ANTARA MUJIZAT DAN SIHIR oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min November 2, 2009
Fakta Historis-Teologis
Alkitab menegaskan bahwa penyebab dari seluruh penyesatan adalah Iblis. Ia membutakan mata jasmani dan rohani manusia yang lemah sehingga mempercayai kuasa2 ajaib yang dilakukannya melalui para kaki tangannya seolah-olah semua itu berasal dari Allah. Ia adalah Peniru Ulung segala sesuatu (2 Korintus 11:14) yang memanipulasi iman kristen melalui penyesatan lewat pengajaran Alkitab, manifestasi kuasa Allah, mujizat dan tanda-tanda supranatural yang ajaib dan dahsyat dengan tujuan menyesatkan manusia khususnya orang2 percaya. Sejarah telah memberi banyak pelajaran penting bahwa gereja dan orang-orang percaya yang tidak memahami pengajaran yang benar dan tepat mengenai hal2 mujizat dan tanda ajaib, akan lebih mudah dipedayakan dan ditarik secara pemuasan logika dan panca indera terhadap hal2 yang bersifat supranatural, melalui demonstrasi2 yang ‘terbungkus’ oleh charisma rohani, kefasihan lidah, dan mujarabnya pelayanan2 rohani. Tepatlah ucapan Merril C. Tenney, seorang hamba Tuhan yang mengatakan demikian,
“Kekacauan antara iman dan takhayul tidak jarang terjadi diantara orang2 yang pada dasarnya saleh, namun tidak berkesempatan belajar atau membaca Kitab Suci.” (1)
Adalah benar bila dalam 2 Petrus 1:3-12 rasul Petrus mendorong umat Tuhan supaya tidak hanya berhenti pada langkah iman saja, melainkan juga berusaha dengan sungguh2 “menambahkan kepada iman kebajikan,kepada kebajikan pengetahuan, kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, kepada ketekunan kesalehan…..” (ayat 5-6). Tujuannya adalah supaya menjadi “giat dan berhasil dalam pengealanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita” (ayat 8). Ketidakmampuan melakukan hal2 ini akan menyebabkan “buta dan picik” (ayat 9) yang akan mengakibatan tidak akan bisa bertahan terhadap berbagai rupa2 pengajaran, manifestasi kuasa2 supranatural yang menggunakan nama kekristenan (baca seluruh 2 Petrus 1-3).
Sejarah telah membuktikan bahwa Mujizat Palsu (Sihir) Berusaha Mempedayakan Gereja/Orang Percaya:
(1) Praktek sihir di Samaria
Dalam Kisah Para Rasul 8:9-24 dicatat mengenai Simon (dalam tulisan2 post-apostolik disebut Simon Magus), ahli sihir dari Samaria (2) yang kemudian bertobat melalui pelayanan Rasul Filipus. Ia begitu takjub dengan tanda2 dan mujizat2 yang menyertai pelayanan rasul Filipus. Ketika rasul Petrus dan rasul Yohanes mengunjungi kota itu, ia kembali dibuat takjub dengan kuasa2 ajaib yang terjadi melalui penumpangan tangan mereka. Dan dia sangat ingin memiliki kuasa itu dan berusaha membelinya dari mereka. Niat hatinya yang jahat ini (yang semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri) diketahui oleh rasul Petrus yang kemudian menegur dia dengan amat keras. Atas hal itu, ia memohon kepada mereka supaya ia didoakan agar hukuman Tuhan tidak terjadi atas dirinya. Kisah ini berhenti sampai disini. Tetapi sejarah gereja telah mencatat bahwa Simon Magus ini kemudian menjadi seorang guru penting aliran “gnosis” (), suatu aliran sesat dalam kekristenan yang mengajarkan bahwa keselamatan juga dapat diperoleh melalui “pengetahuan khusus” dan bahkan bisa menjadi penyelamat bagi yang lain asalkan tahu bagaimana caranya (cara yang umum adalah askese).(3) Melalui dia paham gnostik menyebar dari Samaria hingga ke berbagai belahan wilayah lainnya. Jadi pertobatannya tidak membawanya menjadi saksi Injil yang benar seperti yang dilakukan oleh para rasul sesuai perintah Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8!!
Perlu diperhatikan: Orang2 Samaria sebelumnya telah mendengar dan percaya Injil melalui Kristus sendiri ketika Ia dan para rasul mengunjungi kota itu (Yohanes 4:39-42). Tetapi catatan dalam Kisah Para Rasul 8:9-11 menunjukkan betapa mereka mudah berbalik karena fenomena mujizat dan tanda2 ajaib dari Simon! Bukankah ini fenomena yang juga sedang melanda kehidupan sebagian besar umat Tuhan pada zaman ini?
(2) Praktek sihir di Siprus
Dalam Kisah Para Rasul 13:6-11 dicatat mengenai Bar-Yesus (Ibrani: Bar-Jehoshua atau Anak Yesus; Yunani: Elimas), seorang Yahudi di daerah Pafos di pulau Siprus yang adalah seorang ahli sihir dan nabi palsu. Ia adalah contoh dari salah seorang pemuka agama Yahudi yang menggunakan kedok agama, Taurat dan nubuatan para nabi dalam PL dibalik praktek2 sihir yang ia lakukan. Ia berusaha menghalangi Gubernur Siprus yang bernama Sergius Paulus yang ingin mendengar Injil dari Barnabas dan Saulus. Dikatakan bahwa ia “berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya” (ayat 8b). Matthew Henry memberikan data yang cukup baik mengenai orang ini,
“This Elymas was a pretender to the gift of the prophecy, a sorcerer, a false prophet—one that would be taken for a divine, because he was skilled in the arts of divination; he was a conjurer, and took on him to tell people their fortune, and to discover things lost, and probably was in league with the devil for this purpose; his name was Bar Jesus—the Son of Joshua which signify the Son of Salvation; but Syriac calls him, Bar-Shoma—the Son of Pride; filius inflationis—the Son of Inflation.” (4)
(3) Praktek sihir abad 3 M
Sejak awal kekristenan, mantra2 sihir telah dipergunakan dalam praktek2 pengusiran setan, penglihatan2, nubuatan. Penemuan kutipan mantra dari papyrus sihir Paris yang sangat terkenal pada abad 3 Masehi membuktikan bahwa praktek2 pengusiran setan, nubuat2, penglihatan2 dan penguatan2 keyakinan merupakan gabungan yang unik dari istilah2 dalam agama2 kafir, Yahudi dan Kristen. Berikut adalah salah satu contoh mantra sihir untuk melakukan mujizat pengusiran setan pada abad 3,
“Doa ini harus dibacakan di atas kepala (orang yang kerasukan). Letakkan ranting zaitun dihadapannya dan berdirilah dibelakangnya sambil berkata, ‘Hiduplah roh Abraham; hiduplah roh Ishak; hiduplah roh Yakub. Yesus Kristus yang kudus, Roh Kudus… (dan seterusnya yang merupakan rentetan kata2 yag tidak ada artinya)…usirlah Iblis dari orang ini, hingga roh Iblis yang jahat menyingkir dari hadapanmu. Kumohon kepadamu, O Iblis, siapapun engkau adanya, demi Allah Sabarbarbatioth Sabarbarbatiuth Sabarbarbatoneth Sabarbarbaphai. Keluarlah, O Iblis, siapapun engkau adanya dan lepaskanlah dirimu dari si…(sebutkan nama orang yang hendak disembuhkan) segera, segera, sekarang juga! Keluarlah, O, Iblis, karena aku akan merantaimu dengan rantai yang kukuh yang tak terpatahkan, dan akan kuserahkan kau kedalam kesesakan yang kelam dalam kebinasaan abadi.” (5)
Praktek di atas menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dari agama Kristen yang disalahtafsirkan dan juga disalahgunakan untuk kepentingan praktek2 ilmu hitam maupun ilmu putih (6) yang dapat mengakibatkan kejadian2 dahsyat yang orang sangka itu mujizat. Tidak dapat dipungkiri bahwa praktek seacam ini masih dapat ditemui dalam pelayanan2 mujizat kesembuhan ilahi!
(4) Praktek ‘mantra sihir’ dalam Word Faith
Word Faith adalah ajaran yang menjadikan kata2 firman Tuhan sebagai rapalan atau mantra. Praktek ini secara terselubung membawa manusia untuk meyakini bahwa keselamatannya bergantung kepada kata2nya dan menyangkali bahwa keselamatan hidupnya bergantung sepenuhnya kepada anugerah Tuhan. Ini adalah sebutan lain dari apa yang disebut “Positive Confession” yang dipopulerkan mula2 oleh Kenneth Hagin. Hagin berkata,
“Kamu akan memperoleh apa yang kamu ucapkan. Kamu dapat menulis tiketmu sendiri dengan Tuhan.
Langkah pertama adalah “Katakan”.(7)
Lebih lanjut ia mengatakan,
“Bila kamu berkata mengenai pencobaan, kesulitan2, kurangnya iman dan kekurangan uang – imanmu akan berantakan dan kering. Tetapi berkat Tuhan apabila kamu berkata tentang firman Tuhan…imanmu akan tumbuh berkelimpahan.” (8)
Ia menegaskan bahwa untuk sembuh, sehat, sukses, harus membuang kata-kata atau pikiran2 yang negative,
“Saya tidak pernah mengatakan mengenai kesakitan, saya berkata tentang kesehatan…Saya berkata mengenai kesembuhan. Saya tidak pernah berkata mengenai kegagalan. Saya percaya akan keberhasilan. Saya tidak percaya akan kekalahan. Saya percaya akan kemenangan, haleluya untuk Yesus.” (9)
Fakta berbicara bahwa banyak Pendeta/Penginjil atau orang2 awam yang mengklaim diri (diklaim oleh orang lain/pengikutnya) memiliki kemampuan supranatural – terang-terangan atau tidak – menjadikan diri mereka pahlawan penyembuh apabila terjadi kesembuhan, tetapi menyalahkan si penderita bila tidak terjadi kesembuhan dengan mengatakan bahwa si penderita kurang iman!
(5) Praktek Sihir dalam KKR Pemulihan Ilahi
Tidak dapat dipungkiri bahwa pelayanan2 kesembuhan ilahi dicampuradukkan dengan pemahaman atau keyakinan kafir. Ada hamba Tuhan yang dengan terang2an membelokkan makna Perjamuan Kudus sebagai sarana terjadinya berbagai mujizat atau menjadikan praktek pengurapan dengan minyak dan penumpangan tangan sebagai daya tarik. Tidak hanya itu, pengagungan terhadap karunia penyembuhan yang dimiliki oleh seorang hamba Tuhan (entah itu benar2 karunia atau tidak) menjadi alasan utama orang berduyun-duyun datang. Patut diperhatikan bahwa sebenarnya praktek2 seperti ini sejajar dengan praktek2 yang dilakukan oleh para yogi yang menguasai apa yang disebut dengan energi Prana yaitu energi universal yang menghasilkan semua bentuk energi lain (listrik, panas, nuklir) (10) yang dimanfaatkan bagi penyembuhan berbagai penyakit oleh ahli2 terapi metafisika (paranormal),
“Bila dikendalikan oleh seorang yogi yang terlatih, prana dapat diarahkan keseluruh tubuh manusia. Para yogi juga mempunyai teknik untuk menyimpan prana dalam tubuh mereka seperti menyimpan listrik dalam baterai. Dengan memanfaatkan energi ini, para yogi seakan-akan dapat melakukan mujizat. Pemanfaatan energi ini memungkinkan para yogi menyembuhkan diri mereka atau orang lain. Karena sifatnya universal, prana dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti dari makanan, air, meditasi dan lain-lain.” (11)
Alkitab (12) selalu berbicara agar umat Tuhan waspada (13) terhadap berbagai fenomena mujizat, nubuat, penglihatan, tanda2 ajaib dan daya tarik pengajaran2 yang menyesatkan:
Yeremia 14:14,
Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.
Yeremia 23:25,
Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi!
Yeremia 23:26,
Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri,
Yeremia 27:14, 15,
Janganlah dengarkan perkataan nabi-nabi yang berkata kepadamu: Janganlah kamu mau takluk kepada raja Babel! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu. Sebab Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi mereka bernubuat palsu demi nama-Ku, sehingga kamu Kuceraiberaikan dan menjadi binasa bersama-sama dengan nabi-nabi yang bernubuat kepadamu itu.”
Matius 7:15,
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
Matis 7:21-23,
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Matius 24:11, 24,
Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
Markus 13:22,
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.
2 Petrus 2:1,
Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
2 Korintus 11:12-15,
Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.
2 Tesalonika 2:2-15 (munculnya para tokoh/pemimpin sesat di dalam gereja),
• yang menyesatkan melalui nubuatan2, penglihatan, mimpi (ayat 2, “supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba”).
• yang melakukan tanda2 dahsyat (ayat 9, “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa2 perbuatan ajaib, tanda2 dan mujizat2 palsu, dengan rupa2 tipu daya jahat…).
Wahyu 13 (daya tarik Iblis untuk menyesatkan manusia),
• Mujizat kesembuhan (ayat 13)
• Kemampuan berbicara (ayat 11-12)
• Tanda2 ajaib (ayat 13-14a)
• Fanatisme kepada pemimpin rohani (ayat 14b-15).
• Kebanggaan dan arogansi komunitas (ayat 16-17)
Wahyu 20:10 (hukuman yang mengerikan bagi para nabi palsu dan yang mengikuti mereka),
“dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”
Kesimpulan
Manusia akan selalu berusaha memenuhi kepuasan logika dan panca indera terhadap hal2 yang sifatnya supranatural. Semakin hebatnya tantangan hidup dan masalah2 kehidupan, akan membuat manusia berusaha untuk mendapatkan solusi dari kekuatan2 yang berasal dari luar dirinya yang bersifat supranatural. Hendaknya setiap kita orang percaya waspada terhadap godaan ini, karena hal2 ini dapat menjadi pintu masuk bagi si jahat untuk menipu logika dan panca indera kita yang bukan saja tidak pernah puas tetapi juga lemah dalam memilah-milah kepalsuan ! Hendaklah setiap kita tetap peka terhadap gema peringatan dari firman Tuhan,
“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka
berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Kamu berasal dari
Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih
besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yohanes 4:1, 4). Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah
pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun
secara tertulis (2 Tesalonika 2:15).”
Catatan:
(1) Merryl C. Tenney, Survey Perjanjian Baru (judul asli: New Testament Survey). Malang: Gandum Mas, 1985, halaman 88.
(2) Bapa gereja, Justinus Martyr (meninggal tahun 165) yang juga berasal dari Samaria menulis bahwa Simon Magus pada zamannya dianggap oleh dewa tertinggi oleh orang2 Samaria yang disebut sebagai ‘kuasa Allah, Kuasa Besar’ (KPR 8:10). Lihat, Kenneth L. Barker & John Kohlenberger III, cons. Ed., NIV Bible Commentray: volume 2 New Testament. Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1994, p. 427.
(3) Untuk informasi yang lengkap, lihat Everett Ferguson, Backgrounds of the Early Christianity. 2nd Edition. Grand Rapids: Eerdmans & Co., 1993, pp. 284-285.
(4) Matthew Henry, Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible: vol. VI—Acts to Revelation. Virginia: Macdonald Publishing Company, ny., p. 160.
(5) George Milligan, Sellection From the Greek Papyri. Cambridge: The University Press, 1910, pp. 112-114.
(6) “Ilmu Hitam” merupakan istilah untuk menyebutkan kuasa2 ajaib yang merusak, membahayakan, mengancam atau mencelakakan manusia. Sedangkan “Ilmu Putih” merupakan istilah untuk menyebutkan kuasa2 ajaib yang menahan, menangkis, mengalahkan atau menyembuhkan hal2 yang diakibatkan oleh Ilmu Hitam. Kedua istilah ini sebenarnya sama saja menunjukkan keyakinan palsu manusia terhadap kuasa2 kegelapan.
(7) Kenneth Hagin, How To Write Your Own Ticket With God. Tulsa: Faith Library, 1979, p. 8.
(8) Ibid., p. 10.
(9) Ibid, pp. 20-21
(10) Ludzia, Tenaga Hidup. Halaman 37.
(11) Ludzia, h. 37-38.
(12) Ayat-ayat Alkitab dalam materi ini merupakan kutipan dari software terjemahan2 Alkitab versi 3.0 dari “SABDA: Online Bible Versi Indonesia” (Surakarta: Yayasan lembaga SABDA –YLSA, 2005). Dipergunakan dengan izin penuh dari YLSA.
(13) Waspada disini berarti ‘menilai dengan bijaksana, mempergunakan hikmat ilahi dibawah penerangan Roh Kudus melalui kebenaran firman, dan tidak mudah condong untuk menerima begitu saja fenomena2 rohani yang ada melainkan menguji dengan kebenaran firman Tuhan.’
KEKRISTENAN DAN PLURALISME: ADAKAH KRISTUS YANG LAIN? Sebuah Refleksi Terhadap Finalitas Kristus Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.min October 28, 2009
Latar Belakang
Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, khususnya di tengah negara seperti Indonesia. Meskipun demikian, perlu dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme. Hal ini penting untuk menghindari kekacauan atau kerancuan dari topik yang dibahas disini.
Kata Pluralitas mengacu pada konteks yang didalamnya kita hidup–suatu kompleksitas fenomena masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama dan ideologi–. Sedangkan Pluralisme adalah suatu paham, sikap yang menerima validitas atau keabsahan bahwa semua agama adalah sama. Perhatikan perkataan Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” ini, “Deep down, all religious are the same–different paths leading to the same goal.” (1)
Bagi kaum pluralis, masalah agama adalah masalah pribadi; sehingga tidaklah relevan untuk membicarakan benar tidaknya masalah agama. Mereka menolak segala bentuk klaim agama yang bersifat absolut, unik, normatif, eksklusif atau final(itas). Dalam spektrum pluralisme, setiap agama yang mengklaim dirinya absolut maka agama tersebut relatif atau absolut relatif.
Pluralisme bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan sebuah ‘doktrin’ teologis yang didasarkan kepada relativisme yang bersumber dari dunia barat yang ‘atomis’ dan pandangan Hindu ‘oseanis’ (2) sehingga, keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.
Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap pluralisme adalah topik yang akan dibahas dalam bagian ini. Penulis mencoba untuk menyeleksi aspek-aspek yang dianggap krusial pada saat ini untuk dipaparkan secara singkat dan kemudian ditutup dengan kesimpulan sebagai jawaban terhadap topik ini.
A. SEJARAH IDENTIK DENGAN KESELAMATAN
Pada umumnya, kaum pluralis menolak adanya penyataan khusus (baca: keselamatan dalam Yesus Kristus). Mereka beranggapan bahwa tidak ada penyataan yang berpredikat khusus dalam sejarah, Seluruh sejarah adalah penyataan Allah.
Choan Seng Song, salah seorang teolog pluralisme melihat bahwa seluruh sejarah adalah sejarah Allah sekaligus sejarah keselamatan. Ia menekankan bahwa waktu adalah ciptaan Allah dan milik Allah sendiri. Oleh karena itu segala waktu yang berlalu dalam sejarah menjadi milik Allah tanpa ada perbedaan. Sejarah bangsa-bangsa baik China, Indonesia bahkan Israel pun berada di dalam sejarah tindakan Allah. Song berkata demikian,
“…sejarah adalah di dalam Allah. Ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Allah tidak berdiri bertentangan dengan sejarah tetapi berada di dalam sejarah. Dan Allah itu bekerja di dalam sejarah melalui para nabi yang arif bijaksana, melalui para raja, petani; melalui kita semua…”(3)
Jadi, Song melihat (baik implisit maupun eksplisit); bahwa, sejarah bangsa-bangsa dalam sistem keagamaan maupun sosial, politik, kebudayaanya, adalah sejarah keselamatan yang identik dengan penyataan Allah. Tidak ada “sesuatu yang khusus” dari tindakan Allah bagi keselamatan manusia di muka bumi. Pandangan Song ini tidak berbeda dengan Paul F. Knitter yang menolak penyataan Allah dalam sejarah secara partikular dalam waktu, locus maupun persona tertentu seperti Israel dan sejarahnya, termasuk Yesus Kristus. Menurut Knitter, sejarah adalah “the march of God through the world.” (4) Dengan demikian masalah keselamatan tidak tergantung pada penyataan khusus (baca: Yesus Kristus), institusi agama, atau sistem kepercayaan tertentu karena Allah secara imanen telah, sedang, dan akan terus menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dalam konteks sejarahnya masing-masing.
Selanjutnya, kaum pluralis melihat bahwa Kristus adalah suatu manifestasi. Maksudnya: gelar Kristus adalah sesuatu yang kosmis–suatu gelar yang dapat dikenakan kepada setiap medium keselamatan, termasuk yang non religius– yang merupakan misteri ilahi yang imanen dalam sejarah dan budaya manusia pada tempatnya masing-masing. Raimundo Panikkar, teolog India mengungkapkan hal ini sebagai berikut:
“Realitas ilahi terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama. Dalam Hinduisme dikenal dalam Ishavara, dalam kekristenan dikenal dengan Yesus dari Nazareth. Namun Kristus itu lebih dari pada Yesus dan
tidak hanya dikenal melalui Yesus. Kristus sebagai misteri ilahi bukanlah suatu realita yang mempunyai banyak nama; tetapi, dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam berbagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan
menurut pandangan masing-masing agama.” (5)
Dari beberapa pandangan kaum pluralis di atas, nampak jelas bahwa tidak ada pemisahan antara “yang menyatakan” dengan “yang dinyatakan,” “yang mencipta” dengan “yang diciptakan” karena keduanya identik. Memang harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk memecahkan relasi antara penyataan dengan sejarah. Sejarah merupakan arena aktivitas Allah dan penyataan berada di dalam sejara; tetapi, tidak identik dengan sejarah secara keseluruhan, karena penyataan memiliki konotasi “aktivitas Allah yang khusus” (baca: aktivitas penyelamatan). Pluralisme mengidentikan sejarah dengan sejarah keselamatan karena konsep yang humanistis-anthroposentris. Memang benar Allah masih mengontrol jalannya sejarah; tetapi, apabila mencampuradukkan sejarah dengan penyataan khusus secara mutlak tanpa melihat unsur-unsur demonik dan kebobrokan manusia, akibatnya adalah fatal. Karena bila hal ini terjadi maka peristiwa Ambon, Maluku, Aceh, Poso, Bom Bali, Bom JW Marriot, dan sebagainya, dapat di klaim sebagai “tindakan dalam ketaatan terhadap Allah”!
Kegagalan dalam melihat fakta dari karya penyelamatan Kristus di dalam sejarah boleh jadi karena ketidakmampuan untuk mengenali Dia. Yohanes benar ketika ia menulis dalam injil, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:10,11). Dan tidak pernah ada di dalam sejarah sebuah pernyataan yang begitu dahsyat dan menggetarkan setiap hati kesaksian dari mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Ia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia…Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yohanes 1:29-31, 36).
B. SEMUA JALAN MENUJU KE ROMA
Pluralisme menolak keyakinan terhadap universalitas dan partikularitas Kristus. Yang dimaksudkan dengan ‘universalitas’ disini adalah bahwa Yesus dari Nazareth adalah satu-satunya mediator keselamatan bagi manusia. Sedangkan ‘partikularitas’ (baca: eksklusif) untuk menjelaskan universalitas Injil (yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus) hanya efektif apabila di terima dengan iman. Keselamatan tidak berlaku secara otomatis sebagaimana halnya di anut oleh kelompok universalisme.
Memang beberapa teolog seperti Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Victor I. Tanja; mengakui bahwa, keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus tetapi dengan catatan bahwa Yesus Kristus itupun juga dapat hadir di luar tembok kekristenan. Sehingga sangatlah tidak bijak untuk membicarakan masalah hidup kekal dengan membedakan surga dan neraka. Alasan yang paling mendasar adalah karena Kristus itu kasih adanya sehingga tidaklah mungkin ada neraka atau tempat penghukuman yang kekal. J.A.T. Robinson dan N.S Fere berpendapat bahwa bila neraka ada maka surga hanya akan menjadi tempat dukacita abadi untuk meratapi mereka yang terhilang.(6)
Gustave H. Todrank melihat Kristus dari sisi yang lain. Baginya Kristus tidaklah sinonim dengan Yesus. Dalam bukunya “The Secular for a New Christ” ia melihat Kristus dalam konteks Alkitab yang berarti “yang diurapi Tuhan” sebagai suatu gelar yang lebih menunjuk kepada peranan dan fungsi dari pada nama pribadi. Lebih jauh ia menambahkan: karena di dalam Alkitab banyak orang yang diurapi Tuhan maka Kristus tidak boleh disinonimkan dengan Yesus. Baginya Yesus adalah “salah satu Kristus” atau “a Christ”, bukan “the Christ”. (7) Bila pandangan ini menjadi patokan aplikatif maka dapatlah dianggap bahwa Gandhi, Mao Tse Tung, Martin Luther King, Calvin, Luther, dan lain-lain, dapat disebut sebagai “kristus-kristus” yang lain. Hal inipun sesuai dengan pemahaman kaum pluralis yang memandang sejarah identik dengan sejarah keselamatan yang dinyatakan dalam setiap budaya, bangsa, individu, dan agama!
Apapun bentuknya, kaum pluralis telah menolak keunikan dari pada Kristus berdasarkan pernyataan dari Kitab Suci: “diselamatkan oleh anugerah.” Jelas disini bahwa arti dan makna anugerah Allah disia-siakan sedemikian rupa, karena anugerah baru dipandang sebagai anugerah apabila tanpa persyaratan. Anugerah dengan persyaratan bukanlah anugerah. Bila Allah benar-benar menganugerahkan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang maka IA tidak tergantung terhadap sikap pribadi seseorang. Apakah ini benar?
Akibat konsep yang humanistis-anthroposentris ini; maka, pluralisme telah mengakui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa agama, kepercayaan, dan keyakinan apapun semuanya memiliki tujuan dan akibat yang sama. Buddha, Hindu, Islam, Kebatinan/Kejawen, Kong Hu Cu hanya berbeda “kulit dan bajunya” tetapi “isi”nya sama saja. Dengan demikian dapat juga dikatakan disini bahwa mereka mengabaikan istilah ataupun konsep berhala atau ilah zaman. Tidak ada yang menyembah patung, kayu, batu atau obyek-obyek tertentu yang dipakai sebagai “medium” untuk kontak dengan “realitas ilahi.” Kalau orang kristen mencap tradisi atau kepercayaan lain sebagai penyembah berhala maka kekeristenan adalah penyembah berhala karena memberhalakan Yesus! Tom F. Driver salah seorang penulis artikel dalam buku “The Myth of Christ Uniqueness” mengistilahkan pemberhalaan kepada Kristus itu dengan istilah “Christolatry” (8) sebagai ungkapan pluralisme menolak klaim kekristenan yang meyakini kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya “Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14:6).
Kaum Pluralis meyakini bahwa klaim ini hanya berlaku bagi kekristenan saja dan tidak berlaku bagi kalangan lain. Menurut mereka klaim ini baru berlaku jika dalam konteks dimana Kristus mencakup semua yang benar dalam agama lain. Karena seluruh kebenaran bersumber dari Allah maka kebenaran-kebenaran dan kebaikan yang ada dalam agama lain harus dihubungkan dengan Kristus. (9)
Akan tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat di lihat, dirasakan dan dialami melalui nama-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).
C. MISI IDENTIK KEPENTINGAN DUNIA DAN MANUSIA
Pluralisme melihat misi sebagai upaya memperluas kerajaan Allah di bumi. Harus di akui bahwa ada kebenaran yang terkandung dari cara pandang ini. Akan tetapi penekanan misi disini adalah bahwa kerajaan Allah itu tidak hanya meliputi gereja dan kekristenan tetapi mencakup segala sesuatu. Menurut mereka, salah satu faktor yang dominan mendatangkan konflik dan perpecahan diantara umat manusia adalah masalah agama. Masalah ini hanya dapat diatasi apabila semua agama membuang sikap yang berpusat pada diri sendiri seperti: doktrin atau kerygma. (10)) Barangkali lagu “Imagine” yang dinyanyikan oleh John Lenon dapat menjadi gambaran nyata dari pengharapan mereka ini.
Pemahaman misi yang rancu karena menganggap bahwa misi kristen haruslah misi kasih dan bukanlah terutama kebenaran karena kebenaran memilah, menghakimi dan mempolarisasikan menjadi permasalahan yang fatal untuk diterima oleh seorang yang menyebut diri kristen yang sejati. Perhatikan pernyataan yang tanpa salah dari Song yang mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat menyatukan yang tidak dapat dipersatukan; hanya kasih yang mampu melakukannya.(11)
Latar belakang pemikiran bahwa misi tidaklah terutama untuk memberitakan kebenaran didasarkan pada konsep “misi adalah mengembangkan kerajaan Allah.” Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ini adalah apabila gereja dapat bekerjasama dengan dunia. Tekanan misi bukanlah masalah surga karena surga adalah “urusan Allah.” Tentang hal ini Song berkata, “Kita tidak boleh mencampurinya karena kita hanya akan dapat merusaknya”. (12) Tekanan misi harus dititik-beratkan pada kepentingan manusia dan dunia. Rene Padila dalam ceramahnya “Evangelization & The World” ketika mengatakan bahwa seluruh injil untuk seluruh manusia dan seluruh dunia, ia memaksudkannya sebagai pemulihan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa injil harus menjadi hub ungan manusia dengan “dunia-dunia dimana Kristus mati”. (13)
Hal ini memunculkan strategi baru dalam metodologi misi yang kemudian sangat dikenal dengan istilah dialog antar agama. Victor I. Tanja mengatakan bahwa metodologi misi yang paling sesuai dan kontekstual dengan Indonesia pada saat ini adalah dialog dan bukan penginjilan. (14) Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dialog bersifat lebih rasional dan dapat diterima dalam setiap element yang berbeda karena mampu menciptkan sikap saling keterbukaan, belajar satu dengan yang lain, saling memberi, tumbuh bersama untuk mencapai tujuan. Tujuan tersebut adalah: terciptanya harmoni dan kesejahteraan umat manusia. Akibat pemahaman metodologi misi yang demikian maka segala resiko yang mungkin terjadi dalam setiap kesempatan harus dipandang sebagai jalan terbaik. Salah seorang teolog reformed yang terpengaruh dengan gerakan pluralisme ini adalah Prof. JG. Davis mengatakan bahwa, “…Kita harus rela menghadapi suatu resiko, apabila menemukan bahwa iman agama lain itu lebih baik/benar dari pada iman Kita sendiri…”. (15)
Pada kenyataanya metodologi misi ini yang lazim dikenal di Indonesia sebagai dialog antar umat beragama (inter-faith dialog) lebih banyak menghasilkan ‘pertobatan’ kristen terhadap iman agama lain. Di Inggris dan negara-negara lain di Eropa semakin marak dengan ucapan dan ungkapan pengakuan orang-orang berlabel kristen terhadap ‘iman yang benar’ dalam agama lain tersebut. Malcolm Archeson, Vicarius gereja Tisbury-England mengatakan bahwa Tuhan orang Islam dan Tuhan orang kristen adalah sama. (16) Sebuah pernyataan yang sangat sulit untuk diucapkan oleh non-kristen sendiri.
Sesungguhnya kita diingatkan kembali kepada misi Tuhan Yesus Kristus ketika IA masih berada di dalam dunia ini, dari awal kehidupan dan pelayanan-Nya hingga kenaikan-Nya ke sorga. Ia pernah berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mencari domba-domba yang tersesat (Matius 18:12-14). Bahkan Ia menyatakan bagaimana seharusnya umat-Nya mengaku iman percaya mereka kepada-Nya, “Setiap orang yang mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga mengakuinya didepan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di sorga.” (Matius10:32,33).
Dalam terang kebenaran Alkitab misi dalam konsep pluralisme adalah suatu upaya untuk membangun dunia demi kesejahteraan dan kemaksmuran bersama tanpa memperhatikan hal-hal di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya yaitu dosa dan segala akibatnya. Tentu saja hal ini akan sangat fatal akibatnya…dan mungkin hanya merupakan pengulangan sejarah dari Menara Babel di dalam kitab Kejadian 11:1-10!!
Kesimpulan
Pluralisme menolak finalitas Kristus yang merupakan dasar dari iman kristen. Juga pluralisme merupakan suatu ajaran “anti Kristus” yang menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan “kristus-kristus palsu” atau “kristus yang kosmis panteistis.” Satu hal penting yang tidak dapat disangkali bahwa pemahaman ini justeru muncul dari dalam kekristenan sendiri melalui oknum-oknum tertentu yang pengaruhnya tidak hanya di dalam tembok kekritenan lokal saja melainkan telah mendunia. Pada masa sekarang keberadaan ajaran inipun terus mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya seiring dengan semangat humanisme global modern.
Gereja harus menolak pluralisme karena bersifat sinkretis; mencampuradukkan segala macam ajaran agama yang diyakini memiliki kebenaran-kebenaran tertentu yang saling melengkapi. Gereja harus sadar akan bahaya dan fenomena dari ajaran ini yang dalam konteks kultural cukup mendapat angin untuk berkembang dengan subur dan kemudian merongrong wibawa kekristenan. Pluralisme perlu diwaspadai khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan potensial menjadi lahan yang subur untuk berkembang dan menghambat serta mengancam kelangsungan eksistensi dan misi kristen yang tergantung pada fondasi keunikan dan finalitas Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator Keselamatan. Umat Tuhan yang sejati perlu dengan bijaksana dan berhikmat mengingat akan kata-kata dari sang Juru Selamat sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6).”
Catatan:
(1) Paul F. Knitter, No Other Name? (New York: Orbis Books, 1982). P. 37.
(2) David Ndoen, Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah, 1995). P. 1. Bersifat “atomis” menunjukkan kepada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang berkembang berasal dari satu ledakan inti. Hal ini untuk menggambarkan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan sebenarnya berakar dari satu inti yang sama. Sedangkan bersifat “oseanis” untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu itu mengalir ke satu tujuan yang sama dimana manusia tidak berkuasa untuk memilah-milah mana yang benar dan yang salah karena pada dasarnya segala sesuatunya itu sudah ada filternya tersendiri.
(3) Choan Seng Song, Allah Yang Turut Menderita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). P. 81
(4) Paul F. Knitter, No Other Name? halaman. 25.
(5) Victor I. Tanja, Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Halaman 123-124.
(6) R.B. Kuyper, For Whom Did Christ Die? (Grand Rapids: Baker Book House, 1959). Pp.13-14.
(7) Yarman Halawa, Karya Keselamatan Yang Efektif Bagi Umat Pilihan Allah Dan Relevansinya Dalam Misi: Sorotan Terhadap Gerakan Misi Arminianisme dan Universalisme. (Pacet: Skripsi S1, 1999). Halaman 84.
(8) John Hick & Paul F. Knitter, The Myth Of Christian Uniqueness. (London: SCM, 1987). Pp. 214-215.
(9) Untuk lebih jelas lihat Lilian Tedjasudhana. Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan Keselamatan Satu-Satunya, (Jakarta: Yayasa Bina Kasih/OMF, 1996). Judul asli: What’s So Unique About Jesus?
(10) Knitter, p. 41.
(11) Song, halaman 90.
(12) Ibid., halaman 89-91.
(13) Gerald H. Anderson & Thomas F. Stransky., Missions Trends No. 2: Evangelization. (Grand Rapids: Paulist Press, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978). Pp. 46, 52-55).
(14) Lihat Tanja, halaman 4-6.
(15) J.D. Douglas, ed. Let The Eartyh Hear His Voice. (Minneapolis: Worldwide Publishers, 1975). P. 72.
(16) Herlianto, Gereja Modern Mau Kemana? (Bandung: Yabina, 1995). Halaman 78.
KEPUSTAKAAN
Alkitab
Anderson, Gerald H. & Stransky, Thomas F., Missions Trends No. 2: Evangelization.
Grand Rapids: Paulist Press, 1978.
Douglas, JD., Let The Earth Hear His Voice. Minneapolis: Worldwide Pub. 1975.
Hick, John & Knitter, Paul F., The Myth of Christian Uniqueness. London: SCM, 1987.
Herlianto., Gereja Modern Mau Kemana?. Bandung: Yabina, 1995.
Halawa, Yarman., Karya keselamatan yang Efektif bagi Umat Pilihan Allah Dan
Relevansinya Dalam Misi: Sorotan terhadap Gerakan Misi Arminianisme Dan Universalisme (skripsi S1). Pacet: STTIAA, 1999.
Kuyper, RB., For Whom Did Christ Die? Grand Rapids: Baker Book House, 1959.
Knitter, Paul F., No Other Name? New York: Orbis Books, 1985.
Ndoen, David., Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah). Sihanjung, 1995.
Song, Choan Seng., Allah Yang Turut Menderita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Tanja, Victor I., Spiritualitas, Pluralitas Dan Pembangunan Di Indonesia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994.
Tedjasudhana, Lilian., Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan keselamatan Yang
Satu-Satunya. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996. Judul asli: What So Unique About Jesus?.