Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

INTRODUKSI 4 INJIL by Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 28, 2009

Filed under: 4 Injil — graciacitra4christ @ 7:24 am

A. PENTINGNYA INJIL DALAM TRADISI GEREJA MULA-MULA
Kata “Injil” () yang digunakan dalam Injil Markus, Matius, dan Lukas merupakan ‘ciptaan’ Markus (Markus 1:1). Ia memasukkan kata benda “ ” dengan tujuan untuk menjelaskan sebuah tradisi yang bermakna ganda (perhatikan Markus 8:35 dan 10:29, “…karena Aku dan karena Injil…”). Dalam tradisi Matius 16:25 dan Lukas 9:24, hanya digunakan frase “…karena Aku…”. Markus memperluas tradisi ini dengan memasukan frase “ (karena Injil)”. Bagi Markus, kata “Injil” merupakan ekspresi yang paling ia senangi. Ia telah memasukan kedalam tradisi pra-kanonikal terminology ini dimana dia menjadi editor pertama.

Ada 3 istilah dalam bahasa Yunani yang digunakan sebagai sebutan yang bersifat teknis untuk menggarisbawahi semua aspek dari berita Injil yang dipegang dalam kekristenan mula-mula:

1. . Kata ini berarti pemberitaan Kabar Baik Yesus Kristus kepada dunia non Kristen (lihat 1 Korintus 1:21). Beberapa contoh kerigma dapat dilihat dalam KPR 2:14-39, 3:13-26, 4:10-12, 5:30-32, 10:36-43, 13:17-41. setiap kerigma yang dikhotbahkan “selalu ditutup dengan suatu ketertarikan untuk bertobat, menawarkan pengampunan melalui kuasa Roh Kudus, dan janji yang pasti mengenai “keselamatan”, yakni “kehidupan kekal di masa yang akan datang bagi mereka yang termasuk komunitas umat pilihan”.

2. . Kata ini menunjuk kepada pelayanan pengajaran (KPR 2:42, 4:31, 5:42, 6:2) yang membimbing para petobat baru kepada tugas dan tanggungjawab, disiplin, dan aturan hidup dalam komunitas kekristenan. Gereja mula-mula sangat menekankan .

3. . Kata ini berarti “mengarahkan”, yang menunjuk kepada tanggungjawab kateketikal para pemimpin kelompok-kelompok Kristen mula-mula (perhatikan Galatia 6:6). Meskipun kelas-kelas katekisasi tidak terlihat dalam sejarah Gereja hingga abad ke 3, namun tetap ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa hal ini diadakan dalam gereja mula-mula (perhatikan KPR 8:32-37, 18:25, 20:20, Kolose 1:6, Efesus 4:20, 1 Petrus 2:2, 5:1, 1 Yohanes 2:12-24). Setiap orang harus melewati katekisasi sebelum mereka menerima secara penuh hak dan kewajiban sebagai anggota gereja.

Ketiga istilah ini, menunjukkan aktifitas dari kehidupan kekristenan mula-mula. Gereja memiliki dasar yang nyata dari pelayanan Yesus untuk menyampaikan berita Injil dalam khotbah-khotbah umum. Dasar tersebut berasal dari tradisi-tradisi lisan yang kemudian dituliskan untuk keperluan pemberitaan Injil, pengajaran, dan pembinaan.

B. BENTUK UMUM KITAB INJIL
Kata Injil berasal dari bahasa Yunani  yang artinya “kabar baik” (dari kata  yang berarti “baik” dan  yang berarti “kabar/berita”. Kata ini dapat berarti:
1. Apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakan Allah didalam atau melalui
Yesus Kristus,
2. Nama yang dipakai untuk keempat buku pertama dalam PB,
3. Seluruh berita PB yang adalah Kabar Baik. Kata ini untuk pertama kali
digunakan oleh Markus (1:1) dan kemudian oleh Matius (4:23).

Meskipun demikian baru pada pertengahan abad ke-2 keempat buku pertama dalam PB ini disebut Injil. Markus mengawali tulisannya tentang pelayanan Tuhan Yesus di dunia dengan mengatakan, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus” dan istilah injil ini kemudian berkembang sehingga mencakup: kelahiran, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Rasul Paulus sering menggunakan kata Injil dalam surat-suratnya sebagai pesan tentang tindakan keselamatan Allah didalam Anak-Nya (Roma 1:16; I Korintus 15:1; Galatia 1:6-7).

Berdasarkan bentuk dan isinya, maka kita dapat menemukan bahwa ada 5 macam bentuk umum kitab Injil:

a. Narrative Material atau Cerita/Riwayat
Bagian ini boleh dikatakan merupakan bagian terbesar dalam kitab-kitab injil (sekitar 75%) yang memuat fakta-fakta tentang kehidupan Yesus seperti: kemana Ia pergi, mengajar, bagaimana Ia mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, melakukan mujizat dan hal-hal berkenaan dengan kelahiran, kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga. Ada 4 prinsip untuk menafsirkan narrative material ini:
1. Kitab-kitab Injil ini adalah catatan sejarah. Para penulis menghendaki kita untuk percaya akan isi injil (cf. Lukas 1:3-4).
2. Materi-materi dalam Injil harus dilihat dari sudut keinginan pengarangnya.
3. Peristiwa-peristiwa yang dicatat tersebut harus dijelaskan sesuai dengan keadaan pada waktu penulisan Injil tersebut.
4. hal-hal yang supranatural yang juga menjadi bagian penting dari kitab Injil harus kita terima apa adanya.

b. Teaching Material atau Pengajaran Kristus.

Ada 5 prinsip yang harus diingat dalam menafsirkan pengajaran Kristus:
1. Mengerti persoalan yang dihadapi Yesus yang hendak Ia atasi (mis. Pengajaran-pengajaran-Nya yang muncul dari pertanyaan orang-orang)
2. Mengerti tujuan yang hendak Yesus capai (mis. Penyucian Bait Suci)
3. Mengerti gaya bahasa yang Yesus pakai untuk menafsirkan ajaran tersebut secara tepat (tujuan: menunjukkan kebenaran Allah)
4. Perlu mengingat latarbelakang ke-Yahudi-an Yesus.
5. Apa yang Yesus katakan harus dimengerti dari sudut siapakah Dia (otoritas dan kedudukan-Nya).

c. Parables atau Perumpamaan
Perumpamaan merupakan bagaian dari pengajaran-Nya, namun perlu dipelajari secara terpisah karena muatan yang khusus didalamnya. Perumpamaan sering juga diartikan sebagai “jembatan menuju kebenaran”.
Ada 5 prinsip untuk menafsirkanya:
1. Fungsi perumpamaan adalah menantang pendengarnya untuk mengambil keputusan.
2. Perumpamaan harus dicermati dari 2 sudut: siapakah Yesus dan kerajaan sorga yang Ia proklamirkan.
3. Karena bagian dari pengajaran, maka perumpamaan mempunyai sifat-sifat yag sama dengan pengajaran Yesus.
4. Perumpamaan adalah bentuk umum pada zaman itu sehingga dapat ditemukan kemiripan-kemiripan di PL atau ajaran para Rabbi.
5. Perumpamaan biasanya memuat satu pengajaran utama walaupun ada kalanya bisa lebih dari satu pengajaran.

d. Apocaliptic Material atau Materi yang berhubungan dengan akhir jaman/nubuat/wahyu.
Hal-hal tentang akhir zaman dapat ditemukan pada bagian akhir kitab Injil (Matius 24, Markus 13, Lukas 17, 24). Arti Apokaliptik adalah “membuka atau menyatakan” sehingga bagian ini menceritakan tentang keadaan di masa mendatang.
Ada 3 prinsip yang perlu dingat untuk menafsirkan apocalyptic material ini:
1. Keinginan Penulis perlu diperhatikan (mis. Tujuan: meneguhkan orang percaya pada masa itu).
2. Bagian apokaliptik ini dikatakan oleh Yesus dan harus selalu dikaitkan dengan siapakah Dia.
3. Melalui apokaliptik ini, Allah juga hendak menyatakan kehendak-Nya bagi kita.

e. Kutipan PL
Ada ratusan kutipan PL dalam PB. Bagi orang zaman itu, dan bagi Tuhan Yesus sendiri, ketika hendak mengajarkan kebenaran Allah selalu merujuk pada otoritas kitab yang berotoritas pada waktu itu yakni PL.

Ada 5 hal penting yang perlu diperhatikan untuk memahami kutipan PL ini:
1. Perlu mengingat variasi cara pengutipan ayat-ayat PL (mis. Matius berdasarkan ingatan, sekedar disinggung, penggabungan dan kutipan lengkap).
2. Perlu membandingkan kutipan tersebut dengan ayat PL yang dimaksud.
3. Perhatikan konteks kutipan tersebut dalam PB.
4. Perhatikan tujuan penggunaan kutipan (mis. penguat, ilustrasi, analogi).
5. Harus selalu di ingat bahwa Tuhan Yesus berotoritas atas pengutipan dan penafsiran PL.

Catatan:
Perlu dipahami bahwa ke empat Injil tidaklah dapat dianggap sebagai catatan biografi perjalanan kehidupan Tuhan Yesus, karena ke empat Injil hanya menceritakan secara singkat tentang kelahiran Yesus, masa usia 12 tahun dan 3 ½ tahun terakhir dari kehidupannya di dunia. Selain itu setiap penulis Injil memilih dan membentuk bahan-bahannya berdasarkan pengertian dan pengenalan mereka akan Yesus, dan juga berdasarkan kebutuhan tujuan tertentu dari orang-orang kepada siapa Injil tersebut ditulis. Yang terpenting adalah bahwa ke empat Injil tersebut utuh dan menunjukkan bahwa Injil itu satu namun dilihat oleh 4 orang dari sudut pandang yang berbeda.

C. BAGAIMANA INJIL DI BENTUK: PROBLEMATIKA SINOPTIK
Penyebutan Synoptik secara khusus ditujukan kepada Injil Matius, Markus, dan Lukas. Kata Synoptik sendiri diprakarsai oleh sarjana Jerman, J.J. Griesbach pada akhir abad ke-18. Kata ini berasal dari bahasa Yunani  yang artinya melihat bersama-sama (a seeing together), karena ketiganya berusaha menampilkan sisi yang sama dari kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus.

Persamaan tersebut menimbulkan pertanyaan: ”Apakah pengarang Injil tersebut memakai satu sumber/bahan dalam penulisannya?” atau “Adakah saling ketergantungan satu dengan yang lainnya?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian dikenal sebagai Synoptic Problem.

Kritik Sumber/Teks/Sastra. Untuk menjawab persoalan ini maka para sarjana PB telah berusaha memaparkan pandangan dan teorinya masing-masing. A.E. Lessing (1776 ) mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghitung kesejajaran dan ketidaksejajaran Injil Sinoptik adalah dengan memandang Injil-Injil tersebut berakar secara mandiri dari tulisan Aramaic Gospel of The Nazarene. Pandangannya ini kemudian dikembangkan oleh J.A Sichorn dan J.G Herder (1778).

Gagasan-gagasan penyusunan Injil ini kemudian berkembang dengan dianutnya teori 2 dan 4 sumber penulisan kitab-kitab Injil. J.J Griesbach berpendapat bahwa Markus membentuk Injilnya dengan memakai sumber dari Matius dan Lukas. Demikian juga H.J Holtzmann yang beranggapan bahwa Lukas menggunakan Markus dan Matius sebagai sumbernya. Sementara B.H Streeter memunculkan gagasan 4 sumber dengan berargumen bahwa Injil Lukas disusun dari ‘proto-Lukas’ yang keluar bersama Markus dan Q (Q adalah bahan-bahan yang menjadi sumber penyusunan yang telah hilang). Dengan demikian para sarjana PB terbagi dalam dua pandangan: mereka yang memegang teori 2 sumber dan mereka yang memegang teori 4 sumber.

Berikut adalah beberapa rangkuman teori penyusunan Injil:
1. Teori Tradisi Lisan (The Theory of Oral Tradition): ketiganya menuliskan
berdasarkan sebuah sumber lisan atau tulisan, dan sumber itu kini telah
hilang.

2. Hipotesis Griesbach (The Griesbach Hyphothesis): Matius ditulis terlebih
dahulu dan Lukas menggunakan Matius sebagai sumbernya. Kemudian
Markus menulis dengan menggunakan keduanya sebagai sumbernya.

3. Hipotesis Markus – Q (The Mark – Q Hyphothesis): Matius dan Lukas menulis
berdasarkan Markus dan sebuah dokumen Q yang telah hilang (Q ~
Quelle, Jerman: sumber).

4. Hipotesis Markus – Q dengan tambahan dari Matius yang digunakan Lukas
(The Mark – Q Hyphothesis with Subsidiary Use of Matthew by Luke): Markus
menulis Injil terlebih dahulu dan kemudian Matius dan Lukas memakai
Markus sebagai sumbernya ditambah dengan sumber Q dan sumber-
sumber lainnya yang khas Matius (M) dan khas Lukas (K).

5. Hipotesis Markus – Matius (The Mark – Matthew Hyphothesis): Markus ditulis
terlebih dahulu dan Matius menggunakan Markus sebagai sumbernya.
Kemudian Lukas menulis dengan menggunakan keduanya sebagai sumbernya.

Catatan: Untuk memahami bentuk dan mengetahui gagasan/isi lebih detil dari hipotesis2 yang ada berkaitan dengan problem sinoptik ini silakan lihat Ralph P. Martin, New Testament Foundation (vol. 1). Grand Rapids: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1988.  pp.139-160.

Bentuk analisa atau hipotesa manakah yang paling layak dalam menjelaskan problem synoptic ini? Perhatikan beberapa pertimbangan berikut:
1. Bila diperhatikan dan dibandingkan, maka ketiganya memiliki persamaan/kemiripan dalam hal isi dan gaya bahasa yang digunakan.
2. Bila di teliti: 91% bahan Markus terdapat di Matius (Markus seluruhnya terdiri dari 661 ayat, dan terdapat di Matius 606 ayat), dan 54% bahan Markus (380 ayat) dapat ditemukan di Lukas.

3. Bila dilihat dari isi/teks, maka ditemukan:
Matius dan Markus berlawanan dengan Lukas
Lukas dan Markus berlawanan dengan Matius
Matius dan Lukas tidak berlawanan dengan Markus.

Catatan: berlawanan disini maksudnya adalah tidak sama dalam urutan-urutan peristiwa. Contoh: lihat Carson, table 4 halaman 28 ~ Matius dan Markus tidak sama dengan Lukas dalam hal pengusiran setan yaitu Beelzebul. Dalam Matius (12:22-37) dan Markus (3:20-30) ditempatkan sebelum Perumpamaan tentang Penabur. Sedangkan Lukas (11:14-23) menempatkannya sesudah perumpamaan tersebut.

4. Injil Markus merupakan Injil terpendek. Jumlah kata-kata dalam bahasa Yunani 11.025. sedangkan Matius 18.293, dan Lukas 19.376 kata. Hal ini menunjukkan bahwa Matius dan Lukas merupakan perluasan Markus.

5. Di lihat dari karya tulis Markus, maka gaya penulisan dalam bahasa Yunani yang dipakai sangat primitive. Bahkan beberapa dari kosakatanya agak aneh, kurang baik dan kurang teratur. Markus menggunakan ekspresi Aramaik, sedangkan Lukas menghilangkannya atau menterjemahkannya (contoh: Markus 15:22 dengan Lukas 23:23).

6. Dari sudut teologia, maka Injil Markus lebih primitive dibanding dengan teologia Matius dan Lukas. Contoh: Markus 6:5 (pengertiannya seolah-olah Tuhan Yesus tidak sanggup), bandingkan dengan Lukas 4:23 (alasan yang sesungguhnya adalah karena ketidakpercayaan mereka).

Kesimpulan: Berdasarkan penemuan-penemuan ini maka disimpulkan bahwa Injil Markus ditulis terlebih dahulu, sedangkan Lukas dan Matius mengutip Markus dan kemudian mengembangkannya sendiri dengan (L) dan (M).

D. MENGUJI KEOTENTIKAN ISI INJIL – MUNCULNYA KRITIK BENTUK DAN KRITIK REDAKSI
Para sarjana PB juga berusaha untuk menemukan cara untuk memahami dan mengetahui dengan tepat situasi yang sebenar-benarnya dari kehidupan dan pengajaran Yesus yang direkam dalam Injil. Apakah semua yang dicatat oleh Injil benar-benar otentik? Berikut adalah beberapa upaya yang pernah dilakukan:

Kritik Bentuk. Masa 1920-1930an merupakan masa Kritik Bentuk (Form Criticism) yang dalam perkembangannya memunculkan suatu sikap anti supranatural yang dihasilkan oleh beberapa kritik terhadap beragam rekonstruksi kehidupan dan pengajaran Yesus. Istilah Kritik Bentuk sendiri berasal dari istilah “Formgesichcte” dalam buku Martin Dibellius (1919).
1. Beberapa sarjana seperti Maoris H. Gunkel dan H. Gresmann, mengaplikasikan metode kritik bentuk ini kepada literature masyarakat (folk literature) dari peradaban primitive sekitar kehidupan dan pengajaran Yesus.
2. Ahli PB Jerman, K.L. Schmidt, R. Bultmann, M. Dibellius kemudian menggunakan metode mereka dalam upaya menyusun ulang periode selang waktu antara Yesus dan sumber-sumber yang pertama di tulis.

Karl Ludwig Schmidt (1919) dalam bukunya “Der Rahmen der Geschichte Jesu”, menunjukkan bahwa latarbelakang Injil Markus, adalah perikop-perikop yang terlepas satu dari yang lain. Kerangka-kerangka (“Rahmen”) perikop-perikop itu pada umumnya lebih muda dari isi perikop itu sendiri. Namun dalam buku ini ia tidak membicarakan bentuk-bentuk tetap Injil tersebut.

Martin Dibellius (1919) dalam bukunya “Die Formgeschicte des Evangeliums” (From Tradition to Gospel) memberi perhatian cukup banyak terhadap bentuk-bentuk tetap yang dipakai oleh gereja mula-mula. Ia mengadakan pemeriksaan mulai dari bentuk mula-mula (sejauh yang dapat dibayangkan), lalu menggambarkan perkembangannya sampai kepada Injil-Injil masa kini.
Rudolf Bultmann (1921) dalam bukunya “Die Geschicte der Synoptischen Tradition” (The History of the Synoptic Tradition). Dalam bukunya ini, Bultmann menganalisa secara mendetail perikop-perikop yang ada dalam Injil, dan dari sana ia “mundur” ke belakang untuk mencoba menentukan bentuk dan isi pada periode penyalinan yang lebih awal.

Singkat kata, mereka memulai upaya dengan ‘mengisolasi’ bagian-bagian kecil dalam Injil yang mereka anggap berasal dari tradisi lisan, dan mengklasifikasikannya berdasarkan bentuk. Hanya narasi yang dianggap berhubungan sejak masa awal saja yang diambil dan membuang bagian-bagian yang dianggap tidak memiliki hubungan sama sekali. Bagi mereka sumber Lisan (tradisi Lisan) yang selama ini diterima oleh Gereja, telah merupakan modifikasi pada seluruh literatur seperti: pengulangan (repetisi) dari cerita-cerita, legenda-legenda, mitos, ucapan-ucapan pengajaran kafir, detil-detil pemuridan dalam kisah-kisah mujizat. Konsep Bultmann mengenai “demitologizing” sangat terkenal dalam metode ini. Tujuan dari ini semua adalah dihasilkannya Injil yang mereka sebut “sitz im leben”.

Kritik Redaksi. Seorang ahli PB Jerman, W. Marxsen pada tahun 1956 memakai suatu istilah baru dalam bidang penyelidikan penyusunan Injil, yakni “Redaktiongeschichte” atau “Sejarah Redaksi” (istilah ini muncul dalam judul bukunya mengenai Injil Markus: “Der Evangelist Markus, Studien zur Redaktiongeschicte des Evangelims” dan terbit dalam bahasa Inggris “Mark the Evangelist: Studies on the Redaction History of the Gospel”).. Istilah inilah yang kemudian dikenal luas sebagai Kritik Redaksi (Redaction Criticism).

Kritik Redaksi menekankan bagaimana para penulis Injil mempergunakan bahan-bahan dari tradisi yang sudah ada. Para penulis Injil dipandang bukan hanya sebagai pengumpul bahan saja, melainkan juga sebagai penyusun atau redactor. Mereka memilih: bahan mana yang layak dipakai dan bahan mana yang tidak. Inilah salah satu alasannya mengapa para penulis Injil memiliki perbedaan dalam memberi penjelasan, istilah-istilah atau ketika menekankan tentang sesuatu hal dalam Injil mereka. Mereka memeriksa secara khusus bagaimana Matius dan Lukas memakai bahan Markus, bagaimana mereka merubah perikop dan bagaimana menggabungkan perikop-perikop tersebut.

Kelebihan Kritik Redaksi dari Kritik Bentuk adalah: para sarjana kritik redaksi melihat para penulis Injil bukan semata-mata hanya sebagai pengumpul informasi dari tradisi lisan dan penyusun kisah-kisah yang dibuat dalam berbagai bentuk, tetapi sebagai para teolog yang membentuk dan mengadaptasikan bahan-bahan dengan tujuan untuk membentuk pandangan mereka sendiri. Hal ini sangat penting untuk memberi perbedaan tajam antara material “tradisional” dan material “reduksional”, misalnya: apa saja yang telah terbentuk yang sampai kepada para penulis Injil, dan apa saja perubahan dan tambahan-tambahan yang mereka buat. Dengan kata lain, sementara tradisi menyusun material bersejarah yang otentik, material redaksional tidak dapat melakukannya (justru menghilangkannya!)

Kesimpulan:

E. HARMONISASI SINOPTIK
Seringkali terjadi bahwa dalam catatan Injil Sinoptic ini terdapat beberapa perbedaan. Dalam situasi demikian, maka kita harus membandingkan ketiganya dengan berpegang pada beberapa prinsip:

1. Mengharmonikan ketiga catatan tersebut untuk kemudian menyimpulkannya sehingga dari ketiga injil tersebut diperoleh informasi yang lengkap.
Contoh:
Matius 19:16:
Markus 10:17:
Lukas 10:18:
———————————————————————————————-
Harmonisasi:

Matius 21:12-17:
Markus 11:15-19:
Lukas 19:45-48:
———————————————————————————————-
Harmonisasi:

Catatan: untuk informasi lengkap mengenai hal ini lihat Revel Bible Dictionary, pp.447-448.

2. Perlu diingat bahwa seringkali para penulis Injil melihat suatu peristiwa dari sudut yang berbeda. Setiap penulis akan menekankan apa yang penting menurut penulis tersebut.
Contoh:

3. Perlu diingat bahwa Injil tersebut ditulis ditempat yang berbeda dengan penerima yang berbeda

4. Perlu diingat bahwa Yesus mengajar dan berbicara dalam bahasa Aramaic, sehingga penulisan dalam bahasa Yunani tentu akan berbeda sesuai dengan gaya dan kemampuan bahasa masing-masing penulis.

5. Perlu melihat bahwa adakalanya catatn Injil tersebut tidak memuat cerita yang sama pada waktu/peristiwa yang sama pula.

6. Adakalanya prinsip-prinsip tersebut (1-5) tidak dapat diterapkan sepenuhnya sehingga jawaban yang pasti tidak dapat dicapai. Untuk hal ini para penafsir Alkitab sebaiknya menunggu informasi yang lebih lengkap sebelum memutuskan secara pasti.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,213 other followers