Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

KULIAH TERBUKA UNTUK PARA PENATALAYAN AWAM 2012 February 20, 2012

Sekolah Penatalayan Reformed Injili Gracia (SPRING) kembali melaksanakan Kuliah Theologia Terbuka Untuk Penatalayan Awam dengan topik:

“SOTERIOLOGI”

 

Deskripsi:

Menolong jemaat awam dan para penatalayan awam melalui studi yang komprehensif  terhadap  Doktrin Keselamatan (Soteriologi) mengenali dengan baik dan benar ajaran Alkitab mengenai salah satu doktrin pokok ini  dan sekaligus mampu mencermati, memberi jawab dan bersikap tegas serta bijaksana terhadap berbagai rupa-rupa angin pengajaran dan produk-produk gerakan rohani yang didasarkan pada pemahaman yang salah mengenai Doktrin pokok ini baik dari dalam kekristenan sendiri maupun dari luar. Selain itu, pemahaman yang baik dan benar terhadap doktrin ini akan membawa  kepada kehidupan yang makin berbuah bagi Tuhan dalam kehidupan percaya keseharian maupun pelayanan.

Waktu:

Jumat 24 Pebruari, 2, 9, 16 Maret 2012

Pkl. 19.00 – 21.15.00 WIB

 

Tempat:

Ruang Kelas SPRING lt. 2

GKA GRACIA Citra Raya Jl. Taman Puspa Raya D1/1 Citra Raya – SURABAYA.

 

Dosen/Pembicara:

Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

KEKRISTENAN DAN PLURALISME: ADAKAH KRISTUS YANG LAIN? Sebuah Refleksi Terhadap Finalitas Kristus Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.min October 28, 2009

Latar Belakang
Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, khususnya di tengah negara seperti Indonesia. Meskipun demikian, perlu dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme. Hal ini penting untuk menghindari kekacauan atau kerancuan dari topik yang dibahas disini.

Kata Pluralitas mengacu pada konteks yang didalamnya kita hidup–suatu kompleksitas fenomena masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama dan ideologi–. Sedangkan Pluralisme adalah suatu paham, sikap yang menerima validitas atau keabsahan bahwa semua agama adalah sama. Perhatikan perkataan Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” ini, “Deep down, all religious are the same–different paths leading to the same goal.” (1)

Bagi kaum pluralis, masalah agama adalah masalah pribadi; sehingga tidaklah relevan untuk membicarakan benar tidaknya masalah agama. Mereka menolak segala bentuk klaim agama yang bersifat absolut, unik, normatif, eksklusif atau final(itas). Dalam spektrum pluralisme, setiap agama yang mengklaim dirinya absolut maka agama tersebut relatif atau absolut relatif.

Pluralisme bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan sebuah ‘doktrin’ teologis yang didasarkan kepada relativisme yang bersumber dari dunia barat yang ‘atomis’ dan pandangan Hindu ‘oseanis’ (2) sehingga, keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.

Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap pluralisme adalah topik yang akan dibahas dalam bagian ini. Penulis mencoba untuk menyeleksi aspek-aspek yang dianggap krusial pada saat ini untuk dipaparkan secara singkat dan kemudian ditutup dengan kesimpulan sebagai jawaban terhadap topik ini.

A. SEJARAH IDENTIK DENGAN KESELAMATAN
Pada umumnya, kaum pluralis menolak adanya penyataan khusus (baca: keselamatan dalam Yesus Kristus). Mereka beranggapan bahwa tidak ada penyataan yang berpredikat khusus dalam sejarah, Seluruh sejarah adalah penyataan Allah.

Choan Seng Song, salah seorang teolog pluralisme melihat bahwa seluruh sejarah adalah sejarah Allah sekaligus sejarah keselamatan. Ia menekankan bahwa waktu adalah ciptaan Allah dan milik Allah sendiri. Oleh karena itu segala waktu yang berlalu dalam sejarah menjadi milik Allah tanpa ada perbedaan. Sejarah bangsa-bangsa baik China, Indonesia bahkan Israel pun berada di dalam sejarah tindakan Allah. Song berkata demikian,
“…sejarah adalah di dalam Allah. Ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Allah tidak berdiri bertentangan dengan sejarah tetapi berada di dalam sejarah. Dan Allah itu bekerja di dalam sejarah melalui para nabi yang arif bijaksana, melalui para raja, petani; melalui kita semua…”(3)

Jadi, Song melihat (baik implisit maupun eksplisit); bahwa, sejarah bangsa-bangsa dalam sistem keagamaan maupun sosial, politik, kebudayaanya, adalah sejarah keselamatan yang identik dengan penyataan Allah. Tidak ada “sesuatu yang khusus” dari tindakan Allah bagi keselamatan manusia di muka bumi. Pandangan Song ini tidak berbeda dengan Paul F. Knitter yang menolak penyataan Allah dalam sejarah secara partikular dalam waktu, locus maupun persona tertentu seperti Israel dan sejarahnya, termasuk Yesus Kristus. Menurut Knitter, sejarah adalah “the march of God through the world.” (4) Dengan demikian masalah keselamatan tidak tergantung pada penyataan khusus (baca: Yesus Kristus), institusi agama, atau sistem kepercayaan tertentu karena Allah secara imanen telah, sedang, dan akan terus menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dalam konteks sejarahnya masing-masing.

Selanjutnya, kaum pluralis melihat bahwa Kristus adalah suatu manifestasi. Maksudnya: gelar Kristus adalah sesuatu yang kosmis–suatu gelar yang dapat dikenakan kepada setiap medium keselamatan, termasuk yang non religius– yang merupakan misteri ilahi yang imanen dalam sejarah dan budaya manusia pada tempatnya masing-masing. Raimundo Panikkar, teolog India mengungkapkan hal ini sebagai berikut:
“Realitas ilahi terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama. Dalam Hinduisme dikenal dalam Ishavara, dalam kekristenan dikenal dengan Yesus dari Nazareth. Namun Kristus itu lebih dari pada Yesus dan
tidak hanya dikenal melalui Yesus. Kristus sebagai misteri ilahi bukanlah suatu realita yang mempunyai banyak nama; tetapi, dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam berbagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan
menurut pandangan masing-masing agama.” (5)

Dari beberapa pandangan kaum pluralis di atas, nampak jelas bahwa tidak ada pemisahan antara “yang menyatakan” dengan “yang dinyatakan,” “yang mencipta” dengan “yang diciptakan” karena keduanya identik. Memang harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk memecahkan relasi antara penyataan dengan sejarah. Sejarah merupakan arena aktivitas Allah dan penyataan berada di dalam sejara; tetapi, tidak identik dengan sejarah secara keseluruhan, karena penyataan memiliki konotasi “aktivitas Allah yang khusus” (baca: aktivitas penyelamatan).  Pluralisme mengidentikan sejarah dengan sejarah keselamatan karena konsep yang humanistis-anthroposentris. Memang benar Allah masih mengontrol jalannya sejarah; tetapi, apabila mencampuradukkan sejarah dengan penyataan khusus secara mutlak tanpa melihat unsur-unsur demonik dan kebobrokan manusia, akibatnya adalah fatal. Karena bila hal ini terjadi maka peristiwa Ambon, Maluku, Aceh, Poso, Bom Bali, Bom JW Marriot, dan sebagainya, dapat di klaim sebagai “tindakan dalam ketaatan terhadap Allah”!

Kegagalan dalam melihat fakta dari karya penyelamatan Kristus di dalam sejarah boleh jadi karena ketidakmampuan untuk mengenali Dia. Yohanes benar ketika ia menulis dalam injil, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:10,11).  Dan tidak pernah ada di dalam sejarah sebuah pernyataan yang begitu dahsyat dan menggetarkan setiap hati kesaksian dari mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Ia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia…Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yohanes 1:29-31, 36).

B. SEMUA JALAN MENUJU KE ROMA
Pluralisme menolak keyakinan terhadap universalitas dan partikularitas Kristus. Yang dimaksudkan dengan ‘universalitas’ disini adalah bahwa Yesus dari Nazareth adalah satu-satunya mediator keselamatan bagi manusia. Sedangkan ‘partikularitas’ (baca: eksklusif) untuk menjelaskan universalitas Injil (yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus) hanya efektif apabila di terima dengan iman. Keselamatan tidak berlaku secara otomatis sebagaimana halnya di anut oleh kelompok universalisme.

Memang beberapa teolog seperti Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Victor I. Tanja; mengakui bahwa, keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus tetapi dengan catatan bahwa Yesus Kristus itupun juga dapat hadir di luar tembok kekristenan. Sehingga sangatlah tidak bijak untuk membicarakan masalah hidup kekal dengan membedakan surga dan neraka. Alasan yang paling mendasar adalah karena Kristus itu kasih adanya sehingga tidaklah mungkin ada neraka atau tempat penghukuman yang kekal. J.A.T. Robinson dan N.S Fere berpendapat bahwa bila neraka ada maka surga hanya akan menjadi tempat dukacita abadi untuk meratapi mereka yang terhilang.(6)

Gustave H. Todrank melihat Kristus dari sisi yang lain. Baginya Kristus tidaklah sinonim dengan Yesus. Dalam bukunya “The Secular for a New Christ” ia melihat Kristus dalam konteks Alkitab yang berarti “yang diurapi Tuhan” sebagai suatu gelar yang lebih menunjuk kepada peranan dan fungsi dari pada nama pribadi. Lebih jauh ia menambahkan: karena di dalam Alkitab banyak orang yang diurapi Tuhan maka Kristus tidak boleh disinonimkan dengan Yesus. Baginya Yesus adalah “salah satu Kristus” atau “a Christ”, bukan “the Christ”. (7)  Bila pandangan ini menjadi patokan aplikatif maka dapatlah dianggap bahwa Gandhi, Mao Tse Tung, Martin Luther King, Calvin, Luther, dan lain-lain, dapat disebut sebagai “kristus-kristus” yang lain. Hal inipun sesuai dengan pemahaman kaum pluralis yang memandang sejarah identik dengan sejarah keselamatan yang dinyatakan dalam setiap budaya, bangsa, individu, dan agama!

Apapun bentuknya, kaum pluralis telah menolak keunikan dari pada Kristus berdasarkan pernyataan dari Kitab Suci: “diselamatkan oleh anugerah.” Jelas disini bahwa arti dan makna anugerah Allah disia-siakan sedemikian rupa, karena anugerah baru dipandang sebagai anugerah apabila tanpa persyaratan. Anugerah dengan persyaratan bukanlah anugerah. Bila Allah benar-benar menganugerahkan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang maka IA tidak tergantung terhadap sikap pribadi seseorang. Apakah ini benar?

Akibat konsep yang humanistis-anthroposentris ini; maka, pluralisme telah mengakui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa agama, kepercayaan, dan keyakinan apapun semuanya memiliki tujuan dan akibat yang sama. Buddha, Hindu, Islam, Kebatinan/Kejawen, Kong Hu Cu hanya berbeda “kulit dan bajunya” tetapi “isi”nya sama saja. Dengan demikian dapat juga dikatakan disini bahwa mereka mengabaikan istilah ataupun konsep berhala atau ilah zaman. Tidak ada yang menyembah patung, kayu, batu atau obyek-obyek tertentu yang dipakai sebagai “medium” untuk kontak dengan “realitas ilahi.” Kalau orang kristen mencap tradisi atau kepercayaan lain sebagai penyembah berhala maka kekeristenan adalah penyembah berhala karena memberhalakan Yesus!  Tom F. Driver salah seorang penulis artikel dalam buku “The Myth of Christ Uniqueness” mengistilahkan pemberhalaan kepada Kristus itu dengan istilah “Christolatry” (8) sebagai ungkapan pluralisme menolak klaim kekristenan yang meyakini kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya “Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14:6).

Kaum Pluralis meyakini bahwa klaim ini hanya berlaku bagi kekristenan saja dan tidak berlaku bagi kalangan lain. Menurut mereka klaim ini baru berlaku jika dalam konteks dimana Kristus mencakup semua yang benar dalam agama lain. Karena seluruh kebenaran bersumber dari Allah maka kebenaran-kebenaran dan kebaikan yang ada dalam agama lain harus dihubungkan dengan Kristus. (9)

Akan tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat di lihat, dirasakan dan dialami melalui nama-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).

C. MISI IDENTIK KEPENTINGAN DUNIA DAN MANUSIA
Pluralisme melihat misi sebagai upaya memperluas kerajaan Allah di bumi. Harus di akui bahwa ada kebenaran yang terkandung dari cara pandang ini. Akan tetapi penekanan misi disini adalah bahwa kerajaan Allah itu tidak hanya meliputi gereja dan kekristenan tetapi mencakup segala sesuatu. Menurut mereka, salah satu faktor yang dominan mendatangkan konflik dan perpecahan diantara umat manusia adalah masalah agama. Masalah ini hanya dapat diatasi apabila semua agama membuang sikap yang berpusat pada diri sendiri seperti: doktrin atau kerygma. (10)) Barangkali lagu “Imagine” yang dinyanyikan oleh John Lenon dapat menjadi gambaran nyata dari pengharapan mereka ini.

Pemahaman misi yang rancu karena menganggap bahwa misi kristen haruslah misi kasih dan bukanlah terutama kebenaran karena kebenaran memilah, menghakimi dan mempolarisasikan menjadi permasalahan yang fatal untuk diterima oleh seorang yang menyebut diri kristen yang sejati. Perhatikan pernyataan yang tanpa salah dari Song yang mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat menyatukan yang tidak dapat dipersatukan; hanya kasih yang mampu melakukannya.(11)

Latar belakang pemikiran bahwa misi tidaklah terutama untuk memberitakan kebenaran didasarkan pada konsep “misi adalah mengembangkan kerajaan Allah.”  Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ini adalah apabila gereja dapat bekerjasama dengan dunia. Tekanan misi bukanlah masalah surga karena surga adalah “urusan Allah.” Tentang hal ini Song berkata, “Kita tidak boleh mencampurinya karena kita hanya akan dapat merusaknya”. (12) Tekanan misi harus dititik-beratkan pada kepentingan manusia dan dunia. Rene Padila dalam ceramahnya “Evangelization & The World” ketika mengatakan bahwa seluruh injil untuk seluruh manusia dan seluruh dunia, ia memaksudkannya sebagai pemulihan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa injil harus menjadi hub ungan manusia dengan “dunia-dunia dimana Kristus mati”. (13)

Hal ini memunculkan strategi baru dalam metodologi misi yang kemudian sangat dikenal dengan istilah dialog antar agama. Victor I. Tanja mengatakan bahwa metodologi misi yang paling sesuai dan kontekstual dengan Indonesia pada saat ini adalah dialog dan bukan penginjilan. (14) Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dialog bersifat lebih rasional dan dapat diterima dalam setiap element yang berbeda karena mampu menciptkan sikap saling keterbukaan, belajar satu dengan yang lain, saling memberi, tumbuh bersama untuk mencapai tujuan. Tujuan tersebut adalah: terciptanya harmoni dan kesejahteraan umat manusia. Akibat pemahaman metodologi misi yang demikian maka segala resiko yang mungkin terjadi dalam setiap kesempatan harus dipandang sebagai jalan terbaik. Salah seorang teolog reformed yang terpengaruh dengan gerakan pluralisme ini adalah Prof. JG. Davis mengatakan bahwa, “…Kita harus rela menghadapi suatu resiko, apabila menemukan bahwa iman agama lain itu lebih baik/benar dari pada iman Kita sendiri…”. (15)

Pada kenyataanya metodologi misi ini yang lazim dikenal di Indonesia sebagai dialog antar umat beragama (inter-faith dialog) lebih banyak menghasilkan ‘pertobatan’ kristen terhadap iman agama lain. Di Inggris dan negara-negara lain di Eropa semakin marak dengan ucapan dan ungkapan pengakuan orang-orang berlabel kristen terhadap ‘iman yang benar’ dalam agama lain tersebut. Malcolm Archeson, Vicarius gereja Tisbury-England mengatakan bahwa Tuhan orang Islam dan Tuhan orang kristen adalah sama. (16) Sebuah pernyataan yang sangat sulit untuk diucapkan oleh non-kristen sendiri.

Sesungguhnya kita diingatkan kembali kepada misi Tuhan Yesus Kristus ketika IA masih berada di dalam dunia ini, dari awal kehidupan dan pelayanan-Nya hingga kenaikan-Nya ke sorga. Ia pernah berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mencari domba-domba yang tersesat (Matius 18:12-14). Bahkan Ia menyatakan bagaimana seharusnya umat-Nya mengaku iman percaya mereka kepada-Nya, “Setiap orang yang mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga mengakuinya didepan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di sorga.” (Matius10:32,33).

Dalam terang kebenaran Alkitab misi dalam konsep pluralisme adalah suatu upaya untuk membangun dunia demi kesejahteraan dan kemaksmuran bersama tanpa memperhatikan hal-hal di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya yaitu dosa dan segala akibatnya. Tentu saja hal ini akan sangat fatal akibatnya…dan mungkin hanya merupakan pengulangan sejarah dari Menara Babel di dalam kitab Kejadian 11:1-10!!

Kesimpulan
Pluralisme menolak finalitas Kristus yang merupakan dasar dari iman kristen. Juga pluralisme merupakan suatu ajaran “anti Kristus” yang menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan “kristus-kristus palsu” atau “kristus yang kosmis panteistis.” Satu hal penting yang tidak dapat disangkali bahwa pemahaman ini justeru muncul dari dalam kekristenan sendiri melalui oknum-oknum tertentu yang pengaruhnya tidak hanya di dalam tembok kekritenan lokal saja melainkan telah mendunia. Pada masa sekarang keberadaan ajaran inipun terus mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya seiring dengan semangat humanisme global modern.

Gereja harus menolak pluralisme karena bersifat sinkretis; mencampuradukkan segala macam ajaran agama yang diyakini memiliki kebenaran-kebenaran tertentu yang saling melengkapi. Gereja harus sadar akan bahaya dan fenomena dari ajaran ini yang dalam konteks kultural cukup mendapat angin untuk berkembang dengan subur dan kemudian merongrong wibawa kekristenan. Pluralisme perlu diwaspadai khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan potensial menjadi lahan yang subur untuk berkembang dan menghambat serta mengancam kelangsungan eksistensi dan misi kristen yang tergantung pada fondasi keunikan dan finalitas Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator Keselamatan. Umat Tuhan yang sejati perlu dengan bijaksana dan berhikmat mengingat akan kata-kata dari sang Juru Selamat sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6).”

Catatan:

(1) Paul F. Knitter, No Other Name? (New York: Orbis Books, 1982). P. 37.
(2) David Ndoen, Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah, 1995). P. 1. Bersifat “atomis” menunjukkan kepada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang berkembang berasal dari satu ledakan inti. Hal ini untuk menggambarkan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan sebenarnya berakar dari satu inti yang sama. Sedangkan bersifat “oseanis” untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu itu mengalir ke satu tujuan yang sama dimana manusia tidak berkuasa untuk memilah-milah mana yang benar dan yang salah karena pada dasarnya segala sesuatunya itu sudah ada filternya tersendiri.
(3)  Choan Seng Song, Allah Yang Turut Menderita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). P. 81
(4) Paul F. Knitter, No Other Name? halaman. 25.
(5) Victor I. Tanja, Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Halaman 123-124.
(6) R.B. Kuyper, For Whom Did Christ Die? (Grand Rapids: Baker Book House, 1959). Pp.13-14.
(7) Yarman Halawa, Karya Keselamatan Yang Efektif Bagi Umat Pilihan Allah Dan Relevansinya Dalam Misi: Sorotan Terhadap Gerakan Misi Arminianisme dan Universalisme. (Pacet: Skripsi S1, 1999). Halaman 84.
(8) John Hick & Paul F. Knitter, The Myth Of Christian Uniqueness. (London: SCM, 1987). Pp. 214-215.
(9)  Untuk lebih jelas lihat Lilian Tedjasudhana. Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan Keselamatan Satu-Satunya, (Jakarta: Yayasa Bina Kasih/OMF, 1996). Judul asli: What’s So Unique About Jesus?
(10) Knitter, p. 41.
(11)  Song, halaman 90.
(12)  Ibid., halaman 89-91.
(13)  Gerald H. Anderson & Thomas F. Stransky., Missions Trends No. 2: Evangelization. (Grand Rapids: Paulist Press, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978). Pp. 46, 52-55).
(14) Lihat Tanja, halaman 4-6.
(15)  J.D. Douglas, ed. Let The Eartyh Hear His Voice. (Minneapolis: Worldwide Publishers, 1975). P. 72.
(16) Herlianto, Gereja Modern Mau Kemana? (Bandung: Yabina, 1995). Halaman 78.

KEPUSTAKAAN
Alkitab
Anderson, Gerald H. & Stransky, Thomas F., Missions Trends No. 2: Evangelization.
Grand Rapids: Paulist Press, 1978.
Douglas, JD., Let The Earth Hear His Voice. Minneapolis: Worldwide Pub. 1975.
Hick, John & Knitter, Paul F., The Myth of Christian Uniqueness. London: SCM, 1987.
Herlianto., Gereja Modern Mau Kemana?. Bandung: Yabina, 1995.
Halawa, Yarman., Karya keselamatan yang Efektif bagi Umat Pilihan Allah Dan
Relevansinya Dalam Misi: Sorotan terhadap Gerakan Misi Arminianisme Dan Universalisme
(skripsi S1).                        Pacet:  STTIAA, 1999.
Kuyper, RB., For Whom Did Christ Die? Grand Rapids: Baker Book House, 1959.
Knitter, Paul F., No Other Name? New York: Orbis Books, 1985.
Ndoen, David., Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah). Sihanjung, 1995.
Song, Choan Seng., Allah Yang Turut Menderita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Tanja, Victor I., Spiritualitas, Pluralitas Dan Pembangunan Di Indonesia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994.
Tedjasudhana, Lilian., Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan keselamatan Yang
Satu-Satunya.
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996. Judul asli: What So Unique About Jesus?.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,214 other followers