Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

SOLA SCRIPTURA (2 Petrus 1:20-21) by Pdt. Yarman Halawa November 11, 2009

31 Oktober 1517 atau 492 tahun yang lalu Martin Luther memakukan 95 dalil di pintu gereja Wittenburg di Jerman menyuarakan pembaharuan di dalam gereja. 95 dalil itu memanggil gereja dan orang percaya dari penyesatan ajaran untuk kembali kepada pengajaran Alkitab yang benar, memimpin danmengarahkan kepada kehidupan rohani yang sehat. Gerakan reformasi gereja ini mengembalikan gereja Tuhan kepada hal2 pokok pengajaran Alkitab yang terpenting: 1. Sola Gracia – keselamatan itu anugerah, bukan diperoleh melalui usaha manusia, manusia tidak bisa diselamatkan dengan membeli surat penghapusan dosa (aflat/indulgencia) yang dijual gereja pada waktu itu, 2. Sola Fide – hanya karena iman manusia dapat datang dan di terima oleh Allah, 3. Sola Scripture – hanya Alkitab satu2nya otoritas pengajaran yang benar didalam gereja, 4. Sola Christos – hanya Kristuslah satu2nya Tuhan dan Juruselamat, kepala Gereja yang Agung, 5. Soli Deo Gloria- hanya bagi Allah saja segala kemuliaan.

Pengajaran sesat apapun bentuknya: mulai dari yang terang2an bertentangan dengan isi dan ajaran Alkitab sampai kepada yang sedemikian halusnya sehingga tidak terlihat ada penyesatan didalamnya telah mewarnai kehidupan gereja sejak zaman para rasul masih hidup di abad 1 sampai pada hari ini. FT sendiri telah menegaskan bahwa penyesatan ini akan terus ada dan akan semakin bertambah hebat menjelang kesudahan segala sesuatu seperti yang rasul Paulus katakan dalam 2 Timotius 3.

Dengan semangat yang sama, dalam teks yang tadi kita baca, rasul Petrus mengingatkan orang2 percaya mengenai bahaya penyesatan yang dilakukan oleh guru-guru palsu (pseudoprophetai) yang menyusup dan memasukkan pengajaran2 sesat (pseudodidaskaloi) kedalam gereja. Penyesatan itu berkaitan dengan penafsiran yang salah mengenai propheteia (nubuatan-nubuatan Kitab Suci), a.l.

1. Yesus itu bukan Mesias sebagaimana yang dinubuatkan dalam PL 2. penyalahgunaan nubuat2 untuk kepentingan diri sendiri (cf. 2:3 dan 2:15 – Bileam bin Beor dalam Bilangan 22 menerima “order“ raja Balak bin Zipor raja Moab untuk mengucapkan nubuatan kutuk atas Israel). 3. nubuatan mengenai parousia (pasal 3) – ditengah penderitaan karena aniaya harapan akan kedatangan Kristus menjadi sesuatu yang sangat dinantikan bagi kebebasan secara fisik.

Didalam kekristenan pada hari ini, pelayanan nubuatan atau prophetic ministry yang sukses diterjemahkan kedalam istilah2 seperti: lawatan ilahi, penyembuhan, mujizat, impartasi firman…dst, berakar kuat dalam semangat Neo-Pentacostalism atau Kharismatik. Ini menghasilkan 2 akibat buruk: 1.Murahnya jabatan rohani dengan klaim diri nabi / rasul – jabatan ini sebenarnya sudah tidak ada lagi namun fungsi kedua jabatan ini seperti: menyampaikan FT dengan benar dan bertanggungjawab tetap ada secara khusus melalui diri orang2 yang dipanggil untuk menjadi pemberita Firman Allah. Itu sebabnya harus belajar tidak asal bisa ngomong. 2 Petrus 1:21 memberi penegasan, “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah (artinya: bukan sembarang orang atau siapa saja tetapi mereka yang yang dipanggil khusus untuk itu dan diperlengkapi untuk itu. KJV menerjemahkan teks asli sebagai “holy men of God”).” Berbeda dengan kekacauan yang terjadi pada hari ini: siapa saja merasa diri digerakkan Roh Kudus maka bisa khotbah, tumpang tangan, mengangkat diri jadi rasul jadi nabi…dst. Bahkan berani menafsirkan Alkitab sesuka hati tanpa tahu prinsip-prinsip hermeneutika yang layak. Buku Pewahyuan Surga dan Neraka adalah salah satu contohnya. Buku ini mengisahkan 7 orang pemuda Kolombia, gadis kecil 8 tahun, dst yang dianggap menerima wahyu baru dari Tuhan yang ternyata bila diperhatikan dengan seksama menunjukkan pemahaman yang begitu kacau dan rusak terhadap isi sesungguhnya dari kitab Wahyu. Terlebih adanya klaim yang menggunakan nama Tuhan bahwa Tuhan mengutus mereka ke bumi, kepada gereja. Dan mereka harus dituruti. 2.Tuhan dan Firman melayani needs manusia (psychological gospel) – Penyesatan menempatkan Alkitab dan nama Yesus tidak lebih dari sekedar pengesahan untuk melayani kebutuhan manusia semata. Tidak berlebihan bila sebelumnya didalam Matius 7:18-23 Tuhan Yesus sendiri telah memberi peringatan dini terhadap hal ini.

Gerakan reformasi menegaskan ulang mengenai Alkitab sebagai otoritas tertinggi didalam gereja dan bukannya menjadi alat komersial yang tunduk kepada kehendak, keinginan atau kepentingan manusia. Luther dari 95 dalil pada dalil 62: ”Harta pusaka terutama didalam gereja adalah Injil/Alkitab/Firman Allah.” Jadi berdasarkan ini kita tahu dengan jelas bahwa didalam gereja yang terutama dan yang terpenting serta bukan aset tetapi ajaran kebenaran Kitab Suci. Bukan hirarkhi otoritas manusia yang terkontaminasi dosa tetapi otoritas Kitab Suci. Ini yang telah diputarbalikkan oleh Paus di Roma pada zaman itu yang karena ingin membangun basilika St. Petrus tetapi kekurangan dana telah menista ajaran Alkitab. Gereja menjual Aflat/Indulgencia. Di Jerman, Kardinal Tetzel berani mempromosikan penjualan Aflat/Indulgensia (surat penghapusan siksa/dosa) demikian: ”Ketika mata uang berdering didalam peti (peti pengumpulan uang) maka jiwa seketika akan keluar dari purgatori.” Gereja harus didrive oleh Firman Tuhan. Bukan oleh manusia dengan pola pikir yang terkontaminasi dosa atau hal2 yang dasarnya bersifat materi. Seberapa jauhkah prinsip2 ajaran kebenaran FT berotoritas atas kehidupan kita dan kehidupan gereja kita?

Bagaimana supaya Sola Scriptura tetap nyata dalam kehidupan kita dan gereja kita?

Pertama, Miliki kehidupan percaya yang jelas. Iman kristen bertumpu pada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, satu2nya Tuhan Juruselamat hidup kekal kita sebagamana yang diajarkan Alkitab. Sebab itu perjalanan kehidupan kita akan terus-menerus membuktikan apakah kita termasuk umat pilihan atau tidak. Bila benar Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang satu2nya maka jangan pernah lagi memiliki ‘beckingan’ lain. Jangan pernah lagi ada dalam kamus percaya kita hal2 seperti paranormal, dukun, gunung kawi, ramalan, kelentengan, dsb. Semua ini berhala yang kelihatan menarik dan menjanjikan tetapi harus dibuang jauh-jauh. Karena itu, pastikan diri Sdr ketika nanti akan mati, sdr tahu kemana Sdr akan pergi.

Kedua, perjuangkan kehidupan yang selalu tetap didalam firman-Nya.  Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 8:31-32, ”Jikalau kamu tetap tinggal didalam firman-Ku kamu akan menjadi murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kehidupan yang sepadan dengan firman kebenaran yang dimengerti secara murni, utuh dan benar dan menerangi kehidupan percaya kita akan memampukan kita menjadi ’tahu kebenaran.’ Untuk tahu kebenaran tidak ada jalan lain, harus belajar firman/Alkitab dengan baik, utuh dan menyeluruh. Bukan hanya sebagian atau menyukai bagian2 yang menyenangkan diri kita. Orang yang gampang dibingungkan dengan berbagai pengajaran adalah orang yang tidak terdidik Alkitab dengan baik dan utuh yang telinganya hanya terlatih untuk hal-hal yang menyenangkan atau sesuai selera dan keinginan saja (perhatikan peringatan rasul Paulus dalam 2 Timotius 4:3-4! Ini berarti bahwa penyesatan dapat dicegah jika kita senantiasa mendisiplin diri untuk belajar firman dengan baik dan benar.

Kita harus benar-benar sadar dan waspada bahwa kita hidup ditengah dunia yang serba abu-abu. Dimana kebenaran dan kepalsuan itu sangat tipis perbedaannya. Untuk mampu membedakan maka kita perlu menerapkan prinsip 3D (dilihat, dipegang dan diterawang) dengan kacamata firman kebenaran. Bila kita mengenali firman yang asli, kecil kemungkinan kita akan tertipu dengan firman yang palsu. Didalam 1 Yohanes 4:1 Kita diperintahkan supaya ‘menguji roh-roh’ yang artinya ‘tidak gampang percaya sesuatu baik kepada pribadi maupun ajaran yang dibawa oleh seseorang yang mengaku nabi atau guru Alkitab.’ Mengapa banyak anak Tuhan bisa disesatkan? Tidak punya pegangan firman yang jelas. Tahunya yang penting ada nama Yesusnya. Tahunya yang penting sesuai dengan selera, keinginan, perasaan dan kebutuhan saya. Tuhan Yesus memberi warning di Matius 7:15-16a, “Waspadalah terhadap nabi2 palsu yang menyamar seperti domba…dari buahnya kamu akan mengenal mereka…” Waspada dapat diartikan atau dimaknai sebagai sikap untuk berhati-hati, tidak cepat2 kagum, mengidolakan, dst. Tetapi sebaliknya kritis: Tidak menjadi Yes – men, Amin!! (jangan pokok’e khotbahnya lucu, HT fasih lidah kalau bicara sekalipun memang mantan pelawak atau  mantan salesman).  Apa yang dikritisi? 1. Apakah FT yang mereka sampaikan sesuai ajaran Kitab Suci dan prinsip-prinsip pengajaran Kitab Suci yang benar? Setiap kita harus membiasakan diri dengan apa yang disebut sebagai cross check firman Tuhan. Misalnya perkataan Tuhan Yesus mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali didalam Matius 24:36 bahwa kedatangan-Nya tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Bapa di sorga. Semoga kita masih ingat peristiwa Senin, 10 November 2003 yang lalu. Di Bandung ada seorang pendeta mengklaim diri sebagai rasul Paulus II dan menyatakan bahwa Yesus Kristus akan datang pada hari itu antara pukul 09.00-15.00 WIB yang sebenarnya kesesatan belaka. Semoga respon yang memalukan kekristenan pada akhirnya itu tidak terulang lagi! 2. Apakah nilainya kekal atau sementara? Waspadalah bila pemberitaan firman Tuhan baik di mimbar gereja atau di pasar sekalipun isinya duit melulu, kesuksesan melulu, berkat yang sifatnya jasmani melulu, mujizat melulu, lawatan Allah melulu, kesembuhan melulu, pemulihan melulu, bahasa roh melulu…dst, namun justru tidak membuat umat Tuhan makin mengenal ajaran Alkitab secara benar dan utuh. Mari kita ingat kembali peringatan Yesus di Matius 7:22-23!

Ketiga, bangun kehidupan rohani kita didalam garis pemahaman teologia yang jelas. Gerakan Reformasi itu kembali ke akar, kepada historis-filosofis doktrinal Kitab Suci yang membangun pondasi kehidupan percaya. Gerakan Reformasi tidak mendirikan ajaran baru, tapi justru mengembalikan gereja dan orang percaya kepada pengajaran Alkitab yang seharusnya. Bila pondasi kehidupan percaya kita sebenarnya lemah, soak dan tidak beres; maka, kelak kita tidak akan sanggup berdiri kuat ditengah badai dan gelombang kehidupan yang menerpa. Ini sama prinsipnya dengan mendirikan sebuah rumah. Tanpa fondasi yang kuat dan baik maka bangunan diatasnya jelas tidak akan kuat dan kokoh. Demikian juga bangunan diatasnya harus mengikuti fondasi yang tertanam dibawahnya. Jika tidak maka jelas bangunan diatasnya bakal amburadul kekuatan dan daya tahannya. Di tengah konsep berpikir Post-Modernism pada hari ini dimana menjadi sebuah persetujuan umum yang memuaskan human sense manusia bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, maka arti dari kebenaran yang sesungguhnya tidak lagi dari apa yang diajarkan oleh Alkitab tetapi berdasarkan pemahaman apapun yang dianggap nyocok, dan seusai dengan kemauan sendiri. Akhirnya kemana-mana. Gado-gado. Abu-abu. Menjadi tidak jelas. Kehidupan orang percaya, termasuk gereja menjadi kehilangan arah. Tidak lagi memiliki pegangan pengajaran yang menjadi jati diri. Apapun diikuti. Karena itu, kita harus membangun gereja kita berdasarkan pondasi pemahaman teologia yang jelas, warna teologia yang jelas yang mengokohkan bangunan pengajaran, pembinaan, penggembalaan gereja. Jemaat harus mau memberi waktu terbaik untuk belajar firman dalam garis teologia yang jelas. Setiap kita khususnya para pemimpin gereja harus memegang 1 pegangan doktrinal yang jelas. Rohaniwan harus bertobat dari sifat bunglon didalam berteologia. Tidak boleh gado-gado. Kelak yang paling Tuhan tuntut dari kita bukan jumlah yang kita ‘hasilkan’ tapi kesetiaan kita terhadap firman kebenaran yang menjadi beban utama panggilan pelayanan kita ditengah umat Tuhan. Jangan beri kesempatan bagi si Jahat untuk terus menaburkan ilalang didalam ladang gandum Tuhan.

Sesungguhnya, doktrin yang jelas akan menuntun kita memiliki cara pandang yang jelas dalam menjalani kehidupan dan menghadapi atau mengatasi tantangan2 dan persoalan2 kehidupan. Ada ungkapan: mencegah lebih baik dari pada mengobati. Cegahlah dengan cara berjalan didalam terang kebenaran firman. Jalani hidup seturut firman: pribadi, rumah tangga, usaha pekerjaan pelayanan. Tetapi doktrin yang abu2 akan membuat kita menjadi bingung dan membuat perjalanan percaya kita menjadi tidak jelas arah, serba meraba-raba dan akhirnya menganggap bahwa yang palsu itu asli. Kristus tadi berkata, ”Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku.” kata ”tetap dalam firman-Ku” menunjukkan bahwa cara hidup kita sehari-hari merupakan cerminan dari seberapa taat kita melaksanakan kebenaran FT. Ini yang akan memberkati kehidupan percaya kita: kebenaran firman! Ketika kebenaran firman sungguh nyata dalam kehidupan kita maka kita akan menikmati kekuatan, kuasa ilahi, sukacita, kesegaran, menyembuhkan jiwa kita yang sakit. Dalam Matius 7:24 Yesus menegaskan bahwa ”Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku (ajaran firman-Nya) ini dan melakukannya ia sama dengan orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya diatas dasar batu.” Ini berarti ajaran firman kebenaran itu akan mengokohkan iman percaya kita dan membuat kita tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, pergumulan hidup sehari-hari dari yang paling ringan sampai yang paling berat sekalipun. Firman kebenaran memampukan kita untuk sanggup menghadapi kenyataan hidup, tidak menjadi minder karena kondisi2 kehidupan yang kita alami, bahkan memberi kita penghiburan bahwa selalu ada masa depan yang penuh kepastian dalam pengharapan.

Pada akhirnya, peristiwa Reformasi gereja adalah moment yang akan terus mengingatkan orang percaya untuk kembali kepada pengajaran Alkitab yang benar. Maka mari, melalui peringatan tahun ini, kita membangun kembali semangat untuk terus belajar Firman, mengalaminya dan memperjuangkannya sebagai kebenaran yang absolut di tengah kerasnya tantangan jaman. Amin!

(mimbar gereja GKA Gracia Gatotan 1 November 2009)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s