Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

MELANGKAH BERSAMA TUHAN (Yosua 3:3-5) February 14, 2010

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 11:36 pm

MELANGKAH BERSAMA TUHAN (Yosua 3:3-5)

Bersyukur kita sudah menginjakkan kaki kita masuk dalam Tahun Baru. Banyak orang pada akhir tahun berusaha mencari tahu atau mempredeksi apa yang bakal terjadi pada tahun depan. Baik melalui metode yang bersifat mistik melalui berbagai macam ramalan paranormal, atau dengan metode iptek yang canggih termasuk media cetak dan media elektronik. Tuhan memang tidak pernah memberi tahu kepada kita apa yang bakal terjadi besok, minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Ada 2 maksud Tuhan tidak memberi tahu kepada kita apa yang bakal terjadi:
1. Agar kita dapat menikmati segala anugerah yang Tuhan siapkan di depan kita dan terbebas dari segala macam kekuatiran yang tidak perlu.
2. Agar kita belajar selalu beriman dalam setiap langkah hidup kita.

Jika Tuhan menunjukkan semua yang bakal terjadi baik yang baik, maupun yang buruk, maka kita pasti dipenuhi kekuatiran dan tidak dapat menikmati apa yang ada di depan kita. Contoh: jika kita tahu bulan depan akan beroleh keuntungan yang besar dalam bisnis, tiga bulan lagi kedudukan kita akan naik, tahun depan keluarga kita akan bertambah seorang anak yang pintar, tentu kita akan sangat suka cita, tetapi bagaimana jika kita tahu kalau lima tahun lagi kita akan menderita sakit kanker yang ganas? Tentunya semua berkat yang kita terima itu tidak ada artinya sama sekali bukan? Tuhan tidak menghendaki kita terus dilanda kekuatiran, tepat seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat.6:34). Di samping itu Tuhan juga mengajar agar kita selalu memiliki iman untuk menapaki jalan di depan dengan satu keyakinan setiap langkah Tuhan selalu menyertai kita, tepat seperti Pemazmur berkata: “ TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24).

Ketika bangsa Israel siap untuk masuk negeri Kanaan, Tuhan mengajar mereka terlebih dahulu dengan 3 macam pelajaran rohani:

1. Iman
Alkitab menegaskan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr.11:1) Ketika bangsa Israel akan masuk negeri Kanaan yakni negeri perjanjian Tuhan yang penuh dengan susu dan madunya, Yosua berkata: “Sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu” Mereka harus melewati jalan yang sama sekali belum pernah dilalui, oleh sebab itu, mereka harus sepenuhnya bersandar pada Tuhan, demikian juga halnya dengan kita ketika memasuki tahun ini. Apa yang bakal terjadi dalam tahun ini, kita tidak tahu, tetapi hal itu tidak membuat kita berkecil hati, karena semuanya sudah Tuhan atur dengan sempurna demi kebaikan kita. Tuhan tidak putus-putusnya mengajarkan pelajaran iman kepada umat-Nya Israel, karena pengalaman menunjukkan bahwa walaupun Tuhan tidak pernah berhenti menyatakan perbuatan-Nya yang besar dan ajaib selama 40 tahun di padang gurun, namun mereka tetap bersungut-sungut dan bimbang ketika menghadapi kesulitan. Sekarang mereka siap masuk ke dalam negeri perjanjian, tetapi bukan berarti akan bebas sama sekali dari segala kesulitan, sebaliknya kesulitan demi kesulitan tetap siap menghadang mereka. Bukan saja kesulitan alam ketika menyeberang sungai Yordan, juga masih banyak musuh yang menanti mereka, pada hal bangsa Israel tidak memiliki pengalaman sama sekali untuk menghadapinya. Satu2nya cara yang paling tepat ialah selalu dengan iman bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Ketika kita akan meninggalkan tahun yang telah lewat, dalam kilas balik kita akan mengingat ingat pimpinan dan anugerah Tuhan sepanjang satu tahun yang memberi kekuatan kepada kita untuk melewatinya, tetapi apakah pelajaran rohani yang penting ini menyebabkan kita makin mengenal Tuhan dan makin bersandar kepada-Nya? Apakah iman kita makin hari makin kuat, tambah tahun tambah kuat? Apakah kita tetap setia mengikut Tuhan dengan memelihara hubungan kita kepada-Nya setia waktu? Kalau sungguh jujur, kenyataannya pasti tidak demikian bukan? Sering kali justru sebaliknya: berapa besarpun mujizat yang pernah kita alami dengan pertolongan Tuhan, akan begitu cepat kita lupakan ketika kita menghadapi jalan buntu atau kesulitan yang besar yang sedang berada di depan kita. Mari kita perhatikan: Bukankah bangsa Israel dengan mata kepala sendiri melihat Tuhan membelah laut Merah? Bukankah mereka melihat Tuhan menurunkan manna dari sorga? Bukankah mereka melihat perlindungan Tuhan siang malam melalui tiang awan dan tiang api selama 40 tahun? Iman pada hakekatnya bukan sekedar suatu tingkatan, dalam arti, bukan berarti seperti ilmu bela diri atau silat yang makin dilatih akan makin kuat, atau makin banyak pengalaman, maka akan makin tinggi ilmunya, melainkan lebih cenderung seperti kesehatan kita yang sangat bergantung pada suatu kondisi. Ketika kita mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, ditambah dengan istirahat yang cukup, juga olah raga yang teratur maka kesehatan kita akan makin meningkat, tetapi apabila kita lalai menjaga kesehatan, maka segera akan menurun dengan drastis, bahkan kita akan jatuh sakit. Oleh sebab itu, menjaga hubungan selalu dengan Tuhan adalah metode yang paling ampuh dalam menjaga kondisi iman kita. Kiranya peringatan Tuhan melalui hamba-Nya Yosua juga sekali lagi mengingatkan kita untuk melangkah dengan iman memasuki tahun yang baru ini.

2. Kesucian diri
Malam menjelang bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, Yosua berkata kepada mereka: “Kuduskanlah dirimu” Sungguh suatu hal yang sangat mengherankan, suatu umat yang besar dengan jumlah dua setengah juta orang, ketika siap akan menyeberang sungai yang tengah meluap airnya, Yosua tidak menyuruh mereka segera membuat jembatan, atau perahu, tetapi Yosua memerintahkan mereka untuk menguduskan dirinya. Kesulitan yang dihadapi bangsa Israel bukan saja terbatas pada menyeberangi sungai Yordan, tetapi ada musuh yang kuat dengan benteng yang tangguh sedang menghadang mereka. Yosua tidak memerintahkan mereka untuk menyiapkan perlengkapan senjata yang memadai untuk menghadapi musuh, melainkan hanya memerintahkan agar mereka menguduskan dirinya.

Sebenarnya dosa apa saja yang telah dilakukan bangsa Israel sehingga membuat Tuhan begitu marah kepada mereka? Paulus memberi sedikit gambaran yang menjadi peringatan bagi kita bersama: “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: “Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang. Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular. Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut (I Kor.10:6-10)

Ada 2 macam dosa zinah yang sangat dibenci Tuhan yakni zinah rohani dan zinah jasmani. Yang dinamakan zinah rohani yakni kita telah berpaling kepada berhala atau illah lain, tidak sepenuh hati melayani Tuhan, bahkan menggantikan kedudukan Tuhan dalam hati dengan hal-hal duniawi ini. Sedangkan zinah jasmani ialah berbagai macam dosa percabulan baik yang nyata dalam perbuatan atau hanya dalam pikiran saja. Kesucian hidup adalah sangat penting bagi kita anak-anak Tuhan, karena tanpa kesucian kita tidak dapat melihat Allah (Ibr.12:14) Kesucian adalah hal yang abstrak yang mudah dipalsukan dan sulit untuk dinilai kesungguhannya, karena itu iblis selalu dengan kemunafikan menutupi dosa yang tersembunyi dalam hati kita. Kita tidak takut berapa besar kesulitan yang ada di depan kita, kita tidak takut berapa besar kekuatan musuh yang sedang menanti kita, tetapi kita harus merasa gentar apabila Tuhan meninggalkan kita, karena kita tidak bisa hidup suci di hadapan Tuhan. Tanpa kesucian, semua jembatan dan semua perahu yang disiapkan untuk menyeberangi sungai Yordan akan sia-sia. Mari kita belajar selalu hidup suci dalam menapaki tahun 2009 ini.

3. Ketaatan
Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu–sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai– maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho. Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan (Yosua 3:14-17)

Satu pelajaran rohani lagi yang penting yang diberikan Tuhan kepada orang Israel di dalam menyeberangi sungai Yordan, yakni taat sepenuhnya akan pimpinan Tuhan. Perhatikan: Para imam pengangkat tabut perjanjian Tuhan berjalan di depan dan iring-iringan bangsa Israel mengikutinya dari belakang. Tidak terbalik: bangsa Israel jalan di depan lalu para imam dari belakang. Ini merupakan sebuah symbol dari kepemimpinan rohani yang tidak boleh di bolak-balik dan di utak-atik. Tabut Perjanjian yang di angkut oleh para imam adalah melambangkan kehadiran Allah dan penyertaan-Nya. Ini berarti bahwa di dalam segala hal kita patut mendahulukan kehadiran Tuhan dan kita mendahulukan Tuhan berjalan di depan dan kita mengikutinya dari belakang.

Mari kita ingat juga bahwa pada saat itu Tuhan tidak langsung menghentikan aliran sungai lebih dulu, sampai kaki para imam pengangkat tabut perjanjian menginjak air sungai sesuai dengan perintah Tuhan. Dan ketika mereka taat sepenuhnya menghormati pimpinan Tuhan melalui Tabut Perjanjian yang di angkut oleh para imam; maka, mujizatpun terjadilah! Aliran air sungai Yordan terputus sama sekali, suatu kuasa yang ajaib telah membendung aliran sungai sehingga bangsa Israel tanpa kesulitan boleh menyeberangi sungai Yordan.

Jalan di depan kita masih panjang. Barangkali mujizat yang seperti itu tidak lagi terjadi pada hari ini. Tuhan barangkali tidak akan menghentikan semua aliran sungai yang ada di depan kita. Tetapi mari tidak menjadi putus asa, takut, khawatir, kecewa karena barangkali itulah saatnya Dia menghendaki kita terus melangkah di dalam iman, kesucian dan ketaatan pada-Nya. Kehadiran Tuhan dan penyertaan-Nya dalam memasuki Tahun Baru ini jauh lebih penting dari pada semua pengalaman dan ketrampilan yang kita miliki. Mari kita dengan iman, kesucian dan ketaatan masuk dalam tahun 2009, agar dalam tahun ini juga kita akan menyaksikan banyak mujizat Tuhan terjadi dalam setiap aspek kehidupan kita. Tuhan memberkati anda sekalian, Amin. Selamat Tahun Baru 2009.

 

SAHABAT ALLAH YANG SEJATI (Yohanes 15:9-17) by Pdt. Yarman Halawa, D.Min October 29, 2009

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 4:05 am
Tags: , , , , , , , ,

Apa artinya menjadi Sahabat Allah?
Di dalam Alkitab (PL maupun PB), kata “sahabat” memiliki pengertian yang sama dengan kata “orang yang dikasihi” menunjukkan bahwa orang yang menjadi sahabat Allah itu adalah orang yang telah menerima kasih karunia Allah. Hal ini berarti bahwa kita tidak mungkin bisa menjadi sahabat Allah kecuali Allah sendiri telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kecuali Sdr dan Saya telah terlebih dahulu dikaruniai iman oleh Allah yang memampukan kita untuk percaya bahwa Dia adalah Tuhan, barulah kita bisa disebut “sahabat Allah.” Contoh: Alkitab menyebut Abraham sebagai “sahabat Allah.” Tetapi Alkitab juga menegaskan bahwa sebutan itu ia peroleh bukan karena kemampuannya mengambil hati Allah, berbaik2 dengan Allah, bermanis2 dengan Allah, dst, tetapi karena ia percaya kepada Allah. Yakobus 2:23, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Memperhitungkan (ellogeo) merupakan istilah keuangan yang berarti “menaruh dalam rekening seseorang.” Artinya “sebagai orang berdosa, sebenarnya buku bank rohani Abraham itu kosong. Ia bangkrut. Sudah tidak punya apa2 lagi. Namun oleh kasih karunia Allah, ia percaya kepada Allah dan Allah menaruh kebenaran didalam rekening bank rohani Abraham secara cuma2, sehingga ia menjadi orang yang dibenarkan dihadapan Allah, memiliki jaminan hidup kekal surgawi.” Itulah yang menyebabkan Abraham disebut “sahabat Allah” atau “yang dikasihi Allah.” 2 sebutan yang berbeda ini namun memiliki pengertian yang sama diberikan kepada Abraham (contoh: 2 Tawarikh 20:7, “…Abraham, sahabat-Mu (Ibr. ‘aheb’)…” Yesaya 41:8, “…Abraham, yang Kukasihi (Ibr. ‘aheb’).
Q: Apa pengaruh dari menjadi Sahabat Allah bagi hidup kita?

1. Semakin Mengasihi Allah dengan Pola Pikir yang Benar
Menjadi sahabat Allah berarti memiliki pola pikir yang benar didalam mengasihi Allah. Banyak orang mengaku mengasihi Allah, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengasihi pada level mana? Ada 3 level penyataan kasih: (1) I Love You because I need you – my need (Lowest Level): if You fulfilled ‘ll follow You, if You show your miracles I’ll serve You, I’ll trust, etc. (2) I Love You because legality of my religion – I’m a Christian so I must love God (Medium Level): produce kehidupan keagamaan yang terpaksa, ke gereja/persekutuan, memberi sesuatu entah untuk pekerjaan Tuhan atau bukan, melayani, etc. (3) I Love You because You’re the Only Lord in my life – I want to learn how I can love You, more and more, like You do (higher level): produce serve and sacrifice. Hanya orang2 pada level inilah yang layak disebut sebagai sahabat Allah karena mengerti bahwa menjadi Sahabat Allah itu berarti melayani dan rela berkurban bagi Tuhan sebagai buah dari kehidupan percayanya. Ini harus menjadi standar hidup percaya kita. Inilah harta terbesar yang harus kita perjuangkan. Di dalam keluarga harta terbesar adalah kasih yang tetap terpelihara kepada Allah yang dinyatakan dengan bukan hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga melayani dan mau berkurban bagi kemajuan pekerjaan-Nya di bumi ini. Di dalam gereja, harta terbesar adalah orang2 yang sungguh2 mengerti bahwa tujuan utama hidupnya yang sementara di tengah dunia ini adalah untuk melayani Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan melalui kerelaan berkurban bagi Tuhan dan gereja-Nya.

Sdr, perhatikan bahwa instruksi kepada para murid dalam teks ini disertai dengan berkat Allah bagi mereka, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepada-Mu.” Ini berarti: Allah akan memberkati setiap orang, setiap keluarga, setiap gereja yang sungguh hati mengasihi Allah dengan pola pikir yang benar. Dan Allah akan mendengar doa setiap orang, setiap gereja, setiap keluarga yang sungguh hati mengasihi Allah dengan pola pikir yang benar.

2. Dapat menikmati Kehadiran Allah Dalam Segala Situasi Kehidupan
Seorang yang benar2 sahabat Allah akan senantiasa menikmati kehadiran Allah secara langsung disetiap langkah perjalanan hidup (pahit atau manis, senang atau susah, sukses ataupun gagal), sehinga ia tetap kuat, tekun, makin indah hidupnya, makin berkenan dan benar hidupnya dihadapan Tuhan. Ia selalu melihat setiap kondisi kehidupan sebagai bagian dari perjalanan hidup iman, sehingga ia semakin menghargai kehadiran Allah dalam hidupnya. Kadangkala lewat berbagai sikon hidup yang sedang kita hadapi, Ia memberikan kita kesempatan untuk membuktikan diri bahwa kita adalah sahabat Allah yang sejati atau dengan kata lain, sikap terhadap ‘sikon’ yang sedang kita hadapi akan menentukan layak atau tidakkah kita ini disebut sebagai Sahabat Allah.  Dalam peristiwa penyaliban Yesus, ada 2 penjahat yang turut disalibkan. Sama2 penjahat. Sama2 disalibkan dengan Yesus. Sama-sama diberi kesempatan untuk menikmati kehadiran Allah melalui Yesus Kristus yang disalibkan bagi dosa manusia, termasuk dosa mereka. Tetapi yang satu mau percaya dan menyadari dirinya sebagai orang berdosa dan membutuhkan pertolongan Tuhan sedang yang satu tetap berkeras hati, menyebabkan ia kehilangan berkat surgawi yang besar. Siapa yang terbukti sebagai Sahabat Allah dalam peristiwa ini? Ya, penjahat yang bertobat itu!

Yesus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan Sdr dan Saya adalah Sahabat Sejati yang selalu hadir dalam perjalanan hidup kita, bahkan, ketika kita sedang berada dalam suasana ‘sikon’ hidup yang paling berat sekalipun. Penegasan: Konteks Yohanes 15 salah satunya adalah pengajaran yang mempersiapkan para Rasul untuk menghadapi segala ‘sikon’ termasuk yang terburuk sekalipun oleh karena mereka mengikut dan melayani Allah. Akhir hidup mereka semua (kecuali Yudas) membuktikan bahwa mereka adalah sahabat Allah yang sejati (Petrus – salib terbalik, Tomas – di tombak mati di Coromandel, India Timur, Yakobus – dipenggal, yang lainnya nasibnya tidak lebih baik..kecuali Yohanes yang melewati hidup yang penuh kesulitan sampai akhirnya menerima kitab Wahyu di P. Patmos dan mati disana dalam usia tua).

Q: Bagaimana dengan kita? Adakah kita selalu berpikir bahwa kita benar2 telah menjadi Sahabat Allah apabila jalan2 hidup kita selalu diwarnai dengan berkat yang berupa keberhasilan, materi berlimpah, sejahtera, kondisi yang selalu enak dan nyaman? Adakah kita selalu berpikir bahwa hidup ini tidak lagi punya nilai, tidak lagi berharga oleh karena tidak memiliki ini dan itu, oleh karena kondisi lahiriahku yang jelek, tidak menarik dan penuh dengan masalah? Ataukah kita selalu bisa melihat bahwa dalam segala ‘sikon’ apapun kita sedang dibentuk dan diberkati oleh Allah untuk lebih bisa menikmati kehadiran-Nya dalam hidup kita?

Kebenaran firman ini sekali lagi menegaskan: Apapun ‘sikon’ yang sedang Sdr hadapi atau alami saat ini (kesehatan yang terganggu, kondisi ekonomi yang sulit pada hari ini, usaha dan pekerjaan yang sulit, mengalami kekecewaan, sedang patah hati atau patah semangat, merasa ditinggalkan, dst,) jangan engkau kecewa, putus asa, menyerah, undur dari gereja/persekutuan, atau berpikir tinggalkan Tuhan….Justru bangkitlah!!! Jadikan ‘sikon’2 yang demikian sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa Sdr adalah Sahabat Allah yang sejati. Ingat: Yesus adalah sahabat yang tidak pernah meninggakan Sdr. Mazmur 25:14 mengatakan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Tuhan adalah sahabat yang selalu hadir menyertai, menghibur, menolong, menguatkan dan memelihara kehidupan Sdr dan Saya yang sungguh2 menjadi sahabat Allah yang sejati.

3. Sanggup Mengasihi Sesama dengan Kasih Ilahi
Seorang Sahabat Allah yang sejati sanggup mengasihi sesamanya dengan kasih ilahi. Perintah untuk saling mengasihi dalam Yohanes 15 tidak hanya memiliki dimensi ekslusif (mengasihi segelintir orang), tetapi berdimensi inklusif (mengasihi semua orang) cf. ayat 17 standar kasih menggunakan kata “agape” yakni kasih dengan kualifikasi: bagaimanapun, walaupun, meskipun). Why harus “agape”? Hanya orang2 yang mengasihi sesamanya dengan standar “agape”lah yang dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi sahabat yang baik dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Hari ini kita hidup ditengah dunia yang makin materialistis, egois, dengan budaya hidup acuh tak acuh. Ini menyebabkan ketidakseimbangan jiwa. Zaman ini, orang yang sedih berat sekalipun sudah tidak lagi dapat dideteksi dengan kondisi yang wajar. Biasanya orang yang sedih raut wajahnya pasti terlihat sedih atau menangis terus-menerus. Hari ini kesedihan tidak lagi ditunjukkan dengan cara seperti itu. Orang malah bisa menunjukkan yang sebaliknya. Contoh: (1) menurut penelitian 40% penyakit obesitas disumbang karena stress (mestinya kan kurus…), (2) 68% pelawak terkenal dunia (Chaplin, Cosby, Grimaldy, dll) adalah orang2 yang sangat menyedihkan hidupnya karena masalah cinta, keluarga, tidak terpenuhinya kasih sayang ketika masa kanak2 (tapi anehnya…orang justru terhibur oleh lawakan mereka!). Ini menunjukkan kepada kita bahwa dunia ini bagaimanapun majunya tidak sanggup memenuhi kekosongan jiwa manusia.  Di Jepang orang2 yang tertekan jiwanya tidak bisa menangis. Para psikolog/psikiater menyarankan untuk menonton film2 drama atau novel2 melankolik yang dapat menyebabkan mereka menangis. 2. Bahkan saya mendengar dari rekan hamba Tuhan yang sempat melayani disana dalam tim2 pelayanan yang disebut “Listening Ministry” yang disebarkan dibeberapa tempat di kota Tokyo: di pusat2 perbelanjaan, stasiun bus, KA bawah tanah, dll. Mereka menyediakan bangku2 kosong dalam bentuk kelompok dengan tulisan “kami dengan senang hati ingin mendengar anda.” Tidak ada kata2 atau menawar2kan supaya orang datang. Anehnya…banyak yang datang dan mengeluarkan berbagai keluhan mereka….setelah itu lega.

Dalam keluarga kita, dalam gereja kita, dalam lingkungan kita berada barangkali ada orang2 seperti ini yang memerlukan uluran kasih kita. Barangkali bukan melulu materi bentuk ungkapan kasih kita, tetapi kadang menyapa, menanyakan, mendengar, menyediakan diri ketika mencari kita, setia mendoakan mereka sesuai pergumulan mereka lebih efektif dan lebih berguna bagi mereka. Dunia ini membutuhkan kehadiran sahabat2 Allah yang sejati. Lagu: “B’rikan ‘ku Mata/Hati”. Seorang yang menjadi Sahabat Allah memiliki hati seperti ini: hati yang sanggup mengasihi sesama dengan kasih ilahi. Q: Sudahkah kita memiliki hati seperti ini? menjadi sahabat bagi mereka dan membawa mereka kepada Sahabat Sejati kita: Yesus Kristus?

Kesimpulan
Rindukah Sdr menjadi sahabat Allah yang sejati dan menikmati berkat-Nya yang berkelimpahan? Tunjukan 3 pengaruh ini dalam hidup Sdr: (1) mengasihi Dia dengan pola pikir yang benar, (2) menikmati kehadiran-Nya dalam segala ‘sikon’ dan (3) belajar untuk sanggup mengasihi sesama dengan kasih ilahi.

 

SEMPER REFORMATA, SEMPER REFORMANDA (Efesus 4:11-16) by Rev. Yarman Halawa October 23, 2009

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 10:05 am
Tags: , , , , , ,

31 Oktober 1517 atau 489 tahun yang lalu Matin Luther memakukan 95 Dalil di pintu gereja Wittenburg di Jerman menyuarakan pembaharuan di dalam gereja Roma Katolik (gereja Am) yang mengakibatkan timbulnya gerakan reformasi Protestan. 95 dalil itu dapat dibagi dalam 3 tujuan besar: 1. gereja harus kembali kepada pengajaran Alkitab, 2. gereja harus membenahi diri secara organisatoris, dan 3. gereja harus memimpin dan mengarahkan umat kepada kehidupan rohani yang sehat. 3. tujuan besar ini telah berhasil mengembalikan gereja Tuhan kepada hal2 pokok pengajaran Alkitab yang terpenting : 1. Sola Gracia – keselamatan itu anugerah, bukan diperoleh melalui usaha manusia, manusia tidak bisa diselamtkan dengan membeli surat penghapusan dosa yang ditawarkan gereja pada waktu itu, 2. Sola Scripture – hanya percaya kepada ajaran kebenaran FT, FT menjadi satu-satunya sumber ajaran dalam gereja bukan hal2 yang merupakan karangan atau tradisi yang dibuat oleh manusia, 3. Sola Fide – hanya karena iman manusia dapat datang dan di terima oleh Allah, 4. Sola Christos – hanya Kristuslah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, kepala Gereja yang Agung, tidak ada yang lain. Kita tidak mengkultuskan peristiwa ini tetapi melestarikan semangat yang terkandung di dalam peristiwa itu, yaitu semangat pembaharuan untuk mengembalikan gereja dan umat kembali kepada yang seharusnya, kepada yang benar sesuai dengan ajaran Kitab Suci.

Q: Bagaimana supaya semangat pembaharuan ini dapat terus berlangsung dalam gereja Tuhan di tempat ini? Sedikitnya ada 3 hal penting harus kita perjuangkan bersama:

Pertama, Gereja Harus Rapi Tersusun dan Terikat Menjadi Satu

Gereja digambarkan seperti tubuh. Tubuh yang hidup. Tidak mati. Yang bergerak dan memiliki kesatuan. Saling melekat satu sama lain. Bayangkan kalau bagian2 tubuh kita terlepas, berjalan sendiri2, masing2 ikut kemauannya sendiri2. Pasti kacau. Gereja yang memiliki semangat pembaharuan harus terikat erat dalam satu kesatuan. Gereja yang mengalami pembaharuan adalah gereja yang rapi. Bukan gereja yang amburadul, acak-acakan yang ditatalayani sesuka hati. Tetapi gereja yang terarah, punya tujuan. Dan hal ini hanya bisa terjadi: pertama, jika gereja memiliki jemaat yang sungguh2 memiliki hati yang setia mendukung kemajuan pekerjaan Tuhan melalui gereja, jemaat yang rela hati diarahkan kepada kehidupan rohani yang sehat. Kedua, jika gereja memiliki perangkat kepemimpinan yang terarah, baik, kompak, berdedikasi tinggi dan multi karunia, yang menjadi sebuah team kepemimpinan yang bersatu. Menjadi satu itu menandakan adanya perbedaan (beda latarbelakangnya, kepribadiannya, karunianya, talentanya, jabatannya, dst), tetapi perbedaan yang bersatu itu justru dimanfaatkan untuk memperkaya kehidupan pelayanan, supaya gereja maju dan nama Tuhan dipermuliakan.

Bagi saya secara pribadi, HUT kali ini sangat istimewa, karena untuk pertama kali disertai dengan peneguhan para pengurus gereja untuk periode 2006-2008 melalui upacara gerejawi. Melalui tahapan2 rekruitmen kepemimpinan gerejawi, Saya percaya semua telah benar2 menjadi ‘satu’ dalam pengertian utuh: satu hati, satu pikiran, tujuan, satu keanggotaan dalam GKA GRACIA Citra Raya demi kemuliaan Kristus. Ini kado HUT dari Tuhan untuk gereja di tempat ini. Sebagai jemaat dukung secara nyata dan doakan pelayanan mereka. Tahun2 pelayanan yang akan datang akan menjadi tahun2 penting bagi gereja Tuhan di tempat ini, karena focus pelayanan adalah kualitas kehidupan bergereja, berjemaat, beribadah dan kehidupan rohani. Karena itu siapapun kita yang merasa menjadi bagian dari gereja ini, mari bahu membahu bersama-sama menjadikan gereja Tuhan menjadi rapi tersusun dan terikat menjadi satu.

Kedua, Gereja harus Bertumbuh

Gereja bukan hanya bertambah, tapi harus bertumbuh, artinya bertambah dewasa, terus berubah, produktif, kreatif dalam pelayanan dan ibadah, tidak mandeg, begitu-begitu saja. Sebab itu gereja harus terbuka terhadap pembaharuan, kepada hal-hal yang baru, selalu berusaha beribadah dan bersekutu dengan lebih baik, Melayani lebih baik. Tetapi jangan salah diartikan bahwa supaya bertumbuh, maka gereja harus meniru sana-meniru sini. Gereja yang kehilangan arah biasanya hanya bisa meniru, tidak peduli apakah yang ditiru itu sungguh2 yang terbaik untuk dilakukan dan sungguh2 bermanfaat untuk jangka panjang. Selama ini di GKA Gracia Citra Raya, kebijakan Pastoral gereja berpijak pada semboyan: On essentials, unity. On non-essential, liberty. On everything, charity (untuk hal2 yang terpenting, kesatuan: doktrin, teologia dan ajaran Alkitab itu tidak bisa dikompromikan). Untuk hal2 yang tidak terlalu penting, kebebasan (terbuka terhadap hal2 baru yang membangun dan bermanfaat). Untuk segala sesuatu, belaskasihan (penerimaan satu sama lain). Hal ini berarti 2 hal; pertama, gereja yang mau terus-menerus diperbaharui adalah gereja yang sanggup untuk membawa pembaharuan. Kita tetap memelihara semangat dari tradisi Protestan untuk kemajuan gereja. Kedua, Gereja tidak boleh hanya bertambah besar, bertambah banyak, bertambah rapi, bertambah kaya (siapa tahu kelak jadi kaya), dsb, tetapi juga harus terus bertambah dalam kasih, bertumbuh dalam kasih.

Ketiga, Gereja Harus Terus di Bangun

Gereja yang memiliki semangat pembaharuan akan tetap setia memperjuangkan hal2 yang terpenting diantara hal2 yang penting. Fokusnya bukan hanya membangun gedung dan menyediakan berbagai fasilitas, melainkan pada pembangunan manusianya. Ini yang saya maksud dengan yang terpenting di antara hal2 yang penting. Ada satu lagu: Gereja bukanlah gedungnya, bukan pula menaranya, bukalah pintunya lihat didalamnya, gereja adalah ORANGnya. Itu berarti organisma (jiwa) itu lebih penting dari sekedar sebuah organisasi. Sejarah memberi kita pelajaran berharga: ketika gereja memperjuangkan hal2 yang penting bagi dirinya maka yang terjadi adalah kehancuran. Bangkitnya gerakan reformasi gereja pada 1517 itu sesungguhnya bertujuan supaya gereja (RK) kembali kepada kebenaran Alkitab, yakni hal terpenting yang telah ditinggalkan oleh para pemimpin gereja pada zaman itu. Bayangkan sedemikian merosotnya kehidupan rohani sehingga uang itu lebih penting dari keselamatan jiwa manusia (cf. Kardinal Tetzel di Jerman sampai berani berkata tanpa takut kepada Tuhan, “Ketika mata uang berdering didalam peti maka seketika itu juga jiwa melompat keluar dari api penyucian”). Mengerikan! Reformasi menjadi jalan untuk membebaskan gereja dari segala bentuk kepalsuan dan kebobrokan dari struktur dan hirarki pemerintahan gereja yang sangat mapan pada zaman itu. Timbulnya Reformasi gereja menunjukkan adanya fakta sejarah bahwa Gereja telah mengabaikan yang terpenting diantara hal2 yang penting. Gereja yang hanya mengutamakan hal2 penting saja tetapi mengabaikan hal2 terpenting tidak akan sanggup menjadi alat Tuhan yang membawa perubahan ke arah yang lebih berarti, punya nilai dan makna baik bagi gereja itu sendiri maupun bagi dunia ini. Gereja yang sungguh2 memiliki semangat pembaharuan akan senantiasa menempatkan pelayanan, pembinaan jiwa dan masa depan pelayanan pastoral pada posisi yang lebih penting dibandingkan sekedar struktur, hirarki, nama besar organisasi, dan kebanggaan manusiawi terhadap gereja itu sendiri. Itu sebabnya “Memenangkan Jiwa” menjadi misi internal gereja Tuhan di tempat ini. Why? Karena salah satu ciri dari gereja yang mewarisi semangat reformasi 489 tahun lalu itu adalah membangun umat yang berkualitas rohani yang baik. Gereja yang benar bukan hanya gereja yang terus memiliki jumlah orang yang bertambah banyak namun dengan big Q sudahkah orang ini benar2 milik Tuhan atau belum. Gereja tidak hanya punya misi eksternal: Membawa jiwa sebanyak mungkin kedalam gereja. Atas nama Yesus bertobat lalu masuk dalam gereja. Apakah pekerjaan sudah selesai? Belum. Justru pekerjaan yang paling berat adalah follow up-nya: pada tugas bagaimana membaharui manusia yang sebelumnya atau masih berpola pikir dunia/dosa menjadi manusia yang memiliki pola pikir Kristus. Jadi, gereja tidak hanya perlu jumlah saja, tetapi lebih utama adalah kualitas manusia yang ada didalamnya.

Penutup

GKA GRACIA Citra Raya telah berdiri dalam semangat reformasi gereja (31 Oktober). Ibarat seorang anak yang terus bertumbuh dewasa, gereja Tuhan sampai pada hari ini, di dalam segala keterbatasan, kekurangan dan kemampuan yang dimiliki, terus belajar setia untuk terus menerus diperbaharui oleh Tuhan dan juga belajar untuk terus membawa pembaharuan-pembaharuan yang berarti yang bermanfaat bukan hanya bagi jemaat, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Saya percaya bila kehidupan bergereja selalu memelihara semangat reformasi ini, bukan mustahil kelak Tuhan akan memakai gereja ini untuk membawa pembaharuan yang lebih besar dan lebih berarti bagi kemuliaan-Nya.

(Khotbah Peringatan Hari Reformasi Gereja ke-489 dan HUT GKA GRACIA Citra Raya ke-9 31 Oktober 2006 )

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,214 other followers