Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

RESPON TERHADAP PEMIKIRAN PRIA SEJATI DARI EDWIN LOUIS COLE January 13, 2011

(Diambil dari buku Kesempurnaan Seorang Pria dan Menjadi Pria Sejati terbitan Metanoia Jakarta; serta Tetap Tegar di Tengah Masa Sukar terbitan Yayasan Andi Yogyakarta)

Oleh : Pdt. Johannes Aurelius*

Selama perespon membaca buku-buku Cole dapat disimpulkan bahwa pemikiran pendiri gerakan ini tidak akademis dan sistematis dengan banyaknya loncatan pikiran yang sulit diketahui maksud ujung-pangkalnya, sehingga untuk memahami dengan tepat bagaimana pemikirannya yang paling jelas merupakan perjuangan yang melelahkan dari buku-buku yang tidak bermutu ini.  Namun, mau tidak mau adalah keharusan bagi perespon untuk membacanya kembali dan menemukan serpihan-serpihan pikirannya agar dapat disusun secara sistematis bagaimana pemikiran Cole sebenarnya dan mengungkapkan ketidakkonsistenan teologinya.

LATAR BELAKANG PANGGILAN  COLE

Cole menganggap bahwa pembaruan karismatik yang pernah melanda dunia memiliki kekurangan karena mengabaikan salib dan pertobatan (TTMS 78), sehingga dia merasakan perlunya pembaruan lebih lanjut. Dia mengklaim terjadinya perubahan dalam dirinya untuk selamanya dimulai dari puasa 40 hari, di mana antara hari ke 21 sampai 38, dia mendapatkan banyak penglihatan dari kitab Kejadian sampai Wahyu yang menyingkapkan seluruh kebenaran Alkitab (TTMS 64-65). Karena itu, salah satu contoh keyakinannya yang kokoh bahwa urapan Tuhan selalu ada pada dirinya adalah ketika dia mempersiapkan diri di pesawat jet untuk membuat naskah kotbah, yang sering dilakukannya dari kebanyakan persiapan untuk kotbah-kotbahnya, di mana tiba-tiba dia kehilangan kesadaran atas sekitarnya dan sesuatu sedang bergolak di dalam rohnya bahwa Tuhan hadir di dalam dirinya (KSP 8-9, bdk. KSP 11,12). Dalam hal inilah, Cole merasa dirinya sebagai seorang rasul (KSP 12).

Dia menganggap dirinya mendapatkan penglihatan langsung dari Tuhan pada waktu istirahat siang sesudah kebaktian tertentu, dan dia dibawa ke Bukit Zaitun untuk menyaksikan percakapan antara Tuhan dengan para malaikat-Nya tentang keselamatan umat manusia (TTMS 45-46).  Panggilannya untuk melayani kaum pria itu menjadi diperteguh dengan sebuah nubuatan pada tahun 1979 bahwa “dosa-dosa seksual akan menjadi masalah dalam gereja pada tahun 1980-an,” sehingga kalimat nubuatan ini menjadi “alat penumbuk baru yang tajam bergerigi.” (TTMS 195).  Dia meyakini panggilan Tuhan untuk menegur dosa, khususnya dosa percabulan di antara kaum pria, sebab itulah perkataan Tuhan langsung atas dirinya (KSP 23).  Dia terus menerus mendengarkan bisikan Roh Kudus ataupun mendapatkan kalimat nubuatan atas dirinya melalui orang lain (KSP 182-183) untuk menjangkau seluas mungkin kaum pria di dunia ini (KSP 24).

Dengan menggunakan teori motivasi, dia menyatakan bahwa semua pria mengimpikan untuk disanjung sebagai pahlawan tetapi tidak banyak yang tahu apa pengorbanannya dan bagaimana cara mencapainya (TTMS 4).  Dia mempercayai bahwa dalam penciptaan manusia dilengkapi dengan berbagai macam indra, lima indra untuk jasmaninya, satu indra keenam dalam rupa mata jiwanya dan satu indra ketujuh dalam roh yang dikaruniakan Allah untuk menerima dan mengembangkan ciri-ciri-Nya sampai batas tertentu (TTMS 60).  Dari sinilah dia menyimpulkan bahwa dalam gerakan pria sejati harus mengembangkan apa yang dimaksudkan oleh Roh Allah untuk menempatkan kembali kaum pria sebagaimana mestinya terlepas dari dosa-dosanya dengan salah satu cara yaitu mengakui dengan mulutnya. Dia menyatakan dosa dapat hilang dari hidup hanya melalui mulut, penyesalan melalui iman, akan tetapi pengakuan-pengakuan tanpa penyerahan diri hanyalah omong kosong belaka (TTMS 81).  Karena itu dalam setiap ibadah pria sejati selalu ada pola tertentu dalam mengungkapkan dosa-dosa dengan mengakuinya di depan umum, sebab dia beranggapan bahwa jikalau manusia dapat mengalahkan pencobaan (red. dan dosa) maka itu sebenarnya manusia telah menyiksa si pencoba (MPS 190).  Cole telah meremehkan hakekat dosa dan mengesampingkan “keuletan” setan dalam mencobai manusia.

HAMARTOLOGI

Dosa merupakan ciri khas dari ajaran pria sejati.  Karena itu dalam mengkritisi ajaran ini, doktrin dosa yang diumbarnya merupakan poin penting untuk diungkapkan ketidakberesannya.  Dia menyatakan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mengakui dosa-dosanya dengan pengakuan saja yang akan cukup untuk menyingkirkan dosa dan mengantarkan kepada kebenaran, sebab dosa yang tidak diakui adalah dosa yang tidak dimaafkan, dan dosa hanya bisa hilang dari dalam kehidupan manusia melalui mulut. Karena itu bertobat dari dosa, dan dengan iman yang tertuju kepada Allah merupakan kunci damai sejahtera, dari situlah dibutuhkan pengudusan (KSP 45). Konsep Cole mengenai dosa terlihat begitu meremehkan, sebab dia beranggapan bahwa dosa hanya perlu diakui untuk dimaafkan supaya “tidak tertahan,” dan dosa sama sekali tidak memiliki sifat turun menurun (KSP 57-62).  Dari sini Cole menyangkal hakekat atau esensi dosa yang diturunkan Adam.

Kesalahan ajaran pria sejati semakin menjadi-jadi dengan menganggap bahwa terusirnya Adam dari taman Eden bukan karena berbuat dosa tetapi karena menolak bertanggung-jawab atas dosanya (MPS 223), padahal Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa manusia diusir dari taman Eden karena dosanya (Kej 3:22-24).  Walaupun Cole mengakui bahwa seorang pria sejati tidaklah sempurna, namun dia menganggap bahwa manusia dapat mencapai tahap kesempurnaan.

KRISTOLOGI

Di satu pihak, Cole mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan diutus oleh Allah sebagai Adam yang Kedua untuk mengungkapkan citra Allah sesungguhnya (MPS 53-89).  Namun, di pihak lainnya, dia mengajarkan banyak kesalahan mengenai siapa Yesus itu. Cole berpendapat bahwa Yesus itu diciptakan oleh Allah (MPS 8), sebab dianggapnya bahwa Yesus mengetahui dalam citra Siapa diri-Nya diciptakan (MPS 46).  Karena itu, dalam pikirannya Cole mungkin melihat kemanusiaan Yesus sebagai yang diciptakan sebagai pengejawantahan gambar Allah (TTMS 8), sehingga dalam kemanusiaan-Nya maka Yesus perlu dilahirkan kembali oleh Roh Allah (MPS 224), dan Yesus perlu memiliki keteguhan iman kepada Bapa untuk menjadi teladan bagi kaum pria (MPS 87).  Melalui itulah, menurut Cole, Yesus memerlukan Roh-Nya untuk mengalir dalam diri-Nya dalam mewujudkan sifat-sifat ilahi (MPS 72).  Dengan pemahaman yang demikian, maka doktrin Kristus yang diajarkan Cole memiliki ciri ajaran saksi Yehova yang bersumber pada ajaran Arius yang telah ditetapkan sebagai bidat pada abad 4 M.

Sekalipun mungkin Cole berkonsentrasi dengan kemanusiaan Yesus, namun dia telah mengabaikan kesatuan antara keilahian dan kemanusiaan Yesus. Dalam keilahian-Nya, Yesus adalah Anak  Allah yang dilahirkan dari Bapa, sehingga keilahian Yesus adalah kekal dan menyatakan bahwa Yesus adalah Allah.  Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah Anak Manusia yang menjadi manusia melalui kelahiran anak dara.  Alkitab menjelaskan, khususnya PB, bahwa kemanusiaan Yesus tidak pernah diciptakan sehingga bersifat pasif, tetapi Ia mengambil kemanusiaan atau menjadi manusia sehingga bersifat aktif (bdk. Flp 2:7).  Karena itu penafsiran Cole mengenai kemanusiaan Yesus menjadikan dirinya penganut humanisme, sebab dia menyatakan bahwa kuasa yang Yesus miliki berasal dari “pengenalan-Nya akan diri-Nya, tujuan-Nya dalam hidup ini, dan dari identitas diri yang diterima-Nya secara sempurna” (MPS 282). Humanisme yang dirohanikan terjadi di dalam penjelasan Cole ketika mencoba menerapkan secara sejajar antara karakter yang Yesus miliki dengan kaum pria yang mau didiami Roh Kudus (KSP 67-68).

Mengacu pada kristologinya yang keliru, maka kesatuan ajaran Allah Tritunggal dihancurkan pula, sekalipun perespon belum menemukan ajarannya yang lebih gamblang tentang Trinitas, kecuali pernyataan bahwa Anak adalah visioner (pemegang visi), Roh Kudus adalah administrator (pengelola) dan Bapa adalah penguasa (MPS 129).  Namun pernyataan Cole mengenai Tritunggal ini tidak terlalu jelas untuk ditafsirkan sebab dia menggunakan bahasa teori motivasi dalam mengungkapkan keterkaitan Trinitas itu, sehingga pemahaman Cole tetap harus diwaspadai. Seperti pernyataannya yang tiba-tiba mengatakan “itulah Allah” di antara penjelasan tentang kerasulan dirinya, urapan roh yang dirasakannya dan naskah kotbah yang digelutinya (KSP 13).

HERMENEUTIKA

Penafsiran terhadap Alkitab merupakan tulang punggung dalam penyampaian Firman Tuhan dan tiang penopang dalam pengajaran gereja. Penafsiran yang sehat akan mempengaruhi konsep pemikiran jemaat untuk terus bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.  Dalam meneliti ajaran pria sejati, prinsip penafsiran mereka perlu diuji untuk menemukan sehat tidaknya ajaran yang dikemukakan.  Ada satu hal yang dapat dikatakan mengenai buku-buku karangan Cole ini bahwa dia banyak mengutip Alkitab untuk mendukung pengertian dan ajarannya yang disesuaikan dengan konteks pemaksimalan kepriaan. Namun jangan terlalu senang lebih dahulu dengan apa yang sudah dikerjakan dalam buku-bukunya, sehingga pengujian sangat diperlukan.

Melalui pembacaan yang teliti dengan pengujian pada ayat-ayat Alkitab yang digunakannya, ternyata didapati banyak kekeliruan yang bersifat pemaksaan konteks ayat-ayat Alkitab ke dalam pengertiannya sendiri. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa Cole telah melakukan eisegese (memasukkan pengertian pembaca ke dalam Alkitab), bukannya eksegese (menggali keluar pengertian Alkitab ke dalam pemahaman pembaca).  Banyak sekali pemaksaan eisegese yang dikerjakan oleh Cole untuk mendukung propaganda gerakan pria sejatinya.  Contoh yang paling penting, karena penjelasannya ini menjadi pokok pemikiran mengapa harus pria sejati, adalah ungkapannya mengenai Pilatus yang seolah kagum dan hormat kepada Yesus dengan pernyataan ecce homo, walaupun dia menyatakan pula bahwa Pilatus sudah terlanjur memainkan politiknya (MPS 53-54), namun Cole melupakan ketidakpedulian Pilatus mengenai kebenaran (Yoh 18:37-38a).  Bahkan yang lebih buruk lagi dilakukan oleh Cole dengan pengutipan pemuliaan Kristus oleh Allah (Flp 2:10-11) telah digantikan dengan pemuliaan Kristus oleh manusia (MPS 60).  Ini merupakan penyesatan, sebab Alkitab selalu menyatakan bahwa Kristus dimuliakan oleh Allah bukannya oleh manusia (bdk. Kis 2:31-36; 4:10-12; Yoh 16:12-15).  Begitu pula konteks perkataan Yohanes Pembaptis bahwa “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” diselewengkan dengan pernyataan “hanya karena kebesaran Kristus di dalam kehidupan kitalah yang dapat membuat saudara dan saya menjadi besar” (KSP 79).

Penafsirannya yang bersifat diskriminatif, karena menekankan kepriaan, semakin menjadi-jadi dengan menyatakan “Sifat-sifat yang ada pada Kristus merupakan ciri-ciri kepriaan yang sejati. Sifat-sifat itu merupakan bukti bahwa Dia benar-benar Anak Allah” (MPS 72), lagi “menyerupai Kristus dan sifat pria yang sempurna adalah dua kata yang memiliki arti yang sama” (KSP 68,178), dan “kita bisa saja memperoleh kerohanian dari kaum wanita, tetapi kekuatan selalu datangnya dari kaum pria” (KSP 78).  Model hermeneutik yang dilakukan oleh Cole ini merupakan bagian dari penyelewengan terhadap maksud kedatangan Yesus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, baik kaum pria maupun wanita, bukannya untuk menyatakan kepriaan sejati.

Teori motivasi, bukannya iluminasi dari Roh Kudus, yang digunakan oleh Cole dalam menjelaskan kepriaan sejati yang menjadi topik penting dalam gerakannya ini. Berulang kali dia berusaha untuk memberikan sanjungan kepada kaum pria, walaupun dia menyatakan bahwa pria sejati itu memang tidak sempurna (MPS 178), namun dia melontarkan berbagai macam pernyataan yang sangat berbahaya, seperti:

–          “Sebelum manusia sepakat dengan penilaian Allah atas keadaan mereka dan dengan persediaan-Nya bagi kepentingan mereka, maka manusia akan berada di luar wewenang dan kemampuan Allah” (MPS 78). Kalimat ini merupakan penghinaan terhadap kedaulatan dan kemahakuasaan Allah.

–          “Adapun kematian dalam Tuhan Yesus Kristus merupakan proses perubahan yang mendatangkan kebaikan bagi kita dan bagi Allah yang Mahakuasa, karena ….” (MPS 80).  Kalimat ini telah melecehkan anugerah Allah.

–          “Yesus Kristus menganggap kehadiran kita di sorga lebih penting nilainya daripada kehidupan-Nya sendiri.” (MPS 100).  Kalimat ini menurunkan derajat mutu kasih Allah.

–          “Bila seseorang menolak Kristus, ia mengosongkan sorga dari kehadirannya meskipun Allah menghendaki dia hadir di sana, … (TTMS 31).  Kalimat ini menolak doktrin predestinasi.

–          “Meskipun beriman kepada Allah itu penting, ada unsur iman yang lebih besar daripada itu – Allah mempunyai iman kepada manusia” (TTMS 44). Kalimat ini bertentangan dengan pernyataan Yesus bahwa “sulit menemukan iman yang sejati di antara manusia” (Luk 18:8), dan “Ia tidak dapat mempercayai manusia” (Yoh 2:24).

–          “Allah mempunyai hak untuk memiliki hidup kita, dan dari hal itu kita mempunyai hak untuk mengharapkan dari Bapa kita di surga. Kita berdoa dan mengharapkan jawaban” (TTMS 182). Kalimat ini merupakan kesombongan humanisme.

–          “Adalah tugas saya untuk menyampaikannya. Tugas saya adalah untuk menyatakannya. Dan tugas Allah untuk mempertahankan nama baik-Nya” (KSP 13) merupakan bentuk kepercayaan diri yang berlebihan mengenai kehebatan panggilan dirinya.

–          “Allah menginginkan saudara menjadi manusia seperti yang selalu saudara dambakan” (KSP 24) merupakan manipulasi terhadap kehendak Tuhan, sebab manusia tidak akan pernah memahami dirinya dengan tepat kecuali menyadari keberdosaannya di hadapan Tuhan yang Mahasuci.

PEWAHYUAN

Cole memiliki pemahaman pewahyuan sesuai dengan teologi kharismatik yang menginginkan pewahyuan dari Allah secara langsung dan terus menerus untuk diperbarui, karena itu dia sangat menolak dan tidak menyukai doktrin yang telah diwariskan dalam sejarah gereja. Cole membagi berbagai tingkatan pengertian berkaitan dengan pemahaman Firman Tuhan, yaitu pewahyuan, inspirasi, formalisasi, institusionalisasi, kristalisasi dan sekularisasi (MPS 131-148). Dia sangat menekankan pentingnya pewahyuan yang berasal dari Allah langsung, sebab itulah Firman Tuhan yang sebenarnya untuk disesuaikan dengan konteks zamannya. Karena itu dia menganggap bahwa perkataan manusia bisa berkedudukan sama dengan Firman Allah, seperti kalimat yang diungkapkannya “pengajaran Campbell, kata-kata hikmat Joann, Firman Allah” (KSP 12).

Berkaitan dengan prinsip pewahyuan ilahi inilah, Cole menganggap adanya persamaan atau kesejajaran antara Firman Allah –red. yang disebut LOGOS, dengan perkataan seorang pria –red. sebagai “RHEMA” (TTMS 89-101). Cole sangat bercorak kharismatik dalam pengajarannya.  Dasar pemikiran ini mungkin sangat berhubungan dengan kedudukan kaum pria yang “diagungkan”-nya sebagai imam (KSP 80-91, 154, bahkan dia menyerukan para ayah untuk menjadi imam yang berbicara kepada Allah, nabi yang berbicara sebagai wakil Allah, dan raja yang memerintah, MPS 130). Dari sini Cole sangat melecehkan pernyataan PB bahwa hanya Kristuslah satu-satunya imam yang dimiliki oleh orang percaya (Yoh 14:6; 1Tim 2:5; Ibr 4:14-5:10; 7:11-28; 8:1-13; 9:11-28). Memang PB mengajarkan adanya ordo dalam keluarga supaya suami mengasihi istrinya, istri tunduk kepada suaminya, anak-anak menghormati orang tuanya, dan bapak-bapak tidak menyakiti hati anaknya (Ef 5:22-6:4; Kol 3:21; 1Pet 3:1-7), namun ordo itu tidak dimaksudkan seperti ajaran Cole bahwa pria menjadi imam dalam keluarganya. Kalaupun 1Kor 11:2-16 menyatakan setiap laki-laki berdoa dan bernubuat, namun dinyatakan pula bahwa setiap perempuan yang berdoa dan bernubuat, sehingga penjelasan Paulus ini adalah untuk mengatur pelayanan setiap kaum pria dan wanita agar tetap menghormati adat istiadat yang masih berlaku saat itu.

KESIMPULAN

Berdasarkan penyelidikan terhadap ajaran Cole ini, maka dapat disimpulkan bahwa ajaran pria sejati banyak berlawanan dengan ajaran Alkitab, memiliki semangat atau spirit kharismatik, dan memiliki kecenderungan kesesatan karena spirit kebebasan berekspresi dalam menerima pewahyuan baru. Karena itu ajaran dan gerakan ini HARUS DITOLAK.

 

* Pdt. Johannes Aurelius, M.Th., adalah Hamba Tuhan di GKA Gloria Surabaya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s