Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

SEMPER REFORMATA, SEMPER REFORMANDA (Efesus 4:11-16) by Rev. Yarman Halawa October 23, 2009

Filed under: Kumpulan Ringkasan Khotbah — graciacitra4christ @ 10:05 am
Tags: , , , , , ,

31 Oktober 1517 atau 489 tahun yang lalu Matin Luther memakukan 95 Dalil di pintu gereja Wittenburg di Jerman menyuarakan pembaharuan di dalam gereja Roma Katolik (gereja Am) yang mengakibatkan timbulnya gerakan reformasi Protestan. 95 dalil itu dapat dibagi dalam 3 tujuan besar: 1. gereja harus kembali kepada pengajaran Alkitab, 2. gereja harus membenahi diri secara organisatoris, dan 3. gereja harus memimpin dan mengarahkan umat kepada kehidupan rohani yang sehat. 3. tujuan besar ini telah berhasil mengembalikan gereja Tuhan kepada hal2 pokok pengajaran Alkitab yang terpenting : 1. Sola Gracia – keselamatan itu anugerah, bukan diperoleh melalui usaha manusia, manusia tidak bisa diselamtkan dengan membeli surat penghapusan dosa yang ditawarkan gereja pada waktu itu, 2. Sola Scripture – hanya percaya kepada ajaran kebenaran FT, FT menjadi satu-satunya sumber ajaran dalam gereja bukan hal2 yang merupakan karangan atau tradisi yang dibuat oleh manusia, 3. Sola Fide – hanya karena iman manusia dapat datang dan di terima oleh Allah, 4. Sola Christos – hanya Kristuslah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, kepala Gereja yang Agung, tidak ada yang lain. Kita tidak mengkultuskan peristiwa ini tetapi melestarikan semangat yang terkandung di dalam peristiwa itu, yaitu semangat pembaharuan untuk mengembalikan gereja dan umat kembali kepada yang seharusnya, kepada yang benar sesuai dengan ajaran Kitab Suci.

Q: Bagaimana supaya semangat pembaharuan ini dapat terus berlangsung dalam gereja Tuhan di tempat ini? Sedikitnya ada 3 hal penting harus kita perjuangkan bersama:

Pertama, Gereja Harus Rapi Tersusun dan Terikat Menjadi Satu

Gereja digambarkan seperti tubuh. Tubuh yang hidup. Tidak mati. Yang bergerak dan memiliki kesatuan. Saling melekat satu sama lain. Bayangkan kalau bagian2 tubuh kita terlepas, berjalan sendiri2, masing2 ikut kemauannya sendiri2. Pasti kacau. Gereja yang memiliki semangat pembaharuan harus terikat erat dalam satu kesatuan. Gereja yang mengalami pembaharuan adalah gereja yang rapi. Bukan gereja yang amburadul, acak-acakan yang ditatalayani sesuka hati. Tetapi gereja yang terarah, punya tujuan. Dan hal ini hanya bisa terjadi: pertama, jika gereja memiliki jemaat yang sungguh2 memiliki hati yang setia mendukung kemajuan pekerjaan Tuhan melalui gereja, jemaat yang rela hati diarahkan kepada kehidupan rohani yang sehat. Kedua, jika gereja memiliki perangkat kepemimpinan yang terarah, baik, kompak, berdedikasi tinggi dan multi karunia, yang menjadi sebuah team kepemimpinan yang bersatu. Menjadi satu itu menandakan adanya perbedaan (beda latarbelakangnya, kepribadiannya, karunianya, talentanya, jabatannya, dst), tetapi perbedaan yang bersatu itu justru dimanfaatkan untuk memperkaya kehidupan pelayanan, supaya gereja maju dan nama Tuhan dipermuliakan.

Bagi saya secara pribadi, HUT kali ini sangat istimewa, karena untuk pertama kali disertai dengan peneguhan para pengurus gereja untuk periode 2006-2008 melalui upacara gerejawi. Melalui tahapan2 rekruitmen kepemimpinan gerejawi, Saya percaya semua telah benar2 menjadi ‘satu’ dalam pengertian utuh: satu hati, satu pikiran, tujuan, satu keanggotaan dalam GKA GRACIA Citra Raya demi kemuliaan Kristus. Ini kado HUT dari Tuhan untuk gereja di tempat ini. Sebagai jemaat dukung secara nyata dan doakan pelayanan mereka. Tahun2 pelayanan yang akan datang akan menjadi tahun2 penting bagi gereja Tuhan di tempat ini, karena focus pelayanan adalah kualitas kehidupan bergereja, berjemaat, beribadah dan kehidupan rohani. Karena itu siapapun kita yang merasa menjadi bagian dari gereja ini, mari bahu membahu bersama-sama menjadikan gereja Tuhan menjadi rapi tersusun dan terikat menjadi satu.

Kedua, Gereja harus Bertumbuh

Gereja bukan hanya bertambah, tapi harus bertumbuh, artinya bertambah dewasa, terus berubah, produktif, kreatif dalam pelayanan dan ibadah, tidak mandeg, begitu-begitu saja. Sebab itu gereja harus terbuka terhadap pembaharuan, kepada hal-hal yang baru, selalu berusaha beribadah dan bersekutu dengan lebih baik, Melayani lebih baik. Tetapi jangan salah diartikan bahwa supaya bertumbuh, maka gereja harus meniru sana-meniru sini. Gereja yang kehilangan arah biasanya hanya bisa meniru, tidak peduli apakah yang ditiru itu sungguh2 yang terbaik untuk dilakukan dan sungguh2 bermanfaat untuk jangka panjang. Selama ini di GKA Gracia Citra Raya, kebijakan Pastoral gereja berpijak pada semboyan: On essentials, unity. On non-essential, liberty. On everything, charity (untuk hal2 yang terpenting, kesatuan: doktrin, teologia dan ajaran Alkitab itu tidak bisa dikompromikan). Untuk hal2 yang tidak terlalu penting, kebebasan (terbuka terhadap hal2 baru yang membangun dan bermanfaat). Untuk segala sesuatu, belaskasihan (penerimaan satu sama lain). Hal ini berarti 2 hal; pertama, gereja yang mau terus-menerus diperbaharui adalah gereja yang sanggup untuk membawa pembaharuan. Kita tetap memelihara semangat dari tradisi Protestan untuk kemajuan gereja. Kedua, Gereja tidak boleh hanya bertambah besar, bertambah banyak, bertambah rapi, bertambah kaya (siapa tahu kelak jadi kaya), dsb, tetapi juga harus terus bertambah dalam kasih, bertumbuh dalam kasih.

Ketiga, Gereja Harus Terus di Bangun

Gereja yang memiliki semangat pembaharuan akan tetap setia memperjuangkan hal2 yang terpenting diantara hal2 yang penting. Fokusnya bukan hanya membangun gedung dan menyediakan berbagai fasilitas, melainkan pada pembangunan manusianya. Ini yang saya maksud dengan yang terpenting di antara hal2 yang penting. Ada satu lagu: Gereja bukanlah gedungnya, bukan pula menaranya, bukalah pintunya lihat didalamnya, gereja adalah ORANGnya. Itu berarti organisma (jiwa) itu lebih penting dari sekedar sebuah organisasi. Sejarah memberi kita pelajaran berharga: ketika gereja memperjuangkan hal2 yang penting bagi dirinya maka yang terjadi adalah kehancuran. Bangkitnya gerakan reformasi gereja pada 1517 itu sesungguhnya bertujuan supaya gereja (RK) kembali kepada kebenaran Alkitab, yakni hal terpenting yang telah ditinggalkan oleh para pemimpin gereja pada zaman itu. Bayangkan sedemikian merosotnya kehidupan rohani sehingga uang itu lebih penting dari keselamatan jiwa manusia (cf. Kardinal Tetzel di Jerman sampai berani berkata tanpa takut kepada Tuhan, “Ketika mata uang berdering didalam peti maka seketika itu juga jiwa melompat keluar dari api penyucian”). Mengerikan! Reformasi menjadi jalan untuk membebaskan gereja dari segala bentuk kepalsuan dan kebobrokan dari struktur dan hirarki pemerintahan gereja yang sangat mapan pada zaman itu. Timbulnya Reformasi gereja menunjukkan adanya fakta sejarah bahwa Gereja telah mengabaikan yang terpenting diantara hal2 yang penting. Gereja yang hanya mengutamakan hal2 penting saja tetapi mengabaikan hal2 terpenting tidak akan sanggup menjadi alat Tuhan yang membawa perubahan ke arah yang lebih berarti, punya nilai dan makna baik bagi gereja itu sendiri maupun bagi dunia ini. Gereja yang sungguh2 memiliki semangat pembaharuan akan senantiasa menempatkan pelayanan, pembinaan jiwa dan masa depan pelayanan pastoral pada posisi yang lebih penting dibandingkan sekedar struktur, hirarki, nama besar organisasi, dan kebanggaan manusiawi terhadap gereja itu sendiri. Itu sebabnya “Memenangkan Jiwa” menjadi misi internal gereja Tuhan di tempat ini. Why? Karena salah satu ciri dari gereja yang mewarisi semangat reformasi 489 tahun lalu itu adalah membangun umat yang berkualitas rohani yang baik. Gereja yang benar bukan hanya gereja yang terus memiliki jumlah orang yang bertambah banyak namun dengan big Q sudahkah orang ini benar2 milik Tuhan atau belum. Gereja tidak hanya punya misi eksternal: Membawa jiwa sebanyak mungkin kedalam gereja. Atas nama Yesus bertobat lalu masuk dalam gereja. Apakah pekerjaan sudah selesai? Belum. Justru pekerjaan yang paling berat adalah follow up-nya: pada tugas bagaimana membaharui manusia yang sebelumnya atau masih berpola pikir dunia/dosa menjadi manusia yang memiliki pola pikir Kristus. Jadi, gereja tidak hanya perlu jumlah saja, tetapi lebih utama adalah kualitas manusia yang ada didalamnya.

Penutup

GKA GRACIA Citra Raya telah berdiri dalam semangat reformasi gereja (31 Oktober). Ibarat seorang anak yang terus bertumbuh dewasa, gereja Tuhan sampai pada hari ini, di dalam segala keterbatasan, kekurangan dan kemampuan yang dimiliki, terus belajar setia untuk terus menerus diperbaharui oleh Tuhan dan juga belajar untuk terus membawa pembaharuan-pembaharuan yang berarti yang bermanfaat bukan hanya bagi jemaat, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Saya percaya bila kehidupan bergereja selalu memelihara semangat reformasi ini, bukan mustahil kelak Tuhan akan memakai gereja ini untuk membawa pembaharuan yang lebih besar dan lebih berarti bagi kemuliaan-Nya.

(Khotbah Peringatan Hari Reformasi Gereja ke-489 dan HUT GKA GRACIA Citra Raya ke-9 31 Oktober 2006 )

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s