Gracia4Christ's Blog

Just another WordPress.com weblog

PRIA SEJATI: SEJATIKAH ? MEMBEDAH TEOLOGI DIBALIK GERAKAN PRIA SEJATI January 14, 2011

 

Oleh: Ev. Calvin Renata M.Div*

 

LATAR BELAKANG SINGKAT

CHRISTIAN MEN’S NETWORK adalah suatu gerakan yang dipelopori oleh seorang yang bernama Edwin Louis Cole (Ed Cole), di mana visi dari gerakan ini adalah menolong kaum pria untuk menjalani fungsi hidup sebagai suami dan ayah yang seharusnya. Gerakan ini muncul di USA pada kurang lebih tahun 1980-1982 an dan masuk ke Indonesia pada tahun 1999. Dibalik segala fenomena yang ada, adalah penting bagi kita untuk mengenali bukan hanya dampaknya bagi gereja-gereja di Indonesia, tetapi juga mengenali teologi dibalik ajaran yang dikenal dengan nama “Pria Sejati” ini.

Untuk itu hal pertama yang harus kita kenali adalah tokoh dibalik gerakan ini dan apa yang ia pahami tentang iman Kristen. Pembahasan dalam makalah ini difokuskan bukan kepada aktivitas camp, tokoh-tokoh gereja yang terlibat, pembicara-pembicara camp melainkan kepada Edwin Louis Cole dan apa yang ia tulis dalam kedua bukunya yaitu Menjadi Pria Sejati dan Kesempurnaan Seorang Pria.

 

EDWIN LOUIS COLE : NABI ALLAH DI TENGAH JAMAN INI ? (1)

Cole dilahirkan di Dallas, Texas, USA. Lahir tahun 1922 dan meninggal 27 Agustus 2007. Cole tinggal di Dallas dengan ibunya sampai umur 4 tahun. Berjangkitnya penyakit Scarlet Fever mengharuskan mereka pindah ke L.A, California. Di sana ia sekolah di Belmont High School di pusat kota L.A. Pada masa perang dunia II ia mendaftarkan diri sebagai pasukan penjaga pantai, di mana ia menemukan Nancy Corbette, sesama sukarelawan yang kemudian
menjadi istrinya. Cole aktif dalam street witnessing (kesaksian di jalan), dan dua tahun kemudian ia menjadi pastor di sebuah gereja di California Utara.

Karir rohaninya dimulai sebagai pelayan khusus kaum pria. Ia menjalani dua dekade hidupnya sebagai pekerja rohani termasuk mission trip, penginjilan dan pembicara di TV. Tahun 1977 ia mendirikan Christian Men’s Network sambil tetap melayani sebagai pembicara di dua stasiun TV Kristen. Tahun 1984, ia keluar dan memfokuskan diri pada pelayanan pribadinya. Tahun 1993 ia dan istrinya kembali ke Texas untuk melayani di sana dan tahun 2002 ia divonis mengidap kanker serta meninggal pada tahun yang sama.

Visi yang mulia dan berdedikasi, tapi bila tidak didukung oleh pengenalan terhadap
kebenaran dan dasar Firman yang kuat hanya akan membawa kepada kesalahan demi kesalahan bahkan kepada kesesatan. Hal pertama yang harus kita perhatikan dalam buku-bukunya, Cole tidak pernah disebutkan mengenyam pendidikan teologia di seminari tertentu. Seorang hamba Tuhan dituntut untuk mempunyai dasar dan pemahaman tentang Alkitab sebelum dia melayani. Bahkan dalam judul-judul bukunya tidak dituliskan gelar akademis yang ia miliki. Memang gelar bukan segalanya, tetapi ini menunjukkan kompentensi dan kapabilitas seseorang dalam menulis dan berbicara.(2) Bagi saya hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Cole seorang yang sangat rendah hati sehingga ia tidak mau menyebutkan di mana ia sekolah Alkitab dan gelar akademis yang ia miliki.(3) Kedua, memang ia tidak pernah sekolah Alkitab sehingga tidak ada yang perlu dituliskan dalam biografinya. Dari dua kemungkinan ini, jika dilihat dari apa yang ia jabarkan tentang pengajarannya lebih menunjuk pada kemungkinan yang kedua, yaitu bahwa Cole tidak pernah mengenyam pendidikan teologi, sehingga ia tidak memahami Firman Tuhan dan kebenarannya dengan utuh. Namun ironisnya, banyak Hamba Tuhan yang telah mendapatkan gelar S2 bahkan S3 malah mengaminkan apa yang diajarkan dalam gerakan ini, tanpa berpikir kritis dan mempelajari dasar teologi gerakan ini. Ini adalah sesuatu yang sangat menyedihkan!

Hal yang tidak terlalu mengejutkan sebagai dampak dari identitas dirinya yang tidak jelas adalah berulang kali Cole menyebut dan mengklaim diri sebagai nabi Allah di tengah jaman ini.

“Sebenarnya perkara ini terlalu keras, terlalu tajam – bahkan untuk seorang nabi pengkotbah seperti saya, yang sudah berkotbah di hadapan ribuan orang. Perkara-perkara yang lalu sepertinya sudah tidak ada apa-apanya lagi bila dibandingkan dengan perkara ini.”(4)

“Edwin Louis Cole adalah pendiri dan pemimpin dari Christian Men’s Network yang telah banyak menyampaikan pesan-pesan nubuat bagi kaum pria dari generasi masa ini.”(5)

Dalam PL memang ada tiga jabatan penting, yaitu Raja, Imam dan Nabi (yang ketiganya
bersatu dalam diri Yesus Kristus). Namun harus kita ketahui tiga jabatan ini telah berhenti.
Jabatan raja berhenti ketika bangsa Yehuda/ Israel berada di dalam masa intertestamental dan dijajah Romawi. Mereka sudah tidak memiliki kerajaan lagi. Jabatan imam berakhir ketika bait Allah diruntuhkan pada tahun 70 AD oleh Romawi dalam peperangan 4 tahun dengan Israel. Sejak itu mereka tidak memiliki lagi imam, yang ada hanya guru (rabbi). Jabatan nabi juga sudah selesai pada saat Allah telah selesai berfirman dan wahyu Allah berhenti.

Masih adakah nabi/ rasul pada jaman ini? Rupanya Cole tidak memahami bahwa jabatan nabi/ rasul sudah berhenti dengan selesainya wahyu Allah kepada manusia. Bagaimana dengan Efesus 4:11 yang mengatakan “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”? John Calvin dalam bukunya Ecclesiastical Ordinances mengatakan dengan jelas bahwa jabatan rasul dan nabi hanya diberikan sebagai dasar pembentukan gereja, sedangkan gereja pada masa pasca Kristus hanya memiliki 4 jabatan didalamnya:
Fundamental to the Ecclesiastical Ordinances is that Calvin felt that the fourfold office of ministry laid out therein was God-given: “There are four orders of office instituted by our Lord for the government of his Church . . . pastors; then doctors; next elders, and fourth deacons.”(6)

(suatu hal yang mendasar dalam buku Ecclesiastical Ordinances adalah bahwa Calvin merasa hanya ada 4 jabatan yang Allah berikan kepada gereja-Nya :”ada empat jabatan yang didirikan Allah bagi pemerintahan gereja-Nya …pastors (gembala-gembala), kemudian doctors (pengajar-pengajar), kemudian elders (penatua-penatua) dan keempat deacons (diaken-diaken).”

Alkitab menunjukkan bahwa seorang nabi justru beritanya tidak didengar oleh bangsanya. Ia ditolak, dikucilkan bahkan dibenci oleh orang sejamannya. Hal itu terjadi karena ia memberitakan Firman yang tidak disukai oleh orang berdosa. Itulah yang dialami nabi Allah yang sejati, bukan disanjung-sanjung atau diikuti banyak orang. Intinya, tidak ada nabi yang hidupnya enak dan ia adalah orang yang kesepian dalam jamannya.

Lagipula, dalam Alkitab tidak pernah ada nabi khusus bagi kaum laki-laki/ wanita yang hanya bicara masalah pria/ wanita. Para nabi memberitakan semua Firman Allah baik penghukuman, murka Allah, dosa kepada semua orang baik pria dan wanita. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa seorang nabi dipilih dan dipanggil sendiri oleh Allah. Bahkan seperti
nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis dipilih sejak mereka dalam kandungan. Pertanyaannya : kapan Allah memilih Cole menjadi seorang nabi? The Bible does not say anything about Cole! (Alkitab tidak berkata apa-apa tentang Cole). Adalah kesalahan sekaligus penyesatan mengklaim diri sebagai nabi Allah. Selain nabi-nabi yang disebutkan namanya dalam Alkitab, tidak ada nabi lagi pada jaman ini. Saya berani pastikan bahwa Cole bukanlah nabi Allah pada jaman ini.

Apakah bahaya dari mengklaim diri sebagai nabi Allah? Sebagai konsekwensi dari klaim bahwa dirinya seorang nabi Allah, Cole otomatis jatuh kepada kesalahan fatal lainnya, yaitu beranggapan bahwa Allah masih berfirman dan memberikan wahyu-Nya melalui dirinya. Hal ini akan kita bahas pada bab berikutnya.

 

ED COLE & WAHYU BARU

Mengaku sebagai nabi Allah otomatis akan mengaku menerima wahyu / firman yang baru. Ini adalah konsekwensi logis yang tidak bisa dihindari dan memang inilah yang diajarkan
Cole dalam buku-bukunya. Kesesatan demi kesesatan berlanjut terus dalam buku yang ditulis
Cole. Perhatikan apa yang ia tuliskan ketika ia sedang berada dalam sebuah pesawat terbang
mempersiapkan sebuah kotbah:

“Saya sadar bahwa Roh Allah di dalam diri saya mengilhami dan menuntun pena saya untuk menuliskan sesuatu di dalam buku catatan.” (7)

“Tetapi, di dalam perenungan ini, saya seperti kehilangan kesadaran akan keadaan di sekitar saya. Sesuatu sedang bergolak di dalam roh saya. Saya sadar, hadirat Allah hadir.”(8)
Bahkan dalam prakata edisi revisi buku Kesempurnaan Seorang Pria, ia mengatakan :

“Saya juga telah menambahkan beberapa bab yang tidak hanya menguatkan apa yang telah ditulis pada awalnya, tetapi juga memberikan pewahyuan yang luas dan makna yang lebih dalam pada kebenaran bahwa “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.” (9)

Dalam bukunya Menjadi Pria Sejati, Cole berulang kali membicarakan pentingnya wahyu baru bagi kita. Ia bahkan menghubungkan wahyu yang baru dengan gaya ibadah yang baru pula.

“Orang yang telah menerima wahyu tentang Allah akan mengalami suatu aliran baru dalam dirinya sehingga ia akan memiliki suatu ekspresi rohani yang baru pula, termasuk di dalamnya adalah cara penyembahan yang baru dan pujian yang baru juga.” (10)
Selanjutnya ia mengkritik suatu ibadah yang formal berarti semakin jauh dari wahyu Allah. Pemikiran Cole ini didasarkan kepada relasi antar sesama manusia, semakin akrab manusia maka semakin tidak ada formalitas. Perhatikan apa yang ia katakan berikut ini :

“Dalam hubungan antar manusia, formalitas menjadi pertanda adanya jarak dalam hubungan tersebut, sebab dalam hubungan yang intim tidak terdapat lagi bentukbentuk formalitas. Jadi, semakin formal bentuk penyembahan yang dilakukan, semakin jauh pula jarak antara si penyembah dengan wahyu yang mula-mula diterimanya. Pada titik yang kritis ini orang harus kembali kepada Tuhan untuk mendapatkan wahyu yang baru. Sebab, “firman” yang baru akan mendorong bangkitnya inspirasi baru dan memangkas kecenderungan yang menuju kepada kemerosotan itu.”(11)
Jadi menurut Cole, supaya manusia dapat dekat/intim dengan Allah, maka ibadah harus tidak boleh dalam bentuk yang formal (kaku/ resmi). Ada benarnya, dalam hubungan antar sesama manusia semakin seseorang intim / dekat semakin tidak formal. Kita bisa memanggil langsung nama seseorang, kita bisa masuk rumahnya tanpa permisi, kita bisa ambil makanan dari mejanya tanpa sungkan. Itu sah-sah saja. Pertanyaan saya, bolehkah cara berelasi dengan sesama manusia yang berdosa ini dipakai dan diterapkan kepada Allah yang kudus? bagaimana dengan ibadah Israel sendiri baik ketika di kemah suci (tabernakel) atau bait Allah? Mereka sangat formal, tapi Allah tetap hadir di tengah-tengah mereka. Bagaimana dengan kasus Uza (2 Sam 6) yang memegang tabut Allah supaya tidak jatuh dan rusak, tetapi Allah malah menghukumnya? Uza mati, justru karena melanggar kaidah-kaidah formal yang Allah berikan. Apakah ini berarti semua ibadah dalam sepanjang sejarah gereja yang bersifat formal pasti Allah tidak hadir di dalamnya ? Cole harus belajar teologi penyembahan yang lebih Alkitabiah. Keintiman relasi dengan Allah tidak pernah menjadikan umat-Nya menjadi liar dalam hal ibadah. Bagaimana kita beribadah bukan dilandaskan kepada wahyu baru ataupun selera kita melainkan kepada prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Alkitab.(12)
Selanjutnya, Cole menyatakan bahwa wahyu Allah menggantikan doktrin yang baku. Ini suatu penghinaan terhadap otoritas Alkitab. Cole mengkritik gereja Injili yang menurutnya terlalu kaku memegang doktrin, pengakuan iman dan mengabaikan wahyu dan nubuatan yang baru.
“Doktrin dan kredo menjadi sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat lagi, lalu muncul hasrat untuk mempertahankan kedudukan yang ada. Apabila orang tidak berusaha mencari dan mendapatkan wahyu baru yang akan membuahkan suatu kemajuan…Pada titik ini jugalah kehidupan mulai terasa membosankan…Taktik-taktik manusiawi mulai menggantikan hal-hal yang bersifat nubuatan.”(13)
Dan lucunya, Cole memberikan beberapa kritikan tajam kepada pembacanya dan juga kaum Ortodoks / Injili yang percaya bahwa Allah sudah berhenti berfirman:
“Apabila anda berpuas diri dengan wahyu yang lama tanpa pernah mau mencari atau menerima wahyu yang baru, inspirasi anda pun akan terhenti, mengeras dan menjadi bentuk institusional yang kaku – selanjutnya anda akan menjadi manusia yang ‘mengkristal’.”(14)
“Apabila orang menolak wahyu yang baru, maka ia akan terjerumus ke dalam proses kristalisasi. Padahal, Tuhan adalah Allah yang tidak mengenal kemandekan. Dia terus menerus menyatakan diri-Nya untuk memulihkan segala sesuatu sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya.”(15)
“Orang semacam ini lalu akan meredakan perasaan bersalahnya dengan membenarkan dirinya sendiri, yaitu dengan cara mencemooh gelombang lawatan Roh Allah dan penyingkapan wahyu-Nya yang baru.”(16)
“Oleh karena itu, sebelum dihancurkan Allah, orang-orang semacam ini sebenarnya lebih baik merendahkan diri di hadapan Allah, bertobat, dan meminta wahyu baru dari Allah, sehingga sukacita ilahi itu akan mengisi kehidupan mereka lagi dan hubungan yang benar dengan Allah dapat terjalin kembali dengan baik.”(17)
“Allah menyediakan wahyu bagi anda!”(18)
Jelas dari kalimat ini Cole anti dengan doktrin dan pengakuan iman yang selama ini dipegang dan diajarkan oleh gereja-gereja Injili/Ortodoks. Dengan statement ini Cole merendahkan otoritas Alkitab yang adalah satu-satunya wahyu Allah tertulis bagi kita. Ia lebih suka menerima wahyu baru daripada menerima Alkitab sebagai otoritas dalam pengajarannya.
Ini bertentangan dengan prinsip Sola Scriptura. Dalam Belgic Confession, salah satu pengakuan iman Reformed yang penting pada artikel 7 tentang The Sufficiency of Scripture, dikatakan: ”for since it is forbidden to add to substract from the Word of God (sebab itu dilarang menambahkan atau mengurangi Firman Allah).”(19) Hal ini tidak mengherankan sebab ketika anda membaca doktrin-doktrin yang diajarkan Cole, anda akan menemukan penyimpangan bahkan penyesatan karena ia tidak mau terikat kepada doktrin dan pengakuan iman yang dianggapnya baku (kaku).
Statement di atas menunjukan betapa dangkalnya cara berpikir Cole. Ia tidak memahami sejarah gereja dengan baik mengapa muncul doktrin dan apa pentingnya doktrin dan pengakuan iman dalam sepanjang sejarah gereja. Tanpa doktrin/ pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul gereja tidak akan berdiri di dunia ini. Tanpa pengakuaan iman yang dibuat bapak-bapak gereja, gereja akan melenceng dari doktrin yang asali. Mengenai pentingnya Alkitab / doktrin dan pengakuan iman, perhatikan kalimat yang dikatakan Alister McGrath dalam bukunya The Genesis of Doctrine berikut ini :

“Henry Scott Holland summarized the situation with admirable clarity : we cannot now, in full view of the facts, believe in Christ, without finding that our belief includes the Bible and the Creeds.”(20)
(Henry Scott Holland meringkas suatu situasi / permasalahan dengan kalimat yang jelas : berdasarkan fakta-fakta yang ada, kita tidak dapat percaya kepada Kristus, tanpa menemukan bahwa keyakinan iman kita juga termasuk Alkitab dan pengakuan-pengakuan iman).
Perlu anda ketahui bahwa pemikiran Cole yang anti kepada doktrin dan pengakuan iman ini jelas bukan cara berpikir teologi Reformed / Injili. Tidak ada gereja Reformed atau Injili yang anti dengan doktrin yang benar dan pengakuan iman. Doktrin dan pengakuan iman adalah pondasi gereja yang tidak boleh dirubah, karena merubah doktrin berarti membongkar kekristenan itu sendiri.
Terakhir, Cole juga menghubungkan wahyu baru dengan pertumbuhan kerohanian seseorang.

“Tidaklah salah apabila manusia begitu menggebu-gebu dan bersemangat akibat pertobatan yang baru dialaminya. Wajar juga bila seseorang sangat tergetar oleh kemenangan rohani yang diperolehnya. Tetapi, semuanya itu hendaknya tidak membuat manusia lupa untuk kembali kepada Allah guna mendapatkan lagi wahyu yang baru.”(21)
Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa pertumbuhan rohani seseorang didapat dari wahyu yang baru, melainkan kembali kepada Firman Allah yang sudah lengkap. Dalam peristiwa Pentakosta, dimana ada 3000 jiwa yang bertobat, tidak pernah dikatakan orang yang bertobat diperintahkan untuk mencari wahyu baru sebaliknya:
Kis 2:42, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
Sepanjang bab 9 dalam bukunya Menjadi Pria Sejati, Cole memakai istilah-istilah “wahyu”, “inspirasi” dengan tidak bertanggung jawab. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Cole sendiri tidak memahami iman Kristen dengan baik. Ia berbicara panjang lebar tentang wahyu dengan pemahaman yang salah total sehingga menghasilkan tulisan yang juga menyesatkan pembacanya. Dalam penjelasannya tentang Alkitab, Cole hanya menyinggung isi Alkitab tanpa menegaskan hakekat Alkitab itu sendiri. Dengan kata lain Cole tidak pernah menyatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang sudah selesai diwahyukan. Inilah pengertian Cole tentang apa itu Alkitab :
“Alkitab adalah sebuah kitab sejarah, puisi, amsal, silsilah, hukum, nubuatan, pengajaran dan riwayat hidup. Salib merupakan topik utama dari Alkitab. Dalam Perjanjian Lama ada taurat, sejarah, puisi dan nabi-nabi. Dalam Perjanjian Baru ada Injil, sejarah, surat para rasul dan Wahyu.”(22)

Cole juga lupa bahwa tidak setiap saat Allah memberikan wahyu-Nya. Pada masa intertestamental (masa antara PL – PB) Allah tidak berfirman 400 tahun lamanya. Jika Allah bisa berhenti berfirman pada masa itu, mengapa Allah tidak bisa berhenti berfirman pada saat ini ketika Alkitab sudah menjadi kanon dan lengkap?

 

PENOLONG YANG LAIN a la COLE

Dengan memerankan diri sebagai nabi maka jangan heran Cole merasa mendapat pimpinan ‘langsung’ dari Roh Kudus. Berulang kali ia menyatakan pimpinan Roh Kudus yang berbeda dengan kebanyakan orang lain. Perkataan Cole dalam bukunya ini, kembali mengingatkan saya kepada Montanus, bapak gereja yang sesat yang terus menerus mendapatkan pimpinan bahkan wahyu secara khusus dari Roh Kudus. Ini seperti efek domino, ketika seseorang menganggap diri sebagai nabi, ia akan merasakan pimpinan Roh Kudus berbeda dari orang lain. Inilah yang Cole katakan:
“…saya merasakan Roh Kudus membisikkan kepada saya untuk juga menjangkau orang lain. Menyatakan perintah Allah kepada bangsa-bangsa lain, kepada setiap orang yang percaya dan yang belum percaya di mana pun mereka berada, dikotakota, di desa-desa dan di dalam persekutun-persekutuan.”(23)
Tetapi, Roh Kudus melangkah masuk, dengan tenang, dan hening, Ia membisikkan sebuah kalimat di dalam hati saya: “Bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.”(24)
“Sebagaimana mereka berdoa, makin tampaklah bahwa yang berbicara adalah Roh Kudus – dan saya menerima pesan tersebut sebagai tujuan yang Allah berikan kepada saya.”(25)
Dengan apa yang ia katakan ini sebenarnya Cole telah melecehkan kehadiran Alkitab. Memang dalam PL khususnya, Allah berbicara langsung kepada nabi-Nya. Namun itu sebelum Alkitab dikanonkan. Setelah Alkitab menjadi kanon, Roh Kudus bekerja dan berbicara melalui Firman. Roh Kudus dan Firman tidak bisa dipisahkan.

“For Calvin, Word and Spirit belong inseparably together. The Spirit does not witness apart from the Word ; The Word without the work of the Spirit has no power or efficacy.”(26)

(Bagi Calvin, Firman dan Roh Kudus tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Roh Kudus tidak bersaksi terpisah dari Firman. Firman tanpa pekerjaan Roh Kudus tidak memiliki kuasa atau efektifitas).
Mengapa para reformator menghubungkan Roh Kudus dan Firman dalam pemikiran mereka? Karena mereka sudah melihat gejala seperti ini di dalam jaman mereka.
“On the other hand, some of calvin’s contemporaries, ‘fanatics’ he called them were so enamoured of the Spirit that they saw little need for the written Word. Hence, “these rascal tear apart those things which the prophet joined together with an inviolable bond” (Inst. 1.9.1).(27)
(Pada sisi yang lain, beberapa orang sejaman Calvin yang ia panggil ‘fanatik’ sangat tergila-gila dengan Roh Kudus sehingga mereka tidak terlalu membutuhkan Firman. Mereka ini merusak apa yang dipersatukan oleh para nabi dengan ikatan yang seharusnya tidak boleh dirusak (Inst 1.9.1)).


Bukan itu saja, Cole dengan jelas menyetujui bahwa fenomena-fenomena dalam ibadah yang ecstatic adalah lawatan Roh Kudus. Ia berkata:
“Dengan gerakan yang tiba-tiba, tangan beberapa pria terangkat ke atas, dan mereka mulai menangis dan menjerit di dalam pujian dan penyembahan kepada Allah. Roh Kudus melawat kapel yang terletak di daerah pegunungan itu…”(28)
Cole menunjukkan konsistensinya bahwa ibadah yang benar harus berdasarkan kepada wahyu yang baru. Inilah yang disebut ibadah yang intim dengan Allah. Seperti yang saya telah jelaskan diatas, rupanya ini telah menjadi suatu trend dalam camp pria sejati. Anda seharusnya bisa menilai sendiri apa yang salah dengan ibadah seperti ini. Cole melanjutkan pengalamannya dengan Roh Kudus dalam pristiwa lainnya.
“Suatu ketika saya sedang melayani seorang pendeta di Chicago, tiba-tiba Roh Kudus mengambil alih ‘saat-saat Allah’ itu.”(29)
“Bertahun-tahun kemudian Tuhan kembali menyampaikan firman-Nya secara khusus kepada saya. Ketika itu saya sedang berpuasa dan seperti biasa, pagi itu saya juga berjalan-jalan menyusuri pantai seorang diri di tengah-tengah udara yang masih terasa begitu dingin dan berkabut. Saya kemudian berseru kepada Allah dan Roh-Nya menyampaikan kelima “firman” ini kepada roh saya: “Kuduskanlah dirimu. Beritakanlah firman Tuhan. Jangan ragu akan apapun. Gunakanlah emas, namun jangan jamah kemuliaannya. Naikanlah doa yang terdapat dalam Kis 4:24.”(30)
“Ketika akhirnya saya merenungkan kejadian itu, saya mendengar suara lembut Roh Kudus berbicara dalam hati dan pikiran saya dan menyampaikan perkataan Yesus.”(31)
Dalam pembicaraannya tentang Roh Kudus, kita melihat bahwa Cole selalu memahami relasinya dengan Roh Kudus dengan cara yang berbau prophetic (kenabian). Ia seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dirinya begitu istimewa. Terus menerus mendapat wahyu/firman yang baru. Sekali lagi saya tegaskan bahwa Allah bekerja dengan cara yang berbeda sebelum dan sesudah Alkitab selesai dituliskan. Memang kepada para nabi dan rasul, Roh Kudus menuntun mereka secara langsung (misal : Kis 16:6). Tetapi harus diingat bahwa Cole bukanlah nabi ataupun rasul. Sebaliknya, dalam Alkitab juga begitu banyak peringatan kepada orang-orang yang merasa mendapat firman/wahyu dari Allah padahal sebenarnya tidak. (32)

Yeremia 23:21, “Aku tidak mengutus para nabi itu, namun mereka giat; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat.”
Yeremia 14:14 Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.”
Maka orang Kristen sejati harus memiliki kewaspadaan terhadap nabi palsu yang senang mengkalim diri bahwa Roh Kudus berfirman kepadanya. Berhati-hatilah kepada orang seperti ini.

 

BUKAN YESUS YANG KUKENAL

Dalam bukunya Cole berbicara banyak tentang pribadi Yesus. Cole percaya bahwa Yesus Allah-manusia, misalnya dalam kalimat berikut ini:

“Kenyataan tersebut menghadapkan kita pada suatu pertanyaan yang telah digumuli umat manusia sejak dua ribu tahun silam. Bagaimana kita dapat menghampiri Allah-manusia, Yesus Kristus ini?”(33)
“Dia datang sebagai Anak Allah dan Anak Manusia- ketuhanan yang sempurna dan kemanusiaan yang sempurna bersatu dalam Pribadi Kedua dari Tritunggal. Allah yang sejati dan manusia yang sejati.”(34)
Kalimat diatas tidak ada masalah, karena sesuai dengan pengakuan iman Chalcedon, pribadi Yesus Kristus memang memiliki dua sifat yaitu ilahi dan manusia. Namun kita jangan berhenti hanya kepada kalimat ini saja, dalam aplikasi dan penerapannya Cole selalu menghubungkan Yesus Kristus dengan pemahaman pria sejati secara sangat naïf, misalnya dalam kalimat-kalimat seperti berikut:
“Saya berhenti berbicara dan memberi kesempatan bagi pria yang belum pernah mengambil keputusan untuk menjadi “pria sejati” agar maju dan menyatakan sikap mereka. Sewaktu ratusan pria beringsut maju ke depan, pria-pria yang lain bersorak gemuruh, “Yesus, Yesus, Yesus!”(35)
“Dia adalah “Pria yang sejati”. Oleh karena itu, setiap pria yang menemukan dan mengidentifikasikan dirinya dengan Kristus akan merasa benar-benar mantap juga dengan citra dirinya. Dan, selanjutnya Kristus akan membentuk mereka kembali agar sesuai dengan gambar-Nya yang sempurna itu.”(36)
Hanya karena seseorang maju dan bertobat, ia disamakan seperti Yesus? Dan herannya Cole bangga dengan teriakan-teriakan seperti ini. Adakah di dalam Alkitab orang berdosa yang bertobat lalu disamakan/menyamakan dirinya dengan Tuhan Yesus? Yang ada justru kebalikannya:
Lukas 18:13, “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Lukas 5:8, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Jelas dalam pristiwa yang dibanggakan Cole ini tidak menghormati pribadi Yesus Kristus.(37) Tidak ada nabi / rasul dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa orang yang bertobat diidentifikasi seperti Yesus. Apa yang dibangga-banggakan Cole dengan KKRnya pada saat yang sama sangat melecehkan pribadi Kristus. Demikian pula apa betul setiap orang yang menyamakan dirinya dengan Kristus otomatis jadi pria sejati? Anehnya Tuhan Yesus justru malah mengingatkan agar kita hati-hati dengan orang yang menyamakan dirinya dengan Dia.
Matius 24:23, “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.”
Matius 24:26, “Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya.”
Ini adalah peringatan terhadap mesias-mesias palsu. Mereka adalah orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan Kristus. Jika Cole benar bahwa setiap pria yang mengidentifikasikan diri mereka dengan Yesus otomatis jadi pria sejati, maka David Koresh adalah pria yang paling sejati, sebab ia menganggap dirinya adalah jelmaan Yesus Kristus.

Pada kesempatan yang lain Cole percaya bahwa kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Ia mengatakan:

“Itu sebabnya Yesus harus mati untuk menebus dosa-dosa kita, karena kita tidak mungkin menyucikan diri kita sendiri.”(38)

“Untuk menggenapi kehendak Allah, Kristus rela menanggung dosa seluruh dunia di Bukit Kalvari…Dia memikul tanggung jawab atas perbuatan orang-orang yang paling cemar dan tercela, menanggung kesalahan dan aib mereka, dan menanggung hukuman yang seharusnya menimpa mereka, padahal Dia sama sekali tidak berdosa dan tidak bersalah.”(39)

Namun, siapa Yesus yang mati menebus dosa kita ini? Seperti yang telah saya katakan diatas, Cole tidak mau terikat kepada doktrin dan pengakuan iman, maka Yesus yang Cole tuliskan dalam bukunya ini jelas bukan pribadi kedua Allah Tritunggal. Buktinya apa?

Pertama, Cole berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah ciptaan.
“Para pria tersebut tiba-tiba menyadari bahwa menjadi pria sejati artinya adalah menjadi seperti Yesus, satu-satunya Pria yang pernah hidup tepat sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah dalam menciptakan diri-Nya.”(40)
“Yesus datang ke dunia sebagai perwujudan gambar Allah. Dia mengetahui dalam citra Siapa diri-Nya diciptakan, serta Siapa yang diwakili-Nya di bumi ini.”(41)

Kedua, betulkah Yesus yang dikatakan Cole tidak berdosa? Kalau memang demikian, mengapa Yesus perlu mengalami kelahiran baru? Perhatikan apa yang ia katakan tentang Yesus:
“Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan cara manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus.”(42)
Bukan saja Tuhan Yesus perlu dilahir-barukan, Yesus Kristus juga perlu pengampunan. Ini yang dikatakan Cole:
“Ini adalah bagian yang maksimal dari kepriaan anda. Memberi dan menerima pengampunan adalah tindakan yang menyerupai Kristus.”(43)
Pertanyaan saya kepada Cole, kapan Tuhan Yesus menerima pengampunan? Prinsip ini secara tidak langsung mengatakan bahwa Yesus bisa berdosa/ bersalah dan membutuhkan pengampunan. Ajaran dari mana yang menyatakan Kristus seperti ini?
Meskipun Cole berbicara panjang lebar tentang pribadi Yesus, Kristologi Cole memiliki kesalahan yang sangat fundamental bahkan menyesatkan. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan, Ia adalah Allah yang sama kekal, sama kuasa dengan Allah Bapa. Ia adalah pencipta bukan ciptaan seperti yang dikatakan Cole.
Kolose 1:16, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ibrani 1:2, “maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
Yohanes 1:3, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Alkitab juga tidak pernah mengajarkan bahwa Yesus harus mengalami kelahiran baru seperti kita. Justru sebaliknya, Yesuslah yang mengajarkan doktrin kelahiran baru (Yoh 3). Bila Yesus harus mengalami kelahiran baru seperti kita, maka Yesus versi Cole adalah Yesus yang bisa berdosa dan ini bukan Yesus yang kita kenal. Inilah konsekwensinya bila Cole berpendapat bahwa doktrin dan pengakuan iman yang selama ini dipegang gereja sepanjang jaman dianggap terlalu kaku. Dalam hal ini tidak berlebihan apa yang Cole ajarkan tentang Kristus dalam bukunya ini mirip dengan ajaran Saksi Jehovah. Saksi Jehovah mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan dan mengalami kelahiran baru (menjadi allah) saat Ia dibaptis. Apa bedanya?

 

TRITUNGGAL YANG ANEH

Cole berbicara tentang doktrin Tritunggal walaupun hanya singkat. Namun seperti biasanya, ketika berbicara tentang doktrin, ajaran Cole patut dipertanyakan.

“Para teolog menjelaskan tentang kedudukan Allah, Anak dan Roh Kudus dalam Tritunggal Allah, sebagai berikut: Anak = Visioner (pemegang visi), Roh Kudus = Administrator (pengelola), Bapa = Penguasa.”(44)
Pertama, siapa yang dimaksud oleh Cole dengan ‘para teolog’ dalam statement ini? Sebagai penulis ketika ia mengutip perkataan seseorang ia harus menuliskan sumbernya dengan jelas. Ini adalah suatu pertanggung jawaban akademis. Apa yang Cole maksudkan dengan Anak=visioner? Roh Kudus = Administrator dan Bapa = penguasa? Ia sama sekali tidak  memberikan penjelasan apa-apa. Lagipula sejauh saya mempelajari Tritunggal tidak ada teolog siapapun yang mengajarkan Tritunggal seperti ini selain Cole. Dimana ayat-ayat yang mengajarkan doktrin Tritunggal seperti ini? Jangan-jangan ini karangan Cole sendiri.

Pembahasan tentang Tritunggal adalah sesuatu yang rumit yang tidak mungkin bisa dijelaskan secara tuntas dalam makalah ini. Secara umum, para teolog Reformed dan bapak-bapak gereja membagi Allah Tritunggal menjadi 2 pemikiran: Immanent Trinity (ad intra), yaitu relasi diantara masing-masing pribadi Tritunggal terlepas dari dunia ciptaan. Yang kedua adalah Economic Trinty (ad extra) yaitu apa yang Allah Tritunggal kerjakan dalam dunia ciptaan-Nya (penciptaan, keselamatan, wahyu, dsb). Dari semua pemikiran Allah Tritunggal dalam sepanjang sejarah gereja tidak ada satupun yang berpikiran seperti Cole. Bandingkan dengan pemikiran Gregory of Nyssa yang mewakili pandangan gereja secara umum:

“Gregory of Nyssa ’s parsing still makes good sense: “Every operation which extends from God to the creation . . .has its origin from the Father, proceeds through the Son, and is perfected in the Holy Spirit”.(45)

(Kalimat Gregory dari Nyssa masih masuk akal : setiap hal yang dikerjakan Allah dalam kaitannya dengan penciptaan … memiliki asal dari Bapa, diteruskan melalui Anak dan disempurnakan dalam Roh Kudus.)

Ini juga menunjukkan bahwa Cole tidak memahami doktrin yang begitu penting ini dengan komprehensif.

 

DOSA & PENGAMPUNAN VERSI ED COLE

Cole banyak berbicara tentang dosa dan pengampunan dalam buku Kesempurnaan Seorang Pria. Mari kita kaji apa yang ia ajarkan tentang dosa dan pengampunan. Hal pertama yang cukup mengejutkan kita adalah Cole tidak percaya dosa asal/ turunan (original sin). Ini tulisannya:
“Dosa tidak memiliki sifat turun-temurun.”(46)
Suatu kalimat yang singkat tetapi sangat menyesatkan & berbahaya. Sepanjang sejarah gereja, gereja yang ortodoks semua percaya bahwa dosa Adam diwariskan / diturunkan kepada setiap manusia yang pernah lahir kedalam dunia ini. Hanya bidat seperti Pelagianisme yang mengajarkan bahwa manusia dilahirkan tanpa dosa asal, manusia baik dan suci pada dasarnya. Bidat lainnya bagi saya adalah Cole sendiri.
Pengakuan iman Westminster yang juga adalah salah satu pengakuan iman resmi gereja-gereja Reformed mengatakan hal yang sebaliknya dari Cole. Pada bab 6 tentang kejatuhan
manusia dalam dosa dikatakan :

“They being the root of all mankind, the guilt of this sin was imputed, and the same death in sin and corrupted nature conveyed to all their posterity, descending from them by ordinary generation.”(47)
(Mereka/ Adam & Hawa adalah nenek moyang semua manusia, dosa ini ditularkan, dan kematian dalam dosa serta nature yang tercemar dosa di teruskan kepada keturunan mereka, ditularkan dari mereka melalui kelahiran).
Alkitab dengan tegas mengatakan dalam Mazmur 51:5 bahwa sejak dalam kandungan kita sudah berdosa dan mewarisi dosa. “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Demikian pula Paulus dalam Roma 5:12 berbicara dengan jelas bahwa dosa Adam itu diwariskan kepada setiap manusia.
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”
Alkitab berkata bahwa hanya Tuhan Yesus yang tidak tercemar dosa asal ini. Jika Cole menolak doktrin original sin, bagaimana ia menjelaskan sifat dosa yang ada dalam diri manusia? Dan untuk apa Tuhan Yesus mengharuskan kita dilahir-barukan kembali untuk masuk kerajaan surga? Yang lebih serius, untuk apa Tuhan Yesus mati menebus dosa manusia?
Pemahaman Cole tentang pengampunan dosa juga patut dipertanyakan secara exegesis. Ia mendefinisikan pengampunan dengan pemikiran yang non-Alkitabiah:
“Bila anda tidak memaafkan dosa yang sudah diperbuat oleh seseorang terhadap anda, sesungguhnya anda sedang menanggung dosa tersebut; menahannya. Akibatnya anda akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama terhadap orang lain.”(48)
Cole mengatakan kalimat seperti ini, tapi tidak memberikan dasar ayatnya. Mengapa? Karena memang tidak ada ajaran seperti ini di dalam Alkitab! Ini adalah doktrin ciptaan Cole sendiri. Ajaran ini sama sekali tidak mendorong orang untuk mengampuni, malahan bisa menjadikan si korban yang menanggung dosa pelaku. Untuk memahami logika berpikir Cole, perhatikan contoh kasus sederhana ini. Misalnya : Amir mencuri uang Agus, tetapi Agus
(korban) tidak mau memaafkan Amir (pelaku). Menurut Cole yang menanggung dosa pencurian bukan Amir tapi Agus, karena Agus tidak mau memaafkan Amir. Jadi ujung-ujungnya Agus (korban) benar-benar kasihan hidupnya. Ia sudah kehilangan uang, berdosa karena tidak mau mengampuni dan ditambah lagi menanggung dosanya Amir, karena ia tidak mau mengampuni. Anda bingung? (kalau anda bingung berarti anda normal). Dan lebih anehnya lagi, karena Agus tidak mau memaafkan Amir, ia akan tertular jadi pencuri seperti orang yang tidak mau ia ampuni (Amir). Sungguh ajaran yang anehnya luar biasa!
Alkitab dalam terang teologi Reformed mengajarkan hanya ada tiga imputation (pelimpahan). Imputation Pertama adalah dosa Adam kepada keturunannya. Imputation kedua adalah dosa kita ditanggung Yesus Kristus dan imputation ketiga adalah kebenaran Kristus diberikan kepada kita yang percaya kepada Dia (justification by faith). Tidak ada ajaran dalam Alkitab tentang dosa dan pengampunan seperti yang Cole ajarkan dalam bukunya ini. Cole benar-benar mendapat ‘wahyu’ baru.

 

SIAPAKAH MANUSIA ?

Dalam bukunya Menjadi Pria Sejati, Cole menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan keserupaan moral Allah. Menurut Cole, Allah memperlengkapi kita dengan lima kemampuan yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus. Untuk lebih lengkapnya, ia menuliskan demikian:

“Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar dan keserupaan moral-Nya, Dia memperlengkapi kita dengan lima kemampuan yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus. Dengan demikian Allah telah mencurahkan sebagian keunggulan sorga ke bumi ini. Kelima kemampuan itu adalah:
(1). Kemampuan untuk mengetahui kebenaran

(2). Kemampuan untuk mengenali keutamaan moral

(3). Kekuatan untuk melakukan kehendak kita

(4). Daya cipta melalui perkataan kita

(5). Hak dan kemampuan untuk berkembang biak.”(49)

Sepintas lalu tidak ada yang salah dengan kalimat ini. Namun perhatikan baik-baik poin yang ke-4. Cole mengajarkan bahwa manusia diberi kemampuan untuk mencipta melalui perkataannya. Kapan Allah memberikan kemampuan ini kepada manusia? Di mana ajaran Alkitab yang mengatakan demikian? Manusia memang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi Allah tidak pernah memberikan kemampuan mencipta melalui perkataan.

Dalam seluruh Alkitab hanya Allah sendiri yang mencipta melalui kuasa firman (perkataan), lihat kejadian pasal 1. Bahkan ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak memakai perkataan-Nya melainkan ia memakai debu tanah. Demikian juga ketika Allah menciptakan Hawa, Ia memakai media tulang. Yang terjadi dalam taman Eden adalah Allah memerintahkan manusia untuk bekerja dan mengelola taman tersebut (Kej 2:15). Manusia harus bekerja untuk mencipta bukan berfirman untuk mencipta! Cole dalam poin ini ingin menyamakan kemampuan manusia dengan Allah, sesuatu dosa yang dilakukan Adam dan Hawa dan sekaligus dosa yang dibenci Allah. Dalam Mazmur 8, Daud hanya mengatakan bahwa manusia itu diciptakan mirip dengan Allah, inilah artinya peta dan teladan Allah. Daud tetap menyadari perbedaan antara ciptaaan (dirinya) dengan pencipta (Allah). Bahkan selama Tuhan Yesus berinkarnasi dalam daging, Ia tidak pernah memakai kuasa kata-kataNya untuk menciptakan sesuatu secara Ex-Nihilo (dari tidak ada menjadi ada).
Tidak berhenti dengan pemikiran di atas, Cole kembali menjunjung status manusia secara berlebihan yang tidak diajarkan dalam Alkitab.

“Anda harus dapat menjadi wahyu Allah yang dinyatakan bagi orang-orang tersebut. Sebagaimana dahulu Yesus menjadi wahyu Allah yang dinyatakan di atas bumi, demikian pula kaum pria harus berdiri mewakili Kristus dan menjadi wahyu Allah bagi sesamanya.”(50)
Sepertinya kalimat yang indah, namun salahnya luar biasa. Sejak manusia pertama diciptakan di taman Eden hingga dicipta ulang dalam Kristus Yesus, Alkitab tidak pernah menjadikan manusia sebagai wahyu Allah. Manusia bukan wahyu Allah, manusia justru membutuhkan wahyu Allah baik secara umum (ciptaan,alam semesta, dll) maupun wahyu secara khusus (Alkitab dan Tuhan Yesus). Melalui wahyu inilah manusia mengenal Allah. Terlebih lagi Alkitab tidak pernah memerintahkan kita menjadi wakil Tuhan Yesus sebagai wahyu Allah di bumi. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa menjadi wakil Yesus Kristus yang tidak berdosa?
Perhatikan apa yang dikatakan seorang teolog Reformed Cornelius Van Til tentang relasi manusia dan wahyu Allah: “ All of God’s revelation to man is law to man (semua wahyu Allah kepada manusia adalah hukum bagi manusia).(51) Jika wahyu Allah menjadi hukum bagi manusia, bagaimanakah manusia menjadi wahyu itu sendiri? Itu sesuatu yang tidak masuk akal.

Yang benar adalah Kristus datang ke dunia justru menjadi wakil umat pilihan Allah, bukan sebaliknya. Ia tidak perlu diwakilkan siapa-siapa. Siapakah kaum pria sehingga berhak dan layak mewakili Yesus? Jika Kristus perlu diwakilkan manusia, berarti Yesus Kristus tidak sempurna, tidak maha kuasa, tidak berotoritas dan ini berarti manusia lebih hebat dari Kristus. Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan Ia perlu diwakilkan sebagai wahyu Allah. Tuhan Yesus hanya mengatakan “kamu akan menjadi saksiKu” (Kis 1:8), “kamu adalah terang dunia”, “kamu adalah garam dunia” (Mat 5:12-13). Ini menunjukkan sekali lagi pemikiran Cole yang tidak utuh tentang kebenaran Firman Allah mengenai siapa manusia itu.

Masih belum puas dengan kedua hal diatas, kembali Cole mengatakan bahwa melalui kelahiran baru, manusia akan memiliki sifat/ kodrat ilahi. Ini suatu hal yang tidak pernah Alkitab ajarkan. Manusia memang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya tetapi Allah tidak pernah menjadikan manusia memiliki sifat ilahi pada dirinya.

“Manusia terlahir dari daging dan tidak memiliki kodrat ilahi melalui kelahiran alami. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3:3). Dia mengajarkan bahwa Allah adalah Roh, dan oleh karena itu untuk dapat menerima kodrat Allah, kita harus dilahirkan dari Roh-Nya sebagaimana kita dilahirkan dari daging. Ketika Roh Kristus masuk ke dalam kehidupan seorang manusia, terjadilah suatu “kelahiran”, karena dengan cara itu manusia dibuat hidup di dalam Roh.”(52)

Mungkin Alkitabnya Cole berbeda dengan Alkitab kita. Oleh karena dalam Yohanes 3 ketika Tuhan Yesus berbicara dengan Nicodemus, Tuhan Yesus tidak berbicara manusia akan menerima kodrat/ sifat ilahi kalau ia dilahir-barukan, melainkan manusia harus dilahir-barukan supaya ia dapat masuk kerajaan Allah. Ini perkataan Alkitab yang sebenarnya:
Yohanes 3:5, Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan:
Yohanes 3:5, Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak memperoleh kodrat/sifat ilahi.”
Ini dua kalimat yang sama sekali berbeda artinya. Cole tidak memahami arti lahir baru yang sebenarnya. Kelahiran baru tidak pernah merubah hakekat manusia menjadi/ memiliki sifat ilahi. Jadi apa yang dimaksudkan dengan kelahiran baru itu ? Teologi Reformed memahami kelahiran baru sebagai karya Roh Kudus, di mana Ia menanamkan benih kehidupan rohani yang baru dalam kehendak, ratio, dan emosi manusia, sehingga ia dihidupkan secara rohani. Louis Berkhof mendefinisikannya sebagai berikut:

“Regeneration is that act of God by which the principle of the new life is implanted in man, and the governing disposition of the soul is made holy.” (53)

(Kelahiran baru adalah tindakan Allah dimana prinsip hidup baru ditanamkan pada manusia, dan kecenderungan hati manusia dijadikan kudus).
Pada buku yang sama, Berkhof menegaskan kembali apa yang saya katakan bahwa kelahiran baru tidak merubah hakekat manusia: “regeneration is not a change in the substance of  human nature (Kelahiran baru bukanlah perubahan substansi/hakekat natur manusia).(54) Dengan mengganti-ganti ayat semau dirinya, Cole tidak sadar sudah mengajarkan kesesatan baru dalam ajarannya.
Lalu apa maksud Petrus dalam 2 Pet 1:4 ketika ia mengatakan “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”?(55) Kata “mengambil bagian” (NIV: participate) dalam bahasa Yunaninya adalah koinwnoi (koinonoi) yang bisa diartikan partner, companion, sharer. Apa yang Petrus katakan dalam suratnya ini sama sekali tidak mengajarkan bahwa manusia setelah percaya memiliki sifat ilahi pada dirinya (deification). Konteks ayat ini berbicara bahwa manusia yang berdosa telah dipanggil oleh kuasa-Nya yang mulia dan dan ajaib (ay 3) serta diberikan janji yang berharga dan sangat besar (ay 4). Semuanya itulah yang memungkinkan orang berdosa bersekutu (koinonoi) dengan Allah dalam kebenaran dan kekudusan dan pengenalan yang benar. Inilah yang Petrus maksudkan ketika ia berbicara “kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Sesuatu yang dulunya kita tidak miliki sekarang kita peroleh melalui Kristus. Tidak ada indikasi apapun dalam ayat ini Petrus mengajarkan perubahan hakekat manusia sehingga memiliki sifat ilahi, seperti yang Cole ajarkan. Richard Bauckham misalnya, hanya menafsirkan ayat ini: “To share in divine nature is to become immortal and incorruptible.”(56) (berbagian dalam sifat ilahi adalah menjadi immortal dan incorruptible). Sedangkan Kevin VanHoozer menafsirkan ayat ini lebih menekankan kepada persekutuan dengan Allah Tritunggal dalam konteks Covenant (perjanjian):
“The focus is on the communicative union – fellowship, not fusion – brought into being by triune dialogical action oriented to covenantal relation.”(57)
(Fokusnya adalah persatuan komunikasi – suatu persekutuan, bukan peleburan – yang diberikan kepada manusia oleh Allah Tritunggal dalam suatu relasi perjanjian).
Teologi Reformed sangat menekankan perbedaan yang hakiki antara pencipta dan ciptaan. Maka harus kita tegaskan sekali lagi bahwa dalam seluruh Alkitab tidak pernah ada ajaran mengilahkan manusia (deification). Ini bukan ajaran iman Kristen. Let God be God, let man be man!


DOA DAN KETAATAN : SINERGI ATAU OPOSISI ?

Cole dalam tulisannya mempertentangkan doa dan ketaatan. Hal ini nampak dari kalimat berikut ini:

Satu ton doa tidak akan pernah menghasilkan satu ons keinginan untuk hidup taat. Setelah anda mengucapkan semua doa anda, bila anda tidak taat, anda sedang menyangkal doa-doa anda itu. Percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman.”(58)
Ini ajaran yang cukup menyesatkan, sebab dalam Alkitab doa dan ketaatan bukan untuk dipertentangkan. Bagaimana Cole begitu yakin bahwa “satu ton” doa tidak akan menghasilkan ketaatan? Bagaimana seseorang bisa taat kalau ia tidak berdoa? Suatu ajaran yang konyol dengan mengatakan bahwa doa tidak akan menghasilkan ketaatan. Cole dalam statement ini sangat meremehkan kekuatan doa dan ia tidak mengerti untuk apa kita berdoa. Kita berdoa justru menyerahkan kehendak kita di dalam ketaatan kepada Allah. Tuhan Yesus sudah membuktikan keduanya tidak bisa dipisahkan. Oleh karena Tuhan Yesus berdoa, Ia mendapatkan kekuatan berjalan ke kalvari (Mat 26:42). Hana berdoa meminta seorang anak kepada Allah dan ia berjanji untuk mempersembahkan anak itu kembali kepada Allah (1 Sam ). Hana berdoa dan dalam doanya menghasilkan ketaatan. Dalam kitab Ezra 9, nabi Ezra berdoa bagi bangsa Israel dan diikuti dengan suatu pertobatan dan ketaatan. Terlalu banyak ayat dalam Alkitab yang menghubungkan doa dan ketaatan. Ajaran Cole tidak Alkitabiah dan Cole perlu lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab agar lebih memahami tentang relasi doa dan ketaatan.

HERMENEUTICS YANG PERLU DIPERTANYAKAN

Cole dalam buku-bukunya sering memakai cerita-cerita Alkitab dan mencuplik ayat-ayat, tetapi cara ia menafsirkan tidak menunjukkan bahwa ia seorang yang mengerti hermeneutics yang bertanggung jawab.
1. Cole melakukan penafsiran yang allegory.

Tafsiran dengan cara allegory adalah tafsiran yang tidak berdasarkan konteks history maupun exegesis yang baik, melainkan lebih didasarkan kepada subyektifitas penafsirnya. Sehingga hasilnya adalah ayat dicocok-cocokan dengan kemauan Cole sendiri.

Dalam bukunya Kesempurnaan Seorang Pria bab 1, Cole berbicara tentang Tanah Perjanjian (the promise land) yang Allah hendak berikan kepada bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir. Tiba-tiba ia berpindah topik bahwa tanah kanaan ini adalah tanah kanaan rohani bagi kaum pria.
“Sekarang, di sini, izinkanlah saya menjelaskan kepada anda arti dari Tanah Kanaan, dan bagaimana menerapkannya di dalam kehidupan anda.”(59)
“Saya ingin anda mengerti bahwa Kanaan adalah Tanah Perjanjian, tempat di mana Allah menginginkan anda hidup dengan iman saat ini. Di tempat itu, Allah akan menggenapi janji-janji-Nya atas kehidupan anda. Di sana, anda dapat meraih potensi maksimal anda.”(60)
“Allah menginginkan agar kita memiliki Tanah Kanaan di dalam pernikahan, usaha, hubungan orang tua dan pendidikan kita.”(61)
Tafsiran seperti ini adalah tafsiran yang salah dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Musa sebagai penulis kitab Keluaran ini sama sekali tidak bermaksud untuk memakai tanah Kanaan sebagai hal rohani, apalagi untuk pernikahan, usaha, dll. Tanah Kanaan di sini adalah jelas bersifat jasmani dan teritorial bukan rohani. Cole lupa bahwa justru di tanah Kanaan-lah bangsa Israel melakukan kawin campur, menyembah berhala, dsb. Apakah ini potensi maksimal yang ia maksudkan di tanah Kanaan? Tafsiran allegory ini memang populer di abad mula-mula seperti yang dilakukan oleh Clement & Origen (Alexandria), Agustinus dalam beberapa tafsirannya dan beberapa teolog pada masa medieval ages (abad pertengahan). Tetapi cara penafsiran seperti ini sudah ditinggalkan sejak reformasi karena dianggap tidak bertanggung jawab.

2. Cole tidak bisa membedakan arti rohani dan jasmani.

Masih mirip dengan kesalahan diatas, Cole kembali menunjukkan kekonyolan dengan tafsirannya tentang terminology ‘hati’ (Inggris: heart). Dalam bab 17 buku Kesempurnaan Seorang Pria, nampak Cole bingung / rancu dengan tafsirannya sendiri.

Cerita diawali dengan gadis berumur 8 tahun yang menerima transplantasi jantung (Inggris:heart) dari seorang anak gadis berumur 10 tahun yang mati karena diperkosa dan dibunuh. Anak penerima jantung ini diceritakan sering mimpi hal–hal yang dialami pedonor. Singkatnya, melalui mimpi-mimpi ini akhirnya si pembunuh tertangkap. Anehnya, dengan cerita ini Cole mau menunjukkan bahwa hati manusia itu yang terpenting dalam diri manusia. Ia banyak mengutip ayat-ayat Alkitab, misalnya:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Jelas di sini yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan kata ‘hati’ sama sekali bukan jantung seperti yang Cole ceritakan di atas. Keduanya sama sekali tidak ada hubungan. Dalam cerita di atas jantung (heart) bersifat jasmani sedangkan hati (heart) di sini bersifat non-jasmani. Bagaimana seorang “nabi” tidak bisa membedakan hal demikian sederhana? Ini suatu analogi dan cara penafsiran yang menunjukkan bahwa Cole tidak memahami hermeneutic dengan baik.
3. Cole menyetujui tafsiran yang salah.

Kembali ke buku Menjadi Pria Sejati, Cole dalam tulisannya menyetujui tafsiran yang salah.

“Beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa Adam diusir dari Taman Eden bukan karena ia berbuat dosa, melainkan karena ia menolak bertanggung jawab atas perbuatannya.”(62)
Siapa yang Cole maksudkan dengan ‘beberapa ahli Alkitab’ di sini? Tetapi pointnya adalah Cole menyetujui penafsiran ini. Apakah jika Adam mau bertanggung jawab ia tidak akan dihukum? Pertanyaan yang lebih serius, apakah mungkin Adam dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya? Jelas ini tafsiran yang tidak bertanggung jawab. Adam diusir karena ia sudah berdosa bukan karena ia tidak mau bertanggung jawab. Dengan menyetujui tafsiran seperti ini Cole sudah meremehkan makna dosa yang sebenarnya.
4. Tafsiran yang dipaksakan menurut subyektifitasnya.

Berulang kali dalam buku-bukunya Cole mengatakan bahwa “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.”(63) Motto ini kelihatannya baik, tapi secara exegesis tidak dapat dipertanggung jawabkan. “Manhood and Christ likeness are synonymous” (keserupaan dengan Yesus dan ke-priaan adalah sama). Mari kita lihat prinsip keserupaan dengan Kristus yang dicatat di dalam Alkitab.
2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”
Filipi 3:10, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”
Filipi 3:21, “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.”
Dari kemunculan ayat-ayat yang berbicara tentang Christlikeness, semuanya sama sekali tidak berbicara khusus untuk pria (manhood), melainkan ayat-ayat ini ditujukan untuk siapapun yang ada dalam Kristus sebagai ciptaan yang baru. Jika Christlikeness hanya ditujukan untuk kaum pria hanya karena Kristus adalah pria, maka bagaimana dengan kaum wanita? Mereka tidak mempunyai figure teladan. Memang Yesus dilahirkan sebagai laki-laki, tetapi Ia tidak secara khusus hanya menjadi teladan bagi laki-laki saja. Ini tafsiran yang dipaksakan dan tidak alkitabiah. Kristus berinkarnasi menjadi pria bukan secara khusus supaya jadi teladan bagi kaum pria. Tetapi, lebih kepada budaya bangsa Yahudi yang patriakat dan kepentingan secara jasmani di mana Ia harus menerima siksaan yang demikian hebat. Semua yang ada dalam diri Yesus (watak, teladan, cara berpikir, ketaatan, dsb), haruslah diteladani oleh semua orang percaya, bukan hanya khusus kaum pria.
5. Cole tidak bisa membedakan tanda (sign) dan substansi

Ini tampak dalam tafsiran Cole tentang figure Abraham sebagai seorang ayah. Ia ingin menunjukkan bahwa ayah yang sejati haruslah melakukan beberapa hal seperti Abraham.

“Pertama, sunatkan anak laki-lakimu. Dalam perjanjian baru pekerjaan penyunatan anak laki ini (secara rohani) sama dengan memastikan bahwa anak-anak anda adalah orang-orang Kristen sejati yang lahir dari Roh Allah.”(64)

Mungkin anda bertanya apa yang salah dengan pengajaran ini? Banyak!
Pertama, perintah sunat sudah digantikan dengan baptisan, pasca masa Tuhan Yesus.
Mengapa Cole justru mengalami kemunduran dengan mengajarkan sunat bukan baptisan kepada pembacanya?

Kedua, tidak ada penyunatan secara rohani dalam masa PB. Semua anak laki-laki dalam PB disunat secara jasmani sebagai perintah Allah melalui Taurat. Bahkan Tuhan Yesus juga disunat secara jasmani. Apa yang Cole maksudkan dengan sunat secara rohani di sini?

Ketiga, yang paling fatal Cole menyamakan kalau anak sudah disunat berarti anak sudah lahir baru. Cole tidak bisa membedakan tanda (sign) dengan substansi. Sunat itu hanya tanda perjanjian Allah dengan Israel. Tanda perjanjian secara fisik (sunat) tidak menjamin seseorang sudah dilahir-barukan. Baik sunat maupun baptisan bukan jaminan seseorang sudah dilahirbarukan. Semua bangsa Israel secara jasmani pasti disunat sebagai tanda, tetapi Allah tetap menolak mereka. Jelas dari statement ini Cole tidak memahami arti sunat/ baptisan dan kelahiran baru dengan benar.
6. Cole sengaja menafsirkan di luar konteks ayat Alkitab

Dalam bukunya Kesempurnaan Seorang Pria bab 19, Cole berbicara tentang peran seorang ayah. Salah satu topik yang ia bahas adalah relasi ayah tiri dengan anak tirinya. Anehnya, Cole mendasarkan pengajarannya dari ayat yang sama sekali tidak berbicara tentang ayah dan anak tiri. Ia mengatakan demikian:
“Prinsip yang diberikan Yesus sangat penting bagi para ayah tiri dan anak-anak tirinya. “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”(65)
Perhatikan bahwa dalam Lukas 16:12 ini Tuhan Yesus sama sekali tidak berbicara tentang ayah dan anak tiri. Tuhan Yesus berbicara mengenai tanggung jawab kita terhadap uang / mammon. Saya katakan ini kesengajaan, sebab konteksnya sudah jelas bahwa Tuhan Yesus tidak berbicara tentang ayah dan anak tiri. Yang mengherankan, kenapa Cole tidak memakai ayat Efesus 6:1-4 saja, sebab ayat ini sudah jelas berbicara tentang relasi orang tua dan anak terlepas anak tiri atau bukan. Ini menunjukkan berulang kali, bahwa Cole tidak memahami prinsip-prinsip penafsiran yang bertanggung jawab. Ataukah mungkin karena ia merasa diri seorang ‘nabi’ maka ia boleh menafsirkan Alkitab sesuka hatinya?
7. Cole mendasarkan pengajaran dari ayat yang tidak jelas.

Cole bukan hanya berbicara tentang manusia saja, dalam suatu pembahasannya ia menyinggung tentang malaikat.

“Anak-anak membutuhkan seorang ayah, bukan malaikat pelindung. Anak-anak sudah diperlengkapi dengan malaikat pelindung sebagai suatu standard keistimewaan.”(66)
Cole memiliki kebiasaan mengajar sesuatu tanpa memberikan dasar ayat yang jelas dari Alkitab. Ajaran tentang malaikat pelindung (guardian angel) nampaknya Alkitabiah. Siapa yang tidak suka punya pengawal (bodyguard), apalagi seorang malaikat. Alkitab menyatakan bahwa malaikat memiliki banyak tugas yang berhubungan dengan manusia, tapi di mana ada ayat yang mengajarkan bahwa setiap orang memiliki guardian angel? Harap anda pahami bahwa ajaran ini berasal dari pemikiran agama kafir (gentile) yang kemudian diadopsi oleh gereja Roma Katolik. Mereka mendasarkan ajaran ini kepada penyembahan terhadap malaikat tertentu yang akan menjadi pelindung mereka. Francis Turretin, seorang teolog Reformed dalam bukunya Institute of Elenctic Theology dengan jelas memberikan argumennya bahwa ajaran ini tidak Alkitabiah:
“Still we deny that it can rightly be gathered from this that a guardian and tutelary angel is assigned to each believer (Kita tetap menyangkal bahwa tidak dapat dibenarkan ada malaikat pelindung yang ditugaskan kepada setiap orang percaya) (67)
Alkitab justru menunjukkan fakta yang unik mengenai relasi antara malaikat dan manusia. Kadang satu malaikat melindungi banyak orang (Yes 37:36), sebaliknya banyak malaikat diutus untuk menyertai satu orang (Maz 91:11, Kej 32:1-2). Ayat yang sering dijadikan dasar doktrin malaikat pelindung ini adalah Mat 18:10:

“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.”

“See that you do not look down on one of these little ones. For I tell you that their angels in heaven always see the face of my Father in heaven” (NIV).
Bagaimana ayat ini harus dimengerti? Hal pertama yang harus diketahui adalah bahwa ayat ini tidak memiliki kekuatan yang jelas untuk mendasarkan bahwa setiap manusia memiliki malaikat pelindung. Perhatikan penuturan Thomas Constable dalam tafsirannya.
“Many interpreters believe that the last part of verse 10 teaches that God has guardian angels who take special care of small children. However the context of verse 10 is not talking about small children but disciples who need to be as humble as small children. Furthermore the angels in this passage are continually beholding God’s face in heaven, not watching the movements of small children on earth… Are there guardian angels for children? I like to think there are because of God’s concern for children (e.g., 19:14-15), but I cannot point to a verse that teaches this explicitly.(68)
(Banyak penafsir yang percaya bahwa bagian terakhir dari ayat 10 mengajarkan bahwa Allah memiliki malaikat pelindung yang akan menjaga anak-anak kecil. Tetapi konteks dari ayat 10 ini tidak berbicara tentang anak kecil, melainkan tentang para murid yang harus merendahkan diri seperti anak kecil. Lagipula, malaikat-malaikat dalam ayat ini selalu memandang wajah Bapa di surga, bukan mengawasi anak-anak kecil di bumi…apakah ada malaikat pelindung bagi anak-anak? Saya hendak mengatakan demikian karena Allah memperhatikan anak-anak kecil (19:14-5), tetapi saya tidak menemukan ayat yang mengajarkan hal ini dengan jelas.”
Hal yang sama juga dikatakan oleh Charles Hodge: “Whether each individual believer has a guardian angel is not declared with any clearness in the Bible (Apakah setiap orang percaya memiliki malaikat penjaga tidak dikatakan dengan jelas dalam Alkitab).(69) Kevin Vanhoozer, Blanchard Professor of Theology di Wheaton College Graduate School (IL), juga menyatakan keberatannya dengan doktrin ini:

“At the other extreme lie the dangers of anthropomorphism (e.g., guardian angels for every individual) and of an unhealthy interest in something about which Scripture is largely silent.”(70)
(Pada sisi ekstrim lainnya ada bahaya dari anthropomorphism (misalnya, malaikat pelindung bagi setiap orang percaya) dan ketertarikan yang tidak sehat kepada sesuatu yang Alkitab sendiri tidak menyatakannya).

Bila para teolog, professor dan penafsir yang lebih berbobot dan akademis dari Cole saja tidak bisa memastikan pengajaran ini, bahkan menolak adanya malaikat pelindung, bagaimana Cole bisa begitu yakin menafsirkan ayat ini dengan benar dan tepat? Cole dalam penjelasannya tidak memberikan argumentasi dan eksegese apa-apa tentang ayat ini.

 

TEOLOGI KEMAKMURAN DAN PERPULUHAN

Selain berbicara tentang semua tema di atas, Cole juga berbicara tentang masalah uang, khususnya tentang persembahan dan perpuluhan.

“Apabila kita memberi, terutama bila kita memberi di luar persepuluhan, kita akan mengalami secara nyata hukum menabur dan menuai. Apabila anda memberi persepuluhan, Allah berjanji akan menyelamatkan anda dari kehancuran yang direncanakan oleh belalang pelahap terhadap anda (Maleakhi 3:11).”(71)
Sekali lagi Cole menafsirkan ayat ini dengan begitu meyakinkan, tetapi salah. Jelas Maleakhi 3:11 di sini berbicara tentang binatang belalang sungguhan. Allah menghalau belalang tersebut agar tidak merusak panen bangsa Israel, sehingga bangsa Israel bisa memberikan perpuluhan kepada Allah. Cole meng-allegori-kan belalang di sini, namun tidak menjelaskan kepada kita apa yang ia maksudkan dengan “belalang pelahap” tersebut. Nampak di sini, motivasi Cole mengajarkan perpuluhan hanya agar kita diberkati (hukum tabur-tuai). Ini nampak dari cerita seorang yang bernama Ruben yang memberikan semua uangnya sebesar 2,20 dolar dan diganti 100 kali lipat.

“Ruben memberikan seluruh uang yang dimilikinya saat itu, yaitu sebesar 2,20 dolar dan menerima balasan seratus kali lipat, masih ditambah dengan suatu pernikahan yang sah, perbaikan hidup bagi anak-anak mereka, kehormatan sebagai seorang pria, iman yang semakin bertumbuh kepada Allah, dan suatu ukuran jati diri pria yang tidak pernah dimiliki sebelumnya.”(72)
Cole ingin menjadikan cerita yang dialami Ruben ini untuk mendorong pembacanya rajin memberikan perpuluhan/ persembahan. Cole lupa bahwa pengalaman tidak bisa dijadikan doktrin. Oleh karena Allah sama sekali tidak mengganti seratus kali lipat seorang janda yang juga memberikan semua uangnya untuk Allah (Markus 12:42-44). Di sini hukum tabur-tuai sama sekali tidak berlaku. Bagaimana Cole menjelaskan hal ini? Tuhan Yesus memang pernah mengatakan kalimat yang menantang dalam Matius 19:29,
“Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

Ini salah satu ayat favorit teologi kemakmuran. Tetapi apakah Petrus, Yohanes dan murid-murid lain mendapatkan rumah mereka diganti 100 kali, ladang mereka diganti 100 kali, istri mereka diganti 100 kali? Justru setelah mereka mengikut Tuhan Yesus, mereka tidak punya rumah dan ladang. Tentu saja Tuhan Yesus di sini bukan sedang mengajar matematika perkalian. Ia memakai gaya bahasa hyperbole yang menunjukkan bahwa meskipun kita mengalami kehilangan karena mengikut Kristus ada pemeliharaan Allah dalam bidang yang lain.
“It is difficult to say whether Jesus had in mind material as well as spiritual blessings, although his statement probably means that God will give spiritual blessings for material sacrifices. For example, someone may be rejected by his or her family for accepting Christ, but he or she will gain the larger family of believers with all the love it has to offer.”(73)
(Sulit untuk mengatakan apakah Yesus sedang bicara tentang berkat materi sebagaimana berkat rohani, meskipun dalam ayat ini kemungkinan besar Yesus (Allah) akan memberikan berkat rohani bagi pengorbanan materi. Contoh: seseorang yang ditolak keluarganya karena percaya pada Kristus, ia akan memperoleh keluarga besar orang percaya dengan semua cinta yang ditawarkan).
Selanjutnya, pada bukunya Menjadi Pria Sejati halaman 267, di sana jelas sekali bahwa Cole adalah seorang pengagum Robert Schuller. Siapakah Robert Schuller ini?(73) Robert Schuller adalah seorang pengkotbah TV yang juga adalah gembala dari Crystal Cathedral di Garden Grove, California. Robert Schuller adalah penganut teologi kemakmuran. Ia adalah murid dari pengajar positive thinking Norman Vincent Peale. Maka tidak mengherankan injil yang diberitakan adalah injil kemakmuran dan positive thinking. Ia menafsirkan Alkitab dalam kacamata teologi kemakmuran dan positif thinking ini. Perhatikan apa yang ia katakan tentang beberapa doktrin dasar dalam sebuah wawancara berikut ini:(75)

Question: What is sin? (Apa itu dosa ?)

Answer: “What do I mean by sin? Any human condition or act that robs God of glory by stripping one of his children of their right to divine dignity – Sin is any act or thought that robs myself or another human being of his or her self-esteem.”

(Apa yang saya maksudkan dengan dosa? Segala kondisi manusia atau tindakan yang merampok kemuliaan Allah dengan melepaskan/ mencopot hak anak-Nya untuk memiliki kemuliaan ilahi – dosa adalah tindakan atau pikiran yang merampas diriku atau orang lain dari harga dirinya).

Halaman 68:

Question: What does it mean to be born again? (Apa artinya dilahir-barukan kembali ?)
Answer: “To be born again means that we must be changed from a negative to a positive self image-from inferiority to self-esteem, from fear to love, from doubt to trust.”
(Dilahir-barukan berarti kita harus berubah dari gambaran diri yang negatif ke positif, dari rendah diri ke harga diri, dari takut kepada kasih, dari ragu-ragu ke percaya).(74)

Bahkan Schuller mendefinisikan pribadi Kristus sebagai berikut: “Christ is the Ideal One, for he was Self-Esteem Incarnate” (Kristus adalah yang Ideal One, karena Ia adalah harga diri yang berinkarnasi). Ini semua bukan ajaran Alkitab! Ini adalah Injil yang palsu dan gereja Crystal Cathedral milik Schuller yang dibangga-banggakan Cole sekarang sedang menuju kebangkrutan. Poin yang ingin saya sampaikan dengan penjelasan saya adalah: bagaimana
mungkin bila Cole mengenal kebenaran iman Kristen menyetujui apa yang Schuller ajarkan? Dengan kata lain, hanya orang yang sepaham dengan Schuller yang dapat menyetujui semua apa yang ia ajarkan.

 

KESIMPULAN

Dari semua yang telah dipaparkan dalam bukunya dan melalui analisa dalam makalah ini, beberapa kesimpulan dapat kita ambil:
1. Unorthodox Faith (Iman yang tidak ortodoks)

Banyak pengajaran Cole dalam kedua buku ini tidak dapat dipertanggung jawabkan secara doktrinal. Hampir dapat dipastikan setiap kali Cole berbicara tentang doktrin/ pengajaran
selalu salah bahkan menyesatkan. Cole dengan berani ‘memodifikasi’ doktrin ortodoks dengan pemikirannnya sendiri yang salah & sesat. Dengan kata lain, doktrin yang sudah baku ia tolak dan diganti dengan pengajarannya sendiri/ wahyu yang baru. Anehnya, ia tidak merasa apa yang ditulis ini telah melenceng dari iman yang ortodoks.

“Ketika saya menulis bagian pertama dari buku ini, kuasa Allah hadir dan mempercepat apa yang saya tulis, dan saya merasakan bahwa apa yang ditulis itu begitu baik.”(76)
Cole tidak menyadari bahwa motivasi yang baik saja tidak cukup. Motivasi yang baik harus disertai dan dilandasi dengan pengajaran dan doktrin yang benar. Cole harus ingat bahwa Alkitab bukan hanya berbicara tentang tujuan yang baik, tetapi juga kebenaran yang absolute. Apa yang ia ajarkan dalam gerakan yang dipimpinnya ini memiliki kecacatan teologi yang sangat serius dan parah bahkan kesesatan. Jelas doktrin dasar ajaran/gerakan pria sejati ini
memiliki landasan dan perspektif yang berbeda dengan apa yang kita percayai selama ini.
2. Experience vs Sola Scriptura (Pengalaman lebih penting dari Alkitab)

Meskipun Cole berulang kali menyebutkan dan mengutip Alkitab, tapi jelas dari pemaparannya ia tidak menundukkan diri kepada apa yang Alkitab ajarkan. Penafsiran yang salah dan membabi buta menunjukkan bahwa Cole lebih mementingkan pengalaman dan pemikirannya sendiri daripada apa yang Alkitab ajarkan. Alkitab sepertinya hanya jadi pelengkap saja, bukan landasan dari gerakan ini. Bahkan Cole sering menyelewengkan Alkitab sesuai dengan kemauannya. Ini Nampak dari cara Cole memahami dan menafsirkan Alkitab yang tidak sesuai dengan pemahaman ortodoksi. Ini sesuatu yang berbahaya dan spirit ini yang nampaknya ditularkan dalam gerakan ini, di mana kita seringkali mendengar kalimat “yang penting hasilnya”, “pokoknya dia berubah”, dsb, tanpa mau menganalisa apakah yang terjadi sesuai dengan kebenaran Alkitab atau tidak. Betapapun baiknya suatu visi, bila tidak didasarkan kepada kebenaran Firman Allah yang benar, itu hanya menjadi gerakan humanis semata-mata.
3. Church and the Truth (Gereja dan Kebenaran)

Gereja dipanggil untuk menerangi dunia, memelihara dan meneruskan kebenaran Allah dalam dunia ini. Apa yang menjadi trend dalam suatu jaman belum tentu berasal dari Allah, meskipun kelihatannya baik. Firman Tuhan mengatakan “ujilah segala sesuatu” (1 Tes 5:21). Oleh karenanya dengan semua yang dipaparkan di dalam bukunya dan melalui analisa dan kritik dalam makalah ini, sudah sewajarnya dan seharusnya gereja dengan tegas menolak dan menghentikan gerakan dan ajaran ini.

Gereja yang hanya memfokuskan kepada phenomena akan melupakan noumena dibaliknya yaitu ajarannya. Kebenaran (truth) harus di atas kebaikan (goodness). Kebenaran harus di atas hasil (result). Kita jangan hanya melihat kebaikan dan hasil dari ajaran ini dan melupakan kebenaran Alkitab. Bila kita perhatikan, kesalahan-kesalahan yang ada dalam buku-buku Cole ‘terselip dan tersembunyi’ dengan aman di balik kata-kata yang indah. Jemaat dan hamba Tuhan yang tidak memiliki kepekaan tidak akan melihat kesesatan pengajaran ini.
Apa yang harus gereja lakukan? Melalui pengalaman ini, gereja harus mulai disadarkan bahwa tidak ada jalan lain untuk membendung segala pengajaran yang salah dan sesat selain kembali kepada pengajaran Firman yang sehat dan bertanggung jawab. Ada 3 sarana yang harus dimaksimalkan dalam membekali jemaat dengan kebenaran Firman. Pertama, mimbar yang kuat dan bertanggung jawab. Kedua, kelas pembinaan yang efektif dan terintegrasi. Ketiga, persekutuan komisi yang betul-betul membahas Firman Tuhan, bukan membahas tema-tema yang tidak ada relevansinya dengan kerohanian/ Firman Tuhan.
Hamba Tuhan memiliki tanggung jawab terbesar dalam menjaga kemurnian pengajaran dan memberi makanan rohani yang sehat bagi jemaat. 1 Tim 4:16 mengatakan: “awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu!” Ini adalah perintah yang harus senantiasa kita ingat sebagai hamba Tuhan. Demikian juga kepada majelis, mereka adalah pendamping hamba Tuhan yang diberikan Allah bagi gereja-Nya. Majelis adalah orang yang “memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci” (1 Timotius 3:9). Oleh karenanya majelis juga bertanggung jawab kepada Allah dalam menjaga domba-domba, bukan sekedar mengurus hal-hal yang administratif belaka. Oleh sebab itu setiap majelis harus membekali diri dan menuntut diri untuk lebih mengerti kebenaran Firman Tuhan, agar pada saat yang dibutuhkan mereka dapat menyatakan kebenaran.
Terakhir, sebagai suatu antisipasi di masa yang akan datang, maka gereja harus mulai memikirkan adanya Departemen Teologi yang mempunyai tugas untuk menyeleksi hamba Tuhan, mengevaluasi kotbah dan pengajaran baik di mimbar atau persekutuan dan termasuk menjadi ‘menara pengawas’ terhadap ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab.

___________________________________________________________________________

Footnotes:

1 Sumber: Wikipedia Free Encyclopedia dengan topic “Edwin Louis Cole.”

2 Anda juga pasti tidak mau pergi ke “dokter” yang tidak pernah sekolah medis. Anda pasti akan merasa safe ketika pergi ke dokter yang memang benar-benar sekolah medis dan diakui.
3 Kemungkinan pertama sangat kecil atau bahkan tidak mungkin. Manusia dalam dirinya adalah mahluk yang butuh pengakuan. Semua orang yang pernah bersekolah dan memiliki gelar cenderung akan menyebutkannya pada saat ia menuliskan sebuah buku, membuat kartu nama, dsb. Saya sudah membaca banyak buku, tidak ada orang yang memiliki gelar akademis tetapi tidak menuliskannya dalam judul bukunya atau paling tidak dituliskan dalam biografi penulis.

4 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, Edisi Revisi (Jakarta: Metanoia, 2003), hal 5.
5 Flip cover sampul halaman belakang buku “Menjadi Pria sejati”

6 Donald McKim (Editor), Cambridge Companion to John Calvin (United Kingdom: Cambridge University Press, 2004), hal 156 (Ebook). Bandingkan juga pemikiran Calvin dalam Calvin: Institutes of the Christian Religion 2, Ed. John T. McNeill (Philadelphia : The Westminster Press), hal 1057-1061.

7 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 5.

8 Ibid., hal 2.

9 Ibid, halaman prakata.

10 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, Edisi Revisi (Jakarta: Metanoia, 2006), hal 140.
11 Ibid., hal 141.

12 Tidak mengherankan didalam camp/ retreat yang diadakan oleh gerakan CMN ini, banyak orang berteriak di tengah-tengah kotbah “123 Yes..Yes..” berulang-ulang. Inikah ibadah yang intim dan berkenan kepada Tuhan?

13 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 141-142.

14 Ibid., hal 147.

15 Ibid, hal 142-143.

16 Ibid., hal 143.

17 Ibid., hal 143.

18 Ibid., hal 150.

19 Ecumenical Creeds and Reformed Confession (Grand Rapids : CRC Publication, 1988), hal 82.

20 Alister McGrath, The Genesis of Doctrine (Grand Rapids : Eerdmans, 1990), hal 172.
21 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, Edisi Revisi, hal 148.

22 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 151.

23 Ibid, hal 15.

24 Ibid., hal 40.

25 Ibid., hal 173

26 Donald McKim ,ed. , Reading in Calvin’s Theology (Grand Rapids: Bakerbook House, 1984), Calvin’s view of Scripture by Donald McKim, hal 58.

27 Timothy George, Theology of the Reformers (Nashville : Broadman Press,1988), hal 197.
28 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 7- 8.

29 Ibid., hal 168.

30 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 135.

31 Ibid., hal 270.

32 Kritik ini juga berlaku pada point di mana Cole mengklaim diri sebagai nabi Allah.
33 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 8.

34 Ibid., hal 64.

35 Ibid., hal 9.

36 Ibid., hal 47.

37 Ini salah satu contoh dari apa yang Cole katakan bahwa ibadah yang formal berarti jauh dari wahyu Allah. Ibadah yang ia lakukan seperti ini berarti ‘intim’ dengan Allah. Benarkah KKR seperti ini intim dengan Yesus, atau sebaliknya tidak hormat kepada pribadi Yesus?
38 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 20.

39 Ibid., hal 223-224.

40 Ibid., hal 9.

41 Ibid., hal 47.

42 Ibid., hal 228.

43 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 45.

44 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 130.

45 Kevin J. Vanhoozer, Remythologizing Theology: Divine Action, Passion, and Authorship (United Kingdom: Cambridge University Press, 2010), hal 269. (Ebook)

46 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 46.

47 G.I Williamson, The Westminster Confession of Faith (Philadelpia : P&R, 1964), hal 56.
48 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 44.

49 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 93.

50 Ibid., hal 138.

51 Cornelius Van Til, An Introduction to Systematic Theology (New Jersey : P&R,1974), hal 105.
52 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 72.

53 Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids : Eerdmans, 1991), hal 469.
54 Ibid., hal 468.

55 NIV : 2 Pet 1:4, “Through these he has given us his very great and precious promises, so that through them you may participate in the divine nature and escape the corruption in the world caused by evil desires.”

56 Richard J. Bauckham, Word Biblical Commentary, Volume 50: Jude, 2 Peter (Dallas, Texas: Word Books Publisher, 1998).

57 Kevin J. Vanhoozer, Remythologizing Theology: Divine Action, Passion, and Authorship (United Kingdom: Cambridge University Press, 2010), p. 282 (Ebook).

58 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 86.

59 Ibid., hal 8.

60 Ibid., hal 8.

61 Ibid., hal 9.

62 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 227.

63 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 137.

64 Ibid, hal 161.

65 Ibid., hal 162.

66 Ibid., hal 113.

67 Francis Turretin, Institute of Elenctic Theology, Vol 1 (New Jersey: P& R,1992), hal 558.
68 Thomas Constable, Notes On Matthew, 2002 edition, hal 233-234 (Ebook).
69 Charles Hodge, Systematic Theology Vol 1 (Grand Rapids: Eerdmans,1993), hal 640.
70 Kevin J. Vanhoozer, Remythologizing Theology: Divine Action, Passion, and Authorship, p. 250 (Ebook).

71 Edwin Louis Cole, Menjadi Pria Sejati, hal 272.

72 Ibid., hal 274.

73 Life Application Bible Commentary: Matthew 19:29 . Program Quickverse.
74 Untuk info yang lebih utuh tentang Robert Schuller, apa yang ia ajarkan, kunjungi website misalnya: www.letusreason.org

75 Another possible gospel of Robert Schuller’s, available from www.letusreason.org
76 Edwin Louis Cole, Kesempurnaan Seorang Pria, hal 165.

___________________________________________________________________________

JAWABAN SINGKAT ATAS BEBERAPA SANGGAHAN

1.        Kalau belum ikut gerakan ini jangan menghakimi dulu .

Memang kalimat ini ada benarnya bila diaplikasikan untuk hal-hal yang tidak bersifat etika atau moral/ dosa. Misalnya, soal makanan, tempat rekreasi, dll. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang bersifat moral apalagi dosa, pernyataan ini sama sekali tidak tepat. Untuk mengatakan bahwa berzinah itu dosa, tidak perlu kita harus mencobanya terlebih dahulu. Untuk mengatakan berjudi itu dosa tidak berarti kita harus berjudi dulu, dsb. Termasuk untuk ajaran sesat, tidak perlu kita ikut dulu baru boleh mengatakan sesat. Tuhan Yesus berulang kali menghardik orang Farisi dan ahli taurat tanpa pernah ia harus ikut-ikutan jadi farisi terlebih dahulu. Kita harus bisa membedakan kapan prinsip ini dipakai.

2. Pembahasan dalam buku ini tidak fair karena tidak melibatkan nara sumber.
Jangan lupa bahwa Edwin Louis Cole adalah nara sumber di atas segala nara sumber gerakan pria sejati. Ia adalah pendiri gerakan ini. Justru pembahasan dalam makalah ini didasarkan apa yang dituliskan oleh pendirinya sendiri, first source (sumber utamanya). Buku/tulisan seseorang sudah cukup representative untuk menunjukkan teologi dan cara berpikir seseorang. Oleh karenanya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pembahasan ini tidak fair, karena semua yang tercantum dalam makalah ini dapat dibuktikan berasal dari tulisan-tulisan Cole sendiri.

3. Yang penting khan hasilnya! Banyak orang berubah karena mengikuti gerakan ini.
Memang kalimat ini sering saya dengar. Setelah ikut gerakan ini orang berubah, rajin
baca Alkitab, rajin melayani, dsb. Ini cara berpikir yang salah. Dalam menilai sesuatu, sekali lagi jangan hanya dilihat dari fenomenanya. Mengapa demikian? Sebab saya jamin kalau orang tersebut ikut gerakan saksi Jehovah, ia akan lebih rajin baca Alkitab. Bahkan, bukan saja membaca tetapi menggali Alkitab. Ia juga akan lebih rajin melayani , dsb. Oleh karenanya jangan terjebak hanya melihat hasil dan memetingkan hasil. Ini adalah cara berpikir pragmatis dan utilitarian. Apakah anda juga setuju seseorang merampok demi mengobati anaknya yang sakit? Bagaimana jika anda yang jadi korbannya? Tentu saja tidak bisa demikian. Hal yang sama juga berlaku dalam menilai suatu gerakan/ ajaran.

4. Gerakan ini banyak pengikutnya. Bahkan, banyak Hamba Tuhan gereja Injili ikut gerakan ini.Ini menunjukkan gerakan ini benar!

Tuhan Yesus dalam pelayanannya sama sekali tidak pernah mementingkan kuantitas, bahkan dalam Yoh 6 Ia mengusir semua orang yang mengikuti Dia tanpa motivasi yang benar. Benar tidaknya suatu gerakan sama sekali tidak ditentukan oleh jumlah pengikutnya. Saksi Jehovah jauh lebih banyak pengikutnya dari gerakan pria sejati ini, lalu apakah kita katakan gerakan ini benar? Banyak Hamba Tuhan Injili ikut gerakan ini karena mereka kemungkinan besar belum membaca buku Cole atau sudah membaca tetapi tidak menganalisa dengan teliti, sehingga apa yang tertulis seolah baik-baik saja. Padahal bila diteliti kita akan menemukan banyak penyimpangan bahkan kesesatan di dalam tulisan-tulisannya.

5. Tulisan dalam buku ini salah terjemahan!

Buktikan dulu kepada saya bahwa apa yang tertulis dalam buku-buku ini salah terjemahan. Harus diingat bahwa buku-buku ini sudah dicetak berulang kali tetapi tidak ada perubahan apa-apa. Ini menunjukkan bahwa memang tidak ada hal yang perlu diterjemahkan ulang. Salah terjemahan biasanya terjadi satu atau dua kalimat saja, tetapi buku ini hampir setiap halaman menunjukkan kesalahan / kesesatan. Sesuatu yang tidak lazim bila hampir setiap
halaman salah terjemahan ! Kalaupun buku ini salah terjemahan, harap diingat bahwa buku-buku ini sudah diterbitkan dan dibaca ribuan orang Kristen di seluruh Indonesia. Bagi saya semuanya harus bertanggung jawab. Yang menulis, menterjemahkan dan menerbitkan, semua harus bertanggung jawab atas apa yang tertulis dalam buku ini.

6. Gerakan ini dipimpin oleh hamba Tuhan terkenal berkelas international, jadi pasti benar.
Tidak ada jaminan suatu gerakan kalau dipimpin seorang yang terkenal pasti benar. Bila demikian rumusnya, maka ajaran Tuhan Yesus pasti salah, sebab Ia bukan pembicara kelas dunia. Ia bukan pembicara terkenal. Ia tidak pernah berceramah di luar Israel, dsb. Jadi benar tidaknya suatu gerakan bukan dinilai dari terkenal atau tidaknya pendirinya, melainkan pada isi ajarannya.

7. Bagaimana jika ajaran Pria Sejati kita betulkan yang salah, lalu kita bawa masuk ke gereja?
Kita harus tahu bahwa sesat itu berbeda dengan salah. Yang sesat pasti salah, tapi yang salah belum tentu sesat. Yang salah masih bisa diperbaiki, yang sesat tidak mungkin diperbaiki. Dari pembahasan yang telah kita lihat di atas, ajaran Pria Sejati bukan sekedar salah. Gerakan ini sudah menjurus kepada ajaran sesat. Misalnya : Yesus adalah ciptaan, perlu dilahir-barukan, perlu pengampunan, dsb. Tidak percaya Alkitab sudah selesai diwahyukan, menganggap diri nabi, tidak percaya dosa asal, dsb. Oleh karenanya tidak perlu ‘memperbaiki’ ajaran ini lalu membawa masuk ke dalam gereja. Lagipula menurut saya, tidak ada hal yang istimewa dalam ajaran ini, bahkan sebaliknya banyak doktrin yang sesat di dalamnya. Untuk apa dan dalam kepentingan apa ajaran seperti ini diajarkan kepada jemaat kita? Bukankah gereja sudah punya dasar pengajaran sendiri?

8. Pembahasan dalam makalah ini tidak komprehensif karena hanya membahas dua buku Cole, sementara Cole menulis banyak buku. Mengapa tidak semuanya dibahas?
Memang lebih baik membahas semua tulisan seseorang, tetapi kita harus sadar bahwa pembahasan tema ini juga dibatasi oleh waktu, sehingga tidak memungkinkan untuk membahas satu per satu buku Cole. Dengan membahas dua buku ini saja sudah menemukan banyak kesalahan dan kesesatan, apalagi membahas semua buku-buku Cole. Kedua buku ini menurut saya sudah cukup mewakili pemikiran Cole dan melalui makalah ini seharusnya anda mulai bisa mengkritisi buku-buku Cole yang lainnya.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (II Timotius 3:16-17)

 

Soli Deo Gloria.


* Ev. Calvin Renata, M.Div., adalah Hamba Tuhan / Penginjil di GKA GLORIA Surabaya

(Tulisan ini mulanya adalah dalam format PDF dan diformat / diedit ulang tanpa mengurangi satupun kata didalamnya)

 

2 Responses to “PRIA SEJATI: SEJATIKAH ? MEMBEDAH TEOLOGI DIBALIK GERAKAN PRIA SEJATI”

  1. Ronny Dee Says:

    Ulasan yang menarik dan mendalam, thanks for sharing


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s