Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

GEREJAKU BERSUARA (Matius 5:13-16) oleh: Pdt. Yarman Halawa, D.Min August 27, 2009

Garam dan Terang adalah 2 metafora yang juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana seharusnya gereja (umat percaya) dapat bersuara menjadi saksi yang benar di tengah dunia. Dengan kata lain, agar gereja dapat terus menyuarakan kebenaran di tengah dunia, maka orang2 percaya di dalamnya terlebih dahulu harus rela digarami dan diterangi terlebih dahulu.

Ayat 13 ”Kamu adalah garam dunia”
Fungsi garam: menyedapkan, mengawetkan dan mencegah pembusukan makanan. Supaya gereja dapat terus menggarami dunia dengan kebenaran maka orang2 kristen didalamnya terlebih dahulu harus mengalami digarami oleh kebenaran. Hidupnya harus terlebih dahulu menyedapkan hati Tuhan, awet dalam arti konsisten dalam ajaran kebenaran sehingga dengan demikian mampu menjadi garam yang melindungi gereja-Nya dari pembusukan.

Bagaimana garam bisa bekerja efektif mencegah terjadinya kebusukan dan kehancuran? Dengan mempertahankan keasinannya. Menurut ilmu kimia: garam (sodium klorida) adalah senyawa kimia yang bersifat stabil dan kebal terhadap hampir setiap serangan yang berusaha mengkontaminasinya. Namun jika ia tercemar atau tercampur oleh kotoran, maka tidak akan dapat dipergunakan lagi bahkan berbahaya dan merugikan. Garam hanya akan benar-benar bermanfaat apabila ia asin, dan bila sudah tercemar atau kehilangan keasinannya; maka, seperti kata Tuhan Yesus ia akan dibuang orang.

Garam yang dikenal pada zaman Tuhan Yesus terdiri dari semacam bongkahan debu putih (yang biasanya di ambil dari sekitar Laut Mati). Bongkahan debu putih itu disamping mengandum Sodium Klorida juga mengandung zat-zat lain. Biasanya orang melarutkan bongkahan debu putih itu dalam air bersih untuk mendapatkan Sodium Klorida yang rasanya asin itu. Untuk selanjutnya larutan SK tersebut digunakan untuk keperluan mengawetkan makanan, mencegah makan dari pembusukan dan untuk menyedapkan masakan.

Bagaimana dengan sisa bongkahan debu putih tadi? Kelihatannya masih seperti garam. Tapi rasa dan pengaruhnya bukan lagi seperti garam. Bongkahan debu putih itu sudah tidak ada gunanya lagi. Biasanya orang membuangnya dijalanan / halaman rumah.

Demikian pula orang percaya. Penting bagi kita untuk memelihara keasinan kristiani kita. Setiap kita harus mau memaksa diri untuk terus-menerus berjuang memelihara dedikasi sebagai murid Kristus, berjuang mengikut dan meneladani Kristus sehingga semakin lama makin menjadi serupa dengan Kristus. Jika kita menjadi serupa dengan dunia yang bobrok dengan segala pola pikirnya yang penuh dosa, maka itu berarti kita telah tercemar oleh kotoran dunia. Kita kehilangan keasinan kita dan itu berarti kita tidak ada nilai dan gunanya dalam keluarga Kerajaan Allah. Kita hanya sekedar onggokkan atau kumpulan dari bongkahan2 debu putih yang sudah tidak lagi ada gunanya.

Sudahkah kebenaran menggarami kehidupan kita? Gereja dipanggil untuk menjadi garam bagi dunia bukan membiarkan gereja digarami dunia. Bila justru membiarkan gereja yang digarami oleh dunia maka itu berarti orang2 percaya didalamnya masih belum digarami oleh kebenaran. Dan kalau itu terjadi maka iman tidak lagi akan murni. Charles Colson, pendiri Prison Fellowship Ministry mengatakan, di abad ini, iman telah menjadi semacam komoditi, dimana gereja berperan sebagai ritail outlet-nya. Kehadiran jemaat dalam setiap peribadatan, semata-mata untuk memenuhi kepuasan mereka. Alasan untuk datang ke gereja tidak lebih soal selera: selera terhadap khotbah, selera terhadap musik, selera terhadap nyanyian, selera terhadap orang-orang, dst. Bila tidak sesuai selera maka lebih baik tidak bergereja dan beribadah.

Mengapa hal ini terjadi? Karena mentalitas percaya sudah melenceng jauh dari kebenaran Firman Tuhan. Mentalitas yang digunakan adalah mentalitas ego yang pusatnya adalah kepuasan diri.  Meskipun hal ini tidak serta merta diakui namun dalam kejujuran yang masih bisa muncul dari himpitan natur keberdosaan manusia hal ini adalah kenyataan yang sesungguhnya. Mentalitas sebagai konsumenlah yang menjadi pemicu fenomena ini.  Sekali lagi Charles Colson menyebutnya sebagai mentalitas McChurch. Suatu mentalitas yang telah menjadikan gereja sebagai salah satu pemain dalam persaingan bisnis modern. Jemaat dimanjakan dengan produk2 pelayanan spiritual semisal urapan ilahi, doa pemulihan, kesembuhan ilahi hingga layanan SMS rohani yang ’dijual’ di TV bersaing dengan SMS para dukun dan paranormal lainnya termasuk bersaing juga dengan RBT ’Tak Gendong’ yang heboh itu. Fenomena ini berdampak pada krisis identitas gereja. Gereja sebagai simbol Kerajaan ALLAH berubah menjadi wadah pemenuhan kepuasan spiritual jemaat belaka. Survei yang dilakukan Business Week (majalah bisnis terkemuka USA disamping Fortune dan Forbes) menyebutkan angka penjualan buku di toko2 buku Kristen didominasi oleh buku2 yang terfokus pada penghargaan, kepuasaan, dan analisa pribadi, dimana rujukan utamanya adalah pengalaman hidup sang penulis.

Sebagai HT saya sangat bergumul dengan kehidupan iman kristiani kita masa kini. Kadangkala saya heran mengapa banyak orang kristen tidak pernah mau sadar dengan perkataan Yesus dalam Lukas 18:8, ”Apabila Anak Manusia datang kedua kalinya, adakah Ia menemukan iman di bumi?.” Ini sama sekali tidak berarti bahwa Yesus mengucapkan Firman ini karena Ia tidak suka melihat ada banyak orang kristen di bumi, tidak suka jika ada banyak gereja dibumi. Tapi yang IA hendak tekankan disini adalah apakah iman yang dimiliki oleh orang2 kristen atau gereja adalah IMAN yang benar atau tidak? Mengapa? Karena Yesus tidak butuh orang2 kristen atau gereja2 yang ternyata hanya bongkahan2 dari debu putih yang keasinannya sudah tidak ada lagi. Ia pasti akan membuang orang2 kristen dan gereja yang demikian. Matius 7:21-23 adalah sebuah contoh yang kita harus selalu ingat. Siapa mereka? Orang2 kristen yang sukses melakukan mujizat, bernubuat, mengusir setan dalam nama Yesus. Tapi Tuhan Yesus justru menolak mereka pada akhir zaman!! Mengapa? Karena kebenaran tidak ada didalam diri mereka. Fungsi garam itu tidak ada dalam diri mereka. Bukannya mengawetkan / melestarikan ajaran kebenaran tetapi justru merusaknya dengan menjadikannya sebagai komoditi untuk memuaskan keinginan orang2 dan juga memuaskan diri mereka sendiri tentunya dengan keuntungan yang mereka dapat melaluinya. Maka Yesus bilang, ”Enyah kamu semua pembuat kejahatan. Aku tidak mengenal kamu!” Ini berarti bahwa mereka sebenarnya tidak lebih dari bongkahan2 debu putih yang sudah tidak asin lagi yang tidak ada gunanya selain dibuang dari hadapan Tuhan. Peringatan: jangan mudah tertipu dengan praktek2 yang menggunakan nama Yesus. Murnikan motivasi Saudara dalam mengikut dan melayani Tuhan. Jangan main2 dengan iman kita, dengan ibadah kita, dengan pelayanan kita, dengan ajaran kebenaran. Ini hanya mungkin jikalau kita sudah digarami oleh kebenaran terlebih dahulu. Q: Sudahkah Saudara membiarkan kebenaran menggarami hidup Saudara?

Ayat 14-16 ”Kamu adalah Terang dunia”
Supaya gereja kita ini bisa terus menyuarakan kebenaran maka orang2 didalamnya harus terlebih dahulu mengalami terang Yesus. Dalam Yohanes 9:5 Yesus berkata, ”Akulah terang dunia.” Memiliki Yesus berarti memiliki Terang. Ini berarti agar kita dapat menjadi alat terang bagi-Nya; maka, kita harus memiliki Dia terlebih dahulu didalam hidup kita. Kita harus memastikan bahwa kekristenan kita itu sungguh asli bukan palsu, bukan sekedar ikut2an, bukan kristen cap KTP. Bila gereja dipenuhi dengan orang2 yang telah mengalami Terang Yesus; maka, gereja pasti mampu terus bersuara menyatakan kabar terang kepada dunia yang gelap oleh dosa ini. Jadi dalam pengertian ini; maka, pertanyaan terpenting yang pertama bukan lagi pada bagaimana menjadi terang tetapi sudahkah terang Yesus menerangi hidup kita? Ini harus jelas dan beres terlebih dulu dalam hidup kita. Membangun rumah harus dimulai dari fondasi. Fondasinya harus beres dan kokoh. Kalau tidak bangunan apapun diatasnya hanya tinggal tunggu waktu untuk rusak dan hancur.

Sayangnya, pada hari ini orang kristen sudah over praktis dalam memahami bagaimana menjadi terang dunia ini. Atas nama menarik jiwa kepada Yesus bukan lagi Injil/FT yang menjadi daya tarik utama. Tetapi menggunakan cara2 bisnis dan cara2 entertainment. Gereja menarik jiwa dengan memakai bintang idola yang karirnya sedang bersinar terang. Yesus bukan lagi menjadi daya tarik utama tetapi artis. Kita beri contoh soal baliho artis untuk ‘bisnis’ rohani. Di satu sisi, fenomena semacam ini merupakan fenomena yang wajar sebagai dampak dari upaya gereja menjawab tantangan perubahan zaman. Namun, di sisi lain, fenomena menjawab kebutuhan pasar ini menjadikan teologi gereja sebagai teologi yang bukan lagi berpusat kepada Allah tetapi berpusat kepada manusia dan tujuan-tujuan manusia.

Tetapi bukankah ini sama saja dengan perbuatan menghina Kristus Yesus yang rela mati bagi umat pilihan-Nya di kayu salib?? Harus pasang gambar artis baru orang berduyun-duyun datang? Karena kalau hanya pasang baliho dengan gambar Yesus atau Alkitab  saja tidak cukup untuk menarik orang datang. Tapi kalau artis banyak yang datang. Mengapa? Karena inilah bisnis. Dan inilah yang membuat gereja tidak bisa memancarkan terang kebenaran Injil. Kecenderungan gereja untuk menjawab kebutuhan pasar dan selera orang telah menodai Injil. Gereja lebih berorientasi pada upaya membahagiakan jemaat, mengikuti dan memuaskan selera dan telinga jemaat dan bukan lagi membuat mereka kudus, hidup didalam terang ajaran kebenaran dan menghargai pelayanan. Ini yang membuat otoritas gereja hancur2an. Gereja kehilangan apa yang disebut dengan Discipleship dan Discipline. Hal ini terbukti dengan kesungguhan belajar FT / Alkitab yang sangat merosot bahkan ditinggalkan sama sekali mulai dari jemaat biasa hinggá aktifis dan majelis gereja.  Kalau begitu apakah gereja akan memiliki masa depan yang baik? Apakah generasi yang akan datang akan mewarisi gereja yang baik dan sehat? Apakah gereja akan sanggup bertahan terhadap kuasa kegelapan duniawi? Apakah setiap keluarga umat Tuhan mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Tuhan? Apakah para orang tua akan menjadi teladan yang mendidik dan menjaga anak-anaknya didalam ajaran FT yang benar? Akankah anggota-anggota gereja makin mengerti apa artinya berkurban bagi pekerjaan Tuhan? Silakan masing-masing kita menjawab dengan jujur dihadapan Allah!

Kesimpulan
Mari sebagai bagian dari umat Tuhan kita memiliki sikap dan pendirian yang teguh, tepat, tegas dan penuh kasih didalam kebenaran untuk menjadikan gereja Tuhan dimana kita berbagian didalamnya sebagai tempat dan alat Tuhan untuk terus menyuarakan kebenaran menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Maukah Saudara?

Catatan: Naskah ini merupakan ringkasan dari khotbah minggu mimbar gerejawi (9/8/2009).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s