Saya tak bisa melihat bahwa ini kekanak-kanakan. Ini dosa!

58)      “Setiap pria mempunyai pilihan untuk menjadi seorang pria yang kekanak-kanakan, seorang pria dewasa atau seorang pria perjanjian. Yesus bertanya, ‘Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?’ Kemudian Yesus menjawab sendiri pertanyaan itu, ‘Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya’ (Luk 7:32-35). Dalam bahasa kontemporer, ‘Jika aku tidak bermain menurut peraturanmu, kau akan mengambil bola dan pulang!’ Pria yang sedang bertumbuh berkata kepada istrinya, ‘Ikuti cara saya.’ Kekanak-kanakan!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 141-142).

Ini lagi-lagi penggunaan text secara out of context!

59)      “Dr. Pearsall datang kepada seorang dokter dan menyatakan bahwa ia sedang sakit dan membutuhkan perawatan. Selama enam bulan para dokter mengatakan kepadanya bahwa ia tidak menderita sakit sampai akhirnya salah seorang dokter setuju melakukan MRI untuk membuktikannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sebuah tumor, yang bisa menjadi kanker, di daerah panggul, tepat di tempat yang dirasakan sakit oleh Dr. Pearsall. Ia percaya bahwa hatinya mengatakan suatu hal yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Termasuk dalam temuannya adalah keyakinannya bahwa hati berbicara lebih dulu daripada pikiran dalam mengatakan kepada kita tentang tubuh kita, dan hidup kita. Hal yang menarik! Dalam kandungan, hati dibentuk lebih dahulu sebelum otak. Kita harus lebih banyak mendengarkan hati kita daripada pikiran kita, demikian kata Dr. Pearsall. Ketika ia memberikan kuliah tentang topik ini, seorang psikiater yang hadir dalam kuliah itu bercerita tentang pasiennya. Seorang gadis berusia delapan tahun adalah penerima jantung transplantasi dari seorang donor berusia sepuluh tahun yang juga adalah seorang anak gadis. Gadis donor itu sebelumnya telah diperkosa dan dibunuh. Ibu dari gadis berusia delapan tahun itu mulai berpikir keras ketika anak gadisnya itu menceritakan mimpi-mimpi yang ia alami. Ibu itu membawa putrinya itu ke seorang psikiater untuk mengkonsultasikan tentang masalah itu, dan mereka akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada polisi perihal mimpi-mimpi anak gadis itu. Berdasarkan laporan itu, polisi menangkap tetangga dari anak gadis yang diperkosa dan dibunuh itu. Gadis penerima jantung transplantasi itu melukiskan secara terperinci tentang rumah di mana pembunuhan itu terjadi, bentuk kamarnya, percakapan yang terjadi antara korban dan pembunuh itu, dan semua gambaran yang diberikan oleh gadis itu tepat dan benar sehingga akhirnya si tetangga itu dinyatakan sebagai pembunuh gadis berusia sepuluh tahun itu. Coba pikirkan, seorang gadis berusia delapan tahun penerima jantung transplantasi dari gadis donor berusia sepuluh tahun bisa menceritakan secara terperinci tentang pembunuhan yang telah terjadi. Hati (jantung menurut pengertian Bahasa Inggris) mengetahui semua yang terjadi. Hati tetap hidup. Tubuh dan otak dari gadis donor itu telah tiada, tetapi hatinya tetap hidup karena transplantasi itu dan semua ingatan tentang pembunuhan itu tersimpan di dalam hatinya. … Hati Dr. Pearsall berbicara kepada dirinya bahwa ia menderita sakit, tetapi pikiran manusia tidak bisa memahami pengetahuan yang berasal dari hati. Hati mengenal apa yang tidak dapat dipahami oleh pikiran. Dalam hal inilah kita terlalu banyak kehilangan. Mengapa? Karena kita terlalu banyak mendengar dengan pikiran kita sehingga kita kehilangan apa yang dikatakan oleh hati kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 146-147,148).

Tanggapan saya:

Lagi-lagi ajaran gila tanpa dasar Alkitab, tetapi hanya didasarkan atas pengalaman seseorang, dan pengalaman inipun dianalisa secara acak-acakan.

Ada beberapa hal yang saya soroti:

a)   Dr. Pearsall merasakan sakit di tempat tertentu dari tubuhnya. Itu bukan urusan hati! Tetapi DR Edwin Louis Cole mengatakan ‘hatinya mengatakan’, ‘hati Dr. Pearsall berbicara kepada dirinya …’.

b)   Orang ini mengacau-balaukan hati (heart) sebagai pusat manusia, dan jantung (heart) sebagai organ tubuh! Dan ini terus ia lakukan dalam buku ini hal 146-149.

Kalau kata ‘heart’ (hati) disoroti sebagai pusat dari manusia maka bisa dikatakan bahwa ‘heart’ (hati) itu bisa berpikir. Kata-kata ‘berpikir dalam hatinya’ sedikitnya muncul 2 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Mark 2:6 dan Luk 5:21.

Mark 2:6 – “Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:”.

Luk 5:21 – “Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: ‘Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?’”.

Tetapi kalau kata ‘heart’ diartikan sebagai organ tubuh, yaitu jantung, adalah mustahil jantung bisa berpikir!

c)   Merupakan kegilaan dan bahkan kesesatan untuk mengatakan bahwa hati gadis itu hidup terus karena ditransplantasikan ke gadis lain! Dan apakah pengetahuan lain, seperti misalnya yang dipelajari di sekolah, juga ditransfer ke gadis penerima jantung itu? Kalau demikian, ia bisa naik dua tingkat / kelas dalam sekolahnya! Saya berpendapat ada kemungkinan-kemungkinan penjelasan lain untuk cerita ini (kalau ceritanya memang benar):

1.   Allah yang memberikan mimpi-mimpi itu untuk memberikan petunjuk.

2.   Gadis yang mati itu tadinya kerasukan setan, dan setelah ia mati setannya pindah ke gadis penerima jantung itu, dan mentransfer (sebagian) pengetahuan gadis pertama. Ini mirip seperti kasus anak yang tahu tentang masa lalunya, dan setelah diselidiki ternyata semua benar.

d)   Apakah semua orang yang menerima transplantasi jantung juga mendapat pengetahuan dari pendonornya? Kalau demikian, orang Kristen awam yang menerima jantung dari seorang profesor theologia, bisa langsung mempunyai pengetahuan Alkitab yang hebat. Seandainya ini benar, saya mau mendonorkan jantung saya pada saat saya mati, supaya pengetahuan Alkitab yang telah saya dapatkan tidak hilang.

e)   Saya sangat meragukan bahwa dalam kandungan, hati (heart – jantung) dibentuk lebih dulu dari otak! Tetapi ini merupakan urusan kedokteran, bukan urusan theologia.

60)      Melanggar satu perintah sama dengan melanggar semuanya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat taat tanpa cacat kepada perintah-perintah itu, kebanyakan kita sudah pernah melanggar perintah-perintah itu” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 152).

Tanggapan saya:

Yak 2:10-11 – “(10) Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (11) Sebab Ia yang mengatakan: ‘Jangan berzinah’, Ia mengatakan juga: ‘Jangan membunuh’. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga”.

Calvin: “What alone he means is, that God will not be honored with exceptions, nor will he allow us to cut off from his law what is less pleasing to us. At the first view, this sentence seems hard to some, as though the apostle countenanced the paradox of the Stoics, which makes all sins equal, and as though he asserted that he who offends in one thing ought to be punished equally with him whose whole life has been sinful and wicked. But it is evident from the context that no such thing entered into his mind. … We now, then, understand the design of James, that is, that if we cut off from God’s law what is less agreeable to us, though in other parts we may be obedient, yet we be come guilty of all, because in one particular thing we violate the whole law. And though he accommodates what is said to the subject in hand, it is yet taken from a general principle, – that God has prescribed to us a rule of life, which it is not lawful for us to mutilate. For it is not said of a part of the law, ‘This is the way, walk ye in it;’ nor does the law promise a reward except to universal obedience” (= ).

Barnes’ Notes: “The design of this is to show the importance of yielding universal obedience, and to impress upon the mind a sense of the enormity of sin from the fact that the violation of any one precept is in fact an offence against the whole law of God. … ‘He is guilty of all.’ He is guilty of violating the law as a whole, or of violating the law of God as such; he has rendered it impossible that he should be justified and saved by the law. This does not affirm that he is as guilty as if he had violated every law of God; or that all sinners are of equal grade because all have violated some one or more of the laws of God; but the meaning is, that he is guilty of violating the law of God as such; he shows that be has not the true spirit of obedience; he has exposed himself to the penalty of the law, and made it impossible now to be saved by it” (= ).

Jamieson, Fausset & Brown: “Not that all sins are equal, but that all carry the same contempt of the authority of the Lawgiver, and so bind over to such punishment as is threatened on the breach of that law. This shows us what a vanity it is to think that our good deeds will atone for our bad deeds, and plainly puts us upon looking for some other atonement. … Obedience is then acceptable when all is done with an eye to the will of God; and disobedience is to be condemned, in whatever instance it be, as it is a contempt of the authority of God; and, for that reason, if we offend in one point, we contemn the authority of him who gave the whole law, and so far are guilty of all” (= ).

61)      “Catatan firman Tuhan tentang Musa dalam perjalanannya menuju kepemimpinan atas Israel mengatakan bahwa ia sakit sampai hampir mati. Istrinya, Zipora, menyunatkan anak sulungnya, dan Musa menjadi sembuh, lalu melanjutkan perjalanannya ” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 159).

“Adalah tanggung jawab Musa untuk menyunatkan anaknya, namun ia gagal melakukan tanggung jawab itu. Mengapa? Saya tidak tahu. Dari pengalaman praktis saya bisa membayangkan betapa sibuknya dia dengan panggilan Allah di dalam hidupnya sehingga ia menyerahkan tanggung jawabnya itu kepada istrinya untuk memperhatikan keluarganya. Istrinya, Zipora, tidak memiliki kesamaan dalam hal didikan, warisan budaya atau pengertian tentang Yehovah; oleh karena itu ketika ia dipaksa  melakukan tugas itu, ia marah. Dosa Musa karena mengabaikan aspek yang terpenting dalam hidupnya ini – yaitu membapai – kemungkinan disebabkan oleh keterikatannya dengan seorang Midian, yang terlalu baik kepada anaknya, sementara Musa terlalu baik kepada perempuan itu (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 160).

Tanggapan saya:

a)   Sekalipun mungkin, tetapi Alkitab tak pernah mengatakan / menuliskan bahwa ‘Musa sakit sampai hampir mati’. Alkitab hanya menuliskan bahwa Tuhan ‘berikhtiar untuk membunuhnya’. Alkitab juga tidak pernah menuliskan bahwa setelah penyunatan itu ‘Musa menjadi sembuh’ (sekalipun ini mungkin saja). Alkitab hanya menuliskan ‘Lalu TUHAN membiarkan Musa’.

Kel 4:24-26 – “(24) Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. (25) Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: ‘Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.’ (26) Lalu TUHAN membiarkan Musa. ‘Pengantin darah,’ kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu”.

Calvin: Certain Rabbins, then, are unwise in their conjecture, that Moses had provoked God’s vengeance on this occasion against himself, because he took his wife and children with him as being a useless charge, which would be likely to encumber him. They pronounce also, too boldly, on the nature of his scourge, viz., that he was afflicted by a severe disease, which endangered his life. Be it sufficient for us to know that he was terrified by the approach of certain destruction, and that, at the same time, the cause of his affliction was shewn him, so that he hastened to seek for a remedy” (= ).

b)   Biarpun tak dikatakan secara explicit tetapi kelihatannya anak yang disunat oleh Zipora itu bukan anak sulung tetapi anak kedua / bungsu.

Kel 2:21-22 – “(21) Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. (22) Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab katanya: ‘Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.’”.

Kel 4:20 – “Kemudian Musa mengajak isteri dan anak-anaknya lelaki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir; dan tongkat Allah itu dipegangnya di tangannya”.

Anak sulung Musa adalah Gersom (Kel 2:22), dan dalam Kel 4:20 ia sudah mempunyai anak-anak (bentuk jamak). Bdk. Kel 18:3-4 dan 1Taw 23:15 yang mengatakan bahwa anak-anak Musa adalah Gersom dan Eliezer.

Kel 18:3-4 – “(3) dan kedua anak laki-laki Zipora; yang seorang bernama Gersom, sebab kata Musa: ‘Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing,’ (4) dan yang seorang lagi bernama Eliezer, sebab katanya: ‘Allah bapaku adalah penolongku dan telah menyelamatkan aku dari pedang Firaun.’”.

1Taw 23:15 – “Anak-anak Musa ialah Gersom dan Eliezer”.

Yang disunat oleh Zipora dalam Kel 4:25 adalah ‘anak’nya (bentuk tunggal), dan kelihatannya ini adalah anak yang kedua / bungsu.

Keil & Delitzsch (tentang Kel 4:24-26): “From the word ‘her son,’ it is evident that Zipporah only circumcised one of the two sons of Moses (v. 20); so that the other, not doubt the elder, had already been circumcised in accordance with the law” (= ).

Ada kemungkinan waktu anak pertama, yaitu Gersom disunat, dan penyunatan itu membuat anak itu sangat menderita / kesakitan, rupanya Musa / Zipora kasihan kepada anak yang kedua, sehingga lalu menunda penyunatan anak yang kedua ini. Tetapi ini membuat Allah murka sampai mau membunuh dia!

Calvin: But it is worthy of observation, that whereas Moses had two sons with him, mention is here only made of one; from whence is deduced the probable conjecture that one of the two was circumcised. Some think that Eliezer, the eldest, was not so, because Moses had not dared to confess his religion so soon, and to awaken hatred on account of it. But I should rather imagine that when, in regard to one he had experienced the hostility of his family, he omitted it in the case of the second, to avoid the anger of his wife or his father-in-law; for if, in the lapse of time, he had attained more courage, he would not have hesitated to correct the former omission; but, worn out by domestic quarrels, he at last departed from his duty (= ).

Catatan: Calvin salah dengan mengatakan bahwa Eliezer adalah anak sulung Musa. Seharusnya yang anak sulung adalah Gersom, dan Eliezer adalah anak kedua / bungsu.

Tetapi kalau ini merupakan penyunatan terhadap anak kedua saja, mengapa kata ‘sunat’ pada akhir dari Kel 4:26 dalam bahasa Ibraninya menggunakan bentuk jamak?

Keil & Delitzsch (tentang Kel 4:24-26): “This she said, as the historian adds, after God had let Moses, go, ‎lamuwlowt‎, ‘with reference to the circumcisions.’ The plural is used quite generally and indefinitely, as Zipporah referred not merely to this one instance, but to circumcision generally” (= ).

Catatan: Kitab Suci bahasa Inggris (KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV) menterjemahkan kata itu dalam bentuk tunggal, tetapi sebetulnya dalam bahasa Ibrani kata itu ada dalam bentuk jamak.

c)   Dalam kutipan kedua (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 160) itu, mula-mula DR Edwin Louis Cole mengatakan ia tidak tahu mengapa Musa tidak menyunatkan anaknya, tetapi mungkin karena kesibukannya, ia lalu melemparkan tugas itu kepada istrinya. Tetapi kata-katanya pada bagian bawah (yang saya beri garis bawah ganda) mengatakan bahwa penyebab tidak disunatnya anak itu adalah: Zipora terlalu baik kepada anak itu, dan Musa terlalu baik kepada Zipora. Ini dua hal yang bertentangan!

Menurut saya adalah tidak mungkin Musa melalaikan penyunatan anak itu karena kesibukannya. Penyunatan tidak membutuhkan banyak waktu, dan ia tidak harus menyunat anak itu dengan tangannya sendiri, tetapi bisa menyuruh orang untuk menyunatkan anak itu.

Ada kemungkinan bahwa Musa dan / atau Zipora merasa kasihan kepada anak sulungnya, yaitu Gersom, ketika ia disunat. Karena itu, anak kedua, yaitu Eliezer (Kel 18:4), ditunda penyunatannya.

Atau, seperti dikatakan oleh Calvin, Musa tidak menyunatkan anaknya karena mertua / istrinya tidak menyetujuinya, dan ia lebih ingin menyenangkan orang dari pada Tuhan.

Calvin: Be it sufficient for us to know that he was terrified by the approach of certain destruction, and that, at the same time, the cause of his affliction was shewn him, so that he hastened to seek for a remedy. For, as we have just said, it would never have otherwise occurred to himself or his wife to circumcise the child to appease God’s wrath; and it will appear a little further on, that God was, as it were, propitiated by this offering, since he withdrew his hand, and took away the tokens of his wrath. I therefore unhesitatingly conclude, that vengeance was declared against Moses for his negligence, which was connected with still heavier sins; for he had not omitted his son’s circumcision from forgetfulness, or ignorance, or carelessness only, but because he was aware that it was disagreeable either to his wife or to his father-in-law. Therefore, lest. his wife should quarrel with him, or his father-in-law trouble him, he preferred to gratify them than to give occasion for divisions, or enmity, or disturbance. In the meantime, however, for the sake of the favour of men he neglected to obey God. This false dealing was no light offense, since nothing is more intolerable than to defraud God of his due obedience, in order to please men” (= ).

62)      “Abraham adalah bapa segala orang percaya di bumi ini. … Pekerjaan-pekerjaan apa saja yang Abraham turunkan kepada keturunannya? Pertama, ia dibenarkan karena iman; kedua, ia taat memberikan persepuluhan; ketiga, ia menyelamatkan Lot; keempat, ia memimpin keluarganya. Allah mengangkat Abraham sebagai pemimpin atas keluarga sorgawi yang ada di atas bumi ini melalui kepemimpinannya atas keluarga duniawinya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 159-160).

Tanggapan saya:

a)   Dari mana tahu-tahu muncul persepuluhan? Abraham memang memberikan 1/10 hasil rampasan kepada Melkisedek (Kej 14:20), tetapi ini tidak bisa dianggap sebagai ketaatan, karena pada saat itu hal itu belum diwajibkan. Memberikan persembahan persepuluhan baru diwajibkan pada jaman Musa.

b)   Penyelamatan Lot juga tak pernah ditekankan oleh Alkitab sebagai ketaatan Abraham.

c)   Abraham memimpin keluarganya? Inipun tak pernah ditekankan sebagai ketaatan Abraham. Perlu diingat bahwa Abraham melakukan polygamy, karena mengambil Hagar menjadi istri / gundik, biarpun itu ia lakukan atas saran dari Sarai.

d)   Abraham tidak diangkat menjadi pemimpin atas keluarga sorgawi yang ada di atas bumi melalui kepemimpinannya atas keluarga duniawinya! Abraham disebut sebagai ‘bapa orang beriman’ bukan karena keberhasilannya memimpin keluarga duniawinya, tetapi karena imannya!

Ro 4:9-13 – “(9) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. (10) Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. (11) Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, (12) dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. (13) Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.

Ro 4:16-25 – “(16) Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, – (17) seperti ada tertulis: ‘Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa’ – di hadapan Allah yang kepadaNya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada. (18) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (19) Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. (20) Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, (21) dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. (22) Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (23) Kata-kata ini, yaitu ‘hal ini diperhitungkan kepadanya,’ tidak ditulis untuk Abraham saja, (24) tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, (25) yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita”.

63)      “Pikirkan pekerjaan-pekerjaan seorang ayah sejati, seorang anak Abraham yang sejati, seorang anak Allah yang sejati. Pertama, sunatkan anak laki-lakimu. Dalam Perjanjian Baru pekerjaan penyunatan anak ini (secara rohani) sama dengan memastikan bahwa anak-anak Anda adalah orang-orang Kristen yang sejati, yang lahir dari Roh Allah (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 161).

Tanggapan saya:

a)   Lagi-lagi ajaran tanpa dasar Alkitab. Mana dasar Alkitabnya untuk mengatakan bahwa menyunatkan anak (secara rohani) merupakan pekerjaan dari ayah saja (bukan dari ibu)?

b)   Menyunatkan anak (secara rohani) adalah sama dengan memastikan kekristenan anak? Rasanya lebih cocok kalau disamakan dengan penginjilan terhadap anak.

c)   Dan kalau mau mengikuti ajaran DR Edwin Louis Cole, itu berarti kita hanya perlu memastikan bahwa anak laki-laki kita adalah orang-orang Kristen sejati. Lalu bagaimana dengan anak-anak perempuan kita?

C)  Hal-hal yang salah dalam hal-hal praktis, moral, etika.

1.         Ajaran yang berbau Theologia Kemakmuran / Sukses.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Yesus mengatakan, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yohanes 14:6). Kebenaran merupakan titik tumpu bagi jalan dan juga kehidupan. ‘Jalan’ adalah arah kita dalam kehidupan ini, ‘kebenaran’ adalah dasar moral dan intelektual untuk kehidupan, sedangkan ‘kehidupan’ adalah buah hubungan kita dengan Yesus. Semakin banyak kita mendasarkan kehidupan ini kepada kebenaran, akan semakin baik jalan kita dan semakin luar biasa pula kehidupan kita” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 172).

Rasanya bau ajaran Kharismatik / theologia kemakmuran / theologia sukses.

“Selanjutnya hikmat Allah itu akan menjadi kunci untuk meraih kemenangan dalam hampir setiap bidang kehidupan ini” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 240).

Lagi-lagi bau theologia kemakmuran / theologia sukses / Kharismatik.

2.         Harus percaya diri (PD)?

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Mereka semua, gembala dan jemaat, secara jasmani mulai menuai hasil kerja mereka, yaitu rasa percaya diri dan harga diri. Kedua hal tersebut merupakan hasil yang mereka peroleh setelah mereka melakukan rencana Allah dengan cara menjadi kreatif” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 263).

Alkitab justru mengecam PD! Yak 4:13-17 dan banyak ayat-ayat Perjanjian Lama.

Yak 4:13-16 – “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah”.

Yer 9:23-24 – “(23) Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, (24) tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.’”.

Yer 17:5,8 – “(5) Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! … (7) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”.

3.   Edwin Louis Cole mendukung Robert Schuller, tokoh dari positive thinking! (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 267).

4.         Sikap tidak bertanggung jawab.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Sejak saat itu saya tidak pernah mengkhawatirkan segala sumbangan yang saya berikan. Saya tidak mempersoalkan apa yang dilakukan orang dengan pemberian saya. Kadang-kadang berdasarkan dorongan yang paling lemah sekalipun saya bahkan memberi juga kepada orang-orang yang saya rasa tidak akan memperlakukan pemberian saya secara benar. Tetapi, bukankah mereka sendiri kelak yang harus bertanggung jawab kepada Allah atas sikap mereka terhadap uang itu, dan bukan saya?” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

Ini bertentangan dengan Amsal 3:27-28 – “(27) Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (28) Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ‘Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu”.

Ini juga suatu sikap tidak bertanggung jawab, dan melemparkan tanggung jawab kepada orang lain! Ini juga merupakan pemberian yang merusak orang, dan karena itu bukan tindakan kasih!

“Penggelapan uang yang dilakukan beberapa pegawai bank tidak membuat saya berhenti menabung di bank. Sebagian uang pajak yang saya bayar mungkin menyelinap ke saku seseorang, namun demikian saya tetap membayar pajak. Dan, meskipun ada hamba Tuhan yang menggunakan pemberian umat Tuhan secara egois, untuk memuaskan hawa nafsu dan kepentingan mereka sendiri, saya tetap tidak akan berhenti memberi untuk Tuhan. Tanggung jawab saya kepada Allah tidak berdasarkan kepada hubungan orang lain dengan Dia. Meskipun demikian, bukan berarti saya sengaja memberi dengan tidak bertanggung jawab, tidak teratur, atau sembrono. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memberi dengan penuh tanggung jawab dan dengan murah hati agar menyenangkan hati Allah (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

Yang saya garis-bawahi kok bertentangan dengan kata-katanya di atas???

“Dalam waktu dua puluh empat jam kemudian saya segera mengundurkan diri dari tugas penggembalaan di gereja dan dari semua jabatan organisasi yang saya pegang. Empat puluh delapan jam kemudian, di garasi rumah saya, saya memulai tugas pelayanan saya yang baru. Mulai saat itu saya menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu yang khusus melayani kaum pria” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 135).

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Selama tiga bulan pertama tahun 1981, saya sibuk luar biasa. Saya melayani di dua jaringan televisi, menjadi rektor sekolah Alkitab, menjadi pendeta senior di sebuah gereja, ditambah lagi sebagai pemimpin pertemuan-pertemuan kaum pria. Semua ini sudah lebih dari cukup bagi saya. … George Otis mengatakan bahwa ia punya ‘pesan’ untuk kami, … Sekarang saya dipanggil untuk melayani seluruh dunia. … Dalam dua puluh empat jam, saya menulis surat-surat pengunduran diri dari posisi-posisi yang sedang saya jabat, membebaskan diri saya dari komitmen-komitmen saya yang lain. Sekarang waktunya untuk mengutamakan kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 173).

Apakah ini pria yang bertanggung jawab? Membuang pelayanan dalam 24 jam pasti mengacaukan gereja! Dan itu datang dari Tuhan?

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Kedewasaan seorang pria tidak diukur dari umur tetapi dari penerimaan akan tanggung jawab. … Apabila pria tidak mau menerima dan melakukan tanggung jawab yang Tuhan taruh dalam kehidupannya, dan jika pria tidak mau bertanggung jawab sebagai kepala di dalam keluarganya, maka keluarganya akan mengalami kehancuran” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 67,68).

Kalau begitu menurut buku ini, big boss-nya sendiri orang yang tidak dewasa, karena bukan hanya tak tanggung jawab, tetapi juga lemparkan tanggung jawab itu kepada orang lain, sama seperti Adam dan Hawa.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Berkhotbah dan mengajar merupakan kerja keras yang mulia. Ringkasan rencana khotbah sering harus saya persiapkan di antara deretan kursi-kursi di dalam pesawat. Kebanyakan persiapan pelayanan saya di ruangan yang sempit itu, yakni di atas meja sandaran kursi yang ada di dalam pesawat terbang” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 1).

“Mesin jet menderu di belakang badan pesawat. Alkitab dan buku catatan saya terbuka di atas meja lipat yang ada di hadapan saya. Tetapi, di dalam perenungan ini, saya seperti kehilangan kesadaran akan keadaan di sekitar saya. Sesuatu sedang bergejolak di dalam roh saya. Saya sadar, hadirat Allah hadir” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 2).

Apakah ini pelayanan yang bertanggung jawab? Tidak heran khotbahnya tak karuan, persiapannya pasti tanpa buku tafsiran / theologia, mungkin karena ia dapat wahyu!

5.         Dalam persoalan persembahan persepuluhan.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Persepuluhan adalah ‘buah sulung’ dari penghasilan atau kekayaan seseorang, …” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

Buah sulung (first fruits) berbeda dengan persembahan persepuluhan!

“Orang yang tidak memberi persepuluhan sama dengan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum. Keduanya sama-sama tidak bertanggung jawab” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 272).

6.         Ajarannya tentang stres.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Stres diperlukan untuk terjadinya pertumbuhan rohani (Yakobus 1:2-4)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).

Yak 1:2-4 – “(2) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, (3) sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (4) Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”.

Apakah pencobaan sama dengan stres???

“Stres membuahkan kasih yang semakin besar dalam diri orang-orang yang setia (Roma 5:3-5)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).

Ro 5:3-5 – “(3) Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, (4) dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. (5) Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”.

Apa urusan text ini dengan stres?

“Stres menghasilkan kehidupan yang semakin kudus (1 Petrus 4:1)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).

1Pet 4:1 – “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, – karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa -,”.

Stress tidak = penderitaan badani!

“Ujian mempersiapkan Anda untuk menghadapi pekerjaan yang lebih besar (Wahyu 3:12)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).

Wah 3:12 – “Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama AllahKu, nama kota AllahKu, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari AllahKu, dan namaKu yang baru”.

Ayat ini tentang sorga, dan tak ada urusannya dengan stres. Tetapi Edwin Louis Cole menghapuskan kata ‘stres’ dalam kalimat ini, padahal di awal ia membicarakan ‘aspek positif dari stres’ (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 287).

“Stres memperbesar kebutuhan akan doa (Filipi 4:6)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).

Fil 4:6 – “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”.

Ini juga tak bicara tentang stres.

“Stres timbul pada saat kita melawan iblis (1 Petrus 5:9)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).

1Pet 5:9 – “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”.

Apa urusan ayat ini dengan stres? Dan apa aspek positif dari stres dari kalimat ini?

“Ujian harus dijalani untuk seperti memperoleh kemenangan (Yakobus 1:12; Roma 8:35-37)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).

Yak 1:12 – “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”.

Ro 8:35-37 – “(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”.

Lagi-lagi ia tidak bicara tentang stres tetapi tentang ujian / pencobaan. Ini 2 hal yang berbeda.

“Stres mendorong kita mencari Allah, dan dengan cara itu kita akan memuliakan Dia (1 Petrus 4:12-13)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 288).

1Pet 4:12-13 – “(12) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. (13) Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya”.

7.         Penekanan keluarga (istri dan anak-anak) yang kelewat batas.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Perkara terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang ayah bagi anak-anaknya adalah dengan mengasihi ibu mereka” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 113).

Bukan memberitakan Injil kepada mereka dan mengasihi Tuhan, tetapi mengasihi ibu mereka??? Ini extrim!

“Hal yang terbesar yang bisa dilakukan seorang ayah bagi anak-anaknya adalah mencintai ibu mereka” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 21).

Ini ajaran extrim! Apakah penginjilan kepada anak-anak itu tidak lebih besar dari tindakan mencintai ibu mereka? Apakah mengasihi Allah tidak lebih besar bagi anak-anak dari tindakan mencintai ibu mereka? Bdk. Mat 22:37-39.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Istri dan keluarga harus lebih didahulukan daripada bisnis, pelayanan, atau karier. Sedangkan Allah harus didahulukan daripada istri dan keluarga” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 184).

Memang Allah dan pelayanan tak bisa diidentikkan, tetapi kalau pelayanan itu memang diperintahkan oleh Allah, maka pelayanan itu harus diutamakan dari keluarga!

Bdk. Mat 10:37  Mat 19:27-29  Kej 12:1  Kej 22:1-12.

D)  Pernyataan-pernyataan yang ngawur / tanpa dipikir / konyol.

1)         Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Kedewasaan seorang pria tidak diukur dari umur tetapi dari penerimaan akan tanggung jawab. … Apabila pria tidak mau menerima dan melakukan tanggung jawab yang Tuhan taruh dalam kehidupannya, dan jika pria tidak mau bertanggung jawab sebagai kepala di dalam keluarganya, maka keluarganya akan mengalami kehancuran” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 67,68).

“Itulah Yesus sang pria sejati” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 70).

Padahal Yesus tidak menikah. Lalu tanggung jawab sebagai kepala keluarga dimana?

“Satu-satunya yang tidak pernah berubah di dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 80).

Hanya Allah yang tidak berubah! ‘Perubahan’ bisa berubah, yaitu menjadi makin cepat atau makin lambat, menjadi makin baik atau makin buruk!

2)         Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Yesus adalah kebenaran! Karena itu, Yesus adalah juga kesejatian!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 27).

Apa maksudnya??

“Allah memang memberkati kita karena memberi adalah tabiat Allah. Dia tidak dapat untuk tidak memberi” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 33).

‘Memberi’ merupakan tabiat Allah???

“Tuhan Yesus adalah imam besar (Mediator kita) atas perkataan-perkataan kita” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 42).

Ini omongan apa? Tuhan Yesus adalah mediator antara kita dengan Allah (1Tim 2:5), bukan mediator atas perkataan-perkataan kita! Kalau mediator / pengantara, harus antara 2 pihak! Mana pihak ke 2? Antara perkataan-perkataan kita dengan apa / siapa?

“Sebelum manusia sepakat dengan penilaian Allah atas kesalahan mereka dan dengan persediaanNya bagi kepentingan kekal mereka, maka manusia akan berada di luar wewenang dan kemampuan Allah (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 78).

Lucu sekali!!!!

Roh kita selanjutnya juga akan bersaksi kepada Allah dan kepada orang lain” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 137).

“nasihat Gamaliel yang berasal dari Allah …” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 137).

Setelah menceritakan hal-hal yang bagus tentang Winston Churchill, Edwin Louis Cole lalu berkata:

“Ketiga ciri di atas sebenarnya diteladani dari Yesus Kristus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 308).

“Kristus tidak hanya memiliki ketiga ciri yang dinamis ini, namun juga keenam syarat yang ditetapkan Allah bagi pemimpin sejati. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus berdasarkan ilham Roh Kudus memberikan persyaratan bagi penilik jemaat yang sesungguhnya berlaku juga bagi setiap pemimpin di muka bumi ini. Dalam persyaratan itu disebutkan bahwa seorang pemimpin harus tidak bercacat (tidak tercela), suami dari satu istri, dapat menahan diri, ….” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 309).

Bagaimana Yesus bisa memiliki syarat ‘suami dari satu istri’???

Setelah menceritakan tentang seorang pria yang melayani Tuhan sampai mengorbankan keluarganya, dan menyebabkan kerusakan pada keluarganya, Edwin Louis Cole berkata:

“Gairah semacam itulah pula telah menyebabkan Musa membunuh seorang pria Mesir” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 310).

Edwin Louis Cole tahu-tahu tanpa ada gunanya nyelonong ke Musa, dan memberikan suatu pernyataan yang sama sekali tidak cocok.

“Etika bukanlah sekedar mata kuliah bagi mahasiswa yang menekuni jurusan filsafat” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 311).

Saya tak mengerti apa hubungan etika dan filsafat!

“Kaum Saduki adalah orang yang gemar mengubah hal-hal yang mutlak menjadi bersifat relatif” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 312).

Apa iya? Apa dasarnya mengatakan hal ini?

“Kemampuan untuk mengakui keunikan orang lain merupakan suatu kekuatan tersendiri. Kaum wanita diciptakan dengan suatu keunikan yang berasal dari Allah sendiri. Apabila seorang suami mampu menerima dan menghargai keunikan itu, maka istrinya akan menjadi istri dan sahabat terbaik baginya, dan akan menyempurnakan kehidupannya. Kalau keunikan seorang wanita diabaikan, dipadamkan, atau hanya dipandang sebagai pembangkit hawa nafsu, maka ia akan menjadi wanita yang tidak utuh dan tidak pernah dapat merasakan kepuasan dalam hidupnya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 330-331).

a)   Keunikan apa yang ia maksudkan? Hanya kaum wanita punya keunikan itu? Menurut saya setiap orang, pria atau wanita, adalah unik!

b)   Bagian bawah kutipan itu menunjukkan seakan-akan kebahagiaan seseorang secara mutlak tergantung sikap orang lain terhadap dia. Saya tak setuju hal itu. Tak peduli bagaimana sikap orang lain terhadap dia, kalau ia menghadapinya dengan benar, ia bisa bahagia!

“Hati dan pikiran para veteran perang Vietnam yang sebelumnya selalu dihantui mimpi buruk, kepahitan, kedengkian, permusuhan, dan kebencian saat itu dibasuh oleh firman dan Roh Yesus Kristus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 359).

Bukan darah Kristus yang membasuh? Tetapi firman dan Roh Yesus Kristus?

“Minggu lalu saya menerima surat dari seorang hamba Tuhan yang menulis tentang ‘hari-hari akhir’ dan penghakiman yang akan Allah lakukan terhadap dunia ini. Memang kita perlu memikirkan hal-hal tersebut. Namun, jangan sampai berita negatif itu menghimpit berita yang positif, yaitu bahwa manusia juga dapat menyenangkan hati Allah!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 359).

Berita tentang akhir jaman dan penghakiman ia sebut berita negatif?? Apa yang ia sebut berita positif tak akan terjadi kalau tidak ada ‘berita negatif’ itu!

“Allah berkenan tidak hanya kepada keilahian Yesus, tetapi juga kepada kemanusiaan yang diperlihatkanNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 361).

Ini omongan apa???

“Dalam diri Yesus, Allah mewujudkan secara nyata apa yang telah difirmankanNya, yaitu bahwa Ia menciptakan pria ‘menurut gambarNya’ … Bagaimana kita dapat menghampiri Allah-manusia, Yesus Kristus ini? Bahkan bagaimana mungkin kita dapat menyamai sifat-sifat ilahi dari Allah yang Mahakudus yang menyatakan diri di bumi sebagai seorang Pria? Saya mengakui bahwa saya belum mendapatkan seluruh jawabannya.” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 8).

Gila, siapa yang menyuruh kita menyamai sifat ilahi dari Yesus?

3)         Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Kepriaan ada di dalam roh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 112).

???????

“Anda bisa memperoleh kerohanian di dalam gereja dari kaum wanita, tetapi Anda hanya mendapatkan kekuatan dari kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 136).

Apa bisa ada kekuatan tanpa kerohanian?

“Apa yang Anda percaya tentang Allah menunjukkan apa yang Anda percaya tentang diri Anda sendiri” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 151).

?????

“Yang menjadi topik saat ini adalah pesan dari kisah penginjilan dan kebenaran utamanya. Kebenaran ini adalah tentang salib, simbol kekristenan. Simbol itu bukanlah palungan atau kubur kosong, tetapi salib di Golgota. Yesus lahir dalam sebuah palungan dan bangkit dari dalam kubur, tetapi penebusan manusia dilakukan di atas kayu salib. … Salib merupakan topik utama dari Alkitab. … Salib adalah puncak penyembahan; pertama adalah altar, lalu tabernakel, rumah ibadah dan akhirnya Golgota” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 151,152).

“Tuhan kita memikul salib-Nya di Taman Getsemani, tetapi Ia dipaku di kayu salib di Golgota. Ketika Ia berdoa di Taman Getsemani hingga peluh yang keluar dari pori-pori-Nya seperti darah, Ia meminta bahwa sekiranya mungkin, Bapa tidak membiarkan Dia menuju salib itu. Ia dibuat berdosa karena kita, memikul kutuk atas dosa, merasakan kematian dan hal itu merupakan sesuatu yang sangat mencela diri-Nya yang tidak berdosa itu. ‘Jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki’ adalah doa yang Yesus ucapkan. Ketika Ia berserah kepada kehendak Bapa dan menyatakan kerelaan-Nya untuk mati agar kita dapat memperoleh kehidupan, Ia memikul salib-Nya. Salib-Nya adalah kerelaan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa, walaupun harus mengorbankan nyawa-Nya. Ia menyuruh Anda dan saya untuk memikul salib kita untuk mengikut Dia sebagai murid-murid-Nya. Apakah salib kita? Sama seperti salib-Nya! Salib kita adalah kerelaan kita untuk melakukan kehendak Allah, walaupun harus mengorbankan diri” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 155).

Apakah itu arti dari ‘memikul salib’????

“Mengapa pria itu begitu penting? Lima kitab pertama dalam Alkitab adalah kisah tentang tujuh orang pria. Kisah Allah tersingkap melalui manusia (pria???). Allah menyingkapkan Diri-Nya sebagai Bapa kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 163).

Siapa tujuh orang pria itu????

E)  Cerita-cerita konyol yang dijadikan ajaran / dasar ajaran, atau ajaran-ajaran yang konyol.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Jack King adalah perwakilan ladang misi bagi Christian Men’s Network. Kami sering bekerja, berdoa, mengadakan perjalanan, dan melayani bersama-sama ke seluruh dunia. Ia masuk ke dalam lembaga pelayanan ini dengan suatu kesaksian yang mengesankan. ‘Pembunuhan Bergaya Hukuman Mati’, bergitulah bunyi kepala berita di surat kabar ketika ayah Jack ditemukan terbunuh dengan luka tembakan di wajahnya. Selama bertahun-tahun kemudian Jack selalu menenteng pistol ke mana pun ia pergi dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk merencanakan pembalasan yang setimpal bagi orang yang telah membunuh ayahnya. Sebagai mantan sersan pelatih di Angkatan Darat Amerika Serikat, Jack memiliki tabiat yang keras dan kasar yang kini berubah menjadi kebencian yang mendalam terhadap si pembunuh dan kehausan untuk membalas dendam. Lebih buruk lagi, ia merasa tahu pasti orang yang membunuh ayahnya – seorang rekan bisnis ayahnya. Suatu hari Jack bertobat dan Yesus Kristus mengubah kehidupannya sehingga seketika itu juga ia terlepas dari kebenciannya yang mendarah daging itu. Namun, sekalipun ia sudah lahir baru, perasaan terluka akibat kematian ayahnya itu masih menggores di hatinya. Suatu malam dalam kebaktian di gereja, firman Allah seakan-akan berbicara secara langsung kepadanya bahwa kalau ia tidak mengampuni, Allah juga tidak akan mengampuninya. Pada saat itu juga ia berdoa dan meminta pengampunan Allah atas kebencian dan usaha pembunuhan yang pernah direncanakannya itu. Ia percaya Allah mendengar dan menjawab doanya, namun ia sama sekali belum siap sewaktu Allah langsung memberinya ujian. Beberapa malam kemudian istrinya memintanya pergi ke toko daging untuk membeli daging sapi. Ketika sedang mengendarai mobilnya menembus kegelapan malam, ia melihat sekumpulan orang banyak sedang menyaksikan kebakaran yang terjadi di seberang jalan. Setelah makin dekat, Jack segera mengenali daerah itu sebagai konpleks gudang tempat ia menemukan mayat ayahnya. Gudang itu sekarang dimiliki oleh pria yang diyakini Jack bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Sambil menggumam, ‘Rasain kamu,’ Jack terus melanjutkan perjalanannya ke toko daging. Namun, ada ‘suara kecil’ dalam hatinya yang mengatakan bahwa ia perlu menemui pria itu dan meminta ampun kepadanya. Ketika meninggalkan toko dan bersiap pulang, suara itu masih tetap berbicara dan membuat Jack tiba-tiba berbelok ke jalan itu untuk mencari bekas musuhnya. Jack turun dari mobil tepat di tempat ayahnya ditemukan tewas. Ia lalu berjalan menyusuri gang yang gelap sambil mengamati keributan akibat kebakaran itu dan matanya sibuk mencari rekan bisnis ayahnya itu. Dalam kilasan lampu-lampu mobil pemadam kebakaran Jack melihat ada seseorang yang juga berdiri di gang yang gelap itu. Dengan menajamkan pandangan matanya menembus kegelapan dan gumpalan asap, Jack melihat bahwa itu adalah orang yang dicarinya. Dikumpulkannya segenap kekuatannya, lalu ia melangkah mendekati orang itu dan bertanya, ‘Anda kenal saya?’ ‘Rasanya saya kenal,’ jawab orang itu tercekat. ‘Saya Jack King.’ Meskipun keadaan di tempat itu cukup gelap, Jack dapat melihat wajah orang itu pucat pasi karena ketakutan. Belakangan Jack baru mengetahui bahwa orang itu mengira Jack telah sengaja membakar gudang itu dan kini hendak menuntaskan pembalasannya. ‘Allah telah mengubah kehidupan saya,’ kata Jack kepadanya ‘dan saya datang untuk meminta Anda mengampuni saya karena saya telah menuduh Anda membunuh ayah saya. Saya mau membereskan kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan sebelum bertobat. Salah satunya adalah meminta Anda mengampuni saya karena saya telah membenci Anda dan mengejar-ngejar Anda selama beberapa tahun belakangan ini. Juga karena saya pernah berusaha menghancurkan kehidupan Anda, keluarga Anda, dan kerier Anda.’ ‘Yah, baik,’ jawab orang itu. ‘Saya ingin Anda mengampuni saya atas semua kejahatan yang telah saya lakukan pada Anda,’ desak Jack. ‘Ampunilah saya.’ ‘Baiklah. Anda sudah saya ampuni,’ kata orang itu cepat-cepat. Jelas terlihat bahwa ia ingin percakapan itu segera berakhir saja. ‘Tidak,’ desak Jack dengan nada yang semakin tegas. ‘Saya ingin Anda benar-benar mengampuni saya, bukan sekadar dengan perkataan, namun juga dengan sikap yang nyata. Saya tidak mau lagi melukai Anda atau berniat buruk terhadap Anda. Saya ingin Anda tahu itu.’ Keduanya terdiam untuk sesaat lamanya. Akhirnya orang itu menarik napas dalam-dalam, kemudian dengan sikap mantap ia mengampuni Jack. Jack meraih tangan orang itu dan mereka bersalaman” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 231-233).

Jack belum menyakiti orang itu, dan Allah suruh ia minta ampun kepada orang itu? Menurut saya ini kegilaan. Lalu pembunuhan dibiarkan begitu saja? Di buku ‘Menjadi Pria Sejati’ hal 234 Edwin Louis Cole mengutip Ro 12:19 (pembalasan adalah hakKu). Apakah ia tidak menyadari bahwa Allah juga yang mengangkat pemerintah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat? Ro 13:4.

“Jack bersukacita karena menyadari dirinya telah bertindak sebagai ‘pria sejati’. Sejak saat itu Jack King telah benar-benar berubah menjadi pria yang baru. … Tetapi akhirnya ia menyadari bahwa kesediaan memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri serta kerelaan untuk mengampuni orang lain membuatnya menemukan jati dirinya sebagai pria sejati yang tidak mungkin diperolehnya dengan cara lain” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 234).

“Seorang pria bernama Hal pernah merasa begitu terancam oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia sebenarnya bertanggung jawab untuk memimpin sekelompok besar kaum pria di kotanya dan harus banyak berurusan dengan orang-orang yang terkenal, kaya, berkuasa dan berprestise. Ia sendiri belum pernah mengalami keberhasilan semacam itu sehingga merasa rendah diri. Perasaan rendah dirinya itu semakin menjadi-jadi dan ia mulai meragukan kemampuannya sebagai seorang pemimpin. Kami bertiga, yaitu Hal, pendetanya, dan saya kemudian meluangkan waktu khusus untuk berdoa bersama-sama. Pada waktu berdoa, pendeta Hal itu mengucapkan kata-kata hikmat yang luar biasa dan akhirnya menjadi kata-kata kesembuhan bagi Hal. ‘Tuhan, ajarkanlah kepada Hal, bahwa ia tidak perlu menjadi sejajar dengan orang-orang yang dilayaninya itu,’ begitulah kata-kata hikmat dari pendeta itu. Kata-kata tersebut segera melepaskan Hal dari segala rasa takut dan rendah dirinya terhadap orang-orang yang dipimpinnya dan memberinya kepercayaan diri untuk melanjutkan kepemimpinannya itu. Masalah yang dialami Hal ini juga sering menimpa banyak gembala sidang yang dipanggil untuk menggembalakan orang-orang yang sukses dan terkemuka. Untuk mengatasinya, mereka tentu saja juga memerlukan kata-kata hikmat yang telah menyembuhkan penyakit rendah diri dari Hal itu” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 314).

Banyak kesalahan dalam kata-kata ini:

a)   Pendeta itu berdoa untuk Hal, tetapi kelihatannya bukan jawaban doa dari Tuhan yang menyembuhkan Hal, tetapi ‘kata-kata hikmat’ dari pendeta itu.

b)         Edwin Louis Cole mengatakan ‘kata-kata hikmat yang luar biasa’.

Bdk. 1Kor 2:1-5 – “(1) Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. (2) Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (3) Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. (4) Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (5) supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”.

c)   Hal segera lepas dari rasa rendah diri. Ini tak masuk akal. Perubahan hidup / pengudusan biasanya berjalan sedikit demi sedikit. Karena itu digambarkan sebagai ‘buah’ (Gal 5:22-23), yang membesar dan matang secara bertahap.

d)   Setelah sembuh Hal menjadi percaya diri. Ini justru dikecam / dikutuk oleh Alkitab.

e)   Apa yang mujarab untuk Hal, diharuskan terjadi untuk orang-orang lain. Ini lagi-lagi salah, karena pengalaman seseorang, kecuali itu didukung oleh Alkitab, tidak harus menjadi pengalaman orang lain.

f)    Semua ini dinyatakan oleh DR Edwin Louis Cole tanpa dasar Alkitab. Ini ajaran yang hanya didasarkan pada pengalaman.

“Pada tahun 1987 di Harare, Zimbabwe, tiga orang wanita menyampaikan ‘suatu perkataan dari Allah’ kepada saya. Pada mulanya seorang mantan inspektur polisi yang membantu mempersiapkan kebaktian kaum pria yang akan kami adakan di negeri itu suatu sore mengatakan kepada saya bahwa ada tiga wanita yang merasa yakin bahwa saya perlu mendengar perkataan mereka. Jadwal saya yang demikian ketat membuat saya tidak dapat bertemu langsung dengan mereka, sehingga inspektur polisi itu menjadi perantara yang menyampaikan pesan tersebut kepada saya. Sebelum menyampaikan pesan itu, sebagai seorang mantan pejabat milter, ia terlebih dahulu membeberkan secara singkat latar belakang negaranya. Negara yang sebelumnya bernama Rhodesia ini dilanda bencana peperangan selama 14 tahun hingga akhirnya berganti nama menjadi Zimbabwe. Pada masa perang itu kaum pria Zimbabwe berjuang di medan tempur selama enam minggu penuh lalu selama enam minggu berikutnya berada di rumah untuk mencari nafkah dan kemudian kembali lagi ke medan perang. Dapat dibayangkan betapa besar ketegangan dan kecemasan yang dirasakan oleh para keluarga dan seluruh bangsa di negeri itu. Wanita-wanita saleh yang ada di negeri itu mulai bangkit dan melakukan doa syafaat bagi kaum pria dan negeri mereka. Seiriang dengan berlalunya waktu, mereka mulai menyadari bahwa diri mereka telah berperan sebagai ‘Ester’. Alkitab mencatat Ester sebagai ratu yang bersyafaat demi keselamatan bangsa dan negerinya dan memohonkan semuanya itu kepada raja yang merupakan suaminya sendiri. …. Kaum wanita Rhodesia yang berdoa bagi bangsanya itu menjadi yakin bahwa mereka bertindak demi bangsanya untuk menghadapi masa perang itu. Akhirnya perang itu pun selesai. Rhodesia berubah menajdi Zimbabwe. Kaum pria pun kembali ke keluarganya. Tetapi, kini muncul persoalan baru yang juga memerlukan perhatian dan doa syafaat mereka seperti yang mereka lakukan di masa perang. Di mata mereka, kaum pria itu telah berubah menjadi pasif, mudah berpuas diri, dan patah semangat. Para ‘Ester’ ini melihat bahwa di masa damai itu dibutuhkan juga doa syafaat yang sama banyaknya dengan yang dibutuhkan pada masa perang. Selama 7 tahun berikutnya mereka terus menaikkan doa syafaat tanpa berkeputusan. Suatu hari ketika sedang berdoa, ketiga wanita ini terkesan dengan sesuatu yang mereka yakini sebagai ‘firman’ yang ditujukan bagi kaum pria di negeri mereka. Mereka terus memelihara ‘firman’ itu dan ‘menanti saatnya’ yang tepat untuk menyampaikannya (Habakuk 2:3). Setahun kemudian mereka mendengar bahwa ‘kesempurnaan seorang pria itu sama dengan keserupaan dengan Kristus’. Ini adalah pengajaran yang kami sampaikan di negeri mereka. Setelah mendengar pengajaran itu, mereka yakin bahwa ‘firman’ yang mereka terima itu perlu disampaikan kepada saya dan lembaga pelayanan kami, Christian Men’s Network. ‘Firman’ yang mereka sampaikan itu begitu sederhana hingga hampir saya mengabaikannya. Namun, selang beberapa lama, ‘firman’ itu bertumbuh terus dalam roh saya dan saat ini saya merasa yakin bahwa ‘firman’ itu sesungguhnya berlaku bukan saja bagi kaum pria Zimbabwe, melainkan juga bagi seluruh pria yang hidup di dunia saat ini – khususnya kaum pria yang telah membiarkan wanita memegang tampuk kepemimpinan di gereja, rumah tangga, dan negara. Firman yang disampaikan ketiga wanita itu adalah ‘Dahulu adalah waktu bagi para Ester, namun kini adalah waktu bagi para Daniel’. Sungguh suatu firman yang penuh kuasa. Para Ester itu adalah kaum wanita yang harus menanggung beban dalam teriknya sengatan kehidupan ini dan harus memikul tanggung jawab yang ditinggalkan kaum pria ketika mereka pergi berperang, yang kemudian tidak mereka ambil alih kembali setelah perang usai. Para wanita Zimbabwe itu melihat bahwa keadaan itulah yang menimpa kehidupan bangsa mereka; tetapi saya melihatnya sebagai suatu masalah yang melanda kaum pria di seluruh dunia. Sudah tiba waktunya bagi kaum pria untuk mau memegang kepemimpinan rohani dan moral dalam keluarga, gereja, serta masyarakat. Kaum pria diharapkan menjadi para Daniel masa kini yang memimpin keluarga, gereja, dan negaranya. Ini merupakan panggilan dari Allah, bukan sekadar seruan kaum wanita” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 319-321).

Ini cerita yang konyol!

Juga ayat Habakuk itu tidak cocok.

Hab 2:3 – “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh”.

Ini membicarakan penggenapan dari suatu penglihatan, bukan penyampaian dari ‘firman’ yang diterima seseorang kepada orang lain!

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Di lain pihak, beberapa orang takut untuk mengatakan kebenaran. Mereka takut melukai hati orang lain, atau mereka takut kehilangan kasih dari mereka. Mereka sesungguhnya tidak menyadari bahwa hal itu merupakan kebenaran, yakni membicarakannya di dalam kasih merupakan satu-satunya cara untuk menyatakan kasih yang sebenarnya. Saya menyebut bentuk kasih yang terakhir ini sebagai kasih sayang terbaik. Izinkanlah saya memberikan sebuah ilustrasi. Ketika saya sedang berkhotbah, di tengah-tengah acara kebaktian, seseorang mengangkat tangannya sambil menggenggam sebuah catatan yang mengatakan bahwa rumah salah seorang dari jemaat yang hadir dalam kebaktian baru saja terbakar. Apa yang harus saya perbuat? Orang tersebut berada dalam situasi berbahaya dan ia segera akan kehilangan segala sesuatu yang ia miliki. Tetapi, bila saya menyela acara kebaktian itu dan mengatakan hal itu kepadanya, saya akan membuatnya bingung dan mungkin pula akan merasa sedih, atau malah mungkin akan membuat hatinya terluka. Karena itu, saya tidak ingin ia mengalami banyak kesulitan, kesedihan, atau kebingungan. Dan, saya akhirnya memutuskan untuk tidak memberitakan informasi itu. Kemudian, setelah kebaktian, dalam keadaan ketakutan seorang anggota jemaat datang sambil menangis, ‘Rumah saya hangus terbakar!’ ‘Ya, saya sudah tahu,’ respons saya. Anggota jemaat yang mengalami musibah itu menatap saya dengan mata terbelalak. ‘Anda sudah tahu?’ ‘Betul,’ saya menegaskan. ‘Masih ingatkah Anda dengan tangan yang teracung ke atas sambil memegang catatan ketika acara kebaktian sedang berlangsung? Catatan itu mengatakan, bahwa rumah Anda terbakar.’ ‘Mengapa Anda tidak mengatakannya kepada saya?’ Dan, jawaban saya sederhana saja: ‘Saya tidak ingin mengatakannya kepada Anda karena saya tahu hal itu akan membuat Anda sedih.’ Aneh. Hampir setiap hari kita melihat hal yang serupa ini terjadi. Banyak ibu yang menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tetapi akhirnya menghancurkan anaknya dengan cara tersebut, yang menurutnya adalah cara yang terbaik. Hanya ibu yang kurang waras yang melakukan hal yang demikian. Ibu mertua juga sering berusaha untuk menolong anaknya, tetapi malah menghancurkan pernikahan mereka melalui bentuk kasih yang dia anggap adalah kasih yang terbaik” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 33-34).

Saya tidak mengerti omongan kacau balau ini. Apa yang ia lakukan bertentangan dengan apa yang ia katakan. Apakah ilustrasi itu bukan sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, dan hanya mengilustrasikan ketololan seandainya ia lakukan?

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Rohnya terlihat sangat lapar” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 35).

Bagaimana kelihatannya roh yang sangat lapar???

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

Cerita di hal 36 konyol dan tak bisa saya mengerti apa maksudnya.

“Ketika saya masih kanak-kanak, dan ibu saya bertugas di sebuah Sekolah Alkitab di Los Angeles, saya pergi bersamanya dengan murid-murid yang lain ke suatu daerah yang runtuh akibat keributan yang terjadi. Di tempat itulah mereka melakukan pemberitaan Injil. Ibu, Annie, dan mereka semua mengambil gitar, tamborin, dan drum besar. Di sudut jalan itu, mereka bermain musik dan bernyanyi sambil memberitakan Injil. Mereka melayani masyarakat yang mengalami penderitaan yang sangat dalam itu. Suatu sore, setiap orang sedang menyanyikan lagu rohani lama: ‘Dosa dapat di hapus, hanya oleh darah Yesus …’ Seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok kami, dengan tubuh yang tidak terawat, tampaknya ia seorang pecandu berat alkohol datang mendekati Annie. Orang-orang di sekitar daerah itu menyebut dia ‘winos’. Sama seperti yang lainnya, sepotong rokok lusuh menempal di celah-celah jarinya yang kuning dengan kukunya yang kotor. Ia menggunakan kaca mata bergagang tipis, Kulitnya penuh daki, pakaiannya terbuat dari karung, dan napasnya mengeluarkan aroma anggur murahan. Ia menarik lengan Annie, tetapi Annie segera menepisnya. Beberapa kali ia melakukan hal yang sama, sampai akhirnya ia menarik Annie ke arahnya, sehingga pria itu bisa berbicara kepada Annie sementara teman-teman yang lain masih tetap bernyanyi. ‘Saya tahu, apa yang Anda katakan itu benar,’ ia berkata perlahan dan berbisik, dengan suara aneh, janggal, dan parau. ‘Tidak ada yang bisa membasuh dosa kita selain darah Yesus.’ Saya berdiri di sana, mendengar, mengamati, serta merenungkannya. ‘Saya pernah memimpin sebuah seminari,’ ia meneruskan kata-katanya. ‘Saya tahu semua itu. Tetapi, perlu Anda camkan dan ketahui, ada perbedaan, perbedaan yang besar antara dibasuh menjadi putih dengan membasuh menjadi putih.’ Kemudian, ia melengos pergi sambil terhuyung-huyung. Sementara ia berlalu kata-katanya tetap membekas, dan tetap ada dalam ingatan saya sampai saat ini. Allah telah membasuh menjadi putih. Dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak diampuni. Hikmat manusia menghalangi. Hikmat Allah menyingkapnya. Manusia dibasuh menjadi putih. Allah membasuh menjadi putih.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 36-37).

Apa maksud cerita ini?????

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Karena kaum pria adalah kepala rumah tangga, perubahan harus dimulai dari kaum pria!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 83).

Ia menceritakan tentang seorang yang bernama Rick.

“Selama berada di pekarangan, ia mendengar suara dari dalam dirinya yang berkata, ‘Pergilah.’ Pada kesempatan lain, suara yang sama mengatakan hal yang sama lagi. … Ia ingin tahu, ‘Apakah Roh Kudus yang berbicara kepada saya, ataukah setan – atau yang lain?’ Semakin kami banyak bercakap-cakap, semakin saya menyadari bahwa Allah sedang bekerja di dalam kehidupannya. Tetapi, Rick belum menyadari hal itu. … Dan kemudian, saya masih tetap mendengar suara ini berkata di dalam diri saya, pergilah.’’. Rick sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya beberapa tahun yang lalu. Tetapi, ia belum pernah membuat sebuah komitmen secara menyeluruh. Beberapa bagian dari kehidupannya masih berada di bawah pengawasan pribadi, bukan di bawah pengawasan Allah. Setelah kami berbincang-bincang, kami berdoa bersama. Sinar terang mulai menyeruak di dalam hati Rick. Suara yang ada di dalam diri Rick sesungguhnya adalah suara Allah yang berbicara melalui Roh Kudus. ‘Pergilah’ berarti, pergilah, bebaskan dirimu dan kemudian serahkanlah dirimu sepenuhnya ke dalam genggaman tangan Tuhan, percaya penuh kepada-Nya. Rick memahami perkataan Allah yang sederhana itu, ‘Tinggalkan semua caramu sendiri, dan bergantung sepenuhnya di dalam Aku.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 84-85).

Kok aneh, kata ‘pergilah’ di artikan seperti itu??? Dan itu disebut ‘sederhana’?

“Dengan pemahaman itulah kami berdoa. Kami bersepakat dengan Allah. Rick, menanggalkan caranya yang lama, menyerahkan kehidupannya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sejak saat itu, Rick menjadi seorang pria yang lebih berpotensial daripada waktu-waktu sebelumnya. … Perubahan sudah terjadi. Apakah yang terjadi dengan keluarganya? Beberapa bulan kemudian, Rick dan Joan duduk bersama kami di ruang tamu dengan beberapa orang lain. Tiba-tiba, saya menyadari bahwa ternyata Joan menangis. Saya menanyakan sebabnya. ‘Saya tidak sedang menangisi diri saya,’ ia berkata. ‘Saya sesungguhnya sedang menangisi kaum wanita lainnya yang akan mengalami hal yang sama seperti yang sudah saya alami. Sesudah Rick mengalami perubahan itu di dalam kehidupannya, ia kembali ke rumah dan segera segala sesuatunya pun berubah.’ Kemudian, Joan menjelaskan dampak yang luar biasa akibat perubahan yang sudah dialami Rick. ‘Kami tidak mengatakan kepada anak-anak apa yang sudah dialami Rick. Kami hanya ingin membiarkan segala sesuatunya terjadi secara wajar.’ Tetapi, tiga hari setelah Rick datang ke rumah, anak perempuan saya menghampiri saya dan berkata, ‘Mama, apa yang terjadi dengan papa? Papa kelihatannya berubah.’ Rick, Joan, dan anak-anak mereka menemukan bahwa perubahan selalu datangnya dari kepala keluarga” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 85).

Lucu, hanya berdasar pengalaman, tanpa dasar Alkitab!

Bagaimana kalau suami tidak Kristen, sedangkan istrinya Kristen?

Dan bagaimana dengan ayat-ayat di bawah ini?

Bdk. 1Kor 7:16a – Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?”.

1Pet 3:1-2 – “(1) Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, (2) jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.

Bagaimana dengan Priskila dan Akwila?

2Tim 1:5 – “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.

Catatan: dalam keluarga Timotius, yang kristen duluan justru adalah nenek dan ibunya. Mungkinkah kakek dan ayahnya, yang adalah orang kafir, yang mengajarkan kekristenan kepada Timotius?

Masih berkenaan dengan hal itu dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’ dikatakan:

“Banyak kaum pria saat ini yang sanggup mengubah istri, anak-anak, bisnis, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, sedangkan diri mereka sendiri tidak diubahkan. … Anda adalah seorang pria – Jika Anda berubah, keluarga Anda juga akan berubah. Jika Anda diubahkan, maka bisnis Anda pun akan diubahkan. Hai kaum pria, perubahan harus dimulai pertama-tama di dalam diri Anda” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 89-90).

Kalimat yang atas bertentangan dengan kalimat yang bawah!

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Di dalam Kitab Efesus 5:23 disebutkan bahwa dalam rumah tangga, kaum pria setara dengan Kristus sebagai Kepala gereja. Perkara ini memiliki makna yang dahsyat di dalam diri kaum pria. Kebenaran: Sebagaimana Kristus adalah Juruselamat gereja, yang menyediakan jalan keluar terhadap masalah-masalah jemaat, demikian pula dengan kaum pria. Kaum pria mengambil tugas yang sama di dalam keluarga mereka. Jalan keluar terhadap masalah keluarga tetap diprakarsai oleh kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 91).

Ef 5:23 – “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”.

Saya tak terlalu setuju dengan kata-kata ini. Kalau suami memang adalah kepala keluarga bukankah ia boleh mengatur sehingga persoalan-persoalan tertentu dibereskan oleh istri?

Bdk. Priskila dan Akwila, juga Zipora pada waktu menyelamatkan Musa dengan menyunatkan anaknya. Lebih-lebih tentang Debora!

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Tim dan Alice datang kepada saya untuk melakukan konseling. Mereka mengalami penderitaan di dalam pernikahan mereka, padahal Tim adalah seorang hamba Tuhan. Karena hal itu, Tim merasa takut untuk mengungkapkan segala sesuatu yang menyangkut tentang dirinya, takut terhadap tanggapan istrinya terhadap dia. Ada kepedihan di dalam hati dan roh Alice. Juga, ada kegelisahan di dalam diri Tim. Tim berasal dari keluarga pria ‘macho’, di mana kaum prialah yang menguasai segala sesuatunya. Ayah dan saudara laki-lakinya adalah seorang yang tidak beradat, kasar, dan kebanyakan dari mereka bertingkah laku yang tidak bermoral dan juga tidak senonoh. Akan tetapi Tim sudah dipengaruhi oleh firman Allah dan kepada pewahyuan dari jiwanya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadinya. Ia sudah bertobat dari dosa-dosanya, percaya kepada Tuhan dan menjadi manusia baru ketika Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan. Karena anugerah Allah yang besar yang ia saksikan, sukacita karena dosanya sudah diampuni, dan kerinduan untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang, ia kemudian memutuskan untuk mengikuti sekolah Alkitab. Alice ialah seorang guru Sekolah Minggu. Ia dibesarkan di lingkungan gereja, ia belum pernah mengenal lingkungan lain selain kehidupan dan budaya kristiani. Alice, sama seperti Tim, ingin pula menyaksikan kasihnya kepada Yesus kepada seluruh dunia, dan untuk memperlengkapi dirinya dalam misi tersebut, ia mendaftarkan dirinya di sebuah sekolah Alkitab. Tim dan Alice bertemu dan berkenalan di sekolah Alkitab. Mereka berpacaran selama setahun. Saat yang dinanti-nantikan Alice pun datang, ia menerima lamaran Tim, dan mereka segera mengumumkan pertunangan mereka. Tiga minggu sebelum pernikahan dilangsungkan, mereka pergi ke suatu tempat yang tersembunyi. Memeluk Alice membuat gairah Tim meningkat, dan Alice pun menjadi lebih terlena, dan kelihatannya ia sudah tidak mampu lagi untuk menghentikan cumbuan Tim. Tim tidak pernah punya standar kerohanian dan standar alkitabiah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pikir Tim: mereka akan menikah tiga minggu lagi – kenapa harus menunggu? Alice tahu lebih banyak mengenai kebenaran, tetapi ia tidak ingin mengecewakan Tim. Akhirnya, ia pasrah. Mereka melakukan hubungan sex di ruang belakang sebuah gedung tua. Enam tahun setelah itu, mereka ada di kantor saya. Di depan umum kehidupan mereka tampaknya penuh kasih sayang, tetapi sesungguhnya mereka mudah mengubah pendirian, mengeluarkan kata-kata kasar, menuduh dengan sengit, termasuk kekejaman fisik yang dilakukan akibat persoalan yang tidak bisa dipecahkan, perbuatan yang tidak mengampuni, dan kasih yang tidak sepenuhnya. Tim mengeluhkan permusuhan tersembunyi yang dilakukan Alice. Alice mengecam rasa tidak bertanggung jawab Tim terhadap dirinya. Berjam-jam saya mengarahkan mereka dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, dan dari satu perasaan ke perasaan yang lain. Akhirnya, kami menemukan batuan keras yang merupakan penghalang hubungan mereka selama ini. Setelah enam tahun pernikahan mereka, Alice mengatakan dengan terus terang tentang apa yang membuat ia tertekan selama ini. Ia sangat membenci Tim karena tidak membiarkan dirinya untuk tetap perawan sampai mereka menuju pernikahan. Dihadapkan dengan masalah itu, Tim memandang Alice dengan perasaan heran bercampur marah. ‘Maksudmu, kau menyalahkan aku atas semua masalah yang pernah kita lakukan? Menyalahkanku karena satu perkara itu? Aku sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa hal itu sangat mempengaruhimu!’ Kemarahannya pun meledak. Saya memotong pembicaraan mereka. ‘Tuan, sebenarnya masalah itu ada pada diri Anda – di pihak Anda. Kecuali, kalau Anda mau menerima tanggung jawab Anda atas istri Anda yang sudah merasakan kehilangan dan malu, kecuali kalau Anda mau memohon pengampunan atas tindakan itu, Anda tidak akan pernah mempunyai hubungan yang sehat dengan istri Anda.’ Ia seperti sedang dilanda badai topan yang dahsyat. Wajahnya pucat pasi. Tetapi, setelah ia memikirkannya di rumah, is mulai melihat betapa pentingnya keperawanan itu. Ia merampas apa yang oleh Alice dianggap sebagai pemberian yang paling berharga yang kelak akan diberikan kepadanya. Perbuatan kotor yang mereka lakukan di ruangan belakang gedung tua itu tidak lebih dari sekadar pemerkosaan atas dirinya dibandingkan aktivitas biologis atas dasar kasih yang tertinggi antara seorang pria dengan seorang wanita. Akhirnya, waktu itu datang juga ketika ia harus mengakuinya, bahwa gairah birahinyalah, bukan kasihnya yang telah menyebabkan persoalan. Itu merupakan kesalahannya, dosanya, dan ia bertobat dari hal itu, memohon pengampunan kepada istrinya dan mengadakan pemulihan kepada istrinya. Istrinya sungguh-sungguh mengampuninya. Permusuhan terhadap dirinya tidak ada lagi, dan kehidupan mereka berubah secara dramatis” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 126-128).

Cerita ini merupakan omong kosong dan salah. Dua orang yang pacaran menjadi begitu bernafsu sehingga akhirnya melakukan hubungan sex. Dikatakan Alice pun ‘menjadi lebih terlena’ dan ‘tidak mampu lagi untuk menghentikan cumbuan Tim’. Lalu mengapa wanitanya marah? Dan mengapa Tim yang disalahkan dan harus minta maaf? Mengapa disebut sebagai ‘pemerkosaan’? Tidak ada pemerkosaan! Mereka melakukan atas dasar mau sama mau! Jadi, keduanya sama-sama salah, dan sama-sama harus minta ampun kepada Tuhan, dan bukan satu kepada yang lain!

Dan dalam cerita ini juga ada kejanggalan-kejanggalan theologis:

a)   Mula-mula dikatakan Tim ‘sudah dipengaruhi oleh firman Allah dan kepada pewahyuan dari jiwanya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadinya. Ia sudah bertobat dari dosa-dosanya, percaya kepada Tuhan dan menjadi manusia baru ketika Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan’.

Tetapi di bagian bawah dikatakan ‘Tim tidak pernah punya standar kerohanian dan standar alkitabiah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah’.

Tidakkah kedua pernyataan ini salingbertentangan?

b)   Kata-kata ‘Ia sudah bertobat dari dosa-dosanya, percaya kepada Tuhan dan menjadi manusia baru ketika Roh Kudus masuk ke dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan’ juga salah / sesat secara theologis, karena:

1.   Menunjukkan bahwa pertobatan dari dosa terjadi lebih dulu dari masuknya Roh Kudus ke dalam hidupnya.

2.   Edwin Louis Cole mengatakan bahwa ‘Roh Kudus masuk di dalam hidupnya di dalam kuasa penyelamatan’.

Setelah ia bertobat dari dosa, Roh Kudus masuk, dan menyelamatkan? Ini terbalik tidak karuan! Mestinya percaya Yesus dulu, lalu diselamatkan, dan Roh Kudus masuk, lalu terjadi perubahan / pertobatan dari dosa.

F)  Doktrin-doktrin yang salah / sesat.

1)   Edwin Louis Cole percaya adanya wahyu dan pengilhaman pada jaman sekarang, dan ia sendiri mengatakan dirinya menerima wahyu, menjadi nabi dan sebagainya.

a)   Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

1.   Pada bagian intro: “Apakah Christian Men’s Network? Christian Men’s Network adalah sebuah jaringan pelayanan pria, yang didirikan oleh DR Edwin Louis Cole pada tahun 1979. “Saya percaya Allah telah memanggil saya untuk berbicara dengan suara kenabian kepada pria-pria generasi ini. Dia telah menetapkan saya dengan pelayanan yang berfokus kepada pria, untuk membawa mereka kepada keserupaan dengan Kristus dan menjamah mereka dengan kenyataan bahwa ‘Menjadi pria sejati dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama’ (DR Edwin L Cole)” (‘Hikmat Bagi Pria’, bagian Intro).

2.   “Kalau hati kita berbalik kepada Tuhan, maka selubung (penghalang) kita diambil, sehingga komunikasi kita dengan Tuhan kembali tercipta, dan pewahyuan dari Tuhan menjadi nyata atas kita, sehingga kita tidak berjalan dalam kehendak kita sendiri tetapi berjalan di dalam kehendak Tuhan” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 88).

b)   Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Dari nada bicaranya saya segera dapat merasakan bahwa Allah sendiri yang telah mengilhaminya untuk berbicara demikian” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 134).

Ini lagi-lagi sesat. Kalau ada ilham, maka apa yang dikatakan orang itu harus jadi Alkitab jilid 2! Dan dari mana / bagaimana Edwin Louis Cole bisa ‘merasakan’ ilham itu???? Penulis-penulis Alkitab sendiri belum tentu merasakan kalau Allah mengilhaminya dalam menuliskan Alkitab.

“Bertahun-tahun kemudian, Tuhan kembali menyampaikan firmanNya secara khusus kepada saya. Ketika itu saya sedang berpuasa dan seperti biasa, pagi itu saya juga berjalan-jalan menyusuri pantai seorang diri di tengah-tengah udara yang masih terasa begitu dingin dan berkabut. Saya kemudian berseru kepada Allah dan RohNya menyampaikan kelima ‘firman’ ini kepada roh saya:

‘Kuduskanlah dirimu.’

‘Beritakanlah Firman Tuhan.’

‘Jangan ragu akan apapun.’

‘Gunakanlah emas, namun jangan jamah kemuliaannya.’

‘Naikkanlah doa yang terdapat dalam Kisah Rasul 4:24.’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 135).

“Tiba-tiba anak perempuan kami, Joann, berkata: ‘Pa, tahukah Papa kalau dosa seksual akan merupakan masalah yang melanda gereja pada dasa warsa delapan puluhan nanti? Pada akhir minggu pertama bulan Februari 1980 dalam sebuah retreat kaum pria di Oregon, saya mengutarakan hal itu. Saat itu saya tidak menyadari nubuat yang terkandung dalam pernyataan tersebut” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 135,136).

Anaknya bernubuat!!!

“Itu sebabnya kita harus memperhatikan perkataan para nabi” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 137).

Nabi Perjanjian Lama atau nabi jaman sekarang??? Kelihatannya ia percaya jaman sekarang masih ada nabi.

“Anda harus dapat menjadi wahyu Allah yang dinyatakan bagi orang-orang tersebut. Sebagaimana dahulu Yesus menjadi wahyu Allah yang dinyatakan di atas bumi, demikian pula kaum pria harus berdiri mewakili Kristus dan menjadi wahyu Allah bagi sesamanya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 138).

‘Menjadi Pria Sejati’, hal 140-148 – istilah ‘wahyu’ maupun ‘inspirasi’ digunakan dalam arti yang ngawur!

‘Menjadi Pria Sejati’, hal 141,142,143,145,146,147,148 – istilah-istilah ‘wahyu yang baru’ dan ‘inspirasi yang baru’.

“Apabila orang menolak wahyu yang baru, maka ia akan terjerumus ke dalam proses kristalisasi. Padahal, Tuhan adalah Allah yang tidak mengenal kemandekan. Dia terus menerus menyatakan diriNya untuk memulihkan segala sesuatu sebelum kedatangan Kristus yang keduakalinya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 142-143).

Jadi, tak ada henti-hentinya Ia memberi wahyu? Lalu mengapa tak keluar Alkitab jilid 2,3 dst? Allah tak mengenal kemandekan???

“… semuanya itu hendaknya tidak membuat manusia lupa untuk kembali kepada Allah guna mendapatkan lagi wahyu yang baru. Bangsa Israel harus mengumpulkan manna segar setiap hari (Keluaran 16:16-21) sebab jika lewat dari satu hari, manna itu akan membusuk. Kalau kita berusaha memuaskan diri dengan wahyu mula-mula saja dan tidak berusaha mencari wahyu baru dari Allah, kita akan mengalami kemerosotan dan menjadi orang yang ‘setengah-setengah’ saya atau bahkan ke tingkat yang lebih rendah lagi” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 148-149).

Ini lagi-lagi alegori yang ngawur. Kalau manna diartikan wahyu, maka pada hari Sabat mereka tidak mendapat wahyu, karena Tuhan tak beri manna pada hari Sabat!

“Pada minggu terakhir dari masa puasa selama empat puluh hari yang saya lakukan, saya merasa begitu peka terhadap Roh Allah. Pada saat itulah saya mendapat dorongan yang kuat untuk ….. Ketika akhirnya saya merenungkan kejadian itu, saya mendengar suara lembut Roh Kudus berbicara dalam hati dan pikiran saya dan menyampaikan perkataan Yesus” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 270).

Lalu ada dialog dia dan Roh Kudus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 271).

“Roh Kudus berbicara kepada saya, …” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 274).

c)   Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Saya juga telah menambahkan beberapa bab yang tidak hanya menguatkan apa yang telah ditulis pada awalnya, tetapi juga memberikan pewahyuan yang luas dan makna yang lebih dalam pada kebenaran bahwa ‘Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 0 / prakata untuk edisi baru).

“Mesin jet menderu di belakang badan pesawat. Alkitab dan buku catatan saya terbuka di atas meja lipat yang ada di hadapan saya. Tetapi, di dalam perenungan ini, saya seperti kehilangan kesadaran akan keadaan di sekitar saya. Sesuatu sedang bergejolak di dalam roh saya. Saya sadar, hadirat Allah hadir (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 2).

Catatan: saat ini Edwin Louis Cole sedang mempersiapkan bahan khotbahnya dalam pesawat.

“Pesawat United Airlines membawa saya semakin mendekati tujuan. Momen demi momen mendekatkan saya pada retret yang harus saya layani. Tiba-tiba saya ingin menulis. Saya sadar bahwa Roh Allah di dalam diri saya mengilhami dan menuntun pena saya untuk menuliskan sesuatu di dalam buku catatan (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 5).

Catatan: terlihat bahwa Edwin Louis Cole mempersiapkan khotbahnya tanpa buku-buku yang dipelajari, tetapi hanya bergantung pada pimpinan Roh Kudus. Perhatikan khususnya kata ‘mengilhami’!

“Sebenarnya perkara ini terlalu keras, terlalu tajam – bahkan untuk seorang nabi-pengkhotbah seperti saya, yang sudah berkhotbah di hadapan ribuan orang” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 5).

Perkataan yang Allah berikan kepada saya ketika saya masih berada di dalam pesawat menuju retret di Oregon secara spesifik dan langsung tertuju kepada salah satu dari dosa-dosa tersebut: berbuat cabul. Hal ini sungguh memiliki kekuatan dan dampak yang fenomenal. Dua ratus enam puluh lima orang berlari menuju ke depan panggung dan ingin bertobat di hadapan Allah. Malam itu, kuasa Allah begitu kuat, tak seorang pun di antara mereka yang pulang tanpa dijamah atau diubahkan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 14).

“Dan, ketika saya berdoa bersama orang-orang tersebut di kapel kecil di Oregon tersebut, saya merasakan Roh Kudus membisikkan kepada saya untuk juga menjangkau yang lain” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 15).

“Akan tetapi Tim sudah dipengaruhi oleh firman Allah dan kepada pewahyuan dari jiwanya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat pribadinya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 126).

Apa yang orang ini maksudkan dengan ‘pewahyuan dari jiwanya’??? Apa yang ia maksudkan dengan istilah ‘wahyu’????

“Suatu ketika saya sedang melayani seorang pendeta di Chicago, tiba-tiba Roh Kudus mengambil alih ‘saat-saat Allah’ itu. Sambil memandang jemaatnya, saya berkata bahwa ada beberapa orang anggota jemaat yang sedang mencari kesalahan pendeta, mereka mengeluh karena tidak bisa bertemu dengan pendeta atau tidak ada lagi hubungan seperti yang mereka rasakan beberapa tahun sebelumnya. Persoalannya adalah bahwa ia telah bertumbuh ke tingkat-tingkat yang baru, tetapi jemaatnya tidak bertumbuh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 168).

‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 39-40, cerita tentang anaknya yang mau meminjam mobilnya, dan lalu bersikap kurang ajar pada waktu permintaannya ditolak. Dia mau marah tetapi Roh Kudus melarangnya!!!

“Saya akan mengajarnya. Tetapi, Roh Kudus melangkah masuk, dengan tenang, dan hening, Ia membisikkan sebuah kalimat di dalam hati saya: ‘Bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.’” (hal 40).

Ia lalu minta ampun kepada Tuhan, bertobat, mengakui kesalahannya kepada anaknya, dan meminjamkan mobil itu kepada anaknya

Apakah Roh Kudus mengajar kita untuk tidak mendisiplin anak dan memanjakan anak? Ini bertentangan dengan Ibr 12:5-dst!

Orang ini memang sinting dan sesat. Bandingkan dengan kata-kata 2 orang di bawah ini:

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 138, Victor Budgen mengutip kata-kata John Owen, seorang ahli theologia Reformed yang hidup pada tahun 1616-1683. John Owen berkata sebagai berikut tentang ‘revelations’ (= wahyu):

“They are of two sorts – objective and subjective. Those of the former sort, whether they contain doctrines contrary unto that of Scripture, or additional thereunto, or seemingly confirmato­ry thereof, they are universally to be rejected, the former being absolutely false, the latter useless. … By subjective revelations, nothing is intended but that work of spiritual illumination whereby we are enabled to discern and understand the mind of God in the Scripture; which the apostle prays for in the behalf of believers (Eph 1:16-19) …” [= Mereka (Wahyu-wahyu) terdiri dari 2 macam - obyektif dan subyektif. Yang tergolong jenis pertama (wahyu obyektif), apakah itu berisikan ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci, atau ajaran yang ditambahkan pada Kitab Suci, atau ajaran yang kelihatannya meneguhkan Kitab Suci, harus ditolak secara universal, yang pertama karena palsu, yang terakhir karena tidak berguna. ... Yang dimaksud dengan wahyu subyektif tidak lain adalah pekerjaan pencerahan rohani dengan mana kita dimampukan untuk melihat dan mengerti pikiran Allah dalam Kitab Suci; yang untuknya sang rasul berdoa demi orang percaya (Ef 1:16-19) ...].

Lalu dalam buku yang sama, hal 183, Victor Budgen mengutip lagi dari Charles Haddon Spurgeon (1834-1892) sebagai berikut:

“Every now and then there comes up a heresy, some woman turns prophetess and raves; or some lunatic gets the idea that God has inspired him, and there are always fools ready to follow any impostor” (= Sesekali muncullah seorang penyesat, seorang wanita yang menjadi nabiah dan mengoceh; atau seorang gila yang mempunyai gagasan bahwa Allah mengilhaminya, dan selalu ada orang-orang tolol yang siap untuk mengikuti seadanya penipu).

2)         Peremehan terhadap Alkitab dan peninggian terhadap ajarannya sendiri.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Saya bahagia sekali menjadi seorang pria. … Namun demikian, saya belum menjadi manusia yang benar-benar sesuai dengan potensi diri saya yang sesungguhnya sebagai seorang pria. Saat ini saya dapat melangkah dengan mantap dalam perjalanan saya mencapai kepenuhan sebagai seorang pria. Sebelumnya, dalam usaha saya menjadi seorang pria yang sejati, selama bertahun-tahun saya hanya terombang-ambing ke sana kemari tanpa arah yang pasti. Itu disebabkan karena saya tidak pernah diajari cara-cara untuk menjadi pria yang sesungguhnya. Melalui berbagai pergumulan dan kesukaran, keberhasilan serta penghargaan, akhirnya saya belajar banyak hal mengenai hakikat serta cara yang sebenarnya untuk menjadi pria. Sekarang saya dapat mengatakan bahwa hidup sebagai seorang pria adalah suatu kehidupan yang indah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 3).

Dia menjadi seperti itu bukan karena belajar Firman Tuhan, tetapi karena melalui banyak pergumulan, kesukaran, keberhasilan, serta penghargaan, ia akhirnya banyak belajar tentang hakikat dan cara sebenarnya untuk menjadi pria! Bdk. Ef 4:11-dst.

“Pengajarannya tentang ‘Sembilan Prinsip Syafaat’ itulah yang mengubah kehidupan pernikahan saya dan Nancy. … Kami menerima tantangan tersebut dan mulai mempraktekkan sembilan langkah dalam bersyafaat yang diajarkan Joy. Hasilnya sungguh luar biasa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 134).

Kalau begitu seluruh sisa Alkitab yang begitu banyak dibuang saja. Toh yang sembilan langkah sudah cukup!

3)   Tentang Yesus:

a)   Yesus adalah hamba manusia.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Sifat dasar Allah adalah selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain, dan Dialah Juruselamat yang menjadi hamba bagi semua orang. Roh yang memampukan Yesus menjadi demikian itu juga bekerja di dalam diri kita untuk … menciptakan hati seorang hamba” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 326).

Dalam hubungan Yesus dengan kita, Dia adalah Tuhan dan kita yang adalah hamba-hambaNya!

Tetapi bagaimana dengan ayat di bawah ini?

Fil 2:7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Ini hanya menunjukkan perendahan yang Yesus alami pada waktu berinkarnasi. Allah menjadi manusia, Tuhan menjadi hamba. Tetapi hamba siapa? Tak pernah dikatakan Yesus menjadi hamba kita! Ia menjadi hamba Allah!

Yes 52:13 – “Sesungguhnya, hambaKu akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan”.

Terhadap kita, Ia adalah Tuhan kita!

Yoh 13:13  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.

Mat 10:24  Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.

Mat 10:25  Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Mat 12:18  “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.

Mat 24:45  “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?

Mat 24:46  Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

Mat 24:48  Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya:

Mat 24:49  Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk,

Mat 24:50  maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya,

Mat 25:14 ¶ “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

Mat 25:16  Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

Mat 25:17  Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

Mat 25:18  Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Mat 25:19  Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

Mat 25:20  Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

Mat 25:22  Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

Mat 25:24  Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

Mat 25:26  Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Mat 25:30  Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Yoh 13:16  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.

Yoh 15:20  Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.

Kis 3:13  Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan.

Kis 3:26  Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.”

Kis 4:27  Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,

Kis 4:30  Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.”

Kol 3:24  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

b)   Tentang penebusan yang Yesus lakukan.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Kalvari adalah tempat Kristus menukar kebenaranNya dengan keadaan kita yang berdosa, supaya kita dapat menyerahkan keberdosaan kita dan menerima kebenaranNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 79).

Jadi, Ia menjadi berdosa?

“Allah mengasihi orang berdosa, meskipun Allah sendiri membenci dosa. Tujuan kekal Yesus di atas Golgota adalah memisahkan kita dari dosa kita. Allah murka terhadap dosa. Selama kita masih identik dengan dosa, kita tetap menjadi sasaran murka Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 35).

Kata-kata ini aneh. Apa artinya ‘identik dengan dosa’ dan ‘diidentikkan kembali dengan Yesus Kristus dan kebenaranNya’???

c)   Yesus sama dengan Bapa.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Dia menyamakan diriNya sepenuhnya dengan Bapa (Yohanes 10:30)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 308).

‘Satu dengan Bapa’ (Yoh 10:30), atau ‘setara dengan Bapa’ (Yoh 5:18  Fil 2:6) berbeda dengan ‘menyamakan diri sepenuhnya dengan Bapa’. Yang terakhir ini menjadi ajaran Sabelianisme.

Catatan: Yoh 5:18 versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan. Seharusnya bukan ‘menyamakan diri’ tetapi ‘membuat diri setara’.

Yoh 5:18 – “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ (= membuat diriNya sendiri setara dengan Allah).

d)   Yesus dan firman / kata-kata Allah.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Tutur kata adalah ungkapan sifat manusia, sebagaimana firman Allah juga mengungkapkan sifat-sifat Allah. ‘Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah’ (Yohanes 1:1). Kristus datang sebagai penjelmaan Firman Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 47-48).

“Pola kerja Allah secara garis besar adalah sebagai berikut: Allah menyampaikan suatu firman, memberi firman tersebut wujud berupa suatu ‘tubuh’, dan menyembuhkan seluruh dunia.

  • ·         Pola tersebut terlihat nyata dalam kehidupan Yesus. Yesus datang sebagai ‘Firman’, Dia datang dalam wujud tubuh manusia (yang terdiri dari darah dan daging, dan menyampaikan kabar anugerah serta penebusan yang membawa kesembuhan bagi dunia.
  • ·         Allah menyampaikan berita Injil kepada para murid, yang kemudian menjadi tubuh Kristus, dan selanjutnya mereka membawa kesembuhan bagi seluruh dunia” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 138-139).

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Isilah otak (pikiran) kita dengan Firman Tuhan dan hiduplah di dalamnya, karena Firman Allah adalah pribadi Allah. Allah adalah Firman, dan Firman adalah Allah, Yoh 1:1. (RO)” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 2).

Catatan: RO rupanya adalah Rubin Ong, Youth Minister Fellowship Pemimpin Christian Men’s Network di Indonesia (lihat book cover bagian depan buku ini).

Ini ajaran sesat dan tolol! ‘Firman’ dalam Yoh 1:1,14 merupakan gelar dari Yesus, dan tidak menunjuk pada kata-kata Allah!

Bandingkan dengan “tetapi berpikiran seperti Firman Tuhan berpikir (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 14).

Ini lagi-lagi ketololan yang searah dengan ajaran di atas! Firman Tuhan tidak bisa berpikir! Kalau ia mengatakan Firman Tuhan berpikir, lagi-lagi ia menganggap Firman Tuhan sebagai pribadi!

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Semakin banyak firman yang ada di dalam hati Anda, Anda akan semakin menyerupai firman, dengan kata lain semakin menyerupai Kristus. Firman harus diperoleh di dalam roh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 60).

Jadi, firman = Kristus? Dan bagaimana cara memperoleh firman di dalam roh? Apa maksudnya?

e)   Yesus dilahir-barukan?

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

Allah menciptakan Adam sebagai seorang anak. Allah juga memperlakukan Adam sebagai seorang anak. Namun, Adam kemudian jatuh ke dalam dosa. Akibatnya sifat Allah sebagai Bapa sorgawi baru dapat disingkapkan secara sempurna pada saat kedatangan Adam yang lain yang disebut ‘Anak tunggal’ Allah. Yesus sebagai ‘Adam yang akhir’ telah menyingkapkan kebenaran tentang Allah sebagai Bapa. Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan cara manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 228).

Ada banyak kesalahan yang besar / kesesatan di sini:

1.   Siapa mengatakan Adam adalah anak Allah? Kalau ia memang anak Allah, ia tak akan dibuang! Kalau dalam Luk 3:38 Adam disebut ‘anak Allah’, itu dalam arti ‘ciptaan Allah’. Kata ‘Bapa’ bisa berarti Pencipta, dan kata ‘anak’ bisa berarti ‘yang dicipta’. Misalnya:

Ibr 12:9 – “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”.

Yoh 8:44 – “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Yes 9:5 – “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.

Kata-kata ‘Bapa yang kekal’ oleh para penafsir dikatakan seharusnya adalah ‘bapa dari kekekalan’, dan ini menunjukkan bahwa Yesus adalah pencipta / sumber dari kekekalan!

‘Bapa yang kekal’.

KJV/RSV/NIV: ‘everlasting Father’ (= Bapa yang kekal).

NASB: ‘eternal Father’ (= Bapa yang kekal).

Apa arti istilah ‘Bapa yang kekal’ ini?

Barnes’ Notes: “Literally, it is the Father of eternity” (= Secara hurufiah, ini adalah Bapa dari kekekalan) – hal 193.

Barnes’ Notes: “He is not merely represented as everlasting, but he is introduced, by a strong figure, as even ‘the Father of eternity’, as if even everlasting duration owed itself to his paternity” (= Ia tidak semata-mata digambarkan sebagai kekal, tetapi ia diperkenalkan dengan suatu penggambaran yang kuat bahkan sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, seakan-akan bahkan kekekalan berhutang dirinya sendiri kepada kebapaannya) – hal 193.

Calvin mengartikan istilah ini sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, dimana ‘Bapa’ diartikan author’ / ‘pencipta’ atau ‘sumber’.

Calvin: The name Father is put for Author, because Christ preserves the existence of his Church through all ages, and bestows immortality on the body and on the individual members. Hence we conclude how transitory our condition is, apart from him; for, granting that we were to live for a very long period after the ordinary manner of men, what after all will be the value of our long life? We ought, therefore, to elevate our minds to that blessed and everlasting life, which as yet we see not, but which we possess by hope and faith. (Romans 8:25.) (= ).

2.   “Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah”.

Yesus memampukan manusia jadi anak-anak Allah bukan karena Ia adalah Anak Allah, tetapi karena Ia yang adalah Allah, sudah menjadi manusia, dan mati di salib untuk menebus dosa kita.

3.   “manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus.

Ini puncak dari kegilaan dan kesesatan orang ini! Kalau Yesus dilahirkan kembali, berarti tadinya Ia mati dalam dosa, seperti kita!

f)    Yesus menjadi serupa dengan manusia.

Dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, Edwin Louis Cole mengatakan:

“Yesus menanggalkan segala kemuliaan yang dimilikiNya di sorga, merendahkan diriNya hingga menjadi sedikit lebih rendah dari malaikat, menjadi serupa dengan manusia, …. ” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

Ini merupakan ajaran sesat tentang kemanusiaan Yesus, karena seharusnya bukan ‘serupa’ tetapi ‘sama / sama dengan’!! Ibr 2:14-17  Fil 2:7.

Ibr 2:14,17 – “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; … (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.

Fil 2:7 – “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Tetapi bagaimana dengan Ro 8:3 – “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging”?

Matthew Henry (tentang Ro 8:3): “How Christ appeared: ‘In the likeness of sinful flesh.’ Not sinful, for he was holy, harmless, undefiled; but in the likeness of that flesh which was sinful (= Bagaimana Kristus nampak: ‘Dalam keserupaan dengan daging yang berdosa’. Bukan berdosa, karena Ia adalah kudus / suci, tidak jahat, tidak kotor / rusak; tetapi dalam keserupaan dengan daging yang berdosa itu).

Jangan anggap enteng ajaran sesat tentang kemanusiaan Yesus!

Herschel H. Hobbs: “It is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity” (= Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keilahianNya)‘The Epistles of John’, hal 21.

Kalau Yesus hanya serupa dengan kita, Dia tidak bisa menebus dosa kita. Untuk bisa menebus dosa kita Dia harus betul-betul menjadi sama dengan kita (Ibr 2:14-17).

g)   Dalam hidupNya, Yesus bergantung kepada Roh Kudus, supaya kita dapat menerima Roh Kudus yang sama.

Dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, Edwin Louis Cole mengatakan:

“Dalam menjalani kehidupanNya, Dia bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus, agar kita dapat menerima Roh Kudus yang sama, sehingga kita dapat hidup sama seperti ketika Dia hidup di muka bumi ini” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

Tanggapan saya:

Yesus hidup suci, bukan supaya kita dapat menerima Roh Kudus! Apa urusan dua hal ini kok bisa dihubungkan?

Yesus hidup suci, karena kalau tidak, Ia tidak bisa mati menebus dosa kita, tetapi mati untuk dosaNya sendiri. Juga kalau Ia tidak suci, pada waktu kita percaya kepada Dia, kita tidak bisa dipakaiani dengan jubah kebenaran / pakaian putih! (Yes 61:10  Wah 3:18). Dengan kata lain, kita tidak bisa dibenarkan!

Tetapi antara kesucian hidup Yesus dan kita menerima Roh Kudus yang sama, tidak ada hubungannya!

4)   Ajaran sesat tentang kebapaan Allah.

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Kehormatan tertinggi yang Tuhan taruh di dalam kehidupan seorang pria adalah menjadi ayah. Karena itu, Tuhan juga memilih untuk menyebut dan memanggil diriNya sebagai Bapa. Kebapaan adalah pekerjaan yang terutama bagi para pria. Tidak ada yang lebih lengkap bagi seorang pria untuk mencapai kepenuhan kecuali menjadi ayah” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 78).

Ini betul-betul gila dan tolol.

a)   Allah bukan memilih untuk menyebut diriNya sebagai Bapa, tetapi Ia memang adalah Bapa, dan Yesus adalah AnakNya. Kalau Ia memilih untuk menyebut / memanggil diriNya sebagai Bapa, berarti kebapaanNya tidak kekal.

b)   Bukan kebapaan manusia yang menjadi pola dari kebapaan Allah, tetapi sebaliknya!

c)   Bagaimana dengan Yesus, yang tidak pernah menjadi bapa, karena tak pernah menikah? Jadi, Ia tidak lengkap untuk mencapai kepenuhan?

5)   Ajaran sesat tentang doktrin Allah Tritunggal.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Para teolog menjelaskan tentang kedudukan Allah, Anak, dan Roh Kudus dalam Tritunggal Allah, sebagai berikut:

Anak = Visioner (pemegang visi)

Roh Kudus = Administrator (pengelola)

Bapa = penguasa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129-130).

Teolog tolol yang mana yang mengatakan ini? Ini teori sinting / sesat tentang Allah Tritunggal. Juga ini dinyatakan tanpa dasar Alkitab!

Disamping iktu, dalam apa yang ia bahas pada bagian ini, sebetulnya ia sama sekali tidak perlu berbicara tentang Allah Tritunggal, tetapi ia tahu-tahu nyelonong ke Allah Tritunggal tanpa ada perlunya, dan memasukkan ajaran sesat ini!

6)         Ajaran tentang iblis / setan / roh jahat.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

Yeh 28:14-16 menunjuk pada kejatuhan iblis??? (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 239).

“Iblis adalah makhluk yang paling gila karena ia tidak henti-hentinya percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 239).

Mana dasar ayatnya????

Bdk. Mat 8:29 – “Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”.

Jelas ia tahu bahwa akan datang waktunya ia akan disiksa. Apakah ini menunjukkan bahwa ia percaya bahwa dirinya sanggup mengalahkan Allah?

7)         Ajaran Arminian.

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Di Kis 13:22 dikatakan, setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud, Allah telah menyatakan: ‘Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hatiKu dan yang melakukan segala kehendakKu.’ Tuhan mencari seorang yang taat untuk melakukan kehendak Tuhan. … Perhatikanlah, di dalam Firman Tuhan, setiap kali Tuhan ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan kerajaan atau umatNya, Tuhan selalu mencari seorang pria terlebih dahulu untuk dapat melakukannya. Setelah Tuhan menemukan pria yang tepat seperti yang Dia inginkan, barulah Tuhan memberitahukan metode apa yang harus dipakainya untuk menyelesaikan semua rencana Tuhan tersebut.” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 74).

Ini ajaran Arminian! Dalam Reformed, Tuhan pilih dulu, baru menjadikan orang itu sesuai kehendakNya. Bandingkan dengan:

Ro 9:10-13 – “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, – supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya – (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

Ef 1:4,5 – “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“… dapat menghapuskan keselamatan jiwa Anda” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 30).

Ini pandangan Arminian!

Segala sesuatu dalam hidup ini ada dalam kekuasaan pilihan kita, dan begitu suatu pilihan kita tentukan, kita akan menjadi hamba dari pilihan tersebut” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 302).

Bahkan memilih percaya Yesus atau tidak, tidak ada dalam kekuasaan kita! Yoh 6:44,65!

“Ketika Roh Kristus masuk ke dalam kehidupan seorang manusia, terjadilah suatu ‘kelahiran’, karena dengan cara itu manusia dibuat hidup di dalam Roh” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 72).

Ini Arminian.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Jadi, keselamatan itu kita peroleh bukan karena kebaikan kita, melainkan dianugerahkan Allah berdasarkan kemurahan dan kasihNya yang tidak bersyarat” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 33).

Ini Reformed! Jadi, buku ini mencampur hal-hal yang Reformed dengan yang Arminian!!!

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Hidup dan mati merupakan keputusan kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 114).

“Jika hukum itu tidak dipahami sepenuhnya, maka orang berdosa tidak akan menghargai kasih karunia Allah yang terpancar dari salib. Mengkhotbahkan tentang anugerah tanpa pengetahuan tentang hukum sama dengan memberikan obat kepada seseorang sementara ia sendiri tidak tahu bahwa ia menderita sakit. Orang tidak dapat menghargai suatu pengobatan jika ia tidak tahu bahwa ia menderita sakit. Hukum menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang sakit karena dosa. Kita membutuhkan pengobatan. Pengobatan itu adalah pemberian cuma-cuma, yaitu keselamatan di dalam Kristus Yesus, tetapi jika kita tidak mengakui bahwa kita menderita sakit, maka pengobatan itu tidak ada artinya bagi kita” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 153).

Alkitab tidak mengatakan bahwa orang berdosa itu sakit, tetapi mati dalam dosa (Yoh 10:10  Ef 2:1-3). Karena itu, kita membutuhkan kelahiran baru, bukan pengobatan.

8)         Setuju dengan Katolik?

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Ada perbedaan yang sangat besar antara Madonna dan Ibu Teresa. Tenar merupakan istilah yang tepat untuk Madona, sedangkan kata Besar layak disandang oleh Ibu Teresa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 226).

Orang ini tak bisa lihat kesesatan dari Ibu Teresa yang adalah orang Katolik!

9)         Adam dan Hawa, dosa makan buah, dan dosa asal.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Pada bab terdahulu kita telah berbicara tentang Hawa yang menyerah pada tiga pencobaan dasar yang disebut ‘dosa asal’. Sekarang kita akan melihat peranan Adam dalam hal ini. Allah secara langsung memerintahkan Adam untuk tidak menyentuh buah pohon pengetahuan yang ada di tengah Taman Eden” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 226).

Hawa tak ada urusannya dengan dosa asal! Allah melarang untuk memakan, bukan menyentuh!

“Beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa Adam diusir dari Taman Eden bukan karena ia berbuat dosa, melainkan karena ia menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Alasan para ahli itu adalah karena Allah tentu akan mengampuni Adam kalau saja ia mau mengakui dosanya, bertobat, dan meminta ampun dengan hati yang tulus. Tetapi, Adam tidak berbuat demikian sehingga Allah tidak dapat membiarkannya tetap tinggal di Taman Eden” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 227).

Ini theologia gila dari orang yang kacau theologianya! Apakah Allah bisa mengampuni tanpa penebusan???

“Dakwaan Adam terhadap Allah yang bertujuan untuk membenarkan dirinya sendiri itu menunjukkan kerja sama Adam dengan iblis yang disebut sebagai pendakwa saudara-saudara (Wahyu 12:10). Dengan mendakwa Allah, itu berarti Adam telah menyangkal kemahakuasaan Allah. Kemahakuasaan Allah terletak pada hak mutlak yang dimilikiNya untuk menentukan apa yang benar dan yang salah bagi manusia ciptaanNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 228).

10)      Tentang pengampunan / pertobatan.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak dimaafkan. Dosa hanya bisa hilang dari dalam kehidupan manusia melalui mulut.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 32).

Penjahat yang bertobat di kayu salib tak pernah mengaku dosa, tetapi ia diampuni!

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Saya sering melihat kaum pria yang bertobat dari dosa mereka, dan mereka sungguh-sungguh merasakan pengampunan itu. Mereka meninggalkan ruang doa dengan rasa puas atas kondisi kerohanian mereka, meskipun mereka menemukan diri mereka memohon pengampunan untuk dosa yang sama, dan kemudian membutuhkan pengampunan yang sama. Kehendak Allah adalah mengampuni kita, kemudian membasuh kita agar kita tidak melanjutkan kebiasaan untuk berbuat dosa. Bebaskanlah diri Anda dari berbuat dosa” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 32).

Ini kemunafikan dari orang yang ‘self-righteous’. Tidak ada orang yang tidak mengulang dosa, dan darah Yesus tercurah untuk dosa-dosa yang diulangi itu. Memang ini bukan hal ideal, tetapi ini fakta! Tak berarti bahwa kita boleh membiarkan fakta itu berlangsung terus. Kita memang harus berusaha menghentikan dosa, tetapi tak seorangpun bisa tidak pernah mengulang dosa yang sudah ia akui.

Pengudusan digambarkan sebagai ‘buah Roh Kudus’ (Gal 5:22-23), dan ini menunjukkan suatu proses seumur hidup, yang baru selesai pada saat kita mati, atau sesaat setelah kita mati, dimana kita disempurnakan.

Ibr 12:23 – “dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak diampuni” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 37).

11)      Tentang mengampuni orang dan diampuni orang.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Saya sedang berada di Cleveland saat saya sedang membuat kesimpulan khotbah yang baru saja saya sampaikan, ketika seorang pria meminta saya bersama-sama dengan dia berdoa untuk keselamatan kedua anaknya. Ketika kami mulai berdoa, ia berkata: ‘Kedua anak saya pecandu berat alkohol, dan saya tahu, bila Allah menyelamatkan mereka, mereka akan terbebas dari hal itu. … ‘Apakah Anda pernah menjadi pecandu alkohol juga?’ saya bertanya kepadanya. … ‘Ya,’ ia menjawab dengan sangat perlahan, bahkan hampir seperti berbisik. ‘Apakah ketika itu anak-anakmu ada di rumah?’ ‘Ya.’ ‘Pernahkah Anda mendatangi anak-anak Anda di rumah dan meminta maaf kepada mereka karena ketika mereka masih kanak-kanak, Anda sudah menjadi seorang pecandu alkohol?’ … Pria itu menunduk, ‘Belum pernah.’ … ‘Datangi anak-anak Anda, meminta maaf kepada mereka karena Anda pernah menjadi pecandu alkohol,’ saya mengatakan hal itu, dan kemudian menatapnya dengan sungguh-sungguh, menanti jawabannya. Dia menatap saya kembali, kemudian setuju. … Dengan memaafkan dosa seseorang, kita sesungguhnya sedang membebaskan mereka, tetapi bila kita tidak memaafkan mereka, dosa yang sudah ia lakukan itu akan tetap mengikatnya. Inilah prinsip Kerajaan Allah. Anak laki-lakinya sangat membenci kebiasaan ayahnya yang kecanduan alkohol. Anak-anaknya tidak pernah memaafkan ayahnya untuk perkara itu. Karena mereka tidak pernah memaafkan hal itu, mereka menyimpan dosa ayah mereka di dalam hati mereka, dan perkara itu menjadi sesuatu yang akhirnya membuat mereka benci terhadap ayahnya. Kebencian akan mengikat dosa tetap berada di dalam diri mereka. Mereka mengikat diri mereka kepada dosa ayahnya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 41-43).

Ini tolol dan salah, karena berarti bahwa pengudusan kita tergantung pada orang kepada siapa kita berbuat salah! Bagaimana kalau kita sudah minta maaf tetapi orang itu tak mau memaafkan?

Dan terutama, mana ayat dasar dari ajaran ini?

Dan cerita ini membingungkan, karena contohnya tidak cocok dengan pernyataannya. Karena tidak adanya pemaafan, yang terikat dosa itu ayahnya atau anak-anaknya?

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Bila Anda tidak memaafkan dosa yang sudah diperbuat oleh seseorang terhadap Anda, sesungguhnya Anda sedang menanggung dosa tersebut; menahannya. Akibatnya Anda akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama terhadapnya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 44).

Lagi-lagi suatu kegilaan. Mana dasar Alkitabnya???

Memang ‘tidak memaafkan / mengampuni’ mereka dosa. Tetapi itu tidak menjadikan kita melakukan kesalahan-kesalahan yang sama terhadapnya. Sebagai contoh: kalau seorang gadis diperkosa oleh seorang pemuda, dan ia tidak mau mengampuni pemuda itu, apakah nanti ia akan memperkosa pemuda itu atau menjadi seorang pemerkosa?

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Di Charlotte, North Carolina, ada seorang pria yang tidak pernah memaafkan rekan bisnisnya yang terdahulu. Rekan bisnisnya ini membawa kabur semua uangnya. Akibatnya, ia membayar sendiri semua utang-utangnya. Pria yang marah ini terus mengalami masalah di dalam bisnisnya, sebelum ia memaafkan rekan bisnisnya tersebut pada malam itu. Sekarang ini, ia sungguh-sungguh mengalami keberhasilan yang belum pernah ia alami sebelumnya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 44-45).

Cerita di buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 45 juga sama gilanya.

Seluruh pelajaran / bab ini penuh dengan contoh-contoh, tetapi tak ada dasar Alkitab. Tetapi lucunya dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 45 bawah, ia berkata “Banyak orang yang bekerja di dinas-dinas sosial, badan penyuluhan sekolah, dan kepolisian yang tidak memahami prinsip yang sudah diajarkan oleh Yesus ini. Diajarkan oleh Yesus dimana????

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Wanita yang merasa bahwa suaminya adalah pria yang tidak percaya – atau seorang suami Kristen yang kurang memaksimalkan potensinya sebagai seorang pria sejati – ada dua langkah kunci yang terdapat dalam Alkitab. Pertama, yakinkanlah diri Anda bahwa Anda sudah mengampuni semua dosa suami Anda. Banyak istri yang tidak mengampuni suami mereka. Tanpa pengampunan, sesungguhnya seorang istri sedang menahan dosa suaminya dan mengikat dosa tersebut di dalam diri sang suami. Pengampunan membuka; tidak adanya pengampunan menutup. Pengampunan membebaskan, tidak adanya pengampunan mengikat. Banyak pria yang sungguh-sungguh ingin menjadi pria sejati seperti yang Allah inginkan atas hidup mereka, dan sering menjumpai diri mereka sedang berjuang untuk terbebas dari perbudakan karena tidak adanya pengampunan dari istri mereka. Kedua, cintailah suami Anda.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 66).

Ini sesat! Siapapun butuh pengampunan dari Tuhan, bukan dari pasangannya!

Dan lucunya, wanita / istri itu tidak disuruh memberitakan Injil kepada suami yang belum Kristen itu.

12)      Tentang kelahiran baru.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Tetapi, melalui kelahiran baru, kita diidentikkan kembali dengan Yesus Kristus dan kebenaranNya, dan karena itu tidak ada lagi murka, yang ada adalah anugerah” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 35).

Apa artinya ‘diidentikkan kembali dengan Yesus Kristus dan kebenaranNya’??? Kapan manusia pernah identik dengan Yesus, kok bisa digunakan kata ‘kembali’?

“Dosa karena kelalaian – tidak percaya dan tidak menerima Yesus – itu adalah dasar perpisahan kekal umat manusia dari Allah. Dengan tidak dilahirkan kembali – dan dengan itu manusia tidak menerima Roh Yesus Kristus di dalam hidupnya – sebenarnya manusia sedang mengerjakan semua bentuk pelanggaran dan dosa secara berulang” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 123).

Konsep tentang kelahiran baru pasti kacau balau.

13)      Penekanan kepriaan yang tidak pada tempatnya.

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Dalam suatu kebaktian, lebih dari dua ribu pria memadati sebuah auditorium di Boston. Banyak di antara hadirin itu yang menerima prinsip dan kebenaran yang akan saya ajarkan, menganutnya, kemudian mengajarkannya kepada pria lain, yang selanjutnya mengajar pria yang lain lagi, dan dengan demikian kebenaran itu pun menyebar luas. Pada hari itu, ketika saya berbicara kepada kumpulan orang banyak tersebut, pengungkapan tentang Pribadi Yesus yang sesungguhnya dan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukanNya bagi manusia, khususnya kaum pria, seakan-akan menghunjam ke dalam pikiran dan hati setiap pria yang hadir di sana. Bobot kebenaran itu menciptakan suatu kesenyapan yang begitu hening di antara mereka. Beberapa saat kemudian, keheningan itu pun pecah menjadi ungkapan sukacita yang penuh gairah. Saya berhenti berbicara dan memberi kesempatan bagi para pria yang belum pernah mengambil keputusan untuk menjadi ‘pria sejati’ agar maju dan menyatakan sikap mereka. Sewaktu ratusan pria beringsut maju ke depan, pria-pria yang lain bersorak gemuruh, ‘Yesus, Yesus, Yesus!’ Sewaktu mereka berseru demikian, keyakinan yang terbentuk terasa begitu nyata. Para pria tersebut tiba-tiba menyadari bahwa menjadi pria sejati artinya adalah menjadi seperti Yesus, satu-satunya Pria yang pernah hidup tepat sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah dalam menciptakan diriNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 8-9).

Catatan: kalau perlu baca terus hal 9nya.

a)   Ini tidak bisa tidak harus mengajarkan doktrin tentang Kristus (Kristologi). Kok bisa mereka anggap doktrin tak perlu?

b)   Kata-kata ‘khususnya kaum pria’ adalah omong kosong. Perbuatan apa yang Yesus lakukan hanya bagi pria, dan tidak bagi wanita?

c)   Ia menulis seakan-akan yang ia adakan adalah suatu KKR penginjilan. Kalau memang KKR penginjilan maka ini bisa saja. Tetapi kalau hanya ajaran tentang ‘pria yang sejati’, itu omong kosong!

d)   Kalau ajaran pria yang sejati menekankan hubungan suami istri dengan anak-anak, bagaimana Yesus bisa mereka teladani mengingat Yesus tidak pernah kawin / punya anak jasmani?

e)   Bagaimana orang-orang yang maju ke depan dalam kebaktian itu bisa membuang botol-botol minumannya (hal 9)? Apakah mereka datang ke kebaktian dengan membawa botol-botol minuman mereka? Atau mereka pulang dulu mengambil botol-botol itu dan lalu membuangnya ke altar gereja?

“Allah menghendaki Adam benar-benar menjadi seorang pria. Oleh karena itulah Dia mengajukan pertanyaan berikut ini kepada Adam, ‘Jawab pertanyaan ini: Engkau memakannya atau tidak?’ Namun, Adam ternyata menjawabnya demikian, ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’ Adam telah gagal dalam menghadapi ujian jati diri pria yang diajukan Allah. … Jawaban Adam tersebut menentukan jalan kehidupan seluruh kaum pria sejak saat itu” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 227).

“Begitu juga sikap Allah terhadap anak-anakNya. Ia mengharapkan kita menjadi pria yang bersedia memikul tanggung jawab. Adam adalah pria pertama yang tidak mau bertanggung jawab dan ternyata ia bukan pria yang terakhir yang berlaku demikian” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 229).

“Jati diri Daud sebagai pria sejati telah terbukti melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi krisis. … Paulus mau menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi setiap kaum pria yang percaya pada zamannya, dengan mengatakan, ‘Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus’ (1Korintus 11:1)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 230).

“Keberanian moral merupakan suatu kebajikan dalam diri seorang pria, sedangkan kepengecutan moral akan menghancurkan sifat kepriaannya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 312).

Tak berlaku untuk perempuan????

Buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 53-61,64,66,69,70,71,72,74,98 – Yesus ditekankan kepriaanNya! Semua kata ‘orang’ atau ‘manusia’ yang ditujukan kepada Yesus, diubah menjadi ‘Pria’! Padahal sekalipun Yesus memang seorang pria, tetapi dalam kelahiranNya, penderitaanNya, pengadilan terhadapNya, kematianNya dsb, yang ditekankan dari Dia adalah bahwa Ia adalah manusia sama seperti kita (Ibr 2:14-17), bukan kepriaanNya. Apa bahayanya menekankan kepriaan Yesus? Bahayanya: ini bisa mengarah pada ajaran bahwa Ia tidak mati untuk wanita!

“Allah bermegah dalam diri pria yang mau datang kepadaNya dengan rendah hati, yang dengan jujur berusaha berubah untuk menjadi semakin serupa dengan citra seorang pria yang terdapat dalam diri Yesus Kristus, yaitu menjadi seorang ‘pria sejati’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

“Dia memerintahkan murid-muridNya agar melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang telah dilakukanNya, berdasarkan iman (Yohanes 14:12). Dengan berbuat demikian, para pria akan memuliakan Allah seperti Dia juga telah memuliakan Allah. Hanya dengan cara itulah harapan akan menjadi kenyataan. Kaum pria akan mendapatkan penggenapan dan kepuasan dalam menjalani proses pendewasaan menjadi pria yang sesungguhnya, dan pada saat itulah seorang pria akan dapat bersikap sama, baik terhadap orang lain, terhadap dirinya sendiri maupun terhadap Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74-75).

Tak berlaku untuk wanita??

“Apa kaitan hal-hal di atas dengan pernikahan? Sederhana saja: Allah, Pria yang paling sempurna itu berkepentingan untuk membentuk para suami menjadi pria yang memiliki nilai-nilai kepriaan yang sejati” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 327).

Allah adalah seorang pria?????? INI bertentangan dengan Ro 4:24 yang menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Kalau Roh, maka tak ada jenis kelamin.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

Setelah membicarakan Luk 13 yang menunjukkan seorang petani yang mengharapkan buah pohon ara, sama seperti Allah mengharapkan buah dari kehidupan kita, ia lalu berkata:

“Buah itu adalah ‘karakter kepriaan kita yang sempurna’. … Hai para pria, Allah menciptakan kita sebagai pria dan menanamkan roh-Nya di dalam diri kita; Ia berharap dapat memperoleh buah kepriaan dari kita.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 52,53).

Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, ia merupakan contoh dari pria yang sempurna. Ketika kepriaan tersebut dirusak oleh dosa, Yesus Kristus datang memulihkan citra kaum pria sebagai Adam yang kedua. Kristus datang sebagai ‘pengungkap citra’ Allah, yang mengatakan kepada kita, bahwa kita harus terlebih dahulu ‘dilahirkan kembali’ dan menerima sifat-sifat Allah ke dalam roh kita. Kita harus mempunyai pikiran dan hati yang sudah diperbaharui kembali. Baru kehidupan kita diubahkan, ‘yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.’ Tanpa Yesus Kristus, kaum pria tidak akan pernah bisa dipulihkan ke dalam citra Allah sebagai ‘buatan Allah, diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik.’ Hanya bersama dengan Yesus hal itu bisa dilakukan saat ini. Dengan gambaran baru tentang kepriaan ini – yang sudah diberikan oleh Yesus – dimeteraikan di dalam pikiran kita, perilaku kita, sikap, dan keinginan kita, semuanya akan menjadi baru” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 106).

“Kaum prialah yang menghasilkan suatu bangsa. Suatu bangsa akan besar bila kaum prianya besar. Suatu bangsa akan kuat bila kaum prianya kuat” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 111).

Ini penghinaan terhadap kaum wanita!

“E. M. Bounds menulis, ‘Kaum pria adalah metode-metode Allah.’ Ketika kaum pria mencari metode yang lebih baik, Allah mencari kaum pria yang lebih baik” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 112).

Bagaimana dengan kaum wanita?

Allah tergantung manusia kaum pria?

14)      Wanita, pria, dan fungsi / pekerjaan Roh Kudus.

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Hal yang sama juga terjadi atas diri wanita Kristen. Mereka menginginkan suami mereka yang belum diselamatkan mendengarkan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Dan, mereka begitu menginginkan hal ini dan sering juga mereka berbuat salah. Mereka kelihatannya percaya bahwa ‘tidak ada laki-laki yang datang kepada Bapa kecuali istri mereka menarik mereka.’ Tidak ada seorang wanita pun yang mampu menarik seorang pria datang kepada Allah – hanya Roh Kudus yang mampu melakukannya. Tidak terkira banyaknya wanita yang sudah menyerahkan tubuh, pikiran, dan jiwa mereka terhadap maksud gila-gilaan ini, mereka mencoba menggantikan tugas Allah Roh Kudus. Berkali-kali para konselor mengatakan kepada para wanita, ‘Jangan mempermainkan Allah.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 65).

“Yakinlah bahwa kaum pria adalah imam, dan Allah sudah mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam posisi itu. Seorang wanita tidak bisa mendorong seorang pria. Dorongan seorang wanita akan membantu hanya ketika seorang pria memang sudah siap ditarik atau dipimpin oleh Roh Allah menjadi seperti yang Allah inginkan. Kaum pria dapat mengubah kebiasaannya. Tetapi, hanya Allah yang mampu mengubah sifat alamiahnya. Para wanita, janganlah mempermainkan Allah!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 65-66).

Apa urusannya ini dengan ‘mempermainkan Allah’??? Dan, kalau pria yang melakukan hal itu, apakah mereka juga mempermainkan Allah?

Dan anehnya dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut: “Setiap wanita memiliki peranan yang sangat besar untuk mendorong suaminya ke arah yang benar, dan tidak membutakan matanya terhadap langkah-langkah menyimpang yang dilakukan suaminya, sebab wanita mempunyai dua kemungkinan, ia dapat menjadi alat pemicu kejahatan bagi suaminya, atau ia menjadi alat kebenaran yang dipakai Tuhan bagi suaminya” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 50).

15)      Keselamatan / masuk surga karena usaha / persiapan kita?

Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:

“Yesus memberikan keseimbangan antara pertobatan dan iman yang membuat pintu sorga terbuka” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 79).

Apa arti dari ‘keseimbangan’? Kalimat ini mengarah pada keselamatan karena iman + perbuatan baik???

“Yang mula-mula diinginkan dalam kehidupan ini adalah masuk sorga, namun hal itu baru akan terlaksana di akhir kehidupan. Sebelum keinginan itu terlaksana, kita harus melakukan berbagai persiapan untuk menghadapinya. Mulai sekarang kita harus menyusun suatu rencana dan menjalani kehidupan ini sesuai dengan rencana tersebut agar keinginan mula-mula kita itu dapat tercapai” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 238).

Salvation by faith and works??????

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

Percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 86).

?????

“‘Bawalah hidupmu kepada salib’ adalah judul dan tema di mana terjadi perubahan kekal dalam hidup kita. Kita membawa:

Kesalahan – dan mendapatkan pengampunan

Pertobatan – dan kita mendapatkan iman (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 152).

?????

G)  Penonjolan diri sendiri / gerakan pria sejati.

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Sejak diperkenalkan, Christian Men’s Network (CMN) telah melayani para pria di 210 negara, membangun 70 kantor nasional dan melayani jutaan pria melalui pertemuan pria Kristen, retreat, pelayanan gereja, video, radio, televisi, buku, kaset, dan siaran satelit. Ribuan pria mengalami perubahan hidup, perkawinan dipulihkan, hubungan dipulihkan, pelayan-pelayan Tuhan bangkit dan dikuatkan, serta lebih dari seratus pelayanan pria dilahirkan. … Sejak berdiri sampai tahun 2002, CMN Indonesia telah memuridkan lebih dari 1500 pria yang berasal dari berbagai gereja, denominasi, lembaga Kristen, perusahaan, badan pemerintahan. Saat ini, pemuridan pria telah ada di 7 kota: Jakarta, Cirebon, Medan, Semarang, Manado, Samarinda dan Denpasar” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 0).

Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:

“Ketika saya menulis bagian pertama dari buku ini, kuasa Allah hadir dan mempercepat apa yang saya tulis, dan saya merasakan bahwa apa yang ditulis itu begitu baik. Saya sadar bahwa urapan Allah hadir, dan kebenaran dalam buku ini telah mengubah hidup banyak pria di seluruh dunia. Di Zimbabwe, ketika saya sedang berbicara dalam sebuah konferensi, seorang pria yang takut akan Allah menantang saya. Pendeta Perkins telah menjadi seorang utusan Injil lebih dari tiga puluh tahun di Zambia dan ia dihormati dan dikasihi. Ia pernah dianiaya dan ditinggalkan di tepi jalan, tubuhnya dibungkus dengan kawat berduri dan dibiarkan agar dia mati. Ia tidak hanya bisa hidup, tetapi menikmati umur yang panjang sampai ia bisa menyaksikan orang-orang yang telah menyiksa dia itu dibawa kepada Kristus. Itulah keadilan yang ia rindukan. Pertama kali saya melihat dia ketika ia diperkenalkan untuk berbicara dalam konferensi itu, dan ia berjalan ke podium dengan perlahan, tetapi penuh empati. Ia berdiri dan menatap para hadirin selama beberapa menit. Lalu, ia mengamati saya di deretan kursi depan. Apa yang kemudian terjadi sungguh mengejutkan semua hadirin dan saya terpana. ‘Di manakah Anda ketika saya membutuhkan Anda?’ ia berteriak kepada saya. ‘Saya telah menghabiskan waktu untuk berkhotbah kepada kaum wanita dan anak-anak, dan baru sekarang ini saya membaca buku Anda, Maximized Manhood. Seandainya saya menghabiskan waktu hidup saya untuk belajar tentang pria, maka pasti saya sudah menyelamatkan bangsa saya. Anda harus masuk ke hutan di mana Anda dibutuhkan di sana.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 165,166).

“Setelah hampir lima puluh tahun dalam pelayanan dan lima puluh empat tahun pernikahan, saya masih selalu bepergian, menulis, mengajar dan berkhotbah. Hidup bagi Kristus adalah satu-satunya petualangan terbesar di muka bumi ini. Tidak ada bandingannya. … Saya ingin berkobar-kobar bagi Allah sampai akhir hidup saya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 166,170).

Zeal without knowledge!!! Amsal 19:2

ITB Proverbs 19:2 Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

KJV Proverbs 19:2 Also, that the soul be without knowledge, it is not good; and he that hasteth with his feet sinneth.

RSV Proverbs 19:2 It is not good for a man to be without knowledge, and he who makes haste with his feet misses his way.

NIV Proverbs 19:2 It is not good to have zeal without knowledge, nor to be hasty and miss the way.

NAU Proverbs 19:2 Also it is not good for a person to be without knowledge, And he who hurries his footsteps errs.

Juga bandingkan dengan Ro 10:1-3 – “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

Kis 26:9 – “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret”.

Yoh 16:1-3 – “(1) ‘Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. (2) Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (3) Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.

Edwin Louis Cole (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 161,162): “Orang yang loyal tidak suka membocorkan rahasia. Mereka menjaga rahasia tanpa mengenal kompromi. … Orang yang loyal tidak pernah mengumbar perkataannya, ‘Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara’ (Amsal 11:13). Pemerintahan di seluruh dunia ini tidak ada yang terluput dari masalah yang disebut dengan ‘kebocoran’, yang menimbulkan kesulitan bagi pemerintah maupun rakyat. ‘Kebocoran’ ini disebabkan oleh orang-orang yang menyebarluaskan hal-hal yang seharusnya mereka jaga kerahasiaannya. Orang yang suka ‘membocorkan’ rahasia atau menggerutu adalah orang yang hanya loyal kepada peraturan mereka sendiri, namun tidak loyal kepada peraturan atasan mereka. Anggota jemaat yang setia tidak akan menyebarkan gosip, mencari-cari kesalahan, atau pun menggerutu tentang gembala mereka. Mereka juga tidak bersedia mendengarkan kabar burung. Kemampuan menjaga rahasia adalah kebaikan yang dimiliki oleh orang yang loyal, sebagaimana loyalitas adalah kebaikan yang ada pada orang yang dapat dipercaya. Gembala yang mendengar sesuatu secara pribadi dan kemudian menceritakannya di muka umum adalah gembala yang tidak loyal dan oleh karenanya juga tidak dapat dipercaya”.

* Pdt. Budi Asali, M.Div.,  adalah Gembala Sidang GKRI GOLGHOTA, Surabaya.

 

RESPON TERHADAP PEMIKIRAN PRIA SEJATI DARI EDWIN LOUIS COLE

(Diambil dari buku Kesempurnaan Seorang Pria dan Menjadi Pria Sejati terbitan Metanoia Jakarta; serta Tetap Tegar di Tengah Masa Sukar terbitan Yayasan Andi Yogyakarta)

Oleh : Pdt. Johannes Aurelius*

Selama perespon membaca buku-buku Cole dapat disimpulkan bahwa pemikiran pendiri gerakan ini tidak akademis dan sistematis dengan banyaknya loncatan pikiran yang sulit diketahui maksud ujung-pangkalnya, sehingga untuk memahami dengan tepat bagaimana pemikirannya yang paling jelas merupakan perjuangan yang melelahkan dari buku-buku yang tidak bermutu ini.  Namun, mau tidak mau adalah keharusan bagi perespon untuk membacanya kembali dan menemukan serpihan-serpihan pikirannya agar dapat disusun secara sistematis bagaimana pemikiran Cole sebenarnya dan mengungkapkan ketidakkonsistenan teologinya.

LATAR BELAKANG PANGGILAN  COLE

Cole menganggap bahwa pembaruan karismatik yang pernah melanda dunia memiliki kekurangan karena mengabaikan salib dan pertobatan (TTMS 78), sehingga dia merasakan perlunya pembaruan lebih lanjut. Dia mengklaim terjadinya perubahan dalam dirinya untuk selamanya dimulai dari puasa 40 hari, di mana antara hari ke 21 sampai 38, dia mendapatkan banyak penglihatan dari kitab Kejadian sampai Wahyu yang menyingkapkan seluruh kebenaran Alkitab (TTMS 64-65). Karena itu, salah satu contoh keyakinannya yang kokoh bahwa urapan Tuhan selalu ada pada dirinya adalah ketika dia mempersiapkan diri di pesawat jet untuk membuat naskah kotbah, yang sering dilakukannya dari kebanyakan persiapan untuk kotbah-kotbahnya, di mana tiba-tiba dia kehilangan kesadaran atas sekitarnya dan sesuatu sedang bergolak di dalam rohnya bahwa Tuhan hadir di dalam dirinya (KSP 8-9, bdk. KSP 11,12). Dalam hal inilah, Cole merasa dirinya sebagai seorang rasul (KSP 12).

Dia menganggap dirinya mendapatkan penglihatan langsung dari Tuhan pada waktu istirahat siang sesudah kebaktian tertentu, dan dia dibawa ke Bukit Zaitun untuk menyaksikan percakapan antara Tuhan dengan para malaikat-Nya tentang keselamatan umat manusia (TTMS 45-46).  Panggilannya untuk melayani kaum pria itu menjadi diperteguh dengan sebuah nubuatan pada tahun 1979 bahwa “dosa-dosa seksual akan menjadi masalah dalam gereja pada tahun 1980-an,” sehingga kalimat nubuatan ini menjadi “alat penumbuk baru yang tajam bergerigi.” (TTMS 195).  Dia meyakini panggilan Tuhan untuk menegur dosa, khususnya dosa percabulan di antara kaum pria, sebab itulah perkataan Tuhan langsung atas dirinya (KSP 23).  Dia terus menerus mendengarkan bisikan Roh Kudus ataupun mendapatkan kalimat nubuatan atas dirinya melalui orang lain (KSP 182-183) untuk menjangkau seluas mungkin kaum pria di dunia ini (KSP 24).

Dengan menggunakan teori motivasi, dia menyatakan bahwa semua pria mengimpikan untuk disanjung sebagai pahlawan tetapi tidak banyak yang tahu apa pengorbanannya dan bagaimana cara mencapainya (TTMS 4).  Dia mempercayai bahwa dalam penciptaan manusia dilengkapi dengan berbagai macam indra, lima indra untuk jasmaninya, satu indra keenam dalam rupa mata jiwanya dan satu indra ketujuh dalam roh yang dikaruniakan Allah untuk menerima dan mengembangkan ciri-ciri-Nya sampai batas tertentu (TTMS 60).  Dari sinilah dia menyimpulkan bahwa dalam gerakan pria sejati harus mengembangkan apa yang dimaksudkan oleh Roh Allah untuk menempatkan kembali kaum pria sebagaimana mestinya terlepas dari dosa-dosanya dengan salah satu cara yaitu mengakui dengan mulutnya. Dia menyatakan dosa dapat hilang dari hidup hanya melalui mulut, penyesalan melalui iman, akan tetapi pengakuan-pengakuan tanpa penyerahan diri hanyalah omong kosong belaka (TTMS 81).  Karena itu dalam setiap ibadah pria sejati selalu ada pola tertentu dalam mengungkapkan dosa-dosa dengan mengakuinya di depan umum, sebab dia beranggapan bahwa jikalau manusia dapat mengalahkan pencobaan (red. dan dosa) maka itu sebenarnya manusia telah menyiksa si pencoba (MPS 190).  Cole telah meremehkan hakekat dosa dan mengesampingkan “keuletan” setan dalam mencobai manusia.

HAMARTOLOGI

Dosa merupakan ciri khas dari ajaran pria sejati.  Karena itu dalam mengkritisi ajaran ini, doktrin dosa yang diumbarnya merupakan poin penting untuk diungkapkan ketidakberesannya.  Dia menyatakan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mengakui dosa-dosanya dengan pengakuan saja yang akan cukup untuk menyingkirkan dosa dan mengantarkan kepada kebenaran, sebab dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak dimaafkan, dan dosa hanya bisa hilang dari dalam kehidupan manusia melalui mulut. Karena itu bertobat dari dosa, dan dengan iman yang tertuju kepada Allah merupakan kunci damai sejahtera, dari situlah dibutuhkan pengudusan (KSP 45). Konsep Cole mengenai dosa terlihat begitu meremehkan, sebab dia beranggapan bahwa dosa hanya perlu diakui untuk dimaafkan supaya “tidak tertahan,” dan dosa sama sekali tidak memiliki sifat turun menurun (KSP 57-62).  Dari sini Cole menyangkal hakekat atau esensi dosa yang diturunkan Adam.

Kesalahan ajaran pria sejati semakin menjadi-jadi dengan menganggap bahwa terusirnya Adam dari taman Eden bukan karena berbuat dosa tetapi karena menolak bertanggung-jawab atas dosanya (MPS 223), padahal Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa manusia diusir dari taman Eden karena dosanya (Kej 3:22-24).  Walaupun Cole mengakui bahwa seorang pria sejati tidaklah sempurna, namun dia menganggap bahwa manusia dapat mencapai tahap kesempurnaan.

KRISTOLOGI

Di satu pihak, Cole mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan diutus oleh Allah sebagai Adam yang Kedua untuk mengungkapkan citra Allah sesungguhnya (MPS 53-89).  Namun, di pihak lainnya, dia mengajarkan banyak kesalahan mengenai siapa Yesus itu. Cole berpendapat bahwa Yesus itu diciptakan oleh Allah (MPS 8), sebab dianggapnya bahwa Yesus mengetahui dalam citra Siapa diri-Nya diciptakan (MPS 46).  Karena itu, dalam pikirannya Cole mungkin melihat kemanusiaan Yesus sebagai yang diciptakan sebagai pengejawantahan gambar Allah (TTMS 8), sehingga dalam kemanusiaan-Nya maka Yesus perlu dilahirkan kembali oleh Roh Allah (MPS 224), dan Yesus perlu memiliki keteguhan iman kepada Bapa untuk menjadi teladan bagi kaum pria (MPS 87).  Melalui itulah, menurut Cole, Yesus memerlukan Roh-Nya untuk mengalir dalam diri-Nya dalam mewujudkan sifat-sifat ilahi (MPS 72).  Dengan pemahaman yang demikian, maka doktrin Kristus yang diajarkan Cole memiliki ciri ajaran saksi Yehova yang bersumber pada ajaran Arius yang telah ditetapkan sebagai bidat pada abad 4 M.

Sekalipun mungkin Cole berkonsentrasi dengan kemanusiaan Yesus, namun dia telah mengabaikan kesatuan antara keilahian dan kemanusiaan Yesus. Dalam keilahian-Nya, Yesus adalah Anak  Allah yang dilahirkan dari Bapa, sehingga keilahian Yesus adalah kekal dan menyatakan bahwa Yesus adalah Allah.  Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah Anak Manusia yang menjadi manusia melalui kelahiran anak dara.  Alkitab menjelaskan, khususnya PB, bahwa kemanusiaan Yesus tidak pernah diciptakan sehingga bersifat pasif, tetapi Ia mengambil kemanusiaan atau menjadi manusia sehingga bersifat aktif (bdk. Flp 2:7).  Karena itu penafsiran Cole mengenai kemanusiaan Yesus menjadikan dirinya penganut humanisme, sebab dia menyatakan bahwa kuasa yang Yesus miliki berasal dari “pengenalan-Nya akan diri-Nya, tujuan-Nya dalam hidup ini, dan dari identitas diri yang diterima-Nya secara sempurna” (MPS 282). Humanisme yang dirohanikan terjadi di dalam penjelasan Cole ketika mencoba menerapkan secara sejajar antara karakter yang Yesus miliki dengan kaum pria yang mau didiami Roh Kudus (KSP 67-68).

Mengacu pada kristologinya yang keliru, maka kesatuan ajaran Allah Tritunggal dihancurkan pula, sekalipun perespon belum menemukan ajarannya yang lebih gamblang tentang Trinitas, kecuali pernyataan bahwa Anak adalah visioner (pemegang visi), Roh Kudus adalah administrator (pengelola) dan Bapa adalah penguasa (MPS 129).  Namun pernyataan Cole mengenai Tritunggal ini tidak terlalu jelas untuk ditafsirkan sebab dia menggunakan bahasa teori motivasi dalam mengungkapkan keterkaitan Trinitas itu, sehingga pemahaman Cole tetap harus diwaspadai. Seperti pernyataannya yang tiba-tiba mengatakan “itulah Allah” di antara penjelasan tentang kerasulan dirinya, urapan roh yang dirasakannya dan naskah kotbah yang digelutinya (KSP 13).

HERMENEUTIKA

Penafsiran terhadap Alkitab merupakan tulang punggung dalam penyampaian Firman Tuhan dan tiang penopang dalam pengajaran gereja. Penafsiran yang sehat akan mempengaruhi konsep pemikiran jemaat untuk terus bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.  Dalam meneliti ajaran pria sejati, prinsip penafsiran mereka perlu diuji untuk menemukan sehat tidaknya ajaran yang dikemukakan.  Ada satu hal yang dapat dikatakan mengenai buku-buku karangan Cole ini bahwa dia banyak mengutip Alkitab untuk mendukung pengertian dan ajarannya yang disesuaikan dengan konteks pemaksimalan kepriaan. Namun jangan terlalu senang lebih dahulu dengan apa yang sudah dikerjakan dalam buku-bukunya, sehingga pengujian sangat diperlukan.

Melalui pembacaan yang teliti dengan pengujian pada ayat-ayat Alkitab yang digunakannya, ternyata didapati banyak kekeliruan yang bersifat pemaksaan konteks ayat-ayat Alkitab ke dalam pengertiannya sendiri. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa Cole telah melakukan eisegese (memasukkan pengertian pembaca ke dalam Alkitab), bukannya eksegese (menggali keluar pengertian Alkitab ke dalam pemahaman pembaca).  Banyak sekali pemaksaan eisegese yang dikerjakan oleh Cole untuk mendukung propaganda gerakan pria sejatinya.  Contoh yang paling penting, karena penjelasannya ini menjadi pokok pemikiran mengapa harus pria sejati, adalah ungkapannya mengenai Pilatus yang seolah kagum dan hormat kepada Yesus dengan pernyataan ecce homo, walaupun dia menyatakan pula bahwa Pilatus sudah terlanjur memainkan politiknya (MPS 53-54), namun Cole melupakan ketidakpedulian Pilatus mengenai kebenaran (Yoh 18:37-38a).  Bahkan yang lebih buruk lagi dilakukan oleh Cole dengan pengutipan pemuliaan Kristus oleh Allah (Flp 2:10-11) telah digantikan dengan pemuliaan Kristus oleh manusia (MPS 60).  Ini merupakan penyesatan, sebab Alkitab selalu menyatakan bahwa Kristus dimuliakan oleh Allah bukannya oleh manusia (bdk. Kis 2:31-36; 4:10-12; Yoh 16:12-15).  Begitu pula konteks perkataan Yohanes Pembaptis bahwa “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” diselewengkan dengan pernyataan “hanya karena kebesaran Kristus di dalam kehidupan kitalah yang dapat membuat saudara dan saya menjadi besar” (KSP 79).

Penafsirannya yang bersifat diskriminatif, karena menekankan kepriaan, semakin menjadi-jadi dengan menyatakan “Sifat-sifat yang ada pada Kristus merupakan ciri-ciri kepriaan yang sejati. Sifat-sifat itu merupakan bukti bahwa Dia benar-benar Anak Allah” (MPS 72), lagi “menyerupai Kristus dan sifat pria yang sempurna adalah dua kata yang memiliki arti yang sama” (KSP 68,178), dan “kita bisa saja memperoleh kerohanian dari kaum wanita, tetapi kekuatan selalu datangnya dari kaum pria” (KSP 78).  Model hermeneutik yang dilakukan oleh Cole ini merupakan bagian dari penyelewengan terhadap maksud kedatangan Yesus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, baik kaum pria maupun wanita, bukannya untuk menyatakan kepriaan sejati.

Teori motivasi, bukannya iluminasi dari Roh Kudus, yang digunakan oleh Cole dalam menjelaskan kepriaan sejati yang menjadi topik penting dalam gerakannya ini. Berulang kali dia berusaha untuk memberikan sanjungan kepada kaum pria, walaupun dia menyatakan bahwa pria sejati itu memang tidak sempurna (MPS 178), namun dia melontarkan berbagai macam pernyataan yang sangat berbahaya, seperti:

-          “Sebelum manusia sepakat dengan penilaian Allah atas keadaan mereka dan dengan persediaan-Nya bagi kepentingan mereka, maka manusia akan berada di luar wewenang dan kemampuan Allah” (MPS 78). Kalimat ini merupakan penghinaan terhadap kedaulatan dan kemahakuasaan Allah.

-          “Adapun kematian dalam Tuhan Yesus Kristus merupakan proses perubahan yang mendatangkan kebaikan bagi kita dan bagi Allah yang Mahakuasa, karena ….” (MPS 80).  Kalimat ini telah melecehkan anugerah Allah.

-          “Yesus Kristus menganggap kehadiran kita di sorga lebih penting nilainya daripada kehidupan-Nya sendiri.” (MPS 100).  Kalimat ini menurunkan derajat mutu kasih Allah.

-          “Bila seseorang menolak Kristus, ia mengosongkan sorga dari kehadirannya meskipun Allah menghendaki dia hadir di sana, … (TTMS 31).  Kalimat ini menolak doktrin predestinasi.

-          “Meskipun beriman kepada Allah itu penting, ada unsur iman yang lebih besar daripada itu – Allah mempunyai iman kepada manusia” (TTMS 44). Kalimat ini bertentangan dengan pernyataan Yesus bahwa “sulit menemukan iman yang sejati di antara manusia” (Luk 18:8), dan “Ia tidak dapat mempercayai manusia” (Yoh 2:24).

-          “Allah mempunyai hak untuk memiliki hidup kita, dan dari hal itu kita mempunyai hak untuk mengharapkan dari Bapa kita di surga. Kita berdoa dan mengharapkan jawaban” (TTMS 182). Kalimat ini merupakan kesombongan humanisme.

-          “Adalah tugas saya untuk menyampaikannya. Tugas saya adalah untuk menyatakannya. Dan tugas Allah untuk mempertahankan nama baik-Nya” (KSP 13) merupakan bentuk kepercayaan diri yang berlebihan mengenai kehebatan panggilan dirinya.

-          “Allah menginginkan saudara menjadi manusia seperti yang selalu saudara dambakan” (KSP 24) merupakan manipulasi terhadap kehendak Tuhan, sebab manusia tidak akan pernah memahami dirinya dengan tepat kecuali menyadari keberdosaannya di hadapan Tuhan yang Mahasuci.

PEWAHYUAN

Cole memiliki pemahaman pewahyuan sesuai dengan teologi kharismatik yang menginginkan pewahyuan dari Allah secara langsung dan terus menerus untuk diperbarui, karena itu dia sangat menolak dan tidak menyukai doktrin yang telah diwariskan dalam sejarah gereja. Cole membagi berbagai tingkatan pengertian berkaitan dengan pemahaman Firman Tuhan, yaitu pewahyuan, inspirasi, formalisasi, institusionalisasi, kristalisasi dan sekularisasi (MPS 131-148). Dia sangat menekankan pentingnya pewahyuan yang berasal dari Allah langsung, sebab itulah Firman Tuhan yang sebenarnya untuk disesuaikan dengan konteks zamannya. Karena itu dia menganggap bahwa perkataan manusia bisa berkedudukan sama dengan Firman Allah, seperti kalimat yang diungkapkannya “pengajaran Campbell, kata-kata hikmat Joann, Firman Allah” (KSP 12).

Berkaitan dengan prinsip pewahyuan ilahi inilah, Cole menganggap adanya persamaan atau kesejajaran antara Firman Allah –red. yang disebut LOGOS, dengan perkataan seorang pria –red. sebagai “RHEMA” (TTMS 89-101). Cole sangat bercorak kharismatik dalam pengajarannya.  Dasar pemikiran ini mungkin sangat berhubungan dengan kedudukan kaum pria yang “diagungkan”-nya sebagai imam (KSP 80-91, 154, bahkan dia menyerukan para ayah untuk menjadi imam yang berbicara kepada Allah, nabi yang berbicara sebagai wakil Allah, dan raja yang memerintah, MPS 130). Dari sini Cole sangat melecehkan pernyataan PB bahwa hanya Kristuslah satu-satunya imam yang dimiliki oleh orang percaya (Yoh 14:6; 1Tim 2:5; Ibr 4:14-5:10; 7:11-28; 8:1-13; 9:11-28). Memang PB mengajarkan adanya ordo dalam keluarga supaya suami mengasihi istrinya, istri tunduk kepada suaminya, anak-anak menghormati orang tuanya, dan bapak-bapak tidak menyakiti hati anaknya (Ef 5:22-6:4; Kol 3:21; 1Pet 3:1-7), namun ordo itu tidak dimaksudkan seperti ajaran Cole bahwa pria menjadi imam dalam keluarganya. Kalaupun 1Kor 11:2-16 menyatakan setiap laki-laki berdoa dan bernubuat, namun dinyatakan pula bahwa setiap perempuan yang berdoa dan bernubuat, sehingga penjelasan Paulus ini adalah untuk mengatur pelayanan setiap kaum pria dan wanita agar tetap menghormati adat istiadat yang masih berlaku saat itu.

KESIMPULAN

Berdasarkan penyelidikan terhadap ajaran Cole ini, maka dapat disimpulkan bahwa ajaran pria sejati banyak berlawanan dengan ajaran Alkitab, memiliki semangat atau spirit kharismatik, dan memiliki kecenderungan kesesatan karena spirit kebebasan berekspresi dalam menerima pewahyuan baru. Karena itu ajaran dan gerakan ini HARUS DITOLAK.

 

* Pdt. Johannes Aurelius, M.Th., adalah Hamba Tuhan di GKA Gloria Surabaya

 

 

BERKHOTBAH DI TENGAH ZAMAN KONTEMPORER[1]

Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

Batasan pengertian

Yang dimaksud dengan istilah ‘kontemporer’ dalam makalah ini adalah “kecenderungan zaman modern masa kini yang dipenuhi dengan berbagai kondisi dan berbagai gagasan baru yang bersifat temporal.”[2]

Berdasarkan ini maka makalah ini bertujuan untuk mengundang setiap pembaca khususnya para penyampai Firman Tuhan untuk tetap setia, cermat dan memelihara kemurnian isi kebenaran Firman ditengah berbagai arus dan tantangan zaman modern masa kini.

PENDAHULUAN

Bagaimana caranya seorang pengkhotbah menghadirkan berita-berita religius secara khusus yang kental dengan pemikiran-pemikiran jaman kuno untuk menjadi relevan dengan konteks masa kini (kontemporer)?[3] Ini merupakan pertanyaan yang serius yang harus dapat dijawab oleh setiap penyampai firman kebenaran. Dunia kontemporer memberi tantangan tersendiri khususnya dalam melaksanakan tugas dan panggilan penyampaian dari Firman Allah yang pada hakekatnya tidak pernah berubah dan tidak mengenal kompromi dengan segala kondisi dan gagasan baru yang bersifat temporal yang mempengaruhi kehidupan manusia masa kini.

Patut diingat bahwa sebenarnya dilema yang dihadapi oleh gereja sehubungan dengan tugas penyampaian Firman Tuhan pada hari ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam setiap era didalam sejarah yang ditandai dengan perubahan waktu, ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan manusia, penyampaian Firman Tuhan mengalami tantangan tersendiri khususnya bagi para penyampai Firman Tuhan itu sendiri. Namun kita patut bersyukur kepada Allah yang Empunya Firman bahwa didalam setiap era tersebut umat Allah yang sejati senantiasa dikaruniakan kemampuan yang lebih dari cukup untuk dapat terus mengkomunikasikan Firman Allah tanpa mengkompromikan kebenarannya.

Memang banyak orang yang mulai mempertanyakan relevansi khotbah dalam zaman kontemporer ini. Sebagian orang malah menganggap khotbah tidaklah lebih sebagai ‘gaung masa lalu yang sudah ditinggalkan’[4] atau dengan kata lain sudah tidak lagi up to date. Sikap ini seringkali mempengaruhi orang-orang percaya secara psikologis terutama para penyampai Firman kebenaran sehingga berupaya menciptakan atau mengikuti berbagai metode dan gaya penyampaian firman yang “baru” atau yang sesuai dengan gaya hidup, keinginan, dan harapan orang masa kini. Justru ini sangat berbahaya oleh karena pada akhirnya justru ‘berita’ yang seharusnya menjadi sentral dalam khotbah digantikan oleh hal-hal yang bersifat artificial yang seharusnya berada ditempat paling bawah.[5] John Stott mengomentari keadaan ini sebagai strategi Iblis untuk mematahkan dan melemahkan pekerjaan penyampaian Firman untuk mencapai hasil gemilang:

“As a result of which he (devil) has won a strategic victory. Not only has he effectively silenced some preachers, but he has also demoralized those who continue to preach. They go to their pulpits ‘as men who have lost their battle before they start; the ground of conviction has slipped from under their feet.”[6]

PENGKHOTBAH, BERITA KHOTBAH DAN PERTUMBUHAN GEREJA[7]

Bila khotbah tidak diletakkan sebagai bagian yang utama dari kehidupan bergereja, maka gereja pasti akan kehilangan hartanya yang paling berharga yang menjadi sumber otoritas dan otentitasnya. Tidaklah berlebihan bila reformator Martin Luther pernah berkata bahwa harta gereja yang sebenarnya adalah Injil yang Mahasuci tentang kemuliaan dan kemurahan Allah.[8]

Dalam sejarahnya, eksistensi dan pertumbuhan gereja tidak pernah terlepas dari pemberitaan Firman. Sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.[9] Atau dengan kata lain, tanpa pemberitaan Firman yang benar maka gereja tidak akan pernah mengalami pertumbuhan yang benar pula dan pasti akan kehilangan arah.[10] Kecenderungan gereja pada hari ini yang mengutamakan bagian-bagian dalam ibadah seperti puji-pujian lebih dari pada khotbah harus dihindari. Gereja bertumbuh bukan karena musik atau puji-pujian yang dahsyat sekalipun tetapi oleh pemberitaan Firman Tuhan yang benar dan bertanggungjawab.[11] Dengan demikian, khotbah selalu menjadi prioritas dari pelayanan guna pertumbuhan gereja Tuhan yang benar dan sehat seturut ajaran Alkitab sebagaimana telah dilakukan oleh para rasul pada zaman mereka.[12]

Pemberitaan Firman menjadi begitu penting dan sentral bagi kehidupan bergereja yang sehat. Tidak lagi diragukan bahwa Alkitab memandang bahwa para pemberita Firman memiliki peran yang penting didalam rencana Allah untuk membawa gereja mengalami pertumbuhan yang benar kepada-Nya.  Rasul Paulus menuliskan,

“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?  Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”[13]

Dalam pengertian ini maka pemberitaan Firman harus terus-menerus memperkenalkan, menegaskan dan mengarahkan gereja untuk bertumbuh kepada segenap karya Allah seperti penyelamatan dalam Yesus Kristus, kebaikan Allah, keadilan Allah dan seterusnya. Bahkan harus terus diberitakan didalam segala situasi, baik atau tidak baik waktunya.[14] Ditengah tantangan dunia kontemporer para pemberita Firman dipanggil untuk setia dalam mempertumbuhkan gereja kepada kebenaran yang murni dan tidak boleh dihentikan oleh alasan apapun juga. Para tokoh gereja baik yang hidup sebelum maupun sesudah zaman Reformasi, begitu memandang tinggi dan mengutamakan Firman Tuhan.  John Wycliffe mengatakan bahwa tugas utama pendeta adalah berkhotbah.[15] Bagi Calvin, disamping Sakramen, Firman Allah yang dikhotbahkan dengan murni dan didengar, menjadikan gereja milik Allah itu tetap eksis.[16] Demikian juga Luther meyakini bahwa apa yang ia lakukan yakni membuka zaman Reformasi yang begitu penting bagi dunia kekristenan sebagai karya Firman.[17]

Tidak dapat diragukan lagi bahwa kekristenan dan gereja tidak akan ada tanpa kehadiran Firman. Tugas utama dari para hamba Tuhan adalah menghadirkan Firman, sehingga berkhotbah akan senantiasa menjadi bagian yang amat penting dari tugas panggilan hamba Tuhan. Ini harus tetap menjadi perhatian serius ditengah zaman kontemporer ini.  Persoalannya adalah: “Khotbah macam apa yang dihadirkannya didalam gereja? Apakah khotbah yang tetap setia kepada kebenaran-kebenaran yang murni dari Alkitab atau  kepada apa yang manusia kontemporer anggap sesuai, cocok, dan up to date dengan keinginan dan kemauan mereka?[18] Apakah khotbah yang disampaikan benar-benar bertanggungjawab, didasari oleh keyakinan yang absolut terhadap kebenaran absolut Firman? Apakah kemampuan berkhotbah lebih digantungkan kepada kepiawaian artificial atau bergantung kepada Allah dengan mengandalkan Roh Kudus-Nya?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka beberapa pemikiran berikut ini perlu menjadi pertimbangan penting:

1. Sola Scriptura

Rasul Paulus menegaskan kepada hamba Tuhan bernama Timotius  agar “memberitakan Firman.”[19] Dengan kata lain bahwa yang diberitakan dalam khotbah adalah Firman Tuhan. dan ini harus dilakukan dengan setia dan penuh tanggungjawab. Hal ini sangat jelas terlihat dari penekanan yang bukan berbentuk permintaan melainkan berbentuk perintah kepada Timotius. Hal ini patut kita camkan dalam pelayanan kita  ditengah zaman kontemporer ini.

Prinsip formal Reformasi adalah Sola Scriptura dimana Reformator gereja menampakkan otoritas ekslusif dari Alkitab atas semua opini, tradisi, dan produk-produk kontemporer masa itu yang mempengaruhi dan bahkan menguasai gereja, dan memanggil gereja untuk berkomitmen kepada Sola Scriptura. Firman Allah menjadi satu-satunya pedoman pembimbing dalam mempermuliakan serta memperkenankan Allah.[20] Dengan demikian implikasi praktisnya adalah bahwa Firman Allah harus diletakkan ditempat yang tertinggi dan tidak boleh digantikan oleh yang lain-lain, baik itu berupa kharisma, pribadi, popularitas, kemampuan berbicara, intelektualitas dan opini pribadi, filsofi-filosofi yang sifatnya humanis maupun produk-produk canggih dari zaman kontemporer yang ada.[21] Senada dengan ini, Sydney Greidanus menggarisbawahi kebenaran ini dengan mengatakan,

“Accordingly, if preachers wish to preach with divine authority, they must proclaim the message of the inspired Scriptures, for Scriptures alone are the Word of God written: the Scriptures alone have divine authority.  If preachers wish to preach with divine authority, they must submit  themselves, their thoughts and opinions, to the Scriptures and echo the Word of God.”[22]

Dalam terang Sola Scriptura inilah, setiap pemberita Firman harus mampu memelihara dan terus-menerus menunjukkan integritasnya terhadap berita yang  disampaikannya. John Calvin menegaskan,

“Maka marilah kita tetapkan ini sebagai suatu azas yang pasti, yaitu hendaklah tidak ada didalam gereja yang dipandang dan diberi tempat sebagai firman Allah kecuali apa yang tercantum didalam Taurat dan kitab-kitab para nabi, dan selanjutnya didalam tulisan-tulisan para rasul; dan hendaklah tidak ada cara lain untuk memberi ajaran dengan sah didalam gereja, kecuali sesuai dengan perintah dan pedoman firman itu.”[23]

2. Truth (Kebenaran)

Berkhotbah adalah memberitakan kebenaran, dimana pemberita Firman bukan membawakan kebenaran yang berasal dari dirinya sendiri. Seorang Pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk menyampaikan kepada pendengarnya sebuah gambar yang lebih besar tentang Allah (Theocentric / Christosentric). Berkaitan dengan pelayanan mimbar rasul Paulus menegaskan:

“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”[24]

Oleh sebab itu perlu senantiasa menanyakan kepada diri sendiri hal-hal seperti: Apakah khotbah yang saya sampaikan memperkenalkan dan meninggikan Allah terus-menerus? Apakah khotbah yang saya sampaikan dibangun diatas dasar disiplin pengajaran dan teologia yang benar atau tidak? Apakah saya menyampaikan khotbah dengan hati yang tulus? Apakah ada hal-hal terselubung disana seperti ingin memamerkan pengetahuan, mengungkapkan kekecewaan atau kemarahan yang dikemas dalam khotbah?  Bagaimana dengan ilustrasi yang disisipkan dalam khotbah, apakah itu pengalaman orang lain yang diakui sebagai seolah-olah pengalaman sendiri? Apakah cerita yang disampaikan berupa fakta atau karangan sendiri? Semua ini harus jelas asal-usulnya dan tidak boleh dimanipulasi. Apakah khotbah yang disampaikan disiapkan secara murni dan digumulkan sungguh-sungguh hingga pemberitaannya atau tidak? Apakah khotbah yang disampaikan menantang pendengar untuk kembali kepada kebenaran yang sejati?

Pada hari ini kita para pengkhotbah banyak disuguhi aneka macam metode, gaya dan strategi bagaimana menjadi pengkhotbah yang sukses,[25] namun kehilangan esensi penting dari sebuah panggilan Allah untuk setia memberitakan firman-Nya ditengah dunia yang selalu berubah-ubah dan tidak menentu dengan kecenderungan utama terhadap kebergantungan kepada hal-hal yang bersifat sementara.

Berkaitan dengan truth (kebenaran) yang mewarnai pelayanan khotbah; maka, setiap pemberita Firman harus mengingat beberapa hal berikut ini:

Pertama, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk melatih pendengarnya kembali kepada kebenaran-kebenaran Alkitab dalam menghadapi berbagai asam garam kehidupan mereka. Paulus menegaskan,

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”[26]

Seorang pengkhotbah juga harus berkeyakinan teguh bahwa Firman Allah sanggup meyakinkan umat Allah yang sejati untuk tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Oleh sebab itu seorang pengkhotbah yang berdiri dalam kebenaran berkewajiban penuh untuk berupaya sekuat tenaga untuk menunjukkan kepada pendengarnya bagaimana membaca, mempelajari dan memegang ajaran kebenaran Alkitab bagi kehidupan mereka.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”[27]

Selain itu, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk mengajarkan seluruh bagian Alkitab dan menunjukkan betapa unik dan ajaibnya setiap kebenaran yang didapat darinya. Sekaligus harus menantang pendengarnya memberi respon untuk hidup dalam penghayatan nyata terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka sebagaiman Alkitab sendiri tegaskan,

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”[28]

Sehingga pada akhirnya setiap orang yang mendengar pemberitaan Firman -dalam hal ini tentunya juga termasuk yang menyampaikan atau si pemberita Firman- akan senantiasa menghayati secara nyata kebenaran Alkitab yang ‘kuno’ namun merupakan kebutuhan yang amat penting ditengah zaman kontemporer ini bagi kehidupannya:

“Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu …”[29]

3. Kebutuhan (Needs)

Tidak dapat dipungkiri bahwa berita Injil kebenaran adalah berita kesukaan, dan oleh sebab itu berita yang disampaikan harus membawa kesukaan yakni kesukaan yang utuh, bukan kesukaan yang memanjakan, yang kompromi dengan zaman atau keinginan para pendengar semata-mata, karena hal ini justru akan mencelakakan. Maka khotbah yang menjawab tantangan  zaman kontemporer hari ini tidak boleh hanya disusun di atas meja saja tetapi juga harus melalui pengamatan dan pendekatan, sehingga sungguh-sungguh menyentuh kebutuhan nyata jemaat. Inilah yang dimaksudkan dengan khotbah yang relevan. Apabila kita perhatikan, para pengkhotbah yang dipakai Tuhan secara luarbiasa pada zamannya selalu berbicara mengenai kebutuhan manusia, termasuk problema dari kehidupan para pendengar mereka.[30] Dengan demikian khotbah menjadi hadir secara nyata ditengah-tengah pendengarnya.[31]

Secara sederhana, kebutuhan pendengar terhadap berita firman dapat dikategorikan dalam 2 kelompok yakni kebutuhan dasar (bersifat materi) dan kebutuhan pertumbuhan (yang bersifat non-materi):[32]

a.       Kebutuhan dasar yang mencakup fisik dan jaminan keamanan.

b.      Kebutuhan pertumbuhan yang mencakup kasih, harga diri dan aktualisasi diri, dimana aktualisasi diri meliputi kebenaran, kebaikan, keadilan, ketaraturan dan sebagainya.

Kedua kelompok kebutuhan ini perlu menjadi pertimbangan dalam khotbah, dimana penekanan yang terutama / terpenting adalah pada kebutuhan akan pertumbuhan yang bertujuan membawa pendengar kepada aktualisasi diri yang akan memperlihatkan dengan jelas kedewasaan kristiani dari para pendengar yang nyata melalui makna yang mereka berikan dalam kehidupan bergereja / berjemaat.

Disamping itu berita Firman tidak boleh kontroversial dalam arti tidak memperhatikan problem yang sedang dihadapi oleh jemaat. Contoh: penyampaian khotbah dengan topik “seluruh muka bumi dipenuhi kemuliaan-Nya”[33] padahal kenyataan sedang terjadi banjir bandang yang menghancurkan dan menewaskan begitu banyak orang, atau gunung Merapi yang meletus yang mengakibatkan kesedihan yang luarbiasa atau bencana gempa Tsunami yang menyisakan kepedihan yang amat dalam. Topik “pemeliharaan Allah yang ajaib” sementara kenyataannya ada diantara mereka yang sedang menjalani kehidupan yang buruk, seperti sakit tumor yang parah atau kanker ganas.  Atau misalnya topik “Berdua lebih baik daripada seorang diri” dalam momen pemberkatan pernikahan yang disampaikan dengan kurang mempertimbangkan perasaan dari mereka yang hidup sendiri, yang entah karena tidak mau menikah atau karena kesulitan mendapatkan teman hidup yang dianggap sesuai.

Untuk menjadikan sebuah khotbah tetap relevan dan berbicara kuat dalam ranah kehidupan jemaat yang serba kompleks pada hari ini; maka, pemberita Firman harus sungguh-sungguh mengenal jemaat yang dilayaninya. Untuk memenuhi hal ini seorang pemberita Firman kebenaran dapat mengenali kebutuhan-kebutuhan mereka melalui sharing tentang pengharapan dan ketakutan, kegelisahan atau kekhawatiran mereka, kesuksesan dan kegagalan, kesukaan dan kesedihan, kepahitan dan aspirasi dari umat yang dilayaninya.

Patut diingat bahwa hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada hamba Tuhan tamu. Dalam kaitan dengan inilah Rasul Paulus sendiri menganggap hubungannya dengan anggota jemaat seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Kepada jemaat Tuhan di Tesalonika ia berkata,

“Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.”[34]

Bila seorang ibu berkewajiban dalam menyusui bayinya; maka, demikian juga seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, akan memandang bahwa “berkhotbah” adalah tugas yang sangat penting, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

INTEGRITAS DIRI SEORANG PENGKHOTBAH

Berikut ini adalah beberapa uraian sederhana yang berkaitan dengan integritas diri seorang pemberita Firman dalam berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini:

Setia Kepada Alkitab

Seorang pemberita Firman yang bertanggungjawab akan senantiasa menyadari bahwa Alkitab adalah satu-satunya buku yang dapat menjadi sumber khotbahnya. Ia melihat bahwa hanya Alkitab yang memiliki otoritas ilahi. Oleh sebab itu, ia hanya akan mengkhotbahkan apa yang tertulis dan yang dikatakan dalam Alkitab. Dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber khotbahnya, maka ia telah menempatkan Alkitab sebagai sumber otoritasnya dan ia akan memiliki otoritas ilahi di dalam khotbahnya.

Berita Firman dibangun diatas dasar filosofi bahwa Alkitab menjadi sumber khotbah dan oleh sebab itu, pengkhotbah wajib menguraikan arti teks tersebut di sepanjang zaman. Alasannya, pengkhotbah bukan berkhotbah dengan otoritasnya, tetapi dengan otoritas Allah. Oleh sebab

itu, ia harus dan hanya mengkhotbahkan firman Allah sebagai berita khotbahnya.[35] Haddon W. Robinson mengatakan,

“. . . the preacher speaks with an authority not his own, and the man in the pew will have a better chance to hear God speak to him directly.”[36]

Dalam kaitan dengan teks Alkitab yang menjadi bahan khotbahnya, seorang pengkhotbah harus tetap menguraikan teks Alkitab yang menjadi dasar khotbahnya, entah apakah teks itu panjang atau pendek. Dalam pengertian ini, maka seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu ayat (yang menurut beberapa ahli disebut sebagai khotbah tekstual). Seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu perikop Alkitab (yang juga sering disebut sebagai khotbah ekspositori). Ia juga dapat mengkhotbahkan topik-topik tertentu (yang disebut sebagai khotbah topical), khususnya yang berkaitan dengan doktrin Kristen, dan seterusnya.

Bersandar dan Mengakui Kuasa Roh Kudus

Seorang pemberita Firman yang benar akan semakin bersandar pada kuasa Roh Kudus. Para pengkhotbah yang menyampaikan berita Alkitab akan menyadari bahwa ia memerlukan kuasa Roh Kudus agar jemaat bisa mengerti apa yang menjadi berita dari Allah untuk umat-Nya. Ia menyadari bahwa kuasa manusia tidak akan dapat membuat manusia lain tunduk pada kebenaran Allah. Hanya Roh Kudus yang dapat membuat manusia melihat Allah. Oleh sebab itu, para pengkhotbah harus bergantung dan bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Tanpa kuasa Roh Kudus, tidak akan ada nilai kekal yang tercapai walaupun mungkin ada banyak orang yang mengagumi daya persuasi, menikmati ilustrasi khotbah atau belajar doktrin dari sang pengkhotbah.[37] Hal ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep mimbar seorang pengkhotbah. John Piper mengatakan bahwa seorang pengkhotbah perlu menyadari dan mengakui trinitarian khotbah, yaitu tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah, berita khotbah adalah salib Kristus, dan kuasa khotbah adalah kuasa Roh Kudus.[38]

Peran Roh Kudus dalam berita Firman sangatlah penting dan menjadi kunci pemberitaan Firman yang efektif oleh karena Ia mengajar apa yang Yesus katakan (Yohanes 14:24), menghibur, menginsyafkan tentang dosa dan kebenaran (Yohanes 16:7,8), menolong umat  yang dalam kelemahan (Roma 8:26), menguatkan (Efesus 3:14-16), memberi dorongan pemberitaan Firman dan berdoa (Kisah Para Rasul 6:10; 1 Kor 2:13; 2 Korintus 4:13), dan seterusnya. Tidak ada satu khotbahpun yang dianggap layak dihadapan Allah bila tanpa intervensi dari kuasa Roh Kudus.  Pierre Ch. Marcel benar ketika menegaskan bahwa,

“Preaching, which is, properly speaking, the word preached, depends entirely on the Spirit…if the Spirit is absent, there is, in a manner of speaking, a sermon, but no preaching.  The word of God will not be heard, but a word of man, dead, and therefore irrelevance.”[39]

Dengan demikian, seorang pengkhotbah akan menyadari bahwa tugasnya hanyalah sebagai juru bicara Allah. Jika khotbahnya membawa seseorang berbalik kepada Allah, ia harus menyadari bahwa bukan dirinya sendiri yang membuat orang-orang tersebut bertobat. Mereka percaya karena Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka.[40] Namun, seorang pengkhotbah juga tidak akan berkecil hati jika ia tidak melihat hasil apapun dari khotbahnya. Ia tahu bahwa hanya Roh Kudus yang membuat seseorang berbalik kepada Allah. Ia akan tetap setia melakukan tugasnya sebagai pengkhotbah.[41]

Menghormati Jabatan Sebagai Pemberita Firman

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Llyod-Jones, pernah mengatakan demikian,

“Menurut hematku, ‘berkhotbah’ adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati.” (Lebih lanjut ia mengatakan), “Pekerjaan ‘penyampaian Firman’ tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib.”[42]

Perkataannya tersebut diatas membuktikan betapa seorang pemberita Firman (yakni seorang hamba Tuhan dengan panggilan yang jelas), adalah seorang yang berdiri diantara Allah dan manusia, dan oleh sebab itu seyogyanyalah bila ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap “berkhotbah” sebagai satu “pekerjaan”, sehingga dirinya disebut tidak lebih sebagai seorang “tukang khotbah” entah dalam pengertian professional atau amatiran. Melainkan ia akan sungguh berjuang dengan pertolongan Roh Kudus untuk menunjukkan kehidupan panggilan yang sepadan dengan jabatan itu.  Martyn Llyod Jones mengingatkan demikian,

“Our lives should always be the first thing to speak: and if our lips speak more than our lives it will avail very little. So often the tragedy has been that people proclaim the gospel in words, but their whole life and demeanour has been a denial of it.”[43]

Justru seorang pemberita firman yang menghormati jabatan tersebut akan senantiasa dipenuhi melainkan dengan sikap yang gentar dan takut dihadapan Tuhan, karena dipenuhi dengan pergumulan dan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menjalani kebenaran Firman yang senantiasa ia sampaikan kepada jemaat yang mendengarnya.

Jiwa Yang Antusias Terhadap Kehidupan Para Pendengar

Seorang pemberita Firman kebenaran yang sesungguhnya akan benar-benar menyadari bahwa pada waktu ia berdiri di mimbar, ia sedang “mengurus’ masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan bahwa ia berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Dr. Forsyth member penegasan terhadap kebenaran ini demikian,

“It is an act and a power: it is God’s act redemption…A true sermon is a real deed…The preacher’s word.  When he preaches the gospel and not only delivers a sermon, is an effective deed, charged with blessing or with judgment.”[44]

Kesadaran ini akan membawa kepada suatu pengertian bahwa berkhotbah bukanlah hanya sekedar sesuatu yang sekedar disampaikan dari mimbar, melainkan menuntun kepada antusiasme yang amat sangat bagi kehidupan para pendengarnya dihadapan Allah. Oleh karena itu seorang pemberita Firman yang baik akan memiliki sikap yang terus terang didalam menyampaikan kebenaran-kebenaran yang Allah kehendaki diketahui dan direspon oleh para pendengar Firman-Nya.  Hal ini akan sangat bermanfaat bagi gereja, pelayanan dan terutama kehidupan rohani para pendengar Firman. Dengan demikian menghindarkan gereja atau orang percaya dari sikap yang mudah terombang-ambing oleh berbagai tawaran dari gerakan-gerakan rohani kontemporer yang menawarkan “solusi instant” bagi persoalan-persoalan kehidupan yang mereka alami. Gereja dan kehidupan jemaat menjadi kuat, sehat, dan tangguh dalam terang kebenaran Firman yang benar.

Gereja masa kini memerlukan para pemberitaan Firman yang utuh. Salah satu contoh praktis misalnya adalah ketika berbicara mengenai pengudusan (sanctification); maka, seorang pemberita Firman yang baik kan berterus terang menyampaikan bagaimana seharusnya orang-orang percaya yang sejati berjalan didalam kehidupan yang kudus, pelayanan, ketaatan,  penyangkalan diri, sikap hidup yang takut akan Allah, kehidupan doa yang benar dan bagaimana seharusnya menjadi murid Kristus hidup didalam iman dan pertobatan yang sejati. Juga berbicara dengan terus terang mengenai kebenaran dari konsekwensi kekal dari kehidupan yang tidak memberi tempat bagi kebenaran Firman.[45]

Kesungguhan Didalam Belajar Makin Berkenan

Seorang pemberita Firman kebenaran harus senantiasa menuntut diri untuk terus maju dan meningkatkan kemampuannya. Memang didalam berkhotbah, kemampuan tidaklah menjadi pemeran utama atau sebagai penentu utama, namun tetap menjadi factor yang penting. Martin Lloyd-Jones mengatakan,

“As preaching means delivering the message of god in the way which he have described…it obviously demands a certain degree of intellect and ability.  So if a man lacks a basic minimum in that respect, he is clearly not called to be a preacher.”[46]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang pemberita Firman kebenaran yang rindu khotbahnya mampu membangun dan memberi dorongan pada sidang jemaat yang dilayaninya, adalah tidak dapat mengabaikan usaha dalam merawat dan meningkatkan kemampuan intelektualnya.

Kesalahan banyak pengkhotbah -dan juga gereja dalam pengertian komunal- pada hari ini adalah kurangnya keinginan yang kuat dan komitmen untuk meng-upgrade kemampuan diri. Situasi dan kondisi ladang pelayanan sekali-kali tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menuntut diri. Dalam pengertian ini, untuk makin berkenan dihadapan Tuhan dan agar kebenaran Firman makin nyata ditengah kehidupan bergereja; maka, seorang pemberita Firman dan termasuk jemaat yang dilayani  harus makin bersungguh-sungguh didalam belajar meningkatkan kemampuan mengajar Firman dan kemampuan didalam menyerap kebenaran firman yang disampaikan. Disamping tentunya, rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin membaca buku-buku rohani yang bermutu tinggi[47] dan buku-buku lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang dianggap bisa menambah wawasannya dan meningkatkan intelektualitasnya; seorang pemberita Firman juga perlu rajin berada ditengah jemaatnya[48] sehingga dengan demikian ia memperoleh pengetahuan tambahan yang bersifat praktis oleh karea ia mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gerejanya.

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini merupakan tugas yang amat mulia bagi setiap pemberita Firman kebenaran. Ditengah dunia yang semakin tidak menentu dan kecenderungan untuk mengikuti kebinasaan yang ditawarkannya, para pemberita Firman kebenaran harus tetap berdiri memproklamasikan berita kebenaran yang bukan saja hanya berupa janji kehidupan kekal didalam Yesus Kristus Tuhan, tetapi juga memproklamasikan kehidupan yang penuh pengharapan, kekuatan dan kehidupan yang berani menghadapi realita masa kini dan masa depan bersama dengan Tuhan.

Oleh karena itu, setiap pengkhotbah patut menjaga kesetiaan untuk mengkhotbahkan Alkitab sebagai berita Allah yang tidak pernah berubah ditengah dunia dan peradaban manusia yang terus-menerus berubah. Dalam hal ini juga dituntut kesetiaan seorang pengkhotbah untuk menguraikan berita Alkitab dan mengkhotbahkannya tanpa mengkompromikannya dengan keinginan dan kehendak zaman ini. Patut juga diingat, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sesuatu yang tidak lebih dari pada “stempel pengesahan” dari suatu khotbah yang justru sama sekali tidak memproklamasikan apa yang menjadi kehendak Allah untuk ditaati dan dilaksanakan dalam kehidupan umat, harus dibuang jauh-jauh. Demikian juga, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sekedar dari sebuah “pendahuluan khotbah” saja, juga harus dibuang jauh-jauh.

Disamping itu, ditengah kompleksnya tantangan yang dihadapai dalam zaman kontemporer ini terhadap kehidupan Kristen, setiap pengkhotbah dipanggil untuk memiliki kesungguhan dalam berkhotbah. Ia adalah juru bicara Allah yang harus sungguh-sungguh mempersiapkan khotbah yang akan disampaikannya dengan selalu bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Ia memikul tanggung jawab ilahi untuk menyampaikan berita ilahi, demi kepentingan ilahi dalam kehidupan umat-Nya. Dan oleh karenanya ia juga harus memiliki jiwa yang antusias terhadap mereka.

Dan terakhir, setiap kita patut menyadari bahwa berkhotbah ditengah zaman ini merupakan sebuah tugas yang yang mulia. Oleh karena itu setiap kita, para pengkhotbah, yang dipercaya untuk menjadi utusan-utusan Allah bagi misi-Nya ditengah dunia diingatkan sekali lagi untuk selalu memastikan bahwa pelaksanaan tugas yang diemban ini memberi dampak yang benar dan tepat baik pada masa sekarang ini, maupun pada yang akan datang hingga kekekalan. dan meskipun tidak semua pembawa berita Firman kebenaran dipanggil oleh Allah untuk menjadi pengkhotbah “besar,” semua pengkhotbah berita kebenaran dipanggil untuk mengkomunikasikan Firman dengan baik. Maka tidak ada jalan lain bagi kita selain dari pada senantiasa memastikan bahwa berita yang kita sampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang hingga kedalam kekekalan.

Fides Quaeraens Intelectum

 


Daftar Referensi Pustaka

Allah, TUHAN, Alkitab.

Beeke, Joel R., Puritan Evangelism: A Biblical Approach. Grand Rapids: Reformation Heritage

Books, 1999.

Calvin, John Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.

Comfort, Earl V.,  Is the Pulpit a Factor in Church Growth” Bibliotheca Sacra 140/157, 1983.

Dale, Robert D., Pastoral Leadership. Nashville: Abingdon Press, 1986.

David Watson, I in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199.

Forsyth, P.T., Positive Preaching and The Modern Mind. Independet Press, 1907.

Farm, Herbert H., The Servant of The Word. Philadelphia: Fortress, Press, 1964.

Greidanius, Sydney, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching

Biblical Literature. Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988.

Hornby, A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford: Oxford

Univeristy Press, 1987.

Lloyd-Jones, D. Martyn,  Preaching and Preachers. Grand Rapids: Zondervan, 1972.

Lloyd-Jones,Martyn, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1. Grand Rapids: Wm. B.

Eerdmans Publishing Company, 1959.

Massey, James Earl, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma.

Grand rapids: Baker Book House, 1976.

Marcel, Pierre Ch., The Relevance of Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1963.

Piper, John, The Supremacy of God in Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1990.

Packer, J.I.,  Evangelism and Sovereignty of God. Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961.

Robinson, Haddon W., Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository

Messages. Grand Rapids: Baker Book House, 1980.

Stott, John R.W.,  I Believe in Preaching. London: Hodder and Stoughton, 1982.

Williamson, G.I., Katekismus Singkat Westminster 1. Surabaya: Momentum / LRII, 1999.

Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and

Reformed Publishing Co., 1970).

Welsh, Clement,  Preaching in a New Key. Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974.

WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation.


[1] Disampaikan dalam Seminar Khotbah Kontemporer, Wisma Santo Yohanes – Kediri, 17 November 2010 sebagai bagian dari program Departemen Pembinaan Sinode GKA.

[2]Lihat WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation. Lihat juga A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (Oxford: Oxford Univeristy Press, 1987), p. 184

[3]Saya memberi perhatian khusus dalam makalah ini terhadap posisi berita Firman yang disampaikan oleh seorang pengkhotbah dan bagaimana seorang pengkhotbah membawa berita pengajaran yang ‘kuno’ tetapi murni itu dapat tetap relevan dan terus-menerus menggarami dunia kontemporer saat ini tanpa menjadikan berita Firman itu sendiri kehilangan kebenaran esensinya atau di’telan’ oleh kondisi zaman masa kini.

[4]Clement Welsh, Preaching in a New Key (Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974), p. 32.

[5]Misalnya: kharisma atau popularitas si penyampai firman, audiens, penampilan, style khotbah, suasana, peralatan pendukung/teknologi, dst. Harus diakui bahwa terkadang hal-hal ini juga “diperlukan” namun dalam pengertian sekali-kali tidak boleh disejajarkan dengan atau bahkan melampaui is dari berita Firman itu sendiri.

[6] John R.W. Stott, I Believe in Preaching (London: Hodder and Stoughton, 1982), p. 50.

[7] Disini penekanannya bukan pada metodologi tetapi kepada isi.

[8] Dalil ke-62 dari 95 dalili (tesis) yang dipakukan di pintu gereja Wittenberg di Jerman pada 31 Oktober 1517.

[9] D. Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan, 1972) 11.

[10] Earl V. Comfort, Is the Pulpit a Factor in Church Growth” (Bibliotheca Sacra 140/157, 1983), 67.

[11] Lihat David Watson, I Believe in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199. Watson menegaskan bahwa, “Although the birth of the church in Acts 2 began with praise, it continued with preaching.”

[12]Panggilan khusus yang diberikan kepada mereka adalah memberitakan Firman (Markus 3:14), setelah kebangkitan Yesus mereka di utus untuk memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Matius 28:19), pemberitaan Firman dilakukan dimana-mana (Markus 16:20), memberitakan Firman dengan penuh keberanian (Kisah Para Rasul 4:31).

[13] Roma 10:14-15

[14] 2 Timotius 4:1-2

[15] John Stott, I Believe in Preaching, p. 22.

[16] Ibid, p. 24.

[17] Ibid.

[18] Perhatikan 2 Timotius 4:3-5.

[19] 1 Timotius 4:2, “Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

[20] Lihat G.I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1 (Surabaya: Momentum / LRII, 1999), hal. 7.  Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1970).

[21] Lihat James Earl Massey, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma (Grand rapids: Baker Book House, 1976), p. 110.

[22] Sydney Greidanius, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching Biblical Literature (Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988), p. 913.

[23] Yohanes (John) Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), h. 206.

[24] 2 Korintus 4:5

[25] Pengertian “sukses” ini lebih kearah hal-hal yang bersifat artificial, misalnya: kemampuan berbicara, daya tarik charisma, relasi, ukuran jumlah pendengar, dukungan teknologi, popularitas, income yang lumayan, mampu memuaskan selera pendengar, dan seterusnya.

[26] 2 Timotius 3:16-17

[27] 2 Timotius 2:15

[28] Yakobus 1:22

[29] Ulangan 32:46-47

[30] Beberapa contoh: Amos berbicara sesuai kebutuhan dan konteks masyarakat kuno Israel, rasul Petrus berbicara pada masyarakat di zaman Pentakosta sesuai kebutuhan mereka, Martin Luther berbicara pada zaman reformasi yang menjadi kebutuhan mereka.

[31] Lihat juga Herbert H. Farmer, The Servant of The Word (Philadelphia: Fortress, Press, 1964), p. 81.

[32]Berdasarkan pembagian kebutuhan dalam konteks pelayanan gerejawi yang dikemukakan oleh Robert D. Dale dalam bukunya Pastoral Leadership (Nashville: Abingdon Press, 1986) pp. 151-153.

[33] Yesaya 6:3

[34] 1 Tesalonika 2:7.

[35] Bukan psychology atau semacamnya yang sedang trend pada hari ini !!!

[36] Haddon W. Robinson, Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository Messages (Grand Rapids: Baker Book House, 1980), p. 58.

[37] John Piper, The Supremacy of God in Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1990), p.39.

[38] Ibid, p. 19.

[39] Pierre Ch. Marcel, The Relevance of Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1963), pp. 91, 94.

[40] J. I. Packer, Evangelism and Sovereignty of God (Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961), p. 113.

[41] Ibid, p. 119.

[42] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1972), p. 33.

[43] Martyn Lloyd-Jones, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1 (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1959), p. 165.

[44] P.T. Forsyth, Positive Preaching and The Modern Mind (Independet Press, 1907), pp. 3,15,56.

[45] Joel R. Beeke, Puritan Evangelism: A Biblical Approach (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 1999), pp. 15-16.

[46] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers, p. 111.

[47]Yang saya maksudkan dengan ‘bermutu tinggi’ disini adalah buku-buku bacaan rohani tersebut jelas ajaran dan dasar teologianya.

[48] Misalnya: perkunjungan, percakapan-percakapan dalam setiap kesempatan, dan sebagainya.

 

PERAN PENGGEMBALAAN MENYIKAPI GERAKAN PERTUMBUHAN GEREJA January 12, 2011

Oleh Pdt. Dr. Yarman Halawa

(disampaikan dalam Seminar Pertumbuhan Gereja yang diselenggarakan oleh Sinode Gereja Kristen Abdiel (Sinode GKA) bekerjasama dengan Persekutuan Gereja-Gereja Injili Surabaya (PGIS), 30-31 Agustus 2010)


Pendahuluan

Melaksanakan tugas dan tanggungjawab penggembalaan gereja ditengah berbagai isu mengenai Pertumbuhan Gereja pada hari ini bukanlah perkara yang mudah. Kondisi ini  sangat terasa didalam gereja-gereja yang memiliki dasar pengakuan iman. Penggembalaan gereja menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan pastoral pressures yang pelik dan berkepanjangan. Beberapa diantara pertanyaan itu adalah: Apakah tepat melibatkan diri didalam trend gerakan Pertumbuhan Gereja hari ini? Haruskah mengikuti pelatihan-pelatihan Pertumbuhan Gereja yang sedang marak saat ini? Haruskah memasukkan musik kontemporer dalam pelayanan ibadah? Haruskah mengadopsi beberapa gerakan rohani yang berakar dari metode-metode psikologi? Haruskah mengikuti apa yang merupakan kemauan dan keinginan jemaat bagi kehidupan rohani mereka?
Pertumbuhan Gereja sejak permulaan munculnya telah menjadi kata “ajaib’ dalam lingkup kehidupan gereja hingga pada hari ini. Para pemimpin gereja berupaya untuk  mencari metode-metode dengan harapan akan mampu menarik sebanyak mungkin orang masuk kedalam gereja. Tidak jarang juga metode yang sebenarnya sudah ada kembali dipopulerkan dengan beberapa penambahan variasi disana-sini yang pada akhirnya  berhasil dibeberapa tempat.[1] Sangat menyedihkan bahwa ternyata didalam upaya untuk mendapatkan pertumbuhan yang dimaksud, tidak jarang gereja mengadopsi segala macam metode yang ditawarkan dengan mengesampingkan unsur yang bersifat fundamental terutama doktrin yang benar yang seharusnya dipegang. Sepertinya unsur yang sangat vital ini tidak lagi menjadi pertimbangan penting asalkan metode-metode tersebut memberi kemungkinan bagi pertumbuhan gereja terutama dari segi kuantitas yang bersifat cepat dan instan. Tidak jarang gereja-gereja yang seharusnya memiliki doktrin yang solid –termasuk dalam hal ini mainline churches – entah dengan alasan “sukarela” atau “terpaksa” jajan – menerapkan metode-metode pertumbuhan gereja tanpa ada penyelidikan terlebih dahulu dengan harapan bahwa keberhasilan yang diraih oleh gereja-gereja tertentu yang telah menerapkannya dapat pula terjadi didalam gerejanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya bisa saja bervariasi. Paling sederhana adalah disamping ‘kerinduan’ menjangkau jiwa bagi Tuhan juga keinginan untuk ‘memperbesar’ gereja dari gereja berskala kecil menjadi gereja berskala besar (mega-church).

Tetapi ada factor lain yang justru lebih penting dan dominan; yakni, lemahnya penggembalaan gereja dalam segi pengawasan doktrin, kurangnya kepekaan serta kemampuan menganalisis kelemahan-kelemahan fatal dari metode yang merupakan produk dari gerakan Pertumbuhan  Gereja, adanya tekanan dari dalam terutama berkaitan dengan kondisi gereja yang stagnan dan kecenderungan makin menurunnya kuantitas jemaat yang tentunya mempengaruhi daya dan kemampuan gereja yang memunculkan tekanan psikologis bagi para pemimpin terutama mereka yang menjadi gembala sidang gereja. Tidak adanya integritas didalam wawasan berteologia menjadi factor utama lainnya yang membuka pintu bagi sikap kompromi yang pada akhirnya justru menimbulkan  permasalahan tersendiri. Tidak dapat disangkali bahwa banyak pemimpin gereja, terutama para Gembala Sidang gereja pada akhirnya justru menjadi promotor bagi Gerakan Pertumbuhan Gereja. Tidak mengherankan jika dewasa ini terjadi “perkawinan campur” antara kelompok-kelompok mainline churches dengan kelompok-kelompok Kharismatik yang notabene merupakan kelompok-kelompok yang paling getol didalam mempromosikan gerakan Pertumbuhan Gereja dengan berbagai variasinya pada hari ini.[2]

Memahami Akar dan Teologi Pertumbuhan Gereja

Harus diingat bahwa setiap gerakan tidak terlepas dari akar gerakan itu berasal dan teologi yang melatar-belakanginya pada masa lalu. Berikut beberapa gerakan penting yang muncul dalam kekristenan di Amerika yang kemudian memberi pengaruh yang sangat besar dalam gerakan Pertumbuhan Gereja pada hari ini (termasuk di Indonesia) yang harus diketahui dan diingat oleh setiap pemimpin gereja terutama para gembala sidang gereja didalam upaya-upaya untuk mencapai pertumbuhan bagi gereja mereka pada hari ini.
1. Gerakan Kebangunan Injili (Evangelical Revivalism)

Gerakan Pertumbuhan Gereja modern tetap tidak dapat dipisahkan dari sejarah kebangkitan gerakan rohani yang pada awalnya muncul dari kalangan Injili. Apa yang disebut dengan Kebangkitan Besar yang dimulai di Amerika Serikat dalam kurun waktu c. 250 tahun (1730an hingga 1980an) telah membuka pintu ke arah gerakan Pertumbuhan Gereja modern yang puncaknya adalah munculnya trend “mega-church” sebagai dampak dari Kebangkitan Besar Keempat. Tidak dapat disangkali bahwa Kebangkitan-Kebangkitan Besar yang melanda Amerika telah mendorong apa yang disebut sebagai ‘pelipatgandaan gereja’ yang pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan “mega-church” itu. Berikut alurnya secara singkat:

1.      First Great Awakening / Revival (1730-1760) dimana para tokoh utamanya seperti George Whitelfield, Jonathan Edwards adalah hamba-hamba Tuhan yang masih menekankan Calvinism/Reformed Theology. Inilah kebangkitan kaum Injili yang pertama.

2.      Second Great Awakening (1790-1840) yang ditandai dengan peralihan konsep kebangunan rohani dari Calvinism ke konsep Arminianism. Salah seorang tokoh terpenting yang paling berpengaruh adalah Charles Grandison Finney.[3] Ia mengajarkan bahwa pertobatan merupakan tindakan dari kehendak manusia.  Orang-orang yang tidak percaya perlu dididik, dimotivasi, dan digerakkan melalui emosi mereka untuk memilih kehidupan yang kudus. Pengaruhnya masih tetap terasa dan terlihat sampai pada hari ini didalam gereja-gereja terutama gereja-gereja Kharismatik.[4]

3.      Third Great Awakening (1850an-1900an) lahirnya Social Gospel Movement, Holiness Movement dan Pentacostalism. Pengaruh Charles G. Finney terlihat dalam teologia Arminian yang diusungnya dan konsep-konsep social yang dipopulerkannya dan mewarnai gerakan-gerakan yang lahir pada masa itu.

4.      Fourth Great Awakening (1960-1980) lahirnya Jesus Only Movement, Neo-Pentacostalism/Charismatic Movement dengan penekanan pada sign and wonders, glosolalia, kesembuhan ilahi dan nubuatan-nubuatan baru atau wahyu-wahyu baru. Fourth Great Awakening ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan ketiga Kebangkitan Besar sebelumnya, yakni dimulainya trend “mega-church.” Mega-church sebagaimana dikatakan menarik perhatian yang luarbiasa oleh karena alasan yang sangat sederhana  bahwa 10 gereja dengan 2000 anggota lebih ‘kelihatan’ daripada 100 gereja dengan 200 anggota.[5]

Perlu diingat bahwa sejak Second Great Awakening (Kebangkitan Besar Kedua) hingga Fourth Great Awakening (Kebangkitan Besar Keempat), pengaruh Charles G. Finney telah membawa dampak yang sangat besar didalam gereja-gereja Injili hingga hari ini. Ia telah menjelma menjadi penyebab dari beberapa tantangan dan permasalahan terbesar didalam gereja-gereja Injili pada hari ini, seperti problem seputar gerakan Pertumbuhan Gereja, problem dampak Kharismatik, dan politisasi kekristenan. Maka sangatlah tepat bila Dr. Michael S. Horton menyebutnya sebagai “orang yang paling bertanggungjawab terhadap penyimpangan doktrin yang melanda kekristenan pada hari ini.”[6] Konsep-konsep radikalnya agar hamba-hamba Tuhan menemukan Injil yang “bekerja”[7] memberi dampak, langsung maupun tidak langsung telah menjadi motif utama dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja masa kini. Maka tidaklah mengherankan apabila konsep Pertumbuhan Gereja memunculkan pemahaman bahwa teologi terletak didalam Pertumbuhan Gereja dan bukan pada pengakuan dasar dari apa yang gereja percayai. Atau dengan kata lain, Pertumbuhan Gereja adalah kunci untuk memahami (bahkan untuk menerima) prinsip-prinsip pengakuan dasar dari gereja. Tentu saja ini tidak benar!

2. Gerakan Kaum Injili Baru (Neo-Evangelicalism)[8]

Gerakan ini pada awalnya muncul pada tahun 1942 dengan berdirinya the National Association of Evangelicals (NAE) dan berusaha menjangkau kebudayaan kepada Injil. Kehadiran lembaga ini adalah untuk mengimbangi kelompok Fundamentalis yang telah terlebih dahulu membentuk American Council of Christian Churches (ACC).  American Council of Christian Churches  sendiri merupakan lembaga yang dibentuk sebagai reaksi atas terbentuknya Federal Council of Christian Churches (FCC) yang merupakan wadah organisasi gereja-gereja yang menganut teologi Liberal yang sedang berupaya untuk mempengaruhi kekristenan di Amerika Serikat.  National Association of Evangelicals (NAE) yang mengusung teologia Injili menjadi jawaban alternatif bagi mereka yang menolak teologi liberal, namun juga tidak setuju dengan sikap dan cara-cara yang diperagakan oleh kaum Fundamentalis.  Kaum Injili menjadi kuat setelah pada tahun 1947 berdiri Fuller Theological Seminary (FTS) di Pasadena-California dan makin ditegaskan melalui penerbitan majalah kaum Injili, Christianity Today pada tahun 1956.  Kaum Injili baru ini merambah ke seluruh dunia melalui lembaga-lembaga mitra gereja (parachurch) yang mereka miliki, yaitu Youth for Christ (dengan tokohnya yang terkenal, pendeta Billy Graham) dan Campus Crusades for Christ yang fokus pelayanannya terutama untuk menjangkau para pemuda dan mahasiswa. Dapat juga dikatakan bahwa peran Fuller Theological Seminary (FTS) sangat penting didalam mempromosikan gerakan Injili ke seluruh dunia dan sekaligus menjadi tempat pelatihan bagi para gembala gereja dalam kelompok Evangelical. Donald McGavran, yang dianggap sebagai pendiri Gerakan Pertumbuhan Gereja modern melalui Sekolah Misi Dunia (School of World Mission) dan Institut Pertumbuhan Gereja (Institute of Church Growth) yang dipimpinnya berhasil mempromosikan pentingnya gerakan Pertumbuhan Gereja untuk menjangkau orang kepada Kristus dan melipatgandakan gereja.

Namun sayangnya, dua puluh tahun kemudian (1960an) gerakan yang semula bercita-cita untuk mempengaruhi kebudayaan kepada Kristus justru berubah arah dengan memunculkan sikap berteologia yang baru.[9] Beberapa penyebabnya adalah sikap yang cenderung mudah mengubah sikap terhadap Alkitab,[10] kecenderungan pada positivisme,[11] kecenderungan pada kebebasan yang tanpa kontrol,[12] kecenderungan pada keterbukaan tanpa kontrol.[13] Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kecenderungan-kecenderungan ini telah membawa dampak yang buruk bagi Pertumbuhan Gereja yang sehat. Misalnya C. Peter Wagner yang merupakan orang kedua yang menjadi tokoh gerakan Pertumbuhan Gereja modern -menggantikan Donald McGavran- kemudian beralih kedalam ‘gerakan rasuli dan Kharismatik.’ Prinsip-prinsip dan pandangan-pandangannya mengenai Pertumbuhan Gereja telah turut menjembatani “pertemuan” antara mainline churches dengan gerakan-gerakan dalam arus Kharismatik. Neo-Evangelical secara langsung maupun tidak telah mendorong lahirnya beberapa gereja ‘gaya baru’ melalui berbagai pengembangan metode dalam arus gerakan Pertumbuhan Gereja pada kurun dasawarsa 1980an dan 1990an. Beberapa diantaranya yang paling terkemuka adalah: The Seven-Day-a-Week-Church (Gereja Tujuh Hari Seminggu) oleh Lyle Schaller, The MetaChurch (Gereja Meta / Gereja Sel) oleh Carl George,  The User-Friendly Church (Gereja yang Mudah Digunakan) oleh George Barna, A Church for the Twenty-first Century (Gereja untuk Abad Keduapuluh Satu) oleh Leith Anderson, The Seeker Sensitive Church (Gereja Yang Peka Terhadap Pencari) oleh Bill Hybels, The Church for the Unchurched (Gereja bagi yang Belum Bergereja) oleh George Hunter, The Purpose Driven Church (Gereja yang Digerakkan oleh Tujuan) oleh Rick Warren, Natural Church Development (Gereja Yang Berkembang Secara Alamiah) oleh Christian A. Schwarz, dan The Aqua Church (Gereja Aqua) oleh Len Sweet. Tidak terlalu berlebihan bila mengatakan bahwa gereja-gereja “gaya baru“ yang merupakan hasil dari pengembangan berbagai metode Pertumbuhan Gereja modern ini adalah gereja yang “digerakkan oleh pasar.”[14]

Banyak teolog/gembala dalam pengaruh neo-Evangelical mereduksi kebenaran mengenai dosa manusia, penebusan oleh darah Kristus, dan ajaran mengenai penghukuman kekal[15] oleh karena dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan atau zaman dan kondisi manusia serta  mengedepankan humanisme (positivism dan keterbukaan), luapan emosi/perasaan, unsur-unsur psikologi, musik kontemporer, karunia-karunia rohani tertentu, wahyu-wahyu baru, dan sebagainya yang pada hakekatnya bertujuan untuk membuat manusia menjadi ‘nyaman’ dengan dirinya sendiri.
3. Gerakan Hujan Akhir (Latter Rain Movement)

Gerakan ini mulai lahir pada tahun 1948 di North Battleford, Saskatchewan, Kanada diantara gereja-gereja the Sharon Brethren Pentecostal dan mempengaruhi kelompok-kelompok Pentakosta dan Injili. Teologi Kharismatik berkaitan dengan charismata, berkata-kata dan menyanyi dalam bahasa lidah/glosolalia, praktek penumpangan tangan bagi “baptisan dalam Roh” telah menjadi unsur-unsur kesesatan yang memasuki gereja. Munculnya gerakan Jesus Only[16] yang mempopulerkan “signs and wonder” juga telah menambah masuknya unsur-unsur heretic-okultism kedalam gerakan Hujan Akhir (the Latter Rain Movement) ini.

Meskipun Gerakan Hujan Akhir (The Latter Rain Movement) sendiri telah dinyatakan oleh The Pentecostal Assemblies of God[17] sebagai bidat pada tahun 1959, namun pengajarannya terus hidup melalui seorang yang bernama Demos Shakarian dan Full Gospel Businessmen’s Fellowships yang dipimpinnya dan memunculkan The Latter Rain Movement ini dengan nama baru pada tahun 1960an sebagai The Charismatic Movement[18] yang segera meraih simpati banyak orang termasuk tokoh gerakan Pertumbuhan Gereja modern seperti C. Peter Wagner. Berbeda dengan Pentakosta lama (yang dianggap sebagai “gerakan hujan awal”); maka, Latter Rain Movement ini yang juga disebut sebagai Neo-Pentacostalism atau Kharismatik ini mempromosikan pemulihan dari seluruh karunia rohani dan berupaya ‘memulihkan’ otoritas perjanjian baru melalui apa yang mereka sebut sebagai para rasul dan para nabi modern. C. Peter Wagner, yang merupakan penerus Donald McGavran dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja beralih ke dalam gerakan ini dan bahkan menyebut dirinya sebagai ‘rasul’ bersama-sama dengan John Wimber (Toronto Vineyard Fellowship)[19] mempromosikan “signs and wonders” dalam gerakan Kharismatik. Wagner menjadi salah satu pemimpin utama dalam gerakan ini. Maka tidaklah mengherankan dalam gerakan Pertumbuhan Gereja pasca Donald McGavran sampai pada hari ini, dipengaruhi dengan sangat kuat oleh unsur-unsur Kharismatik, dimana karunia-karunia rohani tertentu dijadikan sebagai daya tarik untuk menarik banyak orang.[20]

Salah satu dampak lain dari Latter Rain Movement ini dalam ibadah -yang juga sangat berpengaruh kedalam mainline churches- hari ini adalah pengaruh dari pengajaran pemulihan “Davidic Tabernacle Worship.” Dimana ibadah dimulai dengan membangkitkan emosi jemaat, nyanyian yang terus-menerus diulang-ulang untuk membawa jemaat masuk kehadirat Allah. Ini menjadi format ibadah Kharismatik yang pada hari ini juga telah masuk kedalam gereja-gereja dalam kelompok mainline churches. Ciri khas lainnya yang bisa dilihat dari gerakan ini adalah promosi karunia-karunia rohani terutama penglihatan, kesembuhan ilahi, wahyu-wahyu baru, kesuksesan, blessing, pemulihan (diri, keluarga, usaha, financial, kesehatan). Selain itu pengerahan massa (terutama kaum muda) beserta konser-konser musik dan lagu-lagu kontemporer merupakan andalan mereka didalam meraih “kesuksesan ibadah”[21] yang biasanya mereka sebut sebagai ibadah yang inspiratif dan penuh jamahan Roh Kudus. Hal-hal yang bersifat artificial inilah yang seringkali dianggap sebagai sebuah ‘pertumbuhan’ !

4. Post-Modernism

Post-Modernism menolak  peran dan keabsahan dari kebenaran yang absolut. Para teolog Post-Modernism menyarankan hermeneutika Alkitab yang menolak kebenaran objektif yang diberitakan oleh Alkitab. Mereka beranggapan bahwa kebenaran yang sesungguhnya datang dari perspektif para pembaca dan bukan hanya dari dalam Alkitab sendiri dan menganggap bahwa kebenaran dengan sendirinya akan terjadi ketika itu sesuai dengan harapan dan pengalaman mereka.
Ciri khas pengaruhnya dalam gereja pada hari ini adalah sikap yang “ramah dan bersahabat’ terhadap ajaran pokok kekristenan dengan prinsip bahwa kebenaran harus dibicarakan tanpa menentang kesalahan / dosa, atau mengajarkan doktrin tanpa perlu menimbulkan polemik. Jadi kebenaran yang sebenarnya bukan ada pada apa yang diajarkan Alkitab tetapi terletak pada apa yang dianggap atau dipikirkan oleh manusia sebagai  kebenaran. Post-Modernism mengusung semangat relativisme dengan mendengungkan motto “memutlakkan segala sesuatu adalah relatif.” Hasil yang muncul dari kerusakan berpikir ini adalah bahwa pada akhirnya didunia tidak ada satupun yang pasti sehingga sikap-sikap yang menghakimi, mengkritik atau member penilaian terhadap apa yang benar dan apa yang salah harus dibuang jauh-jauh. Maka tidaklah mengherankan bila para pemimpin gereja (terutama gembala sidangnya) yang terkontaminasi cara pandang seperti ini akhirnya menjadi pemimpin yang labil yang begitu mudah kompromi dalam mengadopsi segala macam pandangan dan berusaha –karena kuatir disebut memiliki sifat membeo- membentuk suatu format yang baru yang sebenarnya merupakan campuran dari berbagai macam model untuk menciptakan netralitas yang sebenarnya tidak lebih dari upaya untuk mencari aman.

Hal lainnya yang patut dicermati dalam Post-Modernism ini adalah prinsip anti-otoritas. Salah satu dampak ini dalam kehidupan bergereja didalam mainline churches adalah terjadinya pergeseran liturgi-liturgi tradisonal kepada gaya ibadah “mengalir.” Ibadah, musik, liturgi dalam gereja-jereja mainline dianggap kuno, kaku, mati, tidak memiliki roh, dan sebagainya. Kecenderungannya beralih kepada apa yang dianggap “baru” dan menjanjikan kepuasan dan kenikmatan ibadah yang sekaligus juga dianggap akan lebih bisa menarik orang untuk datang berbakti ke gereja. Kalau demikian maka gereja akan bertumbuh! Maka tidaklah mengherankan bila di ruang-ruang rapat majelis gereja atau di meja-meja pertemuan para hamba Tuhan hal ini menjadi agenda tersendiri dalam pembahasan terutama ketika memasuki sesi yang bersifat evaluatif terhadap kehidupan ibadah gerejawi mereka.

Post-Modernism juga telah turut andil dalam menciptakan kemunculan dari berbagai gerakan yang sebenarnya merupakan gerakan escape from reality melalui psikologi. Munculnya gerakan-gerakan seperti Pria Sejati/Real Man/Strong Man/Pria Maxima, Wanita Bijak dan sejenisnya merupakan korelasi wajar dari kondisi ini.[22]

Membentuk Wawasan Pertumbuhan Gereja Yang Sehat Sesuai Alkitab

Pertumbuhan Gereja sebenarnya merupakan istilah modern yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Alkitab khususnya Perjanjian Baru bagi perkembangan gereja mula-mula dalam lingkup gereja kerasulan (the Apostolic Church).[23] Kitab Kisah Para Rasul mencatat pertumbuhan keluar (ekstensif) dengan bertambahnya jumlah anggota, luas jangkauan pelayanan, membesarnya organisasi gereja, dan sebagainya. Berbarengan dengan pertumbuhan ekstensif tersebut, muncul pertumbuhan intesif yakni pertumbuhan kedalam yang bersifat konsolidatif dalam bentuk penataan, pemantapan, pembinaan, administratif, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa kedua bentuk pertumbuhan ini merupakan rekaman historis biblika mengenai sejarah awal Pertumbuhan Gereja.

1. Pertumbuhan Ekstensif

Pertumbuhan ekstensif didasari oleh Amanat Agung Kristus didalam Matius 28:18-20 dan Markus 16:15-16. Para rasul, diutus untuk pergi melaksanakan perintah ini. Patut diingat bahwa pertumbuhan ekstensif ini terjadi atas dasar kuat kuasa Roh Kudus yang diberikan kepada para murid untuk bersaksi (Kisah Para Rasul 1:8) atau dengan kata lain, Roh Kudus sendirilah yang memungkinkan para murid bersaksi. Melalui kesaksian merekalah, maka murid-murid baru bertambah di dalam himpunan para murid yang telah ada itu. Penting untuk diingat bahwa pertumbuhan ini mengikuti kerangka konsentris yang  dimulai dari pusat yakni Yerusalem lalu ke wilayah propinsi terdekat yakni Yudea, kemudian ke wilayah propinsi lain yakni Samaria (yang merupakan bangsa campuran), dan akhirnya keseluruh penjuru dunia.  Lukas melalui kitab Kisah Para Rasul menuturkan pertumbuhan ekstensif ini  dari segi pembentukan gereja-gereja. Mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, Siria (Damaskus) lalu ke Antiokhia yang menjadi tempat pertama sekali penyebutan ‘kristen’ digunakan bagi orang-orang percaya (lihat Kisah Para Rasul 11:26). Dari situ kemudian menyeberang ke pulau Siprus lalu ke Asia Kecil dan akhirnya Eropa.

Pertumbuhan ekstensif ini telah mengakibatkan pelipatgandaan jumlah para murid. Jumlah pertambahan ini ada yang kecil dan besar sesuai dengan perjumpaan yang terjadi tatkala kesaksian Injil diberitakan kepada mereka. Dalam Kisah Para Rasul 1:15 dikatakan ada 120 orang yang mula-mula menjadi anggota jemaat di Yerusalem. Dan pada hari Pentakosta jumlah mereka bertambah kira-kira 3000 orang (Kisah Para Rasul 2:41). Di Antiokhia, Alkitab mencatat bahwa melalui penyertaan Tuhan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 11:21). Pertambahan juga terus terjadi baik secara orang per orang (misalnya sida-sida dari Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8:38) maupun dalam bentuk kelompok kecil (perwira Kornelius dan keluarganya dalam Kisah Para Rasul 10:48).

Ada 2 hal penting yang perlu dicatat dan diingat dalam pertumbuhan ekstensif ini: pertama, pertumbuhan gereja terjadi oleh karena Pemberitaan Injil dari para rasul dan para murid lainnya. Mula-mula para Rasul (kaum rohaniwan) menjadi pelopor  dalam memberitakan kesaksian Injil. Kemudian para murid lainnya (orang-orang percaya / jemaat) ikut terlibat melaksanakan tugas ini. Jadi kedua unsur ini (para rasul dan para murid / jemaat) merupakan dua gerak mitra sinergis yang berjalan bersama, saling mengisi dan saling mendukung. Ini menunjukkan bahwa Pertumbuhan Gereja adalah tanggungjawab bersama umat Allah. Kedua, Pertumbuhan Gereja menyangkut proses lintas bangsa dan budaya. Mula-mula Injil hanya diberitakan secara eksklusif kepada kalangan bangsa Yahudi, namun kemudian diberitakan juga kepada bangsa-bangsa lain. Mula-mula bangsa Samaria yang merupakan bangsa campuran Yahudi dengan bangsa-bangsa lain,[24] kemudian orang-orang Yunani. Lebih spesifik lagi, guna menjangkau bangsa-bangsa lain Paulus dan Barnabas diutus (Kisah Para Rasul 9:15; 11). Dengan kata lain Pertumbuhan Gereja memiliki dimensi penting didalam menciptakan keutuhan Tubuh Kristus secara inklusif dan bukan eksklusif.

2. Pertumbuhan Intensif

Pertumbuhan Intensif (pertumbuhan kedalam) dalam sejarah Pertumbuhan Gereja khususnya dalam Perjanjian Baru terlihat dalam beberapa bentuk. Misalnya: pengaturan organisasi dan administrati gereja dengan diangkatnya para pejabat gereja untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu (lihat Kisah Para Rasul 7:1-7). Kemudian timbulnya upaya pemantapan dibidang pengajaran/doktrin. Misalnya: bagaimana memahami Hukum Taurat dan ketentuan-ketentuan adat istiadat Yahudi dalam persekutuan Kristen antar bangsa (yang menjadi pokok penting dalam Sidang Yerusalem di Kisah Para Rasul 15:1-21). Selain itu dilakukan upaya pengaturan pembagian kerja dalam skala kecil hingga skala besar, program konsolidasi secara umum dan pembinaan serta kaderisasi kepemimpinan gerejawi, dan sebagainya. Beberapa dari upaya pengaturan yang sangat penting terlihat dengan sangat jelas dalam hal-hal berikut ini:

a.      Kepemimpinan yang memperlengkapi segenap anggota jemaat agar mampu melayani demi pembangunan tubuh Kristus untuk menuju kedewasaan penuh dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:12-13).

b.      Kepemimpinan yang membawa jemaat yang utuh kepada kepemimpinan Kepala Gereja yakni Kristus untuk menerima pertumbuhan dan membangun diri didalam kasih (Efesus 4:15-16).

c.       Kepemimpinan yang setia terhadap pengajaran yang sehat (cf.1 Timotius 4:6; 2 Timotius 4:3)

Menyadari “Bahaya” Dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja Modern

Dari perpektif sejarah gereja, Pertumbuhan Gereja memiliki dua dampak yang tetap harus menjadi pertimbangan yang tidak boleh diabaikan dalam euforia Pertumbuhan Gereja modern pada hari ini. Pertama, bahwa Pertumbuhan Gereja bisa memiliki dampak yang “negatif.” Sejarah gereja telah membuktikan bahwa Pertumbuhan Gereja juga terjadi diluar dari metode yang manusia bisa pikirkan, yakni gerakan pertobatan massal yang tiba-tiba. Mula-mula gereja mengalami penganiayaan mulai dari abad 1 Masehi hingga awal abad 4 Masehi. Tetapi ditengah penganiayaan ini gereja justru bertumbuh kuat. Namun ketika kemudian Kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan Edict Milan[25] pada tahun 313 Masehi, maka orang Kristen bebas dari penganiayaan yang hebat itu. Terlebih setelah kaisar ini memberi dukungan bagi gereja dan memaklumkan kekristenan sebagai agama resmi kekaisarannya; maka, laju Pertumbuhan Gereja menjadi sangat pesat. Sesuatu yang bila ditinjau dari segi kuantitas jauh melampaui Pertumbuhan Gereja pada zaman Perjanjian Baru. Terjadi “pertobatan” massal yang luarbiasa namun juga kemerosotan mutu kehidupan rohani yang luarbiasa sebagai akibat banyak orang yang memberikan dirinya dibaptis atas dasar berbagai-bagai alasan dan bukan karena sungguh-sungguh percaya dan bertobat.[26]

Hal yang sama juga dapat kita lihat pasca Reformasi gereja pada abad 16 dan seterusnya.  Dimana suatu organisasi gereja bisa timbul atau tenggelam mengikuti keputusan penguasa diwilayah tertentu sebagai imbas dari pergeseran-pergeseran social dan politik. Konsep bahwa penguasa wilayah menentukan agama yang berlaku diwilayahnya (Cuius regio, aeius religio) telah menempatkan pemahaman Pertumbuhan Gereja pada sisi yang sangat negatif.  Barangkali kondisi yang sama tidak kita alami pada hari ini kecuali kenyataan menyaksikan bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi sangat menurun minatnya terhadap kehidupan gereja dan cenderung tidak mau tahu dengan gereja.[27]

Kedua, Pertumbuhan Gereja memiliki dampak  “positif.” Pelayanan misi dan pekabaran Injil melalui zending/lembaga misi telah membawa dampak yang luarbiasa bagi Pertumbuhan Gereja. Di beberapa tempat gereja bertumbuh subur meskipun dibeberapa tempat lainnya tidak terlalu bertumbuh subur. Namun bagaimanapun dampak positif melalui kehadiran gereja-gereja baru telah memberi sumbangsih yang nyata bagi perkembangan kekristenan ditengah dunia. Barangkali tidak terlalu berlebihan jika Peter Wagner –terlepas dari hal-hal bersifat fundamental yang perlu dikritisi darinya berkaitan dengan konsepnya mengenai Pertumbuhan Gereja setelah ia beralih kedalam gerakan “rasuli dan kharismatik”- mengatakan bahwa tujuan Pertumbuhan Gereja adalah untuk “lebih mengefektifkan penyebaran Injil dan melipatgandakan gereja-gereja di daerah baru.”[28] Dari Barat Injil dibawa menuju Asia, Afrika dan belahan dunia lainnya sehingga menimbulkan tumbuhnya gereja-gereja baik yang menunjukkan pertumbuhan positif yang mutlak maupun relatif. Bahkan di Indonesia, kita bisa melihat pada hari ini bagaimana gereja-gereja terus mengalami pertumbuhan secara luarbiasa, karena berbagai sebab yang kadangkala tidak terduga.

Munculnya perspektif baru didalam upaya penginjilan/misi pada tahun 1955, telah makin memperluas wawasan Pertumbuhan Gereja. Di tahun itu, Donald McGavran (1897-1990) yang dijuluki sebagai Bapa Gerakan Pertumbuhan Gereja Modern menulis sebuah buku berjudul The Bridges of God, yang merupakan uraian mengenai 2 pertanyaan mendasar yang sangat penting yang akan menjadi dasar bagi berbagai model pertumbuhan gereja dikemudian hari: 1) Mengapa gereja bertumbuh didalam situasi-situasi yang sama, dan tidak dalam situasi-situasi lainnya?  2) Hal-hal apa yang dapat dipelajari dari Alkitab dan pengalaman kontemporer untuk membantu gereja-gereja bertumbuh?[29] Asumsi dasar dari buku tersebut adalah “Allah menghendaki gereja-Nya bertumbuh.”[30] Maka ia menegaskan  bahwa “Misi Kristen adalah membawa orang bertobat dari dosa-dosa mereka, menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, menjadi bagian (anggota) tubuh-Nya, melakukan perintah-Nya, pergi menyebarkan Kabar Baik dan melipatgandakan gereja.”[31]

Prinsipnya yang terutama[32] bagi Pertumbuhan Gereja dapat disimpulkan kedalam tiga penyataan: pertama, Allah menghendaki agar anak-anak-Nya yang terhilang ditemukan dan dirangkul. Kedua, menemukan fakta tentang Pertumbuhan Gereja melalui riset yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai sebab-sebab dan kendala-kendala Pertumbuhan Gereja, dan yang terakhir adalah mengembangkan rencana-rencana khusus berdasarkan fakta yang ditemukan. Namun dalam perkembangan selanjutnya prinsip-prinsip ini dikaburkan dengan konsep yang disebut dengan Memasarkan Gereja (Marketing the Church) yang pada akhirnya mengakibatkan Pertumbuhan Gereja hanya sebagai metodologi untuk memasarkan gereja[33] dengan tujuan yang sering tidak lebih dari suatu upaya untuk memperbesar gereja dan menghasilkan keuntungan-keuntungan dari perkembangannya.

Patut diingat dan diperhatikan, bahwa ia sendiri sejak awal menyadari bahwa istilah Pertumbuhan Gereja (Church Growth) ini dapat menimbulkan dampak yang bisa memecah belah gereja. Dalam surat yang dikirimkannya kepada isterinya, Mary McGavran tanggal 8 September 1961, ia mengatakan bahwa “menekankan pertumbuhan gereja berarti memecah belah gereja.”[34] Apa yang ia katakan ini kemudian benar-benar terbukti. Pemahaman yang kompleks dan perbedaan-perbedaan yang tajam dari berbagai model Pertumbuhan Gereja telah turut ‘meramaikan’ pergumulan pastoral gereja pada hari ini.[35] Penerusnya, C. Peter Wagner ternyata melangkah lebih “maju” dari pendahulunya. Ia sangat tertarik dalam meneliti paradigma-paradigma Pertumbuhan Gereja tanpa berpatokan pada aturan-aturan Alkitab. Terlebih setelah ia beralih kedalam gerakan “rasuli dan kharismatik,” dimana ia menyebut dirinya sebagai “Apostle (rasul) C. Peter Wagner” dan bersama dengan John Wimber (Toronto Vineyard Church)[36] mempromosikan “signs and wonders” dalam gerakan Kharismatik. Konsep-konsep Pertumbuhan Gereja yang ditawarkannya telah membuka pintu bagi masuknya prinsip-prinsip humanism, bisnis,  dan pelbagai ketimpangan pengajaran yang keluar dari jalur Alkitab demi tujuan pelipat-gandaan gereja yang dimaksudkannya. Hal ini mengakibatkan 2 hal: 1) Alkitab digunakan tidak lebih sebagai tempat penampung dimana bagian-bagiannya dipilih keluar dari konteksnya untuk mendukung pemikiran mengenai strategi Pertumbuhan Gereja. 2) meningkatnya konsentrasi terhadap keinginan untuk meraih jumlah melebihi tugas pemuridan. Hal ini didorong oleh pemahaman (yang tentunya tidak tepat) bahwa gereja yang besar adalah gereja yang bagus, diberkati dan diperkenan Tuhan.

Sepertinya, setiap pemimpin gereja terutama para gembala gereja patut merenungkan apa yang McGavran sendiri katakan pada akhirnya, setahun sebelum kematiannya pada 1990 bahwa ‘ia telah melakukan kesalahan.‘[37] Perasaan bersalah yang tentunya lebih disebabkan oleh karena dampak negatif dari kesalahan pengaplikasian lapangan terhadap gagasan-gagasannya mengenai Pertumbuhan Gereja yang pada akhirnya telah memunculkan berbagai model Pertumbuhan Gereja yang salah kaprah. Perhatikan laporan Asosiasi Amerika untuk Pertumbuhan Gereja yang disampaikan ketuanya, John Vaughn, yang mengidentifikasi kecenderungan gerakan Pertumbuhan Gereja  pada hari ini.  Diantaranya adalah:[38]

1.      telah meninggalkan prinsip-prinsip dasar dari Donald McGavran.

2.      penerapan pragmatis berlebihan dengan mengabaikan Kitab Suci menghasilkan suatu pelayanan yang menghalalkan segala cara untuk tujuan menumbuhkan gereja.

3.      menetapkan pelayanan dari sisi ‘kebutuhan yang dirasakan’ (felt needs) orang.

4.      secara sistematis menggantikan khotbah dan ajaran Alkitab dengan hal-hal klasifikasi hadirin (audience ratings), pertumbuhan statistik, keuntungan-keuntungan financial dan lainnya.

5.      terfokus pada hal “mengkandangkan” orang yang sudah bertobat kepada kekristenan dan bukannya menjangkau orang yang belum bertobat.

6.      ketidakmampuan untuk membedakan antara pertumbuhan gereja-gereja ortodoks dalam segi jumlah dengan gereja-gereja yang mengajarkan ajaran sesat (palsu).

7.      mengukur keberhasilan dari besar kecilnya gereja.

2 “Perangkap” Yang Harus Diwaspadai Para Gembala dan Para Pemimpin Gereja

Harus diakui bahwa gerakan Pertumbuhan Gereja telah memberikan banyak sumbangsih bagi kekristenan selama bertahun-tahun dengan berlipatgandanya gereja dan memperbesar kemungkinan-kemungkinan positif yang didapatkan oleh gereja melaluinya, terutama dalam kaitan yang bersifat kuantitatif. Hal ini telah membuka wawasan dan menantang berbagai cara pandang dan pendekatan-pendekatan pertumbuhan gereja dari banyak pemimpin gereja, terutama mereka yang menjadi gembala sidang didalam gerejanya masing-masing. Ada kerinduan besar untuk menyaksikan gereja yang semakin lebih baik, lebih terarah, berdaya guna dan makin efektif terutama didalam pelaksanaan penginjilan dan misi yang dilakukan didalam gereja-gereja lokal. Tentunya ini merupakan hal yang baik dan patut untuk terus diupayakan sebagai bentuk respon yang bertanggungjawab terhadap panggilan-Nya. Namun bagaimanapun, sikap kritis dari para pemimpin gereja – dalam hal ini para gembala sidang gereja – diperlukan untuk mewaspadai akibat negatif yang fatal dalam pemikiran-pemikiran pertumbuhan gereja yang justru pada akhirnya menjadi boomerang bagi diri sendiri dan juga bagi gereja yang digembalakan. Berikut 2 “perangkap” yang harus diwaspadai:

1. Daya Tarik Jumlah

Gerakan Pertumbuhan Gereja selalu menawarkan apa yang disebut dengan ‘pelipatgandaan jumlah’ orang kedalam gereja. Donald McGavran yang disebut sebagai Bapak Gerakan Pertumbuhan Gereja Modern, didalam bukunya “Understanding Church Growth” menekankan apa yang ia sebut sebagai “pertumbuhan jumlah” sebagai satu-satunya kriteria yang sah bagi Pertumbuhan Gereja.[39] Maka tidaklah mengherankan bila ia sangat meyakini bahwa inti pemikiran Pertumbuhan Gereja adalah meneliti faktor-faktor yang dapat menolong atau menghambat pertambahan jumlah. Jadi, pada dasarnya konsep dasar Pertumbuhan Gereja adalah perkara jumlah atau kuantitas.  Untuk mendukung hal ini maka selain Kitab Kisah Para Rasul, kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru sering menjadi rujukan bagi gerakan Pertumbuhan Gereja untuk menegaskan mengenai pertumbuhan secara kuantitas.[40] Perangkap ‘jumlah’ ini dapat mengaburkan kemurnian dasar dari efektifitas Injil yang seharusnya dipegang dalam pelayanan misi dan penginjilan. Metode dan berbagai model yang ditawarkan melalui gerakan Pertumbuhan Gereja pada akhirnya menjadi tidak lebih dari suatu upaya manusia untuk menambah sebanyak mungkin jumlah orang kedalam gereja dan bukan pada tujuan vitalnya yakni seseorang secara murni dengan kuasa anugerah Tuhan melalui pekerjaan Roh Kudus yang melahirbarukan seseorang kedalam gereja. Bahkan terkadang para pemimpin karena berorientasi pada jumlah pada akhirnya lebih memilih untuk mengorbankan hal-hal yang sebenarnya harus mereka pertahankan demi meraih sebanyak mungkin orang kedalam gereja. Dalam hal yang berkaitan dengan ibadah misalnya, Rick Warren berkata, “Saya mengaku bahwa kami kehilangan ratusan anggota potensial karena gaya musik yang kami gunakan di Saddleback, sebaliknya kami menarik ribuan orang lagi karena musik tersebut “[41]

Bila ‘jumlah’ menjadi ukuran bagi sebuah keberhasilan dan kebanggaan dalam pelayanan dan mengabaikan unsur kualitatif yang justru seharusnya menjadi prioritas utama; maka, sesungguhnya pelayanan telah mengalami kegagalan. Segala usaha untuk mencapainya meskipun kelihatan berhasil namun sebenarnya tidaklah lebih dari sebuah usaha mendirikan bangunan yang besar dan megah tanpa fondasi yang kuat. Erich Fromm memberi peringatan yang penting untuk kita ingat: “Our age has found a substitute for God – the impersonal calculation. This new god has turned into an idol to whom all may be sacrificed. A new concept of the sacred and unquestionable is arising: that of calculability, probability, factuality.”[42] Lagi pula kita harus ingat bahwa pertambahan ‘jumlah’ bukanlah segala-galanya bagi sebuah Pertumbuhan Gereja yang sesungguhnya. Prinsip Alkitab jelas dalam hal ini, bahwa pertambahan jumlah merupakan akibat yang bersifat umum yang ditunjukkan oleh karena adanya kualitas dan bukan sebaliknya.  Peristiwa seperti dalam Kisah Rara Rasul yang menunjukkan adanya pertambahan jumlah harus dipahami sebagai sebuah peristiwa untuk merayakan  kualitas hidup kekristenan mula-mula dan bukan sebagai sebuah alasan untuk menjadikannya sebagai bahan olokan untuk menilai kekeristenan hari ini.[43]

Agaknya kesimpulan dari George W. Peters ketika ia memberi analisa mengenai pertambahan dari individu-individu kedalam ‘gereja’ yang dihasilkan melalui gerakan-gerakan bersifat massal  dalam sejarah perlu dicermati dan dijadikan sebagai peringatan. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya kondisi-kondisi yang demikian pada akhirnya tidaklah lebih dari sebuah ‘kerajaan kristen yang diciptakan dan bukan kekristenan yang sejati.’[44]

2. Daya Tarik Kesuksesan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesuksesan sebuah penggembalaan lebih sering diukur karena jumlah yang besar dari keanggotaan gereja, makin besarnya gereja beserta hal-hal yang bersifat material yang menyertainya, dan bertambahnya pelayanan-pelayanan gereja. Akan tetapi kita harus ingat bahwa Perjanjian Baru juga telah memberikan kepada kita gambaran mengenai gereja yang sukses di dalam kitab Yakobus, kitab-kitab Petrus, dan kitab Wahyu. Gereja-gereja tersebut kelihatannya jauh dari kesuksesan sebagaimana dipahami oleh orang kebanyakan. Justru gereja mengalami penderitaan. Namun gereja tetap setia bukan karena penginjilan yang berhasil, melainkan karena tetap memelihara diri dan penuh pengharapan ditengah perjuangan hidup dan mati ditengah dunia yang gelap ini.

Barangkali masalah yang besar berkaitan dengan istilah “sukses” dalam pelayanan pada hari ini sesungguhnya bukanlah dalam pengertian biblika atau teologia tetapi sebenarnya dalam pengertian yang bersifat psikologis[45] dimana kepuasaan pada rasio dan perasaan akan pencapaian tertentu bagi Pertumbuhan Gereja memberi pengaruh pada kepercayaan diri. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa untuk mengejar kesuksesan tersebut gereja berlomba-lomba untuk menciptakan atmosfir dengan memberi kesan tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk beribadah melainkan juga menjadi tempat yang menyediakan seluruh kebutuhan jasmani setiap orang. Tentu saja ini kurang tepat.[46] Ini mungkin bisa efektif dalam memasarkan sebuah produk didalam dunia bisnis, namun menjadi pola yang merusak apabila diterapkan didalam gereja. Ada perbedaan prinsip yang sangat besar antara strategi pasar dengan strategi Allah bagi Pertumbuhan Gereja. Strategi pasar berjalan dibawah prinsip “pelanggan adalah raja”[47] namun dalam strategi Allah prinsipnya adalah “Tuhan dan firman-Nya  pusat.” Kita patut merenungkan apa yang dikatakan oleh Elmer Towns bahwa, “Firman Tuhan adalah ukuran mutlak untuk iman dan perbuatan, dan prinsip pertumbuhan gereja apapun yang bertentangan dengan Kitab Suci, walaupun ia menghasilkan pertumbuhan dalam jumlah, bukanlah prinsip pertumbuhan gereja yang Alkitabiah.”[48]

Perlu diingat bahwa mentalitas bisnis dalam pelayanan tidak akan menghasilkan dan menambah Pertumbuhan Gereja yang sehat apalagi menghasilkan integritas rohani baik bagi para pemimpin rohani maupun bagi umat percaya. Sekali mentalitas ini diadopsi dan dikedepankan, maka gereja akan lebih tertarik pada kesuksesan artificial dan keuntungan-keuntungan yang didapat melaluinya dan bukannya justru kepada kesuksesan yang hakiki yakni kebenaran dan kekudusan yang merupakan kesuksesan yang terpenting dalam pelayanan. Disinilah para pemimpin gereja terutama para gembala gereja harus mawas diri sehingga ditengah pergumulan-pergumulan penggembalaan dapat tetap memelihara integritas panggilannya seturut ajaran kebenaran. Kesalahan terbesar dalam strategi-strategi Pertumbuhan Gereja pada hari ini adalah penyangkalan (secara sadar ataupun tidak disadari) terhadap kedaulatan Allah dan sufisiensi Alkitab. Begitu banyak pemimpin gereja terutama para gembala yang telah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi minder sehingga tidak lagi mempercayai bahwa gereja yang benar dan sehat itu akan bertumbuh melalui pemberitaan dan pengajaran firman Allah yang bertanggungjawab didalamnya.

Oleh sebab itu, kerinduan yang amat besar untuk melihat Amanat Agung berhasil sekali-kali tidak boleh digantikan dengan keberhasilan pemasaran gereja. Firman Tuhan menegaskan  bahwa Tuhanlah yang menambah jemaat gereja[49] dan bukan karena kedigdayaan manusia. Tuhan kita Yesus Kristus juga mengatakan bahwa Ia sendirilah yang akan membangun gereja-Nya.[50] Alkitab menunjukkan bahwa alat yang benar untuk mengembangkan gereja semuanya bersifat supernatural, karena gereja itu pada hakekatnya adalah supernatural. Jadi sebenarnya bukan metodologi yang merupakan hasil riset dan pemikiran manusia yang mengerjakan pertumbuhan gereja-Nya. Bahkan seorang hamba Tuhan seperti rasul Paulus saja –kalau boleh disebut sebagai ahli Pertumbuhan Gereja pada zamannya- dalam 1 Korintus 2:4-5 mengatakan, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”  Ini berarti bahwa kesuksesan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada hal-hal yang dihasilkan didalam setiap upaya yang dilakukan. Kesuksesan tidak terletak kepada kemakmuran, kejayaan, kuasa, popularitas dan hal-hal lain menurut pemahaman dunia mengenai arti kesuksesan. Tetapi kesuksesan yang sesungguhnya didalam pelayanan adalah melakukan kehendak Allah tanpa menghiraukan untung dan rugi yang ada atau sikap mempertanyakan panggilan pelayanan kita sebagai bentuk keragu-raguan oleh pengaruh situasi dan kondisi yang ada.

 

Kesimpulan dan Saran

Fenomena gerakan Pertumbuhan Gereja saat ini memang sangat menarik untuk dicermati. Namun juga memerlukan hikmat yang tepat didalam menyikapinya. Para pemimpin gereja terutama mereka yang memangku tugas penggembalaan gereja mesti waspada terhadap berbagai produk yang muncul dari gerakan Pertumbuhan Gereja pada hari ini. Terlepas dari keberhasilan-keberhasilannya, gerakan Pertumbuhan Gereja yang diterjemahkan kedalam berbagai model dan cara harus tetap mendapat penelitian ulang dari segala sisi, khususnya sisi historis-teologis-hermeneutis-praktis secara bertanggungjawab. Sehingga dengan demikian gereja tetap terpelihara dari berbagai pengaruh yang tidak tepat dan Amanat Agung Tuhan dapat tetap dijalankan dengan murni dan bertanggungjawab.[51]

Para pemimpin gereja, dalam hal ini khsusunya mereka yang memangku tanggungjawab penggembalaan, patut menjaga diri dari mentalitas instan dan pola pikir sekuler dalam upaya untuk mencapai terjadinya pertumbuhan didalam gerejanya.  Sebaliknya, dengan penuh tanggungjawab memelihara integritas diri, teologia dan pelayanan seperti halnya telah dikatakan didalam 1 Timotius 4:16, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”

Dan juga,  2 Timotius 4:1-5 yang bila diuraikan akan memperlihatkan bagaimana seharusnya peran yang baik untuk mendukung sebuah Pertumbuhan Gereja yang sehat:

(1) Senantiasa mengingat akan panggilan Tuhan (ayat 1)

(2) Beritakanlah firman (ayat 2)

(3) Setia dalam segala situasi dan kondisi (ayat 2)

(4) Nyatakan kesalahan, tegur, dan nasihati dengan kesabaran (ayat 2)

(5) Jangan pernah kompromi dalam masa-masa yang sukar (ayat 3-4)

(6) Kuasailah diri dalam segala hal (ayat 5)

(7) Tetap tekun dalam menghadapi penderitaan (ayat 5)

(8) Lakukan tugas sebagai seorang pemberita Injil (ayat 5)

(9) Tunaikan tugas pelayanan (ayat 5)

Fides Quaeraens Intelectum

 

BIBLIOGRAPHY

Allah, TUHAN.  Alkitab.

Daun, Paulus. Apakah Evangelicalisme Itu? Yogyakarta: ANDI OFFSET, 1986.

Fromm, Erich. The Revolution of Hope. New York, 1968.

Finney, Charles. The Memoirs of Charles Finney: The Complete Restored Text. Grand

Rapids: Academie Books, 1989.

Finney, Charles. Finney’s Systematic Theology. Minneapolis: Bethany House Publisher,

1976.

Halawa, Yarman. Mencermati Gerakan Rohani Dalam Pengaruh Neo-Pentacostalism di

Tengah Arus Post-Modernism. Surabaya: Sinode GKA, Buletin Sinode GKA Edisi XX Oktober 2009.

Krecjir, Dr. Richard, Dr. The Problem With Most Church Growth Paradigms

(www.churchleadership.org c 2002.

McIntosh, Gary L. Evaluating The Church Growth Movement. Zondervan, Grand Rapids,

Michigan  2004, terjemahan Indonesia dengan judul yang sama oleh Penerbit Gandum

Mas, Malang 2006.

McGavran, Donald A. The Bridges of God. Revised edition World dominion Press, UK,

1981.

McGavran, Donald. Understanding Church Growth Grand Rapids: Wm B. Eerdmans, 1970.

Norton,  Michael Dr.  http://www.mtio.com/articles/aissar81.htm

Norton, Michael Scott, Mission Accomplished. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1986.

Peters, George W. A Theology of Church Growth. Grand Rapids: Zondervan Pub. House,

1981.

Reed, David A. Origins and Development of the Theology of “Oneness” Pentecostalism in

the United States.  Ann Arbor, Michigan: University Microfilms International, 1980.

Stott, John R.W., Christian Mission in the Modern World. Illinois: IVP, 1979

Shelley, Bruce L. Church History In Plain Language . updated 2nd edition. Nashville: Thomas

Nelson Publishers, c 1995.

Sargeant, Kimon H. Seeker Churches. New Brunswick: Rutgers University Press, 2000.

Wagner, C. Peter. Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow – terjemahan Indonesia:

Manfaat Karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas, 1987.

Wagner, C. Peter, Teritorial Spirits – terjemahan Indonesia: Roh-Roh Teritorial Jakarta:

Yayasan Pekabaran Injil “IMANUEL,” 1994.

Wagner, Peter. Gereja Saudara Dapat Bertumbuh.  Malang: Gandum Mas, 1990.

Winter, Ralph D. Crucial Issues in Mission Tomorrow, ed. Donald McGavran. Chicago:

Moody Press, 1972.

Warren, Rick. The Purpose Driven Church. Grand Rapids: Zondervan  Publishing House,

1995.

Warren, Rick. Pertumbuhan Gereja Masa Kini. Malang: Gandum Mas, 2004.

_________, http://en.wikipedia.org/wiki/Fourth_Great_Awakening.


[1]Salah satu contohnya adalah apa yang disebut dengan Purpose Driven Church yang sempat ‘booming’ beberapa tahun lalu dibeberapa tempat termasuk dalam gereja-gereja di Indonesia. Berawal dari kesuksesan pendeta Rick Warren dalam menjalankan metode ini sehingga orang terlanjur melihat Purpose Driven Church sebagai “hasil karya” Rick Warren, meskipun sebenarnya metode ini dapat dikatakan bukan murni hasil pemikirannya.  Pada tahun 1970an  muncul pengajaran dari pelayanan Campus Crusade, Young Life and Sun Life yang kemudian diteliti dan dikembangkan oleh Fuller Institut di Pasadena, California, Amerika Serikat pada akhir 1980an. Metode inilah yang kemudian dipopulerkan oleh Rick Warren yang ternyata berhasil di gereja Saddleback Valley Community Church yang dipimpinnya.

[2] Sangat menyedihkan jika dalam banyak kasus demi untuk tujuan ini, gereja-gereja dalam kelompok mainline churches dengan sukarela ”dibimbing” oleh para gembala gereja Kharismatik yang telah terlebih dahulu merasakan mujarabnya “ilmu” Pertumbuhan Gereja bagi gereja yang mereka gembalakan dan menjadikan mereka sebagai ‘mentor’ yang menuntun agar gereja-gereja dalam kelompok mainline churches ini juga merasakan ‘berkat” yang sama. Tentu saja untuk tujuan ini, hal-hal yang bersifat prinsipil/fundamental harus dikesampingkan!

[3]Charles Finney (1792-1875) yang semula berlatarbelakang ahli hukum (lawyer) kemudian menjadi seorang pendeta Presbyterian yang ditahbiskan dengan menerima Pengakuan Iman Westminster yang kemudian ia tolak. Dalam pengakuannya kemudian sehubungan dengan tindakannya itu, ia mengatakan bahwa ia menerima Pengakuan Iman Westminster karena “tidak mengerti” dan ‘tidak membaca.” Ini membuktikan bahwa ia menerimanya tidak lebih sebagai persyaratan saja. Ia telah menolak kerangka dasar teologia dari pengakuan iman yang berlaku didalam gereja. Dengan demikian, motif sebenarnya ia ‘menerima’ Pengakuan Iman Westminster tidaklah lebih sebagai ‘kendaraan’ atau ‘stempel’ demi pengesahan pelayanannya. Hal yang sama seringkali terjadi dalam gereja-gereja mainline churches pada hari ini yang diatas kertas menerima pengakuan iman yang berlaku didalam gereja mereka, namun dalam praktiknya menolak dan menyangkalinya! Lihat Charles Finney, The Memoirs of Charles Finney: The Complete Restored Text. (Grand  Rapids: Academie Books, 1989),  pp. 53-54.

[4] Finney menolak ajaran mengenai dosa asali, penebusan pengganti, dan karya pembenaran Kristus atas  orang percaya.

[6]Dr. Michael S. Norton adalah  anggota dari  the Alliance of  Confessing Evangelicals dan juga co-host dari program radio White Horse Inn. Lihat  http://www.mtio.com/articles/aissar81.htm.

[7]Charles G. Finney, Finney’s Systematic Theology (Minneapolis: Bethany House Publisher, 1976), pp.4-5

[8] Istilah ini adalah untuk membedakan dengan  gerakan Evangelical yang  muncul pada abad 17.

[9] Lihat Paulus Daun, Apakah Evangelicalisme Itu? (Yogyakarta: ANDI OFFSET, 1986), halaman 57-61. Pdt. Paulus Daun menyebutnya sebagai “Lampu Merah Bagi Kaum Injili.”

[10] Misalnya beberapa dosen dari Fuller Theological Seminary seperti Daniel Fuller, Jack Rogers, termasuk Rektornya David Hubbard mengemukakan teori “kesalahan Alkitab yang terbatas’ (Limited Inerrancy) atau tokoh Injili lainnya seperti Bernard Ramm yang berpandangan bahwa istilah “ketanpa-salahan” Alkitab tidak dapat mewakili hakekat Alkitab karena hanya akan menimbulkan perdebatan.

[11] Menekankan hal-hal yang positif dalam kehidupan Kristen.  Sebagai akibatnya adalah mengabaikan sikap untuk menghadapi hakekat dosa.  Sehingga dengan demikian melemahkan arti “pengudusan” yang sebenarnya.

[12] Penolakan terhadap otoritas gereja, pemikiran teologia dan sistem gereja yang memberi ruang bagi kebangkitan dan pengaruh yang lebih besar dari kelompok-kelompok Kharismatik untuk mempengaruhi mainline churches.

[13] Keterbukaan dengan semua denominasi yang tentu saja merupakan kekuatan yang luarbiasa dalam penginjilan, namun sekaligus juga memiliki efek merusak yang  tidak kecil karena pada akhirnya tidak lagi menghiraukan hal-hal yang sangat prinsip berkaitan dengan pokok-pokok ajaran iman.

[14] Lihat Gary L. McIntosh,  Evaluating The Church Growth Movement (Zondervan, Grand Rapids, Michigan  2004), terjemahan Indonesia dengan judul yang sama oleh Penerbit Gandum Mas, Malang 2006, halaman 105-106.

[15]Warren misalnya dalam argumen-argumen Purpose Driven Church-nya secara sadar ataupun tidak telah mengurangi penekanan yang seharunya mengenai doktrin  Penghakiman, Kekudusan dan Pembenaran sementara ia dengan sangat serius focus pada pemahaman mengenai kebapaan kasih Allah dan menafsirkan Alkitab untuk mendukung Pendekatan Pencari Yang Peka (Seeker Sensitive Approach). Tentunya ini merupakan hermeneutika yang sangat berbahaya dan memiliki akibat buruk  bagi perkembangan kehidupan gereja baik dalam penggembalaan, pemginjilan, ibadah, khotbah persekutuan, pemuridan dan pelayanan. Lihat uraian Kimon H. Sargeant, Seeker Churches (New Brunswick: Rutgers University Press, 2000), p. 93.

[16] David A Reed, Origins and Development of the Theology of “Oneness” Pentecostalism in the United States.  Ann Arbor, Michigan: University Microfilms International, 1980, p. 108. Ajaran baru menjadi salah satu daya tarik untuk memuaskan keingintahuan manusia yang sebenarnya lebih banyak akibat merusaknya dari pada akibat baiknya. Gereja2 / persekutuan2 dalam pengaruh Jesus Only ini mempopulerkan adanya wahyu-wahyu baru yang mereka anggap diterima dari Tuhan dan orang Kristen harus menerimanya

[17] Perhimpunan gereja-gereja Pentakosta.

[18] Lihat juga Pdt. Yarman Halawa, Mencermati Gerakan Rohani Dalam Pengaruh Neo-Pentacostalism di Tengah Arus Post-Modernism (Surabaya: Sinode GKA, Buletin Sinode GKA Edisi XX Oktober 2009), halaman 8.

[19] Yang kemudian menghasilkan gerakan yang disebut sebagai Toronto Blessing yang dianggap sebagai lawatan Allah bagi gereja-Nya dan yang kemudian terbukti sama sekali tidak benar.

[20] Untuk memahami secara menyeluruh unsur-unsur Kharismatik dalam gerakan Pertumbuhan Gereja silahkan membaca buku C. Peter Wagner, Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow – terjemahan Indonesia: Manfaat Karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 1987) dan Teritorial Spirits – terjemahan Indonesia: Roh-Roh Teritorial (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil “IMANUEL” 1994).

[21]Itu sebabnya apapun kadang dilakukan walaupun itu diluar dari kebiasaan yang seharusnya bagi sebuah ibadah rohani. Hal ini bisa dilihat dengan kebiasaan mengkombinasikan hal-hal yang bersifat entertainment didalam ibadah. Misalnya: artis / selebritis, sulap, dan sebagainya dijadikan sebagai daya tarik untuk menjangkau orang untuk datang.

[22] Lihat Pdt. Yarman Halawa, Mencermati Gerakan Rohani Dalam Pengaruh Neo-Pentacostalism di Tengah Arus Post-Modernism. Halaman 9-10, 35. Pokok-pokok ini memerlukan uraian dan penjelasan tersendiri.

[23] Itu sebabnya banyak model Pertumbuhan Gereja pada hari ini selalu mengidentifikasikan dirinya dengan peristiwa-peristiwa besar Pertumbuhan Gereja pasca Pentakosta didalam Perjanjian Baru, misalnya pertambahan massal para petobat baru kedalam komunitas orang percaya didalam kitab Kisah Para Rasul.

[24] Sesuai perintah Tuhan Yesus didalam Kisah Para Rasul 1:8.

[25]Edict Milan (Edictum Mediolanense) adalah maklumat yang ditandatangani  oleh kaisar Konstantinus yang menjamin kebebasan agama di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.

[26]Lihat Bruce L. Shelley, Church History In Plain Language . updated 2nd edition. (Nashville: Thomas Nelson Publishers, c 1995), p. 94, 96.

[27]Pola hidup “Kristen Nominal” yang mungkin diakibatkan oleh agaknya  sekularisme, rasionalisme, materialism, dan berbagai factor lainnya.

[28] Peter Wagner, Gereja Saudara Dapat Bertumbuh.  (Malang: Gandum Mas, 1990), halaman 13.

[29] Donald A. McGavran, The Bridges of God. Revised edition (World dominion Press, UK, 1981), p. 323.

[30] Lihat juga Donald McGavran, Understanding Church Growth (Grand Rapids: Wm B. Eerdmans, 1970), p. 23.

[31]Ibid. Halaman 18. Kecuali tentunya prinsipnya mengenai Kelompok Homogen (Homogeneous Unit Principle)” yang dikecam banyak pihak karena dianggap menjadi stempel bagi eksklusivisme budaya dalam gereja, kebijakan keanggotaan rasial dan bukannya strategi penjangkauan dalam penginjilan, ketika prinsip ini diterapkan dalam penginjilan lintas budaya (lihat halaman 71).

[32] McIntosh,  Evaluating The Church Growth Movement. Halaman 19.

[33] Hal ini muncul melalui buku George Barna Marketing the Church (Lihat McIntosh, Evaluating The Church Growth Movement. Halaman 26.  Maka tidak mengherankan juga bila pada akhirnya kita mendapati bahwa di seminari-seminari tertentu muncul mata kuliah Church Marketing yang merupakan pengaruh dari konsep ini.

[34] Ibid. Halaman 6.

[35] Silakan membaca buku Evaluating The Church Growth Movement. Buku ini menguraikan mengenai 5 macam pandangan evaluatif  terhadap Gerakan Pertumbuhan Gereja: 1. Pandangan Penginjilan Efektif  oleh Elmer Towns, 2. Injil dan Budaya Kita oleh Craig Van Gelder, 3. Pandangan Sentris oleh Charles Van Engen, 4). Pandangan Pihak Reformis oleh Gailyn Van Rheenen, dan 5) Pandangan Pembaharuan oleh Howard Snyder. Yang bila diringkaskan akan mengerucut kepada pandangan Pertumbuhan Gereja dari Kaum Injili dan pandangan Pertumbuhan Gereja dari Kaum Ekumenikal.

[36] Yang kemudian menghasilkan gerakan yang disebut sebagai Toronto Blessing yang dianggap sebagai lawatan Allah bagi gereja-Nya dan yang kemudian terbukti sama sekali tidak benar.

[37]Lihat Dr. Richard J. Krecjir, The Problem With Most Church Growth Paradigms (www.churchleadership.org c 2002).

[38] Lihat McIntosh, Evaluating The Church Growth Movement. Halaman 72-74.

[39] McGavran, Understanding Church Growth. P. 32. McGavran berkata bahwa “a principle and irreplaceable purpose of mission is the (numerical) growth of the church.”

[40]Misalnya: Matius 5:16; 9:37-38; 10:1-40; 13:1-8, 18-23, 31, 47; Markus 1:17; 4:1-8, 13-20; Lukas 8:5-8, 11-15; 10:2; Yohanes 8:12; 9:5; 14:21-24; 15:5, 8; Roma 8:15; 1 Korintus 3:9-11; Efesus 1:5; 2:22; 4:14; 1 Petrus  2:2, 4.

[41] Rick Warren, Pertumbuhan Gereja Masa Kini. (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1999), p. 291.

[42]Erich Fromm, The Revolution of Hope (New York: 1968), p. 54.  Erich Pinchas Fromm (23 Maret 1900-18 Maret 1980) adalah seorang ahli psikologi, psikoanalis, dan ahli filosofi manusia berkebangsaan Jerman.

[43] Lihat Ralph D. Winter in Crucial Issues in Mission Tomorrow, ed. Donald McGavran (Chicago: Moody Press, 1972),  pp. 178-187.

[44]George W. Peters, A Theology of Church Growth (Grand Rapids: Zondervan Pub. House, 1981), p. 23.

[45]Salah satu dari banyak contoh yang bisa disajikan: Perhatikan bagaimana Rick Warren, promotor utama yang “berhasil” melalui model Pertumbuhan Gereja The Purpose Driven Church ketika menginterpretasikan perkataan Yesus “Apa yang engkau ingin Aku lakukan bagimu?” sebagai bentuk  pendekatan Yesus kepada orang banyak  untuk mendapatkan pemahaman mengenai apa yang mereka butuhkan. Warren percaya bahwa Yesus telah menemukan “kunci” kesuksesan untuk membawa mereka kepada keselamatan. Konklusi logis dan psikologisnya adalah (menurut Warren), “setiap orang dapat dimenangkan bagi Kristus jika anda mengetahui apa kunci untuk membuka hatinya.” Lihat Rick Warren, The Purpose Driven Church (Grand Rapids: Zondervan  Publishing House, 1995), p. 220 atau terjemahan Indonesia: Pertumbuhan Gereja Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2004), halaman 226.

[46] Lihat John R.W. Stott, Christian Mission in the Modern World (Illinois: IVP, 1979), p. 18-19.  Stott mengaskan bahwa seharusnya misi Kristen tidak bertujuan untuk kompromi dan menjadi alat untuk kepenting manusia.

[47] Sehingga pada akhirnya segala sesuatu bergantung  pada selera manusia: khotbah-khotbah dan pengajaran harus disesuaikan dengan level kenyamanan pendengar,  para gembala atau hamba-hamba Tuhan harus menghindari “khotbah yang menegur dosa” dan seterusnya (bandingkan hal ini dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam 2 Timotius 4:3-4!)

[48] Gary L. McIntosh, Evaluating The Church Growth Movement. p.64

[49] Kisah Para Rasul 2:47.

[50] Matius 16:18.

[51]Lihat juga Michael Scott Norton, Mission Accomplished. (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1986), p. 102.  Norton menegaskan bahwa dalam setiap upaya pekabaran Injil untuk menjangkau orang bagi Tuhan harus selalu diingat bahwa Dialah yang Empunya tuaian dan bukan kita. Ia berdaulat dalam setiap rencana, tujuan dan hasil dari pekabaran Injil yang kita lakukan sehingga setiap upaya pekabaran Injil  harus ditempatkan dalam pengertian yang benar sebagai “kuasa Allah yang menyelamatkan.”

 

Doktrin ALLAH TRITUNGGAL (1) January 9, 2011

Deskripsi singkat:

Memahami pengajaran Alkitab mengenai pribadi Allah Tritunggal dan kesalahan / ketimpangan yang terjadi karena pemahaman yang salah atau tidak tepat sehubungan dengan pribadi Allah, eksistensi dan karya-Nya dalam kehidupan manusia (baik dari kalangan ‘kristen’ maupun non-kristen). Dikemas dalam pemahaman yang solid dan teruji dalam nafas Reformed  dan disertai dengan pembekalan bagaimana doktrin ini mempengaruhi kehidupan iman dan bergereja orang percaya dan mampu menjelaskan doktrin ini dalam upaya menjangkau orang yang tidak percaya kepada keselamatan.

Dosen pembimbing    : Pdt. Budi Asali, M.Div

Waktu                          : Jumat 4,11,25 Pebruari, 4 Maret 2011

Pukul                           : 19.00 – 21.15 WIB

Tempat                       : Aula Lt. 2 / Ruang SPRING

GKA GRACIA CITRA RAYA

Jl. Taman Puspa Raya D1/1 Citra Raya, Surabaya.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,214 other followers