Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

January 13, 2011

 

BERKHOTBAH DI TENGAH ZAMAN KONTEMPORER[1]

Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

Batasan pengertian

Yang dimaksud dengan istilah ‘kontemporer’ dalam makalah ini adalah “kecenderungan zaman modern masa kini yang dipenuhi dengan berbagai kondisi dan berbagai gagasan baru yang bersifat temporal.”[2]

Berdasarkan ini maka makalah ini bertujuan untuk mengundang setiap pembaca khususnya para penyampai Firman Tuhan untuk tetap setia, cermat dan memelihara kemurnian isi kebenaran Firman ditengah berbagai arus dan tantangan zaman modern masa kini.

PENDAHULUAN

Bagaimana caranya seorang pengkhotbah menghadirkan berita-berita religius secara khusus yang kental dengan pemikiran-pemikiran jaman kuno untuk menjadi relevan dengan konteks masa kini (kontemporer)?[3] Ini merupakan pertanyaan yang serius yang harus dapat dijawab oleh setiap penyampai firman kebenaran. Dunia kontemporer memberi tantangan tersendiri khususnya dalam melaksanakan tugas dan panggilan penyampaian dari Firman Allah yang pada hakekatnya tidak pernah berubah dan tidak mengenal kompromi dengan segala kondisi dan gagasan baru yang bersifat temporal yang mempengaruhi kehidupan manusia masa kini.

Patut diingat bahwa sebenarnya dilema yang dihadapi oleh gereja sehubungan dengan tugas penyampaian Firman Tuhan pada hari ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam setiap era didalam sejarah yang ditandai dengan perubahan waktu, ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan manusia, penyampaian Firman Tuhan mengalami tantangan tersendiri khususnya bagi para penyampai Firman Tuhan itu sendiri. Namun kita patut bersyukur kepada Allah yang Empunya Firman bahwa didalam setiap era tersebut umat Allah yang sejati senantiasa dikaruniakan kemampuan yang lebih dari cukup untuk dapat terus mengkomunikasikan Firman Allah tanpa mengkompromikan kebenarannya.

Memang banyak orang yang mulai mempertanyakan relevansi khotbah dalam zaman kontemporer ini. Sebagian orang malah menganggap khotbah tidaklah lebih sebagai ‘gaung masa lalu yang sudah ditinggalkan’[4] atau dengan kata lain sudah tidak lagi up to date. Sikap ini seringkali mempengaruhi orang-orang percaya secara psikologis terutama para penyampai Firman kebenaran sehingga berupaya menciptakan atau mengikuti berbagai metode dan gaya penyampaian firman yang “baru” atau yang sesuai dengan gaya hidup, keinginan, dan harapan orang masa kini. Justru ini sangat berbahaya oleh karena pada akhirnya justru ‘berita’ yang seharusnya menjadi sentral dalam khotbah digantikan oleh hal-hal yang bersifat artificial yang seharusnya berada ditempat paling bawah.[5] John Stott mengomentari keadaan ini sebagai strategi Iblis untuk mematahkan dan melemahkan pekerjaan penyampaian Firman untuk mencapai hasil gemilang:

“As a result of which he (devil) has won a strategic victory. Not only has he effectively silenced some preachers, but he has also demoralized those who continue to preach. They go to their pulpits ‘as men who have lost their battle before they start; the ground of conviction has slipped from under their feet.”[6]

PENGKHOTBAH, BERITA KHOTBAH DAN PERTUMBUHAN GEREJA[7]

Bila khotbah tidak diletakkan sebagai bagian yang utama dari kehidupan bergereja, maka gereja pasti akan kehilangan hartanya yang paling berharga yang menjadi sumber otoritas dan otentitasnya. Tidaklah berlebihan bila reformator Martin Luther pernah berkata bahwa harta gereja yang sebenarnya adalah Injil yang Mahasuci tentang kemuliaan dan kemurahan Allah.[8]

Dalam sejarahnya, eksistensi dan pertumbuhan gereja tidak pernah terlepas dari pemberitaan Firman. Sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.[9] Atau dengan kata lain, tanpa pemberitaan Firman yang benar maka gereja tidak akan pernah mengalami pertumbuhan yang benar pula dan pasti akan kehilangan arah.[10] Kecenderungan gereja pada hari ini yang mengutamakan bagian-bagian dalam ibadah seperti puji-pujian lebih dari pada khotbah harus dihindari. Gereja bertumbuh bukan karena musik atau puji-pujian yang dahsyat sekalipun tetapi oleh pemberitaan Firman Tuhan yang benar dan bertanggungjawab.[11] Dengan demikian, khotbah selalu menjadi prioritas dari pelayanan guna pertumbuhan gereja Tuhan yang benar dan sehat seturut ajaran Alkitab sebagaimana telah dilakukan oleh para rasul pada zaman mereka.[12]

Pemberitaan Firman menjadi begitu penting dan sentral bagi kehidupan bergereja yang sehat. Tidak lagi diragukan bahwa Alkitab memandang bahwa para pemberita Firman memiliki peran yang penting didalam rencana Allah untuk membawa gereja mengalami pertumbuhan yang benar kepada-Nya.  Rasul Paulus menuliskan,

“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?  Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”[13]

Dalam pengertian ini maka pemberitaan Firman harus terus-menerus memperkenalkan, menegaskan dan mengarahkan gereja untuk bertumbuh kepada segenap karya Allah seperti penyelamatan dalam Yesus Kristus, kebaikan Allah, keadilan Allah dan seterusnya. Bahkan harus terus diberitakan didalam segala situasi, baik atau tidak baik waktunya.[14] Ditengah tantangan dunia kontemporer para pemberita Firman dipanggil untuk setia dalam mempertumbuhkan gereja kepada kebenaran yang murni dan tidak boleh dihentikan oleh alasan apapun juga. Para tokoh gereja baik yang hidup sebelum maupun sesudah zaman Reformasi, begitu memandang tinggi dan mengutamakan Firman Tuhan.  John Wycliffe mengatakan bahwa tugas utama pendeta adalah berkhotbah.[15] Bagi Calvin, disamping Sakramen, Firman Allah yang dikhotbahkan dengan murni dan didengar, menjadikan gereja milik Allah itu tetap eksis.[16] Demikian juga Luther meyakini bahwa apa yang ia lakukan yakni membuka zaman Reformasi yang begitu penting bagi dunia kekristenan sebagai karya Firman.[17]

Tidak dapat diragukan lagi bahwa kekristenan dan gereja tidak akan ada tanpa kehadiran Firman. Tugas utama dari para hamba Tuhan adalah menghadirkan Firman, sehingga berkhotbah akan senantiasa menjadi bagian yang amat penting dari tugas panggilan hamba Tuhan. Ini harus tetap menjadi perhatian serius ditengah zaman kontemporer ini.  Persoalannya adalah: “Khotbah macam apa yang dihadirkannya didalam gereja? Apakah khotbah yang tetap setia kepada kebenaran-kebenaran yang murni dari Alkitab atau  kepada apa yang manusia kontemporer anggap sesuai, cocok, dan up to date dengan keinginan dan kemauan mereka?[18] Apakah khotbah yang disampaikan benar-benar bertanggungjawab, didasari oleh keyakinan yang absolut terhadap kebenaran absolut Firman? Apakah kemampuan berkhotbah lebih digantungkan kepada kepiawaian artificial atau bergantung kepada Allah dengan mengandalkan Roh Kudus-Nya?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka beberapa pemikiran berikut ini perlu menjadi pertimbangan penting:

1. Sola Scriptura

Rasul Paulus menegaskan kepada hamba Tuhan bernama Timotius  agar “memberitakan Firman.”[19] Dengan kata lain bahwa yang diberitakan dalam khotbah adalah Firman Tuhan. dan ini harus dilakukan dengan setia dan penuh tanggungjawab. Hal ini sangat jelas terlihat dari penekanan yang bukan berbentuk permintaan melainkan berbentuk perintah kepada Timotius. Hal ini patut kita camkan dalam pelayanan kita  ditengah zaman kontemporer ini.

Prinsip formal Reformasi adalah Sola Scriptura dimana Reformator gereja menampakkan otoritas ekslusif dari Alkitab atas semua opini, tradisi, dan produk-produk kontemporer masa itu yang mempengaruhi dan bahkan menguasai gereja, dan memanggil gereja untuk berkomitmen kepada Sola Scriptura. Firman Allah menjadi satu-satunya pedoman pembimbing dalam mempermuliakan serta memperkenankan Allah.[20] Dengan demikian implikasi praktisnya adalah bahwa Firman Allah harus diletakkan ditempat yang tertinggi dan tidak boleh digantikan oleh yang lain-lain, baik itu berupa kharisma, pribadi, popularitas, kemampuan berbicara, intelektualitas dan opini pribadi, filsofi-filosofi yang sifatnya humanis maupun produk-produk canggih dari zaman kontemporer yang ada.[21] Senada dengan ini, Sydney Greidanus menggarisbawahi kebenaran ini dengan mengatakan,

“Accordingly, if preachers wish to preach with divine authority, they must proclaim the message of the inspired Scriptures, for Scriptures alone are the Word of God written: the Scriptures alone have divine authority.  If preachers wish to preach with divine authority, they must submit  themselves, their thoughts and opinions, to the Scriptures and echo the Word of God.”[22]

Dalam terang Sola Scriptura inilah, setiap pemberita Firman harus mampu memelihara dan terus-menerus menunjukkan integritasnya terhadap berita yang  disampaikannya. John Calvin menegaskan,

“Maka marilah kita tetapkan ini sebagai suatu azas yang pasti, yaitu hendaklah tidak ada didalam gereja yang dipandang dan diberi tempat sebagai firman Allah kecuali apa yang tercantum didalam Taurat dan kitab-kitab para nabi, dan selanjutnya didalam tulisan-tulisan para rasul; dan hendaklah tidak ada cara lain untuk memberi ajaran dengan sah didalam gereja, kecuali sesuai dengan perintah dan pedoman firman itu.”[23]

2. Truth (Kebenaran)

Berkhotbah adalah memberitakan kebenaran, dimana pemberita Firman bukan membawakan kebenaran yang berasal dari dirinya sendiri. Seorang Pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk menyampaikan kepada pendengarnya sebuah gambar yang lebih besar tentang Allah (Theocentric / Christosentric). Berkaitan dengan pelayanan mimbar rasul Paulus menegaskan:

“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”[24]

Oleh sebab itu perlu senantiasa menanyakan kepada diri sendiri hal-hal seperti: Apakah khotbah yang saya sampaikan memperkenalkan dan meninggikan Allah terus-menerus? Apakah khotbah yang saya sampaikan dibangun diatas dasar disiplin pengajaran dan teologia yang benar atau tidak? Apakah saya menyampaikan khotbah dengan hati yang tulus? Apakah ada hal-hal terselubung disana seperti ingin memamerkan pengetahuan, mengungkapkan kekecewaan atau kemarahan yang dikemas dalam khotbah?  Bagaimana dengan ilustrasi yang disisipkan dalam khotbah, apakah itu pengalaman orang lain yang diakui sebagai seolah-olah pengalaman sendiri? Apakah cerita yang disampaikan berupa fakta atau karangan sendiri? Semua ini harus jelas asal-usulnya dan tidak boleh dimanipulasi. Apakah khotbah yang disampaikan disiapkan secara murni dan digumulkan sungguh-sungguh hingga pemberitaannya atau tidak? Apakah khotbah yang disampaikan menantang pendengar untuk kembali kepada kebenaran yang sejati?

Pada hari ini kita para pengkhotbah banyak disuguhi aneka macam metode, gaya dan strategi bagaimana menjadi pengkhotbah yang sukses,[25] namun kehilangan esensi penting dari sebuah panggilan Allah untuk setia memberitakan firman-Nya ditengah dunia yang selalu berubah-ubah dan tidak menentu dengan kecenderungan utama terhadap kebergantungan kepada hal-hal yang bersifat sementara.

Berkaitan dengan truth (kebenaran) yang mewarnai pelayanan khotbah; maka, setiap pemberita Firman harus mengingat beberapa hal berikut ini:

Pertama, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk melatih pendengarnya kembali kepada kebenaran-kebenaran Alkitab dalam menghadapi berbagai asam garam kehidupan mereka. Paulus menegaskan,

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”[26]

Seorang pengkhotbah juga harus berkeyakinan teguh bahwa Firman Allah sanggup meyakinkan umat Allah yang sejati untuk tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Oleh sebab itu seorang pengkhotbah yang berdiri dalam kebenaran berkewajiban penuh untuk berupaya sekuat tenaga untuk menunjukkan kepada pendengarnya bagaimana membaca, mempelajari dan memegang ajaran kebenaran Alkitab bagi kehidupan mereka.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”[27]

Selain itu, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk mengajarkan seluruh bagian Alkitab dan menunjukkan betapa unik dan ajaibnya setiap kebenaran yang didapat darinya. Sekaligus harus menantang pendengarnya memberi respon untuk hidup dalam penghayatan nyata terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka sebagaiman Alkitab sendiri tegaskan,

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”[28]

Sehingga pada akhirnya setiap orang yang mendengar pemberitaan Firman -dalam hal ini tentunya juga termasuk yang menyampaikan atau si pemberita Firman- akan senantiasa menghayati secara nyata kebenaran Alkitab yang ‘kuno’ namun merupakan kebutuhan yang amat penting ditengah zaman kontemporer ini bagi kehidupannya:

“Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu …”[29]

3. Kebutuhan (Needs)

Tidak dapat dipungkiri bahwa berita Injil kebenaran adalah berita kesukaan, dan oleh sebab itu berita yang disampaikan harus membawa kesukaan yakni kesukaan yang utuh, bukan kesukaan yang memanjakan, yang kompromi dengan zaman atau keinginan para pendengar semata-mata, karena hal ini justru akan mencelakakan. Maka khotbah yang menjawab tantangan  zaman kontemporer hari ini tidak boleh hanya disusun di atas meja saja tetapi juga harus melalui pengamatan dan pendekatan, sehingga sungguh-sungguh menyentuh kebutuhan nyata jemaat. Inilah yang dimaksudkan dengan khotbah yang relevan. Apabila kita perhatikan, para pengkhotbah yang dipakai Tuhan secara luarbiasa pada zamannya selalu berbicara mengenai kebutuhan manusia, termasuk problema dari kehidupan para pendengar mereka.[30] Dengan demikian khotbah menjadi hadir secara nyata ditengah-tengah pendengarnya.[31]

Secara sederhana, kebutuhan pendengar terhadap berita firman dapat dikategorikan dalam 2 kelompok yakni kebutuhan dasar (bersifat materi) dan kebutuhan pertumbuhan (yang bersifat non-materi):[32]

a.       Kebutuhan dasar yang mencakup fisik dan jaminan keamanan.

b.      Kebutuhan pertumbuhan yang mencakup kasih, harga diri dan aktualisasi diri, dimana aktualisasi diri meliputi kebenaran, kebaikan, keadilan, ketaraturan dan sebagainya.

Kedua kelompok kebutuhan ini perlu menjadi pertimbangan dalam khotbah, dimana penekanan yang terutama / terpenting adalah pada kebutuhan akan pertumbuhan yang bertujuan membawa pendengar kepada aktualisasi diri yang akan memperlihatkan dengan jelas kedewasaan kristiani dari para pendengar yang nyata melalui makna yang mereka berikan dalam kehidupan bergereja / berjemaat.

Disamping itu berita Firman tidak boleh kontroversial dalam arti tidak memperhatikan problem yang sedang dihadapi oleh jemaat. Contoh: penyampaian khotbah dengan topik “seluruh muka bumi dipenuhi kemuliaan-Nya”[33] padahal kenyataan sedang terjadi banjir bandang yang menghancurkan dan menewaskan begitu banyak orang, atau gunung Merapi yang meletus yang mengakibatkan kesedihan yang luarbiasa atau bencana gempa Tsunami yang menyisakan kepedihan yang amat dalam. Topik “pemeliharaan Allah yang ajaib” sementara kenyataannya ada diantara mereka yang sedang menjalani kehidupan yang buruk, seperti sakit tumor yang parah atau kanker ganas.  Atau misalnya topik “Berdua lebih baik daripada seorang diri” dalam momen pemberkatan pernikahan yang disampaikan dengan kurang mempertimbangkan perasaan dari mereka yang hidup sendiri, yang entah karena tidak mau menikah atau karena kesulitan mendapatkan teman hidup yang dianggap sesuai.

Untuk menjadikan sebuah khotbah tetap relevan dan berbicara kuat dalam ranah kehidupan jemaat yang serba kompleks pada hari ini; maka, pemberita Firman harus sungguh-sungguh mengenal jemaat yang dilayaninya. Untuk memenuhi hal ini seorang pemberita Firman kebenaran dapat mengenali kebutuhan-kebutuhan mereka melalui sharing tentang pengharapan dan ketakutan, kegelisahan atau kekhawatiran mereka, kesuksesan dan kegagalan, kesukaan dan kesedihan, kepahitan dan aspirasi dari umat yang dilayaninya.

Patut diingat bahwa hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada hamba Tuhan tamu. Dalam kaitan dengan inilah Rasul Paulus sendiri menganggap hubungannya dengan anggota jemaat seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Kepada jemaat Tuhan di Tesalonika ia berkata,

“Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.”[34]

Bila seorang ibu berkewajiban dalam menyusui bayinya; maka, demikian juga seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, akan memandang bahwa “berkhotbah” adalah tugas yang sangat penting, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

INTEGRITAS DIRI SEORANG PENGKHOTBAH

Berikut ini adalah beberapa uraian sederhana yang berkaitan dengan integritas diri seorang pemberita Firman dalam berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini:

Setia Kepada Alkitab

Seorang pemberita Firman yang bertanggungjawab akan senantiasa menyadari bahwa Alkitab adalah satu-satunya buku yang dapat menjadi sumber khotbahnya. Ia melihat bahwa hanya Alkitab yang memiliki otoritas ilahi. Oleh sebab itu, ia hanya akan mengkhotbahkan apa yang tertulis dan yang dikatakan dalam Alkitab. Dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber khotbahnya, maka ia telah menempatkan Alkitab sebagai sumber otoritasnya dan ia akan memiliki otoritas ilahi di dalam khotbahnya.

Berita Firman dibangun diatas dasar filosofi bahwa Alkitab menjadi sumber khotbah dan oleh sebab itu, pengkhotbah wajib menguraikan arti teks tersebut di sepanjang zaman. Alasannya, pengkhotbah bukan berkhotbah dengan otoritasnya, tetapi dengan otoritas Allah. Oleh sebab

itu, ia harus dan hanya mengkhotbahkan firman Allah sebagai berita khotbahnya.[35] Haddon W. Robinson mengatakan,

“. . . the preacher speaks with an authority not his own, and the man in the pew will have a better chance to hear God speak to him directly.”[36]

Dalam kaitan dengan teks Alkitab yang menjadi bahan khotbahnya, seorang pengkhotbah harus tetap menguraikan teks Alkitab yang menjadi dasar khotbahnya, entah apakah teks itu panjang atau pendek. Dalam pengertian ini, maka seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu ayat (yang menurut beberapa ahli disebut sebagai khotbah tekstual). Seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu perikop Alkitab (yang juga sering disebut sebagai khotbah ekspositori). Ia juga dapat mengkhotbahkan topik-topik tertentu (yang disebut sebagai khotbah topical), khususnya yang berkaitan dengan doktrin Kristen, dan seterusnya.

Bersandar dan Mengakui Kuasa Roh Kudus

Seorang pemberita Firman yang benar akan semakin bersandar pada kuasa Roh Kudus. Para pengkhotbah yang menyampaikan berita Alkitab akan menyadari bahwa ia memerlukan kuasa Roh Kudus agar jemaat bisa mengerti apa yang menjadi berita dari Allah untuk umat-Nya. Ia menyadari bahwa kuasa manusia tidak akan dapat membuat manusia lain tunduk pada kebenaran Allah. Hanya Roh Kudus yang dapat membuat manusia melihat Allah. Oleh sebab itu, para pengkhotbah harus bergantung dan bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Tanpa kuasa Roh Kudus, tidak akan ada nilai kekal yang tercapai walaupun mungkin ada banyak orang yang mengagumi daya persuasi, menikmati ilustrasi khotbah atau belajar doktrin dari sang pengkhotbah.[37] Hal ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep mimbar seorang pengkhotbah. John Piper mengatakan bahwa seorang pengkhotbah perlu menyadari dan mengakui trinitarian khotbah, yaitu tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah, berita khotbah adalah salib Kristus, dan kuasa khotbah adalah kuasa Roh Kudus.[38]

Peran Roh Kudus dalam berita Firman sangatlah penting dan menjadi kunci pemberitaan Firman yang efektif oleh karena Ia mengajar apa yang Yesus katakan (Yohanes 14:24), menghibur, menginsyafkan tentang dosa dan kebenaran (Yohanes 16:7,8), menolong umat  yang dalam kelemahan (Roma 8:26), menguatkan (Efesus 3:14-16), memberi dorongan pemberitaan Firman dan berdoa (Kisah Para Rasul 6:10; 1 Kor 2:13; 2 Korintus 4:13), dan seterusnya. Tidak ada satu khotbahpun yang dianggap layak dihadapan Allah bila tanpa intervensi dari kuasa Roh Kudus.  Pierre Ch. Marcel benar ketika menegaskan bahwa,

“Preaching, which is, properly speaking, the word preached, depends entirely on the Spirit…if the Spirit is absent, there is, in a manner of speaking, a sermon, but no preaching.  The word of God will not be heard, but a word of man, dead, and therefore irrelevance.”[39]

Dengan demikian, seorang pengkhotbah akan menyadari bahwa tugasnya hanyalah sebagai juru bicara Allah. Jika khotbahnya membawa seseorang berbalik kepada Allah, ia harus menyadari bahwa bukan dirinya sendiri yang membuat orang-orang tersebut bertobat. Mereka percaya karena Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka.[40] Namun, seorang pengkhotbah juga tidak akan berkecil hati jika ia tidak melihat hasil apapun dari khotbahnya. Ia tahu bahwa hanya Roh Kudus yang membuat seseorang berbalik kepada Allah. Ia akan tetap setia melakukan tugasnya sebagai pengkhotbah.[41]

Menghormati Jabatan Sebagai Pemberita Firman

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Llyod-Jones, pernah mengatakan demikian,

“Menurut hematku, ‘berkhotbah’ adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati.” (Lebih lanjut ia mengatakan), “Pekerjaan ‘penyampaian Firman’ tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib.”[42]

Perkataannya tersebut diatas membuktikan betapa seorang pemberita Firman (yakni seorang hamba Tuhan dengan panggilan yang jelas), adalah seorang yang berdiri diantara Allah dan manusia, dan oleh sebab itu seyogyanyalah bila ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap “berkhotbah” sebagai satu “pekerjaan”, sehingga dirinya disebut tidak lebih sebagai seorang “tukang khotbah” entah dalam pengertian professional atau amatiran. Melainkan ia akan sungguh berjuang dengan pertolongan Roh Kudus untuk menunjukkan kehidupan panggilan yang sepadan dengan jabatan itu.  Martyn Llyod Jones mengingatkan demikian,

“Our lives should always be the first thing to speak: and if our lips speak more than our lives it will avail very little. So often the tragedy has been that people proclaim the gospel in words, but their whole life and demeanour has been a denial of it.”[43]

Justru seorang pemberita firman yang menghormati jabatan tersebut akan senantiasa dipenuhi melainkan dengan sikap yang gentar dan takut dihadapan Tuhan, karena dipenuhi dengan pergumulan dan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menjalani kebenaran Firman yang senantiasa ia sampaikan kepada jemaat yang mendengarnya.

Jiwa Yang Antusias Terhadap Kehidupan Para Pendengar

Seorang pemberita Firman kebenaran yang sesungguhnya akan benar-benar menyadari bahwa pada waktu ia berdiri di mimbar, ia sedang “mengurus’ masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan bahwa ia berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Dr. Forsyth member penegasan terhadap kebenaran ini demikian,

“It is an act and a power: it is God’s act redemption…A true sermon is a real deed…The preacher’s word.  When he preaches the gospel and not only delivers a sermon, is an effective deed, charged with blessing or with judgment.”[44]

Kesadaran ini akan membawa kepada suatu pengertian bahwa berkhotbah bukanlah hanya sekedar sesuatu yang sekedar disampaikan dari mimbar, melainkan menuntun kepada antusiasme yang amat sangat bagi kehidupan para pendengarnya dihadapan Allah. Oleh karena itu seorang pemberita Firman yang baik akan memiliki sikap yang terus terang didalam menyampaikan kebenaran-kebenaran yang Allah kehendaki diketahui dan direspon oleh para pendengar Firman-Nya.  Hal ini akan sangat bermanfaat bagi gereja, pelayanan dan terutama kehidupan rohani para pendengar Firman. Dengan demikian menghindarkan gereja atau orang percaya dari sikap yang mudah terombang-ambing oleh berbagai tawaran dari gerakan-gerakan rohani kontemporer yang menawarkan “solusi instant” bagi persoalan-persoalan kehidupan yang mereka alami. Gereja dan kehidupan jemaat menjadi kuat, sehat, dan tangguh dalam terang kebenaran Firman yang benar.

Gereja masa kini memerlukan para pemberitaan Firman yang utuh. Salah satu contoh praktis misalnya adalah ketika berbicara mengenai pengudusan (sanctification); maka, seorang pemberita Firman yang baik kan berterus terang menyampaikan bagaimana seharusnya orang-orang percaya yang sejati berjalan didalam kehidupan yang kudus, pelayanan, ketaatan,  penyangkalan diri, sikap hidup yang takut akan Allah, kehidupan doa yang benar dan bagaimana seharusnya menjadi murid Kristus hidup didalam iman dan pertobatan yang sejati. Juga berbicara dengan terus terang mengenai kebenaran dari konsekwensi kekal dari kehidupan yang tidak memberi tempat bagi kebenaran Firman.[45]

Kesungguhan Didalam Belajar Makin Berkenan

Seorang pemberita Firman kebenaran harus senantiasa menuntut diri untuk terus maju dan meningkatkan kemampuannya. Memang didalam berkhotbah, kemampuan tidaklah menjadi pemeran utama atau sebagai penentu utama, namun tetap menjadi factor yang penting. Martin Lloyd-Jones mengatakan,

“As preaching means delivering the message of god in the way which he have described…it obviously demands a certain degree of intellect and ability.  So if a man lacks a basic minimum in that respect, he is clearly not called to be a preacher.”[46]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang pemberita Firman kebenaran yang rindu khotbahnya mampu membangun dan memberi dorongan pada sidang jemaat yang dilayaninya, adalah tidak dapat mengabaikan usaha dalam merawat dan meningkatkan kemampuan intelektualnya.

Kesalahan banyak pengkhotbah -dan juga gereja dalam pengertian komunal- pada hari ini adalah kurangnya keinginan yang kuat dan komitmen untuk meng-upgrade kemampuan diri. Situasi dan kondisi ladang pelayanan sekali-kali tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menuntut diri. Dalam pengertian ini, untuk makin berkenan dihadapan Tuhan dan agar kebenaran Firman makin nyata ditengah kehidupan bergereja; maka, seorang pemberita Firman dan termasuk jemaat yang dilayani  harus makin bersungguh-sungguh didalam belajar meningkatkan kemampuan mengajar Firman dan kemampuan didalam menyerap kebenaran firman yang disampaikan. Disamping tentunya, rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin membaca buku-buku rohani yang bermutu tinggi[47] dan buku-buku lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang dianggap bisa menambah wawasannya dan meningkatkan intelektualitasnya; seorang pemberita Firman juga perlu rajin berada ditengah jemaatnya[48] sehingga dengan demikian ia memperoleh pengetahuan tambahan yang bersifat praktis oleh karea ia mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gerejanya.

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini merupakan tugas yang amat mulia bagi setiap pemberita Firman kebenaran. Ditengah dunia yang semakin tidak menentu dan kecenderungan untuk mengikuti kebinasaan yang ditawarkannya, para pemberita Firman kebenaran harus tetap berdiri memproklamasikan berita kebenaran yang bukan saja hanya berupa janji kehidupan kekal didalam Yesus Kristus Tuhan, tetapi juga memproklamasikan kehidupan yang penuh pengharapan, kekuatan dan kehidupan yang berani menghadapi realita masa kini dan masa depan bersama dengan Tuhan.

Oleh karena itu, setiap pengkhotbah patut menjaga kesetiaan untuk mengkhotbahkan Alkitab sebagai berita Allah yang tidak pernah berubah ditengah dunia dan peradaban manusia yang terus-menerus berubah. Dalam hal ini juga dituntut kesetiaan seorang pengkhotbah untuk menguraikan berita Alkitab dan mengkhotbahkannya tanpa mengkompromikannya dengan keinginan dan kehendak zaman ini. Patut juga diingat, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sesuatu yang tidak lebih dari pada “stempel pengesahan” dari suatu khotbah yang justru sama sekali tidak memproklamasikan apa yang menjadi kehendak Allah untuk ditaati dan dilaksanakan dalam kehidupan umat, harus dibuang jauh-jauh. Demikian juga, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sekedar dari sebuah “pendahuluan khotbah” saja, juga harus dibuang jauh-jauh.

Disamping itu, ditengah kompleksnya tantangan yang dihadapai dalam zaman kontemporer ini terhadap kehidupan Kristen, setiap pengkhotbah dipanggil untuk memiliki kesungguhan dalam berkhotbah. Ia adalah juru bicara Allah yang harus sungguh-sungguh mempersiapkan khotbah yang akan disampaikannya dengan selalu bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Ia memikul tanggung jawab ilahi untuk menyampaikan berita ilahi, demi kepentingan ilahi dalam kehidupan umat-Nya. Dan oleh karenanya ia juga harus memiliki jiwa yang antusias terhadap mereka.

Dan terakhir, setiap kita patut menyadari bahwa berkhotbah ditengah zaman ini merupakan sebuah tugas yang yang mulia. Oleh karena itu setiap kita, para pengkhotbah, yang dipercaya untuk menjadi utusan-utusan Allah bagi misi-Nya ditengah dunia diingatkan sekali lagi untuk selalu memastikan bahwa pelaksanaan tugas yang diemban ini memberi dampak yang benar dan tepat baik pada masa sekarang ini, maupun pada yang akan datang hingga kekekalan. dan meskipun tidak semua pembawa berita Firman kebenaran dipanggil oleh Allah untuk menjadi pengkhotbah “besar,” semua pengkhotbah berita kebenaran dipanggil untuk mengkomunikasikan Firman dengan baik. Maka tidak ada jalan lain bagi kita selain dari pada senantiasa memastikan bahwa berita yang kita sampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang hingga kedalam kekekalan.

Fides Quaeraens Intelectum

 


Daftar Referensi Pustaka

Allah, TUHAN, Alkitab.

Beeke, Joel R., Puritan Evangelism: A Biblical Approach. Grand Rapids: Reformation Heritage

Books, 1999.

Calvin, John Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.

Comfort, Earl V.,  Is the Pulpit a Factor in Church Growth” Bibliotheca Sacra 140/157, 1983.

Dale, Robert D., Pastoral Leadership. Nashville: Abingdon Press, 1986.

David Watson, I in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199.

Forsyth, P.T., Positive Preaching and The Modern Mind. Independet Press, 1907.

Farm, Herbert H., The Servant of The Word. Philadelphia: Fortress, Press, 1964.

Greidanius, Sydney, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching

Biblical Literature. Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988.

Hornby, A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford: Oxford

Univeristy Press, 1987.

Lloyd-Jones, D. Martyn,  Preaching and Preachers. Grand Rapids: Zondervan, 1972.

Lloyd-Jones,Martyn, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1. Grand Rapids: Wm. B.

Eerdmans Publishing Company, 1959.

Massey, James Earl, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma.

Grand rapids: Baker Book House, 1976.

Marcel, Pierre Ch., The Relevance of Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1963.

Piper, John, The Supremacy of God in Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1990.

Packer, J.I.,  Evangelism and Sovereignty of God. Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961.

Robinson, Haddon W., Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository

Messages. Grand Rapids: Baker Book House, 1980.

Stott, John R.W.,  I Believe in Preaching. London: Hodder and Stoughton, 1982.

Williamson, G.I., Katekismus Singkat Westminster 1. Surabaya: Momentum / LRII, 1999.

Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and

Reformed Publishing Co., 1970).

Welsh, Clement,  Preaching in a New Key. Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974.

WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation.


[1] Disampaikan dalam Seminar Khotbah Kontemporer, Wisma Santo Yohanes – Kediri, 17 November 2010 sebagai bagian dari program Departemen Pembinaan Sinode GKA.

[2]Lihat WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation. Lihat juga A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (Oxford: Oxford Univeristy Press, 1987), p. 184

[3]Saya memberi perhatian khusus dalam makalah ini terhadap posisi berita Firman yang disampaikan oleh seorang pengkhotbah dan bagaimana seorang pengkhotbah membawa berita pengajaran yang ‘kuno’ tetapi murni itu dapat tetap relevan dan terus-menerus menggarami dunia kontemporer saat ini tanpa menjadikan berita Firman itu sendiri kehilangan kebenaran esensinya atau di’telan’ oleh kondisi zaman masa kini.

[4]Clement Welsh, Preaching in a New Key (Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974), p. 32.

[5]Misalnya: kharisma atau popularitas si penyampai firman, audiens, penampilan, style khotbah, suasana, peralatan pendukung/teknologi, dst. Harus diakui bahwa terkadang hal-hal ini juga “diperlukan” namun dalam pengertian sekali-kali tidak boleh disejajarkan dengan atau bahkan melampaui is dari berita Firman itu sendiri.

[6] John R.W. Stott, I Believe in Preaching (London: Hodder and Stoughton, 1982), p. 50.

[7] Disini penekanannya bukan pada metodologi tetapi kepada isi.

[8] Dalil ke-62 dari 95 dalili (tesis) yang dipakukan di pintu gereja Wittenberg di Jerman pada 31 Oktober 1517.

[9] D. Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan, 1972) 11.

[10] Earl V. Comfort, Is the Pulpit a Factor in Church Growth” (Bibliotheca Sacra 140/157, 1983), 67.

[11] Lihat David Watson, I Believe in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199. Watson menegaskan bahwa, “Although the birth of the church in Acts 2 began with praise, it continued with preaching.”

[12]Panggilan khusus yang diberikan kepada mereka adalah memberitakan Firman (Markus 3:14), setelah kebangkitan Yesus mereka di utus untuk memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Matius 28:19), pemberitaan Firman dilakukan dimana-mana (Markus 16:20), memberitakan Firman dengan penuh keberanian (Kisah Para Rasul 4:31).

[13] Roma 10:14-15

[14] 2 Timotius 4:1-2

[15] John Stott, I Believe in Preaching, p. 22.

[16] Ibid, p. 24.

[17] Ibid.

[18] Perhatikan 2 Timotius 4:3-5.

[19] 1 Timotius 4:2, “Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

[20] Lihat G.I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1 (Surabaya: Momentum / LRII, 1999), hal. 7.  Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1970).

[21] Lihat James Earl Massey, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma (Grand rapids: Baker Book House, 1976), p. 110.

[22] Sydney Greidanius, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching Biblical Literature (Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988), p. 913.

[23] Yohanes (John) Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), h. 206.

[24] 2 Korintus 4:5

[25] Pengertian “sukses” ini lebih kearah hal-hal yang bersifat artificial, misalnya: kemampuan berbicara, daya tarik charisma, relasi, ukuran jumlah pendengar, dukungan teknologi, popularitas, income yang lumayan, mampu memuaskan selera pendengar, dan seterusnya.

[26] 2 Timotius 3:16-17

[27] 2 Timotius 2:15

[28] Yakobus 1:22

[29] Ulangan 32:46-47

[30] Beberapa contoh: Amos berbicara sesuai kebutuhan dan konteks masyarakat kuno Israel, rasul Petrus berbicara pada masyarakat di zaman Pentakosta sesuai kebutuhan mereka, Martin Luther berbicara pada zaman reformasi yang menjadi kebutuhan mereka.

[31] Lihat juga Herbert H. Farmer, The Servant of The Word (Philadelphia: Fortress, Press, 1964), p. 81.

[32]Berdasarkan pembagian kebutuhan dalam konteks pelayanan gerejawi yang dikemukakan oleh Robert D. Dale dalam bukunya Pastoral Leadership (Nashville: Abingdon Press, 1986) pp. 151-153.

[33] Yesaya 6:3

[34] 1 Tesalonika 2:7.

[35] Bukan psychology atau semacamnya yang sedang trend pada hari ini !!!

[36] Haddon W. Robinson, Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository Messages (Grand Rapids: Baker Book House, 1980), p. 58.

[37] John Piper, The Supremacy of God in Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1990), p.39.

[38] Ibid, p. 19.

[39] Pierre Ch. Marcel, The Relevance of Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1963), pp. 91, 94.

[40] J. I. Packer, Evangelism and Sovereignty of God (Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961), p. 113.

[41] Ibid, p. 119.

[42] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1972), p. 33.

[43] Martyn Lloyd-Jones, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1 (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1959), p. 165.

[44] P.T. Forsyth, Positive Preaching and The Modern Mind (Independet Press, 1907), pp. 3,15,56.

[45] Joel R. Beeke, Puritan Evangelism: A Biblical Approach (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 1999), pp. 15-16.

[46] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers, p. 111.

[47]Yang saya maksudkan dengan ‘bermutu tinggi’ disini adalah buku-buku bacaan rohani tersebut jelas ajaran dan dasar teologianya.

[48] Misalnya: perkunjungan, percakapan-percakapan dalam setiap kesempatan, dan sebagainya.

 

PERAN PENGGEMBALAAN MENYIKAPI GERAKAN PERTUMBUHAN GEREJA January 12, 2011

Oleh Pdt. Dr. Yarman Halawa

(disampaikan dalam Seminar Pertumbuhan Gereja yang diselenggarakan oleh Sinode Gereja Kristen Abdiel (Sinode GKA) bekerjasama dengan Persekutuan Gereja-Gereja Injili Surabaya (PGIS), 30-31 Agustus 2010)


Pendahuluan

Melaksanakan tugas dan tanggungjawab penggembalaan gereja ditengah berbagai isu mengenai Pertumbuhan Gereja pada hari ini bukanlah perkara yang mudah. Kondisi ini  sangat terasa didalam gereja-gereja yang memiliki dasar pengakuan iman. Penggembalaan gereja menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan pastoral pressures yang pelik dan berkepanjangan. Beberapa diantara pertanyaan itu adalah: Apakah tepat melibatkan diri didalam trend gerakan Pertumbuhan Gereja hari ini? Haruskah mengikuti pelatihan-pelatihan Pertumbuhan Gereja yang sedang marak saat ini? Haruskah memasukkan musik kontemporer dalam pelayanan ibadah? Haruskah mengadopsi beberapa gerakan rohani yang berakar dari metode-metode psikologi? Haruskah mengikuti apa yang merupakan kemauan dan keinginan jemaat bagi kehidupan rohani mereka?
Pertumbuhan Gereja sejak permulaan munculnya telah menjadi kata “ajaib’ dalam lingkup kehidupan gereja hingga pada hari ini. Para pemimpin gereja berupaya untuk  mencari metode-metode dengan harapan akan mampu menarik sebanyak mungkin orang masuk kedalam gereja. Tidak jarang juga metode yang sebenarnya sudah ada kembali dipopulerkan dengan beberapa penambahan variasi disana-sini yang pada akhirnya  berhasil dibeberapa tempat.[1] Sangat menyedihkan bahwa ternyata didalam upaya untuk mendapatkan pertumbuhan yang dimaksud, tidak jarang gereja mengadopsi segala macam metode yang ditawarkan dengan mengesampingkan unsur yang bersifat fundamental terutama doktrin yang benar yang seharusnya dipegang. Sepertinya unsur yang sangat vital ini tidak lagi menjadi pertimbangan penting asalkan metode-metode tersebut memberi kemungkinan bagi pertumbuhan gereja terutama dari segi kuantitas yang bersifat cepat dan instan. Tidak jarang gereja-gereja yang seharusnya memiliki doktrin yang solid –termasuk dalam hal ini mainline churches – entah dengan alasan “sukarela” atau “terpaksa” jajan – menerapkan metode-metode pertumbuhan gereja tanpa ada penyelidikan terlebih dahulu dengan harapan bahwa keberhasilan yang diraih oleh gereja-gereja tertentu yang telah menerapkannya dapat pula terjadi didalam gerejanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya bisa saja bervariasi. Paling sederhana adalah disamping ‘kerinduan’ menjangkau jiwa bagi Tuhan juga keinginan untuk ‘memperbesar’ gereja dari gereja berskala kecil menjadi gereja berskala besar (mega-church).

Tetapi ada factor lain yang justru lebih penting dan dominan; yakni, lemahnya penggembalaan gereja dalam segi pengawasan doktrin, kurangnya kepekaan serta kemampuan menganalisis kelemahan-kelemahan fatal dari metode yang merupakan produk dari gerakan Pertumbuhan  Gereja, adanya tekanan dari dalam terutama berkaitan dengan kondisi gereja yang stagnan dan kecenderungan makin menurunnya kuantitas jemaat yang tentunya mempengaruhi daya dan kemampuan gereja yang memunculkan tekanan psikologis bagi para pemimpin terutama mereka yang menjadi gembala sidang gereja. Tidak adanya integritas didalam wawasan berteologia menjadi factor utama lainnya yang membuka pintu bagi sikap kompromi yang pada akhirnya justru menimbulkan  permasalahan tersendiri. Tidak dapat disangkali bahwa banyak pemimpin gereja, terutama para Gembala Sidang gereja pada akhirnya justru menjadi promotor bagi Gerakan Pertumbuhan Gereja. Tidak mengherankan jika dewasa ini terjadi “perkawinan campur” antara kelompok-kelompok mainline churches dengan kelompok-kelompok Kharismatik yang notabene merupakan kelompok-kelompok yang paling getol didalam mempromosikan gerakan Pertumbuhan Gereja dengan berbagai variasinya pada hari ini.[2]

Memahami Akar dan Teologi Pertumbuhan Gereja

Harus diingat bahwa setiap gerakan tidak terlepas dari akar gerakan itu berasal dan teologi yang melatar-belakanginya pada masa lalu. Berikut beberapa gerakan penting yang muncul dalam kekristenan di Amerika yang kemudian memberi pengaruh yang sangat besar dalam gerakan Pertumbuhan Gereja pada hari ini (termasuk di Indonesia) yang harus diketahui dan diingat oleh setiap pemimpin gereja terutama para gembala sidang gereja didalam upaya-upaya untuk mencapai pertumbuhan bagi gereja mereka pada hari ini.
1. Gerakan Kebangunan Injili (Evangelical Revivalism)

Gerakan Pertumbuhan Gereja modern tetap tidak dapat dipisahkan dari sejarah kebangkitan gerakan rohani yang pada awalnya muncul dari kalangan Injili. Apa yang disebut dengan Kebangkitan Besar yang dimulai di Amerika Serikat dalam kurun waktu c. 250 tahun (1730an hingga 1980an) telah membuka pintu ke arah gerakan Pertumbuhan Gereja modern yang puncaknya adalah munculnya trend “mega-church” sebagai dampak dari Kebangkitan Besar Keempat. Tidak dapat disangkali bahwa Kebangkitan-Kebangkitan Besar yang melanda Amerika telah mendorong apa yang disebut sebagai ‘pelipatgandaan gereja’ yang pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan “mega-church” itu. Berikut alurnya secara singkat:

1.      First Great Awakening / Revival (1730-1760) dimana para tokoh utamanya seperti George Whitelfield, Jonathan Edwards adalah hamba-hamba Tuhan yang masih menekankan Calvinism/Reformed Theology. Inilah kebangkitan kaum Injili yang pertama.

2.      Second Great Awakening (1790-1840) yang ditandai dengan peralihan konsep kebangunan rohani dari Calvinism ke konsep Arminianism. Salah seorang tokoh terpenting yang paling berpengaruh adalah Charles Grandison Finney.[3] Ia mengajarkan bahwa pertobatan merupakan tindakan dari kehendak manusia.  Orang-orang yang tidak percaya perlu dididik, dimotivasi, dan digerakkan melalui emosi mereka untuk memilih kehidupan yang kudus. Pengaruhnya masih tetap terasa dan terlihat sampai pada hari ini didalam gereja-gereja terutama gereja-gereja Kharismatik.[4]

3.      Third Great Awakening (1850an-1900an) lahirnya Social Gospel Movement, Holiness Movement dan Pentacostalism. Pengaruh Charles G. Finney terlihat dalam teologia Arminian yang diusungnya dan konsep-konsep social yang dipopulerkannya dan mewarnai gerakan-gerakan yang lahir pada masa itu.

4.      Fourth Great Awakening (1960-1980) lahirnya Jesus Only Movement, Neo-Pentacostalism/Charismatic Movement dengan penekanan pada sign and wonders, glosolalia, kesembuhan ilahi dan nubuatan-nubuatan baru atau wahyu-wahyu baru. Fourth Great Awakening ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan ketiga Kebangkitan Besar sebelumnya, yakni dimulainya trend “mega-church.” Mega-church sebagaimana dikatakan menarik perhatian yang luarbiasa oleh karena alasan yang sangat sederhana  bahwa 10 gereja dengan 2000 anggota lebih ‘kelihatan’ daripada 100 gereja dengan 200 anggota.[5]

Perlu diingat bahwa sejak Second Great Awakening (Kebangkitan Besar Kedua) hingga Fourth Great Awakening (Kebangkitan Besar Keempat), pengaruh Charles G. Finney telah membawa dampak yang sangat besar didalam gereja-gereja Injili hingga hari ini. Ia telah menjelma menjadi penyebab dari beberapa tantangan dan permasalahan terbesar didalam gereja-gereja Injili pada hari ini, seperti problem seputar gerakan Pertumbuhan Gereja, problem dampak Kharismatik, dan politisasi kekristenan. Maka sangatlah tepat bila Dr. Michael S. Horton menyebutnya sebagai “orang yang paling bertanggungjawab terhadap penyimpangan doktrin yang melanda kekristenan pada hari ini.”[6] Konsep-konsep radikalnya agar hamba-hamba Tuhan menemukan Injil yang “bekerja”[7] memberi dampak, langsung maupun tidak langsung telah menjadi motif utama dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja masa kini. Maka tidaklah mengherankan apabila konsep Pertumbuhan Gereja memunculkan pemahaman bahwa teologi terletak didalam Pertumbuhan Gereja dan bukan pada pengakuan dasar dari apa yang gereja percayai. Atau dengan kata lain, Pertumbuhan Gereja adalah kunci untuk memahami (bahkan untuk menerima) prinsip-prinsip pengakuan dasar dari gereja. Tentu saja ini tidak benar!

2. Gerakan Kaum Injili Baru (Neo-Evangelicalism)[8]

Gerakan ini pada awalnya muncul pada tahun 1942 dengan berdirinya the National Association of Evangelicals (NAE) dan berusaha menjangkau kebudayaan kepada Injil. Kehadiran lembaga ini adalah untuk mengimbangi kelompok Fundamentalis yang telah terlebih dahulu membentuk American Council of Christian Churches (ACC).  American Council of Christian Churches  sendiri merupakan lembaga yang dibentuk sebagai reaksi atas terbentuknya Federal Council of Christian Churches (FCC) yang merupakan wadah organisasi gereja-gereja yang menganut teologi Liberal yang sedang berupaya untuk mempengaruhi kekristenan di Amerika Serikat.  National Association of Evangelicals (NAE) yang mengusung teologia Injili menjadi jawaban alternatif bagi mereka yang menolak teologi liberal, namun juga tidak setuju dengan sikap dan cara-cara yang diperagakan oleh kaum Fundamentalis.  Kaum Injili menjadi kuat setelah pada tahun 1947 berdiri Fuller Theological Seminary (FTS) di Pasadena-California dan makin ditegaskan melalui penerbitan majalah kaum Injili, Christianity Today pada tahun 1956.  Kaum Injili baru ini merambah ke seluruh dunia melalui lembaga-lembaga mitra gereja (parachurch) yang mereka miliki, yaitu Youth for Christ (dengan tokohnya yang terkenal, pendeta Billy Graham) dan Campus Crusades for Christ yang fokus pelayanannya terutama untuk menjangkau para pemuda dan mahasiswa. Dapat juga dikatakan bahwa peran Fuller Theological Seminary (FTS) sangat penting didalam mempromosikan gerakan Injili ke seluruh dunia dan sekaligus menjadi tempat pelatihan bagi para gembala gereja dalam kelompok Evangelical. Donald McGavran, yang dianggap sebagai pendiri Gerakan Pertumbuhan Gereja modern melalui Sekolah Misi Dunia (School of World Mission) dan Institut Pertumbuhan Gereja (Institute of Church Growth) yang dipimpinnya berhasil mempromosikan pentingnya gerakan Pertumbuhan Gereja untuk menjangkau orang kepada Kristus dan melipatgandakan gereja.

Namun sayangnya, dua puluh tahun kemudian (1960an) gerakan yang semula bercita-cita untuk mempengaruhi kebudayaan kepada Kristus justru berubah arah dengan memunculkan sikap berteologia yang baru.[9] Beberapa penyebabnya adalah sikap yang cenderung mudah mengubah sikap terhadap Alkitab,[10] kecenderungan pada positivisme,[11] kecenderungan pada kebebasan yang tanpa kontrol,[12] kecenderungan pada keterbukaan tanpa kontrol.[13] Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kecenderungan-kecenderungan ini telah membawa dampak yang buruk bagi Pertumbuhan Gereja yang sehat. Misalnya C. Peter Wagner yang merupakan orang kedua yang menjadi tokoh gerakan Pertumbuhan Gereja modern -menggantikan Donald McGavran- kemudian beralih kedalam ‘gerakan rasuli dan Kharismatik.’ Prinsip-prinsip dan pandangan-pandangannya mengenai Pertumbuhan Gereja telah turut menjembatani “pertemuan” antara mainline churches dengan gerakan-gerakan dalam arus Kharismatik. Neo-Evangelical secara langsung maupun tidak telah mendorong lahirnya beberapa gereja ‘gaya baru’ melalui berbagai pengembangan metode dalam arus gerakan Pertumbuhan Gereja pada kurun dasawarsa 1980an dan 1990an. Beberapa diantaranya yang paling terkemuka adalah: The Seven-Day-a-Week-Church (Gereja Tujuh Hari Seminggu) oleh Lyle Schaller, The MetaChurch (Gereja Meta / Gereja Sel) oleh Carl George,  The User-Friendly Church (Gereja yang Mudah Digunakan) oleh George Barna, A Church for the Twenty-first Century (Gereja untuk Abad Keduapuluh Satu) oleh Leith Anderson, The Seeker Sensitive Church (Gereja Yang Peka Terhadap Pencari) oleh Bill Hybels, The Church for the Unchurched (Gereja bagi yang Belum Bergereja) oleh George Hunter, The Purpose Driven Church (Gereja yang Digerakkan oleh Tujuan) oleh Rick Warren, Natural Church Development (Gereja Yang Berkembang Secara Alamiah) oleh Christian A. Schwarz, dan The Aqua Church (Gereja Aqua) oleh Len Sweet. Tidak terlalu berlebihan bila mengatakan bahwa gereja-gereja “gaya baru“ yang merupakan hasil dari pengembangan berbagai metode Pertumbuhan Gereja modern ini adalah gereja yang “digerakkan oleh pasar.”[14]

Banyak teolog/gembala dalam pengaruh neo-Evangelical mereduksi kebenaran mengenai dosa manusia, penebusan oleh darah Kristus, dan ajaran mengenai penghukuman kekal[15] oleh karena dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan atau zaman dan kondisi manusia serta  mengedepankan humanisme (positivism dan keterbukaan), luapan emosi/perasaan, unsur-unsur psikologi, musik kontemporer, karunia-karunia rohani tertentu, wahyu-wahyu baru, dan sebagainya yang pada hakekatnya bertujuan untuk membuat manusia menjadi ‘nyaman’ dengan dirinya sendiri.
3. Gerakan Hujan Akhir (Latter Rain Movement)

Gerakan ini mulai lahir pada tahun 1948 di North Battleford, Saskatchewan, Kanada diantara gereja-gereja the Sharon Brethren Pentecostal dan mempengaruhi kelompok-kelompok Pentakosta dan Injili. Teologi Kharismatik berkaitan dengan charismata, berkata-kata dan menyanyi dalam bahasa lidah/glosolalia, praktek penumpangan tangan bagi “baptisan dalam Roh” telah menjadi unsur-unsur kesesatan yang memasuki gereja. Munculnya gerakan Jesus Only[16] yang mempopulerkan “signs and wonder” juga telah menambah masuknya unsur-unsur heretic-okultism kedalam gerakan Hujan Akhir (the Latter Rain Movement) ini.

Meskipun Gerakan Hujan Akhir (The Latter Rain Movement) sendiri telah dinyatakan oleh The Pentecostal Assemblies of God[17] sebagai bidat pada tahun 1959, namun pengajarannya terus hidup melalui seorang yang bernama Demos Shakarian dan Full Gospel Businessmen’s Fellowships yang dipimpinnya dan memunculkan The Latter Rain Movement ini dengan nama baru pada tahun 1960an sebagai The Charismatic Movement[18] yang segera meraih simpati banyak orang termasuk tokoh gerakan Pertumbuhan Gereja modern seperti C. Peter Wagner. Berbeda dengan Pentakosta lama (yang dianggap sebagai “gerakan hujan awal”); maka, Latter Rain Movement ini yang juga disebut sebagai Neo-Pentacostalism atau Kharismatik ini mempromosikan pemulihan dari seluruh karunia rohani dan berupaya ‘memulihkan’ otoritas perjanjian baru melalui apa yang mereka sebut sebagai para rasul dan para nabi modern. C. Peter Wagner, yang merupakan penerus Donald McGavran dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja beralih ke dalam gerakan ini dan bahkan menyebut dirinya sebagai ‘rasul’ bersama-sama dengan John Wimber (Toronto Vineyard Fellowship)[19] mempromosikan “signs and wonders” dalam gerakan Kharismatik. Wagner menjadi salah satu pemimpin utama dalam gerakan ini. Maka tidaklah mengherankan dalam gerakan Pertumbuhan Gereja pasca Donald McGavran sampai pada hari ini, dipengaruhi dengan sangat kuat oleh unsur-unsur Kharismatik, dimana karunia-karunia rohani tertentu dijadikan sebagai daya tarik untuk menarik banyak orang.[20]

Salah satu dampak lain dari Latter Rain Movement ini dalam ibadah -yang juga sangat berpengaruh kedalam mainline churches- hari ini adalah pengaruh dari pengajaran pemulihan “Davidic Tabernacle Worship.” Dimana ibadah dimulai dengan membangkitkan emosi jemaat, nyanyian yang terus-menerus diulang-ulang untuk membawa jemaat masuk kehadirat Allah. Ini menjadi format ibadah Kharismatik yang pada hari ini juga telah masuk kedalam gereja-gereja dalam kelompok mainline churches. Ciri khas lainnya yang bisa dilihat dari gerakan ini adalah promosi karunia-karunia rohani terutama penglihatan, kesembuhan ilahi, wahyu-wahyu baru, kesuksesan, blessing, pemulihan (diri, keluarga, usaha, financial, kesehatan). Selain itu pengerahan massa (terutama kaum muda) beserta konser-konser musik dan lagu-lagu kontemporer merupakan andalan mereka didalam meraih “kesuksesan ibadah”[21] yang biasanya mereka sebut sebagai ibadah yang inspiratif dan penuh jamahan Roh Kudus. Hal-hal yang bersifat artificial inilah yang seringkali dianggap sebagai sebuah ‘pertumbuhan’ !

4. Post-Modernism

Post-Modernism menolak  peran dan keabsahan dari kebenaran yang absolut. Para teolog Post-Modernism menyarankan hermeneutika Alkitab yang menolak kebenaran objektif yang diberitakan oleh Alkitab. Mereka beranggapan bahwa kebenaran yang sesungguhnya datang dari perspektif para pembaca dan bukan hanya dari dalam Alkitab sendiri dan menganggap bahwa kebenaran dengan sendirinya akan terjadi ketika itu sesuai dengan harapan dan pengalaman mereka.
Ciri khas pengaruhnya dalam gereja pada hari ini adalah sikap yang “ramah dan bersahabat’ terhadap ajaran pokok kekristenan dengan prinsip bahwa kebenaran harus dibicarakan tanpa menentang kesalahan / dosa, atau mengajarkan doktrin tanpa perlu menimbulkan polemik. Jadi kebenaran yang sebenarnya bukan ada pada apa yang diajarkan Alkitab tetapi terletak pada apa yang dianggap atau dipikirkan oleh manusia sebagai  kebenaran. Post-Modernism mengusung semangat relativisme dengan mendengungkan motto “memutlakkan segala sesuatu adalah relatif.” Hasil yang muncul dari kerusakan berpikir ini adalah bahwa pada akhirnya didunia tidak ada satupun yang pasti sehingga sikap-sikap yang menghakimi, mengkritik atau member penilaian terhadap apa yang benar dan apa yang salah harus dibuang jauh-jauh. Maka tidaklah mengherankan bila para pemimpin gereja (terutama gembala sidangnya) yang terkontaminasi cara pandang seperti ini akhirnya menjadi pemimpin yang labil yang begitu mudah kompromi dalam mengadopsi segala macam pandangan dan berusaha –karena kuatir disebut memiliki sifat membeo- membentuk suatu format yang baru yang sebenarnya merupakan campuran dari berbagai macam model untuk menciptakan netralitas yang sebenarnya tidak lebih dari upaya untuk mencari aman.

Hal lainnya yang patut dicermati dalam Post-Modernism ini adalah prinsip anti-otoritas. Salah satu dampak ini dalam kehidupan bergereja didalam mainline churches adalah terjadinya pergeseran liturgi-liturgi tradisonal kepada gaya ibadah “mengalir.” Ibadah, musik, liturgi dalam gereja-jereja mainline dianggap kuno, kaku, mati, tidak memiliki roh, dan sebagainya. Kecenderungannya beralih kepada apa yang dianggap “baru” dan menjanjikan kepuasan dan kenikmatan ibadah yang sekaligus juga dianggap akan lebih bisa menarik orang untuk datang berbakti ke gereja. Kalau demikian maka gereja akan bertumbuh! Maka tidaklah mengherankan bila di ruang-ruang rapat majelis gereja atau di meja-meja pertemuan para hamba Tuhan hal ini menjadi agenda tersendiri dalam pembahasan terutama ketika memasuki sesi yang bersifat evaluatif terhadap kehidupan ibadah gerejawi mereka.

Post-Modernism juga telah turut andil dalam menciptakan kemunculan dari berbagai gerakan yang sebenarnya merupakan gerakan escape from reality melalui psikologi. Munculnya gerakan-gerakan seperti Pria Sejati/Real Man/Strong Man/Pria Maxima, Wanita Bijak dan sejenisnya merupakan korelasi wajar dari kondisi ini.[22]

Membentuk Wawasan Pertumbuhan Gereja Yang Sehat Sesuai Alkitab

Pertumbuhan Gereja sebenarnya merupakan istilah modern yang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Alkitab khususnya Perjanjian Baru bagi perkembangan gereja mula-mula dalam lingkup gereja kerasulan (the Apostolic Church).[23] Kitab Kisah Para Rasul mencatat pertumbuhan keluar (ekstensif) dengan bertambahnya jumlah anggota, luas jangkauan pelayanan, membesarnya organisasi gereja, dan sebagainya. Berbarengan dengan pertumbuhan ekstensif tersebut, muncul pertumbuhan intesif yakni pertumbuhan kedalam yang bersifat konsolidatif dalam bentuk penataan, pemantapan, pembinaan, administratif, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa kedua bentuk pertumbuhan ini merupakan rekaman historis biblika mengenai sejarah awal Pertumbuhan Gereja.

1. Pertumbuhan Ekstensif

Pertumbuhan ekstensif didasari oleh Amanat Agung Kristus didalam Matius 28:18-20 dan Markus 16:15-16. Para rasul, diutus untuk pergi melaksanakan perintah ini. Patut diingat bahwa pertumbuhan ekstensif ini terjadi atas dasar kuat kuasa Roh Kudus yang diberikan kepada para murid untuk bersaksi (Kisah Para Rasul 1:8) atau dengan kata lain, Roh Kudus sendirilah yang memungkinkan para murid bersaksi. Melalui kesaksian merekalah, maka murid-murid baru bertambah di dalam himpunan para murid yang telah ada itu. Penting untuk diingat bahwa pertumbuhan ini mengikuti kerangka konsentris yang  dimulai dari pusat yakni Yerusalem lalu ke wilayah propinsi terdekat yakni Yudea, kemudian ke wilayah propinsi lain yakni Samaria (yang merupakan bangsa campuran), dan akhirnya keseluruh penjuru dunia.  Lukas melalui kitab Kisah Para Rasul menuturkan pertumbuhan ekstensif ini  dari segi pembentukan gereja-gereja. Mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, Siria (Damaskus) lalu ke Antiokhia yang menjadi tempat pertama sekali penyebutan ‘kristen’ digunakan bagi orang-orang percaya (lihat Kisah Para Rasul 11:26). Dari situ kemudian menyeberang ke pulau Siprus lalu ke Asia Kecil dan akhirnya Eropa.

Pertumbuhan ekstensif ini telah mengakibatkan pelipatgandaan jumlah para murid. Jumlah pertambahan ini ada yang kecil dan besar sesuai dengan perjumpaan yang terjadi tatkala kesaksian Injil diberitakan kepada mereka. Dalam Kisah Para Rasul 1:15 dikatakan ada 120 orang yang mula-mula menjadi anggota jemaat di Yerusalem. Dan pada hari Pentakosta jumlah mereka bertambah kira-kira 3000 orang (Kisah Para Rasul 2:41). Di Antiokhia, Alkitab mencatat bahwa melalui penyertaan Tuhan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 11:21). Pertambahan juga terus terjadi baik secara orang per orang (misalnya sida-sida dari Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8:38) maupun dalam bentuk kelompok kecil (perwira Kornelius dan keluarganya dalam Kisah Para Rasul 10:48).

Ada 2 hal penting yang perlu dicatat dan diingat dalam pertumbuhan ekstensif ini: pertama, pertumbuhan gereja terjadi oleh karena Pemberitaan Injil dari para rasul dan para murid lainnya. Mula-mula para Rasul (kaum rohaniwan) menjadi pelopor  dalam memberitakan kesaksian Injil. Kemudian para murid lainnya (orang-orang percaya / jemaat) ikut terlibat melaksanakan tugas ini. Jadi kedua unsur ini (para rasul dan para murid / jemaat) merupakan dua gerak mitra sinergis yang berjalan bersama, saling mengisi dan saling mendukung. Ini menunjukkan bahwa Pertumbuhan Gereja adalah tanggungjawab bersama umat Allah. Kedua, Pertumbuhan Gereja menyangkut proses lintas bangsa dan budaya. Mula-mula Injil hanya diberitakan secara eksklusif kepada kalangan bangsa Yahudi, namun kemudian diberitakan juga kepada bangsa-bangsa lain. Mula-mula bangsa Samaria yang merupakan bangsa campuran Yahudi dengan bangsa-bangsa lain,[24] kemudian orang-orang Yunani. Lebih spesifik lagi, guna menjangkau bangsa-bangsa lain Paulus dan Barnabas diutus (Kisah Para Rasul 9:15; 11). Dengan kata lain Pertumbuhan Gereja memiliki dimensi penting didalam menciptakan keutuhan Tubuh Kristus secara inklusif dan bukan eksklusif.

2. Pertumbuhan Intensif

Pertumbuhan Intensif (pertumbuhan kedalam) dalam sejarah Pertumbuhan Gereja khususnya dalam Perjanjian Baru terlihat dalam beberapa bentuk. Misalnya: pengaturan organisasi dan administrati gereja dengan diangkatnya para pejabat gereja untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu (lihat Kisah Para Rasul 7:1-7). Kemudian timbulnya upaya pemantapan dibidang pengajaran/doktrin. Misalnya: bagaimana memahami Hukum Taurat dan ketentuan-ketentuan adat istiadat Yahudi dalam persekutuan Kristen antar bangsa (yang menjadi pokok penting dalam Sidang Yerusalem di Kisah Para Rasul 15:1-21). Selain itu dilakukan upaya pengaturan pembagian kerja dalam skala kecil hingga skala besar, program konsolidasi secara umum dan pembinaan serta kaderisasi kepemimpinan gerejawi, dan sebagainya. Beberapa dari upaya pengaturan yang sangat penting terlihat dengan sangat jelas dalam hal-hal berikut ini:

a.      Kepemimpinan yang memperlengkapi segenap anggota jemaat agar mampu melayani demi pembangunan tubuh Kristus untuk menuju kedewasaan penuh dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:12-13).

b.      Kepemimpinan yang membawa jemaat yang utuh kepada kepemimpinan Kepala Gereja yakni Kristus untuk menerima pertumbuhan dan membangun diri didalam kasih (Efesus 4:15-16).

c.       Kepemimpinan yang setia terhadap pengajaran yang sehat (cf.1 Timotius 4:6; 2 Timotius 4:3)

Menyadari “Bahaya” Dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja Modern

Dari perpektif sejarah gereja, Pertumbuhan Gereja memiliki dua dampak yang tetap harus menjadi pertimbangan yang tidak boleh diabaikan dalam euforia Pertumbuhan Gereja modern pada hari ini. Pertama, bahwa Pertumbuhan Gereja bisa memiliki dampak yang “negatif.” Sejarah gereja telah membuktikan bahwa Pertumbuhan Gereja juga terjadi diluar dari metode yang manusia bisa pikirkan, yakni gerakan pertobatan massal yang tiba-tiba. Mula-mula gereja mengalami penganiayaan mulai dari abad 1 Masehi hingga awal abad 4 Masehi. Tetapi ditengah penganiayaan ini gereja justru bertumbuh kuat. Namun ketika kemudian Kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan Edict Milan[25] pada tahun 313 Masehi, maka orang Kristen bebas dari penganiayaan yang hebat itu. Terlebih setelah kaisar ini memberi dukungan bagi gereja dan memaklumkan kekristenan sebagai agama resmi kekaisarannya; maka, laju Pertumbuhan Gereja menjadi sangat pesat. Sesuatu yang bila ditinjau dari segi kuantitas jauh melampaui Pertumbuhan Gereja pada zaman Perjanjian Baru. Terjadi “pertobatan” massal yang luarbiasa namun juga kemerosotan mutu kehidupan rohani yang luarbiasa sebagai akibat banyak orang yang memberikan dirinya dibaptis atas dasar berbagai-bagai alasan dan bukan karena sungguh-sungguh percaya dan bertobat.[26]

Hal yang sama juga dapat kita lihat pasca Reformasi gereja pada abad 16 dan seterusnya.  Dimana suatu organisasi gereja bisa timbul atau tenggelam mengikuti keputusan penguasa diwilayah tertentu sebagai imbas dari pergeseran-pergeseran social dan politik. Konsep bahwa penguasa wilayah menentukan agama yang berlaku diwilayahnya (Cuius regio, aeius religio) telah menempatkan pemahaman Pertumbuhan Gereja pada sisi yang sangat negatif.  Barangkali kondisi yang sama tidak kita alami pada hari ini kecuali kenyataan menyaksikan bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi sangat menurun minatnya terhadap kehidupan gereja dan cenderung tidak mau tahu dengan gereja.[27]

Kedua, Pertumbuhan Gereja memiliki dampak  “positif.” Pelayanan misi dan pekabaran Injil melalui zending/lembaga misi telah membawa dampak yang luarbiasa bagi Pertumbuhan Gereja. Di beberapa tempat gereja bertumbuh subur meskipun dibeberapa tempat lainnya tidak terlalu bertumbuh subur. Namun bagaimanapun dampak positif melalui kehadiran gereja-gereja baru telah memberi sumbangsih yang nyata bagi perkembangan kekristenan ditengah dunia. Barangkali tidak terlalu berlebihan jika Peter Wagner –terlepas dari hal-hal bersifat fundamental yang perlu dikritisi darinya berkaitan dengan konsepnya mengenai Pertumbuhan Gereja setelah ia beralih kedalam gerakan “rasuli dan kharismatik”- mengatakan bahwa tujuan Pertumbuhan Gereja adalah untuk “lebih mengefektifkan penyebaran Injil dan melipatgandakan gereja-gereja di daerah baru.”[28] Dari Barat Injil dibawa menuju Asia, Afrika dan belahan dunia lainnya sehingga menimbulkan tumbuhnya gereja-gereja baik yang menunjukkan pertumbuhan positif yang mutlak maupun relatif. Bahkan di Indonesia, kita bisa melihat pada hari ini bagaimana gereja-gereja terus mengalami pertumbuhan secara luarbiasa, karena berbagai sebab yang kadangkala tidak terduga.

Munculnya perspektif baru didalam upaya penginjilan/misi pada tahun 1955, telah makin memperluas wawasan Pertumbuhan Gereja. Di tahun itu, Donald McGavran (1897-1990) yang dijuluki sebagai Bapa Gerakan Pertumbuhan Gereja Modern menulis sebuah buku berjudul The Bridges of God, yang merupakan uraian mengenai 2 pertanyaan mendasar yang sangat penting yang akan menjadi dasar bagi berbagai model pertumbuhan gereja dikemudian hari: 1) Mengapa gereja bertumbuh didalam situasi-situasi yang sama, dan tidak dalam situasi-situasi lainnya?  2) Hal-hal apa yang dapat dipelajari dari Alkitab dan pengalaman kontemporer untuk membantu gereja-gereja bertumbuh?[29] Asumsi dasar dari buku tersebut adalah “Allah menghendaki gereja-Nya bertumbuh.”[30] Maka ia menegaskan  bahwa “Misi Kristen adalah membawa orang bertobat dari dosa-dosa mereka, menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, menjadi bagian (anggota) tubuh-Nya, melakukan perintah-Nya, pergi menyebarkan Kabar Baik dan melipatgandakan gereja.”[31]

Prinsipnya yang terutama[32] bagi Pertumbuhan Gereja dapat disimpulkan kedalam tiga penyataan: pertama, Allah menghendaki agar anak-anak-Nya yang terhilang ditemukan dan dirangkul. Kedua, menemukan fakta tentang Pertumbuhan Gereja melalui riset yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai sebab-sebab dan kendala-kendala Pertumbuhan Gereja, dan yang terakhir adalah mengembangkan rencana-rencana khusus berdasarkan fakta yang ditemukan. Namun dalam perkembangan selanjutnya prinsip-prinsip ini dikaburkan dengan konsep yang disebut dengan Memasarkan Gereja (Marketing the Church) yang pada akhirnya mengakibatkan Pertumbuhan Gereja hanya sebagai metodologi untuk memasarkan gereja[33] dengan tujuan yang sering tidak lebih dari suatu upaya untuk memperbesar gereja dan menghasilkan keuntungan-keuntungan dari perkembangannya.

Patut diingat dan diperhatikan, bahwa ia sendiri sejak awal menyadari bahwa istilah Pertumbuhan Gereja (Church Growth) ini dapat menimbulkan dampak yang bisa memecah belah gereja. Dalam surat yang dikirimkannya kepada isterinya, Mary McGavran tanggal 8 September 1961, ia mengatakan bahwa “menekankan pertumbuhan gereja berarti memecah belah gereja.”[34] Apa yang ia katakan ini kemudian benar-benar terbukti. Pemahaman yang kompleks dan perbedaan-perbedaan yang tajam dari berbagai model Pertumbuhan Gereja telah turut ‘meramaikan’ pergumulan pastoral gereja pada hari ini.[35] Penerusnya, C. Peter Wagner ternyata melangkah lebih “maju” dari pendahulunya. Ia sangat tertarik dalam meneliti paradigma-paradigma Pertumbuhan Gereja tanpa berpatokan pada aturan-aturan Alkitab. Terlebih setelah ia beralih kedalam gerakan “rasuli dan kharismatik,” dimana ia menyebut dirinya sebagai “Apostle (rasul) C. Peter Wagner” dan bersama dengan John Wimber (Toronto Vineyard Church)[36] mempromosikan “signs and wonders” dalam gerakan Kharismatik. Konsep-konsep Pertumbuhan Gereja yang ditawarkannya telah membuka pintu bagi masuknya prinsip-prinsip humanism, bisnis,  dan pelbagai ketimpangan pengajaran yang keluar dari jalur Alkitab demi tujuan pelipat-gandaan gereja yang dimaksudkannya. Hal ini mengakibatkan 2 hal: 1) Alkitab digunakan tidak lebih sebagai tempat penampung dimana bagian-bagiannya dipilih keluar dari konteksnya untuk mendukung pemikiran mengenai strategi Pertumbuhan Gereja. 2) meningkatnya konsentrasi terhadap keinginan untuk meraih jumlah melebihi tugas pemuridan. Hal ini didorong oleh pemahaman (yang tentunya tidak tepat) bahwa gereja yang besar adalah gereja yang bagus, diberkati dan diperkenan Tuhan.

Sepertinya, setiap pemimpin gereja terutama para gembala gereja patut merenungkan apa yang McGavran sendiri katakan pada akhirnya, setahun sebelum kematiannya pada 1990 bahwa ‘ia telah melakukan kesalahan.‘[37] Perasaan bersalah yang tentunya lebih disebabkan oleh karena dampak negatif dari kesalahan pengaplikasian lapangan terhadap gagasan-gagasannya mengenai Pertumbuhan Gereja yang pada akhirnya telah memunculkan berbagai model Pertumbuhan Gereja yang salah kaprah. Perhatikan laporan Asosiasi Amerika untuk Pertumbuhan Gereja yang disampaikan ketuanya, John Vaughn, yang mengidentifikasi kecenderungan gerakan Pertumbuhan Gereja  pada hari ini.  Diantaranya adalah:[38]

1.      telah meninggalkan prinsip-prinsip dasar dari Donald McGavran.

2.      penerapan pragmatis berlebihan dengan mengabaikan Kitab Suci menghasilkan suatu pelayanan yang menghalalkan segala cara untuk tujuan menumbuhkan gereja.

3.      menetapkan pelayanan dari sisi ‘kebutuhan yang dirasakan’ (felt needs) orang.

4.      secara sistematis menggantikan khotbah dan ajaran Alkitab dengan hal-hal klasifikasi hadirin (audience ratings), pertumbuhan statistik, keuntungan-keuntungan financial dan lainnya.

5.      terfokus pada hal “mengkandangkan” orang yang sudah bertobat kepada kekristenan dan bukannya menjangkau orang yang belum bertobat.

6.      ketidakmampuan untuk membedakan antara pertumbuhan gereja-gereja ortodoks dalam segi jumlah dengan gereja-gereja yang mengajarkan ajaran sesat (palsu).

7.      mengukur keberhasilan dari besar kecilnya gereja.

2 “Perangkap” Yang Harus Diwaspadai Para Gembala dan Para Pemimpin Gereja

Harus diakui bahwa gerakan Pertumbuhan Gereja telah memberikan banyak sumbangsih bagi kekristenan selama bertahun-tahun dengan berlipatgandanya gereja dan memperbesar kemungkinan-kemungkinan positif yang didapatkan oleh gereja melaluinya, terutama dalam kaitan yang bersifat kuantitatif. Hal ini telah membuka wawasan dan menantang berbagai cara pandang dan pendekatan-pendekatan pertumbuhan gereja dari banyak pemimpin gereja, terutama mereka yang menjadi gembala sidang didalam gerejanya masing-masing. Ada kerinduan besar untuk menyaksikan gereja yang semakin lebih baik, lebih terarah, berdaya guna dan makin efektif terutama didalam pelaksanaan penginjilan dan misi yang dilakukan didalam gereja-gereja lokal. Tentunya ini merupakan hal yang baik dan patut untuk terus diupayakan sebagai bentuk respon yang bertanggungjawab terhadap panggilan-Nya. Namun bagaimanapun, sikap kritis dari para pemimpin gereja – dalam hal ini para gembala sidang gereja – diperlukan untuk mewaspadai akibat negatif yang fatal dalam pemikiran-pemikiran pertumbuhan gereja yang justru pada akhirnya menjadi boomerang bagi diri sendiri dan juga bagi gereja yang digembalakan. Berikut 2 “perangkap” yang harus diwaspadai:

1. Daya Tarik Jumlah

Gerakan Pertumbuhan Gereja selalu menawarkan apa yang disebut dengan ‘pelipatgandaan jumlah’ orang kedalam gereja. Donald McGavran yang disebut sebagai Bapak Gerakan Pertumbuhan Gereja Modern, didalam bukunya “Understanding Church Growth” menekankan apa yang ia sebut sebagai “pertumbuhan jumlah” sebagai satu-satunya kriteria yang sah bagi Pertumbuhan Gereja.[39] Maka tidaklah mengherankan bila ia sangat meyakini bahwa inti pemikiran Pertumbuhan Gereja adalah meneliti faktor-faktor yang dapat menolong atau menghambat pertambahan jumlah. Jadi, pada dasarnya konsep dasar Pertumbuhan Gereja adalah perkara jumlah atau kuantitas.  Untuk mendukung hal ini maka selain Kitab Kisah Para Rasul, kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru sering menjadi rujukan bagi gerakan Pertumbuhan Gereja untuk menegaskan mengenai pertumbuhan secara kuantitas.[40] Perangkap ‘jumlah’ ini dapat mengaburkan kemurnian dasar dari efektifitas Injil yang seharusnya dipegang dalam pelayanan misi dan penginjilan. Metode dan berbagai model yang ditawarkan melalui gerakan Pertumbuhan Gereja pada akhirnya menjadi tidak lebih dari suatu upaya manusia untuk menambah sebanyak mungkin jumlah orang kedalam gereja dan bukan pada tujuan vitalnya yakni seseorang secara murni dengan kuasa anugerah Tuhan melalui pekerjaan Roh Kudus yang melahirbarukan seseorang kedalam gereja. Bahkan terkadang para pemimpin karena berorientasi pada jumlah pada akhirnya lebih memilih untuk mengorbankan hal-hal yang sebenarnya harus mereka pertahankan demi meraih sebanyak mungkin orang kedalam gereja. Dalam hal yang berkaitan dengan ibadah misalnya, Rick Warren berkata, “Saya mengaku bahwa kami kehilangan ratusan anggota potensial karena gaya musik yang kami gunakan di Saddleback, sebaliknya kami menarik ribuan orang lagi karena musik tersebut “[41]

Bila ‘jumlah’ menjadi ukuran bagi sebuah keberhasilan dan kebanggaan dalam pelayanan dan mengabaikan unsur kualitatif yang justru seharusnya menjadi prioritas utama; maka, sesungguhnya pelayanan telah mengalami kegagalan. Segala usaha untuk mencapainya meskipun kelihatan berhasil namun sebenarnya tidaklah lebih dari sebuah usaha mendirikan bangunan yang besar dan megah tanpa fondasi yang kuat. Erich Fromm memberi peringatan yang penting untuk kita ingat: “Our age has found a substitute for God – the impersonal calculation. This new god has turned into an idol to whom all may be sacrificed. A new concept of the sacred and unquestionable is arising: that of calculability, probability, factuality.”[42] Lagi pula kita harus ingat bahwa pertambahan ‘jumlah’ bukanlah segala-galanya bagi sebuah Pertumbuhan Gereja yang sesungguhnya. Prinsip Alkitab jelas dalam hal ini, bahwa pertambahan jumlah merupakan akibat yang bersifat umum yang ditunjukkan oleh karena adanya kualitas dan bukan sebaliknya.  Peristiwa seperti dalam Kisah Rara Rasul yang menunjukkan adanya pertambahan jumlah harus dipahami sebagai sebuah peristiwa untuk merayakan  kualitas hidup kekristenan mula-mula dan bukan sebagai sebuah alasan untuk menjadikannya sebagai bahan olokan untuk menilai kekeristenan hari ini.[43]

Agaknya kesimpulan dari George W. Peters ketika ia memberi analisa mengenai pertambahan dari individu-individu kedalam ‘gereja’ yang dihasilkan melalui gerakan-gerakan bersifat massal  dalam sejarah perlu dicermati dan dijadikan sebagai peringatan. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya kondisi-kondisi yang demikian pada akhirnya tidaklah lebih dari sebuah ‘kerajaan kristen yang diciptakan dan bukan kekristenan yang sejati.’[44]

2. Daya Tarik Kesuksesan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesuksesan sebuah penggembalaan lebih sering diukur karena jumlah yang besar dari keanggotaan gereja, makin besarnya gereja beserta hal-hal yang bersifat material yang menyertainya, dan bertambahnya pelayanan-pelayanan gereja. Akan tetapi kita harus ingat bahwa Perjanjian Baru juga telah memberikan kepada kita gambaran mengenai gereja yang sukses di dalam kitab Yakobus, kitab-kitab Petrus, dan kitab Wahyu. Gereja-gereja tersebut kelihatannya jauh dari kesuksesan sebagaimana dipahami oleh orang kebanyakan. Justru gereja mengalami penderitaan. Namun gereja tetap setia bukan karena penginjilan yang berhasil, melainkan karena tetap memelihara diri dan penuh pengharapan ditengah perjuangan hidup dan mati ditengah dunia yang gelap ini.

Barangkali masalah yang besar berkaitan dengan istilah “sukses” dalam pelayanan pada hari ini sesungguhnya bukanlah dalam pengertian biblika atau teologia tetapi sebenarnya dalam pengertian yang bersifat psikologis[45] dimana kepuasaan pada rasio dan perasaan akan pencapaian tertentu bagi Pertumbuhan Gereja memberi pengaruh pada kepercayaan diri. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa untuk mengejar kesuksesan tersebut gereja berlomba-lomba untuk menciptakan atmosfir dengan memberi kesan tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk beribadah melainkan juga menjadi tempat yang menyediakan seluruh kebutuhan jasmani setiap orang. Tentu saja ini kurang tepat.[46] Ini mungkin bisa efektif dalam memasarkan sebuah produk didalam dunia bisnis, namun menjadi pola yang merusak apabila diterapkan didalam gereja. Ada perbedaan prinsip yang sangat besar antara strategi pasar dengan strategi Allah bagi Pertumbuhan Gereja. Strategi pasar berjalan dibawah prinsip “pelanggan adalah raja”[47] namun dalam strategi Allah prinsipnya adalah “Tuhan dan firman-Nya  pusat.” Kita patut merenungkan apa yang dikatakan oleh Elmer Towns bahwa, “Firman Tuhan adalah ukuran mutlak untuk iman dan perbuatan, dan prinsip pertumbuhan gereja apapun yang bertentangan dengan Kitab Suci, walaupun ia menghasilkan pertumbuhan dalam jumlah, bukanlah prinsip pertumbuhan gereja yang Alkitabiah.”[48]

Perlu diingat bahwa mentalitas bisnis dalam pelayanan tidak akan menghasilkan dan menambah Pertumbuhan Gereja yang sehat apalagi menghasilkan integritas rohani baik bagi para pemimpin rohani maupun bagi umat percaya. Sekali mentalitas ini diadopsi dan dikedepankan, maka gereja akan lebih tertarik pada kesuksesan artificial dan keuntungan-keuntungan yang didapat melaluinya dan bukannya justru kepada kesuksesan yang hakiki yakni kebenaran dan kekudusan yang merupakan kesuksesan yang terpenting dalam pelayanan. Disinilah para pemimpin gereja terutama para gembala gereja harus mawas diri sehingga ditengah pergumulan-pergumulan penggembalaan dapat tetap memelihara integritas panggilannya seturut ajaran kebenaran. Kesalahan terbesar dalam strategi-strategi Pertumbuhan Gereja pada hari ini adalah penyangkalan (secara sadar ataupun tidak disadari) terhadap kedaulatan Allah dan sufisiensi Alkitab. Begitu banyak pemimpin gereja terutama para gembala yang telah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi minder sehingga tidak lagi mempercayai bahwa gereja yang benar dan sehat itu akan bertumbuh melalui pemberitaan dan pengajaran firman Allah yang bertanggungjawab didalamnya.

Oleh sebab itu, kerinduan yang amat besar untuk melihat Amanat Agung berhasil sekali-kali tidak boleh digantikan dengan keberhasilan pemasaran gereja. Firman Tuhan menegaskan  bahwa Tuhanlah yang menambah jemaat gereja[49] dan bukan karena kedigdayaan manusia. Tuhan kita Yesus Kristus juga mengatakan bahwa Ia sendirilah yang akan membangun gereja-Nya.[50] Alkitab menunjukkan bahwa alat yang benar untuk mengembangkan gereja semuanya bersifat supernatural, karena gereja itu pada hakekatnya adalah supernatural. Jadi sebenarnya bukan metodologi yang merupakan hasil riset dan pemikiran manusia yang mengerjakan pertumbuhan gereja-Nya. Bahkan seorang hamba Tuhan seperti rasul Paulus saja –kalau boleh disebut sebagai ahli Pertumbuhan Gereja pada zamannya- dalam 1 Korintus 2:4-5 mengatakan, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”  Ini berarti bahwa kesuksesan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada hal-hal yang dihasilkan didalam setiap upaya yang dilakukan. Kesuksesan tidak terletak kepada kemakmuran, kejayaan, kuasa, popularitas dan hal-hal lain menurut pemahaman dunia mengenai arti kesuksesan. Tetapi kesuksesan yang sesungguhnya didalam pelayanan adalah melakukan kehendak Allah tanpa menghiraukan untung dan rugi yang ada atau sikap mempertanyakan panggilan pelayanan kita sebagai bentuk keragu-raguan oleh pengaruh situasi dan kondisi yang ada.

 

Kesimpulan dan Saran

Fenomena gerakan Pertumbuhan Gereja saat ini memang sangat menarik untuk dicermati. Namun juga memerlukan hikmat yang tepat didalam menyikapinya. Para pemimpin gereja terutama mereka yang memangku tugas penggembalaan gereja mesti waspada terhadap berbagai produk yang muncul dari gerakan Pertumbuhan Gereja pada hari ini. Terlepas dari keberhasilan-keberhasilannya, gerakan Pertumbuhan Gereja yang diterjemahkan kedalam berbagai model dan cara harus tetap mendapat penelitian ulang dari segala sisi, khususnya sisi historis-teologis-hermeneutis-praktis secara bertanggungjawab. Sehingga dengan demikian gereja tetap terpelihara dari berbagai pengaruh yang tidak tepat dan Amanat Agung Tuhan dapat tetap dijalankan dengan murni dan bertanggungjawab.[51]

Para pemimpin gereja, dalam hal ini khsusunya mereka yang memangku tanggungjawab penggembalaan, patut menjaga diri dari mentalitas instan dan pola pikir sekuler dalam upaya untuk mencapai terjadinya pertumbuhan didalam gerejanya.  Sebaliknya, dengan penuh tanggungjawab memelihara integritas diri, teologia dan pelayanan seperti halnya telah dikatakan didalam 1 Timotius 4:16, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”

Dan juga,  2 Timotius 4:1-5 yang bila diuraikan akan memperlihatkan bagaimana seharusnya peran yang baik untuk mendukung sebuah Pertumbuhan Gereja yang sehat:

(1) Senantiasa mengingat akan panggilan Tuhan (ayat 1)

(2) Beritakanlah firman (ayat 2)

(3) Setia dalam segala situasi dan kondisi (ayat 2)

(4) Nyatakan kesalahan, tegur, dan nasihati dengan kesabaran (ayat 2)

(5) Jangan pernah kompromi dalam masa-masa yang sukar (ayat 3-4)

(6) Kuasailah diri dalam segala hal (ayat 5)

(7) Tetap tekun dalam menghadapi penderitaan (ayat 5)

(8) Lakukan tugas sebagai seorang pemberita Injil (ayat 5)

(9) Tunaikan tugas pelayanan (ayat 5)

Fides Quaeraens Intelectum

 

BIBLIOGRAPHY

Allah, TUHAN.  Alkitab.

Daun, Paulus. Apakah Evangelicalisme Itu? Yogyakarta: ANDI OFFSET, 1986.

Fromm, Erich. The Revolution of Hope. New York, 1968.

Finney, Charles. The Memoirs of Charles Finney: The Complete Restored Text. Grand

Rapids: Academie Books, 1989.

Finney, Charles. Finney’s Systematic Theology. Minneapolis: Bethany House Publisher,

1976.

Halawa, Yarman. Mencermati Gerakan Rohani Dalam Pengaruh Neo-Pentacostalism di

Tengah Arus Post-Modernism. Surabaya: Sinode GKA, Buletin Sinode GKA Edisi XX Oktober 2009.

Krecjir, Dr. Richard, Dr. The Problem With Most Church Growth Paradigms

(www.churchleadership.org c 2002.

McIntosh, Gary L. Evaluating The Church Growth Movement. Zondervan, Grand Rapids,

Michigan  2004, terjemahan Indonesia dengan judul yang sama oleh Penerbit Gandum

Mas, Malang 2006.

McGavran, Donald A. The Bridges of God. Revised edition World dominion Press, UK,

1981.

McGavran, Donald. Understanding Church Growth Grand Rapids: Wm B. Eerdmans, 1970.

Norton,  Michael Dr.  http://www.mtio.com/articles/aissar81.htm

Norton, Michael Scott, Mission Accomplished. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1986.

Peters, George W. A Theology of Church Growth. Grand Rapids: Zondervan Pub. House,

1981.

Reed, David A. Origins and Development of the Theology of “Oneness” Pentecostalism in

the United States.  Ann Arbor, Michigan: University Microfilms International, 1980.

Stott, John R.W., Christian Mission in the Modern World. Illinois: IVP, 1979

Shelley, Bruce L. Church History In Plain Language . updated 2nd edition. Nashville: Thomas

Nelson Publishers, c 1995.

Sargeant, Kimon H. Seeker Churches. New Brunswick: Rutgers University Press, 2000.

Wagner, C. Peter. Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow – terjemahan Indonesia:

Manfaat Karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas, 1987.

Wagner, C. Peter, Teritorial Spirits – terjemahan Indonesia: Roh-Roh Teritorial Jakarta:

Yayasan Pekabaran Injil “IMANUEL,” 1994.

Wagner, Peter. Gereja Saudara Dapat Bertumbuh.  Malang: Gandum Mas, 1990.

Winter, Ralph D. Crucial Issues in Mission Tomorrow, ed. Donald McGavran. Chicago:

Moody Press, 1972.

Warren, Rick. The Purpose Driven Church. Grand Rapids: Zondervan  Publishing House,

1995.

Warren, Rick. Pertumbuhan Gereja Masa Kini. Malang: Gandum Mas, 2004.

_________, http://en.wikipedia.org/wiki/Fourth_Great_Awakening.


[1]Salah satu contohnya adalah apa yang disebut dengan Purpose Driven Church yang sempat ‘booming’ beberapa tahun lalu dibeberapa tempat termasuk dalam gereja-gereja di Indonesia. Berawal dari kesuksesan pendeta Rick Warren dalam menjalankan metode ini sehingga orang terlanjur melihat Purpose Driven Church sebagai “hasil karya” Rick Warren, meskipun sebenarnya metode ini dapat dikatakan bukan murni hasil pemikirannya.  Pada tahun 1970an  muncul pengajaran dari pelayanan Campus Crusade, Young Life and Sun Life yang kemudian diteliti dan dikembangkan oleh Fuller Institut di Pasadena, California, Amerika Serikat pada akhir 1980an. Metode inilah yang kemudian dipopulerkan oleh Rick Warren yang ternyata berhasil di gereja Saddleback Valley Community Church yang dipimpinnya.

[2] Sangat menyedihkan jika dalam banyak kasus demi untuk tujuan ini, gereja-gereja dalam kelompok mainline churches dengan sukarela ”dibimbing” oleh para gembala gereja Kharismatik yang telah terlebih dahulu merasakan mujarabnya “ilmu” Pertumbuhan Gereja bagi gereja yang mereka gembalakan dan menjadikan mereka sebagai ‘mentor’ yang menuntun agar gereja-gereja dalam kelompok mainline churches ini juga merasakan ‘berkat” yang sama. Tentu saja untuk tujuan ini, hal-hal yang bersifat prinsipil/fundamental harus dikesampingkan!

[3]Charles Finney (1792-1875) yang semula berlatarbelakang ahli hukum (lawyer) kemudian menjadi seorang pendeta Presbyterian yang ditahbiskan dengan menerima Pengakuan Iman Westminster yang kemudian ia tolak. Dalam pengakuannya kemudian sehubungan dengan tindakannya itu, ia mengatakan bahwa ia menerima Pengakuan Iman Westminster karena “tidak mengerti” dan ‘tidak membaca.” Ini membuktikan bahwa ia menerimanya tidak lebih sebagai persyaratan saja. Ia telah menolak kerangka dasar teologia dari pengakuan iman yang berlaku didalam gereja. Dengan demikian, motif sebenarnya ia ‘menerima’ Pengakuan Iman Westminster tidaklah lebih sebagai ‘kendaraan’ atau ‘stempel’ demi pengesahan pelayanannya. Hal yang sama seringkali terjadi dalam gereja-gereja mainline churches pada hari ini yang diatas kertas menerima pengakuan iman yang berlaku didalam gereja mereka, namun dalam praktiknya menolak dan menyangkalinya! Lihat Charles Finney, The Memoirs of Charles Finney: The Complete Restored Text. (Grand  Rapids: Academie Books, 1989),  pp. 53-54.

[4] Finney menolak ajaran mengenai dosa asali, penebusan pengganti, dan karya pembenaran Kristus atas  orang percaya.

[6]Dr. Michael S. Norton adalah  anggota dari  the Alliance of  Confessing Evangelicals dan juga co-host dari program radio White Horse Inn. Lihat  http://www.mtio.com/articles/aissar81.htm.

[7]Charles G. Finney, Finney’s Systematic Theology (Minneapolis: Bethany House Publisher, 1976), pp.4-5

[8] Istilah ini adalah untuk membedakan dengan  gerakan Evangelical yang  muncul pada abad 17.

[9] Lihat Paulus Daun, Apakah Evangelicalisme Itu? (Yogyakarta: ANDI OFFSET, 1986), halaman 57-61. Pdt. Paulus Daun menyebutnya sebagai “Lampu Merah Bagi Kaum Injili.”

[10] Misalnya beberapa dosen dari Fuller Theological Seminary seperti Daniel Fuller, Jack Rogers, termasuk Rektornya David Hubbard mengemukakan teori “kesalahan Alkitab yang terbatas’ (Limited Inerrancy) atau tokoh Injili lainnya seperti Bernard Ramm yang berpandangan bahwa istilah “ketanpa-salahan” Alkitab tidak dapat mewakili hakekat Alkitab karena hanya akan menimbulkan perdebatan.

[11] Menekankan hal-hal yang positif dalam kehidupan Kristen.  Sebagai akibatnya adalah mengabaikan sikap untuk menghadapi hakekat dosa.  Sehingga dengan demikian melemahkan arti “pengudusan” yang sebenarnya.

[12] Penolakan terhadap otoritas gereja, pemikiran teologia dan sistem gereja yang memberi ruang bagi kebangkitan dan pengaruh yang lebih besar dari kelompok-kelompok Kharismatik untuk mempengaruhi mainline churches.

[13] Keterbukaan dengan semua denominasi yang tentu saja merupakan kekuatan yang luarbiasa dalam penginjilan, namun sekaligus juga memiliki efek merusak yang  tidak kecil karena pada akhirnya tidak lagi menghiraukan hal-hal yang sangat prinsip berkaitan dengan pokok-pokok ajaran iman.

[14] Lihat Gary L. McIntosh,  Evaluating The Church Growth Movement (Zondervan, Grand Rapids, Michigan  2004), terjemahan Indonesia dengan judul yang sama oleh Penerbit Gandum Mas, Malang 2006, halaman 105-106.

[15]Warren misalnya dalam argumen-argumen Purpose Driven Church-nya secara sadar ataupun tidak telah mengurangi penekanan yang seharunya mengenai doktrin  Penghakiman, Kekudusan dan Pembenaran sementara ia dengan sangat serius focus pada pemahaman mengenai kebapaan kasih Allah dan menafsirkan Alkitab untuk mendukung Pendekatan Pencari Yang Peka (Seeker Sensitive Approach). Tentunya ini merupakan hermeneutika yang sangat berbahaya dan memiliki akibat buruk  bagi perkembangan kehidupan gereja baik dalam penggembalaan, pemginjilan, ibadah, khotbah persekutuan, pemuridan dan pelayanan. Lihat uraian Kimon H. Sargeant, Seeker Churches (New Brunswick: Rutgers University Press, 2000), p. 93.

[16] David A Reed, Origins and Development of the Theology of “Oneness” Pentecostalism in the United States.  Ann Arbor, Michigan: University Microfilms International, 1980, p. 108. Ajaran baru menjadi salah satu daya tarik untuk memuaskan keingintahuan manusia yang sebenarnya lebih banyak akibat merusaknya dari pada akibat baiknya. Gereja2 / persekutuan2 dalam pengaruh Jesus Only ini mempopulerkan adanya wahyu-wahyu baru yang mereka anggap diterima dari Tuhan dan orang Kristen harus menerimanya

[17] Perhimpunan gereja-gereja Pentakosta.

[18] Lihat juga Pdt. Yarman Halawa, Mencermati Gerakan Rohani Dalam Pengaruh Neo-Pentacostalism di Tengah Arus Post-Modernism (Surabaya: Sinode GKA, Buletin Sinode GKA Edisi XX Oktober 2009), halaman 8.

[19] Yang kemudian menghasilkan gerakan yang disebut sebagai Toronto Blessing yang dianggap sebagai lawatan Allah bagi gereja-Nya dan yang kemudian terbukti sama sekali tidak benar.

[20] Untuk memahami secara menyeluruh unsur-unsur Kharismatik dalam gerakan Pertumbuhan Gereja silahkan membaca buku C. Peter Wagner, Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow – terjemahan Indonesia: Manfaat Karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 1987) dan Teritorial Spirits – terjemahan Indonesia: Roh-Roh Teritorial (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil “IMANUEL” 1994).

[21]Itu sebabnya apapun kadang dilakukan walaupun itu diluar dari kebiasaan yang seharusnya bagi sebuah ibadah rohani. Hal ini bisa dilihat dengan kebiasaan mengkombinasikan hal-hal yang bersifat entertainment didalam ibadah. Misalnya: artis / selebritis, sulap, dan sebagainya dijadikan sebagai daya tarik untuk menjangkau orang untuk datang.

[22] Lihat Pdt. Yarman Halawa, Mencermati Gerakan Rohani Dalam Pengaruh Neo-Pentacostalism di Tengah Arus Post-Modernism. Halaman 9-10, 35. Pokok-pokok ini memerlukan uraian dan penjelasan tersendiri.

[23] Itu sebabnya banyak model Pertumbuhan Gereja pada hari ini selalu mengidentifikasikan dirinya dengan peristiwa-peristiwa besar Pertumbuhan Gereja pasca Pentakosta didalam Perjanjian Baru, misalnya pertambahan massal para petobat baru kedalam komunitas orang percaya didalam kitab Kisah Para Rasul.

[24] Sesuai perintah Tuhan Yesus didalam Kisah Para Rasul 1:8.

[25]Edict Milan (Edictum Mediolanense) adalah maklumat yang ditandatangani  oleh kaisar Konstantinus yang menjamin kebebasan agama di seluruh wilayah kekaisaran Romawi.

[26]Lihat Bruce L. Shelley, Church History In Plain Language . updated 2nd edition. (Nashville: Thomas Nelson Publishers, c 1995), p. 94, 96.

[27]Pola hidup “Kristen Nominal” yang mungkin diakibatkan oleh agaknya  sekularisme, rasionalisme, materialism, dan berbagai factor lainnya.

[28] Peter Wagner, Gereja Saudara Dapat Bertumbuh.  (Malang: Gandum Mas, 1990), halaman 13.

[29] Donald A. McGavran, The Bridges of God. Revised edition (World dominion Press, UK, 1981), p. 323.

[30] Lihat juga Donald McGavran, Understanding Church Growth (Grand Rapids: Wm B. Eerdmans, 1970), p. 23.

[31]Ibid. Halaman 18. Kecuali tentunya prinsipnya mengenai Kelompok Homogen (Homogeneous Unit Principle)” yang dikecam banyak pihak karena dianggap menjadi stempel bagi eksklusivisme budaya dalam gereja, kebijakan keanggotaan rasial dan bukannya strategi penjangkauan dalam penginjilan, ketika prinsip ini diterapkan dalam penginjilan lintas budaya (lihat halaman 71).

[32] McIntosh,  Evaluating The Church Growth Movement. Halaman 19.

[33] Hal ini muncul melalui buku George Barna Marketing the Church (Lihat McIntosh, Evaluating The Church Growth Movement. Halaman 26.  Maka tidak mengherankan juga bila pada akhirnya kita mendapati bahwa di seminari-seminari tertentu muncul mata kuliah Church Marketing yang merupakan pengaruh dari konsep ini.

[34] Ibid. Halaman 6.

[35] Silakan membaca buku Evaluating The Church Growth Movement. Buku ini menguraikan mengenai 5 macam pandangan evaluatif  terhadap Gerakan Pertumbuhan Gereja: 1. Pandangan Penginjilan Efektif  oleh Elmer Towns, 2. Injil dan Budaya Kita oleh Craig Van Gelder, 3. Pandangan Sentris oleh Charles Van Engen, 4). Pandangan Pihak Reformis oleh Gailyn Van Rheenen, dan 5) Pandangan Pembaharuan oleh Howard Snyder. Yang bila diringkaskan akan mengerucut kepada pandangan Pertumbuhan Gereja dari Kaum Injili dan pandangan Pertumbuhan Gereja dari Kaum Ekumenikal.

[36] Yang kemudian menghasilkan gerakan yang disebut sebagai Toronto Blessing yang dianggap sebagai lawatan Allah bagi gereja-Nya dan yang kemudian terbukti sama sekali tidak benar.

[37]Lihat Dr. Richard J. Krecjir, The Problem With Most Church Growth Paradigms (www.churchleadership.org c 2002).

[38] Lihat McIntosh, Evaluating The Church Growth Movement. Halaman 72-74.

[39] McGavran, Understanding Church Growth. P. 32. McGavran berkata bahwa “a principle and irreplaceable purpose of mission is the (numerical) growth of the church.”

[40]Misalnya: Matius 5:16; 9:37-38; 10:1-40; 13:1-8, 18-23, 31, 47; Markus 1:17; 4:1-8, 13-20; Lukas 8:5-8, 11-15; 10:2; Yohanes 8:12; 9:5; 14:21-24; 15:5, 8; Roma 8:15; 1 Korintus 3:9-11; Efesus 1:5; 2:22; 4:14; 1 Petrus  2:2, 4.

[41] Rick Warren, Pertumbuhan Gereja Masa Kini. (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1999), p. 291.

[42]Erich Fromm, The Revolution of Hope (New York: 1968), p. 54.  Erich Pinchas Fromm (23 Maret 1900-18 Maret 1980) adalah seorang ahli psikologi, psikoanalis, dan ahli filosofi manusia berkebangsaan Jerman.

[43] Lihat Ralph D. Winter in Crucial Issues in Mission Tomorrow, ed. Donald McGavran (Chicago: Moody Press, 1972),  pp. 178-187.

[44]George W. Peters, A Theology of Church Growth (Grand Rapids: Zondervan Pub. House, 1981), p. 23.

[45]Salah satu dari banyak contoh yang bisa disajikan: Perhatikan bagaimana Rick Warren, promotor utama yang “berhasil” melalui model Pertumbuhan Gereja The Purpose Driven Church ketika menginterpretasikan perkataan Yesus “Apa yang engkau ingin Aku lakukan bagimu?” sebagai bentuk  pendekatan Yesus kepada orang banyak  untuk mendapatkan pemahaman mengenai apa yang mereka butuhkan. Warren percaya bahwa Yesus telah menemukan “kunci” kesuksesan untuk membawa mereka kepada keselamatan. Konklusi logis dan psikologisnya adalah (menurut Warren), “setiap orang dapat dimenangkan bagi Kristus jika anda mengetahui apa kunci untuk membuka hatinya.” Lihat Rick Warren, The Purpose Driven Church (Grand Rapids: Zondervan  Publishing House, 1995), p. 220 atau terjemahan Indonesia: Pertumbuhan Gereja Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2004), halaman 226.

[46] Lihat John R.W. Stott, Christian Mission in the Modern World (Illinois: IVP, 1979), p. 18-19.  Stott mengaskan bahwa seharusnya misi Kristen tidak bertujuan untuk kompromi dan menjadi alat untuk kepenting manusia.

[47] Sehingga pada akhirnya segala sesuatu bergantung  pada selera manusia: khotbah-khotbah dan pengajaran harus disesuaikan dengan level kenyamanan pendengar,  para gembala atau hamba-hamba Tuhan harus menghindari “khotbah yang menegur dosa” dan seterusnya (bandingkan hal ini dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam 2 Timotius 4:3-4!)

[48] Gary L. McIntosh, Evaluating The Church Growth Movement. p.64

[49] Kisah Para Rasul 2:47.

[50] Matius 16:18.

[51]Lihat juga Michael Scott Norton, Mission Accomplished. (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1986), p. 102.  Norton menegaskan bahwa dalam setiap upaya pekabaran Injil untuk menjangkau orang bagi Tuhan harus selalu diingat bahwa Dialah yang Empunya tuaian dan bukan kita. Ia berdaulat dalam setiap rencana, tujuan dan hasil dari pekabaran Injil yang kita lakukan sehingga setiap upaya pekabaran Injil  harus ditempatkan dalam pengertian yang benar sebagai “kuasa Allah yang menyelamatkan.”

 

KEKRISTENAN DAN PLURALISME: ADAKAH KRISTUS YANG LAIN? Sebuah Refleksi Terhadap Finalitas Kristus Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.min October 28, 2009

Latar Belakang
Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, khususnya di tengah negara seperti Indonesia. Meskipun demikian, perlu dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme. Hal ini penting untuk menghindari kekacauan atau kerancuan dari topik yang dibahas disini.

Kata Pluralitas mengacu pada konteks yang didalamnya kita hidup–suatu kompleksitas fenomena masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama dan ideologi–. Sedangkan Pluralisme adalah suatu paham, sikap yang menerima validitas atau keabsahan bahwa semua agama adalah sama. Perhatikan perkataan Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” ini, “Deep down, all religious are the same–different paths leading to the same goal.” (1)

Bagi kaum pluralis, masalah agama adalah masalah pribadi; sehingga tidaklah relevan untuk membicarakan benar tidaknya masalah agama. Mereka menolak segala bentuk klaim agama yang bersifat absolut, unik, normatif, eksklusif atau final(itas). Dalam spektrum pluralisme, setiap agama yang mengklaim dirinya absolut maka agama tersebut relatif atau absolut relatif.

Pluralisme bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan sebuah ‘doktrin’ teologis yang didasarkan kepada relativisme yang bersumber dari dunia barat yang ‘atomis’ dan pandangan Hindu ‘oseanis’ (2) sehingga, keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.

Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap pluralisme adalah topik yang akan dibahas dalam bagian ini. Penulis mencoba untuk menyeleksi aspek-aspek yang dianggap krusial pada saat ini untuk dipaparkan secara singkat dan kemudian ditutup dengan kesimpulan sebagai jawaban terhadap topik ini.

A. SEJARAH IDENTIK DENGAN KESELAMATAN
Pada umumnya, kaum pluralis menolak adanya penyataan khusus (baca: keselamatan dalam Yesus Kristus). Mereka beranggapan bahwa tidak ada penyataan yang berpredikat khusus dalam sejarah, Seluruh sejarah adalah penyataan Allah.

Choan Seng Song, salah seorang teolog pluralisme melihat bahwa seluruh sejarah adalah sejarah Allah sekaligus sejarah keselamatan. Ia menekankan bahwa waktu adalah ciptaan Allah dan milik Allah sendiri. Oleh karena itu segala waktu yang berlalu dalam sejarah menjadi milik Allah tanpa ada perbedaan. Sejarah bangsa-bangsa baik China, Indonesia bahkan Israel pun berada di dalam sejarah tindakan Allah. Song berkata demikian,
“…sejarah adalah di dalam Allah. Ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Allah tidak berdiri bertentangan dengan sejarah tetapi berada di dalam sejarah. Dan Allah itu bekerja di dalam sejarah melalui para nabi yang arif bijaksana, melalui para raja, petani; melalui kita semua…”(3)

Jadi, Song melihat (baik implisit maupun eksplisit); bahwa, sejarah bangsa-bangsa dalam sistem keagamaan maupun sosial, politik, kebudayaanya, adalah sejarah keselamatan yang identik dengan penyataan Allah. Tidak ada “sesuatu yang khusus” dari tindakan Allah bagi keselamatan manusia di muka bumi. Pandangan Song ini tidak berbeda dengan Paul F. Knitter yang menolak penyataan Allah dalam sejarah secara partikular dalam waktu, locus maupun persona tertentu seperti Israel dan sejarahnya, termasuk Yesus Kristus. Menurut Knitter, sejarah adalah “the march of God through the world.” (4) Dengan demikian masalah keselamatan tidak tergantung pada penyataan khusus (baca: Yesus Kristus), institusi agama, atau sistem kepercayaan tertentu karena Allah secara imanen telah, sedang, dan akan terus menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dalam konteks sejarahnya masing-masing.

Selanjutnya, kaum pluralis melihat bahwa Kristus adalah suatu manifestasi. Maksudnya: gelar Kristus adalah sesuatu yang kosmis–suatu gelar yang dapat dikenakan kepada setiap medium keselamatan, termasuk yang non religius– yang merupakan misteri ilahi yang imanen dalam sejarah dan budaya manusia pada tempatnya masing-masing. Raimundo Panikkar, teolog India mengungkapkan hal ini sebagai berikut:
“Realitas ilahi terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama. Dalam Hinduisme dikenal dalam Ishavara, dalam kekristenan dikenal dengan Yesus dari Nazareth. Namun Kristus itu lebih dari pada Yesus dan
tidak hanya dikenal melalui Yesus. Kristus sebagai misteri ilahi bukanlah suatu realita yang mempunyai banyak nama; tetapi, dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam berbagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan
menurut pandangan masing-masing agama.” (5)

Dari beberapa pandangan kaum pluralis di atas, nampak jelas bahwa tidak ada pemisahan antara “yang menyatakan” dengan “yang dinyatakan,” “yang mencipta” dengan “yang diciptakan” karena keduanya identik. Memang harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk memecahkan relasi antara penyataan dengan sejarah. Sejarah merupakan arena aktivitas Allah dan penyataan berada di dalam sejara; tetapi, tidak identik dengan sejarah secara keseluruhan, karena penyataan memiliki konotasi “aktivitas Allah yang khusus” (baca: aktivitas penyelamatan).  Pluralisme mengidentikan sejarah dengan sejarah keselamatan karena konsep yang humanistis-anthroposentris. Memang benar Allah masih mengontrol jalannya sejarah; tetapi, apabila mencampuradukkan sejarah dengan penyataan khusus secara mutlak tanpa melihat unsur-unsur demonik dan kebobrokan manusia, akibatnya adalah fatal. Karena bila hal ini terjadi maka peristiwa Ambon, Maluku, Aceh, Poso, Bom Bali, Bom JW Marriot, dan sebagainya, dapat di klaim sebagai “tindakan dalam ketaatan terhadap Allah”!

Kegagalan dalam melihat fakta dari karya penyelamatan Kristus di dalam sejarah boleh jadi karena ketidakmampuan untuk mengenali Dia. Yohanes benar ketika ia menulis dalam injil, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:10,11).  Dan tidak pernah ada di dalam sejarah sebuah pernyataan yang begitu dahsyat dan menggetarkan setiap hati kesaksian dari mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Ia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia…Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yohanes 1:29-31, 36).

B. SEMUA JALAN MENUJU KE ROMA
Pluralisme menolak keyakinan terhadap universalitas dan partikularitas Kristus. Yang dimaksudkan dengan ‘universalitas’ disini adalah bahwa Yesus dari Nazareth adalah satu-satunya mediator keselamatan bagi manusia. Sedangkan ‘partikularitas’ (baca: eksklusif) untuk menjelaskan universalitas Injil (yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus) hanya efektif apabila di terima dengan iman. Keselamatan tidak berlaku secara otomatis sebagaimana halnya di anut oleh kelompok universalisme.

Memang beberapa teolog seperti Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Victor I. Tanja; mengakui bahwa, keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus tetapi dengan catatan bahwa Yesus Kristus itupun juga dapat hadir di luar tembok kekristenan. Sehingga sangatlah tidak bijak untuk membicarakan masalah hidup kekal dengan membedakan surga dan neraka. Alasan yang paling mendasar adalah karena Kristus itu kasih adanya sehingga tidaklah mungkin ada neraka atau tempat penghukuman yang kekal. J.A.T. Robinson dan N.S Fere berpendapat bahwa bila neraka ada maka surga hanya akan menjadi tempat dukacita abadi untuk meratapi mereka yang terhilang.(6)

Gustave H. Todrank melihat Kristus dari sisi yang lain. Baginya Kristus tidaklah sinonim dengan Yesus. Dalam bukunya “The Secular for a New Christ” ia melihat Kristus dalam konteks Alkitab yang berarti “yang diurapi Tuhan” sebagai suatu gelar yang lebih menunjuk kepada peranan dan fungsi dari pada nama pribadi. Lebih jauh ia menambahkan: karena di dalam Alkitab banyak orang yang diurapi Tuhan maka Kristus tidak boleh disinonimkan dengan Yesus. Baginya Yesus adalah “salah satu Kristus” atau “a Christ”, bukan “the Christ”. (7)  Bila pandangan ini menjadi patokan aplikatif maka dapatlah dianggap bahwa Gandhi, Mao Tse Tung, Martin Luther King, Calvin, Luther, dan lain-lain, dapat disebut sebagai “kristus-kristus” yang lain. Hal inipun sesuai dengan pemahaman kaum pluralis yang memandang sejarah identik dengan sejarah keselamatan yang dinyatakan dalam setiap budaya, bangsa, individu, dan agama!

Apapun bentuknya, kaum pluralis telah menolak keunikan dari pada Kristus berdasarkan pernyataan dari Kitab Suci: “diselamatkan oleh anugerah.” Jelas disini bahwa arti dan makna anugerah Allah disia-siakan sedemikian rupa, karena anugerah baru dipandang sebagai anugerah apabila tanpa persyaratan. Anugerah dengan persyaratan bukanlah anugerah. Bila Allah benar-benar menganugerahkan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang maka IA tidak tergantung terhadap sikap pribadi seseorang. Apakah ini benar?

Akibat konsep yang humanistis-anthroposentris ini; maka, pluralisme telah mengakui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa agama, kepercayaan, dan keyakinan apapun semuanya memiliki tujuan dan akibat yang sama. Buddha, Hindu, Islam, Kebatinan/Kejawen, Kong Hu Cu hanya berbeda “kulit dan bajunya” tetapi “isi”nya sama saja. Dengan demikian dapat juga dikatakan disini bahwa mereka mengabaikan istilah ataupun konsep berhala atau ilah zaman. Tidak ada yang menyembah patung, kayu, batu atau obyek-obyek tertentu yang dipakai sebagai “medium” untuk kontak dengan “realitas ilahi.” Kalau orang kristen mencap tradisi atau kepercayaan lain sebagai penyembah berhala maka kekeristenan adalah penyembah berhala karena memberhalakan Yesus!  Tom F. Driver salah seorang penulis artikel dalam buku “The Myth of Christ Uniqueness” mengistilahkan pemberhalaan kepada Kristus itu dengan istilah “Christolatry” (8) sebagai ungkapan pluralisme menolak klaim kekristenan yang meyakini kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya “Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14:6).

Kaum Pluralis meyakini bahwa klaim ini hanya berlaku bagi kekristenan saja dan tidak berlaku bagi kalangan lain. Menurut mereka klaim ini baru berlaku jika dalam konteks dimana Kristus mencakup semua yang benar dalam agama lain. Karena seluruh kebenaran bersumber dari Allah maka kebenaran-kebenaran dan kebaikan yang ada dalam agama lain harus dihubungkan dengan Kristus. (9)

Akan tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat di lihat, dirasakan dan dialami melalui nama-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).

C. MISI IDENTIK KEPENTINGAN DUNIA DAN MANUSIA
Pluralisme melihat misi sebagai upaya memperluas kerajaan Allah di bumi. Harus di akui bahwa ada kebenaran yang terkandung dari cara pandang ini. Akan tetapi penekanan misi disini adalah bahwa kerajaan Allah itu tidak hanya meliputi gereja dan kekristenan tetapi mencakup segala sesuatu. Menurut mereka, salah satu faktor yang dominan mendatangkan konflik dan perpecahan diantara umat manusia adalah masalah agama. Masalah ini hanya dapat diatasi apabila semua agama membuang sikap yang berpusat pada diri sendiri seperti: doktrin atau kerygma. (10)) Barangkali lagu “Imagine” yang dinyanyikan oleh John Lenon dapat menjadi gambaran nyata dari pengharapan mereka ini.

Pemahaman misi yang rancu karena menganggap bahwa misi kristen haruslah misi kasih dan bukanlah terutama kebenaran karena kebenaran memilah, menghakimi dan mempolarisasikan menjadi permasalahan yang fatal untuk diterima oleh seorang yang menyebut diri kristen yang sejati. Perhatikan pernyataan yang tanpa salah dari Song yang mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat menyatukan yang tidak dapat dipersatukan; hanya kasih yang mampu melakukannya.(11)

Latar belakang pemikiran bahwa misi tidaklah terutama untuk memberitakan kebenaran didasarkan pada konsep “misi adalah mengembangkan kerajaan Allah.”  Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ini adalah apabila gereja dapat bekerjasama dengan dunia. Tekanan misi bukanlah masalah surga karena surga adalah “urusan Allah.” Tentang hal ini Song berkata, “Kita tidak boleh mencampurinya karena kita hanya akan dapat merusaknya”. (12) Tekanan misi harus dititik-beratkan pada kepentingan manusia dan dunia. Rene Padila dalam ceramahnya “Evangelization & The World” ketika mengatakan bahwa seluruh injil untuk seluruh manusia dan seluruh dunia, ia memaksudkannya sebagai pemulihan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa injil harus menjadi hub ungan manusia dengan “dunia-dunia dimana Kristus mati”. (13)

Hal ini memunculkan strategi baru dalam metodologi misi yang kemudian sangat dikenal dengan istilah dialog antar agama. Victor I. Tanja mengatakan bahwa metodologi misi yang paling sesuai dan kontekstual dengan Indonesia pada saat ini adalah dialog dan bukan penginjilan. (14) Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dialog bersifat lebih rasional dan dapat diterima dalam setiap element yang berbeda karena mampu menciptkan sikap saling keterbukaan, belajar satu dengan yang lain, saling memberi, tumbuh bersama untuk mencapai tujuan. Tujuan tersebut adalah: terciptanya harmoni dan kesejahteraan umat manusia. Akibat pemahaman metodologi misi yang demikian maka segala resiko yang mungkin terjadi dalam setiap kesempatan harus dipandang sebagai jalan terbaik. Salah seorang teolog reformed yang terpengaruh dengan gerakan pluralisme ini adalah Prof. JG. Davis mengatakan bahwa, “…Kita harus rela menghadapi suatu resiko, apabila menemukan bahwa iman agama lain itu lebih baik/benar dari pada iman Kita sendiri…”. (15)

Pada kenyataanya metodologi misi ini yang lazim dikenal di Indonesia sebagai dialog antar umat beragama (inter-faith dialog) lebih banyak menghasilkan ‘pertobatan’ kristen terhadap iman agama lain. Di Inggris dan negara-negara lain di Eropa semakin marak dengan ucapan dan ungkapan pengakuan orang-orang berlabel kristen terhadap ‘iman yang benar’ dalam agama lain tersebut. Malcolm Archeson, Vicarius gereja Tisbury-England mengatakan bahwa Tuhan orang Islam dan Tuhan orang kristen adalah sama. (16) Sebuah pernyataan yang sangat sulit untuk diucapkan oleh non-kristen sendiri.

Sesungguhnya kita diingatkan kembali kepada misi Tuhan Yesus Kristus ketika IA masih berada di dalam dunia ini, dari awal kehidupan dan pelayanan-Nya hingga kenaikan-Nya ke sorga. Ia pernah berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mencari domba-domba yang tersesat (Matius 18:12-14). Bahkan Ia menyatakan bagaimana seharusnya umat-Nya mengaku iman percaya mereka kepada-Nya, “Setiap orang yang mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga mengakuinya didepan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di sorga.” (Matius10:32,33).

Dalam terang kebenaran Alkitab misi dalam konsep pluralisme adalah suatu upaya untuk membangun dunia demi kesejahteraan dan kemaksmuran bersama tanpa memperhatikan hal-hal di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya yaitu dosa dan segala akibatnya. Tentu saja hal ini akan sangat fatal akibatnya…dan mungkin hanya merupakan pengulangan sejarah dari Menara Babel di dalam kitab Kejadian 11:1-10!!

Kesimpulan
Pluralisme menolak finalitas Kristus yang merupakan dasar dari iman kristen. Juga pluralisme merupakan suatu ajaran “anti Kristus” yang menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan “kristus-kristus palsu” atau “kristus yang kosmis panteistis.” Satu hal penting yang tidak dapat disangkali bahwa pemahaman ini justeru muncul dari dalam kekristenan sendiri melalui oknum-oknum tertentu yang pengaruhnya tidak hanya di dalam tembok kekritenan lokal saja melainkan telah mendunia. Pada masa sekarang keberadaan ajaran inipun terus mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya seiring dengan semangat humanisme global modern.

Gereja harus menolak pluralisme karena bersifat sinkretis; mencampuradukkan segala macam ajaran agama yang diyakini memiliki kebenaran-kebenaran tertentu yang saling melengkapi. Gereja harus sadar akan bahaya dan fenomena dari ajaran ini yang dalam konteks kultural cukup mendapat angin untuk berkembang dengan subur dan kemudian merongrong wibawa kekristenan. Pluralisme perlu diwaspadai khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan potensial menjadi lahan yang subur untuk berkembang dan menghambat serta mengancam kelangsungan eksistensi dan misi kristen yang tergantung pada fondasi keunikan dan finalitas Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator Keselamatan. Umat Tuhan yang sejati perlu dengan bijaksana dan berhikmat mengingat akan kata-kata dari sang Juru Selamat sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6).”

Catatan:

(1) Paul F. Knitter, No Other Name? (New York: Orbis Books, 1982). P. 37.
(2) David Ndoen, Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah, 1995). P. 1. Bersifat “atomis” menunjukkan kepada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang berkembang berasal dari satu ledakan inti. Hal ini untuk menggambarkan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan sebenarnya berakar dari satu inti yang sama. Sedangkan bersifat “oseanis” untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu itu mengalir ke satu tujuan yang sama dimana manusia tidak berkuasa untuk memilah-milah mana yang benar dan yang salah karena pada dasarnya segala sesuatunya itu sudah ada filternya tersendiri.
(3)  Choan Seng Song, Allah Yang Turut Menderita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). P. 81
(4) Paul F. Knitter, No Other Name? halaman. 25.
(5) Victor I. Tanja, Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Halaman 123-124.
(6) R.B. Kuyper, For Whom Did Christ Die? (Grand Rapids: Baker Book House, 1959). Pp.13-14.
(7) Yarman Halawa, Karya Keselamatan Yang Efektif Bagi Umat Pilihan Allah Dan Relevansinya Dalam Misi: Sorotan Terhadap Gerakan Misi Arminianisme dan Universalisme. (Pacet: Skripsi S1, 1999). Halaman 84.
(8) John Hick & Paul F. Knitter, The Myth Of Christian Uniqueness. (London: SCM, 1987). Pp. 214-215.
(9)  Untuk lebih jelas lihat Lilian Tedjasudhana. Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan Keselamatan Satu-Satunya, (Jakarta: Yayasa Bina Kasih/OMF, 1996). Judul asli: What’s So Unique About Jesus?
(10) Knitter, p. 41.
(11)  Song, halaman 90.
(12)  Ibid., halaman 89-91.
(13)  Gerald H. Anderson & Thomas F. Stransky., Missions Trends No. 2: Evangelization. (Grand Rapids: Paulist Press, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978). Pp. 46, 52-55).
(14) Lihat Tanja, halaman 4-6.
(15)  J.D. Douglas, ed. Let The Eartyh Hear His Voice. (Minneapolis: Worldwide Publishers, 1975). P. 72.
(16) Herlianto, Gereja Modern Mau Kemana? (Bandung: Yabina, 1995). Halaman 78.

KEPUSTAKAAN
Alkitab
Anderson, Gerald H. & Stransky, Thomas F., Missions Trends No. 2: Evangelization.
Grand Rapids: Paulist Press, 1978.
Douglas, JD., Let The Earth Hear His Voice. Minneapolis: Worldwide Pub. 1975.
Hick, John & Knitter, Paul F., The Myth of Christian Uniqueness. London: SCM, 1987.
Herlianto., Gereja Modern Mau Kemana?. Bandung: Yabina, 1995.
Halawa, Yarman., Karya keselamatan yang Efektif bagi Umat Pilihan Allah Dan
Relevansinya Dalam Misi: Sorotan terhadap Gerakan Misi Arminianisme Dan Universalisme
(skripsi S1).                        Pacet:  STTIAA, 1999.
Kuyper, RB., For Whom Did Christ Die? Grand Rapids: Baker Book House, 1959.
Knitter, Paul F., No Other Name? New York: Orbis Books, 1985.
Ndoen, David., Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah). Sihanjung, 1995.
Song, Choan Seng., Allah Yang Turut Menderita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Tanja, Victor I., Spiritualitas, Pluralitas Dan Pembangunan Di Indonesia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994.
Tedjasudhana, Lilian., Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan keselamatan Yang
Satu-Satunya.
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996. Judul asli: What So Unique About Jesus?.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,213 other followers