Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

PEMBUKAAN POS PELAYANAN MISI DRIYOREJO GKA GRACIA CITRA RAYA October 24, 2012

Puji Tuhan ! GKA Gracia Citra Raya Surabaya dengan pertolongan Tuhan telah merealisasikan perintisan dan pengembangan pelayanan di wilayah Barat Surabaya, tepatnya di Kota Baru Driyorejo, Gresik. Bertempat di bangunan RuKo dua lantai yang selesai dibangun pada awal bulan Oktober 2012 ini GKA Gracia Citra Raya akan semakin memantapkan visi dan misi untuk menjadi berkat bagi masyarakat disekitar.

Ada 4 bentuk pelayanan yang akan dilaksanakan:

1. Ekstensi Pelayanan Pendidikan Kristen (PG Peristera)*

2. Ekstensi Pelayanan Persekutuan (Pos Pengembangan)**

3. Ekstensi SPRING***

4. Poliklinik Kesehatan Masyarakat****

Alamat:

GKA GRACIA CITRA RAYA Pos Pelayanan Misi Driyorejo

RuKo Permata Sari, Jl. Raya Batu Mulia 11B No. 19

Kota Baru Driyorejo – GRESIK

* Open House sudah diadakan pada 16-17  Oktober 2012 (pkl. 08.00-19.00 BBWI).

**Akan dimulai 31 Oktober 2012

***Akan dibuka 2013

****Akan dibuka 2013

 

APOLOGETIKA I September 10, 2012

Sekolah Penatalayan Reformed Injili Gracia (SPRING) kembali melaksanakan Kuliah Theologia Terbuka Untuk Penatalayan Awam dengan topik:

 

“APOLOGETIKA I”

 

Deskripsi:

Mayoritas orang Kristen tidak menyadari bahwa Alkitab memanggil mereka untuk turut serta dalam pelayanan Apologetika. Hal ini disebabkan oleh banyak factor a.l. tidak lahir baru, ketidaktahuan, pengabaian, sinkretisme, pengaruh ajaran sesat, menjadi anggota dari gereja yang tidak menekankan Sola Scriptura, kebingungan rohani, gereja tidak mengajarkannya, rendahnya kemampuan edukatif rohaniwan yang memegang tanggungjawab utama pengajaran dan kunci pastoral gerejawi. Hal ini diperparah lagi dengan mentalitas anggota jemaat yang ternyata tidak/belum lahir baru dan menjadi alat pengaruh buruk dari luar untuk merusak gereja mereka sendiri, dsb.

Sejarah gereja hingga pada hari ini telah menunjukkan fakta bahwa gereja sangat dirugikan baik oleh jemaat dan bahkan para penatalayan gereja yang tidak berakar, bertumbuh dan berbuah dalam ajaran iman Kristen yang benar. Sehingga jangankan mereka dapat menjadi saksi kebenaran, memberitakan kebenaran dan mempertahankan kebenaran; diri mereka sendiri ternyata masih tetap terperangkap didalam kebingungan rohani yang tidak jelas.

Maka melalui mata kuliah ini setiap peserta diperkenalkan pada konsep dasar yang benar, kuat dan sehat mengenai iman Kristen bukan berdasarkan nalar sempit atau pola pikir duniawi tetapi berdasarkan fondasi yang kokoh kuat didalam memahami kebenaran otoritas Alkitab dan mengerti bahwa orang Kristen yang benar-benar lahir baru tahu memelihara kemurnian imannya dan dan tetap berdiri kokoh diatas dasar ajaran kebenaran yang seharusnya (2 Tesalonika 2:15, “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis”).

 

Materi:

Materi perkuliahan dalam APOLOGETIKA I ini akan meliputi: Apa itu Apologetika, Mengapa Apologetika Sangat Penting bagi Orang Kristen, Dasar Filsafat Apologetika, Survei Historis (1): Apologetika dalam PB dan Gereja Mula-Mula dan Survei Historis (2): Apologetika dari zaman Reformasi – Sekarang (2012).

 

Waktu:

Jumat 14,21 September – 5,12 Oktober 2012, pkl. 19.00 – 21.15.00 WIB

 

Tempat:

Ruang Kelas SPRING lt. 2 GKA GRACIA Citra Raya Jl. Taman Puspa Raya D1/1 Citra Raya – SURABAYA.

 

Dosen/Pembicara:

Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

KULIAH TERBUKA UNTUK PARA PENATALAYAN AWAM 2012 February 20, 2012

Sekolah Penatalayan Reformed Injili Gracia (SPRING) kembali melaksanakan Kuliah Theologia Terbuka Untuk Penatalayan Awam dengan topik:

“SOTERIOLOGI”

 

Deskripsi:

Menolong jemaat awam dan para penatalayan awam melalui studi yang komprehensif  terhadap  Doktrin Keselamatan (Soteriologi) mengenali dengan baik dan benar ajaran Alkitab mengenai salah satu doktrin pokok ini  dan sekaligus mampu mencermati, memberi jawab dan bersikap tegas serta bijaksana terhadap berbagai rupa-rupa angin pengajaran dan produk-produk gerakan rohani yang didasarkan pada pemahaman yang salah mengenai Doktrin pokok ini baik dari dalam kekristenan sendiri maupun dari luar. Selain itu, pemahaman yang baik dan benar terhadap doktrin ini akan membawa  kepada kehidupan yang makin berbuah bagi Tuhan dalam kehidupan percaya keseharian maupun pelayanan.

Waktu:

Jumat 24 Pebruari, 2, 9, 16 Maret 2012

Pkl. 19.00 – 21.15.00 WIB

 

Tempat:

Ruang Kelas SPRING lt. 2

GKA GRACIA Citra Raya Jl. Taman Puspa Raya D1/1 Citra Raya – SURABAYA.

 

Dosen/Pembicara:

Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

KULIAH TERBUKA UNTUK AWAM May 28, 2011

Sekolah Penatalayan Reformed Injili Gracia (SPRING) kembali melaksanakan Kuliah Theologia Terbuka Untuk Kaum Awam dengan topik:

“PNEUMATOLOGY”

 

Deskripsi:

Menolong jemaat awam dan para penatalayan awam melalui studi yang komprehensif  terhadap  Doktrin Roh Kudus (Peneumatology) mengenali dengan baik dan benar ajaran Alkitab mengenai salah satu doktrin pokok ini  dan sekaligus mampu mencermati, memberi jawab dan bersikap tegas serta bijaksana terhadap berbagai rupa-rupa angin pengajaran dan produk-produk gerakan rohani yang didasarkan pada pemahaman yang salah mengenai Doktrin pokok ini. Selain itu, pemahaman yang baik dan benar terhadap doktrin ini akan membawa  kepada kehidupan yang makin berbuah bagi Tuhan dalam kehidupan percaya keseharian maupun pelayanan.

Waktu:

Jumat 27 Mei, 3, 10, 17 Juni 2011

Pkl. 19.00 – 21.15.00 WIB

 

Tempat:

Ruang Kelas SPRING lt. 2

GKA GRACIA Citra Raya Jl. Taman Puspa Raya D1/1 Citra Raya – SURABAYA.

 

Dosen/Pembicara:

Pdt. Daniel Jonatan, D.Min

 

January 13, 2011

 

BERKHOTBAH DI TENGAH ZAMAN KONTEMPORER[1]

Oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min

 

Batasan pengertian

Yang dimaksud dengan istilah ‘kontemporer’ dalam makalah ini adalah “kecenderungan zaman modern masa kini yang dipenuhi dengan berbagai kondisi dan berbagai gagasan baru yang bersifat temporal.”[2]

Berdasarkan ini maka makalah ini bertujuan untuk mengundang setiap pembaca khususnya para penyampai Firman Tuhan untuk tetap setia, cermat dan memelihara kemurnian isi kebenaran Firman ditengah berbagai arus dan tantangan zaman modern masa kini.

PENDAHULUAN

Bagaimana caranya seorang pengkhotbah menghadirkan berita-berita religius secara khusus yang kental dengan pemikiran-pemikiran jaman kuno untuk menjadi relevan dengan konteks masa kini (kontemporer)?[3] Ini merupakan pertanyaan yang serius yang harus dapat dijawab oleh setiap penyampai firman kebenaran. Dunia kontemporer memberi tantangan tersendiri khususnya dalam melaksanakan tugas dan panggilan penyampaian dari Firman Allah yang pada hakekatnya tidak pernah berubah dan tidak mengenal kompromi dengan segala kondisi dan gagasan baru yang bersifat temporal yang mempengaruhi kehidupan manusia masa kini.

Patut diingat bahwa sebenarnya dilema yang dihadapi oleh gereja sehubungan dengan tugas penyampaian Firman Tuhan pada hari ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam setiap era didalam sejarah yang ditandai dengan perubahan waktu, ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan manusia, penyampaian Firman Tuhan mengalami tantangan tersendiri khususnya bagi para penyampai Firman Tuhan itu sendiri. Namun kita patut bersyukur kepada Allah yang Empunya Firman bahwa didalam setiap era tersebut umat Allah yang sejati senantiasa dikaruniakan kemampuan yang lebih dari cukup untuk dapat terus mengkomunikasikan Firman Allah tanpa mengkompromikan kebenarannya.

Memang banyak orang yang mulai mempertanyakan relevansi khotbah dalam zaman kontemporer ini. Sebagian orang malah menganggap khotbah tidaklah lebih sebagai ‘gaung masa lalu yang sudah ditinggalkan’[4] atau dengan kata lain sudah tidak lagi up to date. Sikap ini seringkali mempengaruhi orang-orang percaya secara psikologis terutama para penyampai Firman kebenaran sehingga berupaya menciptakan atau mengikuti berbagai metode dan gaya penyampaian firman yang “baru” atau yang sesuai dengan gaya hidup, keinginan, dan harapan orang masa kini. Justru ini sangat berbahaya oleh karena pada akhirnya justru ‘berita’ yang seharusnya menjadi sentral dalam khotbah digantikan oleh hal-hal yang bersifat artificial yang seharusnya berada ditempat paling bawah.[5] John Stott mengomentari keadaan ini sebagai strategi Iblis untuk mematahkan dan melemahkan pekerjaan penyampaian Firman untuk mencapai hasil gemilang:

“As a result of which he (devil) has won a strategic victory. Not only has he effectively silenced some preachers, but he has also demoralized those who continue to preach. They go to their pulpits ‘as men who have lost their battle before they start; the ground of conviction has slipped from under their feet.”[6]

PENGKHOTBAH, BERITA KHOTBAH DAN PERTUMBUHAN GEREJA[7]

Bila khotbah tidak diletakkan sebagai bagian yang utama dari kehidupan bergereja, maka gereja pasti akan kehilangan hartanya yang paling berharga yang menjadi sumber otoritas dan otentitasnya. Tidaklah berlebihan bila reformator Martin Luther pernah berkata bahwa harta gereja yang sebenarnya adalah Injil yang Mahasuci tentang kemuliaan dan kemurahan Allah.[8]

Dalam sejarahnya, eksistensi dan pertumbuhan gereja tidak pernah terlepas dari pemberitaan Firman. Sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.[9] Atau dengan kata lain, tanpa pemberitaan Firman yang benar maka gereja tidak akan pernah mengalami pertumbuhan yang benar pula dan pasti akan kehilangan arah.[10] Kecenderungan gereja pada hari ini yang mengutamakan bagian-bagian dalam ibadah seperti puji-pujian lebih dari pada khotbah harus dihindari. Gereja bertumbuh bukan karena musik atau puji-pujian yang dahsyat sekalipun tetapi oleh pemberitaan Firman Tuhan yang benar dan bertanggungjawab.[11] Dengan demikian, khotbah selalu menjadi prioritas dari pelayanan guna pertumbuhan gereja Tuhan yang benar dan sehat seturut ajaran Alkitab sebagaimana telah dilakukan oleh para rasul pada zaman mereka.[12]

Pemberitaan Firman menjadi begitu penting dan sentral bagi kehidupan bergereja yang sehat. Tidak lagi diragukan bahwa Alkitab memandang bahwa para pemberita Firman memiliki peran yang penting didalam rencana Allah untuk membawa gereja mengalami pertumbuhan yang benar kepada-Nya.  Rasul Paulus menuliskan,

“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?  Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”[13]

Dalam pengertian ini maka pemberitaan Firman harus terus-menerus memperkenalkan, menegaskan dan mengarahkan gereja untuk bertumbuh kepada segenap karya Allah seperti penyelamatan dalam Yesus Kristus, kebaikan Allah, keadilan Allah dan seterusnya. Bahkan harus terus diberitakan didalam segala situasi, baik atau tidak baik waktunya.[14] Ditengah tantangan dunia kontemporer para pemberita Firman dipanggil untuk setia dalam mempertumbuhkan gereja kepada kebenaran yang murni dan tidak boleh dihentikan oleh alasan apapun juga. Para tokoh gereja baik yang hidup sebelum maupun sesudah zaman Reformasi, begitu memandang tinggi dan mengutamakan Firman Tuhan.  John Wycliffe mengatakan bahwa tugas utama pendeta adalah berkhotbah.[15] Bagi Calvin, disamping Sakramen, Firman Allah yang dikhotbahkan dengan murni dan didengar, menjadikan gereja milik Allah itu tetap eksis.[16] Demikian juga Luther meyakini bahwa apa yang ia lakukan yakni membuka zaman Reformasi yang begitu penting bagi dunia kekristenan sebagai karya Firman.[17]

Tidak dapat diragukan lagi bahwa kekristenan dan gereja tidak akan ada tanpa kehadiran Firman. Tugas utama dari para hamba Tuhan adalah menghadirkan Firman, sehingga berkhotbah akan senantiasa menjadi bagian yang amat penting dari tugas panggilan hamba Tuhan. Ini harus tetap menjadi perhatian serius ditengah zaman kontemporer ini.  Persoalannya adalah: “Khotbah macam apa yang dihadirkannya didalam gereja? Apakah khotbah yang tetap setia kepada kebenaran-kebenaran yang murni dari Alkitab atau  kepada apa yang manusia kontemporer anggap sesuai, cocok, dan up to date dengan keinginan dan kemauan mereka?[18] Apakah khotbah yang disampaikan benar-benar bertanggungjawab, didasari oleh keyakinan yang absolut terhadap kebenaran absolut Firman? Apakah kemampuan berkhotbah lebih digantungkan kepada kepiawaian artificial atau bergantung kepada Allah dengan mengandalkan Roh Kudus-Nya?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka beberapa pemikiran berikut ini perlu menjadi pertimbangan penting:

1. Sola Scriptura

Rasul Paulus menegaskan kepada hamba Tuhan bernama Timotius  agar “memberitakan Firman.”[19] Dengan kata lain bahwa yang diberitakan dalam khotbah adalah Firman Tuhan. dan ini harus dilakukan dengan setia dan penuh tanggungjawab. Hal ini sangat jelas terlihat dari penekanan yang bukan berbentuk permintaan melainkan berbentuk perintah kepada Timotius. Hal ini patut kita camkan dalam pelayanan kita  ditengah zaman kontemporer ini.

Prinsip formal Reformasi adalah Sola Scriptura dimana Reformator gereja menampakkan otoritas ekslusif dari Alkitab atas semua opini, tradisi, dan produk-produk kontemporer masa itu yang mempengaruhi dan bahkan menguasai gereja, dan memanggil gereja untuk berkomitmen kepada Sola Scriptura. Firman Allah menjadi satu-satunya pedoman pembimbing dalam mempermuliakan serta memperkenankan Allah.[20] Dengan demikian implikasi praktisnya adalah bahwa Firman Allah harus diletakkan ditempat yang tertinggi dan tidak boleh digantikan oleh yang lain-lain, baik itu berupa kharisma, pribadi, popularitas, kemampuan berbicara, intelektualitas dan opini pribadi, filsofi-filosofi yang sifatnya humanis maupun produk-produk canggih dari zaman kontemporer yang ada.[21] Senada dengan ini, Sydney Greidanus menggarisbawahi kebenaran ini dengan mengatakan,

“Accordingly, if preachers wish to preach with divine authority, they must proclaim the message of the inspired Scriptures, for Scriptures alone are the Word of God written: the Scriptures alone have divine authority.  If preachers wish to preach with divine authority, they must submit  themselves, their thoughts and opinions, to the Scriptures and echo the Word of God.”[22]

Dalam terang Sola Scriptura inilah, setiap pemberita Firman harus mampu memelihara dan terus-menerus menunjukkan integritasnya terhadap berita yang  disampaikannya. John Calvin menegaskan,

“Maka marilah kita tetapkan ini sebagai suatu azas yang pasti, yaitu hendaklah tidak ada didalam gereja yang dipandang dan diberi tempat sebagai firman Allah kecuali apa yang tercantum didalam Taurat dan kitab-kitab para nabi, dan selanjutnya didalam tulisan-tulisan para rasul; dan hendaklah tidak ada cara lain untuk memberi ajaran dengan sah didalam gereja, kecuali sesuai dengan perintah dan pedoman firman itu.”[23]

2. Truth (Kebenaran)

Berkhotbah adalah memberitakan kebenaran, dimana pemberita Firman bukan membawakan kebenaran yang berasal dari dirinya sendiri. Seorang Pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk menyampaikan kepada pendengarnya sebuah gambar yang lebih besar tentang Allah (Theocentric / Christosentric). Berkaitan dengan pelayanan mimbar rasul Paulus menegaskan:

“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”[24]

Oleh sebab itu perlu senantiasa menanyakan kepada diri sendiri hal-hal seperti: Apakah khotbah yang saya sampaikan memperkenalkan dan meninggikan Allah terus-menerus? Apakah khotbah yang saya sampaikan dibangun diatas dasar disiplin pengajaran dan teologia yang benar atau tidak? Apakah saya menyampaikan khotbah dengan hati yang tulus? Apakah ada hal-hal terselubung disana seperti ingin memamerkan pengetahuan, mengungkapkan kekecewaan atau kemarahan yang dikemas dalam khotbah?  Bagaimana dengan ilustrasi yang disisipkan dalam khotbah, apakah itu pengalaman orang lain yang diakui sebagai seolah-olah pengalaman sendiri? Apakah cerita yang disampaikan berupa fakta atau karangan sendiri? Semua ini harus jelas asal-usulnya dan tidak boleh dimanipulasi. Apakah khotbah yang disampaikan disiapkan secara murni dan digumulkan sungguh-sungguh hingga pemberitaannya atau tidak? Apakah khotbah yang disampaikan menantang pendengar untuk kembali kepada kebenaran yang sejati?

Pada hari ini kita para pengkhotbah banyak disuguhi aneka macam metode, gaya dan strategi bagaimana menjadi pengkhotbah yang sukses,[25] namun kehilangan esensi penting dari sebuah panggilan Allah untuk setia memberitakan firman-Nya ditengah dunia yang selalu berubah-ubah dan tidak menentu dengan kecenderungan utama terhadap kebergantungan kepada hal-hal yang bersifat sementara.

Berkaitan dengan truth (kebenaran) yang mewarnai pelayanan khotbah; maka, setiap pemberita Firman harus mengingat beberapa hal berikut ini:

Pertama, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk melatih pendengarnya kembali kepada kebenaran-kebenaran Alkitab dalam menghadapi berbagai asam garam kehidupan mereka. Paulus menegaskan,

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”[26]

Seorang pengkhotbah juga harus berkeyakinan teguh bahwa Firman Allah sanggup meyakinkan umat Allah yang sejati untuk tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Oleh sebab itu seorang pengkhotbah yang berdiri dalam kebenaran berkewajiban penuh untuk berupaya sekuat tenaga untuk menunjukkan kepada pendengarnya bagaimana membaca, mempelajari dan memegang ajaran kebenaran Alkitab bagi kehidupan mereka.

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”[27]

Selain itu, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk mengajarkan seluruh bagian Alkitab dan menunjukkan betapa unik dan ajaibnya setiap kebenaran yang didapat darinya. Sekaligus harus menantang pendengarnya memberi respon untuk hidup dalam penghayatan nyata terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka sebagaiman Alkitab sendiri tegaskan,

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”[28]

Sehingga pada akhirnya setiap orang yang mendengar pemberitaan Firman -dalam hal ini tentunya juga termasuk yang menyampaikan atau si pemberita Firman- akan senantiasa menghayati secara nyata kebenaran Alkitab yang ‘kuno’ namun merupakan kebutuhan yang amat penting ditengah zaman kontemporer ini bagi kehidupannya:

“Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu …”[29]

3. Kebutuhan (Needs)

Tidak dapat dipungkiri bahwa berita Injil kebenaran adalah berita kesukaan, dan oleh sebab itu berita yang disampaikan harus membawa kesukaan yakni kesukaan yang utuh, bukan kesukaan yang memanjakan, yang kompromi dengan zaman atau keinginan para pendengar semata-mata, karena hal ini justru akan mencelakakan. Maka khotbah yang menjawab tantangan  zaman kontemporer hari ini tidak boleh hanya disusun di atas meja saja tetapi juga harus melalui pengamatan dan pendekatan, sehingga sungguh-sungguh menyentuh kebutuhan nyata jemaat. Inilah yang dimaksudkan dengan khotbah yang relevan. Apabila kita perhatikan, para pengkhotbah yang dipakai Tuhan secara luarbiasa pada zamannya selalu berbicara mengenai kebutuhan manusia, termasuk problema dari kehidupan para pendengar mereka.[30] Dengan demikian khotbah menjadi hadir secara nyata ditengah-tengah pendengarnya.[31]

Secara sederhana, kebutuhan pendengar terhadap berita firman dapat dikategorikan dalam 2 kelompok yakni kebutuhan dasar (bersifat materi) dan kebutuhan pertumbuhan (yang bersifat non-materi):[32]

a.       Kebutuhan dasar yang mencakup fisik dan jaminan keamanan.

b.      Kebutuhan pertumbuhan yang mencakup kasih, harga diri dan aktualisasi diri, dimana aktualisasi diri meliputi kebenaran, kebaikan, keadilan, ketaraturan dan sebagainya.

Kedua kelompok kebutuhan ini perlu menjadi pertimbangan dalam khotbah, dimana penekanan yang terutama / terpenting adalah pada kebutuhan akan pertumbuhan yang bertujuan membawa pendengar kepada aktualisasi diri yang akan memperlihatkan dengan jelas kedewasaan kristiani dari para pendengar yang nyata melalui makna yang mereka berikan dalam kehidupan bergereja / berjemaat.

Disamping itu berita Firman tidak boleh kontroversial dalam arti tidak memperhatikan problem yang sedang dihadapi oleh jemaat. Contoh: penyampaian khotbah dengan topik “seluruh muka bumi dipenuhi kemuliaan-Nya”[33] padahal kenyataan sedang terjadi banjir bandang yang menghancurkan dan menewaskan begitu banyak orang, atau gunung Merapi yang meletus yang mengakibatkan kesedihan yang luarbiasa atau bencana gempa Tsunami yang menyisakan kepedihan yang amat dalam. Topik “pemeliharaan Allah yang ajaib” sementara kenyataannya ada diantara mereka yang sedang menjalani kehidupan yang buruk, seperti sakit tumor yang parah atau kanker ganas.  Atau misalnya topik “Berdua lebih baik daripada seorang diri” dalam momen pemberkatan pernikahan yang disampaikan dengan kurang mempertimbangkan perasaan dari mereka yang hidup sendiri, yang entah karena tidak mau menikah atau karena kesulitan mendapatkan teman hidup yang dianggap sesuai.

Untuk menjadikan sebuah khotbah tetap relevan dan berbicara kuat dalam ranah kehidupan jemaat yang serba kompleks pada hari ini; maka, pemberita Firman harus sungguh-sungguh mengenal jemaat yang dilayaninya. Untuk memenuhi hal ini seorang pemberita Firman kebenaran dapat mengenali kebutuhan-kebutuhan mereka melalui sharing tentang pengharapan dan ketakutan, kegelisahan atau kekhawatiran mereka, kesuksesan dan kegagalan, kesukaan dan kesedihan, kepahitan dan aspirasi dari umat yang dilayaninya.

Patut diingat bahwa hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada hamba Tuhan tamu. Dalam kaitan dengan inilah Rasul Paulus sendiri menganggap hubungannya dengan anggota jemaat seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Kepada jemaat Tuhan di Tesalonika ia berkata,

“Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.”[34]

Bila seorang ibu berkewajiban dalam menyusui bayinya; maka, demikian juga seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, akan memandang bahwa “berkhotbah” adalah tugas yang sangat penting, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

INTEGRITAS DIRI SEORANG PENGKHOTBAH

Berikut ini adalah beberapa uraian sederhana yang berkaitan dengan integritas diri seorang pemberita Firman dalam berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini:

Setia Kepada Alkitab

Seorang pemberita Firman yang bertanggungjawab akan senantiasa menyadari bahwa Alkitab adalah satu-satunya buku yang dapat menjadi sumber khotbahnya. Ia melihat bahwa hanya Alkitab yang memiliki otoritas ilahi. Oleh sebab itu, ia hanya akan mengkhotbahkan apa yang tertulis dan yang dikatakan dalam Alkitab. Dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber khotbahnya, maka ia telah menempatkan Alkitab sebagai sumber otoritasnya dan ia akan memiliki otoritas ilahi di dalam khotbahnya.

Berita Firman dibangun diatas dasar filosofi bahwa Alkitab menjadi sumber khotbah dan oleh sebab itu, pengkhotbah wajib menguraikan arti teks tersebut di sepanjang zaman. Alasannya, pengkhotbah bukan berkhotbah dengan otoritasnya, tetapi dengan otoritas Allah. Oleh sebab

itu, ia harus dan hanya mengkhotbahkan firman Allah sebagai berita khotbahnya.[35] Haddon W. Robinson mengatakan,

“. . . the preacher speaks with an authority not his own, and the man in the pew will have a better chance to hear God speak to him directly.”[36]

Dalam kaitan dengan teks Alkitab yang menjadi bahan khotbahnya, seorang pengkhotbah harus tetap menguraikan teks Alkitab yang menjadi dasar khotbahnya, entah apakah teks itu panjang atau pendek. Dalam pengertian ini, maka seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu ayat (yang menurut beberapa ahli disebut sebagai khotbah tekstual). Seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu perikop Alkitab (yang juga sering disebut sebagai khotbah ekspositori). Ia juga dapat mengkhotbahkan topik-topik tertentu (yang disebut sebagai khotbah topical), khususnya yang berkaitan dengan doktrin Kristen, dan seterusnya.

Bersandar dan Mengakui Kuasa Roh Kudus

Seorang pemberita Firman yang benar akan semakin bersandar pada kuasa Roh Kudus. Para pengkhotbah yang menyampaikan berita Alkitab akan menyadari bahwa ia memerlukan kuasa Roh Kudus agar jemaat bisa mengerti apa yang menjadi berita dari Allah untuk umat-Nya. Ia menyadari bahwa kuasa manusia tidak akan dapat membuat manusia lain tunduk pada kebenaran Allah. Hanya Roh Kudus yang dapat membuat manusia melihat Allah. Oleh sebab itu, para pengkhotbah harus bergantung dan bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Tanpa kuasa Roh Kudus, tidak akan ada nilai kekal yang tercapai walaupun mungkin ada banyak orang yang mengagumi daya persuasi, menikmati ilustrasi khotbah atau belajar doktrin dari sang pengkhotbah.[37] Hal ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep mimbar seorang pengkhotbah. John Piper mengatakan bahwa seorang pengkhotbah perlu menyadari dan mengakui trinitarian khotbah, yaitu tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah, berita khotbah adalah salib Kristus, dan kuasa khotbah adalah kuasa Roh Kudus.[38]

Peran Roh Kudus dalam berita Firman sangatlah penting dan menjadi kunci pemberitaan Firman yang efektif oleh karena Ia mengajar apa yang Yesus katakan (Yohanes 14:24), menghibur, menginsyafkan tentang dosa dan kebenaran (Yohanes 16:7,8), menolong umat  yang dalam kelemahan (Roma 8:26), menguatkan (Efesus 3:14-16), memberi dorongan pemberitaan Firman dan berdoa (Kisah Para Rasul 6:10; 1 Kor 2:13; 2 Korintus 4:13), dan seterusnya. Tidak ada satu khotbahpun yang dianggap layak dihadapan Allah bila tanpa intervensi dari kuasa Roh Kudus.  Pierre Ch. Marcel benar ketika menegaskan bahwa,

“Preaching, which is, properly speaking, the word preached, depends entirely on the Spirit…if the Spirit is absent, there is, in a manner of speaking, a sermon, but no preaching.  The word of God will not be heard, but a word of man, dead, and therefore irrelevance.”[39]

Dengan demikian, seorang pengkhotbah akan menyadari bahwa tugasnya hanyalah sebagai juru bicara Allah. Jika khotbahnya membawa seseorang berbalik kepada Allah, ia harus menyadari bahwa bukan dirinya sendiri yang membuat orang-orang tersebut bertobat. Mereka percaya karena Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka.[40] Namun, seorang pengkhotbah juga tidak akan berkecil hati jika ia tidak melihat hasil apapun dari khotbahnya. Ia tahu bahwa hanya Roh Kudus yang membuat seseorang berbalik kepada Allah. Ia akan tetap setia melakukan tugasnya sebagai pengkhotbah.[41]

Menghormati Jabatan Sebagai Pemberita Firman

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Llyod-Jones, pernah mengatakan demikian,

“Menurut hematku, ‘berkhotbah’ adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati.” (Lebih lanjut ia mengatakan), “Pekerjaan ‘penyampaian Firman’ tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib.”[42]

Perkataannya tersebut diatas membuktikan betapa seorang pemberita Firman (yakni seorang hamba Tuhan dengan panggilan yang jelas), adalah seorang yang berdiri diantara Allah dan manusia, dan oleh sebab itu seyogyanyalah bila ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap “berkhotbah” sebagai satu “pekerjaan”, sehingga dirinya disebut tidak lebih sebagai seorang “tukang khotbah” entah dalam pengertian professional atau amatiran. Melainkan ia akan sungguh berjuang dengan pertolongan Roh Kudus untuk menunjukkan kehidupan panggilan yang sepadan dengan jabatan itu.  Martyn Llyod Jones mengingatkan demikian,

“Our lives should always be the first thing to speak: and if our lips speak more than our lives it will avail very little. So often the tragedy has been that people proclaim the gospel in words, but their whole life and demeanour has been a denial of it.”[43]

Justru seorang pemberita firman yang menghormati jabatan tersebut akan senantiasa dipenuhi melainkan dengan sikap yang gentar dan takut dihadapan Tuhan, karena dipenuhi dengan pergumulan dan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menjalani kebenaran Firman yang senantiasa ia sampaikan kepada jemaat yang mendengarnya.

Jiwa Yang Antusias Terhadap Kehidupan Para Pendengar

Seorang pemberita Firman kebenaran yang sesungguhnya akan benar-benar menyadari bahwa pada waktu ia berdiri di mimbar, ia sedang “mengurus’ masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan bahwa ia berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Dr. Forsyth member penegasan terhadap kebenaran ini demikian,

“It is an act and a power: it is God’s act redemption…A true sermon is a real deed…The preacher’s word.  When he preaches the gospel and not only delivers a sermon, is an effective deed, charged with blessing or with judgment.”[44]

Kesadaran ini akan membawa kepada suatu pengertian bahwa berkhotbah bukanlah hanya sekedar sesuatu yang sekedar disampaikan dari mimbar, melainkan menuntun kepada antusiasme yang amat sangat bagi kehidupan para pendengarnya dihadapan Allah. Oleh karena itu seorang pemberita Firman yang baik akan memiliki sikap yang terus terang didalam menyampaikan kebenaran-kebenaran yang Allah kehendaki diketahui dan direspon oleh para pendengar Firman-Nya.  Hal ini akan sangat bermanfaat bagi gereja, pelayanan dan terutama kehidupan rohani para pendengar Firman. Dengan demikian menghindarkan gereja atau orang percaya dari sikap yang mudah terombang-ambing oleh berbagai tawaran dari gerakan-gerakan rohani kontemporer yang menawarkan “solusi instant” bagi persoalan-persoalan kehidupan yang mereka alami. Gereja dan kehidupan jemaat menjadi kuat, sehat, dan tangguh dalam terang kebenaran Firman yang benar.

Gereja masa kini memerlukan para pemberitaan Firman yang utuh. Salah satu contoh praktis misalnya adalah ketika berbicara mengenai pengudusan (sanctification); maka, seorang pemberita Firman yang baik kan berterus terang menyampaikan bagaimana seharusnya orang-orang percaya yang sejati berjalan didalam kehidupan yang kudus, pelayanan, ketaatan,  penyangkalan diri, sikap hidup yang takut akan Allah, kehidupan doa yang benar dan bagaimana seharusnya menjadi murid Kristus hidup didalam iman dan pertobatan yang sejati. Juga berbicara dengan terus terang mengenai kebenaran dari konsekwensi kekal dari kehidupan yang tidak memberi tempat bagi kebenaran Firman.[45]

Kesungguhan Didalam Belajar Makin Berkenan

Seorang pemberita Firman kebenaran harus senantiasa menuntut diri untuk terus maju dan meningkatkan kemampuannya. Memang didalam berkhotbah, kemampuan tidaklah menjadi pemeran utama atau sebagai penentu utama, namun tetap menjadi factor yang penting. Martin Lloyd-Jones mengatakan,

“As preaching means delivering the message of god in the way which he have described…it obviously demands a certain degree of intellect and ability.  So if a man lacks a basic minimum in that respect, he is clearly not called to be a preacher.”[46]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang pemberita Firman kebenaran yang rindu khotbahnya mampu membangun dan memberi dorongan pada sidang jemaat yang dilayaninya, adalah tidak dapat mengabaikan usaha dalam merawat dan meningkatkan kemampuan intelektualnya.

Kesalahan banyak pengkhotbah -dan juga gereja dalam pengertian komunal- pada hari ini adalah kurangnya keinginan yang kuat dan komitmen untuk meng-upgrade kemampuan diri. Situasi dan kondisi ladang pelayanan sekali-kali tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menuntut diri. Dalam pengertian ini, untuk makin berkenan dihadapan Tuhan dan agar kebenaran Firman makin nyata ditengah kehidupan bergereja; maka, seorang pemberita Firman dan termasuk jemaat yang dilayani  harus makin bersungguh-sungguh didalam belajar meningkatkan kemampuan mengajar Firman dan kemampuan didalam menyerap kebenaran firman yang disampaikan. Disamping tentunya, rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin membaca buku-buku rohani yang bermutu tinggi[47] dan buku-buku lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang dianggap bisa menambah wawasannya dan meningkatkan intelektualitasnya; seorang pemberita Firman juga perlu rajin berada ditengah jemaatnya[48] sehingga dengan demikian ia memperoleh pengetahuan tambahan yang bersifat praktis oleh karea ia mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gerejanya.

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini merupakan tugas yang amat mulia bagi setiap pemberita Firman kebenaran. Ditengah dunia yang semakin tidak menentu dan kecenderungan untuk mengikuti kebinasaan yang ditawarkannya, para pemberita Firman kebenaran harus tetap berdiri memproklamasikan berita kebenaran yang bukan saja hanya berupa janji kehidupan kekal didalam Yesus Kristus Tuhan, tetapi juga memproklamasikan kehidupan yang penuh pengharapan, kekuatan dan kehidupan yang berani menghadapi realita masa kini dan masa depan bersama dengan Tuhan.

Oleh karena itu, setiap pengkhotbah patut menjaga kesetiaan untuk mengkhotbahkan Alkitab sebagai berita Allah yang tidak pernah berubah ditengah dunia dan peradaban manusia yang terus-menerus berubah. Dalam hal ini juga dituntut kesetiaan seorang pengkhotbah untuk menguraikan berita Alkitab dan mengkhotbahkannya tanpa mengkompromikannya dengan keinginan dan kehendak zaman ini. Patut juga diingat, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sesuatu yang tidak lebih dari pada “stempel pengesahan” dari suatu khotbah yang justru sama sekali tidak memproklamasikan apa yang menjadi kehendak Allah untuk ditaati dan dilaksanakan dalam kehidupan umat, harus dibuang jauh-jauh. Demikian juga, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sekedar dari sebuah “pendahuluan khotbah” saja, juga harus dibuang jauh-jauh.

Disamping itu, ditengah kompleksnya tantangan yang dihadapai dalam zaman kontemporer ini terhadap kehidupan Kristen, setiap pengkhotbah dipanggil untuk memiliki kesungguhan dalam berkhotbah. Ia adalah juru bicara Allah yang harus sungguh-sungguh mempersiapkan khotbah yang akan disampaikannya dengan selalu bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Ia memikul tanggung jawab ilahi untuk menyampaikan berita ilahi, demi kepentingan ilahi dalam kehidupan umat-Nya. Dan oleh karenanya ia juga harus memiliki jiwa yang antusias terhadap mereka.

Dan terakhir, setiap kita patut menyadari bahwa berkhotbah ditengah zaman ini merupakan sebuah tugas yang yang mulia. Oleh karena itu setiap kita, para pengkhotbah, yang dipercaya untuk menjadi utusan-utusan Allah bagi misi-Nya ditengah dunia diingatkan sekali lagi untuk selalu memastikan bahwa pelaksanaan tugas yang diemban ini memberi dampak yang benar dan tepat baik pada masa sekarang ini, maupun pada yang akan datang hingga kekekalan. dan meskipun tidak semua pembawa berita Firman kebenaran dipanggil oleh Allah untuk menjadi pengkhotbah “besar,” semua pengkhotbah berita kebenaran dipanggil untuk mengkomunikasikan Firman dengan baik. Maka tidak ada jalan lain bagi kita selain dari pada senantiasa memastikan bahwa berita yang kita sampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang hingga kedalam kekekalan.

Fides Quaeraens Intelectum

 


Daftar Referensi Pustaka

Allah, TUHAN, Alkitab.

Beeke, Joel R., Puritan Evangelism: A Biblical Approach. Grand Rapids: Reformation Heritage

Books, 1999.

Calvin, John Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.

Comfort, Earl V.,  Is the Pulpit a Factor in Church Growth” Bibliotheca Sacra 140/157, 1983.

Dale, Robert D., Pastoral Leadership. Nashville: Abingdon Press, 1986.

David Watson, I in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199.

Forsyth, P.T., Positive Preaching and The Modern Mind. Independet Press, 1907.

Farm, Herbert H., The Servant of The Word. Philadelphia: Fortress, Press, 1964.

Greidanius, Sydney, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching

Biblical Literature. Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988.

Hornby, A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford: Oxford

Univeristy Press, 1987.

Lloyd-Jones, D. Martyn,  Preaching and Preachers. Grand Rapids: Zondervan, 1972.

Lloyd-Jones,Martyn, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1. Grand Rapids: Wm. B.

Eerdmans Publishing Company, 1959.

Massey, James Earl, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma.

Grand rapids: Baker Book House, 1976.

Marcel, Pierre Ch., The Relevance of Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1963.

Piper, John, The Supremacy of God in Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1990.

Packer, J.I.,  Evangelism and Sovereignty of God. Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961.

Robinson, Haddon W., Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository

Messages. Grand Rapids: Baker Book House, 1980.

Stott, John R.W.,  I Believe in Preaching. London: Hodder and Stoughton, 1982.

Williamson, G.I., Katekismus Singkat Westminster 1. Surabaya: Momentum / LRII, 1999.

Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and

Reformed Publishing Co., 1970).

Welsh, Clement,  Preaching in a New Key. Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974.

WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation.


[1] Disampaikan dalam Seminar Khotbah Kontemporer, Wisma Santo Yohanes – Kediri, 17 November 2010 sebagai bagian dari program Departemen Pembinaan Sinode GKA.

[2]Lihat WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation. Lihat juga A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (Oxford: Oxford Univeristy Press, 1987), p. 184

[3]Saya memberi perhatian khusus dalam makalah ini terhadap posisi berita Firman yang disampaikan oleh seorang pengkhotbah dan bagaimana seorang pengkhotbah membawa berita pengajaran yang ‘kuno’ tetapi murni itu dapat tetap relevan dan terus-menerus menggarami dunia kontemporer saat ini tanpa menjadikan berita Firman itu sendiri kehilangan kebenaran esensinya atau di’telan’ oleh kondisi zaman masa kini.

[4]Clement Welsh, Preaching in a New Key (Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974), p. 32.

[5]Misalnya: kharisma atau popularitas si penyampai firman, audiens, penampilan, style khotbah, suasana, peralatan pendukung/teknologi, dst. Harus diakui bahwa terkadang hal-hal ini juga “diperlukan” namun dalam pengertian sekali-kali tidak boleh disejajarkan dengan atau bahkan melampaui is dari berita Firman itu sendiri.

[6] John R.W. Stott, I Believe in Preaching (London: Hodder and Stoughton, 1982), p. 50.

[7] Disini penekanannya bukan pada metodologi tetapi kepada isi.

[8] Dalil ke-62 dari 95 dalili (tesis) yang dipakukan di pintu gereja Wittenberg di Jerman pada 31 Oktober 1517.

[9] D. Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan, 1972) 11.

[10] Earl V. Comfort, Is the Pulpit a Factor in Church Growth” (Bibliotheca Sacra 140/157, 1983), 67.

[11] Lihat David Watson, I Believe in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199. Watson menegaskan bahwa, “Although the birth of the church in Acts 2 began with praise, it continued with preaching.”

[12]Panggilan khusus yang diberikan kepada mereka adalah memberitakan Firman (Markus 3:14), setelah kebangkitan Yesus mereka di utus untuk memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Matius 28:19), pemberitaan Firman dilakukan dimana-mana (Markus 16:20), memberitakan Firman dengan penuh keberanian (Kisah Para Rasul 4:31).

[13] Roma 10:14-15

[14] 2 Timotius 4:1-2

[15] John Stott, I Believe in Preaching, p. 22.

[16] Ibid, p. 24.

[17] Ibid.

[18] Perhatikan 2 Timotius 4:3-5.

[19] 1 Timotius 4:2, “Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

[20] Lihat G.I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1 (Surabaya: Momentum / LRII, 1999), hal. 7.  Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1970).

[21] Lihat James Earl Massey, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma (Grand rapids: Baker Book House, 1976), p. 110.

[22] Sydney Greidanius, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching Biblical Literature (Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988), p. 913.

[23] Yohanes (John) Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), h. 206.

[24] 2 Korintus 4:5

[25] Pengertian “sukses” ini lebih kearah hal-hal yang bersifat artificial, misalnya: kemampuan berbicara, daya tarik charisma, relasi, ukuran jumlah pendengar, dukungan teknologi, popularitas, income yang lumayan, mampu memuaskan selera pendengar, dan seterusnya.

[26] 2 Timotius 3:16-17

[27] 2 Timotius 2:15

[28] Yakobus 1:22

[29] Ulangan 32:46-47

[30] Beberapa contoh: Amos berbicara sesuai kebutuhan dan konteks masyarakat kuno Israel, rasul Petrus berbicara pada masyarakat di zaman Pentakosta sesuai kebutuhan mereka, Martin Luther berbicara pada zaman reformasi yang menjadi kebutuhan mereka.

[31] Lihat juga Herbert H. Farmer, The Servant of The Word (Philadelphia: Fortress, Press, 1964), p. 81.

[32]Berdasarkan pembagian kebutuhan dalam konteks pelayanan gerejawi yang dikemukakan oleh Robert D. Dale dalam bukunya Pastoral Leadership (Nashville: Abingdon Press, 1986) pp. 151-153.

[33] Yesaya 6:3

[34] 1 Tesalonika 2:7.

[35] Bukan psychology atau semacamnya yang sedang trend pada hari ini !!!

[36] Haddon W. Robinson, Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository Messages (Grand Rapids: Baker Book House, 1980), p. 58.

[37] John Piper, The Supremacy of God in Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1990), p.39.

[38] Ibid, p. 19.

[39] Pierre Ch. Marcel, The Relevance of Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1963), pp. 91, 94.

[40] J. I. Packer, Evangelism and Sovereignty of God (Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961), p. 113.

[41] Ibid, p. 119.

[42] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1972), p. 33.

[43] Martyn Lloyd-Jones, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1 (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1959), p. 165.

[44] P.T. Forsyth, Positive Preaching and The Modern Mind (Independet Press, 1907), pp. 3,15,56.

[45] Joel R. Beeke, Puritan Evangelism: A Biblical Approach (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 1999), pp. 15-16.

[46] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers, p. 111.

[47]Yang saya maksudkan dengan ‘bermutu tinggi’ disini adalah buku-buku bacaan rohani tersebut jelas ajaran dan dasar teologianya.

[48] Misalnya: perkunjungan, percakapan-percakapan dalam setiap kesempatan, dan sebagainya.

 

OUTLINE EKSPOSISI PRAKTIKA UNTUK JEMAAT AWAM “INJIL MATIUS” oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min December 9, 2009

Eksposisi 1:1-17 (lihat introduksi Rabu 19 November 2009)

Eksposisi 1:18-25 (Rabu, 26 November 2009)

Ayat 18-19
Q: mengenai sebutan “tunangan” dan “isteri” antara Yusuf dan Maria. Mana yang benar?

Penjelasan:
Pernikahan menurut adat Yahudi terdiri dari 3 tahap:
1. Saling janji – biasanya dilakukan oleh orang tua ketika anak-anak mereka masih kecil.
2. Pertunangan – dilakukan dengan upacara / ritual resmi dengan disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak. Pada tahap ini secara adat istiadat hubungan dari keduanya sudah disebut sebagai suami-isteri meskipun tidak hidup sebagaimana layaknya suami isteri.
3. Pernikahan. – setelah berhasil melewati masa pertunangan itu dan tidak ada kendala dalam hubungan keduanya; maka, pernikahan menjadi tahap resmi akhir untuk meneguhkan hubungan keduanya sebagai suami isteri yang sah secara hukum dan agama.

Kesimpulan:
Status Yusuf dan Maria ada pada tahap 2

Ayat 20-22 – larangan/perintah kepada Yusuf agar tidak menceraikan Maria dalam pengertian memutuskan ikatan pertunangan. Malaikat memberi beberapa alasan:
1. Anak yang dikandung adalah dari Roh Kudus.
2. Anak itu adalah Juruselamat umat pilihan.
3. Anak itu adalah penggenapan nubuatan dalam Yesaya 7:14 pada 700 tahun yang lalu (c. 695 BC).

Ayat 21 – 

Pengertian:
1.Yesus datang hanya untuk menyelamatkan umat pilihan saja yang telah ikut jatuh dalam dosa (lihat Yohanes 6:37, 44; Efesus 1:4-9, 11).
2. Misi Yesus adalah misi yang khusus maka dalam melaksanakan Misi/Pekabaran Injil fokusnya adalah ajaran Firman Allah yang menghakimi manusia agar melalui respon terhadap Firman Allah terlihat dengan jelas yang mana umat pilihan yang mana yang bukan (lihat Yohanes 12:47-48; Roma 8:30).
3. Orientasi Injil bersifat eksklusif- kualitas bukan inklusif-kuantitas (lihat Matius 22:14, Kisah Para Rasul 2:39, 1 Korintus 9:19).

Ayat 23 – nama Anak yang dikandung Maria:
1. Yesus (Greek:  ; Ibrani: jehoshua) artinya: “dari Tuhan datang keselamatan” atau “Tuhan adalah keselamatan”
2. disebut “Immanuel” artinya Allah menyertai kita (emmanuel – terjemahan hurufiah: Allah yang tidak kelihatan telah berkenan menjadi manusia ditengah kita).

Ayat 24-25 – sikap Yusuf:
1. Mengerti ajaran Firman Allah dengan baik dan benar.
2.Taat (mengambil Maria sebagai isterinya dengan menempuh tahap 3).
3. Melindungi Maria dari pencemaran nama baik termasuk dirinya.
4. Menghormati kekudusan kehamilan Maria dengan tidak melakukan hubungan suami dan isteri sampai Yesus lahir.
5. Menunjukkan teladan suami (kepala keluarga) yang bertanggungjawab.

Eksposisi Matius 2 (Rabu, 2 November 2009)

Ayat 1-2
1. tempat kelahiran Yesus
“Betlehem” (mehkelteb = rumah roti):
- terletak di Propinsi Yudea
- sebuah kota bangsa Kanaan, 7 km di sebelah Selatan Yerusalem (bekas daerah suku Zebulon – Yosua 18:15).
- disebut juga dengan nama Efrata karena didiami orang-orang keturunan daerah Efrat (1Taw 2:51; 4:4; Mikha 5:1; Rut 4:11).
- Tempat asal orang-orang tersohor seperti: Boas (Rut 2:1); Isai (Rut 4:22); Daud (1 Samuel 17:12).
- dinubuatkan oleh nabi Mikha (5:1-4) sebagai tempat kelahiran Yesus (c. 500 tahun sebelum Yesus lahir).

2. orang-orang Majus dari Timur

Q1: Siapa mereka?
  = ilmuwan/ahli perbintangan (astrolog).
- kaum intelektual / cerdik pandai
- orang2 terkemuka / bangsawan
- penasehat atau pembantu raja
- Timur adalah sebutan yang umum untuk negeri Persia/Babel/Babylonia kuno (sekarang
Iraq):
1. tempat orang Israel dari kerajaan Selatan (Yehuda) dibuang selama 70 tahun (lihat Yeremia 25:11; 29:10; Yeremia 39; Daniel 9:2).
2. tempat dimana Daniel dkk pernah menjadi menteri/pembantu dekat raja Nebudkadnezar (lihat Daniel 1-3).

Q2: bagaimana mereka mengetahui bahwa Mesias yang disebut sebagai raja orang Yahudi akan lahir di negeri Yudea (Yehuda)?

- Pembuangan orang2 Yehuda ke Babel (c.586 s.M) membawa dampak bagi kehidupan beragama di Babel.
- Setelah peristiwa dalam Daniel 3, agama Yahudi mendapat tempat terhormat diseluruh wilayah kerajaan Babel (lihat maklumat raja Nebudkadnezar di ayat 28-29).
- Kitab2 suci Yahudi dan tulisan2 berkaitan dengan nubuatan kedatangan Mesias menjadi dikenal khususnya dikalangan intelektual kerajaan Babel (termasuk para Majus).
- Mereka percaya Yesus adalah Mesias.

Q3: bagaimana para Majus mengenali Mesias telah lahir berdasarkan petunjuk bintang?

(Robert H. Mounce, Matthew. San Fransisco: Harper & Row, 1985) memberi penjelasan:
- Pada tahun 7 s.M planet Yupiter dan Saturnus terletak pada satu meridian (garis lurus).
- Planet Yupiter dianggap sebagai bintang jagad raya sedangkan planet Saturnus dianggap sebagai planet Filistin/Palestina.
- Pertemuan kedua planet ini dalam satu garis lurus hanya terjadi satu kali dalam 794 tahun.
- Pertemuan ini diyakini mempunyai arti oleh para Majus bahwa “pemimpin atau pemerintah akhir zaman akan muncul di Palestina sesuai dengan isi Kitab Suci Yahudi.”

Q4: mengapa “bintang” tidak langsung menuntun mereka ke Betlehem?

- Berita kelahiran Yesus harus diketahui dan didengar oleh segenap lapisan masyarakat (berita pertama adalah kepada para gembala di padang cf. Lukas 2).
- Dalam sejarah, kota Yerusalem dikenal sebagai kota para raja. Dengan ‘mampir’ nya para Majus di kota itu maka berita kelahiran Mesias, raja yang dijanjikan itu menjadi nyata bagi setiap orang.
- Tuhan menuntun para Majus ke Yerusalem untuk menunjukkan bahwa Raja yang sesungguhnya sudah hadir namun penduduk Yerusalem tidak menyadari kehadiran-Nya!

Q5: berapa jumlah mereka?
- biasanya disebutkan 3 orang (berdasarkan jumlah jenis persembahan mereka di ayat 11) meskipun bisa saja lebih.
- Tradisi: Kaspar, Melkior dan Baltasar.

Camkan,Renungkan, dan ubahlah pola pikir saudara….
 Firman Tuhan tidak pernah sia-sia: apa yang ditabur 516 tahun lalu di Babel akhirnya berbuah.
 Hanya orang yang percaya Yesus yang dapat datang dan mengakui Dia sebagai raja hidup kekalnya.
 Kepandaian, intelektual, kehormatan, status, kelas sosial, kekayaan, dan hidup kita baru akan memiliki nilai, makna dan guna yang sejati ketika kita membaktikannya bagi Tuhan.
 Ajaran yang benar akan selalu bernilai kekal tetapi ajaran yang salah, sesat dan palsu hanya akan menuntun orang kepada kebutaan rohani.

Ayat 3-6 – respon terhadap berita
1. Berita yang dibawa oleh para Majus mengejutkan istana dan rakyat Yerusalem.
2. Herodes Agung, raja atas seluruh tanah Yudea/Palestina (37-4 s.M) memerintahkan penyelidikan.
3.Para Imam dan ahli Taurat membenarkan bahwa BENAR akan lahir pemimpin yang dijanjikan bagi Israel.
4.Detil mengenai kehadiran-Nya disebutkan:
- tempat lahirnya: Betlehem di tanah Yehuda.
- menggenapi nubuat PL dalam Mikha 5:1
- menggembalakan Israel

Ayat 7-8 – Tindakan Herodes Agung:
1. Memanggil para Majus dengan diam-diam ( = dengan maksud tersembunyi) untuk menyelidiki kemungkinan apakah ia bisa melihat bintang itu (mengetahui  bintang itu).
2. Sadar bahwa ia bukan Majus maka ia memberi perintah yang penuh muslihat dengan mengabaikan fakta bahwa Majus itu hanya taat kepada raja dimana mereka mengabdi (hanya bisa diperintah oleh raja negeri mereka).
3. Sikap Herodes Agung bertolakbelakang dengan karakternya yang terkenal licik, tidak pernah membiarkan lawan politiknya hidup, selalu ketakutan tersaingi oleh lawan politiknya, dan kekuatirannya yang besar akan kehilangan jabatan atau kekuasaannya.
4. Berdasarkan catatan sejarah, disamping prestasinya yang cemerlang dalam bidang politik dan pembangunan Yudea, Herodes Agung dikenal sebagai raja yang:
- memunahkan keturunan para Hasmon
(pahlawan2 Yahudi dari keturunan imam-imam kepala Yahudi)
- mengambil alih secara paksa jabatan Imam Agung.
- memerintahkan agar pada saat kematiannya orang2 berkedudukan di Yerusalem yang terpilih dalam daftarnya juga ikut dibunuh sebagai tumbal.
- memiliki 10 isteri resmi.

Kesimpulan: Herodes Agung menyimpan niat jahat kepada Yesus.
Ayat 9-10
1. Bintang yang kembali diperlihatkan Tuhan kepada para Majus dengan mendahului mereka, menunjukkan:
- Tuhan adalah inisiator keselamatan.
- Tuhan hanya menuntun orang-orang yang
terpilih saja untuk datang kepada Yesus.
2. Sebutan Anak ( = anak laki-laki) menunjukkan:
- Yesus sudah bukan bayi lagi.
- Yesus telah berusia 2 tahun
pada saat itu (cf. ayat 16).

Ayat 11 – Jenis dan Simbol Persembahan
1. Persembahan mereka:
- Emas
- Kemenyan
- Mur
2. Melambangkan:
1. persembahan kepada raja
2. pemberian untuk imam
3. pemberian untuk seseorang yang akan mati

Ayat 12 – Peringatan yang ditaati
1. Perintah TUHAN untuk tidak menepati janji kepada raja Herodes Agung (cf. 8-9b).
2. Otoritas Tinggi (raja & hukum kerajaan) harus tunduk kepada Otoritas Tertinggi (Allah & Firman-Nya).
3. Ketaatan terhadap Allah & Firman-Nya melebihi segalanya (resiko dan konsekwensi).
 Orang-orang Majus terkenal sebagai orang-orang yang memegang teguh janji dan hukum2 kerajaan. Namun dalam peristiwa ini kita melihat bukti kelahiran baru mereka, hanya kepada Firman Allah saja (Sola Scriptura) mereka tunduk sepenuhnya.
 Tindakan lebih menuruti kehendak Allah ini menunjukkan bahwa mereka siap dengan resiko dan konsekwensi yang mungkin akan mereka hadapi.

Renungkan, camkan dan ubahlah pola pikir kita….
• Seberapa dalam Anda telah mengalami makna peristiwa Natal?
• Apakah Anda termasuk orang yang sangat takut kehilangan relasi, jabatan, kekayaan, pekerjaan atau takut tersaingi oleh sesuatu yang Anda anggap sebagai ancaman bagi kedudukan Anda? Umat TUHAN yang sejati justru akan memperjuangkan yang terutama: nilai-nilai kekal dan dampak kekal yang akan dihasilkan.
• Persembahan yang berkenan kepada TUHAN harus didasari kepada motivasi kudus yang bertujuan menghormati dan merajakan TUHAN semata-mata.
• TUHAN bukan hanya menghendaki umat datang kepada-NYA tetapi juga menghendaki umat menaati DIA dan Firman-NYA.
• Resiko & Konsekwensi hidup terbesar adalah ketika kita tidak menaati Allah dan Firman-Nya.

Ayat 13-15 – Pelarian ke Mesir (Rabu, 9 November 2009)
- Memelihara rencana TUHAN tetap terlaksana sesuai kehendak-Nya dan jadwal yang IA telah tentukan sejak dari kekekalan.
- TUHAN menunjukkan kemurahan hati-Nya dengan “mengalah” kepada manusia berdosa yang menentang DIA.
- Makna teologis dalam peristiwa ini:
1. penggenapan nubuatan Hosea 11:1
2. Mesir mengingatkan mengenai peristiwa perbudakan bangsa Israel dan pembebasan mereka pada masa lalu.
3. pelarian ke Mesir dapat kita lihat sebagai tindakan Allah untuk mengingatkan mengenai kegagalan Israel sebagai bangsa pilihan Allah dalam sejarah keselamatan sehingga perlu kembali pembaharuan sejarah dimana umat pilihan yang sesungguh-Nya akan dipimpin keluar dari dosa dan dunia melalui kelahiran baru kepada Yesus Kristus.
4. Mengingatkan kita bahwa keselamatan dari Allah bukan hanya dijanjikan kepada Israel saja, tetapi juga kepada bangsa diluar Israel dimana umat pilihan Tuhan ada didalamnya.
5.Pelarian ke Mesir juga menunjukkan:
1. Tuhan tidak akan membiarkan kesempatan kehadiran-Nya diremehkan manusia.
2. Berkat rohani dan rahasia sorgawi tidak akan diobral kepada manusia / umat Allah yang tidak tahu merespon dengan baik anugerah Allah: (lihat Lukas 10:11, Kisah Para Rasul 15:31 juga Matius 10:41).

Ayat 16-18 – kebiadaban Herodes Agung
- Merasa ‘ditipu’ oleh para Majus
- pembunuhan anak-anak yang berusia 2 tahun ke bawah di Betlehem.
- Kata “semua anak” menunjukkan laki-laki dan perempuan (menunjukkan Herodes Agung benar-benar kalap sehingga tidak lagi ingat bahwa Yesus adalah seorang Putera!!).
- Peristiwa ini menggenapi nubuatan dalam Yeremia 31:15

Q: mengapa ada pergeseran lokasi dari nubuatan Yeremia kepada lokasi yang disebutkan Matius?

 Yeremia 31:15 menulis bahwa peristiwa ini akan terjadi di Rama (Er-Ram) 8 km sebelah Utara Yerusalem.
 Matius 2:18 menulis di Betlehem 16 km sebelah Selatan Yerusalem (tempat Rakhel dikuburkan – Kejadian 35:19)

Penjelasan:
Matius sesuai tujuan penulisan Injilnya hendak menegaskan mengenai janji di dalam Perjanjian Lama yang akan digenapi / sedang digenapi oleh Yesus bagi tujuan penyelamatan anak-anak Allah yakni umat pilihan yang sesungguhnya (baca secara utuh Yeremia 31:15-17!!).

Ayat 19a – akhir hidup Herodes Agung
1. Sejarah mencatat bahwa ia wafat pada 1 April 04 (saat Yesus telah berusia 4 tahun).
2. Penyebab kematian:
- kanker usus
- penyakit beri-beri yang dideritanya.
- kegilaan karena selalu dihantui oleh peristiwa-peristiwa pembunuhan yang dilakukannya.

Ayat 19b-21 – Akhir dari Ancaman
1. perintah untuk kembali ke tanah Israel (Betlehem) menunjukkan bahwa ancaman pembunuhan terhadap Yesus sudah berakhir.
2. dari keterangan yang diberikan malaikat, ternyata upaya pembunuhan terhadap Yesus adalah suatu upaya komplotan sistematis (frase kata dalam ayat 20 ‘mereka yang hendak membunuh’ = kekuatan politik dan konspirasi yang terkoordinir dibawah komando Herodes Agung).
3. semua anggota komplotan ini sudah mati (perhatikan: Yesus dilarikan ke Mesir pada usia 2 tahun dan perintah untuk kembali ke Israel adalah pada tahun 4 M setelah kematian Herodes Agung. Tentunya mati ‘berbarengan’ dalam tahun yang sama bukan sesuatu yang biasa!).

Ayat 22a – Kekhawatiran akan munculnya ancaman baru:
1. Yusuf khawatir Archelaus akan melanjutkan rencana ayahnya alm. Herodes Agung untuk membunuh Yesus.
2. Siapa Archelaus?
- Ia seorang yang sangat kejam yang memerintah hanya 2 tahun saja (tahun 4 –tahun 6 Masehi).
- Sikap kejamnya yang luarbiasa mengakibatkan ia tidak disenangi oleh kaisar Agustus di Roma.

Ayat 22b-23 – Sobat dari Galilea
1. Karena Yusuf takut kembali ke Betlehem (wilayah provinsi Yudea) maka malaikat menasehati untuk pergi ke Nazaret (wilayah provinsi Galilea).
2. Dimanakah Nazaret?
- Sebuah desa kecil di Galilea.
- desa kecil dimana Maria menerima berita bahwa ia akan melahirkan Yesus (cf. Lukas 1:26-38)
- menjadi terkenal setelah Yesus tinggal disana.

Makna Nazaret bagi kita:
Nazaret berarti “yang dijaga / dilindungi / dipelihara / dibentengi”
2. Gelar kehormatan untuk mengingat kehadiran Yesus justru tidak diasosiasikan dengan kota kelahiran-Nya di Betelehem sehingga IA bukan dikenal sebagai “Yesus dari Betlehem” melainkan “Yesus dari Nazaret” atau “Yesus orang Nazaret.“
3. Karena berasal dari Nazaret maka orang-orang Kristen pertama juga disebut sebagai “orang-orang Nasrani” (cf. Kisah Para Rasul 24:5).
4. Nazaret adalah sebuah desa kecil yang menjadi tempat untuk mempersiapkan Yesus tampil di depan umum (cf. Luk 2:39,51-52; 2:23; 2:11; Kisah Para Rasul 10:38).
5. Peristiwa dalam Lukas 4:16-30 juga mengingatkan kita bahwa penolakan tidak boleh membuat visi – misi kerajaan Allah terkungkung karena pola pikir yang sulit diarahkan kepada pola pikir kebenaran Kitab Suci. Tuhan akan selalu sediakan tempat yang tepat untuk realisasi visi – misi Kerajaan Allah di bumi!

Camkan, Renungkan, dan Ubahlah pola pikir saudara….
• Kita boleh kelihatan ‘kalah’ dalam perjuangan hidup ini namun tetaplah jadi pemenang dalam kehidupan lahir baru dihadapan Tuhan.
• Jangan pernah dibutakan dengan situasi dan kondisi lahiriah. Bersyukurlah dan banggalah dengan tempat dimana Tuhan menempatkan kita menjadi umat-Nya.
• Sadarilah bahwa sangat sulit mengubah pola pikir lama ke pola pikir baru karena itu kita harus berjuang membuktikan bahwa kita rela diubahkan oleh kebenaran Kitab Suci.
• Jagalah sikap kita terhadap kehadiran berita Firman Tuhan ditengah-tengah kita agar kita tidak kehilangan kesempatan untuk menerima, menikmati dan menyaksikan penggenapan janji-Nya bagi kita (keluarga, gereja, pekerjaan dan pelayanan).
• Dalam ketakutan2 dan kekhawatiran2 kita dalam menghadapi kehidupan dan masa depan, Tuhan akan senantiasa menuntun kepada jalan-jalan keluar yang tidak terduga.
• Perjalanan kehidupan Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kita ini adalah musyafir di tengah dunia. Tujuan dan tempat kita yang sesungguhnya bukan dalam dunia ini!
• Segala sesuatu dimulai dari yang kecil, karena itu jangan takut, kuatir, minder karena hal-hal yang dianggap “kecil” dalam hidup kita.
• Dalam merayakan Natal jangan hanya terpaku pada peristiwa Betlehem tetapi juga peristiwa Nazaret karena anugerah dan berkat Allah seringkali juga dipersiapkan melalui peristiwa yang tidak menyenangkan!

Tugas baca untuk bahasan Minggu depan, Rabu 16 Desember 2009: Matius 3.

EKSPOSISI MATIUS 3 (Rabu, 16 Desember 2009)

* Ayat 1-4Yohanes Pembaptis

A. Siapa Yohanes Pembaptis?

1. Nama aslinya Yohanan (Ibr. nanahoY ; Greek: ’IoaneV artinya Allah penuh kasih karunia / Jehovah is a gracious giver) cf. Matius 3:1, 21:25; Yoh 1:42.

2. Berasal dari keluarga imam (ayah: imam Zakharia ibu: Elizabet) cf. Lukas 1:1-80.

3. Dipanggil dengan nama Yohanes Pembaptis (Matius 3:1-12; Markus 1:2-8).

4. Memberi kesaksian tentang keilahian Yesus (Matius 3:11-12; Markus 1:7-8; Lukas 3:15-18; Yohanes 1:6-35; 3:27-30; 5:33-36).

5.Menjadi pengkhotbah pengembara di padang gurun selama 3 tahun (sekitar tahun 28-30).

6.Yesus juga meminta dibaptis olehnya (Markus 1:9-11).

7.Yesus menyebutnya sebagai:

1. seorang “Nabi” (Lukas 7:26)

2.“utusan Allah” (Lukas 7:27)

3. manusia “besar” di mata Tuhan (Lukas 7:28)

8.Pendahulu / penyiap jalan bagi Yesus dengan memproklamirkan “Kerajaan Sorga sudah dekat” (cf. Matius 11:10 juga pengakuannya dalam Yohanes 1:29-34).

9.Menggenapkan nubuat Yesaya 40:3.

B. Kepribadian Yohanes Pembaptis

1.Pribadi seorang Nazir: mengembara, tarak makanan dan selibat (ayat 4).

2.Tegas dan tidak mengenal kompromi dalam mewartakan baptisan dan pertobatan

pengampunan dosa sebagai persiapan akan datangnya kerajaan Allah (Markus 1:1-6).

3.Bukan pribadi yang suka menyenangkan kemauan hati dan telinga orang. Ciri khotbahnya: tajam mengecam ketidakbenaran dan dosa (cf. mengecam raja Herodes karena menjadikan Herodias istri saudaranya sebagai isterinya yang menyebabkan Herodes memenjarakan Yohanes dan menyuruh membunuhnya – Markus 6:17-29).

4. Memegang teguh teologia Reformed: mengajarkan bahwa menjadi umat Allah yang sejati hanya terjadi apabila seseorang benar-benar telah dilahirbarukan kepada Kristus (lihat ayat 11) yang terbukti melalui buah pertobatan yang dihasilkannya (ayat 8).

C. Akhir hidup Yohanes Pembaptis

- mati syahid pada tahun 30

- penyebab: kebencian dari orang2 yang tidak mau bertobat dari dosa (lihat Matius 14:1-12; Markus 6:14-29; Lukas 9:7-9).

* Ayat 5-6Respon manusia

  1. Datang – hanya hati yang terbuka kepada kebenaran yang akan datang dengan sungguh2 sambil merendahkan diri.
  2. Mengaku dosa – respon yang benar kepada Firman terjadi ketika manusia menyadari siapa dirinya dihadapan Allah dan firman-Nya.
  3. Dibaptiskan di sungai Yordan.

* Ayat 7-9, 11 – Pertobatan sejati

1. Bukan didasarkan pada ritual-ritual keagaamaan tetapi didasarkan pada pertobatan yang sungguh2 (lihat ayat 7-8).

2.  Bukan didasarkan pada faktor keturunan tetapi pada kehidupan yang lahir baru kepada Kristus (lihat ayat 9).

3. Bukan didasarkan kepada simbol-simbol tetapi kepada kehidupan yang lahir baru kepada Kristus (lihat ayat 11).

Penjelasan ayat 11

Yohanes Pembaptis mengakui bahwa baptisan yang ia lakukan adalah bersifat simbolis / tanda pertobatan.

Baptisan yang sesungguhnya baru benar2 menyelamatkan apabila percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat melalui pekerjaan Roh Kudus (cf. Markus 3:29; Lukas 12:10)

Api sebagai lambang penerangan, semangat dan pemurnian. Ini berarti bahwa seseorang yang benar2 milik Tuhan:

1. makin hari-makin mengerti ajaran firman yang benar dan hidup dalam terang kebenaran firman.

2. hidupnya penuh semangat (energi) untuk memperjuangkan arti, makna, nilai hidup yang sebenarnya dihadapan Tuhan.

3. hidup imannya akan makin murni dan bersinar lewat peristiwa2 perjalanan hidup

yang sulit, menyakitkan dan penuh tantangan.

* Ayat 10, 12

Orang percaya sejati:

1. Berakar, bertumbuh dan berbuah dalam ajaran yang benar.

2. Imannya makin terlihat murni lewat berbagai ujian kehidupan.

3. Gandum yang dikumpulkan kedalam lumbung (: Sorga) yang kekal.

Orang percaya palsu:

1. Berakar, bertumbuh dan berbuah dalam ajaran yang salah.

2. Pada akhirnya akan terbukti bukan umat pilihan Allah.

3. Debu jerami / ilalang yang akan dibakar dalam api neraka yang kekal.

Aplikasi….

Sedang terjadi pada hari ini disekeliling kita –sesuai dengan nubuatan Alkitab – bahwa orang / gereja tidak lagi menghargai dan menerima ajaran yang sehat dan lebih ingin mencari ajaran yang menyenangkan telinganya (lihat 2 Timotius 4:3-4). Bagaimana dengan Saudara dan gereja saudara?

Hamba Tuhan yang benar adalah hamba Tuhan yang membaktikan hidupnya bagi Tuhan sebagai Tuan yang ia layani dan ajaran kebenaran Kitab Suci yang telah dipercayakan kepadanya oleh Tuhan.

Kekristenan ibarat ladang yang ditumbuhi oleh 2 jenis orang kristen yakni: orang kristen sejati (gandum) dan orang kristen palsu (jerami/ilalang). Seringkali tidak terlihat perbedaannya namun tetap bisa diketahui melalui petunjuk2 FT. Yang manakah Saudara diantara keduanya?

Hidup percaya berbicara tentang LAHIR BARU dan bukan semata hanya mencakup ritual keagamaan, baptisan, pergi ke gereja atau bahkan telah ikut melayani dalam gereja. sudahkah Anda benar2 telah Lahir Baru? Bila belum dengarlah seruan Yohanes Pembaptis: “bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

* Ayat 13Yesus minta dibaptiskan

Yesus datang untuk dibaptiskan berdasarkan inisiatif sendiri.

Ini memberi penegasan bahwa:

- baptisan sangat penting artinya sebagai pengesahan dihadapan umum.

- baptisan tidak boleh dipaksakan

- baptisan menunjukkan ketaatan kepada Firman Allah.

* Ayat 14-15 – Makna baptisan Yesus

1. Yesus dibaptiskan bukan dengan tujuan sebagai tanda pertobatan atau supaya Ia termasuk sebagai penerima anugerah keselamatan melainkan untuk memberi teladan keataan.

2. Yesus meletakkan dasar yang tidak boleh diubah bahwa baptisan harus dilaksanakan oleh orang-orang khusus yang dipilih dan ditempatkan Allah untuk memangku beban tanggungjawab pelayanan khusus ini.

3. Yesus dibaptiskan bertujuan untuk meletakkan dasar dan memberi teladan ketaatan terhadap kebenaran Firman Tuhan bagi setiap orang percaya.

* Ayat 16-17 – MESIAS diproklamasikan

1. Langit terbuka

- simbol kebenaran

- simbol penerimaan / perkenanan

- simbol pengesahan

2. Roh Allah turun dalam rupa burung merpati

3. Proklamasi surgawi: Yesus adalah Anak Allah, Mesias yang hanya melalui-Nya seseorang akan diterima kedalam Kerajaan Sorga.

4. Peristiwa ini menunjukkan peran ALLAH TRITUNGGAL dalam penyelamatan umat pilihan Allah!

Percik vs Selam

Penjelasan ayat 16: “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.”

Untuk diketahui bersama…..

SOLA FIDE diliburkan: Rabu, 23 Desember 2009 – Rabu, 13 Januari 2010

TUGAS BACA untuk Sola Fide 20 Januari 2010: MATIUS 4

EKSPOSISI INTERAKTIF MATIUS 4:1-3 (Rabu, 3 Pebruari 2010)

* Ayat 1-2 – Pentingnya pimpinan Roh Kudus dalam kehidupan percaya

Yesus dipenuhi Roh Kudus (lihat 3:16)

1. dipenuhi = dikuasai, diatur, diarahkan , dipimpin, disertai  (cf. Efesus 5:18)

2. dipenuhi = tanda sebagai milik TUHAN (lihat 3:17)

Roh Kudus memimpin Yesus ke padang gurun untuk dicobai

Padang Gurun:

1. padang gurun Yeshimmon terletak antara kota Yerusalem dan Laut Mati (panjang 50 km dan lebar 20 km)

2. Yeshimmon berarti Pembinasaan.

Yesus dipersiapkan untuk tangguh didalam menjalankan tugas-Nya

1. padang gurun adalah tempat yang ‘mati’ dan sepi.

2. dalam kesendirian / kesepian IA dilatih untuk bergantung dan mengandalkan Allah Bapa.

3. kehidupan rohani yang kuat terbentuk melalui hubungan yang eksklusif dengan Allah.

Camkan…

Jika dipenuhi Roh Kudus, padang gurun menjadi gereja besar. Jika tidak dipenuhi Roh Kudus, gereja besar jadi padang gurun” (Rev. Dr. John Sung)

“Seandainya Roh Kudus diambil dari lembaga2 gerejawi, atau dari kehidupan para pemimpin Kristen, 95% dari aktifitas kita masih dapat berlangsung. Tetapi apa gunanya? NOL dimata Tuhan!” (Rev. Dr. Karel Bates)

Dicobai Iblis

1. pemahaman arti kata “peirazein

- bahasa Indonesia: ‘mencobai’ memiliki konotasi negatif yakni ‘membujuk, merayu atau menggoda untuk melakukan hal yang salah.’

- bahasa Yunani: konotasi positif yakni ‘menguji kemurnian, keaslian.’

2. Tujuan pencobaan bagi orang percaya:

- melatih kita menaklukan dosa.

- melatih kita menjadi orang yang semakin baik dalam terang Firman Tuhan.

- bagi anak2 Tuhan, pencobaan bukanlah hukuman melainkan ujian untuk membuktikan diri sebagai milik Allah.

Arti Puasa

1. John Calvin

“Melatih diri berpantang, menekan nafsu daging dan mengobarkan semangat untuk rajin berdoa.”

2. Augustine

“Menangisi diri dan memuji Allah atas anugerah-Nya.”

3. John Stott

“Tidak makan dan minum untuk jangka waktu tertentu untuk suatu tujuan dihadapan Allah.”

Yesus berpuasa 40 hari 40 malam

1. makna puasa Yesus:

1. untuk memenuhi tuntutan rohani paling tinggi (cf. Musa di atas gunung Sinai – Keluaran 24:18; Keluaran 34:28; Ulangan 9:9).

2. mematahkan ‘mitos’ puasa dalam agama-agama dunia (Yahudi: Senin & Kamis; Islam: Ramadhan; Budha/Hindu: puasa askese).

3.melatih ketajaman kehidupan rohani yang kuat agar mampu menyingkapkan kehendak Allah Bapa bagi umat-Nya.

4.memberi teladan untuk membayar harga dari panggilan untuk mengikut dan melayani Dia.

5. melatih kekuatan fisik untuk siap menghadapi tantangan pelayanan.

Yesus lapar

1. natur kemanusiaan-Nya mengharuskan-Nya mengalami kondisi yang dialami oleh manusia (lapar, haus, dst).

2. kondisi lapar Yesus adalah kondisi lapar yang luarbiasa:

- sangat hebat (cf. 40 hari/40 malam tdk makan dan minum)

- menegaskan natur kemanusiaan-Nya.

- hampir mustahil ada makanan di padang gurun Yeshimmon.

* Ayat 3a – Iblis si Pencoba

Iblis adalah pribadi yang suka mencari ‘kesempatan’ untuk mencobai dengan tujuan untuk menghancurkan (cf. 1 Petrus 5:8)

Strategi Iblis:

1.memanipulasi kebenaran Firman Tuhan (cf. Kejadian 3:1, 4-5)

2. memanfaatkan kondisi psikologis (2 Korintus 11:14)

3. menimbulkan keinginan jasmani.

4. Menentang Yesus sebagi Tuhan dan menghalangi iman anak2 Tuhan agar meragukan ke-Tuhan-an-Nya.

Rabu, 10 Pebruari 2010

* Ayat 3b – godaan berkaitan dengan kebutuhan jasmani

Iblis suka menimbulkan krisis dalam diri anak2 Tuhan berkaitan dengan pergumulan kebutuhan jasmani:

1. Bimbang terhadap Tuhan, dan status diri (cf. “Jika…”)

2. Taat kepada setan berarti jalan pintas / solusi yang cepat.

3. Egosentris – rohani urusan nanti.

* Ayat 4

Jawaban Yesus menunjukkan bahwa:

1. Iblis tidak memiliki kuasa apapun untuk memerintah hidup anak2 Tuhan.

2. Firman Tuhanlah yang memiliki otoritas atas kehidupan percaya umat Tuhan, bukan kebutuhan duniawi.

3. Kepuasan hidup tidak hanya diukur dari hal2 yang terlihat tetapi lebih dari pada itu adalah kepada hal2 yang                      tidak terlihat yang berasal dari kepuasan batiniah/Rohani.

* Ayat 5-6 – godaan kehidupan rohani yang palsu

Iblis membawa Yesus ke kota Suci (Yerusalem) di bubungan Bait Allah di Yerusalem:

1. salah satu kebiasaan Iblis paling favorit dari dulu sampai sekarang adalah suka pamer kekuatan dan kuasa supranatural untuk meyakinkan anak2 Tuhan agar mengira bahwa kuasa Iblis = kuasa Yesus. Karena itu waspadalah terhadap segala fenomena dan praktek2 kuasa2 supranatural atau yang dikatakan sebagai ‘lawatan Allah, kuasa ilahi’ dst terutama dalam bungkusan gerakan kekristenan.

2. Iblis adalah pribadi yang selalu berusaha untuk memanfaatkan hal2 yang bersifat rohani didalam diri orang percaya untuk mencobai Allah baik langsung atau tidak dengan menempatkan Allah sebagai pribadi yang dituntut untuk memenuhi keinginan/kebutuhan manusia.

3.Iblis adalah Bapa para Penyesat yang menggunakan ayat Firman Tuhan untuk  mencobai Yesus dan upayanya untuk mencari pembenaran terhadap tafsirannya yang salah terhadap Alkitab yang ia kutip (perhatikan kutipan Mazmur 91:11-12 yang ia pakai di ayat 6 adalah out of context !!).

* Ayat 7

Yesus adalah Allah sang pemberi Firman yang maha tahu seluruh Firman sedang Iblis hanya sekedar tahu.

Penyesatan yang dilakukan Iblis adalah sikap nekat mencobai Allah dengan tujuan melawan kebenaran.

Waspadalah terhadap ajaran sesat yang sulit dibedakan (mirip2) dengan ajaran yang benar.

* Ayat 8-9 – Menggoda dengan kuasa

“ke atas gunung yang sangat tinggi” merupakan simbol puncak dunia (the top of the world). Ini berarti:

1. bila menyembah Iblis maka Yesus akan menjadi CEO dunia dan seluruh isinya dengan “pemilik” tetap Iblis.

2. Iblis menawarkan apa saja asal seseorang mau menyembah atau menjadikan dia sebagai tuan.

3. Iblis selalu menawarkan cara yang pintas dengan tanpa perlu susah payah untuk meraih kekuasaan.

* Ayat 10 – Godaan dikalahkan

“Enyahlah Iblis” menunjukkan:

1. Yesus berkuasa atas Iblis termasuk hidup dan matinya!

2. Yesus menegaskan bahwa  ciptaan seharusnya menyembah Penciptanya (cf. Hukum 1 & 2).

3. Kekuasaan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang memiliki Allah didalam  hidupnya (Matius 6:33;                                Markus 8:36-37).

* Ayat 11 – Iblis dikalahkan & Sang Raja Dilayani

Iblis meninggalkan Yesus:

1. simbol kekalahan

2. merancang strategi lain untuk menghadapi Yesus.

3. Iblis tidak mungkin bertobat selain dari pada menentang Allah.

4. Iblis telah ditolak selamanya dari anugerah Allah.

Para malaikat melayani Yesus:

1. para malaikat kebenaran dilayakkan untuk melayani Yesus, berbeda dengan Iblis yang juga asalnya adalah malaikat (Yesaya 14:12).

2. peran malaikat sangat nyata dalam kehadiran Yesus selama di bumi (berita kelahiran-Nya, setelah pencobaan, pada waktu ditaman Getsemani).

3. Guna pemeliharaan kita, Allah juga memerintahkan para malaikat-Nya untuk menyertai kita umat-Nya (Mazmur 91:11-12) dan gereja-Nya (Wahyu 2:1,8,12,18; 3:1,7,14).

Kesimpulan…

Jangan pernah menggantikan perkara2 yang primer dengan perkara2 yang sekunder.

Perjuangkan senantiasa kehidupan rohani yang berkemenangan.

Kemuliaan hidup kita yang terutama terletak pada kehidupan yang mempermuliakan Allah.

Hiduplah dalam ajaran kebenaran. Perdalam pemahaman dan pengaplikasian yang benar dan tepat terhadap kebenaran Kitab Suci.

Tugas Baca untuk bahan EKSPOSISI INTERAKTIF Minggu Depan: MATIUS 4:12-25

Rabu, 17 Pebruari 2010

Matius 4:12-17 – Berita Injil Menjangkau Bangsa2 Lain

* Ayat 12-13

1. Yohanes Pembaptis ditangkap oleh raja Herodes:

- karena berani menegur dosanya (Matius 14:3-4; Lukas 3:19-20)

- upayanya untuk mengantisipasi pemberontakan (Matius 14:5)

2. Yesus menyingkir ke Galilea oleh karena menghindari konflik terbuka dengan penguasa (Matius 14:13)

3. Galilea:

- kata Yunani untuk daerah bagian paling utara di pegunungan sebelah barat Yordan.

- Kata Ibr. “galil” (: lingkaran).

- Salomo pernah menyerahkan 20 kota didalamnya kepada Hiram, raja Tirus (1 Raja 9:11-13).

4. Penduduk:

1. Memakai bahasa daerah yang berlainan (Mat. 26:73; Mark. 14:70)

2. Diperlakukan secara bengis oleh Pilatus (Luk. 13:1).

3. Dipandang hina oleh orang Yahudi (Yoh. 7:41,52)

4. Menentang pendaftaran penduduk (sensus) yang diadakan oleh orang Romawi (Kis. 5:37)

5. Catatan sejarah gereja:

1. Yesus dan para rasul disebut sebagai orang Galilea (cf. Mat. 21:11; 26:69; Kis. 2:7)

2. kota tempat pertama yang dituju oleh Yesus setelah kebangkitan-Nya pada minggu Paskah (Mat. 26:32).

3. agama Kristen baru dapat berhasil menancapkan akarnya di Galilea pada abad ke 4 (tahun 400) !

Camkan dan ubahlah pola pikir Saudara….

1. Allah mengasihi semua orang tanpa kecuali.

2. Injil harus diberitakan dengan ajaran (doktrin) yang benar.

3. Ajaran Alkitab melampaui demonstrasi kuasa supranatural (mujizat, kesembuhan…dst).

4. Dalam PI dan pemberitaan FT, penentu keberhasilan bukan pada SIAPA yang menyampaikan tetapi pada SIAPA dan BAGAIMANA HATI yang mendengarkan!

* Ayat 14-16

1.   Tujuan penyingkiran Yesus adalah untuk menggenapkan nubuatan nabi Yesaya dalam PL mengenai Injil akan diberitakan kepada bangsa2 diluar Israel (Yesaya 8:23-9:1).

2. Menegaskan bahwa keselamatan bukan hanya dijanjikan bagi orang2 percaya dari kalangan bangsa Israel/Yahudi saja.

* Ayat 17

1. Pelayanan Yesus justru dimulai diantara bangsa2 luar Israel/Yahudi.

2. Melanjutkan tradisi PI Yohanes Pembaptis dengan berita utama: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Matius 3:2).

3. Pertobatan adalah syarat mutlak untuk masuk kedalam Kerajaan Surga (bukan hasil warisan).

Rabu, 24 Pebruari 2010

Matius 4:18-22

* Ayat 18

1. Panggilan kemuridan adalah inisiatif Yesus.

2. Ia memilih bukan berdasarkan penampilan / latarbelakang lahiriah.

3. Menuntut pemahaman yang benar mengenai panggilan menjadi murid.

* Ayat 19-20

1. Panggilan Yesus bagi Petrus dan Andreas adalah sebuah perintah.

2. Perintah Yesus bersifat tidak bisa ditolak Irresistible grace)

3. Tujuan: menjadi ‘penjala manusia.’

4. Panggilan yang jelas akan memampukan untuk mengerti tujuan hidup terutama yang sesungguhnya (cf. TWSC Q1)

* Ayat 21-22

1. Panggilan Yesus kepada Yakobus dan Yohanes adalah perintah.

2. Bersifat tidak bisa ditolak (Irresistible grace).

3. Melampaui otoritas ikatan keluarga.

4. Menunjukkan pembaharuan orientasi hidup.

Matius 4:23-25

* Ayat 23

1. Yesus melakukan pembaharuan (Reformed) dengan meletakkan kembali dasar mengenai betapa pentingnya pengajaran (doktrin yang benar) dan PI didalam gereja.

2. Melalui ajaran Yesus menyembuhkan penyakit rohani dan kelemahan rohani yang membelenggu hidup                                   keagamaan lahiriah / salah / palsu.

3. Kesehatan rohani (pribadi dan gereja) melampaui ‘kesehatan’ yang bersifat lahiriah!

* Ayat 24-25

1. Yesus menyambut setiap orang tanpa memandang latarbelakang baik Israel/Yahudi maupun yang bukan, termasuk motivasi mereka yang sebenarnya datang kepada-Nya.

2. Mujizat yang dilakukan Yesus tidak dimaksudkan agar mereka percaya kepada-Nya.

3. Pemberitaan FT dan kuasa Roh Kuduslah yang membawa seseorang yang merupakan milik Allah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Yoh. 8:31-32; 12:47-48; 14:16-17; 16:8; Roma 1:16-17, dst).

4. Fakta sejarah: pengalaman mujizat dan kuasa supranatural tidak menjamin orang memiliki iman yang benar / diselamatkan (cf. Yohanes 6:60, 66)!

Rabu, 3 Maret 2010

Matius 5:1-12

* Ayat 1-2

1. Tempat: Bukit Zaitun

2. Khotbah di Bukit merupakan pengajaran bagi para murid (12 rasul) yang bersifat terbuka bagi umum.

3. Sikap Yesus menunjukkan pentingnya Khotbah di Bukit:

- “naiklah Ia ke atas”: mengemban superioritas FT.

- “setelah ia duduk”: bersifat resmi

- “mulai berbicara”: dengan penuh wibawa, serius, khidmat menyampaikan ucapan-ucapan ilahi yang ada dalam hati         dan pikiran- Nya dengan tulus ikhlas.

- “dan mengajar mereka (ke 12 rasul)”: dalam teks Yunani menggunakan bentuk kata Imperfek untuk menunjukkan:

1. Yesus mengajarkan apa yang Ia telah ajarkan sebelumnya (para murid pernah tahu).

2. Pengajaran tersebut harus selalu diingat dan diajarkan terus-menerus.

3. Yesus konsisten dalam prinsip2 pengajaran kebenaran.

4. Yesus menegaskan pentingnya hidup percaya yang terpelihara didalam ajaran kebenaran:

- hamba2 TUHAN agar berkenan dihadapan Allah dan Kerajaan-Nya wajib dan mutlak konsisten didalam                                 mengajar dan memelihara ajaran kebenaran.

- orang percaya (awam) harus konsisten didalam belajar, mencari, mendengarkan dan menjaga kehidupan                             didalam ajaran yang benar.

Memahami Ucapan Bahagia

1. Disampaikan dalam bahasa Aram (Aramaic).

2. Bukan kalimat2 biasa melainkan kalimat2 seru untuk menegaskan kebenaran dan berkat2 ilahi yang terkandung didalamnya.

3. Menegaskan pemahaman arti bahagia yang lebih tinggi dan mendalam yang berbeda dengan pemahaman dunia mengenai arti bahagia.

4. Berbicara mengenai sukacita ilahi yang: bersifat kekal tidak dapat disentuh atau dihilangkan oleh penderitaan, kesedihan, kesakitan, kedukaan, kuasa maut (cf. Yohanes 16:22; Roma 8:35-39).

Rabu, 10 Maret 2010

* Ayat 3

Miskin memiliki 3 arti:

1. ptokos (ptossein: jongkok, membungkuk) berarti kemiskinan yang mutlak – miskin sebenar-benarnya, tidak punya apa2 sama sekali.

2. Penes (mempunyai secara tidak berlebihan – tidak kaya juga tidak miskin)

3. autodiakonos (orang yang tetap berusaha mencari keperluannya melalui tangan dan tenaganya sendiri).

Yesus menggunakan kata ‘miskin’ yang pertama ptokos (Ibrani/Aramaic: ‘ani atau ebion) dalam arti: orang yang benar2 sangat miskin/tidak punya apa2 sama sekali namun menjadikan Tuhan sebagai satu2nya harapan hidup).

Yesus secara tidak langsung maupun langsung menyebut ciri orang miskin yang berbahagia:

1. memiliki jiwa yang tetap mengandalkan Allah.

2. menjaga diri jauh dari iri hati

3. belajar puas dan mencukupkan diri (bersyukur)

4. mampu menerima kenyataan sehingga terbebas dari kepahitan jiwa yang mengakibatkan kesombongan jiwa dihadapan Tuhan (menyalahkan Tuhan).

5. dalam ketiadaan hidup secara materi tetap memelihara kehidupan rohaninya (cf. Markus 8:36-37)

* Ayat 4

Penthos – duka, kemalangan, ratap tangis karena kehilangan/kematian orang yang sangat dikasihi.

3 jenis duka/kematian:

1. rohani

2. jasmani

3. kekal

Kematian/duka bagi orang percaya:

1. bersifat sementara (cf. Yoh. 11:11, 25)

2. gerbang sukacita (cf. Mazmur 116:15; 1 Kor. 15:53; Wahyu 21:3-4)

3. perjalanan yang pasti (cf. Yohanes 14:6)

4. bertemu kembali dengan orang2 terkasih yang percaya Kristus (cf. 1 Tes. 4:16-17).

5. ‘tiket’ menikmati kebahagiaan surgawi (cf. 1 Kor. 15:53-55; Wahyu 14:13; 21:3-4)

6. tanda seluruh janji Allah akan digenapi secara sempurna (cf. Wahyu 21:3-4)

7. kebebasan yang mutlak dari dunia materi dan natur keberdosaan (cf. 2 Kor. 5:1; 12:9; Wahyu 21:3-4

Rabu, 17 Maret 2010

* Ayat 5

lemah lembut (praotes) memiliki 3 arti:

1. tahu kapan harus marah dan kapan tidak perlu marah – mampu menjaga diri dari sikap provokasi orang lain dan mampu mengatasi kepahitan hati sehingga terhindar dari dendam dan amarah yang menjurus kepada kebencian.

2. binatang buas/liar yang telah jinak, terlatih untuk patuh.

3.orang yang berada diantara sifat ‘tinggi hati’ dan sifat ‘rendah diri’ (minder) atau tidak tinggi hati juga tidak minder. Artinya: memiliki sikap rendah hati sehingga terbuka untuk diajar dan dibentuk dalam kebenaran.

Orang yang lemah lembut dikatakan ‘akan memiliki bumi’ karena

memiliki kesediaan untuk menerima kenyataan bahwa setiap orang harus selalu perlu belajar untuk lebih baik dan setiap orang perlu dimaafkan karena kekurangan2 mereka dengan tiada henti2nya mendorong mereka untuk terus memperbaharui cara hidup mereka.

Camkanlah….

l. Sejarah telah membuktikan bahwa orang2 besar dalam sejarah adalah orang2 yang hidup dengan kontrol diri yang kuat, kesabaran yang tinggi (mampu mengendalikan amarah), cekatan, terampil dan memiliki disiplin hidup yang kuat (cf. Musa – Bilangan 12:3).

2.    Kehidupan rohani yang sehat dimulai dengan ketaatan, kerelaan dan kesetiaan untuk di ajar dan belajar hidup dalam ajaran FT (cf. 1 Timotius 4:7-10; 2 Timotius 3:1-9; 4:1-5).

* Ayat 6

Lapar (peinao) artinya:

1. tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan layak (cf. kondisi para buruh pada zaman Tuhan Yesus).

2. hidup dibawah standar minimal (cf. dibawah UMR).

3. kondisi yang disengaja supaya tetap begitu-begitu saja.

Haus (diphao) berarti;

1. kering seperti padang gurun

2. dehidrasi yang dapat mengakibatkan kematian.

3. tidak mudah menemukan sumber mata air karena kerasnya alam.

4. air sungguh sangat berharga

Kebenaran (dikaiosune) artinya:

1. kedermawanan hidup yang disertai dengan sikap tulus

2. kepribadian yang adil (tidak berat sebelah)

3. sesuai syarat yang seharusnya

4. keseluruhan yang utuh dan sempurna (bukan partial).

5. perbuatan atau tindakan yang berasal kebaikan yang sempurna.

Kesimpulan ayat 6:

“orang yang lapar dan haus akan kebenaran” berarti: Orang yang amat sangat merindukan kebenaran total seperti halnya seorang yang sangat kelaparan dan kehausan, sehingga dalam hidupnya selalu mengharapkan kebaikan yang sempurna / utuh, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Ciri orang yang selalu lapar dan haus akan kebenaran:

1. jauh dari sikap ‘standar ganda’

2. jauh sikap ‘aji mumpung’ dan acuh tak acuh dengan sesama.

3. jauh dari sifat cinta diri yang berlebihan

4. jauh dari keinginan pembalasan dendam.

Rabu, 24 Maret 2010

* Ayat 7

Kata2 yang digunakan Alkitab untuk / berkaitan dengan “kemurahan hati”:

1. elehmon (cf. Matius 5:7)

2. krestothes (cf. ‘kemurahan’ di Galatia 5:22)

3. aplothes (cf. 2 Kor. 9:13 – pemberian)

Murah hati (elehmon) artinya:

1. kesediaan dari hati yang terdalam untuk memberi pengampunan (cf. Doa Bapa Kami, Matius 6:12,14, 15).

2.   Menghakimi dengan hati yang penuh belas kasihan (cf. Yakobus 2:13) dengan tujuan untuk kebaikan yang

bersangkutan.

3.   Sikap simpati dan empati:

- tindakan menempatkan diri dalam pribadi orang lain sehingga merasakan apa yang dirasakan oleh    orang lain (Roma 2:4).

-menuntut pembaharuan hidup dalam diri orang lain yang menghasilkan kebaikan baik bagi dirinya      maupun bagi orang lain (Roma 11:24).

- sikap peduli yang penuh kasih namun tegas dalam upaya menunjukkan jalan2 kebenaran demi                                    kebaikan orang lain (cf. buah Roh ‘kemurahan’ di Galatia 5:22)

- Kerelaan untuk rugi dan disalah-mengerti demi kebaikan orang lain (cf.  Filipi 1:15-18; 3:7-8 cf. Filipi 2                                  Yesus sebagai contoh paling sempurna!).

Tujuan kemurahan:

1. Pertobatan

Roma 2:4 “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?”

2. Peringatan

Roma 11:22 “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.”

* Ayat 8

Suci (katharos) artinya:

1. bersih (bebas dari kotoran)

2. murni (tidak bercampur)

3. jernih (seperti air bening)

Hati (kardia) artinya:

1. pusat keinginan

2. tempat strategi kehidupan

3. bilik rahasia hidup

Hati yang suci menunjukkan:

1. kekudusan hidup (Im. 20:7; 1 Pet. 1:16; Ibrani 12:14)

2. kesucian itu memancar keluar dari dalam hati (Amsal 4:23).

3. pembaharuan batin lebih penting dari pembaharuan lahir (Kis. 7:51)

4. Allah menjadi Pemegang Kendali kehidupan (2 Kor. 3:3; Galatia 4:6; Ibrani 8:10; dst).

Kekudusan yang harus dijaga:

1. Pribadi (Kel. 22:31a; Ul. 7:6; Ibr.12:14 dst)

2. Sabat (Kel. 20:8; 31:14; Ibr.10:25, dst.)

3. Persembahan (Bil. 18:12, 32, dst)

4. Pelayanan (Kel. 35:19; Im. 21:6, dst)

5. Bait Suci / tempat Ibadah (Kel. 25:8 cf. Mat. 21:12-13; Lukas 19:45-46)

6. Keluarga (Yos. 24:15, dst)

7. Pekerjaan (Kol. 3:17; 1 Tes. 4:12)

8. Relasi (Ibrani 12:15, dst).

Kesimpulan….

Jagalah hati !! (Amsal 4:23; Matius 15:18-19; Markus 7:21-22; Yakobus 4:1-5)

Rabu, 31 Maret 2010

* Ayat 9

Damai (eirene) / Ibrani: shalom, berarti:

1. segala sesuatu yang membuat dan membawa kebaikan bagi manusia.

2. kebaikan yang dinikmati didalam setiap persoalan atau kesulitan.

3. kemenangan terhadap peperangan yang berkecamuk didalam diri.

Menjadi Pembawa Damai adalah ciri dari anak-anak Allah karena:

1. mencerminkan sifat Allah (Imamat 26:6; Bilangan 6:26; 1 Tesalonika

5:23; Ibrani 13:20, dst)

2. sebagai Anak Allah, Yesus disebut sebagai Raja Damai (Yesaya 9:5-6)

3. kita disebut sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12, Galatia 3:26, dst)

Membawa damai (eirgnopoios):

1. bersifat aktif (tidak pasif).

2. rela menghadapi resiko.

3. melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan pada masa kini untuk melindungi diri / orang lain dari kesukaran dimasa yang akan datang.

Pembawa Damai # Pecinta Damai

Pembawa Damai

l. Aktif

2. Rela dengan resiko

3. Fokus tidak hanya pada hari ini tetapi masa yang akan datang.

4. Pejuang

5. Memikirkan orang lain

Pecinta Damai

l. Pasif

2. Menghindari resiko

3. Fokus pada hari ini (2 Raja-Raja 20:19)

4. Penikmat

5. Memikirkan diri sendiri

Pembawa Damai dalam Matius 5:9 memiliki 2 Tujuan:

1. membawa dirinya / orang lain memiliki hubungan yang benar dengan Allah (damai dengan Allah).

2. membawa dirinya / orang lain memiliki hubungan yang benar dengan sesama (didalam terang kebenaran Firman Allah).

Catatan: Hubungan yang benar artinya mendatangkan damai sejahtera yang sesungguhnya (lihat Matius 10:34-42!)

Camkanlah…..

l. Pastikan bahwa diri kita bukan hanya sekedar ‘kristen’ atau ‘orang percaya’ tetapi benar2 telah mengalami damai dengan Allah yang menjadikan kita anak-anak Allah yang sesungguhnya (Yoh. 1:12; 3:3; Roma 5:1, dst).

2. Jadilah Pembawa Damai dan bukan hanya Cinta Damai (Mat. 5:9; Roma 14:17; 1 Tes. 5:13; Ibrani 12:14, dst).

3. Sebagai anak-anak Allah kita patut berjuang menciptakan damai sejahtera yang benar dengan diri sendiri dan sesama (orang percaya maupun non-percaya) di dalam terang kebenaran Firman Allah ini (lihat juga Yohanes 14:27; 1 Kor. 14:33; 2 Kor. 13:11, dst).

Rabu, 7 April 2010

* Ayat 10-12

Yesus menegaskan bahwa kekristenan akan selalu menghadapi 3 hal:

l. Aniaya (Gr. dediogmenos)

2. Celaan (Gr. oneidismos)

3. Fitnah (Gr. dioko)

Aniaya (Gr. dediogmenos)

1. Dari Luar:

non-Kristen (agama / kepercayaan lain, atheisme/komunisme, masyarakat, pemerintah,

ocultisme, penguasa)

2. Dari Dalam:

- saudara2 palsu (Yoh. 10:26; 2 Kor. 11:26; Gal. 2:4, 1 Tim. 4:1, 1 Yoh. 2:19, dst)

- rohaniwan palsu (Matius 24:23-24; 2 Kor. 11:13-14; 2 Pet. 2:1,3,17; 1 Yoh. 4:1, dst).

- ajaran sesat (Mat. 7:15; Gal.: 1:6-7, dst)

- orang kristen yang tidak bertumbuh rohani kepada kebenaran (1 Tim. 1:7; Ibrani 4:2 cf. 2 Petrus 1:5-9)

- pola pikir dunia (perhatikan peringatan 1 Kor. 2:12-16!)

Untuk diwaspadai:

Penganiayaan paling hebat justru sering muncul dari dalam dan bukan dari luar!!

Celaan (Gr. oneidismos)

- Batu sandungan (1 Kor. 1:23)

- Kebodohan (1 Kor 1:18; 23)

- dianggap layak untuk dimusnahkan (Mazmur 44:22)

- dimusuhi dan menjadi bahan tertawaan dan cemoohan (Mazmur 69:8, 10 cf. Roma 15:3)

Fitnah (Gr. dioko)

1. kepada Yesus:

A. Pribadi-Nya:

1. hasil pernikahan Allah dengan salah satu istri-Nya (Mormon).

2. bukan Allah tetapi manusia biasa yang diangkat derajat-Nya (saksi Jehova)

3. bukan Allah tetapi nabi biasa dan tidak benar2 mati disalibkan (Islam)

4. salah satu Mesias (Pluralisme/Liberalism)

5. penyesat (Yahudi/Yudaisme), dst.

B. Moral-Nya:

1. seorang homosexual / gay.

2. memiliki hubungan gelap dengan beberapa wanita khususnya Maria Magdalena.

3. Seorang ‘materialis’ karena suka dekat dengan orang kaya.

4. senang bergaul dengan para pelacur.

5. tidak hormat orang tua.

6. rasis.

7. dst.

2. Kepada orang2 percaya:

- kanibal (berkaitan dengan perjamuan kudus)

- tidak bermoral/memuaskan hawa nafsu (praktek cium kudus, rakus dan serakah, dst)

- memusuhi kaisar

- penyebab rusaknya rumah tangga

- penghasut yang menimbulkan huru-hara (tahun 70)

- menyembah 3 Allah

- perusak tradisi

- pemecah-belah kehidupan keluarga

- isu kristenisasi

- antek asing / penjajah.

- dikaitkan dengan Zionism.

- dst.

Mengapa disebut ‘BERBAHAGIA’?

l. Teladan Kristus (Ibrani 12:2; 1 Pet. 2:24)

2. Tujuannya untuk membuktikan kemurnian iman kita (1 Petrus 1:6-7, dst)

3. Kesetiaan dalam mengikut Yesus (Mat. 10;38; 16:24; Lukas 9:23; 14:27; Markus 8:34; dst).

4. Berkaitan dengan pahala hidup surgawi kita (Mazmur 58:11; Matius 25:23; 1 Kor. 3:14; Ibrani 10:35; dst).

Untuk diingat…

Kebahagiaan karena penganiayaan, celaan dan fitnah ini beserta pahala yang menyertainya tidak berlaku untuk alasan lainnya yang disebabkan oleh kepentingan2 kita sendiri yang melanggar firman, tetapi oleh karena penganiayaan, celaan, dan fitnah yang kita alami demi hidup bagi Kristus (ayat 11).

Bagaimana Sikap Kristen?

Bersukacita (khairo), karena:

1. menyaksikan hidup percaya yang sejati(Gal. 5:22).

2. menunjukkan solidaritas kristiani: turut mengambil bagian dalam penderitaan orang percaya (Ibrani 10:32-34).

3. menghasilkan upah / pahala besar di sorga (Mt. 5:12; Ibrani 10:35).

Bergembira (agalliasthe) , karena:

1. sanggup membuktikan kemurnian iman (1 Petrus 1:6-7).

2. dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus (Kis. 5:40-41).

3. upah / pahala besar di sorga (Mt. 5:12; Ibrani 10:35)

Teladan para Rasul & Hamba Tuhan

l. Matius mati ditusuk di Ethiopia.

2. Lukas digantung mati di pohon Zaitun di Yunani.

3. Petrus mati disalibkan terbalik di Roma.

4. Yakobus dimutilasi di Yerusalem.

5. Filipus (saudara Yesus) mati digantung di sebuah tiang di Hieropolis (Phrygia).

6. Tomas mati dengan tombak di dada di Koromandel (India Timur).

7. Andreas diikat sampai mati di sebuah salib sambil terus berkhotbah kepada para penganiayanya.

8. Mathias (pengganti Yudas Iskariot) dirajam batu lalu dimutilasi.

9. Markus diseret disepanjang jalan di kota Alexandria (Mesir).

10. Paulus dipancung di Roma.

11. Yohanes dimasukkan ke dalam kuali berisi minyak yang mendidih tetapi selamat melalui pemeliharaan Tuhan yang luarbiasa, lalu dibuang oleh penguasa ke pulau Patmos.

12. Barnabas dirajam batu hingga mati di Salonika.

13. Polycarpus di bakar hidup-hidup.

14. Dst….hingga hari ini…

camkanlah….

l. Kita dipanggil bukan hanya memikul ‘salib’ hidup kita tetapi juga memikul ‘salib kekristenan kita’ (Lukas 14:27)

2. Injil / berita Firman Allah harus berpusat kepada berita penebusan Allah melalui salib Kristus (Theosentris Kristosentris / Bibliosentris) – cf. Galatia 1:6-10.

3. Injil / berita Firman Allah harus mempersiapkan umat Tuhan kuat, tangguh dalam menghadapi situasi-kondisi kehidupan menjelang akhir zaman (cf. peringatan Tuhan Yesus di Matius 24:3-14).

3. Pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias harus berdampak pada kerelaan kita untuk siap sedia membayar harga dalam mengikut Dia (Matius 16:16-17, 24-26; Markus 8:29, 34-38).

Kesimpulan

l. Ucapan bahagia mempersiapkan hamba2 Tuhan dan umat Tuhan bagaimana melayani dan bagaimana menjalani

hidup kristen ditengah dunia seturut terang dan standar Injil.

2. Ucapan bahagia tidak sama dengan apa yang hari ini dipahami melalui atau dipengaruhi oleh konsep2 didalam Psychological Gospel.

 

EKSPOSISI INTERAKTIF: KITAB PENGKHOTBAH by Rev. Yarman Halawa, D.Min November 18, 2009

Persekutuan Sola Fide                                                                                                                                             Rabu 3 September 2008

PENDAHULUAN
Kitab Pengkhotbah adalah kitab yang boleh dikatakan sebagai kitab yang paling membigungkan di dalam Alkitab. Disebut membingungkan oleh karena begitu banyaknya ungkapan2 ekstrim bernada pesimis dan tidak ortodox (bertentangan dengan kehidupan beriman yang memiliki pengharapan). Misalnya: segala sesuatu adalah sia-sia -30x, menjaring angin -7x, dst.

Lalu mengapa kitab ini masuk ke dalam kanon Alkitab kita? Ada 4 alasan yang saya hendak kemukakan disini:
1) Secara historis kitab ini diyakini sebagai karya raja Salomo, karena pasal 1:1 penulisnya menyebut dirinya sebagai “Pengkhotbah (Ibr. Qoheleth), anak Daud, raja di Yerusalem.” Dengan demikian, kitab ini mengandung pengajaran sebagaimana kitab2 lain yang diyakini ditulis olehnya (seperti kitab Kidung Agung dan kitab Amsal).
2) Ungkapan2 pesimis dalam kitab Pengkhotbah mengenai kehidupan merupakan refleksi dari Salomo sendiri yang mencoba melihat kehidupan dengan sudut pandang terbaik yang ia miliki berdasarkan renungan2 dari pengalaman hidup pribadinya (pada saat itu), dimana ia pada akhirnya menemukan dan meratapi betapa kosongnya nilai kehidupannya yang mengesampingkan atau mengabaikan Allah.
3) Pesan yang ada di dalamnya sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai umat Tuhan di zaman modern ini. Di tengah kemajuan peradaban, kecanggihan teknologi, kehidupan yang super sibuk – hidup semakin materialistis, egois, hedonis dan makin sekuler yang mengakibatkan makin merosotnya nilai2 moral, hancurnya nilai2 kristiani dalam keluarga, usaha, pekerjaan, ibadah, pelayanan dan segala aspek kehidupan manusia pada umunya (politik, social, budaya) – kitab ini memanggil kita sebagai anak Tuhan, agar tidak menjalani kehidupan di dalam kebodohan tetapi dengan bijaksana sesuai tuntunan terang firman Tuhan.
4) Kitab ini harus di lihat sebagai sebuah kitab peringatan agar generasi kristen masa kini dan yang akan datang tidak mengabaikan dan mengesampingkan Tuhan dalam kehidupan mereka.

Renungan 1
KESENANGAN HIDUP ITU TERNYATA HANYA SESAAT (1:1-2:26)

Dalam pengamatanya mengenai kehidupan, Pengkhotbah menyimpulkan bahwa hidup itu:
1. Membosankan – terus berusaha dan berjerih payah (Ayat 3)
2. Ringkih – penuh resiko dan tidak abadi (ayat 4)
3. Terperangkap di dalam lingkaran (ayat 5-7)
4. Tidak pernah puas (ayat 8)
5. Tidak pernah berubah (ayat 9-10)
6. Tidak berarti (ayat 11)

Mengapa demikian?
Pengkhotbah menemukan kesimpulan berdasarkan pemeriksaan dan penyelidikannya (perhatikan ayat 12-13a):

1. Hidup itu terkutuk (ayat 13)
2. Hidup itu ibarat menjaring angin (ayat 14)
3. Hidup itu tidak lurus (ayat 15)

PENCARIAN ARTI HIDUP YANG SIA-SIA (2:1-23)
1. Mencari melalui kesenangan (ayat 1-10)
- pesta (ayat 2)
- minuman (ayat 3)
- aktivitas2 yang ‘bermanfaat’ (ayat 4-6)
- kekuasaan (ayat 7-8a)
- seksualitas (ayat 8b-10)

2. Mencari melalui hikmat manusiawi (ayat 12-16)
- kikmat manusia = kebodohan (ayat 12-14)
- kematian menyamakan orang berhikmat dan orang bodoh (ayat 15-16)

3. Mencari melalui kerja keras (ayat 17-23)
- hasil jerih lelah tidak akan dibawa ke liang kubur (ayat 18, 21)
- menambah ketidaktentraman (ayat 23)

Kesimpulan:
Segala bentuk usaha manusia yang mengabaikan dan mengesampingkan Allah untuk mencapai kesenangan hidup adalah sia-sia. Kesia-siaannya terletak pada sifatnya yang temporal dan ketidakmungkinannya dalam memberi manusia harapan, rasa tentram, dan bahagia yang sejati.

Diskusikan:
1. Perhatikan ayat 24-25. Apakah ayat2 ini mengajak kita untuk menjadi umat Tuhan yang bergaya hidup hedonistis (senang2)? Kemukakan alasan Anda.
2. Bagaimana Anda memahami perkataan Tuhan Yesus dalam Markus 8:36-37 dalam kaitan dengan pencarian arti hidup yang sia-sia yang dikemukakan oleh Pengkhotbah disini?

 

Persekutuan Sola Fide Rabu, 10 September 2008

Renungan 2
KERJA KERAS & WAKTU TUHAN (3:1-4:6)

RENCANA ALLAH BAGI KEHIDUPAN (3:1-8, 11)
Pengkhotbah kembali merangkum pengamatannya mengenai kehidupan dalam bentuk puisi yang bertujuan:
1) mengingatkan kita bahwa kita beroleh hidup hari lepas hari dari tangan Allah (cf. 2:24-
26; 3:12-14);
2) menyadarkan kita bahwa Allah telah mengatur sedemikian rupa segala sesuatu terjadi
tepat menurut waktu yang Ia telah tetapkan dan tetap mengontrol pelaksanaannya;
3) kita memiliki kewajiban untuk melihat segala sesuatu dengan cara dan waktu yang
tepat dan bertindak dengan tindakan yang tepat pula (cf. Efesus 5:15-17);
4) ketika kita memandang dengan tepat dan melakukan sesuatu yang tepat menurut
waktu Tuhan, hasilnya adalah “keindahan” (ayat 11 cf. Roma 8:28).

Segala Jerih Lelah Tanpa Allah Akan Sia-Sia (3:9-15)
- Jerih lelah tidak ada gunanya apabila tidak disertai dengan kebergantungan kepada
Allah yang menyediakan pekerjaan (9, 11).
- Bagaimanaun susahnya, pekerjaan adalah cara Allah untuk memelihara hidup manusia
(10, 13 cf. Kejadian 3:17-19).
- Keahlian tanpa Tuhan adalah kesia-siaan (14-15).

Peringatan 1: Allah Akan Mengadili Segala Sesuatu (16-22)
- Tidak ada satupun keadilan yang sempurna di dalam dunia (16)
- Keadilan yang sempurna pasti akan terjadi pada waktu Tuhan (17 cf. 2 Korintus 5:10)
- Hidup dengan cara pandang yang benar mengenai arti dan nilai hidup akan
mendatangkan kesenangan pada akhirnya (18-22 cf. Wahyu 14:13)

Problem Dunia Kerja: Ketidakadilan dan Persaingan (4:1-5)
- Ketidakadilan: Yang kuat menindas yang lemah (1)
- Persaingan: menghalalkan segala cara (4)
- Peringatan 2: Allah akan mengadili ketidakbenaran! (5)

Kesimpulan
Segala hasil jerih lelah dari kerja keras akan sia-sia apabila mengesampingkan dan mengabaikan Allah (4:4b, 6).

Ayat 6 memberi 3 rahasia menikmati jerih lelah hidup dengan tenang:
1. Belajar puas dengan pekerjaan yang Tuhan karuniakan.
2. Fokus utama bukan pada berapa banyak dan seberapa besar tetapi ketika kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan atas segala hasil jerih lelah kita dan menikmatinya dengan penuh sukacita.
3. Pastikan kita meraih dan mengumpulkan hasil jerih lelah dengan cara yang benar di dalam waktu yang Tuhan berikan.

 

GEREJA REFORMASI DIDALAM RUMAHKU (Lukas 10:38-42; Yohanes 12:1-11 ) by Pdt. Yarman Halawa November 11, 2009

31 Oktober 1517 atau 492 tahun yang lalu Martin Luther memakukan 95 dalil di pintu gereja Wittenburg di Jerman menyuarakan pembaharuan di dalam gereja. 95 dalil itu memanggil gereja dan orang percaya untuk kembali kepada pengajaran Alkitab yang benar serta memimpin dan mengarahkan umat kepada kehidupan rohani yang sehat. Gerakan reformasi gereja ini mengembalikan gereja Tuhan kepada hal2 pokok pengajaran Alkitab yang terpenting: 1. Sola Gracia – keselamatan itu anugerah, bukan diperoleh melalui usaha manusia, manusia tidak bisa diselamatkan dengan membeli surat penghapusan dosa (aflat/indulgencia) yang dijual gereja pada waktu itu, 2. Sola Scripture – hanya Alkitab satu2nya otoritas pengajaran yang benar didalam gereja, 3. Sola Fide – hanya karena iman manusia dapat datang dan di terima oleh Allah, 4. Sola Christos – hanya Kristuslah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, kepala Gereja yang Agung, 5. Soli Deo Gloria- hanya bagi Allah saja segala kemuliaan.

Semangat dari peristiwa ini harus terus kita lestarikan supaya kita selalu ingat bahwa gereja GKA GRACIA Citra Raya adalah gereja yang dibangun dalam semangat reformasi gereja 492 tahun yang lalu. Gereja yang akan terus berjuang untuk mengarahkan dan memimpin umat Tuhan sesuai dengan ajaran Kitab Suci yang benar sehingga mampu memuliakan Allah dengan benar.

Didalam gereja yang telah mengalami pembaharuan pasti terdapat 3 unsur penting: kesaksian ibadah, pelayanan, persembahan. Kesaksian Ibadah – karena didalamnya terdapat pribadi2 dan keluarga2 yang lahirbaru/dilahirbarukan bagi Kristus dan pribadi2/keluarga2 ini pasti giat beribadah kepada Tuhan. Pelayanan – karena anggota2nya pasti terlibat dalam pelayanan besar atau kecil. Persembahan – karena anggota2nya pasti berjuang untuk berkurban dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan: waktu, tenaga, pikiran, kemampuan dan harta.

Kita patut bersyukur gereja kita yang akan berusia 11 tahun telah dan sedang terus dibangun dalam semangat reformasi gereja/pembaharuan gereja. Q: Sudah seberapa jauhkah kita telah merealisasikan ke 3 unsur penting ini?

Tema ”Gereja Reformasi Di Dalam Rumahku” adalah untuk mengingatkan kita bahwa ada korelasi antara gereja Tuhan dengan keluarga umat Tuhan yang benar2 telah mengalami pembaharuan. Keluarga2 yang benar2 telah mengalami pembaharuan akan mampu menjadi berkat bagi pekerjaan Tuhan melalui gereja. Pembacaan teks tadi, menunjukan bagaimana keluarga Lazarus, Marta dan Maria dari Betania yang telah mengalami pembaharuan hidup didalam Kristus Yesus mampu menjadi berkat bagi pekerjaan Tuhan yang mendorong kemajuan gereja sampai pada hari ini.

Apa yang kita bisa lihat didalam kehidupan mereka? 1. Lazarus memiliki kesaksian hidup yang luarbiasa – ia dibangkitkan Tuhan dari kematian yang disebabkan karena penyakit yang dideritanya, ia mengalami kuasa Tuhan, kesaksian hidupnya menyebabkan banyak orang percaya Yesus namun sekaligus juga menyebabkan orang2 yang tidak percaya, yang menentang Injil menjadi benci dan hendak membunuh dia. Gereja memerlukan orang2 seperti Lazarus yang menjadi saksi bagi Yesus. Mungkin tidak persis seperti Lazarus yang bangkit dari kematian dan mengalami kuasa yang membangkitkanya dari liang kubur. Namun didalam kenyataan2 hidup sehari2: didalam penderitaan, persoalan dan pergumulan, didalam jalan2 kehidupan yang kita tempuh, dalam setiap keputusan2 kehidupan yang kita ambil, didalam segala sesuatu, orang lain akan dapat menyaksikan bahwa Yesus yang kita percaya itu sungguh ada dalam hidup kita. 2. Marta memiliki karunia melayani – ia dibaharui pola pikirnya terhadap pelayanan yang benar. Bahwa didalam segala situasi ia harus belajar melayani dengan sukacita, tidak melihat manusia, tidak menggerutu, mengeluh dan bersungut-sungut. Gereja memerlukan banyak Marta yang melayani. 3. Maria dengan persembahan yang total – didalam Yohanes 12:1-8 ia mengurapi kaki Yesus dengan persembahan terbaik yang ia miliki yang bila kita renungkan respon dari Tuhan Yesus terhadap tindakannya ini menunjukkan bahwa ia memberi persembahan yang tepat waktu, persembahan yang bernilai kekal karena akan selalu diingat. Gereja memerlukan orang2 percaya seperti Maria yang sungguh2 mengerti arti pengurbanan bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di bumi.

Sekarang pertanyaan untuk kita renungkan bersama: mengapa keluarga ini mampu menyatakan kesaksian hidup, pelayanan dan persembahan yang total kepada Tuhan?

Jawabannya jelas, karena didalam rumah mereka benar2 nyata:
1. Sola Christos – keluarga ini adalah keluarga yang telah mengalami pembaharuan dari keyakinan lama mereka dari kepercayaan Yudaisme kepada keyakinan bahwa Yesus sebagai Mesias Tuhan dan Juruselamat hidup pribadi dan keluarga mereka. Yesus menjadi satu-satunya Tuhan dalam rumah mereka dan meyakininya tanpa ragu dan tanpa takut ditengah komunitas masyarakat Yahudi yang menolak meneirma Yesus sebagai Mesias, satu-satunya jalan bagi keselamatan hidup kekal mereka.
2. Sola Scriptura (dalam keluarga mereka FT sungguh2 dijunjung tinggi. Dalam Lukas 10:38-42 dicatat mengenai kunjungan Yesus kedalam rumah mereka dan kita menyaksikan bagaimana Maria –tentunya juga diikuti oleh Marta dan Lazarus – dikatakan telah memilih yang “TERBAIK” yakni mendengar, belajar FT yang diajarkan oleh Kristus. Kata2 Yesus dalam ayat 42, menunjukkan bahwa Maria telah memilih yang terbaik karena ia mau belajar kebenaran dari pengajaran Yesus yang membawa kepada kehidupan yang kekal (manusia bukan hidup hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah). Perhatikan bahwa Tuhan Yesus menegaskan baik langsung maupun tidak disini bahwa belajar mendengarkan ajaran yang benar dan mau hidup berdasarkan ajaran kebenaran adalah yang ’terbaik’ dari segala sesuatu. Perhatikan cf. dalil/tesis 62: Injil/Alkitab adalah harta pusaka yang terutama didalam gereja/rumah orang percaya. Mereka rela tunduk kepada otoritas Firman yang benar dan dengan rendah hati mempersilakan mengajar, mendidik, membimbing, menegur, membangun, menghancurkan konsep pola pikir mereka yang lama menjadi pola pikir yang baru didalam Kristus.
3. Sola Fide – iman yang menyelamatkan memampukan Lazarus dibangkitkan dari kematian. Kalau bukan oleh anugerah iman, Lazarus tidak akan dapat menyambut panggilan Tuhan untuk ia keluar dari dalam kuburnya setelah 4 hari ia ada di dalamnya. Bukankah setiap kita berbagian didalam keselamatan oleh karena iman yang dikaruniakan oleh Allah didalam Kristus sehingga kita dimampukan merespon anugerah-Nya yang menyelamatkan kita dari kebinasaan kematian kekal didalam api neraka yang menyala-nyala? Baik Maria, Martha maupun Lazarus telah belajar hidup dalam iman: mempercayai Yesus di dalam segala keadaan.
4. Sola Gracia – karena pemahaman yang benar terhadap anugerah Tuhan bagi keselamatan hidup kekal mereka; maka, keluarga ini mampu memberikan pelayanan terbaik dan berkenan kepada Tuhan melalui pengurbanan-persembahan mereka. Mereka tidak menghitung-hitung apa yang mereka lakukan bagi Yesus. Dalam Yohanes 12 ketika Yesus mengunjungi rumah mereka ke 3 kalinya sebelum Ia disalibkan, dikatakan bahwa Marta tetap pribadi yang sibuk melayani namun tidak lagi dicatat ada keluhan, percekcokan, protes, gerutuan seperti yang dicatat pada kunjungan Yesus yang pertama didalam Lukas 10:38-42. Semua Ia lakukan dengan senang hati dan penuh sukacita. Sementara Maria, adiknya meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu seharga 300 dinar (gaji 1 orang dalam 1 tahun pada masa itu) menunjukkan bahwa ke2nya berusaha semampu mereka untuk melakukan yang TERBAIK bagi Yesus. Mereka saling melengkapi, bahu membahu bagi pekerjaan Kerajaan Allah. Why bisa melakukan semua ini? Karena mereka tahu jelas apapun yang mereka lakukan bagi Yesus dan pekerjaan Tuhan di bumi ini tidak akan pernah sebanding nilainya dengan apa yang telah Yesus lakukan bagi mereka.

Semua ini membawa mereka kepada apa yang disebut dengan Soli Deo Gloria – segala kemuliaan bagi Allah. Karena FT yang benar ada dalam kehidupan mereka, karena pemahaman terhadap arti iman yang benar membangun hidup percaya mereka, karena Kristus benar2 menjadi satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dalam hidup mereka, karena sungguh2 mengerti dan menghayati konsep mengenai anugerah Allah dalam hidup mereka; maka hasilnya adalah: mereka dimampukan memuliakan Tuhan melalui kesaksian hidup, pelayanan dan persembahan mereka. Bagaimana dengan kita?

Reformasi gereja 492 tahun yang lalu adalah juga bertujuan untuk membawa diri kita, gereja dan keluarga kita untuk kembali kepada semangat seperti yang ditunjukkan oleh keluarga Maria, Marta dan Lazarus. Hidup mereka mengingatkan kita kepada tujuan hidup yang sesungguhnya. Mari kita mengingat sekali lagi The Westminster Shorter Chatechism Q1: “Apakah tujuan utama hidup manusia?” A: “Tujuan hidup utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Allah selamanya.”

Maka, melalui semangat Reformasi gereja:
1. Mari terus memperjuangkan kehidupan dengan pola pikir yang dibentuk oleh Firman kebenaran. Alkitab/ ajaran kebenaran adalah harta pusaka gereja yang terutama. Sia2 hidup kita, keluarga kita, keluarga kita, perjuangan kita, ibadah kita, pelayanan kita, talenta kita, bakat kita, persembahan kita bila tidak diterangi oleh ajaran kebenaran Firman yang sesungguhnya.
2. Mari semakin memaknai dan menghayati apa artinya berkurban bagi pekerjaan Tuhan. Kita harus memiliki rasa malu sebagai umat tebusan kalau sampai hari ini kita masih belum menjadi kristen yang berkurban dalam mengikut dan melayani Tuhan. Mari terus mengalami pembaharuan. Berubah dari mental “apa yang aku dapatkan dari Tuhan menjadi apa yang aku bisa lakukan bagi Tuhan yang telah menyelamatkan aku dan rela menyerahkan diri bagi penebusanku dari hukuman dosa dan ancaman neraka yang kekal” dari “apa yang aku dapatkan dari gerejaku menjadi apa yang bisa aku lakukan lebih lagi bagi gerejaku sehingga melaluinya pekerjaan Tuhan semakin bertambah-tambah maju.” Mari bertanya selalu menanyakan diri kita, keluarga kita: Apakah yang dapat aku atau keluargaku lakukan LEBIH LAGI bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya di bumi?
3. Mari berjuang memiliki kualitas kesaksian hidup percaya yang berkenan dihati Tuhan didalam kehidupan ibadah, pelayanan dan persembahan-pengurbanan yang kita lakukan. Dunia yang berdosa ini harus diperlihatkan perbedaan yang bersumber dari pembaharuan hidup yang telah kita alami, sehingga pada akhirnya orang2 yang benar2 domba dan benar2 gandum Allah dituntun oleh Firman percaya Yesus dan menjadi bagian dari keluarga kerajaan Allah didalam gereja ini.

Selamat menghayati arti dan makna Reformasi Gereja. Kiranya Tuhan Yesus, Kepala Gereja Yang Agung memberkati kita semua! Amin.

(Mimbar Reformasi – GKA GRACIA Citra Raya, 26 Oktober 2009)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,213 other followers